Lalu aku menoleh ke arah sumber suara, di belakangku. Aku melihat
Harold yang berlari ke arahku. Aku mendengus, lalu mengembalikan
pandanganku ke depan.
“Jane, I’m so sorry,” mohon Harold saat dia sudah ada di depanku dengan wajah berkeringat. “Mobilku rusak. Dan juga, Mom memintaku untuk membantunya memperbaiki oven.” ujar dia menjelaskan kenapa dia bisa telat datang.
Harold sangat tampan, lelaki tertampan yang pernah kulihat. Dia memiliki mata berawarna hijau terang dan tubuhnya agak berotot, membuatnya semakin sempurna. Banyak wanita yang menyukainya di sekolah. Bahkan, aku sendiri.
Ya, aku jatuh hati padanya saat pertama kali kita berbicara. Dia sangat ramah. Sifatnya yang dingin itu membuatku semakin ingin memilikinya. Walaupun dia menganggapku sebagai sahabat selama setahun kita berteman, tapi aku tetap mencintainya.
Dia tidak menyadari bahwa aku mencintainya. Dia sangat acuh terhadap lingkungannya. Tapi, aku tetap akan memperjuangkan Harold, walaupun aku tahu bahwa dia tak akan pernah membalas cintaku.
“Sudahlah. Sebenarnya, untuk apa kau memintaku untuk datang kesini?” tanyaku lalu menyuruh Harold duduk.
“Aku ingin memberitahukan sesuatu. Tapi, kau harus janji bahwa kau tidak akan sedih.” jawabnya. Aku mengangguk sembari tersenyum ramah. “Sebenarnya, aku dan Violet, akan…,” ucap dia menggantung.
“Hey, ada apa? Kau dan Violet akan apa?” tanyaku penasaran.
Violet ini wanita populer di sekolah. Harold pernah menceritakan Violet kepadaku. Dia bilang, dia menyukai Violet. Tapi, aku berusaha untuk menyembunyikan kesedihanku saat itu.
“Violet and I… Will be engaged. And after that, we’ll be going to marry.”
Saat mendengar itu, hatiku langsung rapuh. Aku menatap Harold datar. Harold menatapku penuh bahagia. Dia seperti ingin teriak saat itu juga. Aku mengigit bibir, menahan tangis dan rasa sakit di hatiku yang kurasakan.
“Congratulation. Aku turut bahagia.” responku lalu berdiri dari sana. “Aku harus pulang, Ibuku pasti sudah mencariku.” pamitku lalu berjalan meninggalkan Harold sendirian di taman itu.
Aku berjalan lunglai sampai ke jalan. Walau sudah larut malam, jalan di kota ini masih sangat ramai. Aku harus menyebrangi jalan. Tanpa menoleh kanan dan kiri, aku terus berjalan. Sampai pada akhirnya sebuah lampu yang menyilaukan mataku membuatku terhenti dan juga membuatku mengeluarkan cairan kental merah dari hidung dan kepalaku yang terbentur.
Selamat tinggal, Harold. Selamat tinggal, dunia. Selamat tinggal, Jane yang malang.
“Jane, I’m so sorry,” mohon Harold saat dia sudah ada di depanku dengan wajah berkeringat. “Mobilku rusak. Dan juga, Mom memintaku untuk membantunya memperbaiki oven.” ujar dia menjelaskan kenapa dia bisa telat datang.
Harold sangat tampan, lelaki tertampan yang pernah kulihat. Dia memiliki mata berawarna hijau terang dan tubuhnya agak berotot, membuatnya semakin sempurna. Banyak wanita yang menyukainya di sekolah. Bahkan, aku sendiri.
Ya, aku jatuh hati padanya saat pertama kali kita berbicara. Dia sangat ramah. Sifatnya yang dingin itu membuatku semakin ingin memilikinya. Walaupun dia menganggapku sebagai sahabat selama setahun kita berteman, tapi aku tetap mencintainya.
Dia tidak menyadari bahwa aku mencintainya. Dia sangat acuh terhadap lingkungannya. Tapi, aku tetap akan memperjuangkan Harold, walaupun aku tahu bahwa dia tak akan pernah membalas cintaku.
“Sudahlah. Sebenarnya, untuk apa kau memintaku untuk datang kesini?” tanyaku lalu menyuruh Harold duduk.
“Aku ingin memberitahukan sesuatu. Tapi, kau harus janji bahwa kau tidak akan sedih.” jawabnya. Aku mengangguk sembari tersenyum ramah. “Sebenarnya, aku dan Violet, akan…,” ucap dia menggantung.
“Hey, ada apa? Kau dan Violet akan apa?” tanyaku penasaran.
Violet ini wanita populer di sekolah. Harold pernah menceritakan Violet kepadaku. Dia bilang, dia menyukai Violet. Tapi, aku berusaha untuk menyembunyikan kesedihanku saat itu.
“Violet and I… Will be engaged. And after that, we’ll be going to marry.”
Saat mendengar itu, hatiku langsung rapuh. Aku menatap Harold datar. Harold menatapku penuh bahagia. Dia seperti ingin teriak saat itu juga. Aku mengigit bibir, menahan tangis dan rasa sakit di hatiku yang kurasakan.
“Congratulation. Aku turut bahagia.” responku lalu berdiri dari sana. “Aku harus pulang, Ibuku pasti sudah mencariku.” pamitku lalu berjalan meninggalkan Harold sendirian di taman itu.
Aku berjalan lunglai sampai ke jalan. Walau sudah larut malam, jalan di kota ini masih sangat ramai. Aku harus menyebrangi jalan. Tanpa menoleh kanan dan kiri, aku terus berjalan. Sampai pada akhirnya sebuah lampu yang menyilaukan mataku membuatku terhenti dan juga membuatku mengeluarkan cairan kental merah dari hidung dan kepalaku yang terbentur.
Selamat tinggal, Harold. Selamat tinggal, dunia. Selamat tinggal, Jane yang malang.
06.46 | 0
komentar | Read More