Translate

Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi. Tampilkan semua postingan

biografi harold sakuishi

Written By iqbal_editing on Rabu, 04 Januari 2017 | 04.32

Takahiro Sakuishi (作石貴浩 Sakuishi Takahiro?, born March 16, 1969), atau lebih dikenal dengan nama pena Harold Sakuishi (ハロルド作石 Harorudo Sakuishi?), adalah seorang penulis manga. Sakuishi memiliki banyak jenis ketertarikan, antara lain baseball, bela diri, MMA, dan musik. Tiap bidang minatnya telah dijadikan basis untuk karyanya yang paling populer (baseball di Stopper Busujima, bela diri di Bakaichi, dan musik di Beck). Dalam karyanya sering terdapat cameo dari karya sebelumnya, di antaranya adalah reporter berita di Beck berasal dari komik Stopper Busujima dan lain-lain. Sakuishi juga penggemar kisah Roman Tiga Kerajaan dengan cerita yang diubah ditampilkan di Beck, ditulis oleh "Christy Sakuishi". Dalam Beck, ia menampilakn banyak tokoh populer di gambar latar penonton, antara lain musisi, karakter dari Happy Sangokushi, dan petarung legendaris Royce Gracie dan Kazushi Sakuraba.

Daftar isi

Bibliografi

  • Gorillaman (1985)
  • Bakaichi (1995)
  • Stopper Busujima (1996)
  • Beck (1999)
  • Seven Shakespeares (2009)[1]

Video games

Penghargaan

04.32 | 0 komentar | Read More

biografi mei lang fang

Written By iqbal_editing on Kamis, 08 Desember 2016 | 22.12

Mei Lan Fang, lahir di Beijing pada tanggal 22 Oktober 1894. [1] [2] Ia adalah pemain sandiwara dan opera klasik Tiongkok yang terkenal hingga taraf popularitasnya saat ini. [1] Namanya terkenal berkat peranan-peranannya sebagai perempuan pahlawan dan tarian-tariannya. [1] Tarian-tarian yang terkenal antara lain The Flower-Scuttering Deva dan Sword Dance in Chu Pa Wang, Farewell to His Mistress. [1] Ia pernah bergabung dalam Perusahaan Teater Xi-Lian-Cheng dalam 14 kali penampilannya di Shanghai. [2] Berkali-kali, Mei Lan Fang mengikuti pagelaran di luar negeri seperti Tokyo pada tahun 1918, Hongkong pada tahun 1921, Inggris dan Amerika Serikat pada tahun 1930, Rusia dan Eropa pada tahun 1935. [1] Sesudah pemerintahan Republik Rakyat Tiongkok berdiri pada tahun 1949, Mei Lan Fang menetap di Beijing dan menjadi anggota dari Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat sekaligus menjadi Ketua Lembaga Seni Drama. [1] Ia mendapatkan penghargaan berupa gelar Hon.D.Liit. dari Universitas California, Amerika Serikat. [1] Mei Lanfang meninggal di Beijing pada tanggal 7 Agustus 1961. [2]
22.12 | 0 komentar | Read More

biografi yusron muchsin

Written By iqbal_editing on Kamis, 01 Desember 2016 | 20.24

Yusron Muchsin yang lebih akrab dipanggil Kak Ucon -- karena banyak anak-anak kesulitan mengeja Yusron, lahir di Ponorogo pada 17 Juli 1970. Pendidikan terakhir adalah sarjana ekonomi manajemen di Universitas Islam Darul Ulum-Lamongan (1998), dan alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo (1992).

Bagi pria berkacamata ini pengalaman mendengarkan dongeng dari orangtua sangat membekas dihatinya. Terutama saat didongengi ibu menjelang tidur, atau saat bulan purnama di halaman rumah oleh ayah. Saat itu Ucon kecil tahunya mendapat hiburan. Tanpa sadar pesan moral dari ungkapan kasih sayang itu seolah menjadi kompas hidupnya. Inilah yang membuat si-Ucon bertekad melakukan hal yang sama, menghibur dan menularkan dongeng kepada siapa saja.

Di luar pendidikan formal, ia juga ditempa dalam komunitas teater, diantaranya Sena Didi Mime-Jakarta, asuhan Didi Petet, Teater Satu Merah Panggung-Jakarta, yang dibesut Ratna Sarumpaet, dan Terisda (Teater Islam Darussalam). Di dunia seni peran itulah ia belajar akting, pantomime dan menemukan cara menirukan ratusan suara, dari aneka binatang, manusia, alat transportasi, suara senjata, hingga instrumen musik. Ia pun sempat mendirikan kelompok peniru suara “Varia Vocalia, The Magic Voice”, sebuah wadah bagi para penggemar tiru suara. Pengalaman itu dikemudian hari sangat mendukungnya dalam menggeluti hobi mendongeng.

Ketika merantau ke Jakarta (1993), ia tampil di acara televisi Salam Canda yang di bawakan Ebet Kadarusman. Di luar acara on air di RCTI itu, Kang Ebet juga sering mengajaknya ‘mengamen’ di hotel, kafe, dan beberapa tempat hiburan lain. Saat itu ia bersama beberapa peniru suara juga mendirikan kelompok parodi tiru suara “Ali Baba”, yang rutin mengisi acara di Pasar Seni, Taman Impian Jaya Ancol.

Dengan kelompok barunya ia terpilih sebagai finalis Senimania Republika yang di gelar Harian Republika di Taman Ismail Marzuki (TIM). Juga sering pentas atas undangan perusahaan swasta maupun pemerintah. Selain itu “Ali Baba” acap kali mengisi acara-acara di televisi, mulai dari PESTA (Indosiar), Keren Beken (TPI), Dian Rana (TVRI), Bumbata (RCTI), dan puluhan acara lain. Bahkan mempunyai acara parodi “Wartegs” (Warung Tegur Sapa) di TPI. Sayang, akibat krismon 1998 acara itu hanya bertahan 24 episode.

Di luar kesibukan pentas dan menjadi penyiar di Radio Attahiriyah tahun 2002, rumahnya di Jatijajar II Rt.02/09 No.62 Tapos-Depok, kala itu selalu didatangi anak-anak tetangga minta didongengi. Itulah awalnya ia mendongeng. Kebiasaan baru itu terus berlanjut ketika ia menjadi wartawan di Harian Bandung Post dan Harian Pelita. Pengetahuannya dalam mendongeng semakin terasah ketika bertemu pendongeng Kak WeEs Ibnu Say (Rumah Dongeng Indonesia). 

Lebih dari itu, pergaulannya dengan anak-anak menjadikan kemampuannya dalam mendongeng semakin mumpuni. Karena kecintaannya pada anak-anak, kelompok “Ali Baba” ia tinggalkan untuk mulai mendongeng di beberapa yayasan sosial di Jakarta sepanjang 2000-2004, diantaranya Yayasan Bunda Yessy (dikelola Yessy Gusman), Yayasan Darussalam (di bantaran sungai Ciliwung) dan KKS Melati (di lokalisasi liar ‘Bongkaran’ Tanah Abang).

Suatu saat di akhir 2004, usai mendongeng dalam pembukaan Rumah Cahaya-Penjaringan yang dikelola Forum Lingkar Pena/FLP, ia ditemui Tim Gramedia Pustaka Utama. Mereka mengundangnya menjadi praktisi dongeng dalam Semiloka Dongeng di Hotel Santika-Jakarta (Maret 2005) dan juri dalam Lomba Dongeng Nasional yang digelar di Bentara Budaya (Juni 2005). Walau sempat ragu, ternyata dua acara itu sukses besar. Hikmahnya, nama Kak Ucon mulai dikenal masyarakat dan pengalaman itu membuatnya ketagihan mendongeng. 

Kini disela kesibukannya sebagai copywriter di SPOT Corporate Communication (unit usaha Majalah SWA), sampai sekarang ia rutin membina “Komunitas Kajian Dongeng” Psikologi UI (sejak 2005), komunitas “Dongeng Untuk Semua”/DUS (sejak 2007) dan tukar pengalaman di komunitas “Dongeng Minggu” TB. Gramedia Matraman (sejak 2007).

Melalui perjalanan panjangnya di dunia dongeng --baik melalui media televisi, radio, live show, termasuk menjadi instruktur mendongeng-- Kak Ucon berhasil meramu metode dongeng yang lengkap. Gabungan antara kelucuan, dinamis, imajinatif, edukatif, ekspresif, juga interaktif, enerjik, sekaligus komunikatif. Cara ini mampu menghadirkan pertunjukan dongeng yang sangat menghibur, berkesan dan mengandung sarat pesan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

20.24 | 0 komentar | Read More

profil ende riza

DATA DIRI
Nama                    : Faiq Ende Riza
Tempat/Tgl. Lahir : Banyuwangi, 14 September 1971
Pekerjaan             : Owner Rumah Motivasi ULTIMA
Alamat                  : Banguntapan Bantul Yogyakarta
PRESTASI-PRESTASI TERBARU
Tahun 2005
Juara 1 Kejuaraan Mendongeng Se-Indonesia untuk Umum
Finalis 12 Besar API (Audisi Pelawak Indonesia) TPI dalam kategori kelompok
7 Besar Peserta Favorit API (Audisi Pelawak Indonesia) TPI
Tahun 2011
Dongeng Motivasi Anak di 20 TK di Yogyakarta – Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DPD DIY
Finalis 20 Besar IMB (Indonesia Mencari Bakat) yang diselenggarakan Trans TV
Tahun 2012
Pentas Pantomim Kontemporer “Loebang Mati” – Lembaga Indonesia Perancis
Tahun 2013
Pentas Pantomim “Yang Waras Bukan Gila, Yang Gila Bukan Waras” – Parade Pantomim Taman Budaya Yogyakarta
PENGALAMAN DI DUNIA TRAINING MOTIVASI
1. Institusi & Komunitas Pendidikan
1997 – sekarang : Motivator Sekolah Menengah Atas Negeri dan Swasta di DKI Jaya
2003 – sekarang : Character Building Penyiapan Calon Lulusan S-1 dan S-2 Universitas Atma Jaya
2007 : Pelatihan Dongeng dan Pantomim untuk Guru TK se-Kota Banyuwangi
2008 – sekarang : Character Building Guru se-Padang Sumatera Barat
2. Instansi Pemerintah
2008 – sekarang : Character Building Pegawai Badan Pengawas Keuangan (BPK) Pusat dan Propinsi (Jakarta, Riau, Lombok,
Padang, Medan, Bangka, Samarinda)
2009 – sekarang : Character Building Satpol Pamong Praja Tingkat Kabupaten/Kota se-Jabodetabek
2010 : Pelatihan Komunikasi Efektif untuk Para Trainer Disnakertrans Jawa Tengah
2010 : Character Building Dinas Sosial DIY
3. Perusahaan Swasta
1996 – 1999 : Character Building Manajemen dan Karyawan Fuji Film Matraman
2003 – sekarang : Character Building untuk Pemilik, Manajemen, Karyawan dan Tim Sales PT. ASTRA International
2006 – 2007 : Character Building Staf Medis dan Non Medis RS. Karyadi Solo
2011 : Team Building Manajemen & Karyawan Pamella & Toko Roti Pitaloka
4.Lain-lain
2011 : Instant Motivation Training untuk Pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DPD DIY Yogyakarta
2011 : Instant Leadership Training for Managers di Saphir Hotel Yogyakarta
2010 – sekarang : Trainer tetap Rumah Motivasi – Ultima
20.23 | 0 komentar | Read More

biografi umar kayyam

Written By iqbal_editing on Selasa, 29 November 2016 | 18.37

Umar Kayam (lahir di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932 – meninggal di Jakarta, 16 Maret 2002 pada umur 69 tahun) adalah seorang sosiolog, novelis, cerpenis, dan budayawan juga seorang guru besar di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1988-1997-pensiun).[1]

Daftar isi

Biografi

Umar Kayam (dalam konteks percakapan antar teman biasa disapa UK), lulus sarjana muda di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada (1955), meraih M.A. dari Universitas New York, Amerika Serikat (1963), dan meraih Ph.D. dari Universitas Cornell, Amerika Serikat (1965). Ia pernah menjabat Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan RI (1966-1969), Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972), Diektur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Hasanudin, Ujungpandang (1975-1976), anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara), dosen Universitas Indonesia, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, senior fellow pada East-West Centre, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat (1973), Ketua Dewan Film Nasional (1978-1979), Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, anggota penyantun/penasihat majalah ''Horison'' (mengundurkan diri sejak 1 September 1993), bersama-sama dengan Ali Audah, Arif Budiman, Goenawan Mohamad, Aristides Katopo, Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (1977-), Ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1981-) anggota Akademi Jakarta (1988-seumur hidup).[1]
Umar Kayam termasuk yang banyak melakukan terobosan dalam banyak bidang kehidupan yang melibatkan dirinya. Ketika menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, ia dikenal sebagai salah seorang pelopor dalam terbentuknya kehidupan teater kampus. Ketika menjadi Dirjen Radio dan Televisi, ia dikenal sebagai tokoh yang membuat kehidupan perfilman menjadi semarak. Sewaktu menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972), dia mempelopori pertemuan antara kesenian modern dengan kesenian tradisional. Pada saat menjadi dosen di almamaternya, ia mengembangkan studi sosiologis mengenai sastra, memperkenalkan metode grounded dengan pendekatan kultural untuk penelitian sosial, memberikan inspirasi bagi munculnya karya-karya seni kreatif yang baru, baik di bidang sastra, seni rupa, maupun seni pertunjukan, mendirikan pasar seni di kampus, dan sebagainya.[2]
Ia juga pernah memerankan Presiden Soekarno, pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI.
Umar Kayam wafat pada 16 Maret 2002 setelah menderita patah tulang paha pangkal kiri. Umar Kayam meninggalkan seorang istri dan dua anak.

