Translate

cerpen tentang bintang kesurupan

Written By iqbal_editing on Kamis, 12 Januari 2017 | 06.28

Bintang Kesurupan
Author : Putri A.Thalib
Pada bulan Mei tahun 2013 lalu, perguruan Pencak Silat-ku mengadakan ‘kemah akbar’ dalam rangka kenaikan sabuk serta silaturahmi antara anggota kota dengan kabupaten. Tahun itu adalah pengalaman pertamaku mengikuti kemah perguruan. Kemah diadakan selama 3 hari 2 malam, yang dimulai pada hari jum’at sore dan diakhiri minggu pagi.
            Setiap malamnya didakan renungan. Setelah renungan, diadakan ‘drama mendadak’. Drama ini wajib ada, setiap kali diadakan kemah akbar. Drama ini dilakukan secara mendadak, tanpa memberitahu penonton bahwa akan diadakan drama. Pada akhirnya penonton akan heran sekaligus kaget dengan adegan – adegan yang dilakukan oleh aktor yang ditunjuk. 
            Pada malam kedua, diadakan perendaman. Karena diadakan perendaman, kami istirahat lebih cepat. Seusai shalat maghrib, para pelatih menyuruh kami agar segera kembali ke tenda masing – masing untuk istirahat. Saat itu *ditenda, selain ada teman – temanku, ada pula seorang kakak senior (perempuan) dan kakakku, kak Alam. Kami sudah berbaring *siap menuju alam mimpi, pengecualian untuk mereka berdua *kakak senior itu dan kak Alam yang entah sedang membicarakan apa. Kututupi wajahku dengan sarung yang kubawa dari rumah. Tapi, entah sengaja atau tidak aku menguping pembicaraan kakakku. Dan ternyata mereka sedang membahas drama untuk malam itu, yang sepertinya akan bertemakan kesurupan. Aku menangkap salah satu percakapan mereka “Kalau gitu, jangan rekrut anggota dari kabupaten aja, anggota dari kota juga. Biar gak terjadi diskriminasi de el el” Saran kak Alam kepada kakak senior yang namanya tidak kuketahui. Sekaligus menguatkan dugaanku, bahwa drama malam ini akan bertema kesurupan.

Belum sempat merasakan indahnya alam mimpi, suara bising salah seorang pelatih *pake toa pula* menyuruh kami untuk berkumpul membangunkanku dan juga teman – teman *sial pake banget*. Dengan ogah – ogahan kami pun berkumpul, ternyata kami akan diberi arahan tentang perendaman yang akan dilaksanakan tengah malam nanti *O.. aja*. Belum sampai dipertengahan topik mengenai perendaman, kak Alam memanggilku. Dia menngajakku menjauh dari kerumunan, menuju tenda. Ditenda sudah ada pak Agus, pelatih dari kabupaten. Didalam tenda kak Alan menawariku untuk menjadi orang yang kesurupan dalam drama malam itu, sekaligus menjadi perwakilan dari cabang kota. Sedangkan perwakilan dari kabupatennya adalah kak Tika. Jadi, yang akan pura – pura kesurupan malam itu adalah kak Tika dan aku #jika aku menerimanya. Aku pun  menerimanya dengan senang hati, walau ada satu hal yang membuatku ragu. Pak Agus menyuruhku agar saat kesurupan nanti, menyampaikan pesan “laki – laki yang kemah disini selalu buang sampah dan buang air kecil SEMBARANGAN”.
Aku pun kembali ke perkumpulan. Sebenarnya aku kaget, karena tidak menyangka aku yang dipilih. Semenjak kembali dari tenda, aku mulai berpikir serta membayangkan bagaimana menjadi orang kesurupan. Tapi masalahnya ada hal yang membuatku ragu untuk memerankan peran kesurupan. Ya, karena sebelum – sebelumnya aku jarang bahkan tidak pernah memperhatikan orang yang kesurupan. Akhirnya aku meminta saran dari kak Tika, kak Tika pun dengan senang hati menjelaskan padaku bagaimana lagak orang kesurupan. Aku mulai mencerna saran –saran dari kak Tika sampai aku mempunyai inspirasi tersendiri. Aku mulai pura – pura lemas dan memilih untuk duduk agak menghindar dari teman – temanku, supaya lebih konsentrasi serta mulai menghayati perasaan kekecewaan, marah, dkk. Aku hayati semua itu, sampai – sampai aku tak bisa konsentrasi dengan apa yang dibicarakan oleh senior.
Setelah beberapa saat, aku kaget ketika kak Tika berteriak layaknya orang yang kesurupan. Aku pun mulai kebingungan bagaimana cara memulainya. Akhirnya aku memutuskan untuk diam, supaya nantinya tidak ada yang curiga bahwa aku sedang akting. Aku diam, saaangat diam. Dan tiba – tiba aku tertawa tebahak – bahak, sampai – sampai aku sendiri ketakutan mendengarnya. Jujur saja, aku belum pernah tertawa seperti itu walau sedang bercanda. Aku tertawa sampai tertidur bahkan guling – guling direrumputan, lama kelamaan tawaku berubah menjadi tangis histeris. Aku menjaga aktingku dengan menutupi wajahku dengan sarung yang kubawa. Para senior mulai berdatangan padaku. Salah seorang senior menepuk/menyentuh pundakku, tapi aku menangkisnya.
Aku mengamuk sejadi – jadinya, kata – kata kasar terucap dari mulutku. Aku melakukannya sambil tertidur ditengah anggota – anggota yang berkumpul dengan alas rerumputan plus wajah yang masih tetap terjaga oleh sarung *takut tiba2 ketawa*. Para senior yang ada mulai mengintrogasiku, seperti bertanya siapa namaku, apa mauku, de es be. Tapi, aku selalu menjawab “wti ca u ku” yang artinya dalam bahasa Indonesia “tidak mau”. Aku pun mengutarakan pesan yang disampaikan pak Agus, menggunakan bahasa Bima. Tapi sialnya, ditengah penyampaian pesan aku lupa salah satu kosa kata bahasa Bima. Pada akhirnya, aku mencampur adukkan antara bahasa Bima dengan bahasa Indonesia. Rasa takut kalau aktingku akan ketahuan mulai menghampiriku. Namun, aku tidak mempedulikannya dengan meneruskan aksiku.
Aku pun mulai kelelahan, tiba – tiba kak Jul menusukkan jarum di ibu jari kaki kiriku. Aku hampir berkata “aw”, tapi kutahan sebisa mungkin. Dalam hati aku mengutuk perbuatan kakak-ku yang satu itu. Akhirnya aku diam, dan pura – pura pingsan. Tak sampai 5 menit aku tersadar, dan pura – pura pusing plus berlagak tanpa dosa. Kulihat berbagai ekspresi terpasang diwajah teman – temanku, mulai dari yang khawatir sampai ada yang menangis, lucu sekali. Aku jadi ingin tertawa, tapi kutahan supaya tidak menuai kontroversi(?). Kak Bipa menghampiriku memberiku minum dan pura – pura menceramahiku.Sementara itu disebelah, kak Tika masih beraksi. Tak lama kemudian, tiba – tiba ada salah seorang senior yang berkata “Yak, tepuk tangan untuk pemeran malam ini”. Seketika teman – teman menghampiriku, mereka menghujaniku dengan pertanyaan, protes, de el el. Jawabanku? Hanya tertawa tanpa dosa.
Seusai aksiku dengan kak Tika, berhubung masih ada waktu, para pelatih menyuruh kami kembali ke tenda masing – masing untuk istirahat sampai jam 11 malam. Barulah akan dilaksanakan perndaman. Aku pun kembali terlelap, menyusuri alam mimpi. Ketika waktunya hampir tiba, terdengar suara seorang perempuan yang menangis histeris –seperti sedang kesurupan. Aku yang masih setengah tidur, tidak mempedulikannya. Tetapi, kak Alam membangunkanku dan memberitahu perendaman akan dimulai sebentar lagi. Dan ternyata, memang ada seorang anak perempuan anggota kabupaten yang kesurupan. Salah seorang temanku berkata atau lebih tepatnya menuduh, kalau gadis itu kesurupan karena tawaku yang membangunkan penunggu tempat kemah dan membuatnya mengamuk sehingga merasuki gadis itu. Yah,, entahlah... #terserah ┐(´_`)┌
3 hari 2 malam yang mengesankan, dari kemah itu juga aku banyak mendapat teman baru. Bahkan *mungkin* sampai ada yang jatuh hati karena aktingku... hahahahahahahaha...  (^^) 

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik