Translate

Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label kritik sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kritik sastra. Tampilkan semua postingan

fungsi kritik sastra

Written By iqbal_editing on Rabu, 14 September 2016 | 23.33

  1. Fungsi Kritik Sastra
Jika kita lihat pengertiannya, kritik sastra melakukan penilaian terhadap sebuah karya sastra dengan mempertimbangkan baik buruknya karya sastra dari berbagai aspek kepengarangan serta menyandarkan diri pada suatu teori sastra tertentu.[3] Secara garis besar dapat kita katakan bahwa kritik sastra mempunyai fungsi sebagai media penghantar antara sastrawan atau pencipta karya sastra dan penikmat sastra untuk memahami karya sastra itu sendiri. Baik atau buruknya sebuah karya sastra akan diketahui melalui kritik sastra, dimana seorang kritikus bertugas menerangkan teknik dan arti karya sastra. Suatu karya sastra yang belum atau sulit difahami belum tentu tidak mengandung isi sama sekali, melainkan disebabkan oleh idiom yang berbeda, realitas sosial, dan munculnya pembaharuan yang tidak langsung dapat diterima tetapi membutuhkan waktu dan proses.[4]
Tentang peranan dan fungsi kritik sastra dapat diketahui melalui pemahaman tentang hakekat perbuatan penciptaan kritik sastra serta manfaatnya bagi pembaca dalam membantu memahami suatu karya sastra.[5] Kritik sastra berfungsi sebagai sarana penghubung antara karya sastra dengan masyarakat penikmat karya sastra.[6] Tak terlepas dari kepentingan kritik sastra sendiri, yaitu untuk penerangan bagi masyarakat selain untuk mendukung perkembangan kesusastraan sendiri. Kritik sastra juga berfungsi sebagai guide pembaca dalam menikmati karya sastra di samping sebagai pendorong kepada sastrawan terutama sastrawan muda yang baru mulai mengembangkan bakatnya.
Pada intinya, kritik sastra memiliki tiga fungsi, yaitu:
  1. Kritik sastra berguna bagi keilmuan sastra sendiri.
  2. Kritik sastra berguna bagi perkembangan kesusastraan.
  3. Kritik sastra berguan bagi masyarakat umum dimana kritik sastra memberikan penjelasan tentang karya sastra.
Kritik sastra sebagai suatu karya seorang kritikus juga memiliki fungsi sebagai pembina tradisi kultural. Untuk memenuhi fungsi kritik sastra, beberapa syarat yang harus diperhatikan, antara lain:
1)      Harus berupaya membangun dan menaikkan tingkat kehidupan sastra;
2)      Dijalankan secara objektif tanpa prasangka, dalam arti dengan jujur mengatakan yang mana yang baik dan yang buruk;
3)      Mampu memperbaiki cara berfikir, cara hidup, dan cara berkarya seorang sastrawan;
4)      Dapat menyesuaikan diri dengan lingkup kebudayaan dan aturan nilai yang berlaku serta memiliki rasa cinta dan tanggung jawab terhadap pembinaan kebudayaan dan aturan nilai yang benar;
5)      Dapat memberikan rangsangan kepada pembaca agar berpikir kritis dan dapat meningkatkan kemampuan penilaian dan penghargaan masyarakat terhadap karya sastra.
Sebagaimana telah dijelaskan di awal bahwa kritik sastra berfungsi memberikan penilaian atas baik buruknya sebuah karya sastra. Penilaian ini dilakukan dengan alasan-alasan tertentu, tidak hanya berdasarkan ketentuan yang diberikan oleh seorang kritikus.
Kritik sastra yang berfungsi mendidik pembaca untuk menghargai karya sastra yang memiliki nilai yang berkualitas. Kebanyakan pembaca telah memiliki jiwa kritis setelah menikmati sebuah karya sastra, akan tetapi beberapa hal yang menjadi kendala dalam menuliskan kritikan tersebut diantaranya; perlu memiliki konsep atau teori sastra. Meskipun konsep ini dapat dipelajari, namun banyak orang yang senang melakukan kritik sastra secara terbuka (lisan). Perlu memiliki kemampuan menulis, tersedianya media massa atau penerbitan, dan perlunya berkembang tradisi dalam mengkritik sastra.
Konsep tentang satra berhubungan dengan penilain karya sastra berupa nilai baik atau buruk dan indah atau tidak indah. Kemampuan menulis mewujudkan kritikan itu. Karena melalui tulisan itulah pembaca dapat membuktikan bahwa ia telah melakukan proses kritik sastra. Media penerbit diperlukan baik secara sederhana maupun kompleks.[7] Terbitan sederhana berupa stensil, sedangkan secara kompleks berupa surat kabar, majalah, buku, dan lain sebagainya yang memerlukan proses yang begitu rumit. Sedangkan mentradisikan kritik sastra merupakan kebiasaan masyarakat sastra dalam menaruh perhatian terhadap karya sastra sehingga masyarakat mengakui bahwa kritik sastra memiliki manfaat yang sangat besar.
1. Fungsi Kritik Sastra Bagi Keilmuan Sastra.
Dalam menilai sebuah karya sastra, seorang kritikus perlu dah harus menggunakan kritik sastra sebagai dasar hukumnya. Akan tetapi, kritik sastra tidak hanya menilai tetapi juga menganalisis dan dan hal lain sebagainya yang termasuk di dalamnya adalah pendefinisian, penggolongan, pengkiasan, penguraian, dan penilian (evaluasi).
Kritik sastra berusaha menguraikan unsur-unsur karya sastra berdasarkan teori sastra. Apakah bernilai atau tidak. Memiliki kualitas seni atau tidak. Kemudian mempertimbangkan seluruh penilaian yang menjadi kesatuan erat, barulah seorang kritikus menentukan karya sastra itu bernilai tinggi, sedang, kurang, atau tidak bernilai.
2. Fungsi Kritik Sastra Bagi Perkembangan Kesusastraan.
Dalam menilai sebuah karya sastra, kritik menjelaskan tentang diantaranya penggunaan bunyi, gaya bahasa, dan sebagainya juga diuraikan pikiran lain di luar unsur karya sastra, yaitu nilai psikologi (jiwa), pandangan hidup, dan filsafat.
Dengan melakukan perbandingan dengan karya sastra lain yang sudah memiliki nilai sastra yang tinggi, sebuah karya sastra dibandingkan dalam penilaiannya. Beberapa hal ini secara signifikan mampu mendorong sastrawan yang sudah mumpuni ataupun sastrawan muda untuk meningkatkan mutu karyanya sehingga disinilah letak perkembangan karya sastra dengan banyak bermunculan karya-karya yang baru dan inovatif.
3. Fungsi Kritik Sastra Bagi Masyarakat.
Masyarakat umum dan masyarakat sastra yang dalam hal ini termasuk ahli teori sastra, ahli sejarah sastra, kritikus sastra, dan penikmat sastra (pembaca) dapat mengetahui nilai sebuah karya sastra melalui kritik sastra. Kritik sastra dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang mungkin timbul dari diri pembaca setelah menikmati sebuah karya sastra.[8]
Khususnya masyarakat umum yang tidak mengetahui dan menguasai teori sastra, kritik sastra berfungsi dan berperan sebagai mediator antara pembaca dan karya sastra dimana kritik sastra menjelaskan secara keseluruhan hal-hal yang bersangkutan dengan karya sastra tersebut. Selain itu kritik sastra juga secara tidak langsung menggugah pembaca untuk menjadi seorang kritikus meskipun kritikannya tidak berupa tuliasan ilmiah ataupun hanya sebuah resensi. Pengetahuan pembaca yang bertambah tentang teori sastra dengan tidak langsung pembaca akan mengungkapkan “karya ini baik” dan “karya ini buruk”.
Kritik sastra berguna memberikan bahan-bahan dalam penyusunan sejarah sastra ataupun teori sastra. Apabila kita simpulkan secara sederhana, kritik sastra memiliki fungsi sebagai berikut:
2)      Mendudukan persoalan yang muncul dan menjawab pertanyaan yang timbul setelah menikmati karya sastra yang dilakukan dengan menafsirkan, menganalisis, dan mengevaluasi (memberikan penilaian) terhadap karya sastra berdasarkan teori dan sejarah sastra.
3)      Menjadi media konduksi antara karya sastra dengan masyarakat penikmat sastra berupa pemberian motivasi kepada penikmat sastra untuk secara tidak langsung menjadi seorang kritikus sastra.
4)      Menjadi guide pembaca dalam menikmati sebuah karya sastra yang baik dan karya sastra yang tidak baik, yang asli dan tidak asli.
5)      Menjadi pengarah atau pembimbing dengan memberikan pendapat atau pertimbangan bagi sastrawan muda atau pengarang pemula untuk meningkatkan kualitas karya sastranya.
6)      Mematangkan pemikiran ataupun ide bagi pengarang yang telah banyak berkarya dan banyak mendapat impuls dari kritik sastra.
7)      Menjadi media untuk membangkitkan emosi yang baik terhadap karya-karya pengarang tertentu.
8)      Memberikan sumbangan pendapat atau bahan-bahan bagi penyusunan atau pengembangan teori sastra dan sejarah sastra.
  1. Peran Kritik Sastra
Karya sastra sebagai karya seni menghendaki penilaian yang bermutu seni. Disinilah kritik sastra berperan memberikan nilai tinggi rendahya karya tersebut. Peran kritik sastra sangatlah besar dalam perkembangan kesusastraan terutama dalam perkembangan ilmu lainnya, karena kritik sastra memberikan niali kepada sebuah karya sastra yang mengambil dari beberapa ilmu di antaranya, filsafat, ilmu sosial, politik, dan sebagainya. Selain kritik sastra memberikan penilaian yang berdasarkan hakikat sastra dan hukum-hukum objektif. Seorang kritikus memerlukan pengetahuan lain selain teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra itu sendiri. Sehingga, perkembangan sastra ini diikuti berkembangnya pula pengetahuan yang lain seperti ilmu sosial, psikologi, filsafat, etika, agama bahkan ilmu eksak sekalipun dan ilmu lain sebagainya.
Fungsi dan peran kritik sastra tidak dapat dibedakan secara jelas. Seperti dalam fungsi kritik sastra yang telah dijelaskan di atas, kritik sastra juga memegang peranan penting dalam penyusunan sejarah sastra ataupun teori sastra.[9] Seperti menyusun perkembangan penggunaan unsur bunyi, kombinasi kata, gaya kalimat, gaya bahasa, diksi, dan lain-lain. Sama halnya dengan pikiran yang dikemukakan oleh seorang sastrawan yang berisi ajaran filsafat, pandangan hidup dan lain sebagainya.
Peran yang paling utama dalam kesusastraan adalah berkembangnya penyusunan teori sastra sehingga unsur-unsur kesusastraan dan unsur-unsur karya sastra tetap terjaga dan mengalami peningkatan baik secara kuantitif maupun kualitatif dengan angka yang cukup signifikan.
Pada dasarnya, seorang kritikus yang bertanggung jawab memiliki tiga peran, yaitu[10]:
1.      Menjalankan disiplin pribadinya sebagai jawaban terhadap karya sastra tertentu. Berbeda dengan estetikus, seorang kritikus sastra adalah orang yang terlatih dan mampu memisahkan antara hal yang bersifat emosional dan hal yang rasional.
2.      Bertindak sebagai pendidik yang berupaya membina dan mengembangkan kejiwaan suatu masyarakat.
3.      Bertindak sebagai hakim yang bijaksana yang dapat membangkitkan kesadaran serta menghidupkan nurani, akal budi, intelektual, dan perasaan.

23.33 | 0 komentar | Read More

kritik sastra novel bumi

Bumi adalah salah satu karya sastra prosa berupa novel. Bumi merupakan novel yang dikarang oleh Tere Liye, salah satu penulis yang terkenal di indonesia saat ini.  Tere Liye saat ini telah menerbitkan banyak novel dengan berbagai genre. Tere Liye selalu mencoba berbagai genre baru.
            Bumi adalah novel pertama dengan genre fantasi yang dibuat oleh Tere, novel ini mengangkat tema tentang kehidupan anak biasa yang memiliki rahasia besar di kehidupannya. Nama anak itu Raib, dan rahasia terbesarnya adalah dia bisa menghilang. Sebelum saya melakukan kritikan terhadap novel Bumi, saya akan menganalisis novel tersebut terlebih dahulu. Unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam novel Bumi tersebut adalah :
A. Tema
Novel Bumi ini bertemakan dunia paralel, atau dunia lain di bumi. Tapi tidak hanya itu, novel ini juga bertemakan kesetiakawanan serta kasih sayang.
B. Alur
Alur novel bumi bisa dikatakan alur campuran. Sebab tidak jarang dilakukan flashback. Di bab-bab awal apalagi, sering sekali dilakukan flashback mengenai kehidupan Raib ketika kecil, alur Flashback ini membuat kita mengerti tentang kenapa kejadian yang selanjutnya bisa terjadi. Karena masa lalu Raib itulah yang akhirnya menjelaskan banyak hal.
C. Latar
-Latar tempat, latar tempat yang paling banyak digunakan di dalam novel adalah Kota Tishri, selain itu masih banyak latar tempat lainnya, seperti di Sekolah Raib, dirumah Raib, di Aula, di rumah Ilo, dan lainnya. -Latar waktu, mengenai latar waktu, dalam novel ini latar waktu tidak terlalu dijelaskan, tapi jika dilihat dari teknologi-teknologi di bumi-dunia tanah- saat itu, setting waktunya mengambil setting waktu sekarang. Abad 21. Sebab sudah adanya mesin cuci, dan teknologi masa sekarang lainnya. -Latar suasana, Dikarenakan ini adalah novel dengan 400an halaman, maka tidak hanya ada satu suasana yang tergambar, ada banyak konflik maka ada banyak suasana, suasana-suasana itu antara lain:
     1. Suasana senang, tergambar dari keluarga Raib yang bahagia. Seperti saat keluarga Raib sarapan, terlihat di sana kebahagiaan keluarga kecil itu, lalu saat flashback ke saat Raib berulang tahun ke 9 tahun.      2. Suasana Sedih, tergambar saat Raib mengetahui bahwa orang tuanya saat ini bukan orang tua kandungnya, saat itu Raib dibuat pingsan sehingga kesedihan dari Raib tergambar dengan jelas, selain itu suasana sedih juga ada saat miss selena ditangkap oleh Tamus.      3. Suasana menegangkan. Dikarenakan ini adalah novel fantasi, jadi ada banyak sekali suasana menegangkan di dalam cerita yang tidak bisa disebut satu persatu, jadi saya hanya menyebutkan beberapa diantaranya, yaitu saat terjadi pertempuran antara Raib dan temannya dengan Tokoh jahat dalam cerita-Tamus-. Juga saat adegan kejar-kejaran di lorong kapsul
D. Tokoh/penokohan
1. Raib
Raib yang ada di dalam novel ini merupakan tokoh si Aku yang menjadi pemeran utama dalam novel. Raib mempunyai kekuatan menghilang dan menghilangkan benda-benda. Raib merupakan Klan Bulan yang dibesarkan di Klan Tanah. Raib tergolong orang yang nekat demi melindungi orang lain.
2. Mama dan Papa
Mereka adalah orangtua dari Raib. Yang dikemudian hari Raib mengetahui bahwa mereka bukan orangtua kandungnya. Mama dan Papa bersifat baik hati, lembut, bijaksana dan pengertian,  namun Mama Raib juga tegas.
3. Miss Keriting/ miss Selena
Dia adalah guru matematika Raib di sekolah. Miss Selena digambarkan sebagai guru yang tegas dan tidak menolerir siswa/i yang melanggar peraturan. Akan tetapi, di kemudian hari terbongkar bahwa Miss Selena adalah anggota dari Klan Bulan yang hidup di tanah. Miss Selenalah yang menyatukan Raib dan temannya.
4. Ali
Ali adalah siswa di kelasnya Raib yang menyebalkan. Raib tidak menyukai Ali karena baginya Ali menjengkelkan dan sok tahu, tapi sebenarnya Ali adalah manusia yang cerdas, bahkan genius. Di novel ini dikatakan bahwa Ali pernah terdaftar menjadi anggota olimpiade fisika internasional termuda sepanjang sejarah, namun gagal dikarenakan dia meledakkan laboratorium. Ali merupakan makhluk tanah dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.
5. Seli
Seli merupakan teman sebangku Raib di kelas. Seli juga sama seperti Raib awalnya-tidak menyukai Ali- walaupun akhirnya mereka menjadi teman. Seli juga menyimpan rahasia besar, dia bisa mengeluarkan petir dari tangannya, ternyata Seli adalah anggota Klan matahari yang juga hidup di tanah.
6. Tamus
Tamus merupakan tokoh antagonis dalam cerita, dia memiliki rencana  besar, yaitu membuka segel ‘bayangan di bawah bayangan’ dan menjadikan si tanpa mahkota yang terperangkap di sana menjadi Raja.
            Selain tokoh-tokoh itu, masih banyak tokoh-tokoh lainnya seperti Ilo, Ou, Av, Tog, Ily, mr. Theo, dan lainnya yang tidak bisa dijelaskan satu-persatu.
E. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam kisah ini adalah sudut pandang orang pertama ‘Aku’ yang merupakan tokoh pelaku utama.
F. Amanat
Cukup banyak amanat yang disampaikan dalam novel ini, beberapa contohnya adalah :
1. Ada banyak sisi dalam setiap masalah, tidak semua yang kita lihat itu adalah yang sebenarnya terjadi. 2.Dalam situasi bagaimanapun, kita tidak boleh meninggalkan teman yang ‘benar-benar teman’
Setelah melakukan analisis pada novel Bumi ini, maka dapat dilakukan penilaian yaitu tentang kelemahan dan kelebihan pada novel tersebut.
 Kelemahan yang terdapat pada novel ini yaitu:
1. Adanya adegan yang tidak penting. Karena bukankah novel yang baik itu setiap adegannya memiliki hubungan dengan berlangsungnya jalan cerita? Contohnya pada episode ke 7, terdapat cerita tentang Mama Raib dan Raib yang ke toko elektronik untuk membeli mesin cuci yang rusak. Setelah itu, pada episode 10 mesin cuci baru ini dikabarkan rusak dan dilanjutkan pada episode 12, petugas elektronik akhirnya mengganti mesin cuci yang rusak. Saya awalnya berpikir ini akan berhubungan dengan cerita selanjutnya, tapi saya salah karena akhirnya setelah episode 12 tidak lagi dibahas kaitan mesin cuci itu dengan cerita selanjutnya.
2. Adanya sedikit ketidaklogisan cerita. Di episode 21, saat Ali, Raib dan Seli menuju ke Aula. Sebelumnya, Seli yang diceritakan sebagai murid biasa yang tiba-tiba menangkap disentrum listrik tapi setelahnya dia tidak kenapa-napa. Seharusnya Ali dan Raib pasti penasaran kenapa dia bisa melakukannya. Tapi yang dikatakan Ali malah “Kalian tidak kenapa-napa?” lalu, “Ini hal gila yang pernah kusaksikan” dan kemudian Ali berkata lagi “Mau minum Ra?” padahal bukankah orang yang baru saja menyaksikan peristiwa mencengangkan harusnya bertanya ‘kenapa itu bisa terjadi?’terlebih dahulu. Seli yang seharusnya juga penasaran kenapa Raib bisa menghilangkan benda justru baru bertanya pada Raib setelah 2 halaman berikutnya.
3. Adanya keganjilan pada halaman 388 disana Raib berkata “Tidak akan ada yang bisa menyusul kita. Walaupun punya bubuk api, mereka tidak pernah ke rumah ini, mereka tidak bisa melintasi perapian yang belum pernah mereka datang.” Yang jadi pertanyaan adalah darimana Raib tahu mengenai hal itu padahal tidak pernah ada yang memberitahu. Sedangkan Raib baru mendatanginya kota yang sama sekali ini asing selama beberapa hari.
4.Ending cerita yang menurut saya terlalu dipaksa. Bukankah seharusnya masalah yang terbesar itu diselesaikan oleh si tokoh utama? Menurut saya mungkin novel ini akan jauh lebih baik apabila Raib sendiri yang menyelesaikan masalahnya. Ending di novel ini adalah Ali yang berubah menjadi beruang menyelamatkan Miss Selena dan membuat Tamus terjatuh dalam ‘bayangan di bawah bayangan’ menurut saya itu ending yang terlalu dipaksa. Tidak memberikan kesan puas bagi pembaca. Karena Raib yang membuat dirinya sendiri berada dalam masalahlah yang harus menyelesaikan masalah itu.
  Tidak ada gading yang tidak retak. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan kecil maupun besar. Tapi terlepas dari kesalahan kecil itu, novel ini memiliki banyak kelebihan yaitu dari cara bercerita Tere Liye yang mengalir dan mudah dimengerti, juga dari jalan ceritanya yang berbeda dari novel fantasi kebanyakan. Novel ini bagus dibaca oleh para remaja.
Sekian kritik sastra saya-yang juga penuh kesalahan ini- saya ucapkan maaf apabila ada kata yang salah. Kritik sastra ini dibuat bukan untuk menjatuhkan penulis, tapi untuk membuat penulis menjadi lebih baik lagi nantinya.
23.22 | 0 komentar | Read More

kritik sastra cerpen jatilawang karya ahmad tohari

Written By iqbal_editing on Jumat, 09 September 2016 | 06.26

Ahmad Tohari, siapa yang tidak mengenal sosok lelaki ini? Ahmad Tohari adalah sastrawan yang terkenal dengan novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada 1981. Belum lama ini ia dianugerahi PWI Jateng Award 2012 dari PWI Jawa Tengah karena karya-karya sastranya yang dinilai mampu menggugah dunia.
Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada 13 Juni 1948, Ahmad Tohari menamatkan SMA nya di Purwokerto. Setelah itu ia menimba ilmu di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976).
Ahmad Tohari sudah banyak menulis novel, cerpen dan secara rutin pernah mengisi kolom Resonansi di harian Republika. Karya-karya Ahmad Tohari juga telah diterbitkan dalam berbagai bahasa seperti bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman.
Salah satu cerpennya adalah yang berjudul Wangon Jatilawang. Cerpen Wangon Jatilawang karya Ahmad Tohari ini menggambarkan secara gamblang warni-warni dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat. Cerpen ini bercerita tentang seorang tokoh Aku yang bersahabat dengan seorang yang memiliki keterbatasan dan keterbelakangan mental yang bernama Sulam. Tokoh Aku sangat peduli dan menyayangi Sulam seperti anaknya sendiri. Sikap tokoh Aku yang demikian ini sangat bertentangan dengan para tetangga dan ibunya sendiri. Sulam dianggap kotor oleh orang-orang di sekeliling tokoh Aku, namun tidak bagi tokoh Aku.
Ketika pertama kali membaca cerpen ini, saya seperti melihat suatu gambaran tentang potret kehidupan yang masih banyak terjadi di Indonesia. Kita seperti tersindir dengan realita kehidupan yang ada di negeri ini, di lingkungan sekitar kita tentang bagaimana masyarakat kita masih membeda-bedakan status sosial dan keterbelakangan mental, seperti pada kutipan:
Suatu hari, lepas Magrib, Sulam datang. Kebetulan, aku sedang menyelenggarakan kenduri. Gerimis yang sejak lama turun, membuat Sulam basah kuyup. Aku merasa tak bisa berbuat lain kecuali menyilahkan Sulam masuk, meski aku melihat tamuku jadi agak masam wajahnya. Setelah kutukar pakaiannya, Sulam kuajak menikmati kenduri. Dia kubawa ke tempat persis di sampingku. Orang-orang yang semula duduk di dekatku menjauh. Dan kenduriku malam itu berakhir tanpa keakraban. Wajah mereka jelas berbicara bahwa mereka merasa tersinggung karena Sulam kuajak duduk di antara mereka. Semuanya menjadi lebih jelas ketika aku beberapa minggu kemudian menyelenggarakan kenduri lagi. Ternyata hanya beberapa orang yang datang memenuhi undanganku.
Cerpen Wangon Jatilawang ini cukup bagus karena mudah dipahami baik dari segi bahasanya maupun jalan ceritanya, begitu lugas, konkret, simpel, dan langsung dalam susunan kata-katanya. Namun sedikit kekurangannya adalah dengan tidak adanya diksi atau gaya bahasa (majas) sehingga mengurangi keindahan atau estetika dari karya sastra ini sendiri. Padahal kalau pengarang menggunakan gaya bahasa di dalam cerpen ini, maka akan bisa membuat cerpen ini menjadi lebih indah dan bagus.
Cerpen yang bertema sosial ini menggambarkan karakter dan sikap dari tokoh Aku. Tokoh Aku dalam cerpen Wangon Jatilawang merupakan tokoh yang sikap dan perbuatannya dapat dijadikan teladan bagi masyarakat. Tokoh Aku sangat menyayangi dan mengasihi terhadap seseorang yang mengalami keterbatasan dan keterbelakangan mental bernama Sulam, seperti pada kutipan:
“Pak,” kata Sulam tanpa ekspresi apapun
“Ya,” jawabku.  “Nasi atau uang?”
Sulam diam. Diperlihatkannya padaku ujung celananya yang kuyup.  Celana yang  kedodoran itu nyangkut di perutnya dengan  ikatan tali plastik. Kaosnya ada  gambar yang sangat cabul di bagian punggung. Ah, pasti anak-anak nakal telah mempermainkan Sulam.
“Nasi atau uang?” ulangku.
 “Aku sudah punya uang,” jawab Sulam sambil membuka tangannya. Ada kepingan logam putih di sana .Tetapi tangan itu pucat dan gemetar. Maka aku bangkit meninggalkan kedua tamuku yang duduk membisu. Sepiring nasi dan segelas teh kuberikan pada Sulam. Kedua tamuku yang masing-masing memakai baju lengan panjang dan sepatu bagus itu tetap diam.
Alur/plot pada cerpen Wangon Jatilawang ini menggunakan alur maju, sama seperti kebanyakan alur cerpen pada umumnya. Semua cerita berurutan dari awal sampai akhir.
Sudut pandang dalam cerpen Wangon Jatilawang karya Ahmad Tohari adalah sudut pandang orang pertama tunggal, yaitu sudut pandang yang tokoh utamanya bercerita dengan kata-katanya sendiri, seperti pada kutipan:
Kata banyak orang, Sulam hanya singgah dan berteduh di rumahku. Tetapi aku tak percaya akan cerita demikian, karena rasanya terlalu berlebih-lebihan. Kukira tidak semua orang yang tinggal antara Wangon dan Jatilawang tidak suka bersahabat dengan Sulam.
Memang, dalam sudut pandang orang pertama tunggal, pengarang lebih fokus pada satu tokoh utama, memberitahukan semua karakter dan sikapnya lewat dialog-dialog serta membuat pembaca menjadi lebih tahu banyak tentang tokoh Aku. Tapi kekurangan ketika pengarang memakai sudut pandang orang pertama tunggal pada tokoh Aku adalah ia hanya mengetahui dan menceritakan banyak tentang dirinya, sedangkan tentang karakter dan sikap orang lain kurang begitu banyak diceritakan sehingga pembaca pun jadi tidak begitu tahu tentang karakter dan sikap orang lain, seperti pada kutipan:
Kukira aku cukup lama di kandang ayam, tapi ketika aku masuk kembali ke rumah, Sulam masih duduk di ruang makan.
 “Sudah hampir lebaran, ya Pak?”
“Oh iya. Kamu nanti akan memakai baju yang baik. Tetapi aku tidak menyerahkan baju itu kepadamu sekarang. Nanti saja, tepat pada hari lebaran kamu pagi-pagi kemari.”
“Di pasar Wangon dan Jatilawang orang-orang sudah membeli baju baru.”
“Ya, tetapi untukmu, nanti saja. Aku tidak bohong. Bila baju itu kuberikan sekarang, wah repot. Kamu pasti akan mengotorinya dengan lumpur sebelum Lebaran tiba.”
“Aku kan wong gemblung, Pak.”
“Nanti dulu, aku tidak berkata demikian.”
Aku ingin berkata lebih banyak. Namun Sulam melangkah pergi. Wajahnya murung.
Dan aku mulai menyesali perkataanku tadi. Mengapa aku khawatir tentang kebiasaan Sulam yang suka mengkotori bajunya. Aku bahkan tidak cukup mengerti tentang perasaannya, dan aku sungguh tidak layak mengaku sebagai sahabat Sulam.
Pada kutipan di atas, si pengarang tidak begitu menceritakan secara detail apa saja yang ada di benak dan perasaan Sulam. Si pengarang  menceritakan lebih banyak karakter, sikap, dan perasaan hanya pada tokoh Aku, dan ini yang menjadi kelemahan sudut pandang orang pertama tunggal dalam setiap karya sastra.
Nilai edukatif yang terkandung di dalam cerpen Wangon Jatilawang karya Ahmad Tohari ini antara lain cinta dan kasih sayang antar sesama manusia (berbuat baik terhadap sesama), sikap toleransi, dan sikap tolong menolong. Meskipun digambarkan dengan cara yang sederhana, tapi memberi kita pemahaman tentang pentingnya tolong menolong dalam kehidupan sehari-hari,  seperti pada kutipan:
“Yah, bagaimana lagi, Mak. Hari hujan dan Sulam mampir berteduh. Karena sampai malam hujan tak reda, maka Sulam kusuruh menginap di sini.”
Atau seperti pada kutipan yang lain:
“Sudah hampir Lebaran, ya Pak?”
“Ya, empat atau lima hari lagi. Kenapa?”
Sulam menunduk. Terbengong-bengong sehingga muncul semua tanda keterbelakangannya.
“Mestinya Lebaran ditunda sampai emak pulang.”
“Hus! Lebaran tidak boleh ditunda. Nanti semua orang marah.”
“Tetapi emak belum pulang. Dia sedang pergi ke kota membeli baju.”
“Oh, aku tahu sekarang. Kamu tak usah menunggu emakmu. Nanti aku yang memberimu baju.”
Sulam mengangkat muka lalu tersenyum aneh. Nasi di depannya dimakannya dengan lahap.
Tentunya ada klimaks yang terjadi pada setiap karya sastra, baik itu drama, novel, maupun cerpen. Pada cerpen Wangon Jatilawang, klimaks digambarkan ketika Sulam meminta baju baru pada tokoh Aku, karena hari lebaran sudah dekat. Namun, tokoh Aku mau memberikan baju yang diminta Sulam tepat pada hari lebaran. Tokoh Aku berpikir, jika baju itu diberikan pada saat itu juga, pasti Sulam akan mengotorinya. Akhirnya Sulam pergi dengan wajah murung, timbul rasa kecewa, dan akhirnya Sulam mati tergilas truk, seperti pada kutipan:
Dan aku mulai menyesal, mengapa tidak memenuhi permintaan Sulam akan baju dan celana yang layak. Mengapa aku khawatir tentang kebiasaan Sulam yang suka mengotori baju yang kuberikan, atau menukarnya begitu saja dengan sebungkus nasi rames di pasar Wangon. Dengan demikian, aku sungguh tidak layak mengaku sebagai sahabat Sulam.
Jam tujuh pagi hari itu juga penyesalanku menghujam ke dasar hati. Seorang tukang becak sengaja datang kerumahku
“Pak, Sulam mati tergilas truk di batas kota Jatilawang.”
Bisa jadi tukang becak itu masih berkata banyak. Namun kalimat pertamanya yang kudengar sudah cukup. Aku tak ingin mendengar ceritanya lebih jauh. Aku malu, perih.
Ketika membaca bagian klimaks dimana ada kata Dan aku mulai menyesal, sebelum berlanjut ke klimaks yang lebih tinggi, saya seperti sudah mengetahui apa yang akan terjadi pada Sulam selanjutnya. Menurut saya, pada bagian klimaks ini kurang begitu surprise. Pembaca seakan-akan sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Meskipun begitu, klimaks yang disajikan pengarang sudah cukup bagus untuk dinikmati para pembacanya.
Jika melihat dari latar/seting, bisa saja cerpen Wangon Jatilawang karya Ahmad Tohari ini merupakan pengalaman dari sang pengarang, karena seting dari cerpen ini adalah Wangon dan Jatilawang yang notabene adalah tempat kelahiran dari Ahmad Tohari.
Secara keseluruhan cerpen Wangon Jatilawang karya Ahmad Tohari ini sudah cukup bagus meskipun masih ada beberapa kekurangannya. Namun hal itu tidak mengurangi isi/makna cerpen Wangon Jatilawang ini untuk dinikmati para pembacanya.
06.26 | 0 komentar | Read More

kritik cerpen darmoon karya harris effendi thohir

Harris Effendi Thahar dilahirkan di Tembilahan (Riau) pada tanggal 4 Januari 1950. Ia kuliah di IKIP Padang dan memperoleh gelar Sarjana Muda pada tahun 1976 dari Jurusan Pendidikan Teknik Arsitektur. Kini, dia menjadi wartawan di Padang dan mengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Padang. Setelah menamatkan program S1 dan S2 di Universitas Negeri Padang tahun 1995, ia menjadi dosen tamu di Universitas Tasmania, Australia. Ia menulis sajak dan cerpen. Kumpulan sajaknya adalah Lagu Sederhana Merdeka (1979) dan kumpulan cerpen Si Padang (2003). Cerpen-cerpennya dimuat di harian Kompas. Cerpencerpennya sering terpilih dalam seleksi cerpen terbaik Kompas. Karya tulis lainnya adalah Kiat Menulis Cerpen (1999). Karya yang lainnya adalah “Darmon”. Dalam kritik sastra cerpen ini saya akan mengulas tentang cerpen yang berjudul “Darmon”.

Tema yang dipakai pengarang dalam Cerpen “DARMON” adalah pemuda kumal yang baik hati dan berwawasan luas. Pengarang dalam menggambarkan cerita ini menempatkan dirinya sebagai orang pertama bukan pelaku utama.  Karena tokoh Darmon merupakan tokoh utama karena dialah yang menjadi sumber percakapan, sengketa, penyebab munculnya suatu peristiwa, dan penentu alur dalam cerita.

Cerita dalam cerpen ini bermula ketika Darmon sudah ada di rumah Maya yang niatnya ingin berkunjung menemui Maya. Tetapi Maya belum pulang dan Darmon menunggu Maya sambil berbincang-bincang kepada tokoh Aku. Kemudian dari kejadian itu tokoh Aku dapat menilai karakteristik Darmon yang ternyata lebih berwawasan luas dari apa yang dipikirkannya. Karena memang penampilan Darmon yang menurut tokoh Aku kurang berkenan. Kemudian dari percakapan itulah tokoh Aku menginginkan anak buah seperti Darmon. Pada saat di kantor, tokoh Aku berbicara dengan Sanip. Ia mengatakan tentang Darmon. Dalam pembicaraan tersebut, Sanip menceritakan tentang anaknya yang kuliah di fakultas pertanian namun harus istirahat kuliah karena Sanip tak sanggup membiayainya. Dan ternyata anak Sanip adalah Darmon yang diceritakan oleh tokoh Aku.
Dalam cerpen ini pengarang dalam menggambarkan tokoh Darmon cukup menarik dan keunikan Darmon juga dapat diidentifikasi dari jalan pikirannya yang tergambarkan dalam percakapannya dengan tokoh aku, misalnya pada percakapan berikut :

 "Kok kamu kelihatan tidak tertarik?"
"Bukan itu soalnya, Pak. Saya pikir, ini kesenangan orang yang sudah mapan seperti Bapak. Tidak mungkin saya menggandrungi tanaman yang membutuhkan perhatian besar dan halus ini dalam keadaan liar seperti ini."
"Liar? Kamu merasa orang liar?"
"Nah, Bapak salah duga lagi. Bukan saya orang liar, tetapi situasi perkuliahan, praktikum, kegiatan kemahasiswaan, dan tambah lagi situasi sekarang yang membuat mobilitas saya tinggi. Jadi, bolehlah disebut liar, namun dalam pengertian yang saya sebutkan tadi."

Pengarang juga menempatkan dirinya sebagai tokoh yang membentuk konflik. Tokoh aku yang berperan dalam mengantarkan cerita.
Cerpen ini mengangkat tema kehidupan yang sering terjadi di Indonesia yaitu tentang korupsi yang dilakukan oleh tokoh Sanip. Yaitu pegawai negeri yang sering melakukan tindak korupsi.  Dapat dilihat dari kutipan :

Dia. Sanip itu, memang, biang kongkalikong di kantor. Yang penting kantungnya penuh. Tidak peduli itu bukan uang nenek moyangnya.

Dalam cerpen “Darmon” ini juga disajikan beberapa gaya bahasa yaitu Personifikasi. Misalnya pada kalimat “senja mulai merambat” dan Hiperbola. Misalnya pada kalimat “asap rokok yang keliahatan mahal” dan “membuang pandang jauh ke depan, menembus tembok kantor”.

Pengarang walaupun tidak secara langsung menceritakan menceritakan setiap kejadiannya, tetapi apa yang ia tuliskan bisa langsung tergambar dikepala pembacanya. Inilah salah satu kelebihan dari cerpen berjudul “Darmon”.
Cerpen ini juga sarat akan nilai moral dan sosial yang tersaji secara gamblang bagi para pembaca. Cerita para tokoh dalam cerpen tersebut dapat dijadikan sebuah pelajaran yang amat berharga bagi kita. Bagaimana menyikapi suatu permasalahan seperti yang terjadi antara tokoh cerpen tersebut merupakan sebuah pelajaran berharga yang didapatkan dari sebuah kegiatan membaca cerpen. Jangan melihat seseorang dari fisiknya saja. Seperti Tokoh Darmon, meski dia kelihatan seperti gembel dan tampak kumal, namun wawasannya luas dan juga baik hati. Dia mampu mengungkapkan banyak hal besar, yaitu masalah reformasi, korupsi, perilaku mahasiswa yang beragam, perilaku pegawai negeri selaku pelayan masyarakat, serta lingkaran antara perjuangan reformasi dan tuntutan memenuhi kebutuhan hidup. Tidak boleh memakan uang yang bukan hak kita atau dengan kata lain jangan melakukan tindak korupsi.
Selain kelebihan, cerpen ini juga tak luput dari berbagai kekurangan. Seperti Alur yang digunakan pengarang yaitu  Alur menggantung karena berakhir pada klimaks dan tidak ada penyelesaian. Misalnya, tidak diceritakan bagaimana nasib tokoh Darmon dan Sanip selanjutnya.

06.22 | 0 komentar | Read More

kritik sastra cerpen mereka bilang saya montet karya djenar naesa ayu

Seksualitas adalah hal yang dianggap tabu untuk dibicarakan. Apalagi dalam sebuah karya sastra yang penikmatnya mencakup semua golongan. Alasannya klasik, tidak ladzim membicarakan seks apalagi dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan. Kita kadang terlalu berlebihan memandang hal seksualitas. Padahal orang dewasa perlu berdiskusi tentang itu.
Bicara seksualitas tentu tidak lepas dari sosok perempuan. Perempuan sebagai pelaku seks dan perempuan sebagai korban pelecehan seksual. Perempuan sebagai makhluk yang dinilai lemah acapkali mengalami kekerasan, baik kekerasan fisik maupun seksual. Dalam cerpen “Mereka Bilang Saya Monyet!” Djenar coba menguraikan sisi lain perempuan dengan perilaku seksnya  yang dianggap tabu serta emansipasi perempuan yang dia cerminkan dalam tokoh Saya.
Tokoh profeminis dalam cerpen Mereka bilang, saya monyet! Karya Djenar Maesa Ayu adalah saya atau penulis sendiri. Penulis yang dimaksud disini adalah Djenar Maesa Ayu. Ide emansipasi muncul dari penulis atas dasar ketidakpuasan dan ketidakadilan hak terhadap pemerintahan yang notabene dipimpin oleh seorang laki-laki. Ide emansipasi yang dimunculkan oleh penulis tidak bersifat radikal hanya menginginkan pembenahan atau pengakuan terhadap kedudukan perempuan dimata laki-laki karena perempuan sering sekali menjadi korban penganiayaan laki-laki baik secara fisik maupun mental.
       “Waktu saya mengatakan bahwa saya juga mempunyai hati, mereka tertawa dan memandang saya dengan penuh iba atas kebodohan saya. Katanya hati yang mereka maksudkan adalah perasaan, selain itu mereka juga mempunyai otak. Tapi ketika saya protes dan menyatakan bahwa saya mempunyai otak, lagi-lagi mereka tertawa terbahak-bahak. Katanya, otak yang mereka maksudkan adalah akal.”
Dari kutipan diatas terlihat bahwa laki-laki memiliki kuasa atas perempuan. Laki-laki seorang pemimpin, laki-laki mempunyai kedudukan dalam pemerintah, laki-laki berkuasa dan berhak mengatur siapa yang boleh berpendapat dan siapa yang tidak boleh berpendapat. Penulis merasa ketidakadilan sedang berada pada dirinya. Oleh sebab itulah ide emansipasi muncul dalam diri penulis. Laki-laki memang menjadi seorang pemimpin namun bukanlah seorang pemimpin yang baik, bukan laki-laki yang memikirkan kesejahteraan hidup orang banyak. Laki-laki tersebut hanya bersembunyi dibalik penampilannya namun, hatinya seperti binatang. Demikian penggambaran penulis terhadap tokoh laki-laki dalam cerpen Mereka bilang, saya monyet! Laki-laki tersebut beridentitas manusia namun hati dan kelakuannya seperti binatang.
Penulis yang berjenis kelamin perempuan merasa dirinya lebih baik dari pada seorang laki-laki yang hanya baik diluar namun hatinya busuk. Penulis memiliki akal dan perasaan. Mampu memimpin seperti halnya laki-laki tercermin dalam kutipan berikut ini.
Saya memperhatikan bayangan diri saya di dalam cermin dengan cermat. Saya berkaki dua, berkepala manusia, tapi menurut mereka saya adalah seekor binatang. Kata mereka saya adalah seekor monyet. Waktu mereka mengatakan itu kepada saya, saya sangat gembira. Saya katakan, jika saya seekor monyet maka saya satu-satunya binatang yang paling mendekati manusia. Berarti derajat saya berada di atas mereka. Tapi mereka bersikeras bahwa mereka manusia bukan binatang, karena mereka punya akal dan perasaan. Dan saya hanyalah seekor binatang. Hanya seekor monyet!
Penulis beranggapan derajad perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki. Walaupun dirinya disebut sebagai monyet namun dia tidak marah karena monyet lebih baik dari pada binatang manapun, karena monyet satu-satunya binatang yang mirip dengan manusia. Mampu hidup dengan masyarakat dan menghargai sesama. Tidak saling menyakiti dan membutuh sesama jenis. Oleh karena itulah timbul keinginan dari diri penulis untuk melawan ketidakadilan tersebut. Penulis tidak mau tertindas dalam dominasi kaum laki-laki. Hal tersebut dituangkan penulis dalam kutipan berikut ini.
Saya menunggu di dalam kamar mandi. Tidak lama pintu diketuk. Saya membuka pintu. Si Kepala Buaya menyeruak masuk dan memberondong saya dengan ciuman. Saya cekik lehernya dan saya sandarkan dia ke dinding. Saya hajar mukanya seperti apa yang saya harapkan sebelumnya. Pintu kamar mandi diketuk. Saya membuka pintu dan Si Kepala Ular sudah berdiri berkacak pinggang di depan pintu. Saya mempersilakan ia masuk dan meninggalakan mereka. Saya mendengar suara tamparan di pipi Si Kepala Buaya tempat saya menghajarnya tadi.

Feminisme ini ditunjukkan Djenar melalui tokoh Saya yang berpikir idealis. Meskipun
dapat dianggap sebagai binatang monyet tetapi dikonotasikansebagai binatang yang hampir mirip dengan manusia. Secara tidak langsung,Djenar ingin menyampaikan bahwa belum tentu manusia itu baik. Manusia adayang berkelakuan seperti binatang. Djenar menunjukkan
perlawanan dengankemunculan tokoh Saya yang bersifat idealis dengan apa yang diyakininya..
lalu beberapa isyu seksualitas coba dikupas Djenar melalui cerpen ini. Djenar berani melawan ketabuan lewat penanya. Dia menceritakan bagaimana perempuan sangatlah dekat dengan seks. Bagaimana wanita ternyata begitu intim dan rawan dengan dunia seks. Bahkan wanita dijadikan objek seksualitas oleh laki-laki untuk memenuhi hasratnya.  Itu tercermin dalam teks berikut.
            “Kebutuhan saya untuk buang air kecil semakin mendesak. Pintu kamar mandi masih terkunci. Saya mengetuk pintu pelan-pelan. Tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ada suara air. Tidak ada suara mengedan. Saya menempelkan telinga saya di mulut pintu. Saya mendengar desahan tertahan. Saya kembali mengetuk pintu. Desahan itu berangsur diam. Saya mengintip lewat lubang kunci bersamaan dengan pintu dibuka dari dalam. Sepasang laki-laki dan perempuan keluar dari dalam kamar mandi. Yang laki-laki lantang memaki, “Dasar binatang! Dasar monyet! Gak punya otak ngintip-ngintip orang!”
            Teks di atas jelas memaparkan hal yang sudah menjadi rahasia umum. Perempuan menjadi objek seksualitas kaum adam. Bahkan ditemukan pada tempat yang tak ladzim. Ini yang coba Djenar ungkapkan. Bahwa kekerasan dan pelecehan seksual pada perempuan bukanlah suatu hal yang harus dikonfrontasikan dengan moral dan mitos keperawanan. Prostitusi kini menjalar dimana-mana, korban perkosaan semakin banyak, belum lagi diskriminasi yang muncul terhadap korban kekerasan dan pelecehan seksual, dan juga pandangan tentang seks yang ditabukan dan tidak pantas dibicarakan menambah keresahannya.  Djenar merasa ini adalah problem Dia juga sebagai seorang perempuan.      Tokoh saya dalam cerpen Mereka bilang, saya monyet! Karya Djenar Maesa Ayu benar-benar memperjuangkan derajad dan kedudukan sebagai seorang perempuan. Tokoh saya tidak mau tertintas oleh kaum laki-laki oleh karena itu, dia memberontak dan melawan atas ketidakadilan yang menimpa dirinya. Sebagai seorang perempuan ia tidak berpangku tangan ataupun pasrah atas perilaku kasar dan dominasi laki-laki terhadapnya.

Berdasarkan uraian diatas jelaslah bahwa tokoh saya, yaitu penulis merupakan satu-satunya tokoh yang profeminis. Penulis tidak nyaman dengan ketidakadilan dan kepura-puraan yang diciptakan oleh tokoh laki-laki. Mereka terlalu mendominasi sehingga mengabaikan pendapat perempuan
06.12 | 0 komentar | Read More

teori kritik sastra 2

Written By iqbal_editing on Selasa, 23 Agustus 2016 | 01.45

  1. Ciri-ciri Kritik
Kritik  mempunyai beberapa ciri, yaitu sebagai berikut :
  1. Memberikan tanggapan terhadap hasil karya
  2. Memberikan pertimbangan baik dan buruk sebuah karya sastra.
  3. Pertimbangan bersifat obyektif
  4. Memaparkan kesan pribadi kritikus terhadap sebuah karya sastra
  5. Memberikan alternatif perbaikan atau penyerpurnaan
  6. Tidak berprasangka
  7. Tidak terpengaruh siapa penulisnya.
  8. Cara menulis kritik Sastra
  9. Kritikus harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal yang akan dikritik. Sebagai contoh, jika akan mengkritik suatu novel, kritikus harus mempunyai pengetahuan luas tentang novel.
  10. Sebelum mengkritik, pelajari dengan cermat karya yang akan di kritik. Pahami segala istilah yang terdapat dalam karya. Baca juga bahan rujukan karya tersebut.
  11. Setelah itu, buatlah catatan objektif tentang kelebihan dan kekurangan hal yang akan dikritik.
  12. Sebelum kritik disampaikan, pikirkan kembali “bagaimanakah perasaan saya jika dikritik semacam ini?”
  13. Saat menyampaikan kritik, melalui tulisan atau lisan, perhatikan penggunaan bahasa. Gunakan bahasa yang tidak menyerang orang dan tidak menyakitkan hati. Beri penilaian yang jujur dan objektif, tetapi tetap santun. Kritik harus memiliki alasan yang masuk akal atau logis.
  14. Fungsi Kritik Sastra
Dalam mengkritik karya sastra, seorang kritikus tidaklah bertindak semaunya. Ia harus melalui proses penghayatan keindahan sebagaimana pengarang dalam melahirkan karya sastra. Setidaknya, ada beberapa manfaat kritik yang perlu untuk kita ketahui, antara lain sebagai berikut:
  • Kritik berfungsi bagi perkembangan sastra
Dalam mengkritik, seorang kritikus akan menunjukkan hal-hal yang bernilai atau tidak bernilai dari suatu karya sastra. Kritikus bisa jadi akan menunjukkan hal-hal yang baru dalam karya sastra, hal-hal apa saja yang belum digarap oleh sastrawan. Dengan demikian, sastrawan dapat belajar dari kritik sastra untuk lebih meningkatkan kecakapannya dan memperluas cakrawala kreativitas, corak, dan kualitas karya sastranya. Jika sastrawan-sastrawan mampu menghasilkan karya-karya yang baru, kreatif, dan berbobot, maka perkembangan sastra negara tersebut juga akan meningkat pesat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dengan kata lain, kritik yang dilakukan kritikus akan meningkatkan kualitas dan kreativitas sastrawan, dan pada akhirnya akan meningkatkan perkembangan sastra itu sendiri.
  • Kritik berfungsi untuk penerangan bagi penikmat sastra
Dalam melakukan kritik, kritikus akan memberikan ulasan, komentar, menafsirkan kerumitan-kerumitan, kegelapan-kegelapan makna dalam karya sastra yang dikritik. Dengan demikian, pembaca awam akan mudah memahami karya sastra yang dikritik oleh kritikus.
Di sisi lain, ketika masyarakat sudah terbiasa dengan apresiasi sastra, maka daya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra akan semakin baik. Masyarakat dapat memilih karya sastra yang bermutu tinggi (karya sastra yang berisi nilai-nilai kehidupan, memperhalus moral, mempertajam pikiran, kemanusiaan, kebenaran dan lain-lain).
  • Kritik berfungsi bagi ilmu sastra itu sendiri
Analisis yang dilakukan kritikus dalam mengkritik harus didasarkan pada referensi-referensi dan teori-teori yang akurat. Tidak jarang pula, perkembangan teori sastra lebih lambat dibandingkan dengan kemajuan proses kreatif pengarang. Untuk itu, dalam melakukan kritik, kritikus seringkali harus meramu teori-teori baru. Teori-teori sastra baru yang seperti inilah yang justru akan mengembangkan ilmu sastra itu sendiri, dimana seorang pengarang akan dapat belajar melalui kritik sastra dalam memperluas pandangannya, sehingga akan berdampak pada meningkatnya  kualitas karya sastra.
Fungsi kritik di atas akan menjadi kenyataan karena adanya tanggung jawab antara kritikus dan sastrawan serta tanggungjawab mereka dalam memanfaatkan kritik sastra tersebut.
Dengan demikian, tidak perlu diragukan bahwa adanya kritik yang kuat serta jujur akan membawa pada meningkatnya kualitas karya sastra. Karena sastrawan akan memiliki perhitungan sebelum akhirnya dipublikasikannya karya sastra tersebut. Oleh sebab itu, ketiadaaan kritik akan membawa pada munculnya karya-karya sastra yang picisan. kritik sastra berfungsi apabila;
  1. Disusun atas dasar untuk meningkatkan dan membangun sastra,
  2. Melakukan kritik secara objektif, menggunakan pendekatan dan metode yang jelas agar dapat dipertangungjawabkan,
  3. Mampu memperbaiki cara berpikir, cara hidup, dan cara bekerja sastrawan,
  4. Dapat menyesuaikan diri dengan ruang lingkup kebudayaan dan tata nilai yang berlaku, dan
  5. Dapat membimbing pembaca untuk berpikir kritis dan dapat meningkatkan apresiasi sastra masyarakat.
  6. Lima Jiwa Modern
Menurut Subagio Sastrowardoyo apa yang dimaksud dengan keutuhan jiwa yang dikemukakan oleh J.Elema, yaitu bahwa dalam ilmu jiwa modern,jiwa manusi itu terdiri dari lima tingkatan, begitu juga dengan pengalaman jiwa yang disebut niveaux.
Kelima tingkatan tersebut adalah
  1. Niveaux anorganis
Yaitu tingkatan jiwa terendah, yang sifatnya seperti benda mati, mempunyai ukuran, tinggi, rendah, penunjang, dalam, dapat diraba, didengar, pendeknya dapat diindera.Bila pengalaman jiwa anorganis ini terjelma dalam kata (karya sastra), maka akan berupa pola bunyi, rama,baris sajak, alinia, kalimat, perumpamaan, gaya bahasa, dan sebagainya. Jadi pada umumnya berupa bentk formal.
  1. Niveaux Vegetative
Yaitu tingkatan seperti tumbuh-tumbuhan, seperti pohon mengeluarkan bunga, mengeluarkan daunnya yang muda, gugur daun, dan sebaginya.segala pergantian itu menimbulkan bermacam-macam suasana. Misalnya bila musim bungan suasana yang ditimbulkan adalah romantik, menenangkan, menggembirakan. Bila musim gugur menimbulkan suasana tertekan, menyedihkan, dan keputusasaan. Maka bila tingkatan ini terjelma ke dalam karya sastra akan berupa suasana yang ditimbulkan oleh rangkaian kata-kata itu: suasana menyenangkan, mengembirakan, romantik, menyedihkan, suasana khusuk, marah dan sebgainya.
  1. Niveaux anaimal
Yaitu tingkatan yang seperti dicapai oleh binatang, yaitu sudah ada nafsu-nafsu jasmaniah. Bila tingkatan ini terjelma ke dalam kata maka akan berupa nafsu-nafsu naluriah, seperti hasrat untuk makan, minum, nafsu seksual, nafsu untuk membunuh dan sebagainya.
  1. Niveaux Human
Yaitu tingkatan pengalaman jiwa yang hanya dapat dicapai oleh manusia, berupa perasaan belas kasihan, dapat membedakan baik dan buruk, berjiwa gotong royong saling bantu membantu dan sebaginya. Bila tingkatan pengalaman jiwa ini terjelma ke dalam kata, maka akan berupa renngan-renungan batin, konflik-konflik kejiwaan, rasa belas kasihan, rasa empati/simpati, renungan-renungan moral,dan sebaginya. Pendeknya segalaa pengalaman yang hanya dirasakan oleh manusia.
  1. Niveaux Religius atau Filosofis
Yaitu tingkatan kejiwaan yang tertinggi. Tingkatan ini tidak dialami oleh manusia sehari-hari, namun hanya dialami ketika sedang beribadah sholat,dzikir, berdo’a, juga pada waktu merenungkan hakikat dunia, hidup dan kehidupan, segala renungan-renungan batin sampai pada hakikatnya, hubungan antara manusia dengan tuhan ,seperti doa-doa, pengalaman mistik, renungan-renungan filsafat; pendeknya renungan –renungan yang sampai pada hakikat.
01.45 | 0 komentar | Read More
 
berita unik