Kritikus sastra
Indonesia berkebangsaan Belanda A. Teeuw menggolongkannya ke dalam
, yaitu generasi
sastrawan Indonesia di era 1950-an yang sangat peduli dengan aspek regional
dalam karya sastra mereka. Generasi sastrawan ini adalah generasi pertama
sastrawan Indonesia yang terdidik dalam sejarah sebagai warga negara Indonesia
dalam bahasa dan budaya Indonesia. Mereka tetap menjaga daerah mereka sebagai “rumah”
mereka sambil pada saat yang sama menjadi orang Indonesia. Aspek-aspek regional
dapat ditelusuri di dalam karya-karya mereka dalam pengertian “daerah”, sastra
untuk wilayah daerah. [need citation] Walaupun Paus Sastra Indonesia H.B.Jassin
menggolongkan Gerson Poyk ke dalam Angkatan 66, tapi Ernst Kratz, menggolongkan
Gerson Poyk ke Angkatan 1950-an karena karya-karyanya telah muncul pada tahun
1950-an.
Lahir di
Namodale, Ba’a, pulau Rote pada 16 Juni 1931. Ibunya bernama Yuliana Manu dari
klan Nalefeo di Thie. Ayahnya Johanes Laurens Poyk seorang mantan tentara Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang
pernah juga menulis artikel dan puisi.
Walaupun Gerson dilahirkan
di Rote, ia tidak pernah dibesarkan di Rote. Ia lahir saat ayahnya
bekerja sebagai mantri Belanda di Ba'a. Karena krisis ekonomi yang sebut
orang saat itu zaman meleset (
malaise) maka ayahnya
diberhentikan sementara. Sang ayah kemudian memboyong istrinya, Gerson,
dan Dina kakak perempuan Gerson dari perkawinan ibunya sebelumnya ke
kampung ayahnya di Ringgou. Di sana mereka bertani menanam tembakau
untuk dijual. Tak berapa lama, ayahnya dipekerjakan lagi, sebagai mantri
di Bilba, di Rote Timur, kemudian di Pulau Semau, di Langgaliru di
Sumba dan kemudian ke Bajawa.
Hanya sebentar ia dibawa ke Rote setelah sebuah kesalahan membuat
ayahnya dipecat sebagai pegawai Belanda di Bajawa. Masa kecilnya lebih
banyak dihabiskan di beberapa tempat Flores, terutama di Ruteng,
kemudian ia mengikuti ayahnya ke Alor, bersekolah di SoE dan Surabaya
dan memulai karir kerjanya sebagai guru di Ternate. Inilah yang juga
membentuk
dirinya dan terpancar dalam karya-karyanya. Kehidupan keluarganya yang
berpindah-pindah dan naik turun karir ayahnya serta kehidupan
keluarganya terangkum apik dalam tragedy dan komedi karya-karyanya.
Dalam tulisannya
Nostalgia Flobamora ia menceritkan dengan apik
kenangan masa kecil dan masa remajanya sampai ia bersekolah di Surabaya.
Cara berceritanya lugas dan enak, kadang kita dibuat tertawa, kadang
harus menahan napas bahkan menitikkan air mata.
Ayah dan Ibu Gerson
Darah pertualangan rupanya turun dari ayahnya. Ayahnya memasuki sekolah
"angka loro" di Rote namun sebelum menamatkan sekolahnya ia sudah ingin
merantau. Kakek dari Gerson akhirnya menjual beberapa ekor kambing untuk
mengirim ayah Gerson ke Kupang. Di Kupang ia tinggal bersama guru Lanu,
yang juga berasal dari kampung ayahnya. Karena kakeknya tak mampu
mengirim uang tiap bulan maka ayahnya disebut sebagai "anak piara" dari
keluarga Lanu. Gerson menulis:
"Biasanya anak yang dipiara oleh orang Rote yang bergaji,
bekerja serabutan mulai dari mencari kayu bakar, memikul air mandi dan minum,
mencuci piring, momong anak majikan dan sebagainya. Imbalannya adalah makan,
pakai dan tidur gratis dan di atas segalanya, anak piara itu dimasukkan ke
sekolah. Itulah cara penduduk sebuah pulau yang mayoritas penduduknya tidak
punya uang kontan, memajukan generasi mudanya."
Belum sempat rampung pendidikan ayahnya, seorang guru dari Rote bernama
guru They pindah ke Takalar dan mengajak serta ayahnya yang saat itu
duduk di kelas terakhir sekolah gubernemen atau sekolah 'angka loro". Di
Takalar tugas ayahnya adalah membantu urusan rumah tangga sang guru
sambil bersekolah. "Ia hars berlari pulang ke rumah untuk masak nasi,
sayur dan ikan sehingga guru They pulang, makanan hangat-hangat sudah
tersedia," kenang Gerson akan cerita ayahnya.

Setelah
tamat ayahnya langsung mendapatkan pekerjaans sebagai kepala halte
stasiun kereta api yang menghubungkan Makassar dan Takalar, tapi
kemudian ia masuk Sekolah Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Setelah
menamatkan sekolah ia ditugaskan di atas Kapal Perang Sumba. Namun
ayahnya di pecat karena suka berkelahi. Setelah itu ia bekerja lagi di
pabrik binatu besar milik seorang Belanda. Lagi-lagi ia dipecat lantaran
menghanguskan pakaian putih-putih sang meneer.
Ayah Gerson kemudian pulang ke Rote. Tak lama kemudian ia mendapatkan pekerjaan sebagai mantri rumah sakit (
verpleger)
dan menikah dengan seorang perempuan Rote. Namun karena keduanya tidak
mempunyai anak, sang istri mengijinkan ayah Gerson menikah lagi.
Kemudian ayah Gerson menikah dengan ibu Gerson yang sebelumnya menikah
dengan seorang raja Thie. Dalam
Nostalgia Flobamora ia menulis:
"Setelah bercerai dengannya, ayahku
kawin dengan ibuku dan lahirlah aku, pada suatu subuh tanggal 16 Juni
1931, di sebuah rumah di tepi pantai, tidak jauh dari mercusuar
satu-satunya di pulau Rote."
Suami pertama ibu Gerson adalah seorang raja dari kerajaan Thie yang
dibuang oleh Belanda ke Sumbawa dan Flores, karena terlibat dalam perang
dengan kerajaan tetangga Dengka. Sang raja itu kemudian menikah lagi di
tempat pembuangannya walaupun dari perkawinan mereka telah lahir dua
orang anak, Benjamin B. Messakh dan Mariana Messakh. Setelah ditinggal
suaminya, ibu Gerson menikah lagi dengan raja berikutnya bernama Thobias
Messakh, dan melahirkan dua orang anak yaitu Dina dan Benyamin. Raja
itu meninggal tiba-tiba, sehingga ibu Gerson akhirnya menikah dengan
ayah Gerson. Dari perkawinan itu lahirlah Gerson dan adik perempuannya.
“Di pulau Rote, tepatnya di Nusak (Kerajaan) Ti ada empat saudara tiriku
yang memakai nama marga (fam) Messakh. Si sulung bernama Benjamin B. Messakh,
nomor dua bernama Mariana Messakh, yang ketiga bernama Dina Messakh dan keempat
bernama Benyamin Messakh. Nenekku dari ibu memang dari keluarga Messakh, kawin
dengan ayah ibuku dari keluarga Manu yang tergabung dalam leo (suku-suku)
Nalefeo yang pada gilirannya sub subsuku Nalefeo masih berkerabat dengan
suku-suku Ndanafeo, Todafeo dan Mesafeo. Semua leo tersebut menurut adat Rote
menyediakan isteri-isteri bagi para raja di kerajaan Ti (ejaan Belanda Thie).
Aku dilahirkan di pulau Rote seperti halnya keempat kakakku dan
adikku lahir di pulau Semau, sebuah kecil di depan teluk Kupang. Semua itu aku
dengar dari ibuku. Ibuku juga bercerita bahwa kakekku dari pihak ayah adalah
seorang temukung besar kepala
beberapa desa yang terkenal karena memperoleh beberapa bintang dari pemerintah
karena jasanya selama tiga puluh tahun mengumpulkan pajak dan satu sen pun
tidak dikorup”.
Masa Kecil di Bajawa
Gerson memulai
pendidikan formalnya di HIS kemudian dilanjutkan SD di Bajawa. Tentang Bajawa ia menulis:
"Bajawa,
sebuahkota kecil di Kabupaten Ngada (Pulau Flores) adalah kota
kesadaran pertama seorang anak kecil yang lahir di pulau Rote."
"Kota Bajawa di masa kecilku terdiri dari sebuah tangsi
polisi, sebuah rumahsakit, sebuah Sekolah Rakyat, sebuah Gereja Katolik yang
indah dan besar sekaligus rumah-rumah untuk pastor dan suster dan beberapa
rumah pembesar pemerintah serta beberapa toko
milik orang Tionghoa dan sebuah pasar terbuka (lapangan).
Lapangan rumputnya hijau subur terpotong rapi, mungkin oleh orang-orang
strapan (narapidana). Aku tak ingat di mana letak penjara, kecuali jalan
menuju kuburan
karena rumah dinas kami nomor dua dari pojok jalanan menuju tempat itu."
"Ayahku seorang mantri yang mengepalai rumah sakit di
kabupaten itu. Masa itu dokter tinggal di ibukota keresidenan (di Endeh) dan
sekali-sekali ia datang mengunjungi rumahsakit yang dipimpin oleh ayahku."

Keluarganya kemudian pindah ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, dimana ia menamatkan
SD di sana tahun 1945. Keluarga kemudian pindah lagi ke Maumere, Kabupaten
Sikka. Sejumlah karya sastranya mengandung unsur masa kecilnya ini antara lain
Pati Wolo (1988) yang secara ironi menceritakan
sebuah mahluk berkaki satu dan berkuku seperti kuda yang merupakan legenda yang
akrab di telinganya ketika ia tinggal di Manggarai.
Gerson memang piawai menceritakan masa kecilnya. Ia menyebut "naluri
melarikan diri" atau "naluri menyelamatkan diri" adalah bawaan masa
kecilnya yang tak pernah hilang. Di masa kecil, naluri ini tidak membawa
akibat, tetapi ketika dewas naluri melarikan diri ini membuatnya
membuatnya menemui serba kesulitan dan kelucuan hidup. "Penuh tragedy
dan komik", katanya.
Tentang pertama kali masuk sekolah, misalnya, ia menulis:
"Suatu pagi aku berontak mati-matian karena ibu ingin
membawaku ke sekolah. Ibu menggendong aku di pinggangnya dan aku menangis
terus, menangis terus meronta-ronta sampai ke sekolah... Sampai disana aku berhenti menangis
karena aku melihat banyak anak-anak sebayaku.
Aku turun dari pinggang ibu dan guru menyambutku, mengangkat
tanganku lewat kepala, menyuruh aku meraba telingaku. Sudah itu aku didaftarkan
sebagai murid kelas satu tetapi boleh pulang. Sekolah baru mulai besoknya. Aku
berkeliling sekolah itu. Aku melihat ada beberapa kantong terbuat dari anyaman
daun pandan, berisi sesuatu, tergantung
di tembok sekolah, di pohon dan di tiang lonceng.
...aku memanjat tiang lonceng tetapi tiba-tiba aku memanjat tiang
lonceng untuk melihat apa yang berada dalam kresek anyaman daun pandan itu. Aku
merogoh salah satu kantong dan ternyata isinya jagung kering goreng yang
kerasnya seperti batu. Tetapi rahang anak Bajawa dapat menghancurkannya.
Anak-anak yang membawa jagung goreng kering (tanpa minyak) itu datang dari
kampung yang jauh. Makan pagi mereka dari jagung, ubi dan sebagainya, begitu
juga makan siang mereka. Tak ada satu pun yang membawa uang jajan.
Pulang ke rumah, entah bagaimana, aku malas ke sekolah.
Ibuku membongkar aku dari keasyikan nyenyak pagi, menyuruh aku mandi tetapi aku
menolak semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya menolak ke sekolah. Setelah
menakut-nakuti aku dengan oto-pos (mobil pos) dan tuan inspektur Belanda,
barulah aku mau berjalan bersama ibu ke sekolah. Anak-anak kelas satu telah duduk
tenang-tenang di kelas. Ibu langsung mengantarkan aku ke dalam kelas lalu guru
mendudukkan aku di bangku paling depan.
Begitu ibuku keluar, sang guru (Tuan Riberu) yang kulitnya
hitam membelalakkan matanya kepadaku lalu menggerutu. Jantungku berdebur
ketakutan tetapi mataku melihat ke jendela dan ada sedikit rencana kilat muncul
di benakku. Kalau dia menyeringai dan bangun mendekatiku, bangun dari kursinya
dan menerkam aku maka aku akan lari ke jendela dan melompat lalu lari ke rumah
dan takkan kembali lagi selama-lamanya, selama-lamanya! Hanya itu yang kuingat
benar ketika masuk sekolah di Bajawa."
Konteks sosial dari karya-karyanya juga diuraikan dengan gamblang. Ia
misalnya menggambarkan stratifikasi sosial masyarakat Hindia Belanda di
Flores secara deskriptif jernih menurut kacamata seorang bocah:
"Di Bajawa, seperti juga di semua kabupaten di Flores,
kontrolir dan aspiran kontrolir, kemudian inspektur, semuanya Belanda. Di bawah
mereka seperti klerk dan Bestuur Assisten adalah orang Rote. Kepala tangsi
polisi juga seorang yang berasal dari Rote. Dia pamanku, To’o Hormu. Celakanya, opas-opasnya pun
berasala dari Rote. Pakaian opas seperti polisi, memakai kelewang panjang dan
topi bambu. Kumisnya terputar bagaikan tanduk kecil di bibirnya."
Di Flores karir ayahnya melejit dan diangkat menjadi
hoofdt mantri,
namun sebuah tragedy menimpa. Ayahnya berselingkuh dengan seorang
perempuan Jawa, istri seorang polisi. Saudara perempuan ayahnya sendiri,
yang adalah istri seorang kepala tangsi polisi di Bajawa, melaporkan
hal itu dan ayahnya dipecat. Ibu Gerson sangat marah kepada ipar
perempuannya yang melaporkan suaminya sehingga ia menggigit telinga
iparnya itu. Gerson tak tahu apa-apa soal kejadian itu, ia hanya tahu
ketika mereka telah keluar dari rumah dinas mereka dan menumpang pada
kerabat di kota Ende.
"Pada suatu malam aku dan adikku dibangunkan lalu dibawa ke
mobil dan begitu bangun tidur aku, adikku dan ibuku telah berada di sebuah
rumah berlantai tanah dikota pelabuhan Endeh. Ayahku tidak kelihatan ketika aku
bangun pagi. Rumah itu terletak di seberang jalan dari rumah Bung Karno, di
kampung Tiang Radio... Tidak lama kemudian ayahku kembali, membawa uang logam cukup banyak dan
ibu belanja makanan yang cukup enak seperti halnya di Bajawa.
Rumah itu milik seorang bernama Manafe, asal Rote. Begitu
ayahku muncul ia membawa kami ke sebuah rumah di samping katedral, di kaki
bukit kecil, di sebelah kuburan Tionghoa. Malam pertama telingaku disengat
kalajengking sehingga aku terkaing-kaing menangis memecah kesunyian.
Kemudian ayah menggali sebidang tanah lereng, meratakannya
dan membangun sebuah gubuk. Maka kami lega memiliki rumah sendiri, tanpa
menumpang di rumah orang. Semuanya dibuat oleh tangan ayah. Aku ingat, ia juga
membuat sebuah kursi malas lalu duduklah dia sambil makan sirih.
Kemudian ayah menghilang lagi. Aku dengar cerita ibu tentang
pekerjaan ayah. Pekerjaan baru. Ayah tidak lagi menjadi Hoofd Mantri. Ayah
mengikuti Tuan Lauwoie, seorang pembela perkara."
Hidup berubah begitu cepat. Dari anak pegawai menjadi anak pembela
perkara amatiran. Namun Gerson ingat bahwa setiap hari ia bisa makan. Hanya satu kali,
ingatnya bahwa ia dan saudara-suadaranya tidur malam setelah mengunyah cuma kue bendera.
"Aku masih ingat, uang yang ditinggalkan ayah terbatas
sehingga pada suatu malam ibu memanggil adikku dan aku untuk makan malam. Di
sebuah dulang tersedia beberapa potong kue bendera dan teh manis. Kami mengunyah
kue itu lalu minum teh manis dan tidur lelap karena lelah bermain sehari
suntuk. Sungguh, sebuah kenangan yang halus mengiris jiwaku."
Di Endeh, Gerson masuk sekolah Protestan, dan seingatnya ia tidak pernah
belajar berhitung dan membaca, hanya solmisasi. Ia ingat gurunya adalah
Pendeta Samuel Muda, ayah dari Laksamana Samuel Muda, pahlawan Laut
Aru. Ia juga ingat bagaimana ibunya mengajarkan membuat rampai untuk
ditaburkan ke laut :
"Ibu berkata, bunga rampai itu dikirim kepada nenek, kepada
paman dan sebagainya. Lalu kami bertiga ke jembatan laut menghamburkannya ke
laut. Peristiwa itu sangat mengesankan aku. Terasa sangat indah. Terasa bunga
itu akan sampai ke suatu tempat rahasia tempat Mama Be’a (Nenek) dan Papa Be’a
(kakek) dan sanak saudara bermukim. Ibu telah mengajarkan aku tentang bahasa
kerja menanami kebun dan simbol-simbol cinta kasih kepada yang berada di
seberangsana , di dalam dan dibalik kehidupan nyata dan fana ini."
Pulang ke Rote
Karena beban hidup semakin berat, Gerson dan adiknya Matilda dibawa oleh
ibunya pulang ke Rote, sementara ayahnya tetap berusaha sebagai
pengacara amatiran di Flores. Gerson mengingat bagaimana mereka pulang:
"Tiba-tiba saja, kami bertiga...telah berada di atas sebuah kapal yang berlayar dari Endeh menuju Rote dan
Kupang. Aku ingat betul, di kapal kami makan nasi dan ikan asin goreng
sepuas-puasnya. Sehabis makan, masih ada tersisa banyak ikan dan nasi. Ibu
tidak membuangnya. Aku mengikuti ibu ke atas dek dan membawa nasi itu lalu
dijemurnya. Itulah yang kuingat, bagaimana seorang ibu diterpa tekanan hidup,
menjaga baik-baik nasi pemberian Tuhan. Seterusnya entah jadi apa nasi itu, aku
tak ingat lagi. Aku hanya ingat bahwa kami turun di pelabuhan Ba’a dan menginap
di rumah seorang sanak yang aku tak ingat siapa namanya."
Setibanya di Rote, mereka dijemput oleh abang tertua dari lain ayah,
Benyamin J. Messakh. Mereka dibawa ke Oetefu dengan kuda. Ingatan Gerson
sangat vivid dan detail, ia ingat hal-hal kecil yang menjadi bumbu
cerita-ceritanya. Saat tiba di Oetefu ia menulis:
"Beberapa tanteku menyambut aku dengan ciuman sedang yang
satu lagi yang dipanggil Te’o Pokek (Tante Buta) meraba-raba aku mulai dari
kaki sampai ke kepala. Kemudian aku dibawa ke rumah utama sebuah rumah panggung
dan diberi uang logam beberapa keping lalu membiarkan aku tidur siang di sebuah
ranjang berseprei putih dan berkelambu. Aku sendiri yang tidur di rumah itu.
Kamar-kamarnya kosong. [...]
Begitu bangun sore, aku sendirian di rumah panggung itu.
Kakak Usi, Susi Mariana entah di mana. Aku berdiri di beranda depan memandang
pohon kelapa dan lontar. Bunyi burung tekukur dan udara panas sore hari membuat
aku rindu pada ibu. Maka kerinduan itu membuat aku menangis sendiri, sambil
memanggil-manggil, "mama... mama...” Mama tak menjawab, mama tidak
muncul-muncul walaupun abang sulungku telah berkuda ke Ba’a yang jaraknya dua
puluhlima kilometer.
Tiba-tiba terpikir atau teringat, kata guru Sekolah Minggu,
bahwa apa yang kita minta dari Tuhan maka Tuhan akan memenuhi permintaan kita.
Aku pun menutup mata dan berdoa kepad Tuhan. "Tuhan, saya minta mama saya
cepat datang. Saya kesepian. Tuhan, saya minta kalau saya membuka mata maka
mama saya sudah ada di depan saya,” begitulah doaku. Sungguh lucu. Sia-sia.
Naif. Begitu aku membuka mata ibu tiada.
Akan tetapi aku sama sekali tidak mengomeli Tuhan. Aku
bergerak entah ke mana, lupa, tidak teringat oleh khazanah kenangan masa
kecilku. Terlalu banyak detik dan jam yang kulupakan. Aku hanya ingat,
tiba-tiba saja ibuku dan adikku datang dibawa oleh abangku dan oleh Tuhan. Aku
ingat, kami bertiga ditempatkan di rumah besar di samping kiri rumah utama di
kamar depan yang berdinding setengah sehingga pandangan ke halaman tidak
terhalang."
Tidak lama kemudian ibu Gerson membawa mereka pindah ke Oekahendak,
sebuah dusun
kecil yang terdiri dari tiga buah rumah dan sebuah mata air kecil.
Disana mereka bergabung dengan kedua kakaknya, Dina dan Min kecil yang
tinggal
bersama
papa to’o (saudara ibu)nya dan
te’o Fia kakak perempuan ibunya yang
tidak menikah.
Deskripsi Gerson tentang orang-orangpun sangat jelas, kadang membuat
kita tersenyum karena ia memakai kacamata anak-anak saat menuliskannya.
Tentang saudara laki-laki ibunya yang ia panggil papa to'o dan beberapa
kerabat lain ia menulis:
"Aku masih ingat wajah Papa To’o, pamanku. Kulitnya kuning
seperti ibuku. Badannya kekar. Wajahnya ganteng seperti wajah Hemingway. Ia
sangat eksentrik. Sangat eksentrik bagi penduduk sekitarnya karena ia suka
memaki dengan bahasa jorok.
Aku sayang betul pada Papa To’o pamanku. Ia suka tertawa
keras memperlihatkan giginya yang bagus. Paling kurang senyumnya yang ramah.
Pakaiannya celana pendek dan baju tangan pendek. Ia tidak memakai sepatu atau sandal.
Aku ingat sekali pada Te’o Fia, tanteku yang tidak banyak bicara tetapi selalu
sibuk, menumbuk padi, memberi makan ternak dan sibuk di sawah dan ladang.
Abangku Benyamin (Min Kecil) tak pernah diam. Hampir tiap hari
ia pulang membawa tekukur, burung pipit dan udang kecil. Aku sibuk membakar
burung-burung itu untuk dimakan. Abangku Benyamin adalah tarsan kecil, spartan.
Dia pelempar tepat.
Jika mau makan daging tekukur yang merupakan wabah bagi
tanaman padi dan kacang ijo. Min Kecil tinggal memungut batu dan melemparkan ke
kerumunan tekukur itu. Lemparannya sangat kuat. Batu yang meluncur sampai
berbunyi, mendesing membelah udara. Tekukur yang mati lebih dari satu ekor. Aku
sangat gembira bila abangku membawa setumpuk tekukur. Dia lalu mencabut
bulunya, membuang usus dan kotorannya dan mencucinya kemudian membubuhkan garam
dan memanggang burung itu di halaman.
Kalau tidak tekukur, dia membawa sekeranjang burung pipit
yang paruhnya merah dan kuat. Aku mengunyah pipit panggang itu. Dagingnya,
tulangnya, sampai ke kepalanya yang berisi otak. Enak sekali dimakan dengan
nasi. Ketika musim hujan tiba, parit kecil yang berasal dari mata air itu
meluap. Air dipakai untuk mengaliri sawah di sekitarnya."
Dia tidak takut pada ular berbisa. Pada suatu hari, kami,
anak-anak yang lebih kecil darinya sedang mengerubungi dan menonton seekor ular
ijo yang berbisa, melingkar di ketiak akar pohon kesambi sambil memagut-magut.
Tiba-tiba abangku muncul. “Mundur, mundur, mundur,” katanya lalu meraup leher
ular itu dan melenggang pergi."

Gerson juga ingat sekolah tempat abangnya Min Kecil bersekolah yaitu Tudameda.
"Sekolah itu terbuat dari bebak (pelepah gebang) yang
bercelah-celah mudah diintip dari luar dan dari dalam. Atapnya terdiri dari
daun lontar. Tampaknya seperti kandang kambing, tetapi dari sekolah itu
beberapa sarjana dan orang terkenal Indonesia lahir dan bekerja di luar pulau,
terutama di Jawa, tak pulang-pulang membangun kampungnya."
Ketika Gerson mengunjungi Rote di tahun 1997, lokasi sekolah itu sudah jadi kebun. Menurutnya dulu
di seberang Jalan Raya Sirtu, ada rumah Guru Pah, famili ibunya, seorang maestro senandu
biola. Adik guru Pah, Eduard Pah juga adalah seorang guru, dan maestro sesandu biola. Eduard Pah ini mendapat
Anugerah Seni dari pemerintah RepublikIndonesia dan profil tentang seniman ini
dimuat di The New York Times. Satu-satunya seniman musik Rote yang mendapat publisitas
internasional lewat New York Times. Jarang juga seniman Indonesia dipublikasi
lewat sebuah artikel yang dimuat di koran internasional itu.
Dari Oekahendak, Gerson dititipkan kepada famili di Lalukoen. Sebagai
anak-anak, Gerson tak mengerti mengapa ibunya meninggalkannya di
keluarga itu, ia menangis dan meronta sejadi-jadinya saat itu, namun
kemudian ia punya rasionalisasi sendiri:
"Sampai
sekarang, aku berpikir, mungin usiaku sudah mencapai usia sekolah sehingga ibu
mau menitipkan aku di rumah famili yang dekat dengan sekolah, sekaligus
meringankan beban saudara-saudaranya yang telah menampung kakak perempuanku,
kakak lelakiku dan adik perempuanku serta ibuku sendiri. Soalnya paman dan
saudara ibu hanya hidup dari kebun dan sawah serta sejumlah pohon lontar dan
binatang ternak. Biasanya mereka minum gula dan sayuran serta ikan serta daging
sekadarnya, tidak biasa masak nasi setiap hari seperti orangkota . Setiap hari
aku harus makan nasi, sayur, daging burung dan sebagainya. Aku tidak seperti
kakak-kakakku dan ibuku. Barangkali karena itu."
Kemudian ibunya menitipkannya lagi
ke rumah pendeta Hidalilo, seorang pendeta yang berasal dari Sabu.
Pendeta ini tinggal di Tudameda, "di rumah yang di depannya ada kolam
berair kuning". Gerson mengenang bagaimana ia dititipkan di situ:
"Aku
senang sekali bermain dengan anak-anak itu di bawah benderang lampu tekan
sehingga ketika ditanya apakah aku mau tinggal di rumah itu, aku mengangguk
setuju.... Malam itu seingatku; ibu tidak membawa tas pakaian. Ibu
melepaskan aku dengan pakaian di badan. Seingatku tidak ada acara makan pagi
sebelum berangkat ke sekolah. Aku masih ingat pada suatu malam Ibu Pendeta
membagi-bagikan biskuit. Juga masih segar dalam ingatan Ibu Pendeta membawa
kami untuk mandi di sungai. Aku masih ingat pula pada suatu malam, ketika Mama
Nyora Hidalilo (istri pendeta dan guru dipanggil nyora) membagi-bagi nasi dan
lauk, kepada tiap anak ia bertanya mau tambah atau tidak. Anak-anak pendeta
mengatakan tidak sedangkan aku mau tambah. Aku lihat nasiku hanya setengah dari
nasi anak-anak yang tak mau tambah. Kami hanya makan sekali, makan malam.
Tampaknya gaji pendeta itu kecil sedangkan kami hampir sepuluh orang di rumah
itu."
Selama tinggal dengan keluarga pendeta ini, Gerson ingat seorang tokoh
unik masa kecilnya bernama Karaba, seorang pemarah nanum tak pernah
marah kepada Gerson. Gerson suka duduk di depan Karaba yang sedang
mengupas kelapa tua dan memungut serpihan kelapa untuk dimasukkan ke
dalam mulutnya. Karaba tidak marah. Saat bermain-main sendirian di
sekitar gedung sekolah, Gerson pernah usil mengambil sebuah lidi dan
menusukannya ke celah dinding sekolah yang terbuat dari pelepah gewang
itu. Ternyata mengenai pantat Karaba. Karaba mengejar dan melemparnya
saat itu, namun kemudian baik lagi. Ia malah menyalahkan temannya yang
lain, seorang anak angkat pendeta juga yang dibawa dari Sabu, Nara
. Gerson mengenang kata-kata Karaba kepadanya:
""Bapa
Pendeta sudah mengutuk si Nara karena ia menulis-nulisi Kitab Suci," kata
Karaba. Sejak itu aku takut sekali dikutuk oleh Bapa Pendeta, terutama takut
dimarahi Tuhan kalau salah memegang atau menyia-nyiakan Kitab Suci. Sampai aku
bersekolah di Sekolah Standar, kalau aku melihat lembaran Kitab Suci yang
tersobek dan terbuang, aku memungutnya dan menyimpannya baik-baik. Aku selalu
mengingat anak itu. Si Karaba itu."
Karaba ini kemudian masuk Heiho dan setelah usai Perang Dunia kedua
sempat berpapasan dengan Gerson di Kupang, dalam barisan Heiho.
"Badannya tambah hitam dan kurus, tinggi. Aku menegurnya dan
dia membalas teguranku sambil berjalan terapung-apung, lurus, dagu terangkat.
Aku memandang punggungnya ketika ia menjauh, sambil menarik napas dan desah
nostalgia."
Dijemput Sang Ayah
Di rumah pendeta Hidalilo itulah kerinduan seorang anak akan ayahnya
terbayar. Sang ayah datang menjemput anak-anaknya yang sudah lama
berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena kesalahan yang ia
buat sendiri.
"Tiba-tiba, pada suatu hari ketika aku berjalan menunduk
menuju kolam kemarau kuning kesayanganku, ada sesosok tubuh di depanku. ”Papa!”
seruku bahagia. Aku disuruh berdiri menunggu di jalan dan ayahku masuk ke dalam
untuk memberitahukan bahwa aku diambil kembali. Tidak lama kemudian ayah keluar
dan kami berjalan meninggalkan rumah pendeta itu tanpa tas pakaian, kecuali
baju monyet di badan. Walaupun aku sendiri tidak bertemu dengan pendeta dan
istrinya untuk mengucapkan terima kasih, walaupun tidak ada acara perpisahan,
aku masih ingat jasa keluarga pendeta itu memberi tumpangan, tempat tidur dan
makanan untuk beberapa lamanya. Kepada
orang-orang yang ditemuinya di Oekahendak, ayah menceritakan kesedihannya
melihat anaknya yang sudah hitam tak terurus dan pakaiannya yang cuma satu
melekat di badan, tidak pernah dicuci."

Usaha ayah Gerson untuk menjadi peng
acara amatiran macet. Lalu ia menjual rumahnya di Ende dan
barang-barangnya agar bisa mendapatkan ongkos kapal untuk menemui
anak-anaknya. "Untung, naluri kebapakannya menggerakkan dia mencari
anak-anaknya yang terombang-ambing di bawah kepak ibu yang kurang
berdaya," kenang Gerson. Bagi Gerson, pengalaman masa kecil ini adalah
sumber kepekaannya yang dituangkan dalam karya-karyanya.
"Pengalaman seorang anak sepertiku sangat menyedihkan,
mengharukan dan semuanya menjadi sumber kepekaan, sumber inspirasi ketika aku
menjadi dewasa. Tidak dapat disangkal pengalaman menjadi bahanbaku untuk
kesusasteraanku, untuk karya-karyaku, baik berupa prosa maupun puisi dan
lain-lain. Aku memasuki kesusasteraanIndonesia melalui puisi. Sajak-sajak
pertamaku dimuat di koran dan majalah Surabaya kemudian Mimbar Indonesia,
Jakarta yang ditulis tahun 1955 ketika aku duduk di bangku Sekolah Guru Atas
Kristen di Jalan Pringadi, Bubutan, Surabaya, dan ketika mengikuti
International Writing Program, sebuah program creative writing di bawah
bimbingan Prof. Paul Engle, Ph.D (penyair) di Iowa University, Iowa City,
Amerika Serikat."
Bagi Gerson, masa kecilnya telah berubah menjad
i puisi. Ia menulis sebuah sajak ketika pengalaman masa kecilnya telah
mengendap jauh dalam jiwanya. Masa kecil baginya "adalah kuda tunggang,
tambur gembala, jalan setapak yang berliku, rumah lalang bepagar batu."
Tentang masa kecilnya ia menulis sebuah puisi:
Gambar Keluarga
Begini kuda tunggang dan dadaku diterik tangis padang
lewat
jalan liku menuju rumah lalang berpagar batu
bila dulu aku datang aku tak tahu
ciumanmu tengik tersaar
bibirmu yang hambar memperdengarkan tambur
gembala
pandanganmu mengharu usia dewasa sejak itu m
engobar
dalam mataku bundar
segar seorang anak yang belum sadar
kau tinggalkan aku bermain di tepi kolam
kemarau kuning
tak sampai sesiang yang indah berenang rian
dengan hidup
telanjang memandang kuda tunggang yang tegap
airnya makin kering mengabur ke
bibir nasib kemarau
aku pulang ke rumah lalang berpagar bagu, lingkar kasih
yang buntu
nyenyak malam membenam dalam lapar dalam lupa masa kanak kelakar,
dan sindiran yang menyembur senja kemarau kuning
sebagai tuntutan atas budi
yang tumbuh menjadi hutan
belum terbayar oleh anak yang lapar mengejar
belalang
hingga sekali kelak aku berdiri di atas nyanyian hidup yang manis
kau
datang kembali dengan bawaan beserba
untung aku belum lesu terpenggal oleh dosa
dan hilang sesal
 |
| Gerson Poyk [SP/Ignatius Liliek |
Gerson mengakui bahwa kepekaannya memang adalah bagian dari masa
kecilnya. Ia menulis: "Terasa oleh si kecil itu (si aku puitis itu)
bahwa pandangan yang mengharukan dia di masa dewasa nanti telah
bertumbuh, telah mengobar dalam mata seorang anak kecil yang belum sadar
akan segi-segi hambar dalam kehidupannya." Tafsiran terhadap sajak di
atas yang ia tulis sekitar tahun 1965 ini patut dikutip secara langsung:
"Ayahku
(kau) telah meninggalkan aku bermain di tepi kolam kemarau kuning, hanya
sebentar berenang riang dengan hidup telanjang memandang kuda tunggang yang
tegap. Air di kolam tempat aku bermain makin kering, mengabur ke bibir nasib
kemarau lalu aku pun pulang ke rumah lalang berpagar batu, lingkar kasih yang
buntu, lalu tidur dalam lapar dalam lupa masa kanak. Bagaimana pun, kehidupan
ini penuh dengan kelakar dan sindiran dan ini merupakan hutang budi yang belum
bisa dibayar oleh seorang anak kecil yang lapar mengejar belalang. Kelak
semuanya akan terbayar bila telah sampai pada nyanyian hidup yang manis.Ayahku
datang dengan bawaan beserba. Beruntunglah, aku belum terkapar…"
Gerson mengakui bahwa gambaran tentang kehidupannya di Rote, tentang
pohon-pohon kom dan kosambi, tentang jalan sirtu, tentang orang-orang
menjadi inspirasi dalam cerpen-cerpen dan novelnya, terutama novel
Meredam Dendam.
Setelah ayahnya menjemput mereka di Tudameda, mereka pindah ke Ba'a, di
mana mereka "menumpang di sebuah rumah dekat jembatan Lete Langgak, di
pinggir jalan, di kaki bukit yang gundul." Pada suatu hari mereka pindah
ke sebuah rumah di punggung bukit dan ayah Gerson meninggalkan mereka
ke Ringgou. Setelah beberapa lama sang ayah pulang membawa seekor
kerbau. Kerbau itu dibawa ke rumah jagal dan mereka punya banyak uang
dan daging. Gerson mengatakan ibunya pintar memasak sebab di masa
gadisnya ia tinggal dengan keluarga domine (pendeta) Belanda bernama
Domine de Vries.
Setelah menjual daging kerbau itu, ayah Gerson membangun sebuah gubuk
darurat di pinggir jalan dekat Gerej Menggelama. Tak lama setelah itu
ayahnya berangkat ke Kupang lagi untuk mencari pekerjaan. Gerson ingat
benar waktu itu bulan Desember. "Aku ingat betul karena pernah
merayakan Natal ketika ayah tiada.
Hadiah Natalku hanya sebuah buku tulis tipis karena setoranku juga
kecil," katanya.
Ketika sang ayah berada di Kupang, datang seorang nenek dari Sabu yang
tinggal di Ba’a ke gubuk mereka dan meramal dengan daun sirih.
"Ia menggenggam-genggam daun
sirih di tangannya kemudian melemparkannya ke atas tikar. Daun sirih yang
terlepas dari gengamannya terbuka, bergerak pelan-pelan dan diam. Lalu ia
berkata, ”Bapak kalian sudah mendapat pekerjaan di Kupang,” katanya. Aku dan
adikku bahagia sekali. Sudah tentu ibuku juga. Aku sudah lupa nama nenek asal
Pulau Sabu itu. Menurut cerita nenek itu, ia pernah meninggal (berapa lama, aku
tak ingat lagi) dan di surga ia melihat banyak sekali makanan yang dibuang
sia-sia oleh manusia."
Benar, ayahnya mendapat pekerjaan di perusahaan Singer Sewing
Machine, buatan Amerika. Pada saat yang bersamaan kakak sulung Gerson, Benyamin J. Messakh lulus dalam tes
masuk tentara.
"Kami bahagia karena itu. Ibu pun mengikhlaskan anak tertuanya
masuk tentara. Kami mengantarkannya ke pelabuhan. Ia naik kapal, berlayar
menuju Jawa dan akan masuk sekolah militer (KNIL) di Purworejo."
Ke Kupang dan ke Flores lagi, kali ini Ruteng
Sehabis merayakan natal, ibu Gerson membawa keempat anaknya menyusul
sang ayah di Kupang. Hanya kakaknya Mariana yang tinggal di Rote. Di
Kupang ayahnya telah menyewa sebuah kamar di rumah keluarga Pandy di
Fatufeto. Gerson masukkelas satu Volksschool (Sekolah Rakyat tiga
tahun) di Bonipoi dan abangnya Min Kecil duduk di kelas empat
Vervolkschool
(Sekolah S
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar