Tak lama kemudian ayahnya dipindahkan ke Ruteng, ibukota Manggarai. Di sana, Min Kecil dimasukkan ke Sekolah Standar. Di seluruh Onderafdeling (kabupaten) Manggarai, ada puluhan Sekolah Rakyat tiga tahun namun hanya ada satu Sekolah Standar yang cuma terdiri dari kelas empat dan kelas lima . Dari sana anak-anak yang lulus dapat masuk seminari dan sekolah guru yang disebut Normal School. Gerson dimasukkan ke sebuah sekolah Belanda swasta yang dipimpin oleh Meneer Suprapto yang beristrikan seorang wanita Bangsawan Rote bernama Maria Giri. Tentang Maria Giri ini, Gerson menuliskannya dalam karyanya Maria Giri, Bunga Kecil dari Padang Sabana, dalam antologi Baktiku Pada Pertiwi. Namun tak lama kemudian sekolah liar itu bubar karena Suprapto ditahan Belanda. Gerson dimasukkan Ke Sekolah Rendah tiga tahun, duduk di kelas dua.
Namun nestapa lain menghampiri. Ayah Gerson divonis 3 tahun penjara karena uang perusahaan tekor seratus gulden. Gerson mendengar kabar ini dari ibunya ketika ia baru saja pulang sekolah:
"Aku diam. Murung. Gelombang duka dalam batinku membikin aku diam. Aku sedih tetapi apa mau dikata. Ibu memasak nasi dan ikan untukku lalu aku makan. Entah di mana saudara-saudaraku. Aku ingat aku makan sendiri di meja kecil di kamar depan yang telah kosong.
Sejumlah mesin jahit yang tersisa sudah diangkut entah ke mana. ...membuat aku tambah sedih dan berusaha seumur hidup untuk merejam dendamku. Jika dendam itu timbul, aku berusaha sekuat tenaga batinku untuk menghancurkannya. Pengalaman (sensasi) absurd di rumah itu melahirkan novelku Merejam Dendam."
Setelah ayahnya dipenjara, mereka berpindah dari satu rumah ke rumah
yang lain. Awalnya di rumah seseorang, di mana Gerson dan
saudara-saudaranya masih bisa bersekolah. Kemudian mereka ditampung di
rumah seorang janda. Dari situ mereka pindah lagi ke sebuah pondok
ilalang berlantai tanah yang terdiri atas dua kamar. Sejak di rumah
kedua Min, Gerson dan adiknya sudah putus sekolah.
Abangnya Min termasuk anak yang pintar dan Kepala Standar School datang
mencarinya namun ia telah menghilang ke kampung Karot untuk menjaga
kuda-kuda pacuan di sebuah panggung pacuan kuda. Tidak lama kemudian, ia
terkenal sebagai joki ulung.
"Kudanya yang ditunggangnya selalu menang dan begitu menang, ia berdiri di atas punggung kuda. Ketika penonton bertepuk tangan, ia terjatuh dari punggung kuda tetapi tidak sampai terlempar ke tanah. Ia hanya tergantung di leher kuda ketika kuda sedang berlari kencang. Jadi tiga kejutan sekaligus dilakukannya. Pertama, kudanya nomor satu. Kedua, berdiri di punggung kuda tanpa pelana. Ketiga, anak yang putus sekolah di kelas empat Sekolah Rakyat (Standardschool) itu, tergantung seperti monyet di leher kuda."
Dalam keadaan mesra dalam penderitaan hidup bersama ibu dan
ketiga saudaranya tanpa ayah, datang seorang pegawai kantor pos,
seorang klerk yang bernama David Kaha, melamar kakaknya Dina. Gerson
marah betul dan ia mengungkapkan kemarahannya dalam cara anak-anak. Ia
pergi ke sekolah tanpa makan pagi. Pulang sekolah, ia melempar
mangga muda dan mengunyahnya, menelan sekenyang-kenyangnya. Kemudian ia
memanjat murbai dan terong belanda yang pohonnya tinggi. Di rumah,
ketika kakaknya Dina berada di dapur, ia lalu masuk ke kolong tempat
tidur dan
tidur di lantai tanah.
"Perbuatan demikian konyol itu kulakukan sebagai protes. Aku tak setuju kalau kakakku kawin dengan klerk itu. Tidak. Ketika kakakku memanggil aku dengan suara lembut, membujukku, barulah aku keluar dari kolong tempat tidur kemudian mengunyah makanan yang diberikannya. Akan tetapi tiba-tiba ia si klerk itu datang lagi. Aku keluar, bermain di halaman tetapi tiba-tiba aku memungut sebuah batu besar dan kulempar ke pintu. Gedebuk! Seisi rumah berteriak memanggil namaku. Mereka menegurku.
Kalau sekarang kulihat para cucu kakakku Dina yang kini telah menjadi sarjana dan dosen, aku tersenyum sendiri. Akan tetapi memang aku sedih dan marah betul ketika kakakku kawin dengan klerk itu. Sedih bercampur marah. Aku tetap konsisten dengan ketidaksetujuanku ketika diajak ke rumahnya. Hanya abangku Min dan adikku Nona yang ikut dengan kakak Dina ke rumahnya."
Setelah Dina menikah, seorang guru Injil asal Rote, om Malole,
memberikan sebidang tanah
di Hambal kepada mereka. Lalu Gerson dan ibunya pindah ke sebuah pondok
di tanah kebun itu. Raja Manggarai yang beragama Katolik memberikan
kawasan Hombal untuk
para pendatang yang pada umumnya Protestan. Guru Injil Malole menjadi
koordinator. Hanya ia dan ibunya yang tinggal di kebun itu, di sebuah
gubuk
milik om Tampati, seorang polisi yang berasal dari Manado .
"Kami pindah ke pondok itu hanya dengan beberapa ikat jagung kering yang ibu peroleh entah dari mana. Tanpa minyak aku goreng jagung itu. Kerasnya seperti batu tetapi gigi-ku kuat bak tang layaknya sehingga butir-butir jagung itu hancur dan memasuki perutku, kemudian aku menuju tabung bambu betung yang besar yang tergantung di tiang berisi air yang diambil dari mata air bening di tepi kebun. Aku mengangkat dasar bambu itu ke atas dan airnya muncul di mulut bambu lalu aku meminum air yang tak dimasak itu sepuas-puasnya.
Ibuku mengontrol anak-anaknya yang tinggal di rumah gedongan sedangkan aku tinggal sendiri di gubukku sambil bernyanyi-nyanyi dan membaca buku riwayat hidup Napoleon. Malam-malam ibu pulang ke pondok ilalang kami."
Untuk membersihkan ilalang dan semak di kebun itu, seorang kakek dari
desa Tenda serta anaknya Karaeng Ramut membantu mereka. Bapak tua itu,
yang biasa dipanggil Ema Tu'a, anaknya Karaeng Ramut dan seorang anak
perempuannya yang lain kemudian menjadi teman baik bagi Gerson dan
ibunya. Mereka bahkan membantu menanam padi tanpa bayaran. Ayah Gerson
pun kadang pulang membantu mengerjakan kebun dan kembali ke penjara pada
sore harinya. Jika padi, jagung dan singkong mulai menghijau, Gerson
menjadi 'baby sitter' dua orang gadis kecil. Seorang sudah bisa berjalan
dan seorang masih merangkak. Tahun 1979 Gerson ke Ruteng dan bertemu
Karaeng Ramut.
"Dia langsung bertanya mengenai ibu dan ketika aku mengatakan ibu sudah meninggal, matanya berkaca-kaca, diam se-saat lalu berkata, "Ibu mengajar saya memasak sayur". Karaeng Ramut, masih sehat, awet muda, karena banyak makan sayur."
Gerson juga bertemu dengan kedua balita kecil yang ia jagai di tahun 1997. Keduanya sudah menjadi ibu guru. Malah
keduanya sudah menjadi kepala sekolah.
"Kedua gadis Rote itu kawin dengan orang baik-baik sehingga dapat mempunyai rumah besar, semuanya, semua lantainya terdiri atas keramik putih, jendela dan pin-tu kayu jati dan sudah punya anak dan cucu tetapi aku tak akan menceritakan pengalamanku kepada keduanya. Biarlah mereka bahagia. Aku tidak akan menyanyikan lagu duka mereka. Mereka tak tahu bahwa aku seorang yang tidak punya rumah, pekerjaan tetap, mobil dan harta lainnya. Mereka berdua hanya tahu bahwa aku seorang pengarang dan wartawan freelance."
Di tengah serba kesederhanaan di Ruteng ini pulalah, Gerson menyaksikan
kedatangan bala tentara Jepang. Saat konvoi tentara Jepang tiba, semua
berlutut dan menyembah. Gerson merasakan ada yang dilemparkan kepadanya
dan ia mengira itu bom. Ia gemetaran dan berdoa agar bom itu tidak
meledak. Ternyata setelah konvoi lewat, yang dikira bom itu adalah
biskuit dan permen dan anak-anak berebutan.
"Tentara Jepang yang gundul-gundul itu masih muda-muda. Topi mereka seperti topi yang banyak dijual di toko-toko sekarang tetapi di kiri kanan dan belakang topi ada pita-pita lebar bergantungan. Mereka berhenti di samping pasar. Di tepi kebun kopi yang rimbun. Ada yang turun lalu langsung menimba air parit dan memasak nasi dan sebagainya. Aku diberikan uang Jepang logam dari aluminium. Puas menonton tentara gundul yang pendek-pendek itu, kami anak-anak berjalan ke rumah kontrolir (bupati Belanda) yang kulihat kedua tangannya sudah diikatkan ke tiang bendera mulai dari pagi sampai malam. Aku terharu, aku tidak bisa mengerti, bagaimana sehingga keadaan begitu berbalik seratus delapan puluh derajat."
"Selain senang pada pelajaran berhitung terutama hitungan-hitungan yang hanya memakai angka, tanpa kata-kata, untuk pertama kali aku mendapat ‘hadiah sastra’. Aku membuat sebuah esei di batu tulis. Ia membacanya. Tiba-tiba ia menyuruh kami diam dan ia membacakan eseiku di depan kelas. Rasanya dialah, Guru Sintus itulah yang mengantarkankan aku menjadi seorang sastrawan Indonesia. Aku selalu mengingatnya sehingga berita kematiannya di Jakarta karena sakit, sangat menyedihkan aku karena aku ingin sekali bertemu dengannya untuk memberitahukan bahwa aku telah menjadi seorang sastrawan di negeri ini."
Seorang guru yang lain yang juga diingatnya adalah guru kelas enam
bernama Tuan Tjangkung, asli Manggarai. Di kelas enam, pertama kali
Gerson mendapat pelajaran sejarah. Sejarah tempo dulu Manggarai
diceritakan dengan
bahasa yang sangat menarik, kata Gerson. Gerson masih ingat cerita guru
itu tentang sopi:
"Dahulu, orang Manggarai tidak mengenal sopi atau arak.” Lalu datang seorang raja dari Pulau Rote, yaitu raja kerajaan Ti. Raja Ti ini, dibantu oleh opas Feosau, juga orang dari Rote, membuat periuk tanah yang besar, lalu menyuling tuak dari sirup aren."
Gerson juga ingat seorang adik kelas "yang badannya bundar
boncel" dan pintar bermain bola. Anak itu adalah Ben Mboi yang kemudian menjadi
gubernur NTT.
Di tahun 1945, ketika Jepang kalah, kelas enam dibubarkan
dan tinggal dua kelas saja seperti Sekolah Standar sebelum Jepang.
Gerson tak pernah menerima ijasah SD, hanya sepotong surat tulisan
tangan
yang ditandatangani Tuan Tjangkung bahwa dirinya sudah menamatkan
Sekolah Rendah
enam tahun. Menurut Gerson, sejak ayahnya keluar penjara, mereka
berpindah-pindah temapt tinggal sebanyak enam kali. Kali keenam mereka
menempati rumah sendiri di dekat Mataair Mabumuku.
Ayah Gerson kemudian bekerja pada Tsubono. Sebagai anak-anak Gerson ingat mereka berkelimpahan makanan. Ia ingat seorang pencuri baik hati yang ia sebut 'Robin Hood' bernama Daniel Jacob, atau anak kecil yang meraup susu bubuk dan memasukkan ke dalam mulutnya. Anak itu adalah Adi Bu Amalo yang kemudian menjadi Walikota Kupang. Ia juga mengingat para Heiho ke rumahnya membawa sekitar 20 kg bongkah perak dari Reo yang dibom Sekutu, namun ibunya kemudian mengembalikan perak-perak itu karea begitu logam mulia itu di simpan di rumah, petir dan halilintar menyambar pohon bambu di samping rumah mereka. Ia juga ingat adiknya membuang intan yang belum diasah dalam sebuah amplop ke sungai karena dikira sampah. Ia juga bercerita tentang para jugun ianfu yang banyak dibawa dari Jawa. Atau hadiah sepeda dari seorang tentara Jepang kepada abangnya Min Kecil. Gerson rupanya sangat mengagumi abangnya yang selama pendudukan Jepang tinggal dengan para tentara Jepang:
Semua
kenangan Gerson seperti tersimpan rapi dalam ingatannya, termasuk
perkelahiannya dengan anak polisi yang membuat ayahnya anak itu marah,
bersama ayahnya berjualan parang untuk mendapatkan padi di tempat
bernama Cancar, menjadi pedagang keliling (papalele) selepas SR,
atau cinta monyetnya dengan putri raja Manggarai. Ia juga ingat cerita
sebuah desa yang disebut paling bersih karena semua rumah punya kakus.
Seorang bangsawan bernama Kraeng Mboi yang disebut Mantri Kakus Mboi
sangat rajin meneliti kakus, jika kurang bersih pemiliknya akan kena
bogem.
Kalabahi, SoE dan Surabaya
Ayah Gerson kemudian bekerja pada Tsubono. Sebagai anak-anak Gerson ingat mereka berkelimpahan makanan. Ia ingat seorang pencuri baik hati yang ia sebut 'Robin Hood' bernama Daniel Jacob, atau anak kecil yang meraup susu bubuk dan memasukkan ke dalam mulutnya. Anak itu adalah Adi Bu Amalo yang kemudian menjadi Walikota Kupang. Ia juga mengingat para Heiho ke rumahnya membawa sekitar 20 kg bongkah perak dari Reo yang dibom Sekutu, namun ibunya kemudian mengembalikan perak-perak itu karea begitu logam mulia itu di simpan di rumah, petir dan halilintar menyambar pohon bambu di samping rumah mereka. Ia juga ingat adiknya membuang intan yang belum diasah dalam sebuah amplop ke sungai karena dikira sampah. Ia juga bercerita tentang para jugun ianfu yang banyak dibawa dari Jawa. Atau hadiah sepeda dari seorang tentara Jepang kepada abangnya Min Kecil. Gerson rupanya sangat mengagumi abangnya yang selama pendudukan Jepang tinggal dengan para tentara Jepang:
"Selama tinggal dengan opsir Jepang itu pada suatu hari orang melihat abangku membawa truk Jepang. Karena kecil ia menaruh bantal besar pantatnya. Akan tetapi yang paling nakal adalah pada suatu sore ketika ia sedang berkeliling kota di atas kudanya yang menderap lembut (tel). Tiba-tiba, ketika ia melewati depan kompleks yogun ianfu, ada seorang perempuan cantik menahannya dan meminta dibonceng. Ketika itu akusedang berdiri di deplan toko Tionghoa.Pada kesempatan lain ia bercerita tentang kebengalan kakaknya, mencuri anjing untuk dibuat RW atau membual bahwa ia adalah turunan bangsawan Manggarai. Gerson memang mengagumi kakaknya itu yang disebutnya Spartan atau Tarzan kecil:
Aku lihat kudanya memacu kencang (halop) dan perempuan yang berbadan tinggi itu memeluk erat anak kecil Benyamin yang memboncengnya. Bajunya melayang sehingga pahanya yang pucat menjadi tontonan banyak manusia di tokok itu. Perempuan itu menangis, meringis-ringis, berteriak, "Sudah, Min, sudah, Min, cukup, pantat saya luka sakit," tetapi si Benja (panggilan ibuku ketika marah padanya) terus memacu kuda itu sambil tertawa-tawa."
"Abangku, mungkin karena dia joki ulung di seluruh Manggarai maka banyak orang yang mengaguminya, menyebut-nyebut namanya. Di antara yang mengaguminya itu adalah seorang gadis kuning bening. Nama gadis itu aku lupa. Keduanya bersahabat akrab, sebutlah berpacaran. Akan tetapi pada suatu malam, ketika purnama raya, aku lihat ada makhluk berselubung kain kalas (tenunan Manggarai) yang berjalan. Tubuhnya satu tetapi kakinya empat. Dua hitam, satu putih. Pastilah itu abangku Benyamin dan pacar putihnya."
Tentang cita-cita masa kecilnya Gerson mengaku tak pernah bermimpi
menjadi penulis atau wartawan. Ia memang suka membaca tapi tak pernah
terpikir menjadi penulis, ia malah ingin menjadi sopir atau menjadi
aktor. Semua berangkat dari pengalaman masa kecilnya menonton stomwalls
dan sandiwara keliling:
"Aku selalu asyik menonton stomwals. Besi yang besar itu menggiling jalan raya dan aku berkata kepada diriku, bahwa kalau aku besar aku ingin jadi sopir kendaraan besi. Memang banyak hal yang menarik di kota Ruteng. Begitu banyak permainan dan perbutan yang menyengkan. Permainan-permainan seperti membuat kuda dari pelepah pisang lalu berlari, tidak melontarkan aku ke masa depan. Aku tidak ingin menjadi joki. Membuat perahu, mobil-mobil dari kulit jeruk Bali, tidak melontarkan aku ke cita-cita untuk menjadi montir. Begitu pula ketika aku membuat kapal terbang. Tidak ada impian untuk menjadi montir pesawat terbang, kecuali bermimpi indah untuk menjadi pilot. ...Biasanya kalau aku sedang bermain bola di lapangan, ada saja kertas koran atau sobekan beberapa halaman buku yang terbang ke tengah lapangan. Aku segera berhenti, membongkok lalu membaca. Tetapi aku tidak pernah ingin menjadi pengarang buku atau wartawan. Impianku hanyalah yang dua itu. Menjadi sopir stomwals yang beratnya entah berapa ton itu dan kemudian menjadi bintang panggung. Menjadi aktor. Keinginanku hampir tercapai ketika duduk di kelas tiga sekolah Guru Atas di Surabaya. Aku menjadi terbaik pada festival Seni Drama di tahun 1956. Aku ingat Jetty Sumali, kakak Tatiek Maliyati Sihombing menjadi sutradara terbaik. Grup teater mereka menjadai pemenang pertama. Tapi akhirnya aku tidak menjadi aktor. Aku menghadapi pekerjaan yang lebih berat daripada sopir stomwals. Aku menjadi pengarang cerpen, dan novel-novel. Aku membaca setiap hari, menulis setiap hari. Ini lebih berat daripada menjadi sopir stomwals."
"Dia memakai gala yang panjang dan menusuk-nusuk tinja di dasar kakus. Kalau tinjanya kurang tebal, dia panggil pemiliknya lalu tos, bogem mentah dikirim ke tubuh pemilik itu. Rakyat tidak dendam karena sadar bangsawan Manggarai itu bekerja keras untuk menghindarkan rakyat dari El Maut, dari penyakit."
Ayah Gerson kemudian diangkat lagi menjadi pegawai negeri Negara
Indonesia Timur (NIT) dan di pindahkan ke Maumere. Sebelum berangkat
ayahnya membuat bunga rampai lalu disebarkan
di sebuah perempatan sambil berkata, ”Selamat Tinggal Kota
Penderitaan!”.
Gerson mengingat dengan detail 'perjalanan' hidupnya. Menurutnya mereka
meninggalkan Ruteng dengan sebuah truk, menginap semalam di rumah
iparnya David Kaha yang sudah pindah lebih dahulu ke Bajawa. Besoknya
truk meneruskan perjalanan ke Endeh dan tiba di kota itu malam hari.
Mereka menumpang di rumah om Eka dan besoknya meneruskan perjalanan ke
Maumere.
"Malam hari tiba di Nita, kami dibawa ke ‘hutan’ kelapa dan dalam hutan kelapa itu ada desa buatan Jepang yang disebut Weru Oret. Ada kantor pos, ada rumah-rumah darurat dan kami dibawa ke rumah yang pernah didiami perwira tinggi Jepang. Rumah itu didiami oleh Commies Loudoe yang akan menjadi bos ayahku. Di situ telah ada klerk Blantaran de Rosarie menempati satu kamar, tidur di atas tikar. Dua keluarga satu kamar, termasuk Paul Leiloh. Setiap hari para pegawai dibawa dengan truk dari Weru Oret ke kota pelabuhan dan perkantoran Kabupaten Sikka, Maumere."
Tak berapa lama rumah para pegawai pemerintah selesai dibangun dan
mereka pindah ke Maumere di mana mereka tinggal persis di belakang rumah
Raja Sikka. Di Maumere inilah ia mengikuti kursus tertulis jarak jauh
bahasa Inggris dan stenografi dari Surabaya setelah membaca sebuah
prospektus yang dibawah ayahnya dari kantor. Ayahnya memang
menginginkannya menjadi wartawan, menyetujui idenya dan membiayainya.
Abangnya Benyamin juga menemukan keasikan baru sehingga
ia tak pulang-pulang. Di sebelah utara Seminari Ledalero ada tumpukan
mobil-mobil dan tank-tank dan peswat bekas peninggalan Jepang.
"Di samping tumpukan bekas mesin perang Jepang itu, ada pohon-pohon mangga, pisang dan singkong. Ada juga barak yang atapnya masih bagus. Di sanalah abangku tinggal bersama ular, tikus dan serangga lainnya. Ia membuat api unggun, membakar ubi, merebus air dengan topi-topi baja. Bukan saja air tetapi singkong, nasi dan jagung direbus dengan topi-topi yang pemakainya sudah menjadi debu dan tulang. Berkali-kali aku mengomeli dia, pulang, pulang, tetapi ia tak mau pulang. Ia tak mau memberatkan ekonomi ibu. Pertanyaan makan apa yang kulontarkan ia menunjuk pohon-pohon mangga yang besar, buahnya bermatangan dan berjatuhan. Ia menunjuk pisang, singkong dan kelapa!"
Tidak lama kemudian Benjamin, yang kemudian menjadi polisi ini, muncul dengan pakaian baru dan
bungkusan onderdil truk-truk untuk dibawa ke toko Tionghoa yang memesannya.
Pedagang Tionghoa mulai sibuk menghidupkan ekonomi dengan truk pengangkut
kopra, truk tua yang membutuhkan onderdil. Benjamin telah menemukan barang
bekas yang bisa diumpamakan sebagai tambang emas. "Tinggal di timbunan mobil bekas, membuat dia menjadi montir," kenang Gerson.
Di Maumere ini pulalah untuk pertama kalinya Gerson tahu kalau ayahnya
bisa menulis, setelah memergok ayanya menulis puisi dalam bahasa Latin.
"Tiba-tiba ayahku sibuk. Di malam hari, ia duduk di meja
kamar depan, membakar lampu taplak, mengambil botol tinta dan pena serta kertas
dan kamus lalu menulis berjam-jam sampai larut malam. Di hari minggu pun,
karena Mumere tak ada gereja Protestan, maka ayah tak keluar. Ia menulis terus,
menulis terus. Ketika aku mencuri-curi membacanya ketika ayah pergi, aku lihat
ada sebuah sajak panjang berjudul Te Deum Laudamus. Entah apa artinya dalam
bahasa Latin."
Sajak itu kemudian dikirimkan ke tabloid Bentara di Endeh, namun tidak
dimuat. Saat pemimpin redaksi tabloid itu mampir ke
Maumere ia menyempatkan diri mencari ayah Gerson di kantor kontrolir dan
mengatakan
bahwa sajak atau lebih tepat disebut syair karya ayahnya itu terlalu
berat dan
tidak cocok untuk pembaca Flores yang belum bisa mencerna dengan baik
karya
yang demikian. Atasan ayahnya, Commies Loudu sendiri pernah berkata
tentang tulisan ayahnya pada seorang tamu di rumahnya dan aku
mendengarkannya. "Dulu, sebelum
perang, Nani menulis sebuah artikel berjudul Allah, Manusia, dan Wet.
Wah,
Belanda-Belanda baca artikel itu dan mereka marah," kata Gerson menirukan Commies Loudu.
Dari Maumere, ayah Gerson kemudian dipindahkan ke Alor pada tahun 1948. Untuk ke Alor, mereka harus ke Kupang dulu. Ketika mendengar mereka sedang berada di Kupang, kakak tirinya Mariana datang menengok mereka ke Kupang. Ayahnya memutuskan untuk membawa Mariana ke Alor. Ia mencoba meminjam uang sana-sini untuk biaya Mariana ke Alor namun gagal. Ia mencoba menjual sebuah weker ke toko-toko China namun gagal juga. Akhirnya ia mendapat pinjaman dari keluarga Joosten. "Maka berlayarlah kami bersama kakak perempuanku yang telah lama berpisah dengan ibunya, dengan ibu kami."
Di Alor, Gerson yang sudah tidak bersekolah empat tahun, iseng bertanya kepada satu-satunya guru di sebuah sekolah yang disebut Opleiding Voor Volksonderwijzer (OVVO). Ia diterima hanya dengan persetujuan lisan dari sang guru, Tuan Sirituka. OVVO adalah Sekolah Guru Desa dua tahun di Kalabahi. Di kelas ia paling tua, untunglah badannya kecil jadi tak terlalu kelihatan. Ia tidak malu, sambil mengingat sebuah pepatah dalam kursus bahasa Inggris yang ia ikuti sebelumnya "Better late than never".
Pada tahun 1953 ia melanjutkan ke Sekolah Guru Bawah (SGB) yang semula disebut Normaal School di So’E, Timor Tengah Selatan. [more details to come]
Baik di OVVO maupun SGB ia selalu nomor satu sehingga ia dipilih untuk melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) Kristen yang semula disebut Kweek School di Surabaya yang ditamatkannya pada tahun 1956. Di Surabaya ia tidak peduli dengan pendidikan formalnya dan lebih suka bolos karena asyik dengan kegiatan keseniaan dan kewartawanannya. Karena minatnya yang besar terhadap kewartawanan ini, selain belajar di SGA, ia juga belajar bahasa Inggris secara otodidak dan ikut kursus stenografi.
Selama duduk di
bangku SGA ia menjadi pengasuh ruang seni budaya di koran dan juga berteater.
Aktifitas berteater membawanya memperoleh trophy Aktor Terbaik dalam Festival
Seni Drama Surabaya. Selama di SGA ini pulalah ia memasuki sejarah sastra
Indonesia dengan puisi-puisinya yang pertama kali di mulai dimuat di Mimbar
Indonesia yang digawangi oleh Hans Bague Jassin.
Namun karena ia
menerima beasiswa pemerintah, ia harus bekerja pada pemerintah. Ia menjadi guru
tetap SMP Negeri di Ternate dan guru honorer di sebuah SMA yang menginspirasi
sejumlah karyanya.
Dari Ternate ia dipindahkan ke Bima, Nusa Tenggara Barat di mana ia menjadi guru tetap SMP di Bima dan guru honorer di SGA. Kepindahannya ke Bima tidak terjadi secara wajar. Ia melarikan diri dari Ternate saat timbul pemberontakan Permesta.

Karirnya sebagai guru ia jalani dari tahun 1956 sampai 1963 dimana muncul beberapa karyanya antara lain cerita pendek Mutiara di Tengah Sawah mendapat hadiah hiburan majalah Sastra tahun 1961. Kehidupan sebagai guru ini juga mengilhami salah satu novelnya Sang Guru. Karena novel inilah ia menerima Penghargaan Sastra ASEAN untuk novelnya Sang Guru pada tahun 1972.
Dari Ternate ia dipindahkan ke Bima, Nusa Tenggara Barat di mana ia menjadi guru tetap SMP di Bima dan guru honorer di SGA. Kepindahannya ke Bima tidak terjadi secara wajar. Ia melarikan diri dari Ternate saat timbul pemberontakan Permesta.
"Begitu ada kapal di pelabuhan, aku segera naik ke atas dengan pakaian di badan dan kemudian terdampar di Bali . Dengan ”mengemis”sana ”mengemis” sini aku mendapat ongkos untuk keJakarta . Di Jakarta, pembesar pendidikan menengah marah-marah lalu memindahkan aku ke Bima. Dua tahun lamanya aku tak menerima gaji. Bayangkan aku masih hidup dan mengajar terus dalam kebaikan orang-orang di Bima . Aku masih ingat pada haji Achmad seorang saudagar yang pernah membantu aku. Aku degngar saudagar yang baik itu mewariskan usahanya kepada anak-anaknya yang pernah aku didik."
Karirnya sebagai guru ia jalani dari tahun 1956 sampai 1963 dimana muncul beberapa karyanya antara lain cerita pendek Mutiara di Tengah Sawah mendapat hadiah hiburan majalah Sastra tahun 1961. Kehidupan sebagai guru ini juga mengilhami salah satu novelnya Sang Guru. Karena novel inilah ia menerima Penghargaan Sastra ASEAN untuk novelnya Sang Guru pada tahun 1972.
Setelah bekerja sebagai
guru selama tujuh tahun, pada tahun 1963 ia pindah ke Jakarta dan menjadi
wartawan Harian Sinar Harapan.
Setelah tujuh tahun ‘menyabung nyawa’ di atas sepeda motor berkeliling menjadi
berita, ia minta berhenti pada tahun 1974. Tentang pekerjaan sebagai wartawan
ini ia menulis:
“Setelah menjadi wartawan Sinar Harapan, aku mulai menjadi manusia yang
suka keluar rumah [...]. Di Jakarta kebiasaan bergadang makin menjadi. Aku
kuasai seluruh kota dengan sepeda motor. Bukan saja di Jakarta, tetapi karena
aku mulai kenal kapal terbang maka radius bergadanganku sejauh Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Aku menjadi nomad modern (nomaden) dan
teman-temanku yang jadi manusia sedenter (sedentary) sering aku kunjungi.”[3]
Pasca karirnya di
Sinar Harapan, Gerson menjadi koresponden berbagai media dan ikut mendirikan
beberapa media antara lain Harian Kami
dan Majalah Bahasa Inggris Bali Courier.
Pada tahun 1970-1971 ia diundang pemerintah Amerika Serikat untuk mengikuti International Creative Writing Program di Universits Iowa. Dua puluh tahun kemudian ia diundang lagi sebagai Internasional Visitor pada program yang sama.
Gerson Poyk tak pernah lupa
memasukan unsur daerah dalam karya-karya sastranya, terutama Sunda Kecil di
mana ia banyak menghabiskan hidupnya sebagai anak-anak maupun sebagai guru. Gerson menyebut
dirinya mengamati bangsa ini dari “pinggiran” di mana menjadi suara dari mereka
yang terhimpit secara sosial, suara dari Flobamora yang penuh kekayaan dan
kebanggaan budaya. [4]
Karya-karya sastra Gerson juga tersebar di berbagai kumpulan cerpen maupun novel. Karya dalam bentuk buku dapat disebutkan, antara lain:
Hari-Hari Pertama (1968),
Matias Akankari (1972),
Sang Guru (novel, 1972),
Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Aleksander Rajagukguk (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1974), Nostalgia Nusa Tenggara (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1975),
Jerat (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1978),
Cumbuan Sabana (novel, Nusa Indah, Ende, 1979),
Petualangan Dino (novel anak-anak, Nusa Indah, Ende, 1979),
Giring-Giring (1982),
Di Bawah Matahari Bali (1982),
Seutas Benang Cinta (1982),
Requem untuk Seorang Perempuan (1983),
La Tirka Tar (1983),
Mutiara di Tengah Sawah (cerpen, 1985),
Anak Karang (1985),
Puber Kedua di Sebuah Teluk (1985),
Doa Perkabungan (1987),
Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988),
Poti Wolo (1988),
Sang Sutradara dan Wartawati Burung (2009)
dan Keliling Indonesia, dari Era Bung Karno Sampai SBY (2011).
Karya-karya orang lain tentang Gerson Poyk antara lain:
1. B. Trisman, Prih Suharto, Widodo Djati, Tiga Novel Penerima Hadiah Sastra SEA Write Award: Sang Guru karya Gerson Poyk, Ladang Perminus karya Ramadhan K.H., dan Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, (Pusat Bahasa, Depdiknas, 2003).
Karya-karya sastra Gerson juga tersebar di berbagai kumpulan cerpen maupun novel. Karya dalam bentuk buku dapat disebutkan, antara lain:
Hari-Hari Pertama (1968),
Matias Akankari (1972),
Sang Guru (novel, 1972),
Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Aleksander Rajagukguk (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1974), Nostalgia Nusa Tenggara (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1975),
Jerat (cerpen, Nusa Indah, Ende, 1978),
Cumbuan Sabana (novel, Nusa Indah, Ende, 1979),
Petualangan Dino (novel anak-anak, Nusa Indah, Ende, 1979),
Giring-Giring (1982),
Di Bawah Matahari Bali (1982),
Seutas Benang Cinta (1982),
Requem untuk Seorang Perempuan (1983),
La Tirka Tar (1983),
Mutiara di Tengah Sawah (cerpen, 1985),
Anak Karang (1985),
Puber Kedua di Sebuah Teluk (1985),
Doa Perkabungan (1987),
Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988),
Poti Wolo (1988),
Sang Sutradara dan Wartawati Burung (2009)
dan Keliling Indonesia, dari Era Bung Karno Sampai SBY (2011).
Karya-karya orang lain tentang Gerson Poyk antara lain:
1. B. Trisman, Prih Suharto, Widodo Djati, Tiga Novel Penerima Hadiah Sastra SEA Write Award: Sang Guru karya Gerson Poyk, Ladang Perminus karya Ramadhan K.H., dan Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, (Pusat Bahasa, Depdiknas, 2003).
0 komentar:
Posting Komentar