Bintang Kesurupan
Author
: Putri A.Thalib
Pada
bulan Mei tahun 2013 lalu, perguruan Pencak Silat-ku mengadakan ‘kemah akbar’ dalam
rangka kenaikan sabuk serta silaturahmi antara anggota kota dengan kabupaten. Tahun
itu adalah pengalaman pertamaku mengikuti kemah perguruan. Kemah diadakan
selama 3 hari 2 malam, yang dimulai pada hari jum’at sore dan diakhiri minggu
pagi.
Setiap
malamnya didakan renungan. Setelah renungan, diadakan ‘drama mendadak’. Drama
ini wajib ada, setiap kali diadakan kemah akbar. Drama ini dilakukan secara
mendadak, tanpa memberitahu penonton bahwa akan diadakan drama. Pada akhirnya
penonton akan heran sekaligus kaget dengan adegan – adegan yang dilakukan oleh
aktor yang ditunjuk.
Pada
malam kedua, diadakan perendaman. Karena diadakan perendaman, kami istirahat
lebih cepat. Seusai shalat maghrib, para pelatih menyuruh kami agar segera
kembali ke tenda masing – masing untuk istirahat. Saat itu *ditenda, selain ada
teman – temanku, ada pula seorang kakak senior (perempuan) dan kakakku, kak
Alam. Kami sudah berbaring *siap menuju alam mimpi, pengecualian untuk mereka
berdua *kakak senior itu dan kak Alam yang entah sedang membicarakan apa.
Kututupi wajahku dengan sarung yang kubawa dari rumah. Tapi, entah sengaja atau
tidak aku menguping pembicaraan kakakku. Dan ternyata mereka sedang membahas
drama untuk malam itu, yang sepertinya akan bertemakan kesurupan. Aku menangkap
salah satu percakapan mereka “Kalau gitu, jangan rekrut anggota dari kabupaten aja,
anggota dari kota juga. Biar gak terjadi diskriminasi de el el” Saran kak Alam
kepada kakak senior yang namanya tidak kuketahui. Sekaligus menguatkan
dugaanku, bahwa drama malam ini akan bertema kesurupan.
Belum
sempat merasakan indahnya alam mimpi, suara bising salah seorang pelatih *pake
toa pula* menyuruh kami untuk berkumpul membangunkanku dan juga teman – teman
*sial pake banget*. Dengan ogah – ogahan kami pun berkumpul, ternyata kami akan
diberi arahan tentang perendaman yang akan dilaksanakan tengah malam nanti *O..
aja*. Belum sampai dipertengahan topik mengenai perendaman, kak Alam
memanggilku. Dia menngajakku menjauh dari kerumunan, menuju tenda. Ditenda
sudah ada pak Agus, pelatih dari kabupaten. Didalam tenda kak Alan menawariku
untuk menjadi orang yang kesurupan dalam drama malam itu, sekaligus menjadi
perwakilan dari cabang kota. Sedangkan perwakilan dari kabupatennya adalah kak
Tika. Jadi, yang akan pura – pura kesurupan malam itu adalah kak Tika dan aku
#jika aku menerimanya. Aku pun
menerimanya dengan senang hati, walau ada satu hal yang membuatku ragu.
Pak Agus menyuruhku agar saat kesurupan nanti, menyampaikan pesan “laki – laki
yang kemah disini selalu buang sampah dan buang air kecil SEMBARANGAN”.
Aku
pun kembali ke perkumpulan. Sebenarnya aku kaget, karena tidak menyangka aku
yang dipilih. Semenjak kembali dari tenda, aku mulai berpikir serta
membayangkan bagaimana menjadi orang kesurupan. Tapi masalahnya ada hal yang
membuatku ragu untuk memerankan peran kesurupan. Ya, karena sebelum –
sebelumnya aku jarang bahkan tidak pernah memperhatikan orang yang kesurupan.
Akhirnya aku meminta saran dari kak Tika, kak Tika pun dengan senang hati
menjelaskan padaku bagaimana lagak orang kesurupan. Aku mulai mencerna saran
–saran dari kak Tika sampai aku mempunyai inspirasi tersendiri. Aku mulai pura
– pura lemas dan memilih untuk duduk agak menghindar dari teman – temanku,
supaya lebih konsentrasi serta mulai menghayati perasaan kekecewaan, marah,
dkk. Aku hayati semua itu, sampai – sampai aku tak bisa konsentrasi dengan apa
yang dibicarakan oleh senior.
Setelah
beberapa saat, aku kaget ketika kak Tika berteriak layaknya orang yang
kesurupan. Aku pun mulai kebingungan bagaimana cara memulainya. Akhirnya aku
memutuskan untuk diam, supaya nantinya tidak ada yang curiga bahwa aku sedang
akting. Aku diam, saaangat diam. Dan tiba – tiba aku tertawa tebahak – bahak,
sampai – sampai aku sendiri ketakutan mendengarnya. Jujur saja, aku belum
pernah tertawa seperti itu walau sedang bercanda. Aku tertawa sampai tertidur
bahkan guling – guling direrumputan, lama kelamaan tawaku berubah menjadi tangis
histeris. Aku menjaga aktingku dengan menutupi wajahku dengan sarung yang
kubawa. Para senior mulai berdatangan padaku. Salah seorang senior menepuk/menyentuh
pundakku, tapi aku menangkisnya.
Aku
mengamuk sejadi – jadinya, kata – kata kasar terucap dari mulutku. Aku
melakukannya sambil tertidur ditengah anggota – anggota yang berkumpul dengan
alas rerumputan plus wajah yang masih tetap terjaga oleh sarung *takut tiba2
ketawa*. Para senior yang ada mulai mengintrogasiku, seperti bertanya siapa
namaku, apa mauku, de es be. Tapi, aku selalu menjawab “wti ca u ku” yang
artinya dalam bahasa Indonesia “tidak mau”. Aku pun mengutarakan pesan yang
disampaikan pak Agus, menggunakan bahasa Bima. Tapi sialnya, ditengah
penyampaian pesan aku lupa salah satu kosa kata bahasa Bima. Pada akhirnya, aku
mencampur adukkan antara bahasa Bima dengan bahasa Indonesia. Rasa takut kalau
aktingku akan ketahuan mulai menghampiriku. Namun, aku tidak mempedulikannya
dengan meneruskan aksiku.
Aku pun
mulai kelelahan, tiba – tiba kak Jul menusukkan jarum di ibu jari kaki kiriku.
Aku hampir berkata “aw”, tapi kutahan sebisa mungkin. Dalam hati aku mengutuk
perbuatan kakak-ku yang satu itu. Akhirnya aku diam, dan pura – pura pingsan.
Tak sampai 5 menit aku tersadar, dan pura – pura pusing plus berlagak tanpa
dosa. Kulihat berbagai ekspresi terpasang diwajah teman – temanku, mulai dari
yang khawatir sampai ada yang menangis, lucu sekali. Aku jadi ingin tertawa,
tapi kutahan supaya tidak menuai kontroversi(?). Kak Bipa menghampiriku
memberiku minum dan pura – pura menceramahiku.Sementara itu disebelah, kak Tika
masih beraksi. Tak lama kemudian, tiba – tiba ada salah seorang senior yang
berkata “Yak, tepuk tangan untuk pemeran malam ini”. Seketika teman – teman
menghampiriku, mereka menghujaniku dengan pertanyaan, protes, de el el.
Jawabanku? Hanya tertawa tanpa dosa.
Seusai
aksiku dengan kak Tika, berhubung masih ada waktu, para pelatih menyuruh kami
kembali ke tenda masing – masing untuk istirahat sampai jam 11 malam. Barulah
akan dilaksanakan perndaman. Aku pun kembali terlelap, menyusuri alam mimpi.
Ketika waktunya hampir tiba, terdengar suara seorang perempuan yang menangis
histeris –seperti sedang kesurupan. Aku yang masih setengah tidur, tidak
mempedulikannya. Tetapi, kak Alam membangunkanku dan memberitahu perendaman
akan dimulai sebentar lagi. Dan ternyata, memang ada seorang anak perempuan anggota
kabupaten yang kesurupan. Salah seorang temanku berkata atau lebih tepatnya
menuduh, kalau gadis itu kesurupan karena tawaku yang membangunkan penunggu tempat
kemah dan membuatnya mengamuk sehingga merasuki gadis itu. Yah,, entahlah...
#terserah ┐(´_`)┌
3 hari 2 malam yang mengesankan, dari kemah itu juga aku banyak mendapat
teman baru. Bahkan *mungkin* sampai ada yang jatuh hati karena aktingku... hahahahahahahaha...
╮(^▽^)╭
0 komentar:
Posting Komentar