Suatu hari, desa diserang oleh sekelompok ikan hiu. Mereka akan menangkap ikan-ikan untuk dimakan. Semua ikan bersembunyi di rumah mereka masing-masing. Tapi ada seekor anak ikan yang tertangkap. “Tolng-tolong! Ibu tolong aku!” Teriak si anak ikan. “Hahaha sepertinya kau ikan yang lezat.” Kata salah seekor ikan hiu. “Tolong anakku! Siapa saja tolong anakku!” Teriak sang ibu anak ikan tersebut
Bunbun yang mendengar suara orang minta tolong langsung keluar dari rumah. Ia melihat si anak ikan yang ditangkap oleh ikan hiu. Bunbun memberanikan diri dan menantang si ikan hiu yang ganas itu. “Hei hiu bodoh, lepaskan dia!” kata Bunbun. Seekor hiu menyerang Bunbun. Seketika itu Bunbun mengembangkan tubuhnya dan menegakkan durinya. Durinya menusuk sirip ikan hiu tersebut. “Serang dia!” perintah sang pimpinan ikan hiu. Semua ikan hiu menyerbu Bunbun dengan ganas. Bunbun tidak merasa gentar sedikitpun. Saat hiu mulai mendekat tiba-tiba ada semburan tinta hitam. “Ah, gelap!” teriak seekor hiu. Ternyata itu semburan tinta dari paman cumi-cumi dan keluarganya. “Ayo serang hiu-hiu itu!” teriak paman cumi-cumi. “Serang!” sahut pak kepiting. Pak kepiting dan teman-temannya menyerang hiu-hiu itu dengan capitnya. Ikan-ikan dan warga desa yang lain juga ikut menyerang hiu-hiu itu. Bunbun juga makin bersemangat.
Semua warga desa bersorak ria. Mereka berhasil mengalahkan hiu dengan bekerjasama dan kekompakan mereka. “Hidup Bunbun!” teriak warga desa. Mereka berterimakasih kepada Bunbun karena telah membangkitkan semangat mereka. Ibu dan anak ikan tadi juga berterimakasih kepada Bunbun. Paman kura-kura juga berterimakasih dan memberikan penghargaan kepada Bunbun sebagai pahlawan desa.
Akhirnya Bunbun memiliki banyak teman. Dan warga desa tidak lagi menjauhi Bunbun. Mereka hidup dengan aman dan damai.
Cerpen Karangan: Mukhammad Farchani
0 komentar:
Posting Komentar