Translate

Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label -prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label -prosa. Tampilkan semua postingan

cerita rakyat bawang merah dan bawanfg putih

Written By iqbal_editing on Jumat, 28 Oktober 2016 | 23.26

Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu Bawang merah, supaya Bawang putih tidak kesepian lagi.

Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah Bawang putih menikah dengan ibu bawang merah. Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.

“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.

“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.

“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.
23.26 | 0 komentar | Read More

cerita rakyat sumatera selatan si pahit lidah

Written By iqbal_editing on Rabu, 28 September 2016 | 23.10

ersebutlah kisah seorang pangeran dari daerah Sumidang bernama Serunting. Anak keturunan raksasa bernama Putri Tenggang ini, di kabarkan berseteru dengan iparnya yang bernama Aria Tebing. Sebab permusuhan ini adalah rasa iri-hati Serunting terhadap Aria Tebing.
Serunting memiliki sebuah ladang,begitu pula dengan Aria Tebing.Letaknya bersebelahan dan hanya dipisahkan dengan pepohonan.Di bawah pepohonan itu tumbuhlah tanaman Cendawan atau Jamur.Namun,Cendawan yang tumbuh itu menghasilkan hal yang jauh berbeda.Cendawan yang menghadap kearah Ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas.Sedangkan Cendawan yang menghadap kearah Ladang milik Serunting tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.Hal ini menimbulkan rasa iri pada hati Serunting “Mengapa Cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna?Sedangkan yang menghadap kearah ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas.Ini pasti perbuatan Aria Tebing”.
Keesokan harinya,Serunting menghadap Aria Tebing dengan perasaan dendam dan marah.”Hai Aria Tebing,kamu telah brbuat curang kepadaku.Aku tidak terima cendawan yang tumbuh di pepohonan pembatas itu,yang menghadap kearah ladangmu tumbuh menjadi logam emas,sedangkan cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.Ini pasti perbuatan curangmu bukan?!”ucap Serunting kepada Aria Tebing.”Tidak,tidak,Aku tak pernah berbuat curang kepadamu”ujar Aria Tebing membela diri.”Sudahlah,kamu jangan berbohong!dua hari lagi,kita akan berduel,bersiaplah kamu Aria Tebing”ucap Serunting menantang Aria Tebing.Setelah itu,Serunting meninggalkannya.
Aria Tebing kebingungan.Ia mencari ide agar dapat mengalahkan Serunting.Ia tahu bahwa Serunting itu adalah orang yang sakti “Bagaimana aku bisa mengalahkan Serunting?Serunting itu orang sakti,tak mungkin aku bisa mengalahkannya”.Setelah lama berpikir,akhirnya Aria Tebing mendapat ide.Ia membujuk kakaknya (istri dari Serunting) untuk memberitahukan rahasia kelemahan Serunting “Wahai kakakku,beritahukanlah rahasia kelemahan suamimu,Serunting,Beritahukanlah!Aku dalam keadaan terdesak,suamimu akan menantangku untuk bertanding.Kalau aku kalah,pasti aku akan terbunuh”.”Maaf adikku,aku tak akan mau mengkhianati suamiku,aku tidak mau memberitahukannya”ucap istri dari Serunting.
“Tetapi,bila kau tidak memberitahukannya,nanti aku dibunuh olehnya,aku tidak akan membunuhnya”bujuk Aria Tebing.”Baiklah,akan kuberitahukan.Kesaktian Serunting berada pada tumbuhan ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin”jawab Istri Serunting memberitahukan kesaktian suaminya.”Terima Kasih,Kak,kau telah menyelamatkanku”ucap Aria Tebing berterima kasih.
Keesokan harinya,Serunting menemui Aria Tebing untuk mengadu kekuatan.Sebelum bertanding,Aria menancapkan tombaknya ke ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin.Serunting pun terluka parah.
Merasa dikhianati istrinya,Serunting pergi mengembara.Saat ia sampai di Gunung Siguntang,ia berhenti dan bertapa disana.Saat sedang bertapa,ia mendengar suara bisikan gaib “Hai Serunting,mendapatkan kekuatan Gaib?Kalau kamu mau,aku akan menurunkan ilmu itu kepadamu”.Suara itu tak lain adalah suara Hyang Maha Meru.Serunting pun menjawab dan bertanya “Baiklah,wahai Hyang Mahameru,aku mau kekuatan itu”.”Tapi,ada satu persyaratan,Kamu harus bertapa dibawah pohon bambu,setelah tubuhmu ditutupi oleh daun-daun dari pohon bambu itu,kamu berhasil mendapatkan kekuatan itu”ucap Hyang Mahameru.”Baiklah,aku menerima persyaratan itu”ucap Serunting.
Serunting pun bertapa dibawah pohon bambu.Tak terasa,dua tahun telah berlalu.Serunting masih bertapa,belum beranjak dari tempatnya bertapa,yaitu di pohon bambu.Daun-daun dari pohon bambu sudah menutupinya.Serunting pun sadar dan beranjak dari tempat itu.Kini kesaktian yang dimilikinya adalah setiap perkataan yang keluar dari mulutnya akan menjadi kenyataan dan kutukan.
Pada suatu hari,ia berniat ingin pulang ke kampung halamannya,Sumidang.Dalam perjalanannya,ia mengutuk semua pohon tebu menjadi batu “Hai pohon tebu,jadilah Batu”.Dalam sekejap,pohon-pohon tebu tersebut menjadi batu.Di sepanjang tepi Sungai Jambi,ia mengutuk semua orang yang ia jumpai menjadi batu.Serunting menjadi orang yang angkuh dan sombong.Oleh karena itu,orang-orang menjulukinya dengan nama “Si Pahit Lidah”
Saat ia tiba di sebuah Bukit yang bernama Bukit Serut,ia mulai menyadari kesalahannya.Ia mengubah Bukit Serut yang merupakan bukit yang gundul menjadi hutan kayu “Wahai Bukit Serut yang gundul,jadilah kau menjadi bukit yang ditumbuhi hutan kayu!”.Dalam sekejap,bukit itu berubah menjadi hutan kayu.Orang-orang berterima kasih pada Serunting karena telah mengubah Bukit yang gundul itu menjadi Hutan Kayu karena mendapatkan hasil kayu yang melimpah.
Saat Serunting tiba di sebuah desa yang bernama Desa Karang Agung,ia melihat sebuah gubuk tua.Di gubuk itu tinggalah sepasang Suami Istri yang sudah tua renta.Mereka hidup sangat miskin.Meskipun mereka sudah tua,mereka bekerja keras mengangkut kayu bakar.Merasa kasihan,Serunting mendatangi sepasang suami istri tua renta itu.Serunting berpura-pura meminta seteguk air minum.
Oleh sang nenek,Serunting diberi seteguk air minum.Karena kebaikannya,Serunting akan mengabulkan apa saja yang mereka minta.Mereka hanya ingin dikaruniai seorang anak untuk membantu mereka bekerja.Ketika melihat ada sehelai rambut yang rontok menempel pada baju sang nenek,Serunting mengambilnya.Serunting mengubah rambut itu menjadi seorang bayi “Wahai rambut,jadilah engkau seorang bayi!”.
Pasangan tua itu berterima kasih kepada Serunting “Terima kasih nak,semoga engkau diberkahi Tuhan”.Serunting bahagia bisa membantu orang lain.Meskipun kalimat yang keluar dari mulutnya berbuah manis,orang orang masih menjulukinya dengan nama Si Pahit Lidah.Serunting melanjutkan perjalanannya ke Sumidang.Di sisa perjalanannya,Serunting belajar untuk membantu orang lain dan berusaha menolong orang yang kesulitan.
dongeng cerita rakyat sumatera selatan kumpulan cerita rakyat sumatera selatan cerita rakyat lampung dalam bahasa lampung cerita rakyat sumatra selatan Cerita rakyat sumsel cerita rakyat daerah sumatera selatan cerita rakyat dari sumatera selatan cerita rakyat jawa tengah bergambar cerita dari sumatera selatan legenda sumatera selatan cerita rakyat dari sumatera utara dan sumatera selatan cerita rakyat dari sumatra selatan cerita sumatra selatan legenda dari sumatra selatan cerita legenda sumsel dongeng dari sumatera selatan cerita daerah sumatera selatan cerita rakyat disumsel legenda daerah sumatera selatan cerita rakyat asal sumatera selatan
23.10 | 0 komentar | Read More

KUMPULAN PUISI KAHLIL GIBRAN

Written By iqbal_editing on Rabu, 21 September 2016 | 19.55

Kisahku


Dengarkan kisahku… .
Dengarkan,
tetapi jangan menaruh belas kasihan padaku:
kerana belas kasihan menyebabkan kelemahan, padahal aku masih tegar dalam penderitaanku..
Jika kita mencintai,
cinta kita bukan dari diri kita, juga bukan untuk diri kita.
Jika kita bergembira,
kegembiraan kita bukan berada dalam diri kita, tapi dalam Hidup itu sendiri.
Jika kita menderita,
kesakitan kita tidak terletak pada luka kita, tapi dalam hati nurani alam.
Jangan kau anggap bahwa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama atau rayuan yang terus menerus.
Cinta adalah tunas pesona jiwa,
dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat,
ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan dari generasi ke generasi.
Wanita yang menghiasi tingkah lakunya dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran,
yang terbuka namun rahsia;
ia hanya dapat difahami melalui cinta,
hanya dapat disentuh dengan kebaikan;
dan ketika kita mencoba untuk menggambarkannya ia menghilang bagai segumpal uap

Pandangan Pertama


Itulah saat yang memisahkan aroma kehidupan dari kesedarannya.
Itulah percikan api pertama yang menyalakan wilayah-wilayah jiwa.
Itulah nada magis pertama yang dipetik dari dawai-dawai perak hati manusia.
Itulah saat sekilas yang menyampaikan pada telinga jiwa tentang risalah hari-
hari yang telah berlalu dan mengungkapkan karya kesadaran yang dilakukan
malam, menjadikan mata jernih melihat kenikmatan di dunia dan menjadikan
misteri-misteri keabadian di dunia ini hadir.

Itulah benih yang ditaburan oleh Ishtar; dewi cinta, dari suatu tempat yang
tinggi.
Mata mereka menaburkan benih di dalam ladang hati, perasaan
memeliharanya, dan jiwa membawanya kepada buah-buahan.
Pandangan pertama kekasih adalah seperti roh yang bergerak di permukaan
air mengalir menuju syurga dan bumi. Pandangan pertama dari sahabat
kehidupan menggemakan kata-kata Tuhan, "Jadilah, maka terjadilah ia"


Nyanyian Sukma



Di dasar relung jiwaku Bergema nyanyian tanpa kata;
sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku,

Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit ;
ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yg nipis kainnya,
dan mengalirkan sayang, Namun bukan menyentuh bibirku.

Betapa dapat aku mendesahkannya?
Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
Kepada siapa aku akan menyanyikannya?

Dia tersimpan dalam relung sukmaku
Kerna aku risau, dia akan terhempas
Di telinga pendengaran yang keras.
Pabila kutatap penglihatan batinku

Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
Dan pabila kusentuh hujung jemariku
Terasa getaran kehadirannya.
Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya,
Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya bintang-bintang bergemerlapan.

Air mataku menandai sendu
Bagai titik-titik embun syahdu
Yang membongkarkan rahsia mawar layu.
Lagu itu digubah oleh renungan,
Dan dikumandangkan oleh kesunyian,
Dan disingkiri oleh kebisingan,Dan dilipat oleh kebenaran,
Dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan,
Dan difahami oleh cinta,
Dan disembunyikan oleh kesedaran siang
Dan dinyanyikan oleh sukma malam.

Lagu itu lagu kasih-sayang,
Gerangan ‘Cain’ atau ‘Esau’ manakah Yang mampu membawakannya berkumandang?
Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:
Suara manakah yang dapat menangkapnya?
Kidung itu tersembunyi bagai rahasia perawan suci,
Getar nada mana yang mampu menggoyahnya?
Siapa berani menyatukan debur ombak samudra dengan kicau bening burung malam?
Siapa yang berani membandingkan deru alam, Dengan desah bayi yang nyenyak di buaian?
Siapa berani memecah sunyi
Dan lantang menuturkan bisikan sanubari
Yang hanya terungkap oleh hati?
Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan?

Aku Bicara Perihal Cinta



Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
19.55 | 0 komentar | Read More

ciri-ciri parafrasa

Written By iqbal_editing on Kamis, 04 Agustus 2016 | 02.09

Ciri Parafrasa:
1. bentuk tuturan berbeda
2. makna tuturan sama
3. subtansi tidak berubah
4. bahasa/cara penyampaian berbeda
02.09 | 0 komentar | Read More
 
berita unik