Translate

cerpen mandi di sungai

Written By iqbal_editing on Selasa, 06 Juni 2017 | 07.14

Cerpen: Mandi di Sungai



Hari telah sore, aku dan adikku berangkat ke sungai terdekat untuk mandi. Pipi adikku sudah merah terkena sinar matahari yang tak lagi tinggi. Teman-teman semua sudah pergi memasang tenda dengan wajah-wajah cerianya.
“Mbak, kita ke kolam yuk!” adikku mengajak mandi di sungai yang mempunyai cekung dan lebar seperti kolam mini. Tentu saja, arusnya cukup deras.
“Ayuk.” Seperti biasa, aku enggan berdebat karena cukup lelah dengan kegiatan memasak seharian.
                Sepanjang perjalanan menuju sungai kami diam, kutoleh kanan kiri mencari beri liar yang mungkin kutemukan disepanjang jalan seperti yang kutemukan kemarin sore saat berangkat mandi. Beri itu berwarna merah, cukup kecil untuk dimasukkan ke mulut. Rasanya asam sedikit manis. Tapi kali ini, aku tidak menemukannya.
                Sesampainya disungai kami segera mencari tempat untuk meletakkan handuk dan tempat sabun. Di atas batu besar kami meletakkannya. Setelah itu kami mulai melucuti pakaian masing-masing kami. Kulihati punggung telanjang adikku, kupastikan tidak ada lintah yang melekat disana. Aku tidak peduli jika digigit lintah, tidak ada rasanya, dan kalaupun digigit selama aku tidak tahu aku pasti akan baik-baik saja. Selama dua hari kami sekelompok ada sebelas orang telah membangun camp untuk tempat orientasi organisasi kami. Kami tidak apa-apa selama ada tawa di wajah kami.  Tempat yang kami pilih saat ini sangat jauh dari keramaian. Kami pun sekali lagi tidak akan apa-apa.
                Aku pun kembali fokus untuk mandi. Setelah melucuti pakaian, aku tak mau membuang waktu karena selain aliran sungai itu cukup deras, suhunya sangat dingin. Aku sangat tidak tertarik untuk kedinginan lagi setelah semalam. Langsung kukeluarkan peralatan mandiku, aku menggosok gigi. Sikat gigiku kubasahi lalu kuberi pasta gigi. Setelah kumur dengan air sungai itu, aku menggosok gigi. Kulihati adikku sedang menyeka tubuhnya dengan air sungai yang kutahu dari tadi dingin disertai jeritan kecilnya. Sejurus kemudian, belum selesai aku menggosok gigi, mataku seakan tertarik untuk melihat kesuatu arah. Dan arah itu adalah depanku. Di sana ada serangga kecil mirip laba-laba namun menari-nari diatas air, kaki-kaki kecilnya seperti anti air. Aku begitu takjub, langsung ingin rasanya aku menuliskan puisi untuk ciptaan indah ini. Namun, bayanganku buyar karena serangga itu menyingkir bukan karena menghindari ranganku yang ingin menggapainya, tapi karena sepotong tai yang terlalu hijau untuk digolongkan sebagai tai manusia. Sungai disini sangat bening, bahkan bisa diminum. Pasti ada orang atau salah satu dari kami yang buang air besar di arah hulu sungai sana. Tapi kuingat-ingat jika aku kemarin tidak terlalu memasakkan teman-temanku sayuran hijau. Pasti ini bukan tai salah satu dari kami.  Aku menggosok gigiku perlahan sambil melihati tai itu hanyut menjauhiku. Aku menoleh ke arah adikku, ia sepertinya tidak menyadari kedatangan tai hijau itu. Aku menghela nafas sebelum bertanya pada adikku.
“Di atas (hulu sungai) apa ada orang ya?” adikku masih berendam tanpa memperhatikan aku.
“Enggak ada, mbak.” Jawabnya sekenanya.
“Yaudah…” aku berkumur sambil mencoba melupakan tai itu. Adikku memandangiku curiga.
“Kenapa kau mendadak tanya seperti itu? Apa melihat seseorang?”
“Tentu saja tidak.” Di dalam hati aku berteriak marah pada diriku sendiri karena tidak bisa jujur pada adikku. “Aku melihat tai orang!!!”
“Ayo, sudah dingin.” Adikku melompat keluar dari air. Sepanjang perjalanan kami terdiam, kali ini aku diam bukan mencari-cari beri liar lagi. Tai itu masih terbayang jelas di benakku. Adikku mempercepat langkahnya karena hari semakin petang. Dan teriakan teman-teman yang datang dengan baju basah mereka.
Selesai!!!

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik