Translate

BIOGRAFI GERSON BAGIAN 1

Written By iqbal_editing on Kamis, 10 November 2016 | 18.10

SAAT menerima Southeast Asian Write Award di Bangkok pada tahun 1989, ia mengenakan pakaian adat Rote lengkap dengan ti’ilangga. Sebagai seorang pemenang dari Indonesia, ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang Rote. Hal yang sama ia lakukan ketika menghadiri Konferensi tentang Nationalism and Ethnicity in Southeast Asia. 

Dialah Gerson Poyk, satu diantara sedikit sastrawan Indonesia dari Nusa Tenggara Timur, dan satu di antara beberapa sastrawan Indonesia yang pernah memenangkan award pretigious untuk para sastrawan Asia Tenggara. Karya-karyanya sudah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa dan banyak sudah telaah ilmiah tentang karya-karyanya di dalam maupun luar negeri. Novelnya Sang Guru, adalah satu dari tiga novel Indonesia yang pernah memenangkan SEA Write Award. Dua novel yang lain adalah Ladang Perminus karya Ramadhan K.H. dan Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Saat saya mencoba mencari di katalog Universitas Leiden, Negeri Belanda ternyata sebagian besar  karyanya ada disana, juga karya orang lain tentang dirinya.

Kritikus sastra Indonesia berkebangsaan Belanda A. Teeuw menggolongkannya ke dalam Angkatan Terbaru, yaitu generasi sastrawan Indonesia di era 1950-an yang sangat peduli dengan aspek regional dalam karya sastra mereka. Generasi sastrawan ini adalah generasi pertama sastrawan Indonesia yang terdidik dalam sejarah sebagai warga negara Indonesia dalam bahasa dan budaya Indonesia. Mereka tetap menjaga daerah mereka sebagai “rumah” mereka sambil pada saat yang sama menjadi orang Indonesia. Aspek-aspek regional dapat ditelusuri di dalam karya-karya mereka dalam pengertian “daerah”, sastra untuk wilayah daerah. [need citation] Walaupun Paus Sastra Indonesia H.B.Jassin menggolongkan Gerson Poyk ke dalam Angkatan 66, tapi Ernst Kratz, menggolongkan Gerson Poyk ke Angkatan 1950-an karena karya-karyanya telah muncul pada tahun 1950-an.[1]

Lahir di Namodale, Ba’a, pulau Rote pada 16 Juni 1931. Ibunya bernama Yuliana Manu dari klan Nalefeo di Thie. Ayahnya Johanes Laurens Poyk seorang mantan tentara Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang pernah juga menulis artikel dan puisi.

Walaupun Gerson dilahirkan di Rote, ia tidak pernah dibesarkan di Rote. Ia lahir saat ayahnya bekerja sebagai mantri Belanda di Ba'a. Karena krisis ekonomi yang sebut orang saat itu zaman meleset (malaise) maka ayahnya diberhentikan sementara. Sang ayah kemudian memboyong istrinya, Gerson, dan Dina kakak perempuan Gerson dari perkawinan ibunya sebelumnya ke kampung ayahnya di Ringgou. Di sana mereka bertani menanam tembakau untuk dijual. Tak berapa lama, ayahnya dipekerjakan lagi, sebagai mantri di Bilba, di Rote Timur, kemudian di Pulau Semau, di Langgaliru di Sumba dan kemudian ke Bajawa.

Hanya sebentar ia dibawa ke Rote setelah sebuah kesalahan membuat ayahnya dipecat sebagai pegawai Belanda di Bajawa. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di beberapa tempat Flores, terutama di Ruteng, kemudian ia mengikuti ayahnya ke Alor, bersekolah di SoE dan Surabaya dan memulai karir kerjanya sebagai guru di Ternate. Inilah yang juga membentuk dirinya dan terpancar dalam karya-karyanya. Kehidupan keluarganya yang berpindah-pindah dan naik turun karir ayahnya serta kehidupan keluarganya terangkum apik dalam tragedy dan komedi karya-karyanya.

Dalam tulisannya Nostalgia Flobamora ia menceritkan dengan apik kenangan masa kecil dan masa remajanya sampai ia bersekolah di Surabaya. Cara berceritanya lugas dan enak, kadang kita dibuat tertawa, kadang harus menahan napas bahkan menitikkan air mata.

Ayah dan Ibu Gerson

Darah pertualangan rupanya turun dari ayahnya. Ayahnya memasuki sekolah "angka loro" di Rote namun sebelum menamatkan sekolahnya ia sudah ingin merantau. Kakek dari Gerson akhirnya menjual beberapa ekor kambing untuk mengirim ayah Gerson ke Kupang. Di Kupang ia tinggal bersama guru Lanu, yang juga berasal dari kampung ayahnya. Karena kakeknya tak mampu mengirim uang tiap bulan maka ayahnya disebut sebagai "anak piara" dari keluarga Lanu. Gerson menulis:
"Biasanya anak yang dipiara oleh orang Rote yang bergaji, bekerja serabutan mulai dari mencari kayu bakar, memikul air mandi dan minum, mencuci piring, momong anak majikan dan sebagainya. Imbalannya adalah makan, pakai dan tidur gratis dan di atas segalanya, anak piara itu dimasukkan ke sekolah. Itulah cara penduduk sebuah pulau yang mayoritas penduduknya tidak punya uang kontan, memajukan generasi mudanya."
Belum sempat rampung pendidikan ayahnya, seorang guru dari Rote bernama guru They pindah ke Takalar dan mengajak serta ayahnya yang saat itu duduk di kelas terakhir sekolah gubernemen atau sekolah 'angka loro". Di Takalar tugas ayahnya adalah membantu urusan rumah tangga sang guru sambil bersekolah. "Ia hars berlari pulang ke rumah untuk masak nasi, sayur dan ikan sehingga guru They pulang, makanan hangat-hangat sudah tersedia," kenang Gerson akan cerita ayahnya. 
Setelah tamat ayahnya langsung mendapatkan pekerjaans sebagai kepala halte stasiun kereta api yang menghubungkan Makassar dan Takalar, tapi kemudian ia masuk Sekolah Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Setelah menamatkan sekolah ia ditugaskan di atas Kapal Perang Sumba. Namun ayahnya di pecat karena suka berkelahi. Setelah itu ia bekerja lagi di pabrik binatu besar milik seorang Belanda. Lagi-lagi ia dipecat lantaran menghanguskan pakaian putih-putih sang meneer.

Ayah Gerson kemudian pulang ke Rote. Tak lama kemudian ia mendapatkan pekerjaan sebagai mantri rumah sakit (verpleger) dan menikah dengan seorang perempuan Rote. Namun karena keduanya tidak mempunyai anak, sang istri mengijinkan ayah Gerson menikah lagi. Kemudian ayah Gerson menikah dengan ibu Gerson yang sebelumnya menikah dengan seorang raja Thie. Dalam Nostalgia Flobamora ia menulis:
"Setelah bercerai dengannya, ayahku kawin dengan ibuku dan lahirlah aku, pada suatu subuh tanggal 16 Juni 1931, di sebuah rumah di tepi pantai, tidak jauh dari mercusuar satu-satunya di pulau Rote."
Suami pertama ibu Gerson adalah seorang raja dari kerajaan Thie yang dibuang oleh Belanda ke Sumbawa dan Flores, karena terlibat dalam perang dengan kerajaan tetangga Dengka. Sang raja itu kemudian menikah lagi di tempat pembuangannya walaupun dari perkawinan mereka telah lahir dua orang anak, Benjamin B. Messakh dan Mariana Messakh. Setelah ditinggal suaminya, ibu Gerson menikah lagi dengan raja berikutnya bernama Thobias Messakh, dan melahirkan dua orang anak yaitu Dina dan Benyamin. Raja itu meninggal tiba-tiba, sehingga ibu Gerson akhirnya menikah dengan ayah Gerson. Dari perkawinan itu lahirlah Gerson dan adik perempuannya. 
“Di pulau Rote, tepatnya di Nusak (Kerajaan) Ti ada empat saudara tiriku yang memakai nama marga (fam) Messakh. Si sulung bernama Benjamin B. Messakh, nomor dua bernama Mariana Messakh, yang ketiga bernama Dina Messakh dan keempat bernama Benyamin Messakh. Nenekku dari ibu memang dari keluarga Messakh, kawin dengan ayah ibuku dari keluarga Manu yang tergabung dalam leo (suku-suku) Nalefeo yang pada gilirannya sub subsuku Nalefeo masih berkerabat dengan suku-suku Ndanafeo, Todafeo dan Mesafeo. Semua leo tersebut menurut adat Rote menyediakan isteri-isteri bagi para raja di kerajaan Ti (ejaan Belanda Thie).
Aku dilahirkan di pulau Rote seperti halnya keempat kakakku dan adikku lahir di pulau Semau, sebuah kecil di depan teluk Kupang. Semua itu aku dengar dari ibuku. Ibuku juga bercerita bahwa kakekku dari pihak ayah adalah seorang temukung besar kepala beberapa desa yang terkenal karena memperoleh beberapa bintang dari pemerintah karena jasanya selama tiga puluh tahun mengumpulkan pajak dan satu sen pun tidak dikorup”.[2]
Ayah Gerson kemudian dipindahkan ke Sumba, memimpin klinik di sebuah dusun bernama Langgaliru, terletak diantara Waingapu dan Waikabubak. Kemudian ayah Gerson dipindahkan lagi ke Bajawa, Kabupaten Ngada, untuk menjabat sebagai kepala rumah klinik kabupaten (hoofdt mantri) di sana. Saat pindah ke Sumba dan Flores, ayahnya memboyong serta Dina, saudara Gerson dari lain ayah, sedangkan Benyamin besar, Benyamin kecil dan Mariana tinggal bersama kakek-nenek mereka di Rote.
Masa Kecil di Bajawa

Gerson memulai pendidikan formalnya di HIS kemudian dilanjutkan SD di Bajawa. Tentang Bajawa ia menulis:
"Bajawa, sebuahkota kecil di Kabupaten Ngada (Pulau Flores) adalah kota kesadaran pertama seorang anak kecil yang lahir di pulau Rote."
"Kota Bajawa di masa kecilku terdiri dari sebuah tangsi polisi, sebuah rumahsakit, sebuah Sekolah Rakyat, sebuah Gereja Katolik yang indah dan besar sekaligus rumah-rumah untuk pastor dan suster dan beberapa rumah pembesar pemerintah serta beberapa toko milik orang Tionghoa dan sebuah pasar terbuka (lapangan). Lapangan rumputnya hijau subur terpotong rapi, mungkin oleh orang-orang strapan (narapidana). Aku tak ingat di mana letak penjara, kecuali jalan menuju kuburan karena rumah dinas kami nomor dua dari pojok jalanan menuju tempat itu."
"Ayahku seorang mantri yang mengepalai rumah sakit di kabupaten itu. Masa itu dokter tinggal di ibukota keresidenan (di Endeh) dan sekali-sekali ia datang mengunjungi rumahsakit yang dipimpin oleh ayahku."
Keluarganya kemudian pindah ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, dimana ia menamatkan SD di sana tahun 1945. Keluarga kemudian pindah lagi ke Maumere, Kabupaten Sikka. Sejumlah karya sastranya mengandung unsur masa kecilnya ini antara lain Pati Wolo (1988) yang secara ironi menceritakan sebuah mahluk berkaki satu dan berkuku seperti kuda yang merupakan legenda yang akrab di telinganya ketika ia tinggal di Manggarai.

Gerson memang piawai menceritakan masa kecilnya. Ia menyebut "naluri melarikan diri" atau "naluri menyelamatkan diri" adalah bawaan masa kecilnya yang tak pernah hilang. Di masa kecil, naluri ini tidak membawa akibat, tetapi ketika dewas naluri melarikan diri ini membuatnya membuatnya menemui serba kesulitan dan kelucuan hidup. "Penuh tragedy dan komik", katanya.

Tentang pertama kali masuk sekolah, misalnya, ia menulis:
"Suatu pagi aku berontak mati-matian karena ibu ingin membawaku ke sekolah. Ibu menggendong aku di pinggangnya dan aku menangis terus, menangis terus meronta-ronta sampai ke sekolah... Sampai disana aku berhenti menangis karena aku melihat banyak anak-anak sebayaku.
Aku turun dari pinggang ibu dan guru menyambutku, mengangkat tanganku lewat kepala, menyuruh aku meraba telingaku. Sudah itu aku didaftarkan sebagai murid kelas satu tetapi boleh pulang. Sekolah baru mulai besoknya. Aku berkeliling sekolah itu. Aku melihat ada beberapa kantong terbuat dari anyaman daun pandan, berisi sesuatu, tergantung di tembok sekolah, di pohon dan di tiang lonceng.
...aku memanjat tiang lonceng tetapi tiba-tiba aku memanjat tiang lonceng untuk melihat apa yang berada dalam kresek anyaman daun pandan itu. Aku merogoh salah satu kantong dan ternyata isinya jagung kering goreng yang kerasnya seperti batu. Tetapi rahang anak Bajawa dapat menghancurkannya. Anak-anak yang membawa jagung goreng kering (tanpa minyak) itu datang dari kampung yang jauh. Makan pagi mereka dari jagung, ubi dan sebagainya, begitu juga makan siang mereka. Tak ada satu pun yang membawa uang jajan.
Pulang ke rumah, entah bagaimana, aku malas ke sekolah. Ibuku membongkar aku dari keasyikan nyenyak pagi, menyuruh aku mandi tetapi aku menolak semuanya. Aku menangis sejadi-jadinya menolak ke sekolah. Setelah menakut-nakuti aku dengan oto-pos (mobil pos) dan tuan inspektur Belanda, barulah aku mau berjalan bersama ibu ke sekolah. Anak-anak kelas satu telah duduk tenang-tenang di kelas. Ibu langsung mengantarkan aku ke dalam kelas lalu guru mendudukkan aku di bangku paling depan.
Begitu ibuku keluar, sang guru (Tuan Riberu) yang kulitnya hitam membelalakkan matanya kepadaku lalu menggerutu. Jantungku berdebur ketakutan tetapi mataku melihat ke jendela dan ada sedikit rencana kilat muncul di benakku. Kalau dia menyeringai dan bangun mendekatiku, bangun dari kursinya dan menerkam aku maka aku akan lari ke jendela dan melompat lalu lari ke rumah dan takkan kembali lagi selama-lamanya, selama-lamanya! Hanya itu yang kuingat benar ketika masuk sekolah di Bajawa." 
Konteks sosial dari karya-karyanya juga diuraikan dengan gamblang. Ia misalnya menggambarkan stratifikasi sosial masyarakat Hindia Belanda di Flores secara deskriptif jernih menurut kacamata seorang bocah:
"Di Bajawa, seperti juga di semua kabupaten di Flores, kontrolir dan aspiran kontrolir, kemudian inspektur, semuanya Belanda. Di bawah mereka seperti klerk dan Bestuur Assisten adalah orang Rote. Kepala tangsi polisi juga seorang yang berasal dari Rote. Dia pamanku, To’o Hormu. Celakanya, opas-opasnya pun berasala dari Rote. Pakaian opas seperti polisi, memakai kelewang panjang dan topi bambu. Kumisnya terputar bagaikan tanduk kecil di bibirnya."
Di Flores karir ayahnya melejit dan diangkat menjadi hoofdt mantri, namun sebuah tragedy menimpa. Ayahnya berselingkuh dengan seorang perempuan Jawa, istri seorang polisi. Saudara perempuan ayahnya sendiri, yang adalah istri seorang kepala tangsi polisi di Bajawa, melaporkan hal itu dan ayahnya dipecat. Ibu Gerson sangat marah kepada ipar perempuannya yang melaporkan suaminya sehingga ia menggigit telinga iparnya itu. Gerson tak tahu apa-apa soal kejadian itu, ia hanya tahu ketika mereka telah keluar dari rumah dinas mereka dan menumpang pada kerabat di kota Ende.
"Pada suatu malam aku dan adikku dibangunkan lalu dibawa ke mobil dan begitu bangun tidur aku, adikku dan ibuku telah berada di sebuah rumah berlantai tanah dikota pelabuhan Endeh. Ayahku tidak kelihatan ketika aku bangun pagi. Rumah itu terletak di seberang jalan dari rumah Bung Karno, di kampung Tiang Radio... Tidak lama kemudian ayahku kembali, membawa uang logam cukup banyak dan ibu belanja makanan yang cukup enak seperti halnya di Bajawa.
Rumah itu milik seorang bernama Manafe, asal Rote. Begitu ayahku muncul ia membawa kami ke sebuah rumah di samping katedral, di kaki bukit kecil, di sebelah kuburan Tionghoa. Malam pertama telingaku disengat kalajengking sehingga aku terkaing-kaing menangis memecah kesunyian.
Kemudian ayah menggali sebidang tanah lereng, meratakannya dan membangun sebuah gubuk. Maka kami lega memiliki rumah sendiri, tanpa menumpang di rumah orang. Semuanya dibuat oleh tangan ayah. Aku ingat, ia juga membuat sebuah kursi malas lalu duduklah dia sambil makan sirih.
Kemudian ayah menghilang lagi. Aku dengar cerita ibu tentang pekerjaan ayah. Pekerjaan baru. Ayah tidak lagi menjadi Hoofd Mantri. Ayah mengikuti Tuan Lauwoie, seorang pembela perkara."
Hidup berubah begitu cepat. Dari anak pegawai menjadi anak pembela perkara amatiran. Namun Gerson ingat bahwa setiap hari ia bisa makan. Hanya satu kali, ingatnya bahwa ia dan saudara-suadaranya tidur malam setelah mengunyah cuma kue bendera.
"Aku masih ingat, uang yang ditinggalkan ayah terbatas sehingga pada suatu malam ibu memanggil adikku dan aku untuk makan malam. Di sebuah dulang tersedia beberapa potong kue bendera dan teh manis. Kami mengunyah kue itu lalu minum teh manis dan tidur lelap karena lelah bermain sehari suntuk. Sungguh, sebuah kenangan yang halus mengiris jiwaku."
Di Endeh, Gerson masuk sekolah Protestan, dan seingatnya ia tidak pernah belajar berhitung dan membaca, hanya solmisasi. Ia ingat gurunya adalah Pendeta Samuel Muda, ayah dari Laksamana Samuel Muda, pahlawan Laut Aru. Ia juga ingat bagaimana ibunya mengajarkan membuat rampai untuk ditaburkan ke laut :
"Ibu berkata, bunga rampai itu dikirim kepada nenek, kepada paman dan sebagainya. Lalu kami bertiga ke jembatan laut menghamburkannya ke laut. Peristiwa itu sangat mengesankan aku. Terasa sangat indah. Terasa bunga itu akan sampai ke suatu tempat rahasia tempat Mama Be’a (Nenek) dan Papa Be’a (kakek) dan sanak saudara bermukim. Ibu telah mengajarkan aku tentang bahasa kerja menanami kebun dan simbol-simbol cinta kasih kepada yang berada di seberangsana , di dalam dan dibalik kehidupan nyata dan fana ini."
Pulang ke Rote

Karena beban hidup semakin berat, Gerson dan adiknya Matilda dibawa oleh ibunya pulang ke Rote, sementara ayahnya tetap berusaha sebagai pengacara amatiran di Flores. Gerson mengingat bagaimana mereka pulang:
"Tiba-tiba saja, kami bertiga...telah berada di atas sebuah kapal yang berlayar dari Endeh menuju Rote dan Kupang. Aku ingat betul, di kapal kami makan nasi dan ikan asin goreng sepuas-puasnya. Sehabis makan, masih ada tersisa banyak ikan dan nasi. Ibu tidak membuangnya. Aku mengikuti ibu ke atas dek dan membawa nasi itu lalu dijemurnya. Itulah yang kuingat, bagaimana seorang ibu diterpa tekanan hidup, menjaga baik-baik nasi pemberian Tuhan. Seterusnya entah jadi apa nasi itu, aku tak ingat lagi. Aku hanya ingat bahwa kami turun di pelabuhan Ba’a dan menginap di rumah seorang sanak yang aku tak ingat siapa namanya."
Setibanya di Rote, mereka dijemput oleh abang tertua dari lain ayah, Benyamin J. Messakh. Mereka dibawa ke Oetefu dengan kuda. Ingatan Gerson sangat vivid dan detail, ia ingat hal-hal kecil yang menjadi bumbu cerita-ceritanya. Saat tiba di Oetefu ia menulis:
"Beberapa tanteku menyambut aku dengan ciuman sedang yang satu lagi yang dipanggil Te’o Pokek (Tante Buta) meraba-raba aku mulai dari kaki sampai ke kepala. Kemudian aku dibawa ke rumah utama sebuah rumah panggung dan diberi uang logam beberapa keping lalu membiarkan aku tidur siang di sebuah ranjang berseprei putih dan berkelambu. Aku sendiri yang tidur di rumah itu. Kamar-kamarnya kosong. [...]
Begitu bangun sore, aku sendirian di rumah panggung itu. Kakak Usi, Susi Mariana entah di mana. Aku berdiri di beranda depan memandang pohon kelapa dan lontar. Bunyi burung tekukur dan udara panas sore hari membuat aku rindu pada ibu. Maka kerinduan itu membuat aku menangis sendiri, sambil memanggil-manggil, "mama... mama...” Mama tak menjawab, mama tidak muncul-muncul walaupun abang sulungku telah berkuda ke Ba’a yang jaraknya dua puluhlima kilometer.
Tiba-tiba terpikir atau teringat, kata guru Sekolah Minggu, bahwa apa yang kita minta dari Tuhan maka Tuhan akan memenuhi permintaan kita. Aku pun menutup mata dan berdoa kepad Tuhan. "Tuhan, saya minta mama saya cepat datang. Saya kesepian. Tuhan, saya minta kalau saya membuka mata maka mama saya sudah ada di depan saya,” begitulah doaku. Sungguh lucu. Sia-sia. Naif. Begitu aku membuka mata ibu tiada.
Akan tetapi aku sama sekali tidak mengomeli Tuhan. Aku bergerak entah ke mana, lupa, tidak teringat oleh khazanah kenangan masa kecilku. Terlalu banyak detik dan jam yang kulupakan. Aku hanya ingat, tiba-tiba saja ibuku dan adikku datang dibawa oleh abangku dan oleh Tuhan. Aku ingat, kami bertiga ditempatkan di rumah besar di samping kiri rumah utama di kamar depan yang berdinding setengah sehingga pandangan ke halaman tidak terhalang."
Tidak lama kemudian ibu Gerson membawa mereka pindah ke Oekahendak, sebuah dusun kecil yang terdiri dari tiga buah rumah dan sebuah mata air kecil. Disana mereka bergabung dengan kedua kakaknya, Dina dan Min kecil yang tinggal bersama papa to’o (saudara ibu)nya dan te’o Fia kakak perempuan ibunya yang tidak menikah.
Deskripsi Gerson tentang orang-orangpun sangat jelas, kadang membuat kita tersenyum karena ia memakai kacamata anak-anak saat menuliskannya. Tentang saudara laki-laki ibunya yang ia panggil papa to'o dan beberapa kerabat lain ia menulis: 
"Aku masih ingat wajah Papa To’o, pamanku. Kulitnya kuning seperti ibuku. Badannya kekar. Wajahnya ganteng seperti wajah Hemingway. Ia sangat eksentrik. Sangat eksentrik bagi penduduk sekitarnya karena ia suka memaki dengan bahasa jorok.
Aku sayang betul pada Papa To’o pamanku. Ia suka tertawa keras memperlihatkan giginya yang bagus. Paling kurang senyumnya yang ramah. Pakaiannya celana pendek dan baju tangan pendek. Ia tidak memakai sepatu atau sandal. Aku ingat sekali pada Te’o Fia, tanteku yang tidak banyak bicara tetapi selalu sibuk, menumbuk padi, memberi makan ternak dan sibuk di sawah dan ladang.
Abangku Benyamin (Min Kecil) tak pernah diam. Hampir tiap hari ia pulang membawa tekukur, burung pipit dan udang kecil. Aku sibuk membakar burung-burung itu untuk dimakan. Abangku Benyamin adalah tarsan kecil, spartan. Dia pelempar tepat.
Jika mau makan daging tekukur yang merupakan wabah bagi tanaman padi dan kacang ijo. Min Kecil tinggal memungut batu dan melemparkan ke kerumunan tekukur itu. Lemparannya sangat kuat. Batu yang meluncur sampai berbunyi, mendesing membelah udara. Tekukur yang mati lebih dari satu ekor. Aku sangat gembira bila abangku membawa setumpuk tekukur. Dia lalu mencabut bulunya, membuang usus dan kotorannya dan mencucinya kemudian membubuhkan garam dan memanggang burung itu di halaman.
Kalau tidak tekukur, dia membawa sekeranjang burung pipit yang paruhnya merah dan kuat. Aku mengunyah pipit panggang itu. Dagingnya, tulangnya, sampai ke kepalanya yang berisi otak. Enak sekali dimakan dengan nasi. Ketika musim hujan tiba, parit kecil yang berasal dari mata air itu meluap. Air dipakai untuk mengaliri sawah di sekitarnya."
Dia tidak takut pada ular berbisa. Pada suatu hari, kami, anak-anak yang lebih kecil darinya sedang mengerubungi dan menonton seekor ular ijo yang berbisa, melingkar di ketiak akar pohon kesambi sambil memagut-magut. Tiba-tiba abangku muncul. “Mundur, mundur, mundur,” katanya lalu meraup leher ular itu dan melenggang pergi."
Gerson juga ingat sekolah tempat abangnya Min Kecil bersekolah yaitu Tudameda. 
"Sekolah itu terbuat dari bebak (pelepah gebang) yang bercelah-celah mudah diintip dari luar dan dari dalam. Atapnya terdiri dari daun lontar. Tampaknya seperti kandang kambing, tetapi dari sekolah itu beberapa sarjana dan orang terkenal Indonesia lahir dan bekerja di luar pulau, terutama di Jawa, tak pulang-pulang membangun kampungnya."
Ketika Gerson mengunjungi Rote di tahun 1997, lokasi sekolah itu sudah jadi kebun. Menurutnya dulu di seberang Jalan Raya Sirtu, ada rumah Guru Pah, famili ibunya, seorang maestro senandu biola. Adik guru Pah, Eduard Pah juga adalah seorang guru, dan maestro sesandu biola. Eduard Pah ini mendapat Anugerah Seni dari pemerintah RepublikIndonesia dan profil tentang seniman ini dimuat di The New York Times. Satu-satunya seniman musik Rote yang mendapat publisitas internasional lewat New York Times. Jarang juga seniman Indonesia dipublikasi lewat sebuah artikel yang dimuat di koran internasional itu. 

Dari Oekahendak, Gerson dititipkan kepada famili di Lalukoen. Sebagai anak-anak, Gerson tak mengerti mengapa ibunya meninggalkannya di keluarga itu, ia menangis dan meronta sejadi-jadinya saat itu, namun kemudian ia punya rasionalisasi sendiri:
"Sampai sekarang, aku berpikir, mungin usiaku sudah mencapai usia sekolah sehingga ibu mau menitipkan aku di rumah famili yang dekat dengan sekolah, sekaligus meringankan beban saudara-saudaranya yang telah menampung kakak perempuanku, kakak lelakiku dan adik perempuanku serta ibuku sendiri. Soalnya paman dan saudara ibu hanya hidup dari kebun dan sawah serta sejumlah pohon lontar dan binatang ternak. Biasanya mereka minum gula dan sayuran serta ikan serta daging sekadarnya, tidak biasa masak nasi setiap hari seperti orangkota . Setiap hari aku harus makan nasi, sayur, daging burung dan sebagainya. Aku tidak seperti kakak-kakakku dan ibuku. Barangkali karena itu."
Kemudian ibunya menitipkannya lagi ke rumah pendeta Hidalilo, seorang pendeta yang berasal dari Sabu. Pendeta ini tinggal di Tudameda, "di rumah yang di depannya ada kolam berair kuning". Gerson mengenang bagaimana ia dititipkan di situ: 
"Aku senang sekali bermain dengan anak-anak itu di bawah benderang lampu tekan sehingga ketika ditanya apakah aku mau tinggal di rumah itu, aku mengangguk setuju.... Malam itu seingatku; ibu tidak membawa tas pakaian. Ibu melepaskan aku dengan pakaian di badan. Seingatku tidak ada acara makan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Aku masih ingat pada suatu malam Ibu Pendeta membagi-bagikan biskuit. Juga masih segar dalam ingatan Ibu Pendeta membawa kami untuk mandi di sungai. Aku masih ingat pula pada suatu malam, ketika Mama Nyora Hidalilo (istri pendeta dan guru dipanggil nyora) membagi-bagi nasi dan lauk, kepada tiap anak ia bertanya mau tambah atau tidak. Anak-anak pendeta mengatakan tidak sedangkan aku mau tambah. Aku lihat nasiku hanya setengah dari nasi anak-anak yang tak mau tambah. Kami hanya makan sekali, makan malam. Tampaknya gaji pendeta itu kecil sedangkan kami hampir sepuluh orang di rumah itu."
Selama tinggal dengan keluarga pendeta ini, Gerson ingat seorang tokoh unik masa kecilnya bernama Karaba, seorang pemarah nanum tak pernah marah kepada Gerson. Gerson suka duduk di depan Karaba yang sedang mengupas kelapa tua dan memungut serpihan kelapa untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Karaba tidak marah. Saat bermain-main sendirian di sekitar gedung sekolah, Gerson pernah usil mengambil sebuah lidi dan menusukannya ke celah dinding sekolah yang terbuat dari pelepah gewang itu. Ternyata mengenai pantat Karaba. Karaba mengejar dan melemparnya saat itu, namun kemudian baik lagi. Ia malah menyalahkan temannya yang lain, seorang anak angkat pendeta juga yang dibawa dari Sabu, Nara. Gerson mengenang kata-kata Karaba kepadanya: 
""Bapa Pendeta sudah mengutuk si Nara karena ia menulis-nulisi Kitab Suci," kata Karaba. Sejak itu aku takut sekali dikutuk oleh Bapa Pendeta, terutama takut dimarahi Tuhan kalau salah memegang atau menyia-nyiakan Kitab Suci. Sampai aku bersekolah di Sekolah Standar, kalau aku melihat lembaran Kitab Suci yang tersobek dan terbuang, aku memungutnya dan menyimpannya baik-baik. Aku selalu mengingat anak itu. Si Karaba itu." 
Karaba ini kemudian masuk Heiho dan setelah usai Perang Dunia kedua sempat berpapasan dengan Gerson di Kupang, dalam barisan Heiho.
"Badannya tambah hitam dan kurus, tinggi. Aku menegurnya dan dia membalas teguranku sambil berjalan terapung-apung, lurus, dagu terangkat. Aku memandang punggungnya ketika ia menjauh, sambil menarik napas dan desah nostalgia."
Dijemput Sang Ayah

Di rumah pendeta Hidalilo itulah kerinduan seorang anak akan ayahnya terbayar. Sang ayah datang menjemput anak-anaknya yang sudah lama berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena kesalahan yang ia buat sendiri.
"Tiba-tiba, pada suatu hari ketika aku berjalan menunduk menuju kolam kemarau kuning kesayanganku, ada sesosok tubuh di depanku. ”Papa!” seruku bahagia. Aku disuruh berdiri menunggu di jalan dan ayahku masuk ke dalam untuk memberitahukan bahwa aku diambil kembali. Tidak lama kemudian ayah keluar dan kami berjalan meninggalkan rumah pendeta itu tanpa tas pakaian, kecuali baju monyet di badan. Walaupun aku sendiri tidak bertemu dengan pendeta dan istrinya untuk mengucapkan terima kasih, walaupun tidak ada acara perpisahan, aku masih ingat jasa keluarga pendeta itu memberi tumpangan, tempat tidur dan makanan untuk beberapa lamanya. Kepada orang-orang yang ditemuinya di Oekahendak, ayah menceritakan kesedihannya melihat anaknya yang sudah hitam tak terurus dan pakaiannya yang cuma satu melekat di badan, tidak pernah dicuci."
Usaha ayah Gerson untuk menjadi peng
acara amatiran macet. Lalu ia menjual rumahnya di Ende dan barang-barangnya agar bisa mendapatkan ongkos kapal untuk menemui anak-anaknya. "Untung, naluri kebapakannya menggerakkan dia mencari anak-anaknya yang terombang-ambing di bawah kepak ibu yang kurang berdaya," kenang Gerson. Bagi Gerson, pengalaman masa kecil ini adalah sumber kepekaannya yang dituangkan dalam karya-karyanya.
"Pengalaman seorang anak sepertiku sangat menyedihkan, mengharukan dan semuanya menjadi sumber kepekaan, sumber inspirasi ketika aku menjadi dewasa. Tidak dapat disangkal pengalaman menjadi bahanbaku untuk kesusasteraanku, untuk karya-karyaku, baik berupa prosa maupun puisi dan lain-lain. Aku memasuki kesusasteraanIndonesia melalui puisi. Sajak-sajak pertamaku dimuat di koran dan majalah Surabaya kemudian Mimbar Indonesia, Jakarta yang ditulis tahun 1955 ketika aku duduk di bangku Sekolah Guru Atas Kristen di Jalan Pringadi, Bubutan, Surabaya, dan ketika mengikuti International Writing Program, sebuah program creative writing di bawah bimbingan Prof. Paul Engle, Ph.D (penyair) di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat."
Bagi Gerson, masa kecilnya telah berubah menjad

i puisi. Ia menulis sebuah sajak ketika pengalaman masa kecilnya telah mengendap jauh dalam jiwanya. Masa kecil baginya "adalah kuda tunggang, tambur gembala, jalan setapak yang berliku, rumah lalang bepagar batu." Tentang masa kecilnya ia menulis sebuah puisi:
Gambar Keluarga
Begini kuda tunggang dan dadaku diterik tangis padang
lewat jalan liku menuju rumah lalang berpagar batu 
bila dulu aku datang aku tak tahu ciumanmu tengik tersaar
bibirmu yang hambar memperdengarkan tambur gembala
pandanganmu mengharu usia dewasa sejak itu m
engobar
dalam mataku bundar segar seorang anak yang belum sadar 
kau tinggalkan aku bermain di tepi kolam kemarau kuning
tak sampai sesiang yang indah berenang rian
dengan hidup telanjang memandang kuda tunggang yang tegap 
airnya makin kering mengabur ke bibir nasib kemarau
aku pulang ke rumah lalang berpagar bagu, lingkar kasih yang buntu
nyenyak malam membenam dalam lapar dalam lupa masa kanak kelakar, 
dan sindiran yang menyembur senja kemarau kuning
sebagai tuntutan atas budi yang tumbuh menjadi hutan
belum terbayar oleh anak yang lapar mengejar belalang
hingga sekali kelak aku berdiri di atas nyanyian hidup yang manis 
kau datang kembali dengan bawaan beserba
untung aku belum lesu terpenggal oleh dosa dan hilang sesal

Gerson Poyk  [SP/Ignatius Liliek
Gerson mengakui bahwa kepekaannya memang adalah bagian dari masa kecilnya. Ia menulis: "Terasa oleh si kecil itu (si aku puitis itu) bahwa pandangan yang mengharukan dia di masa dewasa nanti telah bertumbuh, telah mengobar dalam mata seorang anak kecil yang belum sadar akan segi-segi hambar dalam kehidupannya." Tafsiran terhadap sajak di atas yang ia tulis sekitar tahun 1965 ini patut dikutip secara langsung:
"Ayahku (kau) telah meninggalkan aku bermain di tepi kolam kemarau kuning, hanya sebentar berenang riang dengan hidup telanjang memandang kuda tunggang yang tegap. Air di kolam tempat aku bermain makin kering, mengabur ke bibir nasib kemarau lalu aku pun pulang ke rumah lalang berpagar batu, lingkar kasih yang buntu, lalu tidur dalam lapar dalam lupa masa kanak. Bagaimana pun, kehidupan ini penuh dengan kelakar dan sindiran dan ini merupakan hutang budi yang belum bisa dibayar oleh seorang anak kecil yang lapar mengejar belalang. Kelak semuanya akan terbayar bila telah sampai pada nyanyian hidup yang manis.Ayahku datang dengan bawaan beserba. Beruntunglah, aku belum terkapar…"
Gerson mengakui bahwa gambaran tentang kehidupannya di Rote, tentang pohon-pohon kom dan kosambi, tentang jalan sirtu, tentang orang-orang menjadi inspirasi dalam cerpen-cerpen dan novelnya, terutama novel Meredam Dendam.

Setelah ayahnya menjemput mereka di Tudameda, mereka pindah ke Ba'a, di mana mereka "menumpang di sebuah rumah dekat jembatan Lete Langgak, di pinggir jalan, di kaki bukit yang gundul." Pada suatu hari mereka pindah ke sebuah rumah di punggung bukit dan ayah Gerson meninggalkan mereka ke Ringgou. Setelah beberapa lama sang ayah pulang membawa seekor kerbau. Kerbau itu dibawa ke rumah jagal dan mereka punya banyak uang dan daging. Gerson mengatakan ibunya pintar memasak sebab di masa gadisnya ia tinggal dengan keluarga domine (pendeta) Belanda bernama Domine de Vries.

Setelah menjual daging kerbau itu, ayah Gerson membangun sebuah gubuk darurat di pinggir jalan dekat Gerej Menggelama. Tak lama setelah itu ayahnya berangkat ke Kupang lagi untuk mencari pekerjaan. Gerson ingat benar waktu itu bulan Desember. "Aku ingat betul karena pernah merayakan Natal ketika ayah tiada. Hadiah Natalku hanya sebuah buku tulis tipis karena setoranku juga kecil," katanya.

Ketika sang ayah berada di Kupang, datang seorang nenek dari Sabu yang tinggal di Ba’a ke gubuk mereka  dan meramal dengan daun sirih.
"Ia menggenggam-genggam daun sirih di tangannya kemudian melemparkannya ke atas tikar. Daun sirih yang terlepas dari gengamannya terbuka, bergerak pelan-pelan dan diam. Lalu ia berkata, ”Bapak kalian sudah mendapat pekerjaan di Kupang,” katanya. Aku dan adikku bahagia sekali. Sudah tentu ibuku juga. Aku sudah lupa nama nenek asal Pulau Sabu itu. Menurut cerita nenek itu, ia pernah meninggal (berapa lama, aku tak ingat lagi) dan di surga ia melihat banyak sekali makanan yang dibuang sia-sia oleh manusia."
Benar, ayahnya mendapat pekerjaan di perusahaan Singer Sewing Machine, buatan Amerika. Pada saat yang bersamaan kakak sulung Gerson, Benyamin J. Messakh lulus dalam tes masuk tentara.
"Kami bahagia karena itu. Ibu pun mengikhlaskan anak tertuanya masuk tentara. Kami mengantarkannya ke pelabuhan. Ia naik kapal, berlayar menuju Jawa dan akan masuk sekolah militer (KNIL) di Purworejo."
Ke Kupang dan ke Flores lagi, kali ini Ruteng

Sehabis merayakan natal, ibu Gerson membawa keempat anaknya menyusul sang ayah di Kupang. Hanya kakaknya Mariana yang tinggal di Rote. Di Kupang ayahnya telah menyewa sebuah kamar di rumah keluarga Pandy di Fatufeto. Gerson masukkelas satu Volksschool (Sekolah Rakyat tiga tahun) di Bonipoi dan abangnya Min Kecil duduk di kelas empat Vervolkschool (Sekolah S

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik