Cerpen: Mandi di Sungai
Hari telah sore, aku dan adikku
berangkat ke sungai terdekat untuk mandi. Pipi adikku sudah merah terkena sinar
matahari yang tak lagi tinggi. Teman-teman semua sudah pergi memasang tenda
dengan wajah-wajah cerianya.
“Mbak, kita ke kolam yuk!” adikku mengajak mandi di sungai
yang mempunyai cekung dan lebar seperti kolam mini. Tentu saja, arusnya cukup
deras.
“Ayuk.” Seperti biasa, aku enggan berdebat karena cukup
lelah dengan kegiatan memasak seharian.
Sepanjang
perjalanan menuju sungai kami diam, kutoleh kanan kiri mencari beri liar yang
mungkin kutemukan disepanjang jalan seperti yang kutemukan kemarin sore saat
berangkat mandi. Beri itu berwarna merah, cukup kecil untuk dimasukkan ke
mulut. Rasanya asam sedikit manis. Tapi kali ini, aku tidak menemukannya.
Sesampainya
disungai kami segera mencari tempat untuk meletakkan handuk dan tempat sabun. Di
atas batu besar kami meletakkannya. Setelah itu kami mulai melucuti pakaian
masing-masing kami. Kulihati punggung telanjang adikku, kupastikan tidak ada
lintah yang melekat disana. Aku tidak peduli jika digigit lintah, tidak ada
rasanya, dan kalaupun digigit selama aku tidak tahu aku pasti akan baik-baik
saja. Selama dua hari kami sekelompok ada sebelas orang telah membangun camp
untuk tempat orientasi organisasi kami. Kami tidak apa-apa selama ada tawa di
wajah kami. Tempat yang kami pilih saat
ini sangat jauh dari keramaian. Kami pun sekali lagi tidak akan apa-apa.
Aku pun
kembali fokus untuk mandi. Setelah melucuti pakaian, aku tak mau membuang waktu
karena selain aliran sungai itu cukup deras, suhunya sangat dingin. Aku sangat
tidak tertarik untuk kedinginan lagi setelah semalam. Langsung kukeluarkan
peralatan mandiku, aku menggosok gigi. Sikat gigiku kubasahi lalu kuberi pasta
gigi. Setelah kumur dengan air sungai itu, aku menggosok gigi. Kulihati adikku
sedang menyeka tubuhnya dengan air sungai yang kutahu dari tadi dingin disertai
jeritan kecilnya. Sejurus kemudian, belum selesai aku menggosok gigi, mataku
seakan tertarik untuk melihat kesuatu arah. Dan arah itu adalah depanku. Di sana
ada serangga kecil mirip laba-laba namun menari-nari diatas air, kaki-kaki
kecilnya seperti anti air. Aku begitu takjub, langsung ingin rasanya aku
menuliskan puisi untuk ciptaan indah ini. Namun, bayanganku buyar karena
serangga itu menyingkir bukan karena menghindari ranganku yang ingin
menggapainya, tapi karena sepotong tai yang terlalu hijau untuk digolongkan
sebagai tai manusia. Sungai disini sangat bening, bahkan bisa diminum. Pasti ada
orang atau salah satu dari kami yang buang air besar di arah hulu sungai sana. Tapi
kuingat-ingat jika aku kemarin tidak terlalu memasakkan teman-temanku sayuran
hijau. Pasti ini bukan tai salah satu dari kami. Aku menggosok gigiku perlahan sambil melihati
tai itu hanyut menjauhiku. Aku menoleh ke arah adikku, ia sepertinya tidak
menyadari kedatangan tai hijau itu. Aku menghela nafas sebelum bertanya pada
adikku.
“Di atas (hulu sungai) apa ada orang ya?” adikku masih
berendam tanpa memperhatikan aku.
“Enggak ada, mbak.” Jawabnya sekenanya.
“Yaudah…” aku berkumur sambil mencoba melupakan tai itu. Adikku
memandangiku curiga.
“Kenapa kau mendadak tanya seperti itu? Apa melihat
seseorang?”
“Tentu saja tidak.” Di dalam hati aku berteriak marah pada
diriku sendiri karena tidak bisa jujur pada adikku. “Aku melihat tai orang!!!”
“Ayo, sudah dingin.” Adikku melompat keluar dari air. Sepanjang
perjalanan kami terdiam, kali ini aku diam bukan mencari-cari beri liar lagi. Tai
itu masih terbayang jelas di benakku. Adikku mempercepat langkahnya karena hari
semakin petang. Dan teriakan teman-teman yang datang dengan baju basah mereka.
Selesai!!!
0 komentar:
Posting Komentar