Karya

  • Seribu Kunang-kunang di Manhattan (kumpulan cerpen, 1972) mendapat hadiah majalah Horison (1966/1967) [3]
  • Totok dan Toni (cerita anak, 1975)
  • Sri Sumarah dan Bawuk (1975)
  • Seni, Tradisi, Masyarakat (kumpulan esai, 1981)
  • Sri Sumarah (kumpulan cerpen, 1985, juga terbit dalam edisi Malaysia, 1981)
  • Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya (bersama Henri Peccinotti, 1985)
  • Para Priyayi (novel, 1992) Mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, diberikan pada tahun 1995) [1]
  • Parta Karma (kumpulan cerpen, 1997
  • Jalan Menikung (novel, 2000)
  • Cerpen-cerpennya diterjemahkan oleh Harry Aveling dan diterbitkan dalam Sri Sumarah and Other Stories (1976) dan From Surabaya to Armageddon (1976).
  • Mangan Ora Mangan Kumpul (Kumpulan Esay)

Penghargaan

Umar Kayam memperoleh Hadiah Sastra Asean pada tahun 1987.[3]
18.37 | 0 komentar | Read More

biografi agnes davonar

Written By iqbal_editing on Kamis, 17 November 2016 | 22.25

Biografi Agnes Davonar

Agnes Davonar adalah nama pena dari dua orang kakak beradik yang sukses menggapai puncak keemasan lewat dunia sastra. Karya-karya mereka yang fenomenal dan selalu dijadikan best-seller adalah bukti dari popularitasnya. Bernama asli Agnes Li, perempuan yang lahir di Jakarta 8 Oktober 1990 dan Teddy Li, sang adik laki-laki yang lahir di Jakarta,7 Agustus 1992 merupakan anak dari pasangan mendiang Ng Bui Cui dan Bong Nien Chin. Agnes dan Teddy tinggal bersama lima saudaranya. Mereka sudah hidup dalam ruang lingkup sastra, budaya, dan seni. Ayah mereka yang dulu berprofesi sebagai penulis kaligrafi Cina adalah tulang punggung satu-satunya yang menopang Agnes dan keluarganya. Namun, miris, maut harus memisahkan ayahanda tercinta dari mereka karena sang ayah menderita kanker. Ekonomi keluarga mereka pun merosot. Kemahiran sang ayah menulis kaligrafi Cina ternyata tak menurun pada anak-anaknya, sehingga tiada yang bisa mewarisi usaha ayahnya. Untuk dapat terus bertahan hidup di tengah perekonomian yang merosot, sang ibu akhirnya berusaha menjajahkan kue. Agnes dan Teddy pun juga sudah biasa mengantarkan kue untuk dijajahkan sebelum mereka berangkat sekolah. Keadaan ini pulalah yang membuat Agnes yang dulu berkuliah di Universitas Bina Nusantara jurusan Sastra Cina berhenti dari bangku kuliahnya lantara biaya kuliah yang mahal.

Karena tak kuasa terus hidup dalam keadaan pas-pasan, sang Ibu kemudian memutuskan untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Taiwan. Agnes dan adiknya pun harus merelakan niat ibunya untuk merantau di Taiwan. Tiap bulannya, sang ibu selalu mengirimkan uang yang bisa digunakan oleh Agnes dan adiknya untuk kebutuhan sehari-hari. Agnes yang ketika itu putus kuliah, dan Teddy yang kala itu masih duduk di bangku SMA tak mau tinggal diam dan hanya menunggu uang dikirim oleh ibunya. Lantas, mereka mencoba mencari pekerjaan. Dan lewat dunia sastralah mereka menemukan jalan terangnya. Mereka mulai menulis novel dan menawarkan naskahnya kepada para penerbit guna mendapatkan penghasilan tambahan. Namun, begitu miris rasanya, tulisan mereka ditolak mentah-mentah oleh para penerbit. Tentu kegagalan ini membuahkan rasa kekecewaan yang mendalam bagi mereka berdua. Mereka berdua kemudian berinisiatif menuliskan cerita-cerita mereka di Friendster sebagai akun sejaring sosial yang sedang nge-trend kala itu pada tahun 2007.

Tulisan yang mereka masukkan ke akun Friendster ini diakui mereka merupakan pengalaman pribadi mereka dan pengalaman orang lain. Semakin waktu bergulir, cerpen yang mereka post di Friendster semakin banyak dengan diimbangi meledaknya jumlah pengujung Friendster mereka yang asyik menikmati cerita mereka. Titik meledaknya ketenaran Agnes Davonar (nama yang diusung mereka berdua) ini terjadi ketika mereka menuliskan novel online "Kisah Lirik Terakhir" yang diangkat dari sebuah lirik lagu, yang menceritakan Gaby si penulis lagu yang mati bunuh diri.

Nama Agnes pada Agnes Davonar tentunya diambil dari nama Agnes sendiri. Sedangkan nama Davonar, diambil dari inisial yang menggambarkan Teddy lewat orang terdekat Teddy. Cerita-cerita yang mereka post di Friendster ini pun telah berhasil merebut predikat pertama situs yang paling banyak dikunjungi dari sebuah web top100.com

Cerita yang menarik, lekat dengan kehidupan remaja, dan dikemas lewat bahasa yang santai dan mudah dimengerti menjadi ciri khas dari Agnes Davonar. Ketenaran dan popularitas semakin mereka raih ketika menerbitkan novel kedua mereka yang berjudul "Surat Kecil untuk Tuhan" yang diangkat dari kisah nyata seorang perempuan penderita kanker jaringan lunak pada tahun 2008. Novel kedua mereka itu berhasil menjadi novel best-seller di Indonesia, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, serta dipasarkan dan laris pula di Taiwan.

Awalnya, mereka tak berniat membukukan kisah "Surat Kecil untuk Tuhan", namun  melihat banyaknya antusias pembaca online di web site mereka, alhasil kisah itu dibuat dalam bentuk buku. Seperti halnya cerita online yang laris dibaca banyak orang, buku "Surat Kecil untuk Tuhan" ini akhirnya menjadi best-seller, apalagi ketika Agnes Davonar diundang dalam acara talk show di sebuah stasiun TV swasta, mereka menyebutkan bahwa mereka juga sempat menguras air mata saat menuliskan cerita haru yang inspiratif itu. Apalagi, mereka juga teringat akan sang ayah tercinta yang meninggal akibat penyakit ganas nan mematikan itu.

Tidak berhenti pada karya kedua mereka yang telah berhasil difilmkan, mereka juga terus berkarya hingga menghasilkan beberapa buku novel dan biografi. Berikut adalah karya-karya mereka:
* Misteri Kematian Gaby dan Lagunya Jauh (difilmkan)
* Surat Kecil untuk Tuhan (difilmkan)
* Biografi Denny Sumargo
* Ayah Mengapa Aku Berbeda? edisi: Moon (gabungan Moon&Venus difilmkan)
* Ayah Mengapa Aku Berbeda? edisi: Venus
* Kumpulan Cerpen Love n' Life Chocolatos
* Biografi Oei Hui Lan, Anak Orang Terkaya di Indonesia
* F.R.I.E.N.D.S
* My Last Love (difilmkan)
* My Blackberry Girlfriend (difilmkan)
* My Idiot Brother (difilmkan)
* Biografi Nina Wang: Perempuan Terkaya di Hongkong
* Bidadari Terakhir (difilmkan)
22.25 | 0 komentar | Read More

biografi kate roberts

Written By iqbal_editing on Selasa, 15 November 2016 | 20.06

Kate Roberts (13 Februari 1891 - 4 April 1985) adalah salah satu terkemuka penulis waabad kedua kespuluh. Dikenal sebagai Brenhines ein llên ( "The queen sastra kita"), ia dikenal terutama untuk cerita pendek , tapi dia juga menulis novel. Roberts juga menonjol nasuiblis. [1]

Kehidupan

Roberts lahir di desa Rhosgadfan , Caernarfonshire ( Gwynedd hari ini) di mana ayahnya (Owen Roberts) adalah Quarryman di lokal tambang batu tulis . Dia lulus pada Welsh di University College of North Wales, Bangor dan kemudian dilatih sebagai guru. Dia kemudian mengajar di berbagai sekolah di Wales selatan.
Roberts bertemu Morris T. Williams di Plaid Cymru (partai nasionalis Welsh) pertemuan, dan kemudian menikah pada tahun 1928. Williams adalah printer, dan akhirnya mereka membeli percetakan dan penerbitan rumah Gwasg Gee (The Gee Press), Denbigh , dan pindah untuk hidup di kota pada tahun 1935. pers menerbitkan buku-buku, pamflet dan Welsh-bahasa mingguan Y Faner (The Banner), yang Roberts menulis secara teratur. Setelah kematian suaminya pada tahun 1946 dia dibawa bekerja pers selama sepuluh tahun.
Dia tetap di Denbigh setelah pensiun dan meninggal pada tahun 1985. Alan Llwyd 's 2011 biografi Roberts digunakan buku harian dan surat untuk menjelaskan segar di kehidupan pribadinya dan hubungannya dengan Morris. [2] Cae'r Gors, pondok Quarryman di mana Roberts lahir dan dibesarkan, telah dibawa ke perawatan Cadw dan berubah menjadi sebuah museum terbuka untuk umum. [3]

Bekerja

Ini adalah kematian kakaknya dalam Perang Dunia Pertama yang dipimpin Roberts untuk menulis. Dia menggunakan karya sastra sebagai sarana datang untuk berdamai dengan kehilangan dia.
Volume pertama dari cerita pendek muncul pada tahun 1925 O Gors y Bryniau ( "Dari rawa bukit") tapi buku mungkin dia yang paling sukses dari cerita pendek adalah Te yn y grug ( "Teh di semak") (1959), sebuah rangkaian cerita tentang anak-anak. Serta cerpen Roberts juga menulis novel, mungkin yang paling terkenal adalah traed mewn cyffion nya ( "Feet dalam rantai") (1936) yang mencerminkan kehidupan yang keras dari keluarga batu tulis penggalian. Pada tahun 1960 ia menerbitkan Y lon wen, volume otobiografi.
Sebagian besar novel dan cerita pendek memiliki sebagai latar belakang tentang wilayah mana dia tinggal di utara Wales. Dia sendiri mengatakan bahwa ia berasal bahan untuk karyanya, "dari masyarakat di mana saya dibesarkan, masyarakat miskin di usia kemiskinan ... itu selalu perjuangan melawan kemiskinan. Tetapi perhatikan bahwa karakter belum mencapai bagian bawah kemiskinan itu, mereka berjuang melawan itu, takut itu. " Karyanya berkaitan dengan kehidupan lancar dari orang yang rendah hati dan bagaimana mereka menangani kesulitan dan disillusionments.
Karyanya yang luar biasa untuk kekayaan bahasa dan persepsi dirinya. Peran perempuan dalam masyarakat dan ide-ide progresif tentang kehidupan dan cinta adalah tema utama dalam pekerjaannya.
Dia juga menyerang hubungan sastra dengan Saunders Lewis yang mereka mempertahankan selama empat puluh tahun melalui media surat. Surat-surat ini memberikan kita gambaran kehidupan di Wales selama periode dan komentar-komentar dari dua raksasa sastra ini pada peristiwa di rumah dan di luar negeri.
Banyak dari karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Sebuah pilihan karya Roberts di Welsh dan terjemahan

  • Traed Mewn Cyffion (Feet in Chains) (1936). Novel. Llandysul: Gwasg Gomer, 2001. ISBN 0-86383-480-9 .
  • Ffair Gaeaf sebuah storïau eraill (Musim Dingin Adil dan cerita-cerita lain) (1937). Cerita pendek. Denbigh: Gwasg Gee, 2000. ISBN 0-00-017373-8 .
  • Stryd y Glep (Gossip Row) (1949). Novella. Bethesda: Gwasg Gee, 2011. ISBN 1-904554-12-1 .
  • Y BYW Sy'n Cysgu (The Living Itu Sleep) (1956). Novel. Denbigh: Gwasg Gee, 1995. ISBN 0-7074-0268-9 .
  • Te yn y Grug (Tea di Heather) (1959). Cerita pendek. Llandysul: Gwasg Gee, 2004. ISBN 1-904554-01-6 .
  • Y lon Wen (The White Lane) (1960). Autobiografi. Denbigh: Gwasg Gee, 2000. ISBN 0-00-017991-4 .
  • Tywyll Heno (Dark Malam) (1962). Novella. Denbigh: Gwasg Gee, 2010. ISBN 1-904554-07-5 .
  • Ifans, Dafydd (Ed.) (1992), Annwyl Kate, Annwyl Saunders: Gohebiaeth, 1923-1983 (Dear Kate, Dear Saunders: Correspondence, 1923-1983). Aberystwyth: Perpustakaan Nasional Wales. ISBN 0-907158-57-9 . Surat-surat dari Kate Roberts dan Saunders Lewis.
terjemahan
  • Traed Mewn Cyffion (Feet in Chains) (1936). Novel. trans. Katie Gramich. Edisi dijelaskan. Cardigan
20.06 | 0 komentar | Read More

BIOGRAFI GERSON BAGIAN 2

Written By iqbal_editing on Kamis, 10 November 2016 | 18.10

tandar) di Desa Airmata.


Tak lama kemudian ayahnya dipindahkan ke Ruteng, ibukota Manggarai. Di sana, Min Kecil dimasukkan ke Sekolah Standar. Di seluruh Onderafdeling (kabupaten) Manggarai, ada puluhan Sekolah Rakyat tiga tahun namun hanya ada satu Sekolah Standar yang cuma terdiri dari kelas empat dan kelas lima . Dari sana anak-anak yang lulus dapat masuk seminari dan sekolah guru yang disebut Normal School. Gerson dimasukkan ke  sebuah sekolah Belanda swasta yang dipimpin oleh Meneer Suprapto yang beristrikan seorang wanita Bangsawan Rote bernama Maria Giri. Tentang Maria Giri ini, Gerson menuliskannya dalam karyanya Maria Giri, Bunga Kecil dari Padang Sabana, dalam antologi Baktiku Pada Pertiwi. Namun tak lama kemudian sekolah liar itu bubar karena Suprapto ditahan Belanda. Gerson dimasukkan Ke Sekolah Rendah tiga tahun, duduk di kelas dua.

Namun nestapa lain menghampiri. Ayah Gerson divonis 3 tahun penjara karena uang perusahaan tekor seratus gulden. Gerson mendengar kabar ini dari ibunya ketika ia baru saja pulang sekolah:
"Aku diam. Murung. Gelombang duka dalam batinku membikin aku diam. Aku sedih tetapi apa mau dikata. Ibu memasak nasi dan ikan untukku lalu aku makan. Entah di mana saudara-saudaraku. Aku ingat aku makan sendiri di meja kecil di kamar depan yang telah kosong.
Sejumlah mesin jahit yang tersisa sudah diangkut entah ke mana. ...membuat aku tambah sedih dan berusaha seumur hidup untuk merejam dendamku. Jika dendam itu timbul, aku berusaha sekuat tenaga batinku untuk menghancurkannya. Pengalaman (sensasi) absurd di rumah itu melahirkan novelku Merejam Dendam."
Setelah ayahnya dipenjara, mereka berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Awalnya di rumah seseorang, di mana Gerson dan saudara-saudaranya masih bisa bersekolah. Kemudian mereka ditampung di rumah seorang janda. Dari situ mereka pindah lagi ke sebuah pondok ilalang berlantai tanah yang terdiri atas dua kamar. Sejak di rumah kedua Min, Gerson dan adiknya sudah putus sekolah. 
Aku ingat di pondok itu kami masih bisa makan teratur karena sumbangan beras dari orang-orang yang prihatin pada kami. Di antaranya seorang polisi profesional yang kami sapa dengan Bung Meler (Meuller).
Abangnya Min termasuk anak yang pintar dan Kepala Standar School datang mencarinya namun ia telah menghilang ke kampung Karot untuk menjaga kuda-kuda pacuan di sebuah panggung pacuan kuda. Tidak lama kemudian, ia terkenal sebagai joki ulung. 
"Kudanya yang ditunggangnya selalu menang dan begitu menang, ia berdiri di atas punggung kuda. Ketika penonton bertepuk tangan, ia terjatuh dari punggung kuda tetapi tidak sampai terlempar ke tanah. Ia hanya tergantung di leher kuda ketika kuda sedang berlari kencang. Jadi tiga kejutan sekaligus dilakukannya. Pertama, kudanya nomor satu. Kedua, berdiri di punggung kuda tanpa pelana. Ketiga, anak yang putus sekolah di kelas empat Sekolah Rakyat (Standardschool) itu, tergantung seperti monyet di leher kuda."
Dalam keadaan mesra dalam penderitaan hidup bersama ibu dan ketiga saudaranya tanpa ayah, datang seorang pegawai kantor pos, seorang klerk yang bernama David Kaha, melamar kakaknya Dina. Gerson marah betul dan ia mengungkapkan kemarahannya dalam cara anak-anak. Ia pergi ke sekolah tanpa makan pagi. Pulang sekolah, ia melempar mangga muda dan mengunyahnya, menelan sekenyang-kenyangnya. Kemudian ia memanjat murbai dan terong belanda yang pohonnya tinggi. Di rumah, ketika kakaknya Dina berada di dapur, ia lalu masuk ke kolong tempat tidur dan tidur di lantai tanah.
"Perbuatan demikian konyol itu kulakukan sebagai protes. Aku tak setuju kalau kakakku kawin dengan klerk itu. Tidak. Ketika kakakku memanggil aku dengan suara lembut, membujukku, barulah aku keluar dari kolong tempat tidur kemudian mengunyah makanan yang diberikannya. Akan tetapi tiba-tiba ia si klerk itu datang lagi. Aku keluar, bermain di halaman tetapi tiba-tiba aku memungut sebuah batu besar dan kulempar ke pintu. Gedebuk! Seisi rumah berteriak memanggil namaku. Mereka menegurku.
Kalau sekarang kulihat para cucu kakakku Dina yang kini telah menjadi sarjana dan dosen, aku tersenyum sendiri. Akan tetapi memang aku sedih dan marah betul ketika kakakku kawin dengan klerk itu. Sedih bercampur marah. Aku tetap konsisten dengan ketidaksetujuanku ketika diajak ke rumahnya. Hanya abangku Min dan adikku Nona yang ikut dengan kakak Dina ke rumahnya."
Setelah Dina menikah, seorang guru Injil asal Rote, om Malole, memberikan sebidang tanah di Hambal kepada mereka. Lalu Gerson dan ibunya pindah ke sebuah pondok di tanah kebun itu. Raja Manggarai yang beragama Katolik memberikan kawasan Hombal untuk para pendatang yang pada umumnya Protestan. Guru Injil Malole menjadi koordinator. Hanya ia dan ibunya yang tinggal di kebun itu, di sebuah gubuk milik om Tampati, seorang polisi yang berasal dari Manado .
"Kami pindah ke pondok itu hanya dengan beberapa ikat jagung kering yang ibu peroleh entah dari mana. Tanpa minyak aku goreng jagung itu. Kerasnya seperti batu tetapi gigi-ku kuat bak tang layaknya sehingga butir-butir jagung itu hancur dan memasuki perutku, kemudian aku menuju tabung bambu betung yang besar yang tergantung di tiang berisi air yang diambil dari mata air bening di tepi kebun. Aku mengangkat dasar bambu itu ke atas dan airnya muncul di mulut bambu lalu aku meminum air yang tak dimasak itu sepuas-puasnya.
Ibuku mengontrol anak-anaknya yang tinggal di rumah gedongan sedangkan aku tinggal sendiri di gubukku sambil bernyanyi-nyanyi dan membaca buku riwayat hidup Napoleon. Malam-malam ibu pulang ke pondok ilalang kami."
Untuk membersihkan ilalang dan semak di kebun itu, seorang kakek dari desa Tenda serta anaknya Karaeng Ramut membantu mereka.  Bapak tua itu, yang biasa dipanggil Ema Tu'a, anaknya Karaeng Ramut dan seorang anak perempuannya yang lain kemudian menjadi teman baik bagi Gerson dan ibunya. Mereka bahkan membantu menanam padi tanpa bayaran. Ayah Gerson pun kadang pulang membantu mengerjakan kebun dan kembali ke penjara pada sore harinya. Jika padi, jagung dan singkong mulai menghijau, Gerson menjadi 'baby sitter' dua orang gadis kecil. Seorang sudah bisa berjalan dan seorang masih merangkak. Tahun 1979 Gerson ke Ruteng dan bertemu Karaeng Ramut. 
"Dia langsung bertanya mengenai ibu dan ketika aku mengatakan ibu sudah meninggal, matanya berkaca-kaca, diam se-saat lalu berkata, "Ibu mengajar saya memasak sayur". Karaeng Ramut, masih sehat, awet muda, karena banyak makan sayur."
Gerson juga bertemu dengan kedua balita kecil yang ia jagai di tahun 1997. Keduanya sudah menjadi ibu guru. Malah keduanya sudah menjadi kepala sekolah. 
"Kedua gadis Rote itu kawin dengan orang baik-baik sehingga dapat mempunyai rumah besar, semuanya, semua lantainya terdiri atas keramik putih, jendela dan pin-tu kayu jati dan sudah punya anak dan cucu tetapi aku tak akan menceritakan pengalamanku kepada keduanya. Biarlah mereka bahagia. Aku tidak akan menyanyikan lagu duka mereka. Mereka tak tahu bahwa aku seorang yang tidak punya rumah, pekerjaan tetap, mobil dan harta lainnya. Mereka berdua hanya tahu bahwa aku seorang pengarang dan wartawan freelance."
Di tengah serba kesederhanaan di Ruteng ini pulalah, Gerson menyaksikan kedatangan bala tentara Jepang. Saat konvoi tentara Jepang tiba, semua berlutut dan menyembah. Gerson merasakan ada yang dilemparkan kepadanya dan ia mengira itu bom. Ia gemetaran dan berdoa agar bom itu tidak meledak. Ternyata setelah konvoi lewat, yang dikira bom itu adalah biskuit dan permen dan anak-anak berebutan.
"Tentara Jepang yang gundul-gundul itu masih muda-muda. Topi mereka seperti topi yang banyak dijual di toko-toko sekarang tetapi di kiri kanan dan belakang topi ada pita-pita lebar bergantungan. Mereka berhenti di samping pasar. Di tepi kebun kopi yang rimbun. Ada yang turun lalu langsung menimba air parit dan memasak nasi dan sebagainya. Aku diberikan uang Jepang logam dari aluminium. Puas menonton tentara gundul yang pendek-pendek itu, kami anak-anak berjalan ke rumah kontrolir (bupati Belanda) yang kulihat kedua tangannya sudah diikatkan ke tiang bendera mulai dari pagi sampai malam. Aku terharu, aku tidak bisa mengerti, bagaimana sehingga keadaan begitu berbalik seratus delapan puluh derajat."
Ayahnya hanya beberapa bulan di penjara. Menurut Gerson, mungkin karena perusahaan Singer Sewing Machine adalah perusahaan Amerika, musuh Jepang. Gerson kemudian disekolahkan lagi. Di sekolah ini banyak cerita dikenang Gerson termasuk kenakalan masa kecilnya menjatuhkan kacamata guru sehingga dipukul sampai kepalanya pecah, membasahi baju anak perempuan, berkelahi, membuat pesawat terbang dari kayu waru, menonton stomwalls, menonton pertunjukkan jalanan dst. Namun satu ingatan yang tak pernah ia lupakan adalah guru kelas lima, Tuan Sintus de Rodriques, seorang Larantuqueros (orang Larantuka). Tentang guru Sintus ia mengenang: 
"Selain senang pada pelajaran berhitung terutama hitungan-hitungan yang hanya memakai angka, tanpa kata-kata, untuk pertama kali aku mendapat ‘hadiah sastra’. Aku membuat sebuah esei di batu tulis. Ia membacanya. Tiba-tiba ia menyuruh kami diam dan ia membacakan eseiku di depan kelas. Rasanya dialah, Guru Sintus itulah yang mengantarkankan aku menjadi seorang sastrawan Indonesia. Aku selalu mengingatnya sehingga berita kematiannya di Jakarta karena sakit, sangat menyedihkan aku karena aku ingin sekali bertemu dengannya untuk memberitahukan bahwa aku telah menjadi seorang sastrawan di negeri ini."
Seorang guru yang lain yang juga diingatnya adalah guru kelas enam bernama Tuan Tjangkung, asli Manggarai. Di kelas enam, pertama kali Gerson mendapat pelajaran sejarah. Sejarah tempo dulu Manggarai diceritakan dengan bahasa yang sangat menarik, kata Gerson. Gerson masih ingat cerita guru itu tentang sopi: 
"Dahulu, orang Manggarai tidak mengenal sopi atau arak.” Lalu datang seorang raja dari Pulau Rote, yaitu raja kerajaan Ti. Raja Ti ini, dibantu oleh opas Feosau, juga orang dari Rote, membuat periuk tanah yang besar, lalu menyuling tuak dari sirup aren."
Gerson juga ingat seorang adik kelas "yang badannya bundar boncel" dan pintar bermain bola. Anak itu adalah Ben Mboi yang kemudian menjadi gubernur NTT. 
Di tahun 1945, ketika Jepang kalah, kelas enam dibubarkan dan tinggal dua kelas saja seperti Sekolah Standar sebelum Jepang. Gerson tak pernah menerima ijasah SD, hanya sepotong surat tulisan tangan yang ditandatangani Tuan Tjangkung bahwa dirinya sudah menamatkan Sekolah Rendah enam tahun. Menurut Gerson, sejak ayahnya keluar penjara, mereka berpindah-pindah temapt tinggal sebanyak enam kali. Kali keenam mereka menempati rumah sendiri di dekat Mataair Mabumuku.

Ayah Gerson kemudian bekerja pada Tsubono. Sebagai anak-anak Gerson ingat mereka berkelimpahan makanan. Ia ingat seorang pencuri baik hati yang ia sebut 'Robin Hood' bernama Daniel Jacob, atau anak kecil yang meraup susu bubuk dan memasukkan ke dalam mulutnya. Anak itu adalah Adi Bu Amalo yang kemudian menjadi Walikota Kupang. Ia juga mengingat para Heiho ke rumahnya membawa sekitar 20 kg bongkah perak dari Reo yang dibom Sekutu, namun ibunya kemudian mengembalikan perak-perak itu karea begitu logam mulia itu di simpan di rumah, petir dan halilintar menyambar pohon bambu di samping rumah mereka. Ia juga ingat adiknya membuang intan yang belum diasah dalam sebuah amplop ke sungai karena dikira sampah. Ia juga bercerita tentang para jugun ianfu yang banyak dibawa dari Jawa. Atau hadiah sepeda dari seorang tentara Jepang kepada abangnya Min Kecil. Gerson rupanya sangat mengagumi abangnya yang selama pendudukan Jepang tinggal dengan para tentara Jepang:
"Selama tinggal dengan opsir Jepang itu pada suatu hari orang melihat abangku membawa truk Jepang. Karena kecil ia menaruh bantal besar pantatnya. Akan tetapi yang paling nakal adalah pada suatu sore ketika ia sedang berkeliling kota di atas kudanya yang menderap lembut (tel). Tiba-tiba, ketika ia melewati depan kompleks yogun ianfu, ada seorang perempuan cantik menahannya dan meminta dibonceng. Ketika itu akusedang berdiri di deplan toko Tionghoa.
Aku lihat kudanya memacu kencang (halop) dan perempuan yang berbadan tinggi itu memeluk erat anak kecil Benyamin yang memboncengnya. Bajunya melayang sehingga pahanya yang pucat menjadi tontonan banyak manusia di tokok itu. Perempuan itu menangis, meringis-ringis, berteriak, "Sudah, Min, sudah, Min, cukup, pantat saya luka sakit," tetapi si Benja (panggilan ibuku ketika marah padanya) terus memacu kuda itu sambil tertawa-tawa."
Pada kesempatan lain ia bercerita tentang kebengalan kakaknya, mencuri anjing untuk dibuat RW atau membual bahwa ia adalah turunan bangsawan Manggarai. Gerson memang mengagumi kakaknya itu yang disebutnya Spartan atau Tarzan kecil:
"Abangku, mungkin karena dia joki ulung di seluruh Manggarai maka banyak orang yang mengaguminya, menyebut-nyebut namanya. Di antara yang mengaguminya itu adalah seorang gadis kuning bening. Nama gadis itu aku lupa. Keduanya bersahabat akrab, sebutlah berpacaran. Akan tetapi pada suatu malam, ketika purnama raya, aku lihat ada makhluk berselubung kain kalas (tenunan Manggarai) yang berjalan. Tubuhnya satu tetapi kakinya empat. Dua hitam, satu putih. Pastilah itu abangku Benyamin dan pacar putihnya."
Tentang cita-cita masa kecilnya Gerson mengaku tak pernah bermimpi menjadi penulis atau wartawan. Ia memang suka membaca tapi tak pernah terpikir menjadi penulis, ia malah ingin menjadi sopir atau menjadi aktor. Semua berangkat dari pengalaman masa kecilnya menonton stomwalls dan sandiwara keliling: 
"Aku selalu asyik menonton stomwals. Besi yang besar itu menggiling jalan raya dan aku berkata kepada diriku, bahwa kalau aku besar aku ingin jadi sopir kendaraan besi. Memang banyak hal yang menarik di kota Ruteng. Begitu banyak permainan dan perbutan yang menyengkan. Permainan-permainan seperti membuat kuda dari pelepah pisang lalu berlari, tidak melontarkan aku ke masa depan. Aku tidak ingin menjadi joki. Membuat perahu, mobil-mobil dari kulit jeruk Bali, tidak melontarkan aku ke cita-cita untuk menjadi montir. Begitu pula ketika aku membuat kapal terbang. Tidak ada impian untuk menjadi montir pesawat terbang, kecuali bermimpi indah untuk menjadi pilot. ...Biasanya kalau aku sedang bermain bola di lapangan, ada saja kertas koran atau sobekan beberapa halaman buku yang terbang ke tengah lapangan. Aku segera berhenti, membongkok lalu membaca. Tetapi aku tidak pernah ingin menjadi pengarang buku atau wartawan. Impianku hanyalah yang dua itu. Menjadi sopir stomwals yang beratnya entah berapa ton itu dan kemudian menjadi bintang panggung. Menjadi aktor. Keinginanku hampir tercapai ketika duduk di kelas tiga sekolah Guru Atas di Surabaya. Aku menjadi terbaik pada festival Seni Drama di tahun 1956. Aku ingat Jetty Sumali, kakak Tatiek Maliyati Sihombing menjadi sutradara terbaik. Grup teater mereka menjadai pemenang pertama. Tapi akhirnya aku tidak menjadi aktor. Aku menghadapi pekerjaan yang lebih berat daripada sopir stomwals. Aku menjadi pengarang cerpen, dan novel-novel. Aku membaca setiap hari, menulis setiap hari. Ini lebih berat daripada menjadi sopir stomwals."
Semua kenangan Gerson seperti tersimpan rapi dalam ingatannya, termasuk perkelahiannya dengan anak polisi yang membuat ayahnya anak itu marah, bersama ayahnya berjualan parang untuk mendapatkan padi di  tempat bernama Cancar, menjadi pedagang keliling (papalele) selepas SR, atau cinta monyetnya dengan putri raja Manggarai.  Ia juga ingat cerita sebuah desa yang disebut paling bersih karena semua rumah punya kakus. Seorang bangsawan bernama Kraeng Mboi yang disebut Mantri Kakus Mboi sangat rajin meneliti kakus, jika kurang bersih pemiliknya akan kena bogem. 
"Dia memakai gala yang panjang dan menusuk-nusuk tinja di dasar kakus. Kalau tinjanya kurang tebal, dia panggil pemiliknya lalu tos, bogem mentah dikirim ke tubuh pemilik itu. Rakyat tidak dendam karena sadar bangsawan Manggarai itu bekerja keras untuk menghindarkan rakyat dari El Maut, dari penyakit."
Ayah Gerson kemudian diangkat lagi menjadi pegawai negeri Negara Indonesia Timur (NIT) dan di pindahkan ke Maumere. Sebelum berangkat ayahnya membuat bunga rampai lalu disebarkan di sebuah perempatan sambil berkata, ”Selamat Tinggal Kota Penderitaan!”.
Gerson mengingat dengan detail 'perjalanan' hidupnya. Menurutnya mereka meninggalkan Ruteng dengan sebuah truk, menginap semalam di rumah iparnya David Kaha yang sudah pindah lebih dahulu ke Bajawa. Besoknya truk meneruskan perjalanan ke Endeh dan tiba di kota itu malam hari. Mereka menumpang di rumah om Eka dan besoknya meneruskan perjalanan ke Maumere. 
"Malam hari tiba di Nita, kami dibawa ke ‘hutan’ kelapa dan dalam hutan kelapa itu ada desa buatan Jepang yang disebut Weru Oret. Ada kantor pos, ada rumah-rumah darurat dan kami dibawa ke rumah yang pernah didiami perwira tinggi Jepang. Rumah itu didiami oleh Commies Loudoe yang akan menjadi bos ayahku. Di situ telah ada klerk Blantaran de Rosarie menempati satu kamar, tidur di atas tikar. Dua keluarga satu kamar, termasuk Paul Leiloh. Setiap hari para pegawai dibawa dengan truk dari Weru Oret ke kota pelabuhan dan perkantoran Kabupaten Sikka, Maumere."
Tak berapa lama rumah para pegawai pemerintah selesai dibangun dan mereka pindah ke Maumere di mana mereka tinggal persis di belakang rumah Raja Sikka. Di Maumere inilah ia mengikuti kursus tertulis jarak jauh bahasa Inggris dan stenografi dari Surabaya setelah membaca sebuah prospektus yang dibawah ayahnya dari kantor. Ayahnya memang menginginkannya menjadi wartawan, menyetujui idenya dan membiayainya.
Abangnya Benyamin juga menemukan keasikan baru sehingga ia tak pulang-pulang. Di sebelah utara Seminari Ledalero ada tumpukan mobil-mobil dan tank-tank dan peswat bekas peninggalan Jepang. 
"Di samping tumpukan bekas mesin perang Jepang itu, ada pohon-pohon mangga, pisang dan singkong. Ada juga barak yang atapnya masih bagus. Di sanalah abangku tinggal bersama ular, tikus dan serangga lainnya. Ia membuat api unggun, membakar ubi, merebus air dengan topi-topi baja. Bukan saja air tetapi singkong, nasi dan jagung direbus dengan topi-topi yang pemakainya sudah menjadi debu dan tulang. Berkali-kali aku mengomeli dia, pulang, pulang, tetapi ia tak mau pulang. Ia tak mau memberatkan ekonomi ibu. Pertanyaan makan apa yang kulontarkan ia menunjuk pohon-pohon mangga yang besar, buahnya bermatangan dan berjatuhan. Ia menunjuk pisang, singkong dan kelapa!"
Tidak lama kemudian Benjamin, yang kemudian menjadi polisi ini, muncul dengan pakaian baru dan bungkusan onderdil truk-truk untuk dibawa ke toko Tionghoa yang memesannya. Pedagang Tionghoa mulai sibuk menghidupkan ekonomi dengan truk pengangkut kopra, truk tua yang membutuhkan onderdil. Benjamin telah menemukan barang bekas yang bisa diumpamakan sebagai tambang emas. "Tinggal di timbunan mobil bekas, membuat dia menjadi montir," kenang Gerson.
Di Maumere ini pulalah untuk pertama kalinya Gerson tahu kalau ayahnya bisa menulis, setelah memergok ayanya menulis puisi dalam bahasa Latin. 
"Tiba-tiba ayahku sibuk. Di malam hari, ia duduk di meja kamar depan, membakar lampu taplak, mengambil botol tinta dan pena serta kertas dan kamus lalu menulis berjam-jam sampai larut malam. Di hari minggu pun, karena Mumere tak ada gereja Protestan, maka ayah tak keluar. Ia menulis terus, menulis terus. Ketika aku mencuri-curi membacanya ketika ayah pergi, aku lihat ada sebuah sajak panjang berjudul Te Deum Laudamus. Entah apa artinya dalam bahasa Latin."
Sajak itu kemudian dikirimkan ke tabloid Bentara di Endeh, namun tidak dimuat. Saat pemimpin redaksi tabloid itu mampir ke Maumere ia menyempatkan diri mencari ayah Gerson di kantor kontrolir dan mengatakan bahwa sajak atau lebih tepat disebut syair karya ayahnya itu terlalu berat dan tidak cocok untuk pembaca Flores yang belum bisa mencerna dengan baik karya yang demikian. Atasan ayahnya, Commies Loudu sendiri pernah berkata tentang tulisan ayahnya pada seorang tamu di rumahnya dan aku mendengarkannya. "Dulu, sebelum perang, Nani menulis sebuah artikel berjudul Allah, Manusia, dan Wet. Wah, Belanda-Belanda baca artikel itu dan mereka marah," kata Gerson menirukan Commies Loudu.
Kalabahi, SoE dan Surabaya

Dari Maumere, ayah Gerson kemudian dipindahkan ke Alor pada tahun 1948. Untuk ke Alor, mereka harus ke Kupang dulu. Ketika mendengar mereka sedang berada di Kupang, kakak tirinya Mariana datang menengok mereka ke Kupang. Ayahnya memutuskan untuk membawa Mariana ke Alor. Ia mencoba meminjam uang sana-sini untuk biaya Mariana ke Alor namun gagal. Ia mencoba menjual sebuah weker ke toko-toko China namun gagal juga. Akhirnya ia mendapat pinjaman dari keluarga Joosten. "Maka berlayarlah kami bersama kakak perempuanku yang telah lama berpisah dengan ibunya, dengan ibu kami."
Di Alor, Gerson yang sudah tidak bersekolah empat tahun, iseng bertanya kepada satu-satunya guru di sebuah sekolah yang disebut Opleiding Voor Volksonderwijzer (OVVO). Ia diterima hanya dengan persetujuan lisan dari sang guru, Tuan Sirituka. OVVO adalah Sekolah Guru Desa dua tahun di Kalabahi. Di kelas ia paling tua, untunglah badannya kecil jadi tak terlalu kelihatan. Ia tidak malu, sambil mengingat sebuah pepatah dalam kursus bahasa Inggris yang ia ikuti sebelumnya "Better late than never".

Pada tahun 1953 ia melanjutkan ke Sekolah Guru Bawah (SGB) yang semula disebut Normaal School di So’E, Timor Tengah Selatan. [more details to come]

Baik di OVVO maupun SGB ia selalu nomor satu sehingga ia dipilih untuk melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) Kristen yang semula disebut Kweek School di Surabaya yang ditamatkannya pada tahun 1956. Di Surabaya ia tidak peduli dengan pendidikan formalnya dan lebih suka bolos karena asyik dengan kegiatan keseniaan dan kewartawanannya. Karena minatnya yang besar terhadap kewartawanan ini, selain belajar di SGA, ia juga belajar bahasa Inggris secara otodidak dan ikut kursus stenografi.

Selama duduk di bangku SGA ia menjadi pengasuh ruang seni budaya di koran dan juga berteater. Aktifitas berteater membawanya memperoleh trophy Aktor Terbaik dalam Festival Seni Drama Surabaya. Selama di SGA ini pulalah ia memasuki sejarah sastra Indonesia dengan puisi-puisinya yang pertama kali di mulai dimuat di Mimbar Indonesia yang digawangi oleh Hans Bague Jassin.

Namun karena ia menerima beasiswa pemerintah, ia harus bekerja pada pemerintah. Ia menjadi guru tetap SMP Negeri di Ternate dan guru honorer di sebuah SMA yang menginspirasi sejumlah karyanya. 

Dari Ternate ia dipindahkan ke Bima, Nusa Tenggara Barat di mana ia menjadi guru tetap SMP di Bima dan guru honorer di SGA. Kepindahannya ke Bima tidak terjadi secara wajar. Ia melarikan diri dari Ternate saat timbul pemberontakan Permesta.

"Begitu ada kapal di pelabuhan, aku segera naik ke atas dengan pakaian di badan dan kemudian terdampar di Bali . Dengan ”mengemis”sana ”mengemis” sini aku mendapat ongkos untuk keJakarta . Di Jakarta, pembesar pendidikan menengah marah-marah lalu memindahkan aku ke Bima. Dua tahun lamanya aku tak menerima gaji. Bayangkan aku masih hidup dan mengajar terus dalam kebaikan orang-orang di Bima . Aku masih ingat pada haji Achmad seorang saudagar yang pernah membantu aku. Aku degngar saudagar yang baik itu mewariskan usahanya kepada anak-anaknya yang pernah aku didik."

Karirnya sebagai guru ia jalani dari tahun 1956 sampai 1963 dimana muncul beberapa karyanya  antara lain cerita pendek Mutiara di Tengah Sawah mendapat hadiah hiburan majalah Sastra tahun 1961. Kehidupan sebagai guru ini juga mengilhami salah satu novelnya Sang Guru. Karena novel inilah ia menerima Penghargaan Sastra ASEAN untuk novelnya Sang Guru pada tahun 1972.

Setelah bekerja sebagai guru selama tujuh tahun, pada tahun 1963 ia pindah ke Jakarta dan menjadi wartawan Harian Sinar Harapan. Setelah tujuh tahun ‘menyabung nyawa’ di atas sepeda motor berkeliling menjadi berita, ia minta berhenti pada tahun 1974. Tentang pekerjaan sebagai wartawan ini ia menulis:

“Setelah menjadi wartawan Sinar Harapan, aku mulai menjadi manusia yang suka keluar rumah [...]. Di Jakarta kebiasaan bergadang makin menjadi. Aku kuasai seluruh kota dengan sepeda motor. Bukan saja di Jakarta, tetapi karena aku mulai kenal kapal terbang maka radius bergadanganku sejauh Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Aku menjadi nomad modern (nomaden) dan teman-temanku yang jadi manusia sedenter (sedentary) sering aku kunjungi.”[3]

Pasca karirnya di Sinar Harapan, Gerson menjadi koresponden berbagai media dan ikut mendirikan beberapa media antara lain Harian Kami dan Majalah Bahasa Inggris Bali Courier.

Pada tahun 1970-1971 ia diundang pemerintah Amerika Serikat untuk mengikuti International Creative Writing Program di Universits Iowa. Dua puluh tahun kemudian ia diundang lagi sebagai Internasional Visitor pada program yang sama. 

Pada tahun 1982 diundang pemerintah India untuk mengikuti Konferensi Pengarang Asia-Afrika. Pada tahun 1985 dan 1986 berturut-turut ia mendapat Hadiah Adinegoro, hadiah tertinggi di bidang Jurnalistik yang diberikan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ia juga menerima Lifetime Achievement Award dari harian Kompas. Pada tahun 2011 ia menerima Anugerah Kebudayaan dari Presiden SBY untuk jasa-jasanya di bidang sastra dan kebudayaan.

Gerson Poyk tak pernah lupa memasukan unsur daerah dalam karya-karya sastranya, terutama Sunda Kecil di mana ia banyak menghabiskan hidupnya sebagai anak-anak maupun sebagai guru. Gerson menyebut dirinya mengamati bangsa ini dari “pinggiran” di mana menjadi suara dari mereka yang terhimpit secara sosial, suara dari Flobamora yang penuh kekayaan dan kebanggaan budaya. [4]

Karya-karya sastra Gerson juga tersebar di berbagai kumpulan cerpen maupun novel. Karya dalam bentuk buku dapat disebutkan, antara lain: 
Hari-Hari Pertama (1968), 
Matias Akankari (1972), 
Sang Guru (novel, 1972), 
Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Aleksander Rajagukguk (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1974), Nostalgia Nusa Tenggara (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1975), 
Jerat (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1978), 
Cumbuan Sabana (novel, Nusa Indah, Ende, 1979), 
Petualangan Dino (novel anak-anak, Nusa Indah, Ende, 1979), 
Giring-Giring (1982), 
Di Bawah Matahari Bali (1982), 
Seutas Benang Cinta (1982), 
Requem untuk Seorang Perempuan (1983), 
La Tirka Tar (1983), 
Mutiara di Tengah Sawah (cerpen, 1985), 
Anak Karang (1985), 
Puber Kedua di Sebuah Teluk (1985), 
Doa Perkabungan (1987), 
Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), 
Poti Wolo (1988), 
Sang Sutradara dan Wartawati Burung (2009) 
dan Keliling Indonesia, dari Era Bung Karno Sampai SBY (2011). 

Karya-karya orang lain tentang Gerson Poyk antara lain:
1. B. Trisman, Prih Suharto, Widodo Djati, Tiga Novel Penerima Hadiah Sastra SEA Write Award: Sang Guru karya Gerson Poyk, Ladang Perminus karya Ramadhan K.H., dan Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, (Pusat Bahasa, Depdiknas, 2003).
18.10 | 0 komentar | Read More

BIOGRAFI GERSON BAGIAN 1

SAAT menerima Southeast Asian Write Award di Bangkok pada tahun 1989, ia mengenakan pakaian adat Rote lengkap dengan ti’ilangga. Sebagai seorang pemenang dari Indonesia, ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang Rote. Hal yang sama ia lakukan ketika menghadiri Konferensi tentang Nationalism and Ethnicity in Southeast Asia. 

Dialah Gerson Poyk, satu diantara sedikit sastrawan Indonesia dari Nusa Tenggara Timur, dan satu di antara beberapa sastrawan Indonesia yang pernah memenangkan award pretigious untuk para sastrawan Asia Tenggara. Karya-karyanya sudah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa dan banyak sudah telaah ilmiah tentang karya-karyanya di dalam maupun luar negeri. Novelnya Sang Guru, adalah satu dari tiga novel Indonesia yang pernah memenangkan SEA Write Award. Dua novel yang lain adalah Ladang Perminus karya Ramadhan K.H. dan Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Saat saya mencoba mencari di katalog Universitas Leiden, Negeri Belanda ternyata sebagian besar  karyanya ada disana, juga karya orang lain tentang dirinya.

Kritikus sastra Indonesia berkebangsaan Belanda A. Teeuw menggolongkannya ke dalam Angkatan Terbaru, yaitu generasi sastrawan Indonesia di era 1950-an yang sangat peduli dengan aspek regional dalam karya sastra mereka. Generasi sastrawan ini adalah generasi pertama sastrawan Indonesia yang terdidik dalam sejarah sebagai warga negara Indonesia dalam bahasa dan budaya Indonesia. Mereka tetap menjaga daerah mereka sebagai “rumah” mereka sambil pada saat yang sama menjadi orang Indonesia. Aspek-aspek regional dapat ditelusuri di dalam karya-karya mereka dalam pengertian “daerah”, sastra untuk wilayah daerah. [need citation] Walaupun Paus Sastra Indonesia H.B.Jassin menggolongkan Gerson Poyk ke dalam Angkatan 66, tapi Ernst Kratz, menggolongkan Gerson Poyk ke Angkatan 1950-an karena karya-karyanya telah muncul pada tahun 1950-an.[1]

Lahir di Namodale, Ba’a, pulau Rote pada 16 Juni 1931. Ibunya bernama Yuliana Manu dari klan Nalefeo di Thie. Ayahnya Johanes Laurens Poyk seorang mantan tentara Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang pernah juga menulis artikel dan puisi.

Walaupun Gerson dilahirkan di Rote, ia tidak pernah dibesarkan di Rote. Ia lahir saat ayahnya bekerja sebagai mantri Belanda di Ba'a. Karena krisis ekonomi yang sebut orang saat itu zaman meleset (malaise) maka ayahnya diberhentikan sementara. Sang ayah kemudian memboyong istrinya, Gerson, dan Dina kakak perempuan Gerson dari perkawinan ibunya sebelumnya ke kampung ayahnya di Ringgou. Di sana mereka bertani menanam tembakau untuk dijual. Tak berapa lama, ayahnya dipekerjakan lagi, sebagai mantri di Bilba, di Rote Timur, kemudian di Pulau Semau, di Langgaliru di Sumba dan kemudian ke Bajawa.

Hanya sebentar ia dibawa ke Rote setelah sebuah kesalahan membuat ayahnya dipecat sebagai pegawai Belanda di Bajawa. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di beberapa tempat Flores, terutama di Ruteng, kemudian ia mengikuti ayahnya ke Alor, bersekolah di SoE dan Surabaya dan memulai karir kerjanya sebagai guru di Ternate. Inilah yang juga membentuk dirinya dan terpancar dalam karya-karyanya. Kehidupan keluarganya yang berpindah-pindah dan naik turun karir ayahnya serta kehidupan keluarganya terangkum apik dalam tragedy dan komedi karya-karyanya.

Dalam tulisannya Nostalgia Flobamora ia menceritkan dengan apik kenangan masa kecil dan masa remajanya sampai ia bersekolah di Surabaya. Cara berceritanya lugas dan enak, kadang kita dibuat tertawa, kadang harus menahan napas bahkan menitikkan air mata.

Ayah dan Ibu Gerson

Darah pertualangan rupanya turun dari ayahnya. Ayahnya memasuki sekolah "angka loro" di Rote namun sebelum menamatkan sekolahnya ia sudah ingin merantau. Kakek dari Gerson akhirnya menjual beberapa ekor kambing untuk mengirim ayah Gerson ke Kupang. Di Kupang ia tinggal bersama guru Lanu, yang juga berasal dari kampung ayahnya. Karena kakeknya tak mampu mengirim uang tiap bulan maka ayahnya disebut sebagai "anak piara" dari keluarga Lanu. Gerson menulis:
"Biasanya anak yang dipiara oleh orang Rote yang bergaji, bekerja serabutan mulai dari mencari kayu bakar, memikul air mandi dan minum, mencuci piring, momong anak majikan dan sebagainya. Imbalannya adalah makan, pakai dan tidur gratis dan di atas segalanya, anak piara itu dimasukkan ke sekolah. Itulah cara penduduk sebuah pulau yang mayoritas penduduknya tidak punya uang kontan, memajukan generasi mudanya."
Belum sempat rampung pendidikan ayahnya, seorang guru dari Rote bernama guru They pindah ke Takalar dan mengajak serta ayahnya yang saat itu duduk di kelas terakhir sekolah gubernemen atau sekolah 'angka loro". Di Takalar tugas ayahnya adalah membantu urusan rumah tangga sang guru sambil bersekolah. "Ia hars berlari pulang ke rumah untuk masak nasi, sayur dan ikan sehingga guru They pulang, makanan hangat-hangat sudah tersedia," kenang Gerson akan cerita ayahnya. 
Setelah tamat ayahnya langsung mendapatkan pekerjaans sebagai kepala halte stasiun kereta api yang menghubungkan Makassar dan Takalar, tapi kemudian ia masuk Sekolah Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Setelah menamatkan sekolah ia ditugaskan di atas Kapal Perang Sumba. Namun ayahnya di pecat karena suka berkelahi. Setelah itu ia bekerja lagi di pabrik binatu besar milik seorang Belanda. Lagi-lagi ia dipecat lantaran menghanguskan pakaian putih-putih sang meneer.

Ayah Gerson kemudian pulang ke Rote. Tak lama kemudian ia mendapatkan pekerjaan sebagai mantri rumah sakit (verpleger) dan menikah dengan seorang perempuan Rote. Namun karena keduanya tidak mempunyai anak, sang istri mengijinkan ayah Gerson menikah lagi. Kemudian ayah Gerson menikah dengan ibu Gerson yang sebelumnya menikah dengan seorang raja Thie. Dalam Nostalgia Flobamora ia menulis:
"Setelah bercerai dengannya, ayahku kawin dengan ibuku dan lahirlah aku, pada suatu subuh tanggal 16 Juni 1931, di sebuah rumah di tepi pantai, tidak jauh dari mercusuar satu-satunya di pulau Rote."
Suami pertama ibu Gerson adalah seorang raja dari kerajaan Thie yang dibuang oleh Belanda ke Sumbawa dan Flores, karena terlibat dalam perang dengan kerajaan tetangga Dengka. Sang raja itu kemudian menikah lagi di tempat pembuangannya walaupun dari perkawinan mereka telah lahir dua orang anak, Benjamin B. Messakh dan Mariana Messakh. Setelah ditinggal suaminya, ibu Gerson menikah lagi dengan raja berikutnya bernama Thobias Messakh, dan melahirkan dua orang anak yaitu Dina dan Benyamin. Raja itu meninggal tiba-tiba, sehingga ibu Gerson akhirnya menikah dengan ayah Gerson. Dari perkawinan itu lahirlah Gerson dan adik perempuannya. 
“Di pulau Rote, tepatnya di Nusak (Kerajaan) Ti ada empat saudara tiriku yang memakai nama marga (fam) Messakh. Si sulung bernama Benjamin B. Messakh, nomor dua bernama Mariana Messakh, yang ketiga bernama Dina Messakh dan keempat bernama Benyamin Messakh. Nenekku dari ibu memang dari keluarga Messakh, kawin dengan ayah ibuku dari keluarga Manu yang tergabung dalam leo (suku-suku) Nalefeo yang pada gilirannya sub subsuku Nalefeo masih berkerabat dengan suku-suku Ndanafeo, Todafeo dan Mesafeo. Semua leo tersebut menurut adat Rote menyediakan isteri-isteri bagi para raja di kerajaan Ti (ejaan Belanda Thie).
Aku dilahirkan di pulau Rote seperti halnya keempat kakakku dan adikku lahir di pulau Semau, sebuah kecil di depan teluk Kupang. Semua itu aku dengar dari ibuku. Ibuku juga bercerita bahwa kakekku dari pihak ayah adalah seorang temukung besar kepala beberapa desa yang terkenal karena memperoleh beberapa bintang dari pemerintah karena jasanya selama tiga puluh tahun mengumpulkan pajak dan satu sen pun tidak dikorup”.[2]
Ayah Gerson kemudian dipindahkan ke Sumba, memimpin klinik di sebuah dusun bernama Langgaliru, terletak diantara Waingapu dan Waikabubak. Kemudian ayah Gerson dipindahkan lagi ke Bajawa, Kabupaten Ngada, untuk menjabat sebagai kepala rumah klinik kabupaten (hoofdt mantri) di sana. Saat pindah ke Sumba dan Flores, ayahnya memboyong serta Dina, saudara Gerson dari lain ayah, sedangkan Benyamin besar, Benyamin kecil dan Mariana tinggal bersama kakek-nenek mereka di Rote.
Masa Kecil di Bajawa

Gerson memulai pendidikan formalnya di HIS kemudian dilanjutkan SD di Bajawa. Tentang Bajawa ia menulis:
"Bajawa, sebuahkota kecil di Kabupaten Ngada (Pulau Flores) adalah kota kesadaran pertama seorang anak kecil yang lahir di pulau Rote."
"Kota Bajawa di masa kecilku terdiri dari sebuah tangsi polisi, sebuah rumahsakit, sebuah Sekolah Rakyat, sebuah Gereja Katolik yang indah dan besar sekaligus rumah-rumah untuk pastor dan suster dan beberapa rumah pembesar pemerintah serta beberapa toko milik orang Tionghoa dan sebuah pasar terbuka (lapangan). Lapangan rumputnya hijau subur terpotong rapi, mungkin oleh orang-orang strapan (narapidana). Aku tak ingat di mana letak penjara, kecuali jalan menuju kuburan karena rumah dinas kami nomor dua dari pojok jalanan menuju tempat itu."
"Ayahku seorang mantri yang mengepalai rumah sakit di kabupaten itu. Masa itu dokter tinggal di ibukota keresidenan (di Endeh) dan sekali-sekali ia datang mengunjungi rumahsakit yang dipimpin oleh ayahku."
Keluarganya kemudian pindah ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, dimana ia menamatkan SD di sana tahun 1945. Keluarga kemudian pindah lagi ke Maumere, Kabupaten Sikka. Sejumlah karya sastranya mengandung unsur masa kecilnya ini antara lain Pati Wolo (1988) yang secara ironi menceritakan sebuah mahluk berkaki satu dan berkuku seperti kuda yang merupakan legenda yang akrab di telinganya ketika ia tinggal di Manggarai.

Gerson memang piawai menceritakan masa kecilnya. Ia menyebut "naluri melarikan diri" atau "naluri menyelamatkan diri" adalah bawaan masa kecilnya yang tak pernah hilang. Di masa kecil, naluri ini tidak membawa akibat, tetapi ketika dewas naluri melarikan diri ini membuatnya membuatnya menemui serba kesulitan dan kelucuan hidup. "Penuh tragedy dan komik", katanya.

Tentang pertama kali masuk sekolah, misalnya, ia menulis:
"Suatu pagi aku berontak mati-matian karena ibu ingin membawaku ke sekolah. Ibu menggendong aku di pinggangnya dan aku menangis terus, menangis terus meronta-ronta sampai ke sekolah... Sampai disana aku berhenti menangis karena aku melihat banyak anak-anak sebayaku.
Aku turun dari pinggang ibu dan guru menyambutku, mengangkat tanganku lewat kepala, menyuruh aku meraba telingaku. Sudah itu aku didaftarkan sebagai murid kelas satu tetapi boleh pulang. Sekolah baru mulai besoknya. Aku berkeliling sekolah itu. Aku melihat ada beberapa kantong terbuat dari anyaman daun pandan, berisi sesuatu, tergantung di tembok sekolah, di pohon dan di tiang lonceng.
...aku memanjat tiang lonceng tetapi tiba-tiba aku memanjat tiang lonceng untuk melihat apa yang berada dalam kresek anyaman daun pandan itu. Aku merogoh salah satu kantong dan ternyata isinya jagung kering goreng yang kerasnya seperti batu. Tetapi rahang anak Bajawa dapat menghancurkannya. Anak-anak yang membawa jagung goreng kering (tanpa minyak) itu datang dari kampung yang jauh. Makan pagi mereka dari jagung, ubi dan sebagainya, begitu juga makan siang mereka. Tak ada satu pun yang membawa uang jajan.
Pulang ke rumah, entah bagaimana, aku malas ke sekolah. Ibuku membongkar aku dari keasyikan nyenyak pagi, menyuruh aku mandi tetapi aku menolak semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya menolak ke sekolah. Setelah menakut-nakuti aku dengan oto-pos (mobil pos) dan tuan inspektur Belanda, barulah aku mau berjalan bersama ibu ke sekolah. Anak-anak kelas satu telah duduk tenang-tenang di kelas. Ibu langsung mengantarkan aku ke dalam kelas lalu guru mendudukkan aku di bangku paling depan.
Begitu ibuku keluar, sang guru (Tuan Riberu) yang kulitnya hitam membelalakkan matanya kepadaku lalu menggerutu. Jantungku berdebur ketakutan tetapi mataku melihat ke jendela dan ada sedikit rencana kilat muncul di benakku. Kalau dia menyeringai dan bangun mendekatiku, bangun dari kursinya dan menerkam aku maka aku akan lari ke jendela dan melompat lalu lari ke rumah dan takkan kembali lagi selama-lamanya, selama-lamanya! Hanya itu yang kuingat benar ketika masuk sekolah di Bajawa." 
Konteks sosial dari karya-karyanya juga diuraikan dengan gamblang. Ia misalnya menggambarkan stratifikasi sosial masyarakat Hindia Belanda di Flores secara deskriptif jernih menurut kacamata seorang bocah:
"Di Bajawa, seperti juga di semua kabupaten di Flores, kontrolir dan aspiran kontrolir, kemudian inspektur, semuanya Belanda. Di bawah mereka seperti klerk dan Bestuur Assisten adalah orang Rote. Kepala tangsi polisi juga seorang yang berasal dari Rote. Dia pamanku, To’o Hormu. Celakanya, opas-opasnya pun berasala dari Rote. Pakaian opas seperti polisi, memakai kelewang panjang dan topi bambu. Kumisnya terputar bagaikan tanduk kecil di bibirnya."
Di Flores karir ayahnya melejit dan diangkat menjadi hoofdt mantri, namun sebuah tragedy menimpa. Ayahnya berselingkuh dengan seorang perempuan Jawa, istri seorang polisi. Saudara perempuan ayahnya sendiri, yang adalah istri seorang kepala tangsi polisi di Bajawa, melaporkan hal itu dan ayahnya dipecat. Ibu Gerson sangat marah kepada ipar perempuannya yang melaporkan suaminya sehingga ia menggigit telinga iparnya itu. Gerson tak tahu apa-apa soal kejadian itu, ia hanya tahu ketika mereka telah keluar dari rumah dinas mereka dan menumpang pada kerabat di kota Ende.
"Pada suatu malam aku dan adikku dibangunkan lalu dibawa ke mobil dan begitu bangun tidur aku, adikku dan ibuku telah berada di sebuah rumah berlantai tanah dikota pelabuhan Endeh. Ayahku tidak kelihatan ketika aku bangun pagi. Rumah itu terletak di seberang jalan dari rumah Bung Karno, di kampung Tiang Radio... Tidak lama kemudian ayahku kembali, membawa uang logam cukup banyak dan ibu belanja makanan yang cukup enak seperti halnya di Bajawa.
Rumah itu milik seorang bernama Manafe, asal Rote. Begitu ayahku muncul ia membawa kami ke sebuah rumah di samping katedral, di kaki bukit kecil, di sebelah kuburan Tionghoa. Malam pertama telingaku disengat kalajengking sehingga aku terkaing-kaing menangis memecah kesunyian.
Kemudian ayah menggali sebidang tanah lereng, meratakannya dan membangun sebuah gubuk. Maka kami lega memiliki rumah sendiri, tanpa menumpang di rumah orang. Semuanya dibuat oleh tangan ayah. Aku ingat, ia juga membuat sebuah kursi malas lalu duduklah dia sambil makan sirih.
Kemudian ayah menghilang lagi. Aku dengar cerita ibu tentang pekerjaan ayah. Pekerjaan baru. Ayah tidak lagi menjadi Hoofd Mantri. Ayah mengikuti Tuan Lauwoie, seorang pembela perkara."
Hidup berubah begitu cepat. Dari anak pegawai menjadi anak pembela perkara amatiran. Namun Gerson ingat bahwa setiap hari ia bisa makan. Hanya satu kali, ingatnya bahwa ia dan saudara-suadaranya tidur malam setelah mengunyah cuma kue bendera.
"Aku masih ingat, uang yang ditinggalkan ayah terbatas sehingga pada suatu malam ibu memanggil adikku dan aku untuk makan malam. Di sebuah dulang tersedia beberapa potong kue bendera dan teh manis. Kami mengunyah kue itu lalu minum teh manis dan tidur lelap karena lelah bermain sehari suntuk. Sungguh, sebuah kenangan yang halus mengiris jiwaku."
Di Endeh, Gerson masuk sekolah Protestan, dan seingatnya ia tidak pernah belajar berhitung dan membaca, hanya solmisasi. Ia ingat gurunya adalah Pendeta Samuel Muda, ayah dari Laksamana Samuel Muda, pahlawan Laut Aru. Ia juga ingat bagaimana ibunya mengajarkan membuat rampai untuk ditaburkan ke laut :
"Ibu berkata, bunga rampai itu dikirim kepada nenek, kepada paman dan sebagainya. Lalu kami bertiga ke jembatan laut menghamburkannya ke laut. Peristiwa itu sangat mengesankan aku. Terasa sangat indah. Terasa bunga itu akan sampai ke suatu tempat rahasia tempat Mama Be’a (Nenek) dan Papa Be’a (kakek) dan sanak saudara bermukim. Ibu telah mengajarkan aku tentang bahasa kerja menanami kebun dan simbol-simbol cinta kasih kepada yang berada di seberangsana , di dalam dan dibalik kehidupan nyata dan fana ini."
Pulang ke Rote

Karena beban hidup semakin berat, Gerson dan adiknya Matilda dibawa oleh ibunya pulang ke Rote, sementara ayahnya tetap berusaha sebagai pengacara amatiran di Flores. Gerson mengingat bagaimana mereka pulang:
"Tiba-tiba saja, kami bertiga...telah berada di atas sebuah kapal yang berlayar dari Endeh menuju Rote dan Kupang. Aku ingat betul, di kapal kami makan nasi dan ikan asin goreng sepuas-puasnya. Sehabis makan, masih ada tersisa banyak ikan dan nasi. Ibu tidak membuangnya. Aku mengikuti ibu ke atas dek dan membawa nasi itu lalu dijemurnya. Itulah yang kuingat, bagaimana seorang ibu diterpa tekanan hidup, menjaga baik-baik nasi pemberian Tuhan. Seterusnya entah jadi apa nasi itu, aku tak ingat lagi. Aku hanya ingat bahwa kami turun di pelabuhan Ba’a dan menginap di rumah seorang sanak yang aku tak ingat siapa namanya."
Setibanya di Rote, mereka dijemput oleh abang tertua dari lain ayah, Benyamin J. Messakh. Mereka dibawa ke Oetefu dengan kuda. Ingatan Gerson sangat vivid dan detail, ia ingat hal-hal kecil yang menjadi bumbu cerita-ceritanya. Saat tiba di Oetefu ia menulis:
"Beberapa tanteku menyambut aku dengan ciuman sedang yang satu lagi yang dipanggil Te’o Pokek (Tante Buta) meraba-raba aku mulai dari kaki sampai ke kepala. Kemudian aku dibawa ke rumah utama sebuah rumah panggung dan diberi uang logam beberapa keping lalu membiarkan aku tidur siang di sebuah ranjang berseprei putih dan berkelambu. Aku sendiri yang tidur di rumah itu. Kamar-kamarnya kosong. [...]
Begitu bangun sore, aku sendirian di rumah panggung itu. Kakak Usi, Susi Mariana entah di mana. Aku berdiri di beranda depan memandang pohon kelapa dan lontar. Bunyi burung tekukur dan udara panas sore hari membuat aku rindu pada ibu. Maka kerinduan itu membuat aku menangis sendiri, sambil memanggil-manggil, "mama... mama...” Mama tak menjawab, mama tidak muncul-muncul walaupun abang sulungku telah berkuda ke Ba’a yang jaraknya dua puluhlima kilometer.
Tiba-tiba terpikir atau teringat, kata guru Sekolah Minggu, bahwa apa yang kita minta dari Tuhan maka Tuhan akan memenuhi permintaan kita. Aku pun menutup mata dan berdoa kepad Tuhan. "Tuhan, saya minta mama saya cepat datang. Saya kesepian. Tuhan, saya minta kalau saya membuka mata maka mama saya sudah ada di depan saya,” begitulah doaku. Sungguh lucu. Sia-sia. Naif. Begitu aku membuka mata ibu tiada.
Akan tetapi aku sama sekali tidak mengomeli Tuhan. Aku bergerak entah ke mana, lupa, tidak teringat oleh khazanah kenangan masa kecilku. Terlalu banyak detik dan jam yang kulupakan. Aku hanya ingat, tiba-tiba saja ibuku dan adikku datang dibawa oleh abangku dan oleh Tuhan. Aku ingat, kami bertiga ditempatkan di rumah besar di samping kiri rumah utama di kamar depan yang berdinding setengah sehingga pandangan ke halaman tidak terhalang."
Tidak lama kemudian ibu Gerson membawa mereka pindah ke Oekahendak, sebuah dusun kecil yang terdiri dari tiga buah rumah dan sebuah mata air kecil. Disana mereka bergabung dengan kedua kakaknya, Dina dan Min kecil yang tinggal bersama papa to’o (saudara ibu)nya dan te’o Fia kakak perempuan ibunya yang tidak menikah.
Deskripsi Gerson tentang orang-orangpun sangat jelas, kadang membuat kita tersenyum karena ia memakai kacamata anak-anak saat menuliskannya. Tentang saudara laki-laki ibunya yang ia panggil papa to'o dan beberapa kerabat lain ia menulis: 
"Aku masih ingat wajah Papa To’o, pamanku. Kulitnya kuning seperti ibuku. Badannya kekar. Wajahnya ganteng seperti wajah Hemingway. Ia sangat eksentrik. Sangat eksentrik bagi penduduk sekitarnya karena ia suka memaki dengan bahasa jorok.
Aku sayang betul pada Papa To’o pamanku. Ia suka tertawa keras memperlihatkan giginya yang bagus. Paling kurang senyumnya yang ramah. Pakaiannya celana pendek dan baju tangan pendek. Ia tidak memakai sepatu atau sandal. Aku ingat sekali pada Te’o Fia, tanteku yang tidak banyak bicara tetapi selalu sibuk, menumbuk padi, memberi makan ternak dan sibuk di sawah dan ladang.
Abangku Benyamin (Min Kecil) tak pernah diam. Hampir tiap hari ia pulang membawa tekukur, burung pipit dan udang kecil. Aku sibuk membakar burung-burung itu untuk dimakan. Abangku Benyamin adalah tarsan kecil, spartan. Dia pelempar tepat.
Jika mau makan daging tekukur yang merupakan wabah bagi tanaman padi dan kacang ijo. Min Kecil tinggal memungut batu dan melemparkan ke kerumunan tekukur itu. Lemparannya sangat kuat. Batu yang meluncur sampai berbunyi, mendesing membelah udara. Tekukur yang mati lebih dari satu ekor. Aku sangat gembira bila abangku membawa setumpuk tekukur. Dia lalu mencabut bulunya, membuang usus dan kotorannya dan mencucinya kemudian membubuhkan garam dan memanggang burung itu di halaman.
Kalau tidak tekukur, dia membawa sekeranjang burung pipit yang paruhnya merah dan kuat. Aku mengunyah pipit panggang itu. Dagingnya, tulangnya, sampai ke kepalanya yang berisi otak. Enak sekali dimakan dengan nasi. Ketika musim hujan tiba, parit kecil yang berasal dari mata air itu meluap. Air dipakai untuk mengaliri sawah di sekitarnya."
Dia tidak takut pada ular berbisa. Pada suatu hari, kami, anak-anak yang lebih kecil darinya sedang mengerubungi dan menonton seekor ular ijo yang berbisa, melingkar di ketiak akar pohon kesambi sambil memagut-magut. Tiba-tiba abangku muncul. “Mundur, mundur, mundur,” katanya lalu meraup leher ular itu dan melenggang pergi."
Gerson juga ingat sekolah tempat abangnya Min Kecil bersekolah yaitu Tudameda. 
"Sekolah itu terbuat dari bebak (pelepah gebang) yang bercelah-celah mudah diintip dari luar dan dari dalam. Atapnya terdiri dari daun lontar. Tampaknya seperti kandang kambing, tetapi dari sekolah itu beberapa sarjana dan orang terkenal Indonesia lahir dan bekerja di luar pulau, terutama di Jawa, tak pulang-pulang membangun kampungnya."
Ketika Gerson mengunjungi Rote di tahun 1997, lokasi sekolah itu sudah jadi kebun. Menurutnya dulu di seberang Jalan Raya Sirtu, ada rumah Guru Pah, famili ibunya, seorang maestro senandu biola. Adik guru Pah, Eduard Pah juga adalah seorang guru, dan maestro sesandu biola. Eduard Pah ini mendapat Anugerah Seni dari pemerintah RepublikIndonesia dan profil tentang seniman ini dimuat di The New York Times. Satu-satunya seniman musik Rote yang mendapat publisitas internasional lewat New York Times. Jarang juga seniman Indonesia dipublikasi lewat sebuah artikel yang dimuat di koran internasional itu. 

Dari Oekahendak, Gerson dititipkan kepada famili di Lalukoen. Sebagai anak-anak, Gerson tak mengerti mengapa ibunya meninggalkannya di keluarga itu, ia menangis dan meronta sejadi-jadinya saat itu, namun kemudian ia punya rasionalisasi sendiri:
"Sampai sekarang, aku berpikir, mungin usiaku sudah mencapai usia sekolah sehingga ibu mau menitipkan aku di rumah famili yang dekat dengan sekolah, sekaligus meringankan beban saudara-saudaranya yang telah menampung kakak perempuanku, kakak lelakiku dan adik perempuanku serta ibuku sendiri. Soalnya paman dan saudara ibu hanya hidup dari kebun dan sawah serta sejumlah pohon lontar dan binatang ternak. Biasanya mereka minum gula dan sayuran serta ikan serta daging sekadarnya, tidak biasa masak nasi setiap hari seperti orangkota . Setiap hari aku harus makan nasi, sayur, daging burung dan sebagainya. Aku tidak seperti kakak-kakakku dan ibuku. Barangkali karena itu."
Kemudian ibunya menitipkannya lagi ke rumah pendeta Hidalilo, seorang pendeta yang berasal dari Sabu. Pendeta ini tinggal di Tudameda, "di rumah yang di depannya ada kolam berair kuning". Gerson mengenang bagaimana ia dititipkan di situ: 
"Aku senang sekali bermain dengan anak-anak itu di bawah benderang lampu tekan sehingga ketika ditanya apakah aku mau tinggal di rumah itu, aku mengangguk setuju.... Malam itu seingatku; ibu tidak membawa tas pakaian. Ibu melepaskan aku dengan pakaian di badan. Seingatku tidak ada acara makan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Aku masih ingat pada suatu malam Ibu Pendeta membagi-bagikan biskuit. Juga masih segar dalam ingatan Ibu Pendeta membawa kami untuk mandi di sungai. Aku masih ingat pula pada suatu malam, ketika Mama Nyora Hidalilo (istri pendeta dan guru dipanggil nyora) membagi-bagi nasi dan lauk, kepada tiap anak ia bertanya mau tambah atau tidak. Anak-anak pendeta mengatakan tidak sedangkan aku mau tambah. Aku lihat nasiku hanya setengah dari nasi anak-anak yang tak mau tambah. Kami hanya makan sekali, makan malam. Tampaknya gaji pendeta itu kecil sedangkan kami hampir sepuluh orang di rumah itu."
Selama tinggal dengan keluarga pendeta ini, Gerson ingat seorang tokoh unik masa kecilnya bernama Karaba, seorang pemarah nanum tak pernah marah kepada Gerson. Gerson suka duduk di depan Karaba yang sedang mengupas kelapa tua dan memungut serpihan kelapa untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Karaba tidak marah. Saat bermain-main sendirian di sekitar gedung sekolah, Gerson pernah usil mengambil sebuah lidi dan menusukannya ke celah dinding sekolah yang terbuat dari pelepah gewang itu. Ternyata mengenai pantat Karaba. Karaba mengejar dan melemparnya saat itu, namun kemudian baik lagi. Ia malah menyalahkan temannya yang lain, seorang anak angkat pendeta juga yang dibawa dari Sabu, Nara. Gerson mengenang kata-kata Karaba kepadanya: 
""Bapa Pendeta sudah mengutuk si Nara karena ia menulis-nulisi Kitab Suci," kata Karaba. Sejak itu aku takut sekali dikutuk oleh Bapa Pendeta, terutama takut dimarahi Tuhan kalau salah memegang atau menyia-nyiakan Kitab Suci. Sampai aku bersekolah di Sekolah Standar, kalau aku melihat lembaran Kitab Suci yang tersobek dan terbuang, aku memungutnya dan menyimpannya baik-baik. Aku selalu mengingat anak itu. Si Karaba itu." 
Karaba ini kemudian masuk Heiho dan setelah usai Perang Dunia kedua sempat berpapasan dengan Gerson di Kupang, dalam barisan Heiho.
"Badannya tambah hitam dan kurus, tinggi. Aku menegurnya dan dia membalas teguranku sambil berjalan terapung-apung, lurus, dagu terangkat. Aku memandang punggungnya ketika ia menjauh, sambil menarik napas dan desah nostalgia."
Dijemput Sang Ayah

Di rumah pendeta Hidalilo itulah kerinduan seorang anak akan ayahnya terbayar. Sang ayah datang menjemput anak-anaknya yang sudah lama berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena kesalahan yang ia buat sendiri.
"Tiba-tiba, pada suatu hari ketika aku berjalan menunduk menuju kolam kemarau kuning kesayanganku, ada sesosok tubuh di depanku. ”Papa!” seruku bahagia. Aku disuruh berdiri menunggu di jalan dan ayahku masuk ke dalam untuk memberitahukan bahwa aku diambil kembali. Tidak lama kemudian ayah keluar dan kami berjalan meninggalkan rumah pendeta itu tanpa tas pakaian, kecuali baju monyet di badan. Walaupun aku sendiri tidak bertemu dengan pendeta dan istrinya untuk mengucapkan terima kasih, walaupun tidak ada acara perpisahan, aku masih ingat jasa keluarga pendeta itu memberi tumpangan, tempat tidur dan makanan untuk beberapa lamanya. Kepada orang-orang yang ditemuinya di Oekahendak, ayah menceritakan kesedihannya melihat anaknya yang sudah hitam tak terurus dan pakaiannya yang cuma satu melekat di badan, tidak pernah dicuci."
Usaha ayah Gerson untuk menjadi peng
acara amatiran macet. Lalu ia menjual rumahnya di Ende dan barang-barangnya agar bisa mendapatkan ongkos kapal untuk menemui anak-anaknya. "Untung, naluri kebapakannya menggerakkan dia mencari anak-anaknya yang terombang-ambing di bawah kepak ibu yang kurang berdaya," kenang Gerson. Bagi Gerson, pengalaman masa kecil ini adalah sumber kepekaannya yang dituangkan dalam karya-karyanya.
"Pengalaman seorang anak sepertiku sangat menyedihkan, mengharukan dan semuanya menjadi sumber kepekaan, sumber inspirasi ketika aku menjadi dewasa. Tidak dapat disangkal pengalaman menjadi bahanbaku untuk kesusasteraanku, untuk karya-karyaku, baik berupa prosa maupun puisi dan lain-lain. Aku memasuki kesusasteraanIndonesia melalui puisi. Sajak-sajak pertamaku dimuat di koran dan majalah Surabaya kemudian Mimbar Indonesia, Jakarta yang ditulis tahun 1955 ketika aku duduk di bangku Sekolah Guru Atas Kristen di Jalan Pringadi, Bubutan, Surabaya, dan ketika mengikuti International Writing Program, sebuah program creative writing di bawah bimbingan Prof. Paul Engle, Ph.D (penyair) di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat."
Bagi Gerson, masa kecilnya telah berubah menjad

i puisi. Ia menulis sebuah sajak ketika pengalaman masa kecilnya telah mengendap jauh dalam jiwanya. Masa kecil baginya "adalah kuda tunggang, tambur gembala, jalan setapak yang berliku, rumah lalang bepagar batu." Tentang masa kecilnya ia menulis sebuah puisi:
Gambar Keluarga
Begini kuda tunggang dan dadaku diterik tangis padang
lewat jalan liku menuju rumah lalang berpagar batu 
bila dulu aku datang aku tak tahu ciumanmu tengik tersaar
bibirmu yang hambar memperdengarkan tambur gembala
pandanganmu mengharu usia dewasa sejak itu m
engobar
dalam mataku bundar segar seorang anak yang belum sadar 
kau tinggalkan aku bermain di tepi kolam kemarau kuning
tak sampai sesiang yang indah berenang rian
dengan hidup telanjang memandang kuda tunggang yang tegap 
airnya makin kering mengabur ke bibir nasib kemarau
aku pulang ke rumah lalang berpagar bagu, lingkar kasih yang buntu
nyenyak malam membenam dalam lapar dalam lupa masa kanak kelakar, 
dan sindiran yang menyembur senja kemarau kuning
sebagai tuntutan atas budi yang tumbuh menjadi hutan
belum terbayar oleh anak yang lapar mengejar belalang
hingga sekali kelak aku berdiri di atas nyanyian hidup yang manis 
kau datang kembali dengan bawaan beserba
untung aku belum lesu terpenggal oleh dosa dan hilang sesal

Gerson Poyk  [SP/Ignatius Liliek
Gerson mengakui bahwa kepekaannya memang adalah bagian dari masa kecilnya. Ia menulis: "Terasa oleh si kecil itu (si aku puitis itu) bahwa pandangan yang mengharukan dia di masa dewasa nanti telah bertumbuh, telah mengobar dalam mata seorang anak kecil yang belum sadar akan segi-segi hambar dalam kehidupannya." Tafsiran terhadap sajak di atas yang ia tulis sekitar tahun 1965 ini patut dikutip secara langsung:
"Ayahku (kau) telah meninggalkan aku bermain di tepi kolam kemarau kuning, hanya sebentar berenang riang dengan hidup telanjang memandang kuda tunggang yang tegap. Air di kolam tempat aku bermain makin kering, mengabur ke bibir nasib kemarau lalu aku pun pulang ke rumah lalang berpagar batu, lingkar kasih yang buntu, lalu tidur dalam lapar dalam lupa masa kanak. Bagaimana pun, kehidupan ini penuh dengan kelakar dan sindiran dan ini merupakan hutang budi yang belum bisa dibayar oleh seorang anak kecil yang lapar mengejar belalang. Kelak semuanya akan terbayar bila telah sampai pada nyanyian hidup yang manis.Ayahku datang dengan bawaan beserba. Beruntunglah, aku belum terkapar…"
Gerson mengakui bahwa gambaran tentang kehidupannya di Rote, tentang pohon-pohon kom dan kosambi, tentang jalan sirtu, tentang orang-orang menjadi inspirasi dalam cerpen-cerpen dan novelnya, terutama novel Meredam Dendam.

Setelah ayahnya menjemput mereka di Tudameda, mereka pindah ke Ba'a, di mana mereka "menumpang di sebuah rumah dekat jembatan Lete Langgak, di pinggir jalan, di kaki bukit yang gundul." Pada suatu hari mereka pindah ke sebuah rumah di punggung bukit dan ayah Gerson meninggalkan mereka ke Ringgou. Setelah beberapa lama sang ayah pulang membawa seekor kerbau. Kerbau itu dibawa ke rumah jagal dan mereka punya banyak uang dan daging. Gerson mengatakan ibunya pintar memasak sebab di masa gadisnya ia tinggal dengan keluarga domine (pendeta) Belanda bernama Domine de Vries.

Setelah menjual daging kerbau itu, ayah Gerson membangun sebuah gubuk darurat di pinggir jalan dekat Gerej Menggelama. Tak lama setelah itu ayahnya berangkat ke Kupang lagi untuk mencari pekerjaan. Gerson ingat benar waktu itu bulan Desember. "Aku ingat betul karena pernah merayakan Natal ketika ayah tiada. Hadiah Natalku hanya sebuah buku tulis tipis karena setoranku juga kecil," katanya.

Ketika sang ayah berada di Kupang, datang seorang nenek dari Sabu yang tinggal di Ba’a ke gubuk mereka  dan meramal dengan daun sirih.
"Ia menggenggam-genggam daun sirih di tangannya kemudian melemparkannya ke atas tikar. Daun sirih yang terlepas dari gengamannya terbuka, bergerak pelan-pelan dan diam. Lalu ia berkata, ”Bapak kalian sudah mendapat pekerjaan di Kupang,” katanya. Aku dan adikku bahagia sekali. Sudah tentu ibuku juga. Aku sudah lupa nama nenek asal Pulau Sabu itu. Menurut cerita nenek itu, ia pernah meninggal (berapa lama, aku tak ingat lagi) dan di surga ia melihat banyak sekali makanan yang dibuang sia-sia oleh manusia."
Benar, ayahnya mendapat pekerjaan di perusahaan Singer Sewing Machine, buatan Amerika. Pada saat yang bersamaan kakak sulung Gerson, Benyamin J. Messakh lulus dalam tes masuk tentara.
"Kami bahagia karena itu. Ibu pun mengikhlaskan anak tertuanya masuk tentara. Kami mengantarkannya ke pelabuhan. Ia naik kapal, berlayar menuju Jawa dan akan masuk sekolah militer (KNIL) di Purworejo."
Ke Kupang dan ke Flores lagi, kali ini Ruteng

Sehabis merayakan natal, ibu Gerson membawa keempat anaknya menyusul sang ayah di Kupang. Hanya kakaknya Mariana yang tinggal di Rote. Di Kupang ayahnya telah menyewa sebuah kamar di rumah keluarga Pandy di Fatufeto. Gerson masukkelas satu Volksschool (Sekolah Rakyat tiga tahun) di Bonipoi dan abangnya Min Kecil duduk di kelas empat Vervolkschool (Sekolah S
18.10 | 0 komentar | Read More
 
berita unik