Indentitas Novel
Judul : Salamah
Judul asli : Salamatul Qos
Pengarang : Ali Ahmad Baktsir
Jumlah halaman : 212 halaman
Ukuran buku : 10 cm x 17,5 cm
Cetakan ke : Kedua, tahun 2001
Penerbit : Navilla
2. Sinopsis Novel
Namanya Abdurrahman bin Abdullah, seorang pemuda alim yang sangat
tekun beribadah dan menjadi rujukan kaumnya untuk meminta fatwa. Dia
bahkan dijuluki al Qos oleh penduduk Mekkah saat itu. Pada suatu hari,
Ibnu Suhail membangun sebuah gedung kesenian sebagai tempat hiburan
malam. Setiap malam selalu ada pertunjukan nyayian yang membuat
tetangganya Abul Wafa’ marah-marah dan membenci Ibnu Suhail. Abul Wafa’
adalah seorang sufi yang sangat taat terhadap aturan agama Islam. Dia
mengutuk keras perbuatan Ibnu Suhail karena musik merupakan sesuatu yang
haram. Beliau lantas menyuruh Abdurrahman untuk melaporkan Ibnu Suhail
kepada walikota.
Kemarahan Abul Wafa’ semakin memuncak tatkala budaknya yang bernama
Salamah memiliki kebiasaan bernyanyi. Dia setiap malam tak bisa tidur
karena selalu mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan dari rumah Ibnu
Suhail. Bakat bernyanyi Salamah semakin terasah ketika dia sedang
menggembalakan ombanya. Dia bahkan bertemu dengan seorang pemuda dan
pada akhirnya Salamah diajari menyanyi. Istri Abul Wafa’, Ummul Wafa’
sudah beberapa kali memperingatkan dirinya supaya jangan bernyanyi.
Namun apa daya, usah demi usaha Ummul Wafa’ mencegah kebiasaan buruk
Salamah hasilnya nihil. Salamah kemudian dijual kepada Ibnu Suhail
karena mereka sudah tak sanggup mendidik Salamah. Disana Salamah dapat
menyalurkan bakat menyanyinya dengan leluasa, tanpa ada yang melarang.
Pada suatu hari Abdurrahman bermimpi bahwa dia mendengar suara
perempuan bernyanyi di atas neraka Hawiyah. Pada saat ini Abdurrahman
sedang berjalan-jalan di taman surga. Abdurrahman segera mencari asal
suara itu dan mendapati seorang perempuan telanjang sedang bernyanyi.
Kemudian Abdurrahman mendekati perempuan itu, namun dia malah mencekik
leher Abdurrahman dan minta tolong untuk menyelamatkannya. Abdurrahman
lalu terbangun dan mengatakannya pada Abul Wafa’. Abul Wafa’ pun
menghiburnya. Namun, setiap hari Abdurrahman memikirkan mimpi itu.
Pada suatu hari, Abdurrahman berjalan di depan rumah Ibnu Suhail dan
tiba-tiba mendengar suara yang persis dalam mimpinya. Tanpa terasa
Abdurrahman masuk ke dalam rumah Ibnu Suhail. Dia sebenarnya tak mau
masuk, namun karena bujukan Ibnu Suhail, dia akhirnya mau.
Abdurrahman mulai mengenal sosok yang menyanyikan lagu seperti suara
dalam mimpi itu yaitu Salamah. Lama kelamaan Abdurrahman mulai menyukai
Salamah. Begitu pula Salamah. Abdurrahman juga menjadi sahabat baik Ibnu
Suhail. Dengan berjalannya waktu, Abdurrahman membantu Salamah menulis
syair-syair lagu. Kisah percintaan Salamah dan Abdurrahman menjadi
tekenal di seluruh kota Mekkah. Bahkan mereka di juluki Salamatul Qos.
Ada gejolak dalam hati Abdurrahman setelah mencintai Salamah.
Abdurrahman menemukan kegairahan hidup serta kegairahan dalam beribadah
setelah terkena badai cinta Salamah. Dalam benaknya ada keinginan untuk
membebaskan Salamah dari Ibnu Suhail. Dia kemudian bekerja di pasar
sebagai pedagang, itu membuat masyarakat Mekkah menjadi heran dengan apa
yang dia lakukan.
Pada suatu hari Abdurrahman berniat menjual tanah warisan ayahya
untuk membebaskan Salamah. Namun terlambat, Ibnu Suhail tiba-tiba
bangkrut karena . Seluruh harta benda miliknya disita dan dilelang di
pengadilan. Ibnu Suhail tak terkecuali Salamah. Hati Abdurrahman teriris
mendengar kabar itu. Salamah telah dibeli oleh saudagar Madinah. Dengan
berat hati Abdurrahman dan Ibnu Suhail harus berpisah dengan Salamah.
Tangis kesedihan mengiringi perpisahannya.
Setelah sampai di Madinah, Salamah mendapatkan tuan yang baik hati,
Ibnu Rumanah namanya. Dia tinggal di rumah mewah bersama budak-budak
yang lain. Disana ia banyak belajar menyanyi karena Ibnu Rumanah juga
suka dengan musik. Meski sulit sekali menghilangkan rasa sedih karena
perpisahan dengan kekasihnya, ia tetap tabah dan setia dengan tuannya.
Banyak cara yang dilakukan tuannya untuk menghibur Salamah. Oleh
taunnya, ia diajak untuk bertemu dengan Jamilah, seorang penyanyi
terkenal yang sangat dikagumi Salamah. Salamah pun belajar banyak dari
dia. Karena keteguhannya, ia sangat disayangi tuannya. Hal itu
menimbulkan iri para budak-budak yang lain yang telah lama tinggal
dengan tuannya.
Abdurrahman semakin terpukul, kesedihan yang bertubi seakan memupus
harapannya menjadikan Salamah sebagai istrinya. Setiap malam dia selalu
bangun untuk beribadah dan menyendiri ke padang pasir untuk bertahajud.
Ibnu Suhail juga merasakan kesedihan, dia sedih karena tidak bisa
meberi makan para fakir miskin. Sampai suatu hari Abdurrahman berpikir
tentang uang hasil penjualan tanahnya untuk dijadikan modal berdagang
bersma Ibnu Suhail. Apabila uang mereka dirasa cukup, bisa untuk
membebaskan Salamah. Hatinya begitu bersemangat dalam berdagang. Setelah
setahun lamanya, ia bersama sahabatnya menuju Madinah untuk mencari
Salamah.
Setelah beberapa hari melakukan perjalanan jauh, tibalah mereka
berdua di Madinah, berharap dapat bertemu dengan Salaham yang telah lama
mereka rindukan. Kebetulan Ibnu Suhail mempunyai sahabat di Madinah,
segeralah ia menuju rumah sahabatnya yaitu Ibnu Abi Atiq. Setelah
beristirahat, Abdurrahman dan Ibnu Suhail diantar ke rumah Ibnu Rumanah.
Kebetulan setiap habis Ashar, rumah Ibnu Rumanah mengadakan pertunjukan
musik oleh Salamah.
Salamah bertemu dengan kekasihnya, Abdurrahman. Abdurrahman langsung
pingsan setelah menatap wajah Salamah yang telah berlinang air mata saat
bernyanyi. Namun nasib berkata lain, Salamah telah dibeli oleh seorang
khalifah dari Syam, Yazid bin Abdil Malik. Abdurrahman hanya bisa pasrah
dengan keadaan. Salamah yang ingin dirinya dibebaskan oleh Abdurrahman
menjadikan harganya tinggi. Uang hasil jerih payah Abdurrahman dan Ibnu
Suhail tidak sanggup untuk menebus Salamah.
Akhir cerita, untuk yang kedua kalinya kedua kekash itu harus
berpisah untuk selama-lamanya. Air mata kesedihan bercucuran dari semua
orang yang mengagumi mereka berdua, termasuk Ibnu Suhail dan Ibnu Abi
Atiq. Salamah dan Abdurrahman percaya, mereka akan bertemu di akhirat
kelak dan menjadi pasangan abadi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar