Translate

Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label cerpen terjemahaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen terjemahaan. Tampilkan semua postingan

cerpen terjemahaan little suzane

Written By iqbal_editing on Jumat, 02 September 2016 | 06.51

Suzanne adalah saudaraku. Ia berbeda dari yang lainnya. Aku tak tahu mengapa ia begitu istimewa. Aku? Kalian bisa memanggilku Grance. Aku harus terus melindunginya, begitu yang dikatakan orangtuaku. Awalnya aku tak mengerti mengapa mereka mengatakannya tanpa memberi alasan yang pasti, hanya meninggalkan tanda tanya. Namun kini aku mengerti setelah mereka telah tiada dan aku tetap akan melanjutkan permintaan terakhir mereka. Menjaga Suzanne.
Dulu memang mudah melakukannya karena aku dan adikku masih kecil. Saat itu kami tinggal di asrama gereja St. Ursula. Kami yatim piatu, di situlah tempat bernaung terakhir kami. Tapi kini ia telah beranjak dewasa. Ia terus saja mendesakku dengan berbagai pertanyaan yang belum bisa aku jelaskan hingga tiba waktunya nanti. Namun ia tak pernah mau mengerti. Ia akan marah jika aku tak bergeming. Dan itu yang sangat aku takutkan. Ia akan menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Sosok yang tak ingin terjadi dan dihindari oleh orangtuaku.
“Sudahlah Kak. Aku hanya ingin bebas seperti anak-anak lainnya. Apa itu salah? Apa permintaanku terlalu berlebihan, hah?!” teriaknya.
“Kamu tak memgerti, Sue. Kamu berbeda.” jelasku.
“Berbeda apa, Kak? Aku tak mengerti karena Kakak tak pernah memberi alasannya padaku!”
“Belum saatnya.”
“Kapan?!”
Aku hanya bisa diam. Ia pun marah. Kini berbeda dari biasanya. Ia menunjukkan gejala yang aneh. Ekor mulai muncul satu persatu belakang tubuhnya. Telinganya terus memanjang. Kulitnya yang putih mulus kini berubah menjadi berwarna merah membara. Matanya menghitam dan membesar. Gigi-giginya serta semua kuku jari dan tangannya memanjang. Mulutnya terus mengeluarkan aroma yang tak sedap. Badannya terus membesar hingga 50 kali lipat sehingga menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya.
Di sekujur tubuhnya mengeluarkan bara api yang terus berkobar. Ia menatapku tajam. Seakan ingin menerkamku. Aku terkejut. Inikah wujud yang dikhawatirkan oleh orangtuaku? Begitu menyeramkan.
Sanggupkah aku menghentikannya? Harus. Aku harus bisa menghentikannya. Meski itu harus mengorbankan nyawaku.
Aku mengeluarkan benda terakhir yang diberikan oleh orangtuaku sebelum mereka menutup mata. Benda itu ternyata senjata. Aku kaget. “Ini adalah Voch. Senjata ini merupakan alat pertahanan sekaligus perlawanan jika sudah tiba waktunya” begitu yang dikatakan oleh orangtuaku. Senjata itu seperti samurai, berwarna biru neon dan selalu diselimuti kabut tipis.
Ia menyerangku dengan cakar-cakarnya. Aku terjatuh sejauh 4 meter. Belum sempat aku berdiri kembali namun Suzanne telah melangkah maju ke arahku. Ia menendangku hingga aku terpental tersungkur di antara semak-semak. Ia kembali mendekat. Tiba-tiba ia mengangkat tubuhku dengan cengkeraman tangannya. Aku tepat berhadapan dengan wajahnya. Saat ia bersiap mengeluarkan api dari mulutnya ke wajahku aku menangkisnya dengan Voch-ku sehingga api itu berbalik mengenai wajahnya. Ia mengeram kesakitan. Aku terlepas dari genggamannya.
Untuk sementara aku bersembunyi di balik pepohonan sembari memulihkan tenaga dan luka-luka tubuhku akibat pertempuran sengit tadi. Tak lama ia segera mencariku. Berteriak memanggil namaku. Suaranya menggelegar. Aku tetap bersembunyi. Ia geram karena tak kunjung menemukanku. Ia melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan apapun yang ada di sekelilngnya.
Untunglah kini kami berada di hutan yang jaraknya cukup jauh dengan gereja kami sehingga tidak ada korban jiwa. Aku menyerangnya secara tiba-tiba dari belakang. Tubuhnya terluka parah. Ia berbalik arah mencari arah sosok yang menyerangnya. Kini ia di hadapanku. Ia menatapku tajam. Tak lama ia menyerangku dengan pukulan tangannya yang besar. Aku kembali menangkisnya dengan Voch. Pertarungan itu berlangsung terus-menerus tanpa henti.
Aku terluka parah. Saat itu Suzanne langsung menyerangku yang tak mampu lagi untuk bangkit. Ia akan segera mencabik-cabik tubuhku. Entah apa yang ada di pikiranku sehingga aku langsung mengarahkan Voch ke dadanya. Namun seranganku meleset. Voch hanya mengenai tangannya. Ia semakin marah. Aku tahu dari tatapannya ia akan membunuhku.
Ia mengambil Voch yang terjatuh dari tanganku. Kemudian ia memungut Voch itu dan menyerangku dengan senjataku sendiri. Ia melempar Voch ke arahku. Voch menancap tepat di jantungku. Ia tertawa bahagia melihatku sekarat. Dengan terbata aku berusaha megatakan kata-kata terakhirku padanya.
“Lihat. Inilah yang sangat aku khawatirkan. Kau akan berubah menjadi sosok mengerikan yang akan menghancurkan orang-orang sekelilingmu juga dirimu sendiri dan kau tak tahu itu.”
Perlahan ia mulai tersadar dari segala amarahnya. Tatap mata yang awalnya tajam bagai elang kini berubah sendu. Tubuhnya perlahan kembali ke bentuk semula. Bara api yang selalu menyelimuti tubuhnya kini telah menghilang. Ia telah berubah ke bentuk semula, manusia. Aku? Kondisiku semakin parah. Aku sudah tidak bisa menggerakkan anggota tubuhku lagi. Suasana terasa hening. Semua menjadi gelap. Hanya dingin yang menusuk kurasakan. Darah terus keluar dari luka-luka pertarungan tadi.
“Maafkan aku, Kak. Oh Tuhan. Apa yang telah ku perbuat?” Suzanne menangis tersedu-sedu.
“Su-suzanne. Tetaplah hidup de-demi Kakak dan o-orang tua ki-i-ta. Kami a-akan selalu menjagamu me-meski tak lagi di-disampingmu.”
Perlahan dunia semakin dingin. Sepi. Aku tak mampu lagi bertahan. Hanya tangis Suzanne ku dengar yang perlahan mulai menghilang bersama kesunyian. Aku berharap Tuhan akan menjaga Suzanne. Melindunginya sehingga ia tumbuh menjadi seseorang yang mengerti arti kehidupan dan tak akan menjadi makhluk menakutkan bagi semua orang, namun dapat melindungi mereka serta dirinya sendiri.
06.51 | 0 komentar | Read More

cerpen terjemahaan new friends

Sudah dua bulan sejak aku memutuskan untuk tinggal bersama ayah aku setelah perceraiannya. Sebenarnya, aku tidak pernah ingin mereka pecah. Aku mencintai keduanya. Tapi, aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Orangtua kadang-kadang dipersulit seperti kekanak-kanakan. Aku inhalasi dalam bernapas untuk berkali-kali dan aku benar-benar tidak tahu berapa banyak, dan sekali lagi aku melihat ayah aku terus mengawasi satu aku. Tapi aku tidak peduli, tidak benar-benar peduli. Aku benci situasi ini begitu banyak. Aku merindukan ibuku. Aku dan ayah, aku masih bersekolah. Aku hanya punya homeschooling sebelum ini karena aku tidak benar-benar seperti tempat-tempat ramai dan berisik, tidak kecuali untuk sekolah, itu mengerikan bagiku.
“Jadi, bagaimana harimu?” Tanya ayahku.
“Tidak benar-benar baik-baik saja,” jawabku datar dan membosankan.
“Apakah gugup?” Tanyanya penasaran.
“Hanya sedikit.”
“Jangan khawatir, kau akan mendapatkan banyak teman dan pengalaman di sana,” katanya dengan memegang tanganku dengan hangat. Aku dipaksa untuk tersenyum. Seperti jika aku lupa bagaimana untuk tersenyum cerah padanya.
Aku merasa waktu begitu lama pergi ke sekolah dengan ayah aku di mobil tuanya. Aku sudah tahu bahwa jarak dari rumah kami tidak cukup lama. Hei, meskipun aku tidak benar-benar peduli tentang semua hal tentang sekolah, itu tidak berarti aku tidak penasaran dengan sekolah baru aku. Arggh … Aku berharap aku bisa menangani ini. Untuk mengusir kebosanankanku, aku selalu memakai earphone aku mendengarkan lagu playlist favoritku dan melihat di luar jendela berharap untuk melihat hal-hal yang menarik. lagu Avril Lavigne selalu membuatku merasa nyaman dan aman. Sekali lagi, aku melihat ayahku menatapku. Dan sekali lagi aku benar-benar tidak peduli.
Sekarang aku di sini, di ruang kepala sekolah. Aku menunggu di luar ruangan, dan itu adalah kesempatanku untuk mengeksplorasi banyak hal di sini. Bangunan itu cukup tua tapi tampak begitu kuat dan keren. Aku melihat tidak ada siswa lain, mungkin mereka berada di kelas mereka karena itu 08:00. Aku tidak tahu sebenarnya. Ruangan kepala sekolah berada di lantai kedua sehingga aku bisa melihat siswa bermain bola basket di ladang. Gadis-gadis hanya menyaksikan anak laki-laki yang menunjukkan keterampilan mereka, selalu seperti itu. Aku hanya mendengus. Setelah itu, aku mendengar pintu meledak dibuka. Aku hampir melompat karena terkejut. Ayahku memberiku kode untuk mengikutinya memasuki ruangan.
“Jadi, Miss Dandelion Moore, Anda dapat memilih kelas apa pun yang Anda inginkan. Saya sudah membaca data Anda di sini. Saya pikir Anda tidak punya masalah tentang hal itu.” Kepala sekolah mulai berbicara. Aku hanya tersenyum dan tampak ayahku untuk meminta bantuan.
“Ehm, bagaimana jika Anda memilih kelas untuk putri saya Pak? Dia tentu saja tidak dapat memilih oleh dirinya sendiri apa yang dia inginkan.” Ayahku mencoba bertanya.
Dia tampak seolah-olah beerpikir. “Oke, Eleven Sains 1. Harapan dia bisa mengeksplorasi kemampuannya di sana. Selamat Datang di sekolah ini indah Nona,” kepala sekolah berjabat tanganku antusias.

Pada kelas.
“Ok miss, sekarang perkenalkan dirimu, siapa dirimu, di mana kau berasal,” Mrs. Rena sebagai kepala kelas ini berbicara. Aku tersenyum kikuk. Aku menelan ludahku cepat. Semua mata terfokus padaku, dan aku benci ini. Oh Tuhan … “Ehm, Halo semua, aku Dande, aku datang dari Venesia. Senang bertemu kali semua,” tentang apa yang aku katakan sebelumnya aku bahkan merasa begitu canggung. Mereka masih diam, bahkan tidak memberiku tepuk tangan atau tidak, tapi aku tidak benar-benar peduli. Aku benci kondisi ini.
“Apa nama lengkapmu?” Tiba-tiba seorang anak pirang.
“Dandelion Moore,”
“Oke rindu Dande, kau dapat duduk di meja di belakang!” Kata Mrs. Rena.
“Terima kasih Madam,”
Ketika baru saja aku duduk, sebuah tangan putih dan tanpa cacat nampak di depan wajahku.
“Hai, aku Mia. Senang bertemu dengan kamu juga.” Katanya gembira. Aku tersenyum.
“Senang bertemu dengan kamu juga,”

“Hei Dande, datang ke sini!” Aku mendengar seseorang memanggilku dengan keras ketika aku berada di cafetaria. Ada Mia berdiri dengan senyum di wajahnya.
“Kau bisa duduk dengan kami, gadis-gadis benar kan?” Mia bertanya teman-temannya yang lain. Dan mereka mengangguk.
“Terima kasih,”
“Dande…” kata panjang gadis berambut cokelat yang ramah.
“Hai, aku Poppy, dan ini adalah Clara dan Rachel,” ia terus berbicara memperkenalkan orang lain.
“Hai semua,” kataku agak gugup.
“Dande, kau terhibur dengan tempat ini? Maksudku pendatang baru, mereka biasanya mendapatkan kenyamanan, gugup atau tidak, dengan situasi baru seperti ini,” kata Rachel. “Tempat ini indah cukup, aku lovin it.”
“Oh, aku senang Dan mendengar bahwa jika kau menyukainya,” kata Mia.
“Omong-omong, kau datang dari Venesia kan? aku selalu bermimpi bisa sampai di sana, kau ingin mengundang kami pergi ke sana?” Kata Clara enthuastic. Mereka semua tertawa setuju.
“Nah, jangan khawatir, hanya mempersiapkan harimu,” Aku tersenyum cerah. Mereka tidak buruk.
“Hahahaha,” Kami tertawa bersama-sama.
“Apakah kau ingin memberitahu kami bagaimana kau sampai di sini? Dari Venesia ke Skotlandia? “Tanya Poopy.
“Ayahku dan Ibu aku bercerai. Ibuku telah menikah lagi dan mereka pindah ke Vegas. Aku memilih untuk hidup dengan Ayahku di sini. Dulu aku homeschooling sebelumnya di Venice. Aku punya satu saudara perempuan, dan dia tinggal dengan Ibuku dan suami barunya. Dan sekarang, aku di sini,” aku mengakhiri cerita dengan senyum sedih.
“Oh, aku menyesal mendengarnya Dan, aku tidak maksud membuat kau ingat ini,”
“Oh, tak apa. Aku baik-baik saja. Hidup adalah pilihan, bukan?” Aku tersenyum lagi untuk menghiburnya.
“Yes kau benar. Setidaknya, kau masih memiliki Ayah yang lebih mencintaimu Dande, kau gadis yang beruntung.” Kata Mia dengan air mata banjir di sudut matanya.
“Oh, semua membuatku merasa sedih,” kata Rachel. Mereka memelukku. Mia benar, aku sangat beruntung masih memiliki ayah yang sangat mencintaiku. Oh, aku merindukannya.
06.48 | 0 komentar | Read More

derpen terjemahaan Skeleton Lake: An Episode in Camp

Written By iqbal_editing on Kamis, 25 Agustus 2016 | 06.03

Skeleton Lake: An Episode in Camp


Algernon Blackwood
Suasana sunyi nan mencekam menyelimuti perkemahan kami di Danau Tengkorak yang berada di tengah hutan Quebec. Tempat ini dapat dijangkau dengan menapaki jalan kecil atau menggunakan sampan selama lima hari dari pemukiman terdekat. Keganjilan namanya menambah sensasi angker yang dapat kami rasakan dengan jelas. Begitu matahari terbenam dan kabut mulai merangkak dari dalam danau, keangkeran yang mencekam ini dapat berubah menjadi tak tertahankan.
Di sekitar daerah ini, semua nama danau, bukit, dan pulau berasal dari kejadian nyata. Bisa dari nama ketua tim yang pertama kali menjelajahinya, seperti Smith’s Ridge, atau dari keistimewaannya, seperti Long Island (Pulau Tak Berujung), Deep Rapids (Sungai Tanpa Dasar), atau Rainy Lake (Danau Lembab).
Dengan kata lain, semua nama tempat di sini memiliki makna dan biasanya baru-baru ini disematkan. Acapkali semua nama itu dapat dipahami dengan mendatanginya secara langsung. Danau Tengkorak adalah nama yang sarat akan makna, walaupun kami tidak tahu cerita mengenai asal-muasal namanya, kami semua dapat sepenuhnya merasakan atmosfer suram yang menghantui tepian danau. Kalau bukan karena adanya bukti jejak rusa yang cukup baru di sekitar sini, kami pasti sudah memilih mendirikan tenda di tempat lain.
Setahuku, ada dua orang orang kulit putih yang mendirikan tenda sekitar beberapa ratus mil dari kami. Mereka duduk bersama kami di dalam kereta dari North Bay sampai ke Boston. Tujuan yang sama membuat kami saling berkenalan, namun hanya sedikit yang kami ketahui tentang satu sama lain. Kami tidak sudi jika orang Yankee[1] yang suka ribut ini menjadi teman kemah. Kedekatan kami dengannya hanyalah disebabkan karena pemandunya, Jake, yang berasal dari Swedia, berteman dengan salah satu anggota di kelompok kami. Sekarang mereka mendirikan kemah di Beaver Creek yang berjarak lima puluh mil lebih dari perkemahan kami.
Tapi itu enam minggu yang lalu, dan terasa berbulan-bulan bagi kami karena siang dan malam terasa berganti dengan sangat perlahan di tempat yang sunyi ini. Anggota kelompok kami selalu memberi peringatan, “Hati-hati jika ada yang melihat mereka!” Namun sampai saat ini belum ada yang pernah berpapasan ataupun mendengar suara tembakan senapan mereka.
Anggota perkemahan kami terdiri dari seorang professor dan istrinya—wanita yang lihai sekaligus penembak jitu—dan aku sendiri. Kami memiliki pemandu masing-masing dan setiap hari pergi berburu secara bergantian dengan berpasangan sejak matahari terbit sampai malam.
Saat itu merupakan malam terakhir kami berkemah di sana, dan professor sedang berbaring di dalam tenda kecilku sambil menjelaskan bahayanya berburu secara berpasangan tanpa ditemani pasangan yang lain. Tutup tenda kugantung ke atas dan masuklah aroma masakan dari arah perapian terbuka. Di sana, orang-orang sedang sibuk mempersiapkan makan malam dan tidak jauh dari mereka, sebuah sampan telah terisi penuh dengan tanduk rusa.
“Jika terjadi sesuatu pada salah satu dari mereka,” ujar professor, “maka cerita dari satu-satunya orang yang selamat tidak akan dapat dibuktikan kebenarannya, karena–”
Kemudian dia menjelaskan hukum dengan panjang lebar layaknya seorang professor sampai aku sendiri menjadi bosan dan pikiranku melayang membayangkan kenangan pemandangan indah dari tempat yang akan kami tinggalkan; Garden Lake yang di tengahnya berisi ratusan pulau, arus jeram di Round Pound, hamparan hutan yang hampir tak berujung, warna langit yang merah keemasan saat matahari terbit, dan langit yang penuh bintang di malam-malam yang kami habiskan dalam dingin untuk berjaga jika ada seekor rusa yang berjalan di sekitar danau yang kesepian. Tidak lama kemudian, senandung suara professor semakin menentramkan hati. Baginya, angggukan atau gelengan kepala sudah cukup sebagai jawaban. Untungnya dia tidak suka dipotong jika sedang berbicara. Kurasa aku bisa tertidur tepat di depan matanya, atau mungkin aku memang sudah tertidur sejenak.
Tiba-tiba, terjadilah sebuah tragedi yang mengubah ketentraman di perkemahan kami menjadi kekacauan yang seakan-akan keluar dari mimpi burukku.
Awalnya professor tercengang dan berhenti bicara, kemudian terdengar suara langkah seseorang yang berlari melewati barisan pohon pinus, lalu suara kebingungan orang-orang. Sejurus kemudian, istri professor sudah berdiri di depan pintu tenda dengan wajah pucat pasi. Dia tidak mengenkan topi, celana berburunya kusut masai, tangannya memegang senapan, dan kata-katanya berantakan.
“Cepat, Harry! Itu Rushton. Tadi aku tertidur dan suaranya membangunkanku. Ada yang terjadi. Kau harus menanganinya!”
Kami segera mengambil senapan dan keluar dari tenda.
“Ya Tuhan!” Seru professor seolah dia baru menemukan sesuatu yang luar biasa. “Itu Rushton!”
Aku melihat para pemandu membantu—atau lebih tepatnya menyeret—seseorang dari dalam sampan. Suasana berubah hening, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah suara ombak yang menyapu sampan ke tepian danau. Tak lama kemudian terdengarlah suara seseorang yang berbicara secepat kilat namun terbata-bata. Rushton sedang menceritakan apa yang terjadi dengan nada yang terkadang terdengar seperti berbisik dan terkadang hampir berteriak. Selama berbicara, dia berkali-kali menangis dan bersumpah. Ada sesuatu yang bergerak secara diam-diam dari balik kata-katanya, sesuatu yang menyelimuti bintang-bintang, mengacaukan ketentraman di perkemahan, dan menyentuh kami dengan rasa tidak percaya.
Ingatan akan suasana saat itu masih melekat jelas dalam benakku. Kabut mulai merambat dari ujung danau. Kami berdiri di tengah pekatnya kegelapan dengan ditemani lentera kecil. Rushton diangkut dan dipandu untuk berjalan menuju perkemahan. Sementara itu, tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Sepatu mereka sekali-kali terbenam dalam pasir di pinggir danau, dan tubuh Rushton yang sudah hampir tidak berdaya diangkut dengan terseok-seok. Sebuah cabang pohon cedar yang digunakannya sebagai dayung berbaring di dalam sampan.
Tapi yang paling mengejutkan kami adalah perbedaan yang jelas antara tubuhnya yang sudah tidak lagi bertenaga dan kekencangan suaranya. Ada kekuatan yang mendorongnya menceritakan seluruh kisahnya yang penuh dengan keganjilan. Awalnya aku terkesima karena dia masih kuat untuk duduk di dekat perapian walaupun wajahnya sudah pucat pasi. Aku melihat ada ketakutan yang dalam di matanya, juga air mata. Kata-katanya mengalir tanpa henti.
Menurutku kami semua sudah tahu apa yang terjadi, namun tidak berani mengungkapkannya. Ketika beberapa tahun telah berlalu, barulah kami berani mengungkapkan apa yang kami pikirkan pada waktu itu.
Saat itu ada Matt Morris, pemanduku. Silver Fizz yang namanya berasal dari minuman favoritnya, sedangkan nama aslinya tidak kami ketahui. Si raksasa, Hank Milligan, yang juga merupakan seorang pendengar yang baik dan ramah. Dan ada Rushton yang sedang menceritakan kisahnya dengan tatapan nanar. Dia memandang semua orang yang duduk di sana satu persatu sambil berharap jika ada salah satu di antara kami yang dapat mengonfirmasi kisah yang sama sekali tidak pernah kami saksikan. Tentu saja hanya ada dua orang yang dapat melakukannya; dia dan teman berburunya.
Silver Fizz adalah orang pertama di antara kami yang pulih dari keterkejutan dan menyadari bahwa Rushton sedang berada dalam posisi yang buruk. Intinya, dialah orang pertama yang berusaha meluruskan situasi tersebut.
“Tidak perlu cerita sekarang,” ujarnya dengan suara serak namun penuh kelembutan, “makanlah dulu, kemudian barulah bercerita. Minum whisky ini, mumpung belum dibungkus untuk dibawa pulang.”
“Aku tidak bisa makan atau minum,” tangis Rushton. “Ya Tuhan, kau ngerti ‘nggak? Aku mau menceritakan ini dulu! Aku ingin mengatakannya ke seorang manusia yang dapat meresponku. Tidak ada seorangpun yang dapat mendengar kisahku selain pepohonan selama tiga hari ini, dan aku sudah tidak tahan lagi! Aku sudah menceritakan kisahku pada pepohonan terkutuk itu beribu kali! Sekarang, dengar! Ketika kami mulai berjalan dari perkemahan—“
Fizz memandangnya dengan ekspresi ketakutan, dan kami sadar bahwa tidak ada yang dapat menghentikannya sekarang. Maka mulailah dia bercerita.
Tidak ada yang luar biasa dari kisahnya. Bagi orang-orang yang sudah biasa malang-melintang di hutan, cerita itu terdengar biasa saja. Hanya saja caranya bercerita membuat bulu roma kami berdiri. Awalnya dia menceritakan kejadian yang sebenarnya, namun beberapa saat kemudian ada beberapa rincian yang sengaja dilewatkannya; bagian yang seharusnya dapat membuat hatinya tenang jika telah diceritakan.
Tentu saja dia memperhalus kata-katanya dengan menyelipkan kata-kata aneh yang terdengar melodramatis, puitis, dan bahkan tidak sesuai. Semua itu membuat ceritanya semakin gila. Dia juga tidak henti-hentinya menanyai kami secara bergantian sambil melototi wajah kami satu per satu dengan matanya yang ketakutan, “Kalau kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan pada saat seperti itu?” “Apa lagi yang bisa kulakukan?” dan “Apa itu salahku?” Tapi itu belum seberapa dibanding dengan caranya bercerita; dia meminta kami menyimpulkan kisahnya seolah kami adalah mesin fonograf yang bisa mengulangi apa yang telah dikatakannya dengan persis dan pertanyaan-pertanyaan tadi digunakannya untuk menekankan maksud tertentu yang menurutnya sangat penting untuk ditekankan.
Sayangnya, gambaran kejadian yang sebenarnya telah melekat dalam benak Rushton, sehingga walaupun dia berusaha menutup-nutupinya dengan kata-kata yang membingungkan, kami tetap dapat melihat gambar-gambar tersebut terbentang dengan jelas di balik bayangan hitam yang menyelimuti dirinya. Dia tidak dapat menghalangi atau bahkan melenyapkan bayangan tersebut. Kami tahu, dan aku masih yakin bahwa pada saat itu dia tahu bahwa kami mengetahuinya.
Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, cerita itu sendiri terdengar cukup biasa. Jake dan dia berangkat dari perkemahan. Mereka naik ke sampan yang berukuran sekitar dua setengah meter. Di tengah-tengah perjalanan, sampan yang mereka tumpangi terbalik. Mereka saling berpegangan tangan di atas sampan yang terbalik selama beberapa jam. Kemudian membolongi sampan, memasukkan tangan ke lubang, dan berpegangan lebih erat agar tidak mati kedinginan karena tubuh mereka masih berada di dalam air. Sementara itu, mereka berada jauh dari pesisir danau, dan angin yang saat itu berhembus dengan kencang menyeret sampan ke sebuah pulau kecil. Namun ketika mereka sudah berada beberapa meter dari pulau, mereka sadar bahwa angin tidak akan menyeret sampan ke sana. Angin akan membuat mereka tetap terhanyut dan melewatinya.
Maka mulailah mereka bertengkar. Jake ingin meninggalkan sampan dan berenang ke pulau. Rushton percaya bahwa kalau mereka menunggu sampai sampan melewati pulau dan angin kembali tenang, maka mereka bisa mencapai pulau tersebut dengan berenang atau bahkan dengan menggunakan sampan. Tapi Jake tidak ingin menyerah begitu saja. Setelah mereka berkelahi—Rushton mengakui bahwa mereka sempat berkelahi—Jake meninggalkan sampan dan menghilang tanpa suara.
Rushton masih bertahan dan ternyata teorinya benar. Dia pun berhasil sampai di pulau bersama sampannya setelah terombang-ambing di air selama lebih dari lima jam. Dia menceritakan kepada kami bagaimana dia merangkak ke pesisir pulau dan langsung jatuh pingsan dengan kakinya masih berada di dalam air; betapa bingung dan ketakutannya dia saat tersadar di tengah-tengah kegelapan; bagaimana sampannya kembali terhanyut namun—dengan kebetulan yang luar biasa—ditemukannya kembali di ujung pulau dengan menyeretnya menggunakan cabang pohon cedar. Dia juga mengatakan bahwa—secara kebetulan—sebuah kapak kecil masih tersangkut di dalam sampan yang terbalik, dan untungnya botol kecil di dalam kantong celananya yang berisi korek api masih utuh dan kering. Dia membuat api unggun dan menjelajahi pulau dari ujung ke ujung sambil memanggil-manggil Jake, namun tidak ada balasan, sampai akhirnya dia melihat bayangan orang-orang merangkak dari pesisir pantai dan menghilang di tengah-tengah kegelapan yang menyelimutinya. Dia pun kehilangan seluruh nyali dan kembali ke perapian yang telah dibuatnya tadi lalu memutuskan untuk menunggu sampai matahari terbit.
Esoknya dia memotong sebuah cabang pohon sebagai pengganti dayung, dan setelah melakukan pencarian terakhir yang juga tidak membuahkan hasil, dia naik ke dalam sampan. Dia takut jika sampannya akan kembali terbalik dan membuatnya terombang ambing di tengah perairan. Dia hanya dapat mengira-ngira posisi perkemahan kami, dan setelah mengayuh dari pagi sampai malam tanpa makanan ataupun minuman, dua hari kemudian, dia berhasil sampai kemari.
Kurang lebih begitulah ceritanya, dan dari caranya berbicara, kami tahu bahwa semua yang dikatakannya benar, namun pada saat yang sama kata-katanya juga membangun sebuah kebohongan yang luar biasa menyeramkan.
Ketika kisahnya berakhir, dia langsung jatuh pingsan, dan dengan ekspresi wajah yang penuh simpati, Silver Fizz kembali menolongnya.
“Mister, kau harus tetap makan dan minum walaupun dalam keadaan tidak sadar.”
Matt Morris yang pada malam itu bertugas sebagai juru masak, segera membagikan tuna, bacon, kue gandum, dan kopi panas ke seluruh orang yang duduk dengan sangat diam dan perasaan yang bercampur aduk. Kami pun makan dengan lahap seperti biasa, kecuali dengan satu perbedaan, yaitu salah satu dari kami makan dengan sangat rakus.
Walaupun kami semua masih curiga, entah bagaimana dia malah membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Ketika gelasnya kosong, Morris memberikannya ceret teh. Ketika dia mulai membersihkan sisa-sisa baconnya, Hank segera menambahkan makanannya dari kuali penggorengan, dan baskom yang berisi kentang rebus selalu berada di dekatnya. Dan satu perbedaan lagi; dia terlihat sangat sakit, bahkan sebelum makan malam selesai, dan muntahnya yang tiba-tiba setelah makan, terasa jauh lebih jujur dibanding kisah yang dilontarkannya tadi. Katanya, di tengah-tengah kegelapan, pikirannya hampir menjadi gila. Pohon-pohon terdengar berbicara padanya, dan matanya selalu melihat bayangan orang-orang merangkak dari dalam air, atau dari balik batu besar, lalu menatapnya sambil berusaha berbicara padanya melalui gerakan-gerakan mereka. Jake terus menerus mengintipnya dari balik rerumputan yang rimbun, sementara bayangan-bayangan tadi berjalan ke mana-mana dengan tatapan, langkah, dan bentuk yang sama.
Kami mencoba untuk membicarakan hal lain, tapi itu sia-sia, karena Rushton selalu mengulangi ceritanya dan menolak jika diajak berbicara mengenai topik lain. Kami pikir, jika dia beristirahat sepanjang malam, pikirannya akan menjadi lebih tenang dan mungkin akan bersikap berbeda. Tapi ternyata kondisinya sudah tidak tertolong lagi.
Begitu rokok dinyalakan dan piring-piring disingkirkan, kami pikir tidak ada gunanya lagi berpura-pura. Percikan api dari bara kayu terbang ke langit yang dihiasi bintang-bintang. Suasana malam itu masih terasa damai dan tenteram, dan aroma pohon pinus berhembus bersama angin di musim gugur. Api yang membakar kayu cedar bagaikan wewangian di udara, dan samar-samar kami dapat mendengar ombak yang menyapu pesisir danau. Semua terasa begitu tenang, indah, dan jauh dari hiruk-pikuk dunia fana. Suasana di malam itu begitu menyentuh kalbu namun aku yakin tidak ada satupun dari kami yang menikmatinya. Seekor rusa raksasa bisa saja menyembulkan kepalanya dari balik bahu kami dan tetap dapat melarikan diri tanpa ketahuan. Kisah kematian Jake yang mencekam menjadi pusat perhatian di atas panggung malam itu.
“Mungkin kau tidak mau ikut, Mister,” mulai Morris, “tapi aku berencana akan melakukan pencarian terhadap Jake dengan salah satu temanku.”
“Aku ikut,” ujar Hank. “Jake dan aku sudah banyak melakukan perjalanan bersama di masa lalu; kami teman dekat.”
“Banyak yang bilang kalau air di sekitar pulau sana sangat dalam,” tambah Silver Fizz, “tapi, ya, tentu kita bisa menemukannya.”
Untuk menghindari kata mayat, mereka memutuskan untuk menyebutnya ‘itu.’
Kemudian selama beberapa menit semua orang kembali hening, lalu Rushton menumpahkan ceritanya lagi dengan kata-kata yang hampir sama seolah dia telah menghafalnya di luar kepala. Dia selalu menolak jika seseorang memintanya berhenti membicarakan hal tersebut.
Silver Fizz segera berusaha memotongnya, sementara Morris dan Hank mengikuti aba-abanya.
“Aku pernah kenal dengan teman seperjalanannya yang lama,” mulainya dengan cepat, “dia tinggal di Moosejaw Rapids—“
“Benarkah?” sahut Hank.
“Kudengar dia sering membantu Jake,” tambah Morris.
Mereka semua sibuk berusaha menghentikan lidah Rushton sebelum keganjilan kisahnya menjadi sangat jelas sehingga kami terpaksa harus menginterogasinya. Sebagaimana halnya menghentikan rusa yang berlari mengamuk, atau mencegah berang-berang agar tidak mati membeku di tengah musim dingin dengan melempari batu kerikil ke dekat pesisir. Tapi itu sia-sia! Walaupun keganjilannya kali ini tidak begitu jelas, namun sudah cukup membuat kami saling memandang untuk kedua kalinya.
“Jadi, aku kembali mengelilingi pulau kecil itu lagi, berharap entah bagaimana dia sudah berada di sana tanpa sepengetahuanku, dan aku selalu mengira kalau aku mendengar erangan terakhirnya dari dalam kegelapan. Kemudian malam pun menyelimuti langit seperti selimut tebal, dan—“
Semua mata beralih dari wajahnya. Hank menyodok kayu bakar di perapian dengan sepatu botnya, dan Morris meraih bara api dengan tangan kosong untuk menyalakan pipa rokoknya, walaupun itu sudah mengeluarkan asap tebal. Namun professor tidak ingin tinggal diam.
“Kupikir kau tadi bilang dia tenggelam tanpa suara,” komentarnya pelan sambil menatap lurus wajah ketakutan yang ada di hadapannya. Kemudian, tanpa ampun, dia terus menghujani penjelasannya yang membingungkan dengan pertanyaan-pertanyaan.
Hasil dari tekanan-tekanan ini, yang sebelumnya terus dibendung Rushton, sekarang menjadi semakin kentara sehingga membuat semua orang bergerak secara bersamaan. Istri professor meninggalkan perapian dengan tergesa-gesa, alasannya dia ingin bangun pagi-pagi besok. Sebelum itu, dia bersalaman dengan Rushton dan mengucapkan selamat malam dengan nada yang terdengar seperti komat-kamit.
Saat menjelang tidur, aku terpaksa harus berbagi tenda dengan Rushton. Sebelum menyelimuti dirinya dengan selimut tebalku—karena malam itu sangat dingin—Rushton berbalik dan mengatakan bahwa dia memiliki kebiasaan berbicara dalam tidurnya dan ingin aku membangunkannya jika hal itu mengganggu tidurku.
Ternyata, dia memang berbicara dalam tidurnya—dan hal itu amat sangat menggangguku. Amarah dan kekasaran kata-katanya masih menghantuiku sampai saat ini, dan jelas dalam tidurnya dia menceritakan sebagian kisah dari kejadian yang sebenarnya. Aku ketakutan setengah mati mendengarnya. Lalu aku sadar, kini ada dua pilihan di hadapanku; aku harus lanjut mendengarnya, atau aku harus membangunkannya. Pilihan pertama tidak mungkin bagiku, namun pilihan kedua terasa sangat menjijikkan, dan di tengah-tengah dilema aku melihat sebuah jalan keluar.
Walaupun udara sangat dingin, aku merangkak dengan perlahan dan meninggalkan tenda, berniat untuk menjaga perapian tetap menyala di bawah langit berbintang dan menghabiskan sisa malam dengan tidur di alam terbuka.
Segera setelah aku berhasil keluar dari tenda, aku melihat bayangan sesosok orang sedang berjalan di pinggir danau. Sosok itu adalah Hank Milligan, dan aku dapat melihat jelas apa yang sedang dilakukannya; dia sedang memeriksa lubang yang dibuat di badan sampan. Kelihatannya dia merasa malu ketika aku mendekatinya, dan mengatakan bahwa dia tidak dapat tidur karena kedinginan. Tapi, sambil berdiri bersebelahan, kami melihat bahwa lubang di sampan tersebut terlalu kecil untuk dimasuki tangan orang dewasa, dan tidak mungkin dilubangi oleh dua orang yang sedang berusaha bertahan hidup di air yang sangat dalam. Lubang tersebut pasti dibuat setelahnya.
Hank tidak mengatakan apa-apa padaku dan begitu juga aku. Kemudian dia pergi mengumpulkan kayu untuk perapian karena malam itu sangat dingin dan embun es mulai menebal.
Tiga hari kemudian Hank dan Silver Fizz, dengan berjalan tertatih-tatih, mengikuti jalan kecil dari Beaver Creek ke arah selatan. Mereka membawa sebuah tandu yang terlihat sangat berat, namun tidak ada satupun dari mereka yang mengeluh atau bahkan berbicara. Walaupun begitu, pikiran mereka luar biasa sibuk, dan rahasia mengerikan yang mereka emban jauh lebih berat daripada gumpalan yang membebani pundak mereka.
Mereka menemukan ‘itu’ di perairan yang berada sekitar beberapa meter dari pesisir teduh di pulau. Di belakang kepalanya terdapat sebuah luka panjang dan mengerikan yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh seseorang pada dirinya sendiri.
[selesai]
06.03 | 0 komentar | Read More

cerpen terjemahaan the bat



The Bet

[Taruhan]
 
Anton Chekhov
Di suatu malam, di musim gugur, seorang banker yang telah berusia lansia berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Dia mengingat-ingat kembali sebuah pesta yang diadakannya pada malam yang sama lima belas tahun yang lalu. Di sana berkumpul banyak pria cerdas dan mereka membicarakan hal-hal yang sangat menarik, di antaranya adalah topik tentang hukuman mati. Kebanyakan tamu yang berasal dari kalangan jurnalis dan cendikiawan menolak adanya hukuman mati. Mereka berpendapat bahwa bentuk hukuman seperti itu kuno, tidak bermoral, dan tidak sesuai dengan Negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen. Lanjut mereka, hukuman mati seharusnya digantikan dengan hukuman seumur hidup. “Saya tidak setuju dengan Anda,” sanggah sang banker yang menjadi tuan rumah pada saat itu. “Saya memang belum pernah mencoba hukuman mati ataupun hukuman seumur hidup, tapi berdasarkan sebuah teori, hukuman mati lebih bermoral dan manusiawi dibandingkan hukuman seumur hidup. Hukuman mati membunuh seseorang secepat kilat, namun hukuman seumur hidup membunuh seseorang pelan-pelan. Algojo mana yang menurut Anda lebih manusiawi; yang membunuh Anda dalam hitungan detik atau yang membunuh Anda dalam hitungan tahun?”

“Keduanya sama-sama tidak bermoral,” sahut seorang tamu, “karena keduanya sama-sama mencabut nyawa seseorang. Negara bukanlah Tuhan. Kita tidak punya hak untuk mengambil sesuatu yang tidak dapat kita kembalikan.”
Di antara tamu-tamu tersebut, ada seorang pengacara muda berumur sekitar dua puluh tahunan. Ketika ditanya apa pendapatnya, dia berkata, “Hukuman mati dan hukuman seumur hidup sama-sama tidak bermoral, namun jika saya harus disuruh memilih, maka saya akan memilih hukuman seumur hidup, karena hidup lebih baik daripada mati.”
Diskusi panas pun terjadi. Sang banker yang pada saat itu lebih muda dibandingkan sekarang, segera terbawa emosi dan memukul meja lalu berteriak pada sang pemuda, “Tidak benar! Aku berani bertaruh dua juta dolar kalau kau tidak akan tahan dikurung sendirian selama lima tahun.”
“Jika Anda memang serius,” jawab pemuda itu, “saya akan menerima taruhan ini, dan saya bahkan mau dikurung selama lima belas tahun.”
“Lima belas? Setuju!” teriak sang banker. “Saudara-saudara, saya mempertaruhkan dua juta dolar!”
“Setuju! Anda mempertaruhkan uang, saya mempertaruhkan kebebasan!” balas sang pemuda.
Dan taruhan gila dan tidak masuk akal itu pun dilaksanakan! Sang banker yang sangat kaya raya merasa puas dengan taruhan itu. Saat makan malam, dia menertawakan sang pemuda dan berkata, “Coba pikirkanlah lagi, anak muda, masih belum terlambat untuk mengubah pikiran. Bagiku dua juta dolar bukanlah apa-apa, namun sayang sekali jika kau kehilangan tiga atau empat tahun dari masa mudamu. Kubilang tiga atau empat karena kuyakin kau pasti tidak akan tahan terkurung lebih lama. Dan jangan lupa juga bahwa kurungan sukarela lebih berat dijalani daripada kurungan wajib, karena kau akan terus berpikir bahwa kau dapat keluar kapanpun kau mau. Aku merasa sangat kasihan padamu.”
Dan sekarang, sang banker berjalan mondar-mandir sambil mengingat-ingat kejadian malam itu dan bertanya pada dirinya sendiri, “Apa gerangan maksud taruhan itu? Apakah ada manfaatnya jika pemuda itu kehilangan lima belas tahun dari masa hidupnya atau jika aku kehilangan dua juta dolar? Apakah taruhan itu dapat membuktikan bahwa hukuman mati lebih baik atau lebih buruk dibanding hukuman seumur hidup? Tidak. Taruhan itu tidak masuk akal dan tidak ada manfaatnya. Saat itu aku terlalu sombong karena kekayaan yang kumiliki, sedangkan dia terlalu serakah.”
Kemudian dia teringat dengan apa yang selanjutnya terjadi malam itu. Mereka memutuskan bahwa sang pemuda harus menghabiskan masa kurungannya dengan pengawasan yang ketat di salah satu gubuk milik sang banker. Selama masa kurungannya, sang pemuda tidak diperbolehkan keluar dari gubuk, menemui manusia lain, mendengar suara manusia, atau menerima surat dan koran. Namun dia diizinkan untuk memiliki instrumen musik, buku, mengirim surat, meminum wine, dan merokok. Selama masa hukuman, dia hanya diperbolehkan melihat dunia luar melalui jendela kecil di gubuk tersebut. Dia boleh memiliki buku, musik, wine, dan lain-lain dalam jumlah yang diinginkannya dengan cara menulis pesanannya di sebuah kertas, lalu dia akan menerimanya melalui jendela kecil. Peraturan-peraturan tersebut dibuat sedetil-detilya untuk memastikan sang pemuda merasa sangat terkurung di sana selama lima belas tahun mulai dari jam dua belas siang tanggal 14 November 1870 sampai jam dua belas siang tanggal 14 November 1885. Jika sang pemuda mencoba melanggar peraturan yang telah disetujui, bahkan jika dia mencoba melarikan diri dua menit sebelum dibebaskan, maka sang banker tidak perlu memberinya dua juta dolar.
Di tahun pertama masa kurungannya, sang pemuda sangat menderita karena merasa kesepian dan depresi. Hal itu tampak jelas dari cacatan singkat yang ditulisnya. Dari gubuk di mana dia terkurung, terdengar suara piano yang terlantun siang dan malam. Dia menolak diberikan wine dan rokok. Tulisnya, wine dapat membangkitkan hasrat, sedangkan hasrat adalah musuh terberat bagi seorang tawanan. Lagipula tidak ada yang lebih menyedihkan dibandingkan meminum wine lezat tanpa seorang pun yang menemani. Dan rokok dapat mencemari udara di kamarnya. Saat itu dia juga menulis beberapa novel ringan yang bercerita mengenai asmara, kisah sensasional, dan fantastis.
Di tahun kedua, melodi piano tidak lagi terdengar dari gubuknya, dan sang pemuda hanya meminta diberikan musik-musik klasik. Di tahun kelima, melodi musik kembali terdengar, dan dia juga meminta wine. Orang-orang yang pernah melihatnya melalui jendela mengatakan bahwa dia hanya menghabiskan waktunya dengan makan, minum, dan berbaring di kasur. Dia juga sering menguap dan marah-marah dengan dirinya sendiri. Dia tidak membaca buku. Terkadang, di malam hari dia duduk dan menulis. Dia banyak menghabiskan waktunya dengan menulis, dan pagi harinya dia akan merobek semua yang telah ditulisnya. Sekali-sekali juga terdengar dia sedang menangis.
Di tahun keenam, sang pemuda mulai mempelajari bahasa, filsafat, dan sejarah dengan tekun. Dia sangat mendalami semua itu sampai sang banker kewalahan untuk memenuhi pesanan buku yang diinginkannya. Selama empat tahun belakangan saja sudah enam ratus buku yang dipesannya. Suatu hari sang banker menerima sebuah surat dari sang pemuda yang berisi sebagai berikut;
Kepada penawanku, kutuliskan baris-baris suratku dalam enam bahasa berbeda. Tunjukkan pada siapapun yang memahami bahasa-bahasa tersebut. Jika mereka tidak menemukan satu kesalahan sedikit pun, maka kuminta kau untuk menembak ke udara di taman. Tembakan itu akan membuktikan padaku bahwa usahaku tidaklah sia-sia. Para jenius dari semua usia dan dari segala penjuru berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda, namun api yang sama berkobar di dalam jiwa mereka. Oh, andai saja kau tahu betapa bahagianya aku dapat memahami mereka semua!
Keinginannya pun dipenuhi. Sang banker memerintahkan pelayannya untuk menembak dua kali ke udara di taman.
Kemudian, setelah tahun kesepuluh berlalu, sang pemuda duduk terpaku di mejanya dan hanya membaca kitab Injil. Sang banker merasa aneh melihat seseorang yang telah menguasai enam ratus buku menghabiskan satu tahun masa hidupnya membaca satu buku tipis yang sangat mudah dimengerti. Setelah dia mempelajari Injil, dia melanjutkannya dengan mempelajari teologi dan sejarah.
Setelah menjalani masa kurungan selama tiga belas tahun, sang tawanan membaca berjilid-jilid buku secara acak. Terkadang dia sibuk mempelajari ilmu pengetahuan alam, kemudian dia akan memesan buku karangan Byron atau Shakespeare. Ada kalanya dia memesan buku-buku tentang kimia, pengobatan manual, novel, dan filsafat atau teologi. Buku-buku yang dibacanya seolah membuat dia seperti seseorang yang berenang di kapal yang akan karam, dan dia mencoba menyelamatkan nyawanya dengan berpegangan pada apapun yang ada di sekitarnya.
Sang banker mengingat semua ini dan berpikir, “Jam dua belas esok dia akan kembali meraih kebebasannya. Sesuai kesepakatan kami, aku harus memberinya dua juta dolar. Namun jika aku membayarnya, maka tamatlah aku. Hidupku akan benar-benar hancur.”
Lima belas tahun yang lalu, harta kekayaannya memang melimpah. Sekarang dia bahkan takut memastikan yang mana yang lebih besar; hutangnya atau hartanya. Uangnya telah terkuras karena keteledorannya di pasar saham. Dulu dia adalah orang yang sombong, tak mengenal takut, dan percaya diri. Kini dia hanyalah seorang banker kecil yang akan gemetaran pada naik turun nilai investasinya. “Taruhan terkutuk!” gumam sang banker sambil memegangi kepalanya dengan putus asa. “Kenapa dia tidak mati saja? Sekarang umurnya empat puluh tahun. Dia akan menguras hartaku sampai ludes, kemudian dia akan menikah, menikmati masa hidupnya, dan bertaruh di pasar saham. Sedangkan aku hanya akan dapat memandanginya seperti pengemis dan mendengarkannya mengatakan hal yang sama berulang-ulang; “’Aku berhutang padamu karena kau telah membuat hidupku bahagia. Sekarang izinkan aku menolongmu.’ Tidak! Aku tidak mau itu terjadi! Satu-satunya cara agar aku terhindar dari kebangkrutan dan malu adalah dengan membunuhnya!”
Sekarang jam tiga siang. Semua orang di rumah sang banker sedang tertidur lelap, dan tidak ada satupun orang di luar sana selain gemerisik daun di pepohonan. Dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara, dia mengambil kunci pintu gubuk di mana tawanannya berada dari brankas, lalu mengenakan jaket, dan pergi ke luar.
Suasana di taman gelap dan dingin. Hujan mengguyur dengan deras. Angin yang menderu-deru menabrak pepohonan. Sang banker mencoba memfokuskan matanya, namun tidak ada yang dapat dilihatnya dengan jelas. Sambil berjalan ke gubuk, dia memanggil penjaga dua kali. Tidak ada jawaban. Sang penjaga pastilah telah mencari tempat berlindung dan sekarang sedang tidur di dapur atau rumah kaca.
“Jika aku berhasil menjalankan misiku,” pikir sang banker, “maka orang pertama yang akan dicurigai adalah si penjaga.”
Dia berjalan sambil meraba-raba ke gubuk, dan berhasil masuk ke sana. Kemudian dia menyalakan pemantiknya. Tidak ada satupun orang di sana. Di sana hanya ada kasur, dan di sudut ada kompor. Segel di pintu kamar tawanannya masih utuh.
Saat pemantiknya mati, sang banker mengintip dengan gemetaran melalui jendela kecil di sana. Sebatang lilin menyala dengan redup di kamarnya. Dia sedang duduk di meja. Sang banker tidak dapat melihat apa-apa selain punggung, rambut, dan tangannya. Buku berserakan di mana-mana; di meja, kursi, dan lantai.
Lima menit berlalu dan sang tawanan tidak bergerak sedikitpun. Sang banker pun mengetukkan jarinya di jendela, namun tidak ada balasan. Kemudian dengan hati-hati dia merusak segel di pintu dan memasukkan kuncinya. Karat menimbulkan suara mengerek dan pintu pun terbuka. Sang banker mengira tawanannya akan langsung berteriak terkejut, namun tiga menit berlalu dan tidak terdengar apa-apa. Dia pun melangkah masuk.
Di meja, seseorang dengan tubuh aneh duduk tak bergeming. Tubuhnya tampak seperti tengkorak dengan kulit yang menempel ketat pada tulangnya, rambut panjang dan keriting seperti perempuan, dan janggut yang kusut. Wajahnya berwarna kekuningan, pipinya cekung, punggungnya panjang dan kurus, dan tangan yang menjadi alas kepalanya sangat kurus sehingga tampak mengerikan. Rambutnya telah beruban dan melihat wajahnya yang terlihat tua, tidak akan ada seorang pun yang akan percaya bahwa umurnya masih empat puluh. Dia masih terlelap. Di depan kepalanya yang tertunduk, ada sehelai kertas dengan tulisan yang indah.
“Malang sekali nasibnya!” pikir sang banker, “dia terlelap dan pastilah sedang memimpikan uang dua juta dolarnya. Dan aku hanya harus mengangkat orang setengah mati ini ke ranjang, lalu membekapnya dengan bantal, dan seorang ahli sekalipun tidak akan menemukan tanda-tanda kekerasan. Tapi, coba kubaca dulu apa yang ditulisnya ini…”
Sang banker mengambil secarik kertas tersebut dari atas meja dan mulai membacanya.
Besok, pada jam dua belas siang, aku akan kembali meraih kebebasanku dan dapat berkumpul dengan manusia lainnya, namun sebelum aku meninggalkan kamar ini dan melihat mentari pagi, kurasa aku harus menyampaikan beberapa patah kata kepadamu. Dengan penuh sadar diri, aku bersumpah atas nama Tuhan yang memegang nasibku, bahwa aku membenci kebebasan, kesehatan, dan semua hal yang kau anggap indah.
“Selama lima belas tahun aku mempelajari kehidupan di bumi ini. Memang benar, aku belum pernah melihat bumi maupun manusia, tapi melalui buku aku telah meminum wine yang harum, menyanyikan lagu, berburu rusa dan babi liar di hutan, mencintai wanita… Kecantikan sehalus awan yang tercipta oleh para pujangga menghampiriku setiap malam, dan mereka membisikkan ke telingaku kisah-kisah menakjubkan yang membuatku mabuk kepayang. Berkat bukumu aku telah memanjat puncak Elburz dan Mont Blanc, dan dari sana aku menyaksikan matahari terbit dan malam menyelimuti langit, lautan, dan puncak-puncak gunung dengan warna emas dan merah darah. Dari sana pula aku menyaksikan kilat bergemuruh di atas kepalaku dan membelah lautan awan. Aku telah melihat hutan yang hijau, ladang, sungai, danau, dan kota-kota. Aku telah mendengar nyanyian siren[1]. Aku telah menyentuh sayap iblis yang turun ke bumi. Di bukumu aku telah menjerumuskan diriku ke dalam jurang tak berdasar, menciptakan mukjizat, menebas manusia, membakar kota, mengajarkan agama baru, dan menguasai seluruh kerajaan.
“Buku-bukumu telah mengajarkanku kebijaksanaan. Semua ilmu pengetahuan yang ada telah tertumpuk di dalam otakku. Sekarang pastilah aku lebih bijaksana dibanding semua orang.
“Dan aku membenci buku-bukumu, aku membenci pengetahuan dan anugerah hidup ini. Itu semua tidak berguna dan seperti ilusi. Kalian boleh merasa bangga dan bijak, namun kematian akan menghapus kalian dari muka bumi seolah kalian tidak lebih dari seekor tikus yang bersembunyi di bawah lantai, lalu keturunanmu, sejarahmu, dan kejeniusanmu akan terbakar atau membeku bersama dengan bumi ini.
“Kalian telah kehilangan akal dan mengambil jalan yang salah. Kalian menukar kebohongan dengan kebenaran dan kejelekan dengan keindahan. Kalian akan terkejut jika melihat katak atau kadal tiba-tiba tumbuh dari pohon apel atau jeruk, atau jika bunga mawar mengeluarkan bau seperti keringat kuda. Dan akupun tak habis pikir melihat kalian menukar surga dengan bumi. Tapi aku juga tak ingin memahamimu.
“Untuk membuktikan betapa aku membenci semua yang ada di dunia ini, aku tidak akan menerima uang dua juta yang dahulu sangat aku idamkan namun sekarang kubenci. Agar aku tidak menerima uang tersebut, aku akan melanggar peraturan dengan cara keluar dari tempat ini lima jam sebelum waktu yang telah ditentukan.”
Setelah selesai membaca surat tersebut, sang banker kembali menaruhnya di atas meja, lalu menciumnya di kepala, kemudian keluar dari gubuk sambil menangis. Dulu, bahkan jika dia rugi banyak di pasar saham, dia tidak akan pernah merasa dirinya hina seperti ini. Ketika dia sampai di rumah, dia segera berbaring di ranjang, namun air mata dan hatinya membuatnya tidak dapat tertidur selama berjam-jam.
Keesokan harinya sang penjaga berlari dengan wajah pucat. Dia mengatakan bahwa orang yang tinggal di gubuk telah memanjat keluar melalui jendela, berlari ke pagar, lalu menghilang. Sang banker pergi bersama pelayannya ke gubuk untuk memastikan kepergian tawanannya. Untuk menghindari pembicaraan yang tidak diinginkan, dia mengambil surat di atas meja yang menjelaskan bahwa tawanannya menolak uang yang telah dijanjikan, dan sesampainya di rumah, dia menguncinya di dalam brankas.
[selesai]
Catatan Penerjemah:
[1]      Siren; Makhluk dari mitologi Yunani yang berwujud perempuan dan nyanyiannya dapat memikat para pelaut sampai lupa diri dan menabrak karang.

05.55 | 0 komentar | Read More

cerpen terjemahaan town of cats


Town of Cats

TERSESAT DI KOTA KUCING
Haruki Murakami
Di stasiun Koenji, aku menaiki salah satu kereta cepat jalur Chuo. Gerbong yang aku tempati kosong, dan aku satu-satunya penumpang di gerbong tersebut. Hari ini aku tidak memiliki rencana atau kegiatan apapun sehingga aku dapat pergi ke manapun dan melakukan apapun sesuka hatiku. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan karena sekarang adalah musim panas, udara di sekitarku terasa sangat menyengat.
Kereta melaju melewati Shinjuku, Yotsuya, Ochanomizu, dan akhirnya tiba di Stasiun Pusat Tokyo. Semua penumpang berhamburan keluar kereta, begitu juga aku. Dengan langkah santai aku menuju ke sebuah bangku yang berada di sudut taman stasiun. Aku duduk sambil menjulurkan kedua kakiku yang terasa sangat penat karena lelah seharian dalam perjalanan panjang dari sebuah tempat terpencil yang tenang bernama Shibuya menuju kota metropolitan Tokyo.

Aku merenung sejenak dan mulai berpikir ke mana selanjutnya akan pergi. “Aku dapat pergi kemana pun aku mau,” ucapku dalam hati. “Sepertinya hari ini cuaca sangat panas. Mungkin aku harus pergi ke pantai atau menemukan sebuah kafe kecil untuk makan siang.” Aku mendongakkan kepala dan memperhatikan peta jalur kereta yang terlihat sangat rumit.
Pada saat itu juga aku menyadari apa yang sedang aku lakukan.
Aku mencoba menggelengkan kepala beberapa kali, namun pikiran-pikiran itu tidak mau pergi dari dalam kepalaku. Mungkin secara tidak sadar aku telah memutuskan untuk melakukannya tepat pada saat aku menaiki kereta di Koenji tadi pagi. Aku mendesah perlahan, lalu bertanya kepada seorang petugas di stasiun agar dapat sampai ke Chikura. Petugas tersebut segera membolak-balikkan halaman buku jadwal kereta yang tebal. Dia menyarankan agar aku mengambil kereta ekspress ke Tateyama yang akan berangkat pada jam 11.30, kemudian transit ke kereta lokal. Dengan begitu aku akan tiba di Chikura sekitar jam dua lewat. Aku membeli tiket pulang-pergi Tokyo-Chikura. Kemudian aku pergi ke restoran di stasiun dan memesan menu makan siang yang sangat sederhana yaitu sepiring nasi kari dan salad.
Mengunjungi ayah adalah sebuah rencana yang tidak menyenangkan bagiku. Hubunganku dengan ayah tidaklah terlalu dekat, dan ayah juga jarang memperlihatkan rasa mencintai layaknya seorang ayah kepada putra semata wayangnya. Dia telah pensiun empat tahun yang lalu, namun saat ini ia masuk ke sanatorium di Chikura yang khusus merawat pasien penderita gangguan kognitif. Selama ini, aku hanya mengunjunginya tidak lebih dari dua kali dalam setahun. Kunjungan pertama adalah pada saat ayah baru masuk ke sana, ketika aku, sebagai satu-satunya anggota keluarga, harus berada di sana untuk mengurus prosedur administrasi. Kunjungan yang kedua juga karena menyangkut masalah administrasi. Hanya dua kali itu saja!
Sanatorium di mana ayah dirawat berdiri pada sebidang tanah yang berada di dekat pinggir pantai kota Chikura. Bagunannya merupakan kombinasi aneh dari bangunan tua elegan yang terbuat dari kayu, dan bangunan tiga tingkat yang terbuat dari beton. Namun udara di sana segar dan selain suara ombak yang menderu-deru, tempat itu selalu sunyi di sepanjang hari.
Barisan pohon pinus yang ditanam di pinggir taman menghalau angin yang menerjang bangunan. Fasilitas kesehatan di sana sangat baik. Dengan asuransi kesehatan, bonus pensiun, tabungan, dan uang pensiun, ayah mungkin dapat menghabiskan seluruh sisa hidupnya di sana dengan nyaman.
Meskipun ayah tidak akan meninggalkan harta warisan yang besar, namun bagiku yang terpenting adalah agar ayah mendapat perawatan yang terbaik. Aku tidak ingin mengambil sedikitpun hartanya, dan aku juga tidak ingin memberikan atau membagi apapun kepadanya. Kami adalah dua manusia yang berbeda, datang dan pergi ke tempat yang berbeda pula. Kami hanya kebetulan saja pernah tinggal bersama dalam satu atap selama beberapa tahun. Hanya itu saja! Sayang sekali kalau akhirnya harus begini, namun sama sekali tidak ada hal yang dapat aku lakukan untuk mengubah ini semua.
Aku membayar makanan kepada kasir dan memberi tips kepada pelayan lalu pergi ke platform untuk menunggu kereta ke Tateyama. Satu-satunya teman seperjalananku kali ini adalah sebuah keluarga bahagia yang akan berlibur selama beberapa hari di pantai.
Kebanyakan orang berpikir bahwa hari Minggu adalah hari untuk beristirahat. Namun selama masa kecilku, aku tidak pernah menganggap hari Minggu sebagai hari yang dapat dinikmati dengan sepuas hati. Bagiku, hari Minggu sama seperti bulan yang hanya menampakkan sisi gelapnya saja. Karena ketika hari Minggu tiba, badan ini mulai terasa lemas dan sakit, serta selera makanku kadang-kadang hilang. Aku bahkan berharap agar hari Minggu tidak akan pernah tiba, namun doaku ini tidak pernah terkabulkan.
Ketika aku masih kecil, ayah bekerja di NHK—sebuah jaringan televisi dan radio pemerintah di Jepang—sebagai penagih biaya langganan. Setiap hari Minggu dia akan mengajakku bersamanya untuk menemaninya menagih pembayaran dari pintu ke pintu. Kami telah berkeliling seperti ini sejak sebelum aku masuk TK dan masih berlanjut saat aku duduk di kelas lima SD. Aku tidak tahu apakah penagih bayaran di NHK memang bekerja setiap hari termasuk hari Minggu, namun seingatku, ayah selalu bekerja seperti itu. Ayah malah bekerja dengan lebih antusias daripada biasanya, karena pada hari Minggu dia dapat menemui orang-orang yang tidak dapat ditemuinya di hari - hari lain.
Ayahku mempunyai beberapa alasan kenapa dia mengajakku. Alasan pertama adalah karena dia tidak ingin meninggalkan aku yang masih kecil sendirian di rumah. Pada hari Sabtu dan hari - hari libur, aku dapat pergi ke sekolah atau ke penitipan anak, namun tempat - tempat ini tutup pada hari Minggu. Alasan yang lain, kata ayah, adalah karena menurutnya seorang ayah harus menunjukkan kepada anaknya pekerjaan macam apa yang dilakukannya. Seorang anak harus mengetahui pekerjaan apa yang menghidupinya selama ini, dan dia juga harus dapat menghargai pentingnya bekerja. Semasa kecilnya, ayah sudah bekerja di ladang milik kakek, bahkan di hari Minggu, begitu juga di hari - hari lain pada waktu libur, dia bahkan harus libur sekolah pada saat - saat yang sibuk seperti sedang musim panen. Kehidupan seperti itu merupakan sebuah anugerah baginya hingga dia tumbuh dewasa.
Alasan ketiga, dan juga yang terakhir, merupakan alasan yang sangat egois, sehingga alasan ini meninggalkan bekas luka yang dalam di hatiku. Sebenarnya ayah sadar bahwa keberadaan anak kecil dapat membuat pekerjaannya menjadi lebih mudah. Bahkan orang yang telah memutuskan untuk tidak akan membayar akhirnya akan merogoh kantongnya jika ditatap oleh seorang anak kecil, oleh karena itulah ayah hanya berkeliling di rute yang sulit di hari minggu.
Aku telah merasa sejak awal bahwa inilah peran yang diinginkan ayah untukku, dan aku amat sangat membenci peran ini. Namun aku juga merasa bahwa aku harus melakukannya dengan secerdik mungkin untuk menyenangkan hatinya. Jika aku bisa membuatnya senang, maka dia akan memperlakukanku dengan baik. Mungkin saja bagi ayah, aku tidak lebih dari sekedar monyet yang terlatih.
Salah satu hal yang membuat hatiku lega adalah daerah di mana kami berkeliling jauh dari rumah. Kami tinggal di daerah pinggir kota Ichikawa, sementara kami selalu berkeliling di pusat kota. Paling tidak dengan cara begini aku tidak akan bertemu dengan orang-orang yang kukenal. Namun tak jarang ketika kami berkeliling di wilayah perbelanjaan, aku akan melihat seorang temanku di sana. Jika ini terjadi, aku selalu bersembunyi di balik punggung ayah agar tidak terlihat oleh temanku.
Pada hari Senin, teman - teman sekolahku akan berbincang dengan semangat tentang apa yang mereka lakukan di hari Minggu. Mereka pergi ke taman hiburan, kebun binatang, dan melihat pertandingan baseball. Di musim panas mereka berenang, dan di musim dingin mereka bermain ski. Tapi tidak ada yang dapat aku ceritakan. Pada hari Minggu, dari pagi sampai malam, aku dan ayah akan membunyikan bel ke rumah orang – orang asing, menundukkan kepala, lalu mengambil uang dari siapapun yang membukakan pintu. Jika ada yang tidak ingin membayar, ayah akan membujuk atau mengancamnya. Jika mereka mengeluarkan banyak alasan, ayah akan meninggikan suaranya. Terkadang dia akan mengucapkan sumpah serapah kepada mereka yang bandel!
Tentu saja pengalaman seperti ini bukanlah hal yang ingin aku ceritakan kepada teman - temanku. Aku merasa seperti orang asing di tengah - tengah masyarakat ekonomi menengah. Aku hidup dengan cara yang berbeda di dunia yang berbeda.
Untungnya nilai - nilai akademik dan olahragaku sangat tinggi. Sehingga, walaupun terlihat berbeda, aku tidak pernah merasa minder. Dalam banyak kesempatan, aku diperlakukan dengan hormat. Namun setiap kali teman - teman mengajakku pergi ke suatu tempat atau mengundangku ke rumah mereka di hari Minggu, aku akan menolak ajakan mereka dengan berbagai alasan. Ini membuat mereka berhenti mengajakku.
Terlahir sebagai putra tunggal di keluarga petani yang tinggal di wilayah Tohoku, ayah terkenal sangat keras, ia senang karena berhasil keluar dari rumahnya secepat mungkin untuk bergabung dengan kelompok perantau dan menempuh perjalanan sampai ke Manchuria pada tahun 1913. Mereka tidak percaya dengan omongan pemerintah yang mengatakan bahwa Manchuria adalah surga dengan tanah yang luas dan subur. Pada saat itu ayah sudah sadar bahwa ‘surga’ itu tidak ada. Keluarga ayah sangatlah miskin, dan tidak jarang dia merasa sangat kelaparan. Kemungkinan terbaik jika dia tetap tinggal di rumahnya adalah hidup menderita dan mati kelaparan. Di Manchuria, ayah dan perantau lainnya diberikan sedikit peralatan untuk bertani, dan mereka bersama - sama bercocok tanam di sana. Tanah di sana keras dan berbatu, dan pada waktu musim dingin semuanya membeku. Terkadang mereka menangkap dan memakan anjing liar. Meski begitu, dengan bantuan pemerintah selama beberapa tahun pertama, mereka berhasil bertahan hidup. Lambat laun kehidupan mereka mulai stabil. Namun semua berubah secara drastis ketika Uni Soviet menginvasi Manchuria dalam skala yang besar pada bulan Agustus 1945. Ayah telah menduga hal ini akan terjadi, karena sebelumnya seorang pejabat pemerintah yang telah menjadi temannya telah memberitahunya. Begitu dia mendengar berita bahwa Soviet telah menerobos perbatasan, dia segera menunggangi kudanya sampai ke stasiun kereta dan menaiki kereta terakhir ke Daien. Dia satu - satunya diantara teman - teman petaninya yang berhasil kembali ke Jepang sebelum akhir tahun.
Setelah perang berakhir, ayah merantau ke Tokyo dan mencoba bekerja sebagai tukang kayu dan penyelundup di pasar gelap. Namun penghasilannya amat sangat minim dan bahkan tidak cukup untuk makan sehari - hari. Saat itu dia sedang bekerja sebagai pengantar di toko minuman alkohol ketika dia bertemu dengan temannya yang dulu menjadi pejabat di Manchuria. Saat dia mengetahui bahwa ayah sulit menemukan pekerjaan dengan penghasilan yang pantas, dia menawarkan diri untuk merekomendasikan ayah pada temannya yang bekerja di bagian pelanggan NHK. Ayah dengan senang hati menyetujuinya. Dia hampir tidak mengetahui apa - apa tentang NHK, namun dia bersedia untuk mencoba apapun yang dapat menjanjikannya penghasilan tetap.
Ayah menjalankan pekerjaannya dengan sangat antusias. Kelebihannya yang paling menonjol adalah kekerasan hatinya di hadapan para saingannya. Bagi seseorang yang telah susah mencari makan semenjak kecil, menagih pembayaran di NHK bukanlah pekerjaan yang menyiksa. Ejekan dan cemooh dari orang lain tidak berarti apa - apa baginya. Terlebih lagi, dia merasa puas karena dapat menjadi bagian dari organisasi penting seperti NHK, walaupun hanya sebagai anggota di tingkat yang paling rendah. Ketekunannya dalam bekerja sangat luar biasa, sehingga setelah satu tahun bekerja sebagai penagih dengan bayaran per komisi, dia segera diangkat menjadi pegawai penuh. Ini merupakan sebuah pencapaian yang belum pernah dicapai oleh siapapun di NHK. Tidak lama setelah itu dia pindah ke apartemen milik perusahaan dan mengambil asuransi kesehatan dari perusahaan. Ini adalah runtutan keberuntungan terbesar yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Ayah jarang mau menyanyikan lagu tidur untukku di masa kecil, dia juga malas membacakan buku untukku saat aku hendak tidur. Malahan, dia sering menceritakan tentang pengalaman hidupnya.
Dia handal dalam bercerita. Pengalaman masa kanak - kanak dan mudanya memang tidak sarat akan makna, namun rincian ceritanya terasa sangat nyata. Ada kisah lucu, mengharukan, namun tak jarang ia gemar menceritakan pengalaman hidupnya yang keras.
Kehidupan ayah sungguh penuh dengan warna. Namun ketika ceritanya sampai ke bagian dimana dia menjadi pegawai di NHK, tiba - tiba ceritanya kehilangan daya tarik. Dia bertemu seorang wanita cantik, menikahinya, lalu mempunyai anak, aku, Tengo Kawana. Beberapa bulan setelah melahirkanku, ibu jatuh sakit lalu meninggal dunia. Sejak saat itu ayah membesarkanku seorang diri sambil bekerja di NHK.
Ayah tidak pernah mau menceritakan tentang bagaimana dia bertemu dan menikahi ibu, wanita seperti apa dia, apa yang menyebabkan kematiannya, atau apakah dia menderita sebelum meninggal atau tidak? Jika aku mencoba menanyakannya, maka ayah akan menghindari pertanyaanku. Sering kali pertanyaan - pertanyaan ini membuat hatinya sangat kesal. Tidak ada satupun foto ibu yang disimpannya.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mempercayai cerita ayah. Dia menyembunyikan cerita bahwa ibu tidak meninggal beberapa bulan setelah aku lahir. Di dalam ingatanku saat masih berumur satu setengah tahun, ibu sedang berdiri di samping tempat tidurku, dan seorang pria yang aku tahu bukan ayah sedang memeluknya dengan penuh hasrat. Pelan – pelan ibu melepaskan blus dan ikatan roknya, lalu membiarkan lelaki yang bukan ayahku itu berbuat sesuka hatinya. Sementara itu aku sedang tidur di samping mereka, dengan napas yang tidak terlalu keras. Namun di saat yang sama, aku tidak tertidur, aku justru sedang memperhatikan ibu dan segala gerak - geriknya.
Itulah gambaran terakhir yang aku rekam. Adegan berdurasi sepuluh detik tersebut telah melekat dengan jelas di dalam kepala. Satu - satunya informasi konkrit yang aku miliki tentang ibuku.  Aku dan ibu terhubung oleh ikatan tipis yang terlihat seperti tali pusar seorang bayi. Ayah tidak mengetahui bahwa adegan ini ada dalam ingatanku. Seperti seekor sapi di tengah padang rumput, aku melahap informasi ini bagai rumput yang selanjutnya aku makan mentah - mentah. Ayah dan anak, masing - masing terkurung di dalam kegelapan rahasia mereka sendiri yang gelap dan begitu dalam.
Saat beranjak dewasa, aku sering bertanya - tanya apakah pria yang bukan ayahku itu adalah ayah kandungku. Ini karena aku sama sekali tidak mirip dengan ayahku yang sekarang. Aku memiliki tubuh yang tinggi, kening yang lebar, hidung mancung, dan daun telinga yang bundar. Sedangkan ayah bertubuh pendek, gemuk, dan sama sekali tidak menarik. Dia mempunyai kening kecil, hidung pesek, dan daun telinga yang lancip seperti kuda. Aku selalu bisa terlihat santai dan baik hati, sedangkan ayah cepat cemas dan tidak suka menolong orang. Jika sedang membandingkan kami berdua, orang - orang selalu membicarakan tentang perbedaan di antara kami.
Namun tetap saja, bukan perbedaan dalam hal fisik yang membuat aku sulit untuk menerima ayah, tapi karena perbedaan psikologis. Ayah sama sekali tidak menunjukkan tanda - tanda kecerdasan intelektual. Memang benar, dia terlahir dan hidup dalam kemiskinan sehingga dia tidak pernah mendapatkan pendidikan yang layak. Untuk hal ini, aku merasa sangat bersimpati terhadap keadaannya. Namun hasrat dasar untuk menimba ilmu — yang aku pikir merupakan sifat alamiah manusia — tidak terdapat di dalam dirinya. Dia memiliki pengetahuan praktikal yang membuatnya dapat bertahan hidup, namun aku tidak melihat adanya kemauan dalam diri ayah untuk memperdalam ilmu, dan melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas.
Meskipun begitu, ayah tidak pernah terlihat menderita karena hidupnya yang sempit dan monoton. Aku tidak pernah melihatnya membaca buku. Dia tidak tertarik dengan musik atau film, dan dia tidak pernah pergi berlibur. Satu - satunya hal yang menarik baginya adalah rute berkelilingnya. Dia akan membuat map area yang akan dilaluinya, menandainya dengan pena warna, dan memeriksanya kapanpun dia ada kesempatan, layaknya seorang ahli biologi yang mempelajari kromosom.
Sebaliknya, aku selalu ingin tahu akan semua hal. Aku mempelajari dan memahami berbagai macam bidang studi dengan baik. Aku telah diakui sebagai murid jenius dalam bidang matematika semenjak usia dini, dan aku dapat menyelesaikan soal matematika untuk tingkat SMA saat aku duduk di kelas tiga SD.
Bagiku, matematika merupakan alat terbaik untuk melarikan diri dari dunia nyata. Dalam dunia matematika, aku dapat berjalan di sepanjang koridor kota, dan membuka pintu - pintu angka. Setiap kali aku menemui soal yang sulit, maka jejak buruk kenyataan dunia akan segera menghilang dari hadapanku. Selama aku bisa membuat diri ini sibuk menjelajahi dunia yang tak terbatas dan konsisten tersebut, aku akan merasa bebas.
Jika matematika merupakan bangunan khayalan yang menakjubkan, maka sastra merupakan hutan luas yang penuh sihir. Matematika menghampar naik ke atas surga, namun cerita sastra terhampar luas di depanku, akar - akarnya menembus jauh ke dalam perut bumi. Tidak ada map maupun pintu di sana. Semakin aku beranjak dewasa, hutan cerita mulai mencengkeram dan menarik hati ini lebih kuat daripada dunia matematika. Tetap saja, membaca novel hanyalah salah satu cara bagiku untuk melarikan diri, karena begitu aku menutup buku, aku segera kembali ke dunia nyata. Namun begitu, aku merasa bahwa kembali ke dunia nyata dari dunia novel tidak terlalu mengecewakan dibanding kembali dari dunia matematika. Kenapa bisa begitu? Setelah berpikir keras, aku mencapai sebuah kesimpulan.
Tidak peduli betapa jelasnya sebuah cerita, namun tidak pernah ada solusi yang jelas di sana, tidak seperti ketika aku menjelajahi dunia matematika. Peran sebuah cerita, dalam istilah yang paling luas, adalah untuk mengubah sebuah masalah ke dalam bentuk yang lain. Sebuah solusi bisa saja dapat ditarik dari naratifnya, tergantung dengan alamiah dan alur masalahnya. Aku selalu kembali ke dunia nyata dengan pemahaman tersebut. Rasanya seperti selembar kertas yang di atasnya tertulis mantra sihir yang tidak dapat dipecahkan. Mantra tersebut tidak mempunyai maksud secara langsung, namun masih mengandung makna terselubung.
Satu - satunya solusi yang mampu aku pecahkan berkat koleksi buku - buku bacaanku adalah; ayahku yang asli pasti berada di suatu tempat. Seperti seorang anak kecil malang di dalam novel Dickens, aku mungkin, entah karena situasi aneh macam apa, akhirnya dibesarkan oleh penipu yang mengaku sebagai ayah. Kemungkinan tersebut terasa seperti mimpi buruk namun juga harapan yang besar. Setelah membaca Oliver Twist, aku mulai membaca seluruh karya Dickens yang dapat aku temukan di perpustakaan. Ketika aku berjalan – jalan untuk mengarungi kisah - kisah dari Charles Dickens, aku mengubah khayalan kehidupanku dan semakin membenci diri sendiri. Khayalan ini tumbuh semakin panjang dan rumit. Khayalan yang tumbuh dengan satu bentuk, namun memiliki variasi yang tak terhingga. Di dalam semua khayalanku, aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku hanya sekedar terjebak di dalam rumah ayah saja, dan suatu saat nanti kedua orang tuaku yang asli akan menemukan dan menyelamatkanku. Kemudian aku akan menikmati hari Minggu yang paling indah dan damai.
Ayah selalu bangga dengan nilai - nilai yang berhasil aku capai di sekolah, dan dia selalu menunjukkan nilai hasil ujianku ke para tetangga kami. Namun di saat yang sama, ayah juga menunjukkan tanda - tanda ketidaksenangan terhadap kecerdasan dan bakatku.
Kadang - kadang, ketika aku tengah sibuk belajar di kamar, ayah akan menggangguku, menyuruhku membersihkan rumah, dan mengomeli sikapku yang dianggap lancang terhadapnya. Isi omelan ayah selalu sama, ayah sedang sibuk bekerja keras, menempuh perjalanan yang jauh, dan menahan amarah ketika orang - orang menyumpahinya, sedangkan aku hanya hidup dengan bersantai – santai saja. “Ketika ayah seumuranmu, ayah sudah disuruh bekerja banting tulang. Kakek dan pamanmu selalu memukuli ayah jika ayah bersantai - santai. Mereka tidak pernah memberikan ayah makan yang cukup. Mereka memperlakukan ayah seperti binatang. Ayah tidak mau kau merasa spesial hanya karena nilai - nilaimu tinggi!”
Dia iri denganku, pikirku. Entah dia iri denganku atau dengan kehidupanku. Tapi, apakah seorang ayah memang akan iri dengan anaknya sendiri?
Bukannya aku mau menuduh ayah, tapi aku memang merasakan adanya rasa cemburu dalam perkataan maupun perbuatannya.  Ayah tidak membenci kehadiranku, tapi dia lebih sering membenci sesuatu yang ada di dalam diriku, sesuatu yang tidak dapat dimaafkannya.
Ketika kereta yang aku tumpangi bergerak meninggalkan stasiun Tokyo, aku mengeluarkan buku yang aku bawa dari rumah. Buku tersebut merupakan sebuah antologi cerita pendek dengan tema perjalanan, dan di dalamnya terdapat cerita berjudul “Kota Kucing”, sebuah karya fantastis yang ditulis oleh penulis Jerman yang tidak begitu kukenal. Berdasarkan kata pengantar yang ada di halaman depan buku, cerita tersebut ditulis pada periode antara dua Perang Dunia.
Dalam kisah tersebut, seorang pemuda bepergian sendirian tanpa ada tujuan. Dia menumpangi kereta dan turun di pemberhentian manapun yang menarik perhatiannya.
Dia menyewa sebuah kamar, berkeliling menikmati pemandangan, dan tinggal selama yang dia inginkan. Ketika dia sudah merasa puas, dia kembali menaiki kereta lain. Dia sangat menikmati liburannya dengan cara seperti itu.
Suatu hari, dia melihat sebuah sungai yang indah dari jendela kereta. Bukit - bukit hijau berbaris di sepanjang alirannya, dan di kejauhan terlihat sebuah kota kecil yang indah dengan jembatan batu tua. Kereta berhenti di stasiun di kota tersebut, dan dia turun membawa tasnya. Tidak ada penumpang lain yang ikut turun, dan begitu dia turun, kereta segera berangkat kembali.
Tidak ada seorangpun yang bekerja di stasiun. Dia berpikir hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada banyak kegiatan di stasiun ini. Sang pemuda menyeberangi jembatan batu dan berjalan menuju kota. Semua toko tutup, dan alun - alun kota terlihat kotor dan telah lama terbengkalai. Hanya ada satu hotel di sana, dan tidak ada orang yang melayani di meja penerima tamu. Tempat itu tampak tidak berpenghuni. Mungkin semua orang sedang tidur siang di suatu tempat. Tapi sekarang baru jam setengah sebelas pagi, masih lama sebelum waktu tidur siang.
Mungkin sesuatu telah terjadi dan membuat semua orang meninggalkan kota ini. Walau bagaimanapun, kereta selanjutnya tidak akan tiba sampai besok pagi, sehingga dia tidak punya pilihan selain bermalam di sana. Dia berjalan berkeliling kota untuk menghabiskan waktu.
Sebenarnya, ini adalah kota kucing. Ketika matahari mulai terbenam, banyak kucing liar — dengan jenis dan warna yang berbeda — menyeberangi jembatan secara bergerombolan. Mereka memiliki ukuran yang lebih besar daripada kucing biasa, namun mereka tetaplah kucing liar. Sang pemuda terkejut melihat pemandangan ini. Dia segera berlari menuju menara lonceng yang terdapat di tengah kota, lalu naik sampai ke puncaknya untuk bersembunyi. Para kucing mulai berkeliaran di sekitar kota.
Ada yang membuka penutup toko, atau pergi ke kantor untuk memulai kerja. Tidak lama berselang, muncul segerombolan kucing lain dalam jumlah yang lebih banyak dan mereka mulai menyeberangi jembatan seperti yang dilakukan oleh kelompok sebelumnya. Mereka masuk ke toko - toko untuk berbelanja, pergi ke kantor pemerintahan untuk menyelesaikan urusan administrasi, makan di restauran hotel, atau meminum bir di kedai dan menyanyikan lagu - lagu kucing dengan semangat. Karena kucing dapat melihat dalam kegelapan, maka mereka hampir tidak membutuhkan lampu sama sekali. Namun khusus malam hari itu, rembulan bersinar terang dan cahayanya menerangi seluruh kota. Sang pemuda dapat melihat kegiatan di kota dengan jelas dari tempat persembunyiannya di menara lonceng. Ketika fajar menyingsing, para kucing menyelesaikan pekerjaan mereka, menutup kembali pintu toko, dan berjalan teratur menyeberangi jembatan.
Saat matahari telah terbit, tidak ada satupun kucing yang terlihat di sana, dan kota tersebut kembali sunyi. Sang pemuda turun dari menara lonceng, lalu tidur di salah satu kamar di hotel. Jika dia merasa lapar, dia memakan roti dan ikan yang tersisa di dapur hotel. Ketika malam mendekat, dia kembali bersembunyi di menara lonceng dan memperhatikan kegiatan para kucing sampai fajar.
Beberapa kali kereta berhenti di stasiun sebelum siang dan sore hari. Tidak ada penumpang yang turun maupun naik ke kereta. Namun tetap saja, kereta selalu berhenti tepat selama satu menit, kemudian kembali berangkat. Dia bisa saja naik ke salah satu kereta, dan meninggalkan kota kucing yang aneh ini. Tapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya. Karena dia masih muda, rasa ingin tahunya sangat menggebu - gebu dan dia selalu siap melakukan petualangan apapun. Dia masih ingin melihat peristiwa aneh ini lebih lama. Dia ingin mengetahui sejak kapan dan bagaimana tempat ini berubah menjadi kota kucing.
Pada malam ketiga, sebuah keributan terjadi di alun - alun di bawah menara. “ Hey, apa kau mencium bau manusia? ” tanya seekor kucing.
 “Ya, aku rasa memang ada bau aneh beberapa hari ini,” sahut kucing lain sambil mengendus dengan hidungnya. “Aku juga,” jawab yang lain. “Aneh. Padahal tidak ada manusia yang tinggal di sini,” tambah seekor kucing. “Tentu saja tidak. Tidak mungkin ada manusia yang bisa masuk ke kota ini.” “Lalu kenapa ada bau manusia di sini?”
Para kucing mulai menyisir seluruh kota secara berkelompok. Mereka hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk memastikan bahwa menara lonceng merupakan sumber dari bau manusia. Sang pemuda mendengar langkah kaki kucing menaiki tangga. Mereka telah menemukanku! Pikirnya. Sepertinya baunya telah memicu amarah para kucing.
Manusia tidak diperbolehkan memasuki kota tersebut. Para kucing memiliki cakar dan taring yang besar dan tajam. Pemuda itu tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika para kucing berhasil menangkapnya, tapi dia yakin bahwa mereka tidak akan membiarkannya meninggalkan kota dalam keadaan hidup.
Tiga ekor kucing memanjat sampai ke puncak menara dan mengendus udara. “ Aneh, ” ujar seekor kucing dengan kumis bergoyang - goyang, “ Aku mencium bau manusia, tapi tidak ada seorangpun di sini. ” “ Ya, ini aneh, ” sahut kucing lain. “ Tapi memang tidak ada seorangpun di sini. Ayo pergi dan cari di tempat lain. ”
Para kucing memiringkan kepala mereka, kebingungan, kemudian kembali turun ke bawah. Sang pemuda mendengar langkah kaki mereka perlahan menghilang di kegelapan malam. Dia menghembuskan nafas lega, tapi dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Mereka tidak dapat menemukannya. Tapi entah kenapa, mereka tidak dapat melihatnya. Walau bagaimanapun, dia memutuskan bahwa dia akan segera pergi ke stasiun begitu pagi menjelang dan naik kereta meninggalkan kota. Keberuntungannya tidak akan mungkin bertahan selamanya.
Namun esoknya, tidak ada kereta yang berhenti di stasiun. Semua kereta hanya melaju melewatinya tanpa menurunkan kecepatan.
Begitu juga dengan kereta sore. Dia dapat melihat seorang kondektur di gerbong kendali. Tapi kereta - kereta tersebut tidak menunjukkan tanda - tanda akan berhenti. Seolah tidak ada yang melihat seorang pemuda menunggu di stasiun — atau bahkan stasiun itu sendiri. Ketika kereta sore menghilang di ujung rel, tempat itu menjadi lebih sunyi daripada biasanya. Matahari mulai terbenam. Waktunya bagi para kucing memasuki kota. Sang pemuda sadar bahwa dia telah tersesat. Tempat tersebut merupakan dunia lain yang disiapkan secara khusus untuknya. Dan tidak akan ada lagi kereta yang berhenti di stasiun ini untuk membawanya kembali ke dunia asalnya.
Aku membaca kisah tersebut dua kali. Frasa ‘tempat di mana dia ditakdirkan untuk tersesat’ menarik perhatiannya. Dia menutup bukunya dan membiarkan matanya menerawangi pemandangan area industri yang terlihat dari jendela kereta. Tidak lama kemudian dia tertidur — bukan tidur panjang namun tidur yang sangat dalam. Dia terbangun bersimbah keringat. Kereta sedang berjalan melewati pesisir selatan semenanjung Boso.
Dulu, saat aku duduk di kelas lima, aku memutuskan untuk berhenti berkeliling dengan ayah di hari Minggu. Aku mengatakan pada ayah bahwa aku ingin menghabiskan waktu luang dengan belajar, membaca buku, dan bermain bersama anak - anak yang lain. Aku ingin hidup normal seperti orang lain.
Aku hanya mengatakan apa yang perlu aku katakan dengan ringkas dan mudah dimengerti.
Di luar dugaanku, ayah naik pitam. Dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh keluarga lain.
“ Kita punya cara hidup sendiri, nak. Dan jangan kau berani berkata padaku tentang ‘kehidupan normal’, Tuan Sok Tahu. Apa yang kau tahu tentang ‘kehidupan normal’?” Aku sama sekali tidak mencoba membantahnya. Aku hanya balik menatapnya dengan hening, sadar bahwa semua perkataanku tidak akan bisa dimengerti olehnya. Akhirnya, ayah mengatakan bahwa jika aku tetap tidak mau mematuhinya, maka dia akan berhenti memberiku makan. Dengan kata lain, aku harus angkat kaki dari rumah.
Aku mematuhi apa yang dikatakan ayah. Aku telah membulatkan tekad. Daripada takut, aku malah merasa lega, karena akhirnya aku diberikan izin untuk meninggalkan kurungan ini. Namun tidak mungkin seorang anak berusia sepuluh tahun dapat hidup sendiri. Ketika kelas telah berakhir, aku mengungkapkan semua kemalangan yang kualami kepada guruku.
Dia adalah seorang guru wanita berumur tiga puluhan dan hidup lajang. Dia juga guru yang baik hati dan berpikiran terbuka. Dia mendengarkan kisahku dengan penuh simpati. Malam harinya dia berkunjung ke rumah kami untuk berdiskusi dengan ayah.
Aku disuruh meninggalkan ruang tamu, sehingga aku tidak tahu apa yang mereka katakan, namun akhirnya ayah mengalah. Tidak peduli seberapa marahnya dia kepadaku, dia tetap tidak boleh membiarkan anak berumur sepuluh tahun berkeliaran di jalan sendirian. Kewajiban orang tua untuk menghidupi anaknya diatur oleh hukum.
Setelah ibu guru selesai berbicara dengan ayah, aku diizinkan untuk menghabiskan hari Minggu sesuka hati. Ini merupakan hak pertama yang pernah aku peroleh dari ayah. Kini aku telah selangkah lebih jauh menuju kebebasan dan kemerdekaan.
Di meja resepsionis sanatorium, aku memberikan nama dan nama ayah.
Perawat yang kebetulan sedang bekerja saat itu bertanya, “ Apa anda telah memberi tahu bahwa Anda akan berkunjung hari ini? ” suaranya terdengar serak. Perawat tersebut berperawakan kecil, dia mengenakan kacamata dengan bingkai besi, dan rambutnya yang pendek mulai tampak beruban.
“ Tidak, tiba - tiba saja aku ingin berkunjung pagi ini dan segera berangkat dengan kereta, ” jawabku apa adanya.
Sang perawat menatapku dengan ekspresi setengah jijik. Kemudian dia berkata,
“ Pengunjung seharusnya memberi tahu kami terlebih dahulu sebelum menjenguk pasien. Kami mempunyai jadwal sendiri, dan keinginan pasien juga harus dipertimbangkan. ”
“ Maaf, aku tidak tahu. ”
“ Kapan terakhir kali Anda berkunjung ? ”
“ Dua tahun lalu. ”
“ Dua tahun lalu, ” ulangnya sambil memeriksa daftar pengunjung dengan pena di tangannya. “Maksudnya Anda tidak pernah berkunjung sekalipun selama dua tahun ini? ”
“ Benar. ” jawabku.
“ Menurut catatan kami, Anda adalah satu - satunya kerabat Tuan Kawana. ”
“ Ya, benar. ”
Dia melihatku sepintas, tapi tidak mengatakan apa - apa. Dia tidak sedang menghakimiku, dia hanya mengkonfirmasi fakta. Lagipula, kasus seperti keluargaku ini bukanlah yang pertama kali.
“ Saat ini ayah Anda sedang mengikuti kelompok rehabilitasi, dan akan selesai dalam setengah jam. Kemudian barulah anda dapat menemuinya. ”
“ Bagaimana keadaannya? ”
“ Secara fisik, dia sehat. Namun kondisinya yang lain belum stabil, ” jawab sang perawat sambil mengetuk - ngetuk dahinya dengan jari telunjuk.
Aku mengucapkan terima kasih kemudian beranjak pergi dan menunggu di ruang santai yang berada di dekat pintu masuk sambil melanjutkan membaca buku. Angin semilir masuk melalui jendela, membawa terbang aroma laut dan pinus dari luar. Jangkrik musim panas bertengger di pepohonan, mengeluarkan suara sekencang - kencangnya. Musim panas kini sampai pada puncaknya, tapi para jangkrik seolah tahu bahwa musim panas tidak akan bertahan selamanya.
Setelah menunggu cukup lama, seorang perawat berkacamata datang memberitahu bahwa aku dapat menemui ayah sekarang. “ Akan saya tunjukkan kamar ayah Anda, ” ucapnya. Aku berdiri dari sofa, dan ketika aku melewati cermin besar yang digantung di dinding, aku baru sadar betapa semrawut pakaian yang aku kenakan, selembar kaos Tur Jeff Beck yang dibalut kemeja dengan kancing terbuka dan tidak sesuai, celana Chinos dengan noda saos pizza di dekat lutut, dan topi baseball — sungguh pakaian yang tidak mungkin dikenakan oleh putra berumur tiga puluh tahun yang mengunjungi ayahnya untuk pertama kalinya dalam dua tahun belakangan. Ditambah lagi aku tidak membawa apapun yang dapat dijadikan buah tangan untuk ayah. Pantas saja perawat tadi memandangku dengan jijik.
Ayahku berada di dalam kamarnya, dia sedang duduk di kursi dekat jendela yang terbuka dengan tangan di lututnya. Di atas meja di dekatnya terdapat pot bunga yang diisi dengan bunga - bunga indah berwarna kuning. Lantainya dibuat khusus dengan bahan lunak untuk mencegah agar pasien tidak terluka jika terjatuh.
Pada awalnya aku tidak menyadari bahwa lelaki yang duduk di dekat jendela adalah ayah. Dia telah mengecil, atau lebih tepatnya ‘mengerut’. Rambutnya kini lebih pendek dan seputih halaman rumah yang ditutupi salju. Pipinya mencekung, dan mungkin karena itulah bola matanya terlihat lebih besar dibanding dahulu. Tiga garis kerutan terlihat jelas di keningnya. Alis matanya sangat panjang dan tebal, dan daun telinganya lebih lancip daripada sebelumnya sampai terlihat seperti sayap kelelawar. Dari kejauhan dia tidak terlihat seperti manusia, malah dia lebih terlihat seperti makhluk lain, tikus atau tupai — pokoknya makhluk yang terlihat licik. Walau bagaimanapun dia adalah ayahku, atau paling tidak dia adalah versi hancur dari ayahku. Seingatku, ayah selalu terlihat kuat, dan bekerja keras. Introspeksi dan imaginasi merupakan hal yang asing baginya, tapi dia mempunyai aturan moralnya sendiri dan tujuan hidup yang jelas. Lelaki yang kini ada di hadapanku tidak lebih dari sepotong cangkang kepiting yang sudah kosong.
“ Tuan Kawana! ” teriak sang perawat. “ Tuan Kawana! Lihat siapa yang datang! Dia putramu yang datang dari Tokyo! ”
Ayah berbalik memandangku. Matanya yang tidak menunjukkan ekspresi sama sekali membuat aku teringat dengan dua sarang burung kosong yang menggantung di cabang pohon.
“ Hallo, ” sahutku.
Ayah tidak menjawab. Dia malah melihat lurus kepadaku seolah dia sedang membaca majalah yang ditulis dalam bahasa asing.
“ Makan malam akan dihidangkan jam setengah tujuh,” kata sang perawat kepadaku. “ Silahkan mengobrol dengan pasien sampai jam segitu. ”
Aku sedikit ragu - ragu ketika perawat telah meninggalkan ruangan. Pelan – pelan aku memberanikan diri untuk mendekati ayah, aku duduk di kursi di depannya. Mata ayah mengikuti semua gerakanku.
“ Bagaimana keadaan ayah? ” tanyaku.
“ Saya baik-baik saja, ” jawabnya dengan nada resmi.
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku memainkan kancing ketiga di kemejaku sambil mengalihkan perhatian pada pohon – pohon pinus di luar, lalu aku kembali memandangnya.
“ Kau datang dari Tokyo, ya? ” tanya ayah.
“ Ya, dari Tokyo. ”
“ Dengan kereta ekspress? ”
“ Ya, ” jawabku. “ Hanya sampai Tateyama. Setelah itu aku pindah ke kereta lokal sampai ke Chikura. ”
“ Kau datang untuk berenang di sini? ”
 “ Aku Tengo, Tengo Kawana. Putramu! ”
Kerutan di wajah ayah mulai menebal. “ Banyak orang berbohong karena mereka tidak mau membayar biaya langganan di NHK. ”
“ Ayah! ” teriakku padanya. Sudah sangat lama aku tidak  menyebut  kata  itu. “ Aku Tengo. Putramu. ”
“ Aku tidak punya anak, ” sahut ayah dengan gamblang.
“ Ayah tidak punya anak, ” ulangku.
Ayah hanya membalas dengan anggukan kepala kecil.
“ Jadi, siapa aku? ” tanyaku.
“ Kau bukan siapa - siapa, ” jawab ayah dengan gelengan kepala.
Aku menghembuskan napas dalam - dalam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Ayah juga tidak melanjutkan perkataannya. Kami duduk dengan diam, mencari - cari kata di dalam pikiran yang kusut. Hanya para jangkrik yang dapat bersuara dan bernyanyi dengan kencang.
Mungkin saja dia ingin mengatakan yang sebenarnya, pikirku. Ingatannya mungkin memang telah hancur, namun perkataannya mungkin saja benar.
“ Apa maksud ayah? ” tanyaku.
“ Kau bukan siapa - siapa, ” ulangnya tanpa menunjukkan  perasaan   apapun. “ Kau tidak pernah menjadi siapapun, dan tidak akan pernah menjadi siapapun. ”
Aku ingin segera bangkit dari kursi, pergi ke stasiun, dan segera kembali ke Tokyo sekarang juga. Tapi aku tidak dapat berdiri. Aku seperti pemuda yang berjalan seorang diri ke kota kucing. Penasaran dan ingin sebuah penjelasan. Tentu saja aku tahu ada bahaya di depanku. Tapi jika aku melepaskan kesempatan ini, maka aku tidak akan pernah tahu rahasia tentang diriku. Aku mulai menjalin kata - kata di kepala. Ini  adalah  pertanyaan  yang  dari  dulu  hendak  aku tanyakan  padanya, “ Maksud ayah, kau bukanlah ayahku? Dan tidak ada ikatan darah diantara kita, benar begitu? ”
“ Mencuri gelombang radio adalah sebuah kejahatan dan dapat dijerat dengan hukum,” jawab ayah dengan mata tertuju lurus pada mataku. “ Karena tidak ada bedanya dengan mencuri uang atau barang berharga lainnya. ”
“ Mungkin iya, ” aku memutuskan untuk mengikuti pembicaraannya.
“ Gelombang radio tidak jatuh dari langit dengan cuma - cuma seperti hujan atau salju, ” lanjutnya.
Aku menatap tangan ayah. Tangannya yang kecil dan sedikit gelap karena banyak bekerja di luar, berbaris dengan rapi di atas lututnya.
“ Ibu tidak meninggal karena sakit saat aku masih kecil, iya kan ? ” tanyaku dengan perlahan.
Ayah tidak menjawab. Ekspresi wajahnya juga tidak berubah, dan tangannya tidak bergerak sama sekali. Matanya masih berfokus padaku seolah sedang melihat sesuatu yang aneh.
“ Ibu meninggalkanku. Dia pergi dan meninggalkan kita berdua. Dia pergi bersama pria lain. Benar kan? ”
Ayah mengangguk. “ Mencuri gelombang radio adalah perbuatan yang tercela. Kau tidak boleh melakukan hal sesuka hatimu. ”
Dia memahami pertanyaanku dengan jelas. Hanya saja dia tidak mau menjawabnya secara langsung, pikirku.
“ Ayah, ” ujarku. “ Ayah mungkin bukanlah orang tua kandungku, tapi aku akan tetap memanggilmu ayah sementara ini karena aku tidak tahu lagi dengan apa aku harus memanggilmu selain dengan kata ayah. Jujur saja, aku tidak pernah menyukai ayah. Mungkin sepanjang hidupku aku telah membenci ayah. Ayah pasti telah mengetahui ini. Dan walaupun mungkin tidak ada ikatan darah di antara kita, aku tidak lagi punya alasan untuk membenci ayah. Mungkin aku tidak akan pernah menyukai ayah, tapi setidaknya aku ingin dapat lebih memahami ayah sekarang. Aku selalu ingin tahu kebenaran tentang siapa aku dan siapa orang tuaku yang sebenarnya. Hanya itu saja. Jika ayah ingin mengatakannya sekarang, aku akan berhenti membenci ayah. Malah, aku akan senang, karena aku tidak akan lagi mempunyai alasan untuk membenci ayah. ”
Dia masih menatapku dengan tatapan kosong, tapi entah bagaimana, aku merasa melihat ada cahaya kecil yang berkilau jauh di dalam matanya yang tampak seperti sarang burung kosong.
“ Aku memang bukan siapa - siapa, ” lanjutku. “ Ayah benar tentang itu. Aku bagaikan seseorang yang dibuang ke lautan pada malam hari, dan mengambang sendirian. Aku mencoba memanggil seseorang, namun tidak ada siapapun yang menyahut. Aku tidak punya hubungan dengan apapun. Satu - satunya orang yang dapat kuanggap sebagai keluarga, adalah ayah. Tapi ayah lebih memilih untuk menyembunyikan sebuah rahasia dariku. Sementara itu ingatan ayah semakin memburuk, dan sedikit demi sedikit ingatan tentang diriku juga ikut terhapus. Aku bukanlah siapa - siapa, dan tidak akan pernah menjadi siapapun. Ayah juga benar tentang itu.”
“ Pengetahuan adalah harta yang paling berharga, ” jawab ayah dengan nada datar, namun suaranya terdengar lebih pelan daripada sebelumnya, seolah seseorang telah menurunkan volume suaranya. “ Pengetahuan adalah harta yang harus diraih sebanyak - banyaknya, dan digunakan dengan sangat hati - hati. Dan karena alasan itu pulalah NHK membutuhkan biaya langganan dari anda dan — “
Aku dengan cepat menginterupsinya. “ Orang seperti apa ibu? Kemana dia pergi? Apa yang terjadi dengannya? ”
Ayah segera bungkam, dan bibirnya tertutup rapat.
Aku lanjut bertanya dengan nada yang lebih halus, “ Ada sebuah ingatan yang selalu terlintas di benakku. Kurasa itu adalah ingatan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Saat itu aku masih berumur satu setengah tahun, dan ibu berdiri di sampingku. Dia dan seorang pemuda sedang berpelukan. Lelaki tersebut bukan ayah. Aku tidak tahu siapa dia, tapi jelas dia bukan ayah. ”
Ayah tetap bungkam, namun matanya jelas sedang melihat sesuatu — sesuatu yang tidak ada di ruangan ini.
“ Bisakah kau membacakan sesuatu untuk ayah?, ” tanyanya dengan nada resmi setelah diam agak lama. “ Mata ayah telah sangat memburuk sampai - sampai ayah tidak lagi dapat membaca. Ada buku di dalam rak di sana. Pilih yang mana saja. ”
Aku berdiri dan melihat - lihat buku yang ada di sana. Kebanyakan buku - buku di sana adalah novel, dan buku sejarah yang berlatar belakang zaman ketika masih ada para samurai. Aku tidak ingin membacakan buku dengan bahasa kuno kepada ayah saat ini.
“ Jika ayah mau, aku akan membacakan cerita tentang kota kucing, ” ujarku.  “ Aku membawa bukunya. ”
 “ Cerita tentang kota kucing, ” ulang ayah. “ Tolong bacakan itu untuk ayah, jika kau tidak keberatan. ”
Aku melihat jam tangan. “ Tidak sama sekali. Masih ada banyak waktu sebelum keretaku berangkat. Ini adalah kisah yang aneh. Aku tidak tahu apa ayah akan menyukainya atau tidak. ”
Aku mengeluarkan bukuku dan mulai membaca dengan pelan. Suaraku terdengar jelas. Aku memandang wajah ayah di sela-sela jeda membaca, namun wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun. Aku tidak tahu apakah dia menyukai cerita ini atau tidak.
“ Apakah ada TV di kota kucing ? ” tanya ayah ketika aku selesai membaca.
“ Cerita ini ditulis di Jerman sekitar tahun 1930-an. Mereka belum menciptakan TV saat itu. Tapi mereka punya radio. ”
“ Apakah para kucing yang membangun kota tersebut? Atau apakah manusia yang membangunnya sebelum para kucing datang dan tinggal di sana? ” tanya ayah, seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri.
“ Entahlah, ” jawabku. “ Tapi sepertinya dibangun oleh manusia. Mungkin entah karena apa manusia meninggalkan kota tersebut — mungkin mereka semua mati karena wabah atau sejenisnya — kemudian para kucing datang dan tinggal di sana. ”
Ayah mengangguk – anggukkan kepala. “ Ketika kehampaan tercipta, harus ada sesuatu yang mengisinya. Itulah yang dilakukan semua orang. ”
“ Benarkah? ”
 “Ya. ”
“ Kalau begitu, kehampaan apa yang ayah isi? ”
Ayah terlihat kesal. Kemudian dia berkata dengan nada sarkasme, “Oh, kau tidak tahu?”
“ Aku tidak tahu, ” jawabku.
Ayah menghembuskan napas dengan keras. Satu alisnya sedikit terangkat. “ Jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan. ”
Aku menyipitkan mata, mencoba membaca ekspresi ayah. Ayah tidak pernah sama sekali berkata dengan nada dan bahasa seaneh ini. Dia selalu berbicara secara konkrit dan praktis.
“ Oh, aku mengerti. Ayah mengisi sebuah kehampaan, ” ujarku. “ Baiklah, kalau begitu, siapa yang akan mengisi kehampaan yang ayah tinggalkan? ”
“ Kau, ” kata ayah. Jari telunjuknya menunjuk lurus ke arahku. “ Bukankah itu sudah jelas? Aku telah mengisi kehampaan yang ditinggalkan seseorang, jadi kau akan mengisi kehampaan yang kubuat. ”
“ Seperti ketika para kucing mengisi kota setelah ditinggalkan manusia. ”
“ Benar, ” sahut ayah. Kemudian dia menatap jari telunjuknya sendiri yang menunjuk padaku dengan tatapan kosong seolah melihat benda misterius.
Aku menghela napas. “ Jadi, siapa ayahku yang sebenarnya? ”
“ Hanya ruang hampa. Ibumu menyatukan tubuhnya dengan sebuah kehampaan dan melahirkan dirimu. Dan aku mengisi kehampaan itu. ”
Setelah berkata sebanyak itu, ayah menutup mata dan mulutnya rapat-rapat.
“ Dan ayah membesarkanku setelah ibu pergi. Apa itu maksud ayah? ”
Setelah berdeham – deham yang tampak disengaja, ayah lanjut berkata, seolah mencoba menjelaskan sesuatu yang sederhana pada anak yang berpikir lambat, “ Karena itulah kukatakan tadi, jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan.”
Aku menaruh tangan di atas lutut dan menatap lurus wajahnya. Dia bukan cangkang yang kosong, pikirku. Dia manusia utuh dengan daging dan darah, dan jiwa yang keras. Dia terpaksa harus hidup dengan kehampaan yang perlahan membesar di dalam dirinya. Pada akhirnya nanti, kehampaan tersebut akan menghisap semua ingatan yang tersisa dalam dirinya. Hanya soal waktu saja sampai hal itu terjadi.
Aku berpamitan dengan ayah tepat sebelum jam enam sore. Sambil menunggu taxi, kami duduk berseberangan di dekat jendela tanpa berkata apa - apa. Masih banyak yang ingin aku tanyakan, tapi aku sadar bahwa aku tidak akan mendapatkan jawaban apapun karena aku melihat bibir ayah telah tertutup rapat. Seperti yang telah dikatakannya, tadi, “ Jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan. ”
Ketika hampir tiba waktunya untuk berangkat, aku berkata, “ Banyak yang ayah katakan padaku hari ini. Semuanya dikatakan secara tidak langsung dan kadang sulit untuk dimengerti, tapi mungkin ayah mengatakan dengan sejujur - jujurnya. Terima kasih. ”
Ayah masih saja bungkam, matanya terpaku melihat pemandangan luas, seperti seorang prajurit yang sedang berjaga dan tidak ingin melewatkan sinyal api yang dikirimkan oleh suku liar di kejauhan. Aku mencoba melihat ke arah yang sedang dilihat ayah, tapi di sana hanya ada deretan pohon pinus yang dibayangi oleh cahaya matahari yang mulai terbenam.
 “ Maaf karena telah berkata seperti itu, tapi memang tidak ada yang dapat aku lakukan untuk ayah selain berharap proses penghampaan di dalam diri ayah tidak menyakitkan. Aku yakin ayah telah banyak menderita. Ayah juga pasti sangat mencintai ibu. Tapi dia sudah pergi, dan kepergiannya pasti menyakitkan bagi ayah —seperti hidup di kota kosong. Namun ayah tetap membesarkanku di kota kosong itu. ”
Sekumpulan burung gagak terbang melintasi cakrawala, dan menggaok – gaok di kejauhan. Aku pun berdiri, berjalan mendekati ayah, dan menaruh kedua tanganku di pundak ayah. “ Selamat tinggal, ayah. Nanti aku akan datang lagi. ”
Dengan tangan berada di gagang pintu, aku berbalik untuk terakhir kalinya dan terkejut mendapati ada air mata di kedua pipi ayah. Air matanya bersinar dengan warna keperakan. Air mata itu perlahan membasahi pipinya dan jatuh ke pangkuannya. Aku membuka pintu dan meninggalkan kamar ayah. Aku naik taksi menuju stasiun dan menumpangi kereta untuk kembali ke dunia asalku.
[selesai]
05.53 | 0 komentar | Read More
 
berita unik