Translate

Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label terjemahaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label terjemahaan. Tampilkan semua postingan

cerpen terjemahaan poor jane

Written By iqbal_editing on Jumat, 02 September 2016 | 06.46

Lalu aku menoleh ke arah sumber suara, di belakangku. Aku melihat Harold yang berlari ke arahku. Aku mendengus, lalu mengembalikan pandanganku ke depan.
“Jane, I’m so sorry,” mohon Harold saat dia sudah ada di depanku dengan wajah berkeringat. “Mobilku rusak. Dan juga, Mom memintaku untuk membantunya memperbaiki oven.” ujar dia menjelaskan kenapa dia bisa telat datang.
Harold sangat tampan, lelaki tertampan yang pernah kulihat. Dia memiliki mata berawarna hijau terang dan tubuhnya agak berotot, membuatnya semakin sempurna. Banyak wanita yang menyukainya di sekolah. Bahkan, aku sendiri.
Ya, aku jatuh hati padanya saat pertama kali kita berbicara. Dia sangat ramah. Sifatnya yang dingin itu membuatku semakin ingin memilikinya. Walaupun dia menganggapku sebagai sahabat selama setahun kita berteman, tapi aku tetap mencintainya.
Dia tidak menyadari bahwa aku mencintainya. Dia sangat acuh terhadap lingkungannya. Tapi, aku tetap akan memperjuangkan Harold, walaupun aku tahu bahwa dia tak akan pernah membalas cintaku.
“Sudahlah. Sebenarnya, untuk apa kau memintaku untuk datang kesini?” tanyaku lalu menyuruh Harold duduk.
“Aku ingin memberitahukan sesuatu. Tapi, kau harus janji bahwa kau tidak akan sedih.” jawabnya. Aku mengangguk sembari tersenyum ramah. “Sebenarnya, aku dan Violet, akan…,” ucap dia menggantung.
“Hey, ada apa? Kau dan Violet akan apa?” tanyaku penasaran.
Violet ini wanita populer di sekolah. Harold pernah menceritakan Violet kepadaku. Dia bilang, dia menyukai Violet. Tapi, aku berusaha untuk menyembunyikan kesedihanku saat itu.
“Violet and I… Will be engaged. And after that, we’ll be going to marry.”
Saat mendengar itu, hatiku langsung rapuh. Aku menatap Harold datar. Harold menatapku penuh bahagia. Dia seperti ingin teriak saat itu juga. Aku mengigit bibir, menahan tangis dan rasa sakit di hatiku yang kurasakan.
“Congratulation. Aku turut bahagia.” responku lalu berdiri dari sana. “Aku harus pulang, Ibuku pasti sudah mencariku.” pamitku lalu berjalan meninggalkan Harold sendirian di taman itu.
Aku berjalan lunglai sampai ke jalan. Walau sudah larut malam, jalan di kota ini masih sangat ramai. Aku harus menyebrangi jalan. Tanpa menoleh kanan dan kiri, aku terus berjalan. Sampai pada akhirnya sebuah lampu yang menyilaukan mataku membuatku terhenti dan juga membuatku mengeluarkan cairan kental merah dari hidung dan kepalaku yang terbentur.
Selamat tinggal, Harold. Selamat tinggal, dunia. Selamat tinggal, Jane yang malang.
06.46 | 0 komentar | Read More

contoh terjemahaan 2 novel asing

Written By iqbal_editing on Rabu, 24 Agustus 2016 | 06.42

The March
At five in the morning someone banging on the door and shouting, her husband, John, leaping out of bed, grabbing his rifle, and Roscoe at the same time roused from the backhouse, his bare feet pounding: Mattie hurriedly pulled on her robe, the mind prepared for the alarm of war, but the heart stricken that it would finally have come, and down the stairs she flew to see through the open door in the lamplight, at the steps of the portico, the two horses, steam rising from their flanks, their heads lifting, their eyes wild, the driver a young darkie with rounded shoulders, showing stolid patience even in this, and the woman standing in her carriage no one but her aunt Leticia Pettibone, of McDonough, her elderly face drawn in anguish, her hair a straggled mess, this woman of such fine grooming, this dowager who practically ruled the season in Atlanta standing up in the equipage like some bag of doom, which indeed she would prove to be. The carriage was piled with luggage and tied bundles, and as she stood some silver fell to the ground, knives and forks and a silver candelabra, catching in the clatter the few gleams of light from the torch that Roscoe held. Mattie, still tying her robe, ran down the steps thinking stupidly, as she latter reflected, only of the embarrassment to this woman, whom to tell the truh she had respected more than loved, and picking up and pressing back upon her the heavy silver, as if this was not something Roscoe should be doing, nor her husband, John Jameson, neither.
Pada pukul lima pagi hari seseorang menggedor pintu dan berteriak, suaminya, John, melompat dari tempat tidurnya, mengambil senapan, dan pada saat yang bersamaan Roscoe keluar dari rumah belakang, kakinya yang telanjang terdengar menghentak keras: Mattie buru-buru memakai jubah tidurnya, pikirannya bersiaga untuk menerima peringatan perang, tetapi hatinya kecut bahwa perang akhirnya datang juga, dia berlari menuruni tangga mengamati pintu yang terbuka diterangi lampu, di undak-undakan teras ada dua ekor kuda, uap menghembus dari panggul mereka, kepala terangkat, mata liar, penunggangnya seorang pemuda kulit hitam yang berbahu tegap, tetap tenang bahkan dalam keadaan seperti ini, dan seorang wanita yang ada di dalam kereta itu tak lain adalah Latitia Pettibone McDonough, wajah tuanya terlihat sedih, rambutnya terurai berantakan, wanita yang dulunya merawat dirinya dengan baik, seorang janda yang berhasil mengatasi kesulitan zaman di Atlanta dengan tegar, dan selama ini terbukti demikian. Kereta itu dipenuhi dengan banyak muatan dan bungkusan yang diikat, dan saat dia berdiri, beberapa perabot perak jatuh ke tanah, pisau dan garpu dan tempat lilin dari perak, seberkas cahaya terpancar dari perabot yang gemerincing itu oleh obor yang yang dipegang Roscoe. Mattie, masih sambil mengikatkan jubahnya, menuruni tangga sambil berpikir dengan bodohnya, seperti yang kemudian diingatnya, hanya karena rasa malu pada wanita ini, yang sejujurnya lebih dihormatinya daripada dicintainya, memungut dan mengambilkan barang-barang dari perak yang berat itu untuknya, seakan-akan hal ini tidak seharusnya dilakukan Roscoe, atau juga suaminya, John Jameson.
06.42 | 0 komentar | Read More

syarat dan kesulitan menerjemahkan novel asing ke indonesia


Untuk bisa menerjemahkan novel dengan baik, yang lebih dulu harus dikuasi adalah cara-cara menerjemahkan buku dengan baik, antara lain: 1) menguasai bahasa sumber, 2) menguasai bahasa sasaran, 3) menguasai materi yang diterjemahkan, 4) akrab dengan segala jenis kamus, 5) mudah dan terbiasa melihat “gambaran keseluruhan” buku, serta 6) membaca sebanyak-banyaknya buku lain yang setipe.
Setelah mampu menerjemahkan buku (umum) dengan baik, seorang penerjemah novel harus membekali diri dengan keterampilan menulis yang prima. Menerjemahkan novel bisa dikatakan “setengah mengarang.” Lebih dari penerjemah buku biasa, penerjemah novel harus pandai mengolah kata-kata agar pembaca bisa terhanyut menikmati novel yang dibacanya. Biasanya, bahasa yang digunakan pengarang novel itu khas, berbeda antara satu pengarang dan pengarang lainnya. Penerjemah novel harus bisa mengikuti gaya bahasa pengarang asli. Dengan begitu barulah pembaca bisa menangkap keunikan dari karya tersebut.
Contohnya:
  1. Cormac McCarthy. Pengarang buku No Country for Old Men yang telah difilmkan dan filmnya memborong piala Oscar 2008 ini tidak menggunakan bahasa Inggris “yang baik dan benar” ketika menulis. Dengan demikian penerjemah harus bisa mengadaptasinya dengan tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baku juga, agar tercipta atmosfir seperti yang tertuang dalam novel aslinya.
  2. Kochka dalam The Boy Who Ate Stars. Penutur dalam novel ini, Lucy, adalah seorang anak usia 12 tahun, bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan seorang anak autis. Bahasa yang digunakannya sesuai dengan bahasa khas anak ABG.
  3. E.L. Doctorow, misalnya dalam The March. Pengarang ini suka menggunakan kalimat-kalimat panjang dengan banyak koma dan titik-koma. Meskipun membaca kalimat-kalimat semacam itu melelahkan, penerjemah harus setia mengikuti gayanya, agar nuansa yang ingin ditampilkan pengarang tetap bisa ditangkap pembaca.
Dengan bekal kiat-kiat di atas, sebenarnya seorang penerjemah sudah bisa menghasilkan terjemahan novel yang baik.
Namun dalam praktiknya, sering timbul berbagai pertanyaan, misalnya:
  1. Menerjemahkan struktur kalimat yang panjang dan mbulet, bagaimana caranya? Dengan menangkap maksud kalimat tersebut, dan mengungkapkannya sesuai dengan ungkapan dalam bahasa Indonesia yang bisa menampilkan gaya mbulet dari sang pengarang. Contohnya: E.L. Doctorow dalam The March.
  2. Bagaimana memertahankan suspense, konflik batin, dll? Dengan resep yang sama. Pengarang pasti punya cara khas untuk menampilkan semua itu. Jadi, sebagai penerjemah kita mengikuti saja alur yang telah dibuat pengarang. Contoh: Mo Hayder dalam Tokyo (The Devil of Nanking).
  3. Bagaimana menerjemahkan deskripsi yang terkait budaya dan waktu? Perlukah memberi penjelasan? Ya, tetapi sebaiknya pada bagian yang lain, sehingga tidak mengganggu pembaca saat menikmati sebuah novel . Misalnya memberi keterangan tentang setting masa terjadinya cerita atau latar belakang sejarah suatu peristiwa. Misalnya, Little Women karya Louisa May Alcott atau The March karya E.L. Doctorow.
  4. Bagaimana memertahankan atau menerjemahkan cara tutur yang khas tempat dan waktu? Misalnya cara tutur orang hitam zaman dulu (The Color Purple). Harus dicari cara yang tepat untuk menunjukkan bahwa seorang tokoh berasal dari strata masyarakat tertentu. Ini tantangan yang berat bagi penerjemah. Contoh lainnya: No Country for Old Man karya Cormac McCarthy, yang menampilkan tokoh-tokoh dari suatu wilayah dengan cara bicara yang khas di daerah itu.
  5. Bagaimana menyikapi uraian atau adegan yang menurut Anda kurang sesuai dengan nilai-nilai budaya Indonesia? Menerjemahkan apa adanya? Menghaluskan? Apa pertimbangannya? Tergantung. Kalau adegan yang ditampilkan terlalu menggangu perasaan pembaca, penerjemah boleh menghaluskannya. Contohnya, The Amber Room karya Steve Berry. Adegan perkosaan digambarkan pengarang dengan cara yang sangat merangsang, yang sesungguhnya tidak terlalu memberikan perbedaan pada keseluruhan cerita.
06.36 | 0 komentar | Read More

contoh terjemahaan puisi asing ke luar negri

悲しき玩具
(Kanashiki Gangu)
石川啄木
(Ishikawa Takuboku)
呼吸すれば、
胸の中にて鳴る音あり。
凩よりもさびしきその音!
(Iki sureba,
Mune no uchi nite naru oto ari.
Kogarashi yorimo sabishiku sono oto!)
眼閉づれど
心にうかぶ何もなし。
さびしくもまた眼をあけるかな
(Me tozuredo
Kokoro ni ukabu nani mo nashi.
Sabishiku mo mata me o akeru kana)
途中にてふと氣が變り、
つとめ先を休み手、今日も
河岸をさまよへり。
(Tochū nite futo ki ga kawari ,
Tsutomesaki o yasumite, kefu mo
Kashi o samayoeri.)
咽喉がかわき、
まだ起きてゐる果物屋を探しに行きぬ。
秋の夜ふけに。
(Nodo ga kawaki,
Mada okite iru kudamonoya o sagashi ni yukinu.
Aki no yofuke ni)
遊びに出て子供かへらず、
取り出して
走らせて見る玩具の機關車
(Asobi ni dete kodomo kaerazu.
Toridashite
Hashirasete miru omocha no kikuwansha)
……………………………………………………..
Pertama kali yang harus dilakukan terhadap bait-bait puisi ini adalah, mengkajinya kalimat per kalimat. Pada tahap ini, peran pengetahuan penerjemah tentang ilmu tata bahasa dasar sangat diperlukan. Penerjemah harus jeli pada bentukan-bentukan kata yang mungkin agak berbeda dengan tata bahasa yang berlaku saat ini. Misalnya, pada bait ketiga kita menemukan kata yasumite. Bentukan ini tidak biasa digunakan dalam tata bahasa yang berlaku saat ini. Yang biasa digunakan saat ini adalah kata yasunde.
Setelah menemukan bentukan-bentukan yang khusus, selanjutnya cobalah menerjemahkannya secara literal translation; maka bait pertama dan kedua dapat kita artikan sebagai berikut:
  1. Kalau aku bernafas/ada suara di dalam dada/ suara itu lebih sepi daripada angin musim dingin.
  2. Walaupun saya menutup mata/Tidak ada apapun di dalam hati/Sepi pun kembali membuka mata.
Setelah anda mendapat ‘terjemahan’ dari kalimat-kalimat tersebut, apakah proses penerjemahan hanya berakhir sampai di situ? Jika terjemahan tersebut diperuntukkan untuk sebuah karya tulis yang bukan karya sastra, mungkin proses bisa dihentikan sampai di situ saja. Tetapi untuk sebuah karya sastra (terutama puisi), apa yang kita dapatkan dari hasil terjemahan tersebut? Menurut anda, sudah pantaskah hasil terjemahan tersebut di sebut puisi? Sampaikah pesan dan suasana batin yang diungkapkan pengarang? Menurut saya, dari hasil terjemahan di atas kita hanya mendapatkan arti puisi tanpa jiwa. Hanya kumpulan kata tanpa emosi. Sangat kering, bahkan cenderung terdengar menggelikan.  Lalu bagaimana caranya agar jiwa puisi Takuboku dapat kembali tertuang dalam terjemahannya?
Untuk bait pertama sampai dengan kelima tersebut, saya mencoba ‘menggali’ jiwa bait puisi itu dengan mempelajari seluruh sejarah kehidupan Takuboku. Memang, hal ini adalah sebuah tugas yang cukup berat, tetapi dari sejarah kehidupannya itulah, saya dapat mengetahui bahwa Takuboku mengidap Tuberculosis yang cukup parah. Dari kenyataan ini dan kemudian digabungkan dengan sedikit pengetahuan tentang ilmu kedokteran, saya akhirnya dapat memahami bahwa ‘suara dalam dada’ yang didengar Takuboku setiap kali dia bernafas adalah suara yang memang biasa ditimbulkan oleh penderita Tuberculosis setiap kali bernafas. Dengan kata lain, kalimat pertama dan kedua pada bait kesatu memang memiliki pengertian yang harfiah. Sehingga, untuk kalimat-kalimat tersebut, yang diperlukan hanyalah ‘penghalusan’ gaya bahasa agar terdengar lebih puitis.
Suasana batin yang sangat mendalam terdapat pada kalimat ketiga bait kesatu, yang diwakili oleh kata kogarashi. Kogarashi adalah angin kencang yang sangat dingin yang berhembus pada musim dingin. Di negara empat musim, musim dingin biasanya diidentikkan dengan perasaan sepi, mencekam, penuh duka, dan sebagainya. Para penyair Jepang biasa memakai kata ini untuk mengungkapkan perasaan kesepian. Namun bagi Ishikawa (Shinoda, 2000), kata tersebut bukan berarti kesepian seperti layaknya orang yang tidak memiliki pendamping atau kehilangan anak, istri, atau teman, melainkan untuk melukiskan penderitaannya karena mengidap  tuberkulosis, yang saat itu merupakan penyakit yang masih sangat sulit disembuhkan. Setiap orang yang memiliki penyakit tak tersembuhkan, pasti memiliki kesepian seperti ini. Kesepian yang lebih sepi daripada sekedar kehilangan saudara atau teman; kesepian yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang bernasib sama.
Pada bait kedua kalimat pertama, Takuboku menggunakan gaya bahasa puisi Jepang me tozuredo. Dalam bahasa sehari-hari me  tozuredo berarti me o tojita ga atau me o tojita keredomo (=walaupun saya menutup mata). Menutup mata biasa dilakukan oleh seorang penulis/penyair untuk mengimajinasikan dan merasakan luapan emosi dari dalam diri untuk kemudian dituangkan ke dalam karyanya. Namun pada saat itu, di benaknya sama sekali tak terlintas apapun. Takuboku seolah kehabisan ide. Bagi penulis/penyair, kehabisan ide dapat menyebabkan kekecewaan yang sangat besar. Kekecewaan tersebut Takuboku ungkapkan kembali dengan pemakaian kata sepi (sabishiku).
Pemilihan kata pada bait ketiga, nampaknya berhubungan dengan kebiasaan Takuboku yang menyusuri Sungai Sumida di Tokyo setiap kali merasa memiliki tekanan jiwa. Kesulitan hidup membuatnya ingin beristirahat (yasumasite) dari semua kesulitan itu, dan melepaskan semua ketegangannya dengan berjalan menyusuri sungai  (Kashi o samayoeri).
Bait keempat merupakan bait yang memiliki pengertian unik. Pada bait keempat dikatakan bahwa Takuboku mencari penjual buah-buahan yang masih terjaga pada larut malam untuk memuaskan dahaganya. Secara logika, jika Takuboku haus, tentunya akan lebih mudah jika dia minum air saja di rumahnya. Tetapi Takuboku lebih memilih untuk keluar rumah dan mencari penjual buah-buahan yang masih berjualan di larut malam. Pada masa itu, tidak ada penjual buah-buahan yang berjualan sampai larut malam. Dengan kata lain, Takuboku melakukan hal yang sangat tidak masuk akal untuk zaman itu. Berdasarkan pemikiran tersebut, bait ini menurut saya mengandung makna keputusasaan mendalam yang dirasakan Takuboku.
Bait kelima menceritakan tentang Takuboku yang bermain sendirian dengan mainan lokomotif karena anaknya belum pulang dari bermain. Dari biografinya, saya menemukan fakta bahwa Takuboku pernah membelikan sebuah mainan lokomotif untuk anak laki-lakinya yang tidak berumur panjang. Kenyataan ini memberikan penjelasan pada kita bahwa Takuboku menuliskan bait seperti ini untuk mengungkapkan kesepian hatinya dengan pelambangan perasaan Takuboku ketika ditinggalkan seorang anak untuk selama-lamanya.
Setelah mengkaji bukan hanya dari kaidah tata bahasa saja, melainkan juga kita juga mengkajinya secara mendalam melalui sejarah, budaya, latar belakang, dan mood si penyair, kita dapat mengambil sedikit kesimpulan bahwa puisi Kanashiki Gangu bercerita tentang kesedihan, kesulitan, kesepian, kekecewaan, dan keputusasaan. Pemahaman kita akan jiwa puisi Takuboku inilah yang akan membantu kita untuk memilih kata, dan gaya bahasa penerjemahan.
Setelah dibekali cukup banyak pengetahuan tentang suasana batin yang terkandung dalam puisi Takuboku, Kanashiki Gangu, dengan digabung dengan rasa seni yang kita miliki, maka kita dapat menerjemahkannya sebagai berikut:

PERMAINAN LARA
Kala kuhela napasku,
Ada satu suara dalam dada.
Yang melebihi sepinya angin yang telah mati!
Walau kututup mataku,
Namun tak satu pun yang terlintas dalam benak.
Mungkin hanya kesepian yang kembali
membuka mataku
Keinginan sesaat t’lah menggangguku di perjalanan,
Dan sekali lagi aku beristirahat
‘tuk menjelajah tepian sungai
Dahagaku memanggang ,
Kala kucari penjual buah-buahan yang masih terjaga
Di suatu malam yang larut di musim gugur.
Anakku belum lagi pulang bermain; entah di mana.
Maka kukeluarkan mainan kereta api itu
lalu kumainkan sendiri
(Ishikawa Takuboku)
06.18 | 0 komentar | Read More

kesulitan dan aturan t menerjemahkan puisi asing ke indonesia

Menurut Peter Newmark (1981), masalah-masalah yang menghadang penerjemah dalam menerjemahkan karya sastra adalah pengaruh budaya sumber dan pesan moral yang ingin disampaikan oleh penyair aslinya. Dalam hal pengaruh budaya BSa, kesulitan ini dapat berupa aturan-aturan BSu, gaya bahasa, latar, dan tema. Dalam hal pesan moral, penerjemah dapat menemukan kesulitaan dalam ciri-ciri khas pengarang. Menerjemahkan cerpen atau novel cenderung lebih mudah dari pada menerjemahkan puisi. Hal ini disebabkan karena kata-kata yang digunakan dalam prosa tidak sepadat dan sehemat dalam puisi. Tidak seperti puisi, keindahan dalam sebuah cerpen atau novel tidak begitu tergantung pada pilihan kata, rima, dan irama, tetapi lebih terletak pada alur ceritera dan pengembangan tokoh-tokoh yang ada di dalam ceritera itu.
Menurut Fuad Hasan, terjemahan adalah suatu proses mengalihkan “suasana batin” dari pengarang dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Penerjemah karya sastra sarat dengan dengan suasana sentimental (Fuad Hasan, 2001). Dengan memiliki perasaan sentimental, penerjemah akan memiliki kemampuan untuk mengalihkan bukan saja bahasa, bahan atau materi, budaya, tetapi juga perasaan, suasana batin pengarang.
Menerjemahkan puisi sangat memerlukan kemampuan untuk  mengalihkan suasana batin ini. Sehingga, pesan yang disampaikan si penyair akan sampai kepada penikmat puisi dengan baik.

Aturan Umum Menerjemahkan Puisi
Hilaire Belloc seperti yang dikutip oleh Basnett McGuire (1980) menyebutkan beberapa aturan umum dalam menerjemahkan karya sastra (terutama puisi):
  1. Penerjemah hendaknya tidak menentukan langkahnya hanya untuk menerjemahkan kata per kata atau kalimat per kalimat saja. Ia harus selalu mempertimbangkan keseluruhan karya, baik karya aslinya maupun karya terjemahannya. Penerjemah harus menganggap naskah aslinya sebagai satu kesatuan unit yang integral, meskipun pada saat menerjemahkan, ia mengerjakan bagian per bagian saja. Dalam terjemahan puisi, penerjemah dapat membagi puisi menjadi unit-unit terjemahan dalam baris-baris, atau membaginya menjadi bait-bait.
  2. Penerjemah hendaknya menerjemahkan idiom menjadi idiom pula. Idiom dalam BSu hendaknya dicari padanannya dalam idiom BSa, meskipun kata-kata yang dipergunakan tidak sama persis. Misalnya, idiom kambing hitam dalam bahasa Indonesia mempunyai padanan “scape goat” dalam bahasa Inggris. Apabila betul-betul tidak ada padanannya, barulah idiom itu bisa diterjemahkan tanpa menghilangkan makna batinnya.
  3. Penerjemah hendaknya menerjemahkan maksud menjadi maksud juga. Kata maksud menurut Belloc berarti muatan emosi atau perasaan yang dikandung oleh ekspresi tertentu. Muatan emosi dalam ekspresi BSu-nya bisa saja lebih kuat dari pada muatan emosi dari padanannya dalam BSa. Sebaliknya, ekspresi tertentu terasa lebih pas dalam BSu, tetapi menjadi janggal dalam BSa, apabila diterjemahkan secara literal. Sebagai ilustrasi, saya mengambil contoh suatu situasi  dalam sebuah film, yaitu ada seseorang yang terus menerus membicarakan orang lain. Akhirnya temannya berkata dalam bahasa Jepang, “Yamete”. Terjemahan itu akan terdengar agak lucu dan canggung apabila diterjemahkan menjadi “Berhenti”. Saya pikir dalam karya sastra akan lebih baik kalau ekspresi itu diterjemahkan menjadi “Sudahlah”.
  4. Penerjemah hendaknya berani mengubah hal-hal yang perlu diubah dari BSu ke dalam BSa dengan tegas. Belloc mengatakan bahwa inti kegiatan menerjemahkan puisi adalah kebangkitan kembali “jiwa asing” dalam tubuh pribumi. Yang dimaksud dengan jiwa asing dalam tubuh pribumi adalah makna ceritera dalam BSu, sedangkan tubuh pribumi ini adalah bahasa sasarannya (BSa).
  5. Meskipun penerjemah dapat mengubah apa yang perlu diubah, tetapi pada langkah keenam, Belloc (dalam Basnett McGuire, 1980) mengatakan bahwa, penerjemah tidak boleh membubuhi teks aslinya dengan hiasan-hiasan yang terlalu banyak yang dapat membuat teks dalam BSa itu lebih buruk atau lebih indah sekalipun. Tugas penerjemah adalah menghidupkan kembali jiwa asing tadi, bukan mempercantik, apalagi memperburuknya.
06.16 | 0 komentar | Read More
 
berita unik