Translate

cerpen orang merantau

Written By iqbal_editing on Minggu, 18 Desember 2016 | 01.01

Judul Cerpen Merantau
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Perjuangan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 26 January 2016
Malam berlalu, ku lihat awan berkelabu, menemani sepi dalam lamunanku di teras depan rumahku. Namaku Ricky, ini sepenggal kisah yang entah berapa tahun yang lalu, waktu itu aku kelas 2 SMA, namun terpakaa aku harus berhenti sekolah, mengingat waktu itu keluargaku sedang dalam keadaan krisis ekonomi, dan sudah 6 bulan SPP belum ku lunasi, sehingga terpaksa aku tak melanjutkan sekolahku lagi. Malam itu seakan menjadi wadah untuk aku membuang semua mimpi dan harapanku, dan membiarkan malam itu menjadi perpisahanku dengan semua cita-citaku sebelum akhirnya esok hari nanti ku hadapi kenyataan itu. Tak lama ku dengar langkah kaki dari dalam rumah dan menghampiriku.
“Maafkan Ayah, ini memang sudah menjadi kenyataan, Ayah tahu kamu mempunyai mimpi yang sangat besar, namun Ayah juga yakin perlahan kamu bisa memahami semua ini!” cetus ayahku sambil mengusap bahuku. Namun aku hanya tersenyum sesekali aku mempunyai rasa sesal terhadap hidup ini. “Sudah jangan terlalu dipikirkan, waktu sudah malam cepatlah masuk kamar!” sambungnya, dan berlalu meninggalkanku.
Dalam hening aku berpikir, memang benar kata ayahku, aku harus terima semua ini. Dan semangatku kembali tumbuh kala ku ingat kedua adikku. Lalu ku berpikir bagaimana untuk mereka kedepannya, kalaulah semuanya tetap seperti ini? Aku memang harus bertindak, mungkin di situlah pola pikirku berubah, yang sebelumnya menyesali keadaan kini aku menjadi punya pandangan akan arah masa depanku, dan perlahan ku singkirkan egoku.
Hari berlalu aku terus berpikir bagaimana caranya aku melangkah dan kemana aku harus pergi? Aku harus bisa membantu ibu dan ayah menghidupi adik-adikku. Masih terlarut dalam renunganku, tiba-tiba datang seorang temanku, Deni. Ia menghampiriku, “apa kabar Ky?” cetusnya sambil menjabat tanganku, ia memang sudah lama tak berjumpa denganku, mengingat ia sibuk bekerja di Jakarta. “Hai, Den! Kapan datang kamu?” jawabku. “Tadi sore! Eh kita nongkrong yuk!” seru Deni. “Ah, nanti lah.. belum mandi nih!” jawabku. “Uda gak papa, yukkk!” jawabnya sambil menarik tanganku memakasa untuk ikut dengannya.
Dengan menumpangi motornya sampailah aku di jembatan ujung desaku, dan memang di situlah tempat kami menghabiskan waktu kala senja. “Kamu lagi ada masalah Ky?” cetusnya. “iya Den, aku juga bingung, apa yang harus aku lakukan saat ini?” jawabku. “Emang kamu, gak lanjut sekolah lagi?” sambungnya.
“Aku mau kerja Den!” ujarku. Namun ia hanya tertawa mendengar ucapanku, entah apa yang ia pikirkan. “Kenapa ketawa Den?” sambungku.
“Emangnya kamu mau kerja apa? Lagian di kampung palingan kerjaan cuma nyangkul, dan gak lebih bercocok tanam!” jawabnya.
“Ya aku sih, maunya kerja di Jakarta Den! Gimana kalau aku ikut kerja di tempat kerja kamu Den?” seruku. Dia nampak diam mendengar jawabanku itu, lalu ia mengizinkan aku ikut kerja dengannya. “Tapi apa orangtua kamu mengizinkan, kalau kamu merantau ke Jakarta?” Tanya dia.
“Gampang itu, bisa diatur! Tapi kapan kamu mau berangkat lagi ke sana?” jawabku.
“Seminggu lagi paling!” jawabnya. Akhirnya ada jalan juga untuk semua resahku ini, setelah senja pergi dan adzan maghrib berkumandang, kami pun bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, aku tanyakan lagi pada ibu dan ayahku. “Bu, nanti Ricky mau ikut Deni ke Jakarta, boleh kan Bu?” Cetusku pada ibu, yang kebetulan ibu baru selesai menunaikan shalat. “Apa gak sebaiknya kamu, sabar dulu! Barangkali nanti Ayahmu dapat pinjaman dari saudaranya, kamu kan bisa lanjut sekolah lagi.” jawabnya.
“Enggaklah Bu, pikiranku sudah bulat ingin kerja, lagi pula kalau pun Ayah dapat pinjaman untuk sekolahku, lalu bagaimana untuk kedepannya Bu, Ricky gak mau bikin susah Ibu dan Ayah!” jawabku. “ya, sudahlah, nanti kamu bilang dulu Ayah kamu, Ibu gak bisa izinkan kamu begitu saja, Ayahmu juga harus tahu!” jelasnya. Aku pun menghampiri ayah dan ku tanyakan hal yang sama, akhirnya ayah dan ibu ku mengizinkan aku pergi nanti dengan Deni.
Hari demi hari berlalu, tibalah saatnya aku berangkat ke Jakarta. Kebetulan waktu itu Travel yang akan mengantarku sudah datang bersama dengan Deni di dalamnya. “Bu, Ricky pamit ya, do’akan Ricky biar betah disana, Ricky janji kalu nanti udah kerja, pulang dari sana Ricky bawain baju buat ibu, ayah dan adik-adik Ricky!” ucapku menguatkan ibu. “Jaga diri kamu, baik-baik disana, kalau kamu gak betah pulang lah, jangan sampai membuat ibu khawatir ya nak!” kata ibu dengan berurai air mata.
Dan aku pun terbawa haru menangislah aku di pelukan ibuku. “Sudah, kasihan Deni nunggu lama tuh, Ricky Jaga diri kamu di sana! Hati-hati di jalannya!” cetus ayahku. dengan akhirnya aku pun melangkah meninggalkan tempat tinggalku, meninggalkan mereka orang-orang terkasihku. Dengan tas di bahu ku melangkah menuju mobil di depan rumahku, yang kebetulan sudah menanti dari tadi. Di dalam mobil masih air mata membanjiri pipiku, ku lambaikan tangan kepada ibu, sebelum akhirnya perlahan mobil yang ku tumpangi beralu meninggalkan desaku.
8 jam berlalu sampailah aku di Jakarta, kota yang kata mereka kejam, yang mana kalau tak kenal maka tak sayang, berbagai orang dari penjuru bumi ibu pertiwi singgah di sini, tak lain untuk mengadu nasib. Tak lama setelah ku sampai di tempat temanku Deni, hujan yang deras menyapa kedatanganku. Waktu berlalu namun hujan hingga malam belum reda, tak lama banjir pun melanda tempat tinggal kawanku Deni, kebetulan Deni tinggal di kawasan jakarta barat, di situ memang terkenal banjir tahunannya. Seminggu berlalu banjir tak juga surut, ku pikir Ibu kota tak berharap kedatanganku. Rencanaku hendak ikut kerja dengan kawanku tapi karena banjir yang merendam ibu kota, juga merendam toko tempat kerja temanku, maka barang-barang di dalamnya ikut terendam, hingga akhirnya tak bisa untuk dijual.
Banjir surut pagi itu ada surat yang seakan silih berganti deritaku di sini. Surat itu berisikan bahwa toko elektronik tempat kawanku kerja akan ditutup (gulung tikar) dan itu kabar buruk sekali bagiku, bagaimana nasibku dan temanku? Kami berdua hanya bisa merenung bingung, sesekali aku lihat surat itu untuk meyakinkan bahwa itu surat dari kantor temanku. Waktu terus berputar, ketika pikiran penuh keseriusan untuk mencari solusi, di sisi lain cacing di perut tak henti menganggu konsentrasi. Maklum kami berdua sudah dua hari tak menyantap nasi, hanya cemilan-cemilan dan mie instan saja, hingga kini saat perut keroncongan uang pun tak ada, seakan membenarkan bahwa hidup di ibu kota memang keras.
Entah ke mana aku tak melihat temanku Deni. Untuk menahan lapar aku cobalah untuk tidur, seling beberapa menit aku tidur, datanglah Deni, dengan membawa setenteng makanan.
“Wahh!!” Sambutku ketika melihat makanan yang dibawa Deni. Ketika sedang menyantap makanan itu, serentak aku menghentikan suapan nasi yang saat itu aku genggam, ketika ku lirik Deni, aku bertanya. “Hey Den.. dari mana kamu dapat makanan ini? Bukankah uang kita sudah habis?” cetusku. Deni pun hanya menggelengkan kepala, seakan menyuruhku untuk melanjutkan makan. Selesai makan aku kembali menanyakan hal yang sama, Deni pun akhirnya bercerita bahwa makanan yang ia dapat itu hasil iya menjual handphone-nya. Benar-benar merasa membebani sekali hidupku. Kalau saja ku tahu Deni ingin menjual handphone-nya untuk makan, aku pun akan menitipkannya sepatuku, barangkali bisa untuk membeli makan esok hari.
Deni memang kawan yang baik, ia segera bergegas dari tempat kami tinggal, entah ke mana aku tak tahu. Aku pun tak ingin diam, pergilah aku untuk mencari pekerjaan, karena jika aku tetap berdiam di sini, hanya akan membebani Deni. Lelah menyusuri Ibu kota sejenak ku tatap matahari. “Oh Tuhan. Terasa sekali cobaan yang saat ini ku jalani..” Ungkapku dalam hati. Dengan jaket lusuh ku usap keringat di dahiku, sejenak aku berhenti di sebuah rumah makan khas Tegal. Satu jam aku diam di sana, sang pemilik mungkin risau dengan kedatanganku, ia menghampiriku, ku kira ia mau memarahiku, ternyata ia malah membawakan segelas teh dengan sepiring nasi dan lauknya. Ia memberikannya kepadaku, dengan logat medok jawanya ia bertanya kepadaku.
“kamu ini dari mana mau ke mana? Kok kelihatannya bingung gak karuan?” tanya ibu warteg itu.
“Saya mau nyari kerja Bu, tapi saya juga gak tahu ke mana saya harus mencarinya” jawabku. Waktu itu aku bercerita dengan ibu itu sembari ku lahap makanan yang ia berikan, usut demi usut ternyata si ibu itu punya saudara yang mau buka restoran dan butuh tenaga kerja, ia menawarkan pekerjaan itu padaku, dengan besar hati ku terima tawaran baik si ibu itu. Dan aku hanya diberikan sobekan kertas yang berisi alamat saudara ibu itu, untuk keesokkan harinya ku jumpai ke sana. Aku pamit dengan berulang-ulang ku ucap terima kasih padanya. Ya ibu itu mungkin dewa penolong yang dikirimkan Tuhan waktu itu.
Pulanglah kembali aku ke tempat temanku Deni. Tak lama ia juga datang, lalu ia bercerita bahwa ia sudah dapat pekerjaan baru. Dengan senang aku juga menceritakan, bahwa mulai besok aku punya pekerjaan. Yah!! Kami bersenda gurau lepas dari beban, yang hari lalu membuat jera kami berdua. Namun di tengah kami tertawa bercanda, terbersit di pikirku bahwa mungkin hari ini adalah hari terakhirku dengannya untuk bisa bersama dengannya, serentak kami berhenti dari tawa yang dari tadi kami guraukan. Ia memandangku, seakan ia juga mempunyai pikiran sama denganku.
Benar saja, ia menundukkan kepalanya dan ku lihat ia terharu, tapi terlalu kuat untuk kami meneteskan air mata, karena kita tahu kita laki-laki, dan ayahku pun tak pernah mengajarkan untuk menangis. Ia hanya menepuk pundakku, dan berkata. “Ky, apa kamu yakin mau kerja? Aku khawatir kamu ini baru di sini, lalu tempat kita sangat jauh berbeda?” tanya dia.
“Ini sudah menjadi tantangan buatku Den, kamu tahu, Aku pergi dari rumah ya untuk bekerja kalau pun, ada banyak yang kau khawatirkan tentangku di sana, akan ku hadapi semuanya, karena sebelum ku di sini, aku sudah banyak dengar tentang Ibu kota, yang ku kira itu mitos ternyata benar ku rasa, ini nyata! Kau tenang saja.. Kita memang harus jalani ini.” jawabku dengan mencoba menguatkan hatinya. Ia mulai tenang ketika mendengar ucapku tadi.
Sebelum keesokkan harinya kita berpisah tak lupa ia memberiku alamat barunya di mana ia akan kerja. Untuk suatu saat nanti jika aku ingin pulang kampung, ia menyuruhku untuk datang padanya. Detik jam mulai menunjukkan pukul 06:00 di situlah kami mulai berjabat tangan untuk berharap esok atau nanti kita bisa berjumpa lagi. Aku pun mulai melangkahkan kaki menuju ke tempat yang dimaksud ibu Warteg. Berjalan terus berjalan sampailah aku ke tempat yang ku tuju, di sebuah ruko di kawasan Sunter Paradis (jakarta utara) di situ memang terlihat ada sebuah ruko yang ku kira baru dibangun, untuk dijadikan rumah makan.
Tak butuh waktu lama ku sambangi tempat itu, ku sapa yang ada di situ, ku tanya alamat yang ku bawa, dan ku beritahu aku yang dimaksud ibu Warteg saudara beliau. Mereka menyambutku dengan ramah, dan ternyata tempat itu baru mau dibuka. Keesokkan harinya, hari pertama Restoran itu dibuka kebetulan Restoran itu bertema chinees food, aku serba bingung, semua barang yang ku pegang saat itu sangat asing. Maklum untuk hal memasak aku sangat kaku, mungkin karena saja dulu aku tak pernah mau ketika diajarkan masak oleh ibuku. Namun ini yang harus ku jalani, sedikit demi sedikit aku diajarkan oleh koki Restoran tersebut. Tak jarang aku kena marah, bahkan sering ku dimaki olehnya ketika salah melakukan sesuatu yang dipintanya. Aku pun tak peduli hal itu, karena dalam benakku yang penting ku dapat gaji aku pulang membawa uang.
Satu minggu berlalu aku mulai membiasakan diri di sana, mulai ku paham pekerjaanku saat itu. Dan sebulan berlalu aku mendapatkan gaji pertamaku. Senang sekali aku waktu itu, saat pertama kali ku pegang uang sekitar 700 Ribu Rupiah. Hari kemudian aku dapat teman baru di sana, namanya Ika, ia ku kenal saat makan di tempatku kerja, ia adalah seorang waitress di salah satu Bar di kawasan Kemayoran. Ku kenal ia awalnya karena ku suka, lalu ku pacarilah dia. Dan ternyata saat itu aku mencintai orang yang salah, hingga akhirnya aku terjerumus dengan hal-hal negatif, sehingga setiap harinya aku terus melakukan kekhilafan, menjalani kehidupan yang kelam dengan pergaulan yang tidak baik, dan di situ aku hampir saja menjadi pecandu Nark*ba. Pada akhirnya, gaji kedua dan seterusnya tak pernah ada sisa.
Gaya pacaran kami bisa dibilang mirip seperti film yang berjudul “Radit & Jani”, Kegelapan dalam hidup baru ku rasa pada masa itu, meski terkesan Glamor dan tak baik, tapi aku dengannya merasa nyaman. Setiap aku pulang kerja, ia selalu menemuiku, kami selalu menghabiskan malam hari bersama, di jalan, kadang di taman untuk sekedar nongkrong, kadang tak jarang jika ia sedang, banyak uang kita sering nonton Bioskop. Memang jauh sekali dari kehidupan aku sebelumnya, seakan aku lupa akan niatku ke Jakarta. Hingga pada suatu hari, aku dan Ika pun ada masalah, saat itu aku sudah mulai sadar, bahwa hidup yang saat ini ku jalani, tidaklah baik.
Ika mulai bingung dengan tingkahku, setiap Ika menemuiku, aku selalu menghindar, bahkan tak jarang aku menyuruhnya untuk pulang. Hingga suatu hari ketika bulan keempat aku di sana, aku mulai merasakan penyesalan dalam hidup. Bayangkan 7 hari lagi waktu itu aku harus pulang, merayakan hari Raya Idul Fitri, bersama keluarga. Dan aku ingat, aku punya janji pada ibu, bahwa suatu saat nanti aku pulang aku ingin sekali membawakan baju lebaran untuknya. Aku mulai mejauhi Ika, mulai fokus pada kerjaan, berharap THR nanti bisa buat beli baju ibuku. Dengan cepat waktu berlalu, sehingga waktu untuk aku pulang tinggal 5 hari lagi. Aku mulai mengundurkan diri dari Restoran itu, dan ketika pikirku berharap mendapat THR besar, ternyata malah gajiku dipotong, dengan alasan Restoran sepi pembeli waktu itu.
“Ya Tuhaann. Berat sekali cobaan ini!!!” Dan keesokkan harinya aku pulang dengan begitu saja ke luar dari Restoran, dengan bekal sisa gaji 400 ribu apakah bisa aku membeli baju untuk ibu? Tak mau berpikir panjang, aku menumpangi bajaj untuk singgah di tempat Deni bekerja. Dan sesampainya di sana ternyata Deni juga mengalami nasib yang sama, dan malah gajinya belum diberi dari Bosnya. Namun ternyata ia punya uang simpanan, sehingga akhirnya ia memaksa ke luar dari pekerjaannya. Sebelum aku pulang, Deni mengantarkanku, untuk membeli baju sesuai janjiku pada ibu, sesampainya di sana dan ku dapatlah baju Kebaya, yang ku rasa pas untuk ibu. Lega rasanya saat baju itu sudah di tanganku. Tinggal ku pikir bagaimana ku bisa pulang, sementara uang semakin menipis.
Sesampainya di kosan Deni, kita kembali merenung, termenung dan bingung, “bagaimana kita bisa pulang Den?” cetusku. “Emang uang kamu, habis semua Ky?” jawabnya. Ia merasa bingung denganku, aku pun menceritakan yang sesungguhnya terjadi. “Okelah, tak perlu ada yang disesali, semuanya sudah terjadi, jadikan ini pelajaran buat kamu Ky!” ujarnya dengan bijak. “kamu harus ingat Ky, mereka di kampung menantikan kesuksesanmu, berharap kamu pulang dengan keberhasilanmu! Kalau begini, apa yang mau ka ceritakan pada mereka?” sambungnya. “Entahlah Den, aku juga bingung, kenapa aku harus terjerumus dalam hal seperti itu?!” kataku. Semua jadi hening, Deni seakan tak mau bicara denganku, setelah dia tahu yang sesungguhnya. Ketika semuanya membisu, tiba-tiba pintu kosan Deni ada yang mengetuk.
“Asalamualaikum!” suara dari luar. Deni pun membukanya. “Eh Pak Akim ada apa yah?” tanya Deni.
“Kamu gak, pulang kampung Den, lusa kan lebaran?” tanya pak Akim. “Pengen sih Pak, cuman gak ada buat ongkos!” ujar Deni. “Nah, kebetulan, saya mau ngirim barang ke daerah Kuningan, kira-kira kamu tahu jalannya nggak? Soalnya saya nggak hafal jalan menuju Kuningan.” seru Pak Akim.
Kebetulan Pak Akim adalah sopir truk expedisi. “kalau kamu tahu, barengan aja, biar sekalian ada teman saya di jalan.” sambungnya. “Oh, boleh-boleh Pak Akim, kebetulan juga saya hafal jalan ke kuningan!” jawab Deni. Tuhan memang sangat adil, di saat seperti ini, Tuhan memberikan kami jalan untuk kami bisa pulang ke kampung halaman. Lalu tak ingin menyia-nyiakan waktu aku dan Deni pun, segera bergegas menuju mobil Pak Akim, dan perjalanan menuju kampung halaman pun dimulai.
Yang biasanya waktu dari Jakarta ke Kuningan hanya 8 jam kini, 12 jam perjalanan, karena memang macet, mungkin juga karena memang arus mudik Lebaran. Sekitar adzan maghrib aku pun sampai di rumah tercinta dan bertemu orang-orang yang ku rindukan. Turun dari mobil box pak Akim, aku tak bisa menahan rindu pada mereka langsung ku lari dan memeluk ibu, yang sudah berdiri di pintu rumahku, yang sedari tadi menunggu kepulanganku.
Air mata tak bisa ku bendung lagi, ku peluk ibu dan meminta maaf padanya. Dan keesokkan harinya takbir berkumandang, akhirnya aku bisa merayakan lebaran di sini, di kampung halamanku. Oh Tuhan ini perjalanan hidup yang sangat berharga untuku, aku berjanji untuk tak melakukan hal buruk yang telah ku alami, untuk di kemudian hari. Terima kasih juga untuk orang-orang yang telah berbaik hati kepadaku. Semoga kalian mendapatkan kebahgiaan dan kemakmuran dalam hidup. Terima kasih juga buat sahabatku Deni, hari lalu hari ini sampai nanti hari menutup mataku tak akan ku lupa perjuangan hidup bersamamu.
Cerpen Karangan: Dicky Ferdiansyah
Facebook: Dicky Ferdiansyahh

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik