Translate

sinospsis novel salamah

Written By iqbal_editing on Minggu, 22 Januari 2017 | 06.14

  Indentitas Novel
Judul                 :  Salamah
Judul asli          :  Salamatul Qos
Pengarang        :  Ali Ahmad Baktsir
Jumlah halaman :  212 halaman
Ukuran buku   :  10 cm x 17,5 cm
Cetakan ke       :  Kedua, tahun 2001
Penerbit            :  Navilla
2.      Sinopsis Novel
Namanya Abdurrahman bin Abdullah, seorang pemuda alim yang sangat tekun beribadah dan menjadi rujukan kaumnya untuk meminta fatwa. Dia bahkan dijuluki al Qos oleh penduduk Mekkah saat itu. Pada suatu hari, Ibnu Suhail membangun sebuah gedung kesenian sebagai tempat hiburan malam. Setiap malam selalu ada pertunjukan nyayian yang membuat tetangganya Abul Wafa’ marah-marah dan membenci Ibnu Suhail. Abul Wafa’ adalah seorang sufi yang sangat taat terhadap aturan agama Islam. Dia mengutuk keras perbuatan Ibnu Suhail karena musik merupakan sesuatu yang haram. Beliau lantas menyuruh Abdurrahman untuk melaporkan Ibnu Suhail kepada walikota.
Kemarahan Abul Wafa’ semakin memuncak tatkala budaknya yang bernama Salamah memiliki kebiasaan bernyanyi. Dia setiap malam tak bisa tidur karena selalu mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan dari rumah Ibnu Suhail. Bakat bernyanyi Salamah semakin terasah ketika dia sedang menggembalakan ombanya. Dia bahkan bertemu dengan seorang pemuda dan pada akhirnya Salamah diajari menyanyi. Istri Abul Wafa’, Ummul Wafa’ sudah beberapa kali memperingatkan dirinya supaya jangan bernyanyi. Namun apa daya, usah demi usaha Ummul Wafa’ mencegah kebiasaan buruk Salamah hasilnya nihil. Salamah kemudian dijual kepada Ibnu Suhail karena mereka sudah tak sanggup mendidik Salamah. Disana Salamah dapat menyalurkan bakat menyanyinya dengan leluasa, tanpa ada yang melarang.
Pada suatu hari Abdurrahman bermimpi bahwa dia mendengar suara perempuan bernyanyi di atas neraka Hawiyah. Pada saat ini Abdurrahman sedang berjalan-jalan di taman surga. Abdurrahman segera mencari asal suara itu dan mendapati seorang perempuan telanjang sedang bernyanyi. Kemudian Abdurrahman mendekati perempuan itu, namun dia malah mencekik leher Abdurrahman dan minta tolong untuk menyelamatkannya. Abdurrahman lalu terbangun dan mengatakannya pada Abul Wafa’. Abul Wafa’ pun menghiburnya. Namun, setiap hari Abdurrahman memikirkan mimpi itu.
Pada suatu hari, Abdurrahman berjalan di depan rumah Ibnu Suhail dan tiba-tiba mendengar suara yang persis dalam mimpinya. Tanpa terasa Abdurrahman masuk ke dalam rumah Ibnu Suhail. Dia sebenarnya tak mau masuk, namun karena bujukan Ibnu Suhail, dia akhirnya mau.
Abdurrahman mulai mengenal sosok yang menyanyikan lagu seperti suara dalam mimpi itu yaitu Salamah. Lama kelamaan Abdurrahman mulai menyukai Salamah. Begitu pula Salamah. Abdurrahman juga menjadi sahabat baik Ibnu Suhail. Dengan berjalannya waktu, Abdurrahman membantu Salamah menulis syair-syair lagu. Kisah percintaan Salamah dan Abdurrahman menjadi tekenal di seluruh kota Mekkah. Bahkan mereka di juluki Salamatul Qos.
Ada gejolak dalam hati Abdurrahman setelah mencintai Salamah. Abdurrahman menemukan kegairahan hidup serta kegairahan dalam beribadah setelah terkena badai cinta Salamah. Dalam benaknya ada keinginan untuk membebaskan Salamah dari Ibnu Suhail. Dia kemudian bekerja di pasar sebagai pedagang, itu membuat masyarakat Mekkah menjadi heran dengan apa yang dia lakukan.
Pada suatu hari Abdurrahman berniat menjual tanah warisan ayahya untuk membebaskan Salamah. Namun terlambat, Ibnu Suhail tiba-tiba bangkrut karena . Seluruh harta benda miliknya disita dan dilelang di pengadilan. Ibnu Suhail tak terkecuali Salamah. Hati Abdurrahman teriris mendengar kabar itu. Salamah telah dibeli oleh saudagar Madinah. Dengan berat hati Abdurrahman dan Ibnu Suhail harus berpisah dengan Salamah. Tangis kesedihan mengiringi perpisahannya.
Setelah sampai di Madinah, Salamah mendapatkan tuan yang baik hati, Ibnu Rumanah namanya. Dia tinggal di rumah mewah bersama budak-budak yang lain. Disana ia banyak belajar menyanyi karena Ibnu Rumanah juga suka dengan musik. Meski sulit sekali menghilangkan rasa sedih karena perpisahan dengan kekasihnya, ia tetap tabah dan setia dengan tuannya. Banyak cara yang dilakukan tuannya untuk menghibur Salamah. Oleh taunnya, ia diajak untuk bertemu dengan Jamilah, seorang penyanyi terkenal yang sangat dikagumi Salamah. Salamah pun belajar banyak dari dia. Karena keteguhannya, ia sangat disayangi tuannya. Hal itu menimbulkan iri para budak-budak yang lain yang telah lama tinggal dengan tuannya.
Abdurrahman semakin terpukul, kesedihan yang bertubi seakan memupus harapannya menjadikan Salamah sebagai istrinya.  Setiap malam dia selalu bangun untuk beribadah dan menyendiri ke padang pasir untuk bertahajud. Ibnu Suhail juga merasakan kesedihan, dia sedih karena tidak bisa meberi makan para fakir miskin. Sampai suatu hari Abdurrahman berpikir tentang uang hasil penjualan tanahnya untuk dijadikan modal berdagang bersma Ibnu Suhail. Apabila uang mereka dirasa cukup, bisa untuk membebaskan Salamah. Hatinya begitu bersemangat dalam berdagang. Setelah setahun lamanya, ia bersama sahabatnya menuju Madinah untuk mencari Salamah.
Setelah beberapa hari melakukan perjalanan jauh, tibalah mereka berdua di Madinah, berharap dapat bertemu dengan Salaham yang telah lama mereka rindukan. Kebetulan Ibnu Suhail mempunyai sahabat di Madinah, segeralah ia menuju rumah sahabatnya yaitu Ibnu Abi Atiq. Setelah beristirahat, Abdurrahman dan Ibnu Suhail diantar ke rumah Ibnu Rumanah. Kebetulan setiap habis Ashar, rumah Ibnu Rumanah mengadakan pertunjukan musik oleh Salamah.
Salamah bertemu dengan kekasihnya, Abdurrahman. Abdurrahman langsung pingsan setelah menatap wajah Salamah yang telah berlinang air mata saat bernyanyi. Namun nasib berkata lain, Salamah telah dibeli oleh seorang khalifah dari Syam, Yazid bin Abdil Malik. Abdurrahman hanya bisa pasrah dengan keadaan. Salamah yang ingin dirinya dibebaskan oleh Abdurrahman menjadikan harganya tinggi. Uang hasil jerih payah Abdurrahman dan Ibnu Suhail tidak sanggup untuk menebus Salamah.
Akhir cerita, untuk yang kedua kalinya kedua kekash itu harus berpisah untuk selama-lamanya. Air mata kesedihan bercucuran dari semua orang yang mengagumi mereka berdua, termasuk Ibnu Suhail dan Ibnu Abi Atiq. Salamah dan Abdurrahman percaya, mereka akan bertemu di akhirat kelak dan menjadi pasangan abadi.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik