Translate

Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label cerpem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpem. Tampilkan semua postingan

CERPEN BAYANG-BAYANG

Written By iqbal_editing on Selasa, 24 Januari 2017 | 06.01

Bayang Bayang

Judul Cerpen Bayang Bayang
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 5 May 2016
Hal yang paling mengerikan dari kasus di sekolahku adalah ketika tiba-tiba namaku ikut terseret ke dalamnya. Aku pun tak menyangka. Hanya ada satu kasus yang terjadi berulang-ulang hingga menyisipkan misteri di benak para siswa dan beribu tanda tanya. Kasus itu mulai menghantui sekolahku awal bulan lalu. Setelah kasus pertama terjadi, sederetan kasus lainnya mulai bermunculan seakan satu sama lain disatukan dengan sebuah rantai yang tak terpisahkan. Dari awal sudah banyak pihak yang menduga kasus-kasus itu saling berhubungan. Bahkan semakin jelas mengarah pada satu titik yang menyatakan bahwa pelaku dari semua kasus itu adalah orang yang sama. Hanya satu hal yang mengganjal di hatiku, tak ada yang pernah meramalkan bahwa pelakunya adalah aku.
Ku dapati diriku duduk menghadap meja kepala sekolah seraya menundukkan kepala. Aku bukan sedang menyesali perbuatanku. Aku sedang mengorek ingatanku tentang peristiwa dua malam lalu. Peristiwa itu telah membuat endapan mengerikan di benakku. Aku terus bermimpi buruk semenjak melihat penampakan itu. Tepatnya penampakan sosok legam yang tengah menatapku. Begitu melihatnya lututku gemetar. Keringat dingin mengucur deras dari keningku. Aku begitu takut sehingga langsung lari tanpa berpikir terlebih dahulu. Aku ingin melupakan kejadian malam itu.
Namun hari ini, ingatanku tentang kejadian itu bisa menyelamatkanku. Setidaknya untuk sementara waktu. Mataku menatap nanar meja kepala sekolah. Sebuah meja kayu sederhana yang di atasnya dilapisi kaca. Tampak bersih dan mengkilat dipandang. Selain itu, sebuah kain batik berwarna merah menyala melekat di atasnya. Ruang kepala sekolah masih lengang. Beberapa guru terlihat sedang berbicara di depan pintu. Mereka enggan berada di dalam bersamaku. Mungkin agar aku tak bisa mendengar percakapan mereka. Tetapi usaha itu sia-sia. Sedari tadi ku dengar namaku berulang kali disebut. Jelaslah siapa yang sedang dibicarakan.
Sebentar lagi, seorang polisi akan datang ke mari. Dari semua panorama itu, ada hal yang memikat mataku. Tepat di atas meja yang terletak di pojok ruangan, benda itu berada. Mataku kembali menyapu setiap sudut ruang kepala sekolah. Sekolahku memang berada di perkotaan. Suara klakson kendaraan yang hilir mudik tidak pernah mengganggu suasana belajar mengajar. Sekolahku banyak menorehkan prestasi di tingkat nasional, itulah sebabnya setiap tahun sekolahku kebanjiran bantuan dari pemerintah. Mulai dari komputer, LCD, kipas angin, televisi, dan alat-alat penunjang pembelajaran sudah tersedia dan siap digunakan setiap saat. Sayangnya sekolahku berada di dekat area kumuh perkotaan. Tempat di mana rumah-rumah tak layak huni berdiri di sela-sela gedung pemerintahan.
Ancaman dari pemerintah sudah seperti sarapan bagi warga di sana. Setiap saat, petugas bisa menggusur rumah-rumah itu untuk dijadikan taman kota. Mereka tak perlu izin untuk sebuah daerah pemukiman tak berizin. Anak-anak di sana tidak bersekolah. Mereka menertawakan pendidikan. Bahkan di lingkungan rumahku, hanya seperempat dari jumlahnya yang masih sanggup bersekolah. Mereka lebih memilih mengamen daripada mengenyam pendidikan. Akibatnya, lingkungan rumahku menjadi area berbahaya bagi pendatang. Para ‘klepto’ sudah menanti mereka. Ya. Hobi mereka setelah mengamen adalah menjadi ‘klepto’. Yang lebih parah, sekolahku tak peduli pada hal ini. Mereka tak tahu tempat apa yang sedang mereka jejaki. Terbukti! Tak ada kamera CCTV, bahkan di ruang kepala sekolah sekalipun.
—
Satu jam sudah polisi menyelidikiku. Aku hanya menjawab sekenanya yang ku bisa. Aku tak sendiri di sini. Beberapa saat kemudian, kepala sekolah datang membawa tiga siswa. Aldi, Reza, dan Irfan. Mereka bertiga duduk di sebuah kursi panjang yang terletak tidak jauh dariku. Mereka menunggu untuk diselidiki polisi. Aku merasa memiliki kawan dalam kasus ini, meski mereka pikir akulah sang pelaku utamanya. “Dandi, kau boleh ke luar,” polisi itu mengakhiri penyelidikannya. Aku beranjak dari kursi dan hendak ke luar dari ruang kepala sekolah. Sementara itu, kini giliran Aldi untuk diselidiki.
Kepala sekolah membolehkanku kembali ke kelas. Hatiku sangat gembira. Aku berjalan menuju kelas tanpa mempedulikan tatapan sinis dari siswa lain. “Lihat! Itu si klepto!” Caci seorang siswa padaku disambut gelak tawa siswa lainnya. Aku hanya tersenyum kecil sambil terus melangkah menuju kelas. Akan ku buktikan bahwa aku tak bersalah! Bel pulang berbunyi. Aku berjalan menuju gerbang sekolah. Sedari tadi ku lihat tatapan sinis mengarah ke arahku. Selain itu beberapa guru menatap garang dan curiga. Ya! Aku masih berpredikat pelaku utama dalam kasus ini. Namun itu tak lama lagi akan tercabut. Dan orang-orang itu harus meminta maaf atas perilakunya padaku.
“Dandi!!” Sapa seseorang. Aku mencari sumber suara yang amat ku kenal itu. Suara Agam.
“Baru pulang, Gam?” Tanyaku pada Agam yang sedari tadi mengelap keringatnya dengan handuk yang melingkar di lehernya. Agam tersenyum padaku.
“Iya. Kau sendiri? Mengapa dari tadi ku amati kau terlihat gundah?” Agam balik bertanya. Aku tak bisa menjawab. Aku sangat menghargai Agam. Sebagai sahabatku yang telah lama putus sekolah, Agam tetap ramah dan baik padaku seperti apapun keadaannya. Aku dan Agam berjalan pulang bersama. Kami bertetangga dan keluarga kami begitu dekat.
“Jam baru, Dan?” Tanya Agam sambil memperhatikan arloji putih mengkilat yang melingkar di tanganku. Aku mengangguk pelan. Agam sangat menyukai arloji. Dulu aku pernah memberinya sebuah arloji berwarna cokelat tua, Agam sangat senang. Ngomong-ngomong soal arloji, tiba-tiba aku teringat percakapanku tadi dengan polisi. Percakapan siang tadi akan berlanjut besok dan seterusnya mungkin sampai aku mau mengaku. Namun aku tahu, aku tak bersalah!
“Ada masalah, Dan?” Agam bertanya melihat sikap anehku. Aku lebih pendiam dari biasanya. Aku tak mau Agam sampai tahu, karena itu aku kembali menggelengkan kepala.
“Benar tak ada masalah?” Agam bertanya lagi melihatku terus menatapnya dengan aneh. Aku ingin sementara Agam tak tahu apa-apa soal sekolahku. Aku memaksakan senyum.
—
Ku ceritakan apa yang ku lihat di malam mengerikan itu pada polisi. Aku baru mengingat detail kejadiannya kemarin sepulang sekolah. Selain itu aku menambahkan beberapa informasi yang sudah tak patut lagi ku sembunyikan. “Jadi, malam itu bukan kau yang masuk ke ruang kepala sekolah?” Tanya polisi. Aku mengangguk. “Buktinya?”
“Malam itu sedang ada pertandingan bulu tangkis di GOR samping sekolah, kebetulan saya menonton. Kalau Anda tidak percaya, Anda bisa bertanya pada para peserta pertandingan, perwakilan dari masing-masing SMA di kota ini. Lalu saat pulang saya melihat penampakan itu,” kataku. Polisi mengangguk-anggukan kepala sambil mencatat sesuatu.
“Lalu soal…” polisi mengangkat plastik kecil dan meletakkannya di atas meja. Aku tersenyum sinis menatap benda yang ada di atas meja. Benda inilah dasar semua orang menganggapku pelakunya. Tetapi benda ini juga yang akan menyelamatkanku dari skors hari ini.
“Kelihatannya kau sudah tahu siapa pelaku sebenarnya?” Tanya polisi melihatku tersenyum penuh kemenangan. Aku mengangguk.
—
Hari ini aku berhasil membuktikan bahwa aku tak bersalah. Semua orang percaya. Kebenaran akan terungkap. Hari ini polisi dan guru-guru di sekolahku ku buat sadar bahwa sekolah ini berada di tengah lingkungan para pencuri. Jadi, warga yang sering lewat di depan sekolah pun bisa jadi pelakunya. “Pak, ku sarankan Anda memasang CCTV. Terlebih di ruangan Anda,” ujarku saat melewati Pak Karim, kepala sekolah. Pak Karim hanya tersenyum. Beliau meminta maaf karena telah menuduhku.
Aku berjalan riang menuju kelas. Predikat pelaku utama telah tercabut. Tak lagi ku lihat tatapan-tatapan sinis mengarah padaku. Semua kembali seperti semula seakan tak pernah terjadi apa-apa. Segerombol Polisi memasuki sekolah. Di tengah mereka, nampak seorang anak seusiaku mengedarkan wajah kesal ke seluruh kelas. Aku tertawa kecil melihatnya. Ya! Ialah sang tersangka sebenarnya. Mata sipitnya menatap nyalang saat melewatiku. Mata penuh dendam milik Agam. Aku membalas dengan anggukan kecil padanya. Kalian pasti penasaran mengapa Agam ditangkap? Mari ku antar menuju dua malam yang lalu, kejadian aneh itu.
—
Sedari tadi tak henti-hentinya ku lihat arloji putih yang baru ku beli. Jam menunjuk pukul 22.25 saat aku ke luar dari GOR. Suasana mulai sepi. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Sekarang aku sedang melewati jalan kecil di samping sekolah, jalan menuju rumahku. BRAKKK!!! Aku berhenti. Suara itu berasal dari ruang lantai atas sekolah. Karena penasaran, ku cari-cari di mana asal suara itu. Mataku berhenti di jendela ruang kepala sekolah. Seseorang sedang melongokkan kepalanya dari jendela. Ku amati terus namun aku tak tahu siapa orang itu. Ruang kepala sekolah begitu gelap. Di dalam ruang yang nampak remang-remang itu, sosok yang ku lihat hanya seperti sebuah bayangan hitam. Aku tersentak, bayang-bayang itu seperti sedang menatapku. Bulu kudukku merinding. Kakiku seperti terpaku pada aspal. Aku begitu ketakutan.
“Han..hantu!!!” Teriakku sambil berlari pulang.
—
Agamlah pelakunya. Kau tahu? Malam itu Agam masuk ke ruang kepala sekolah. Ia mengambil tiga medali emas yang terpajang di dalam lemari kaca. Saat Agam mengawasi daerah sekitar lewat jendela, ia melihatku sedang memperhatikannya pasalnya aku berdiri di bawah sorot lampu jalan. Sayangnya aku tak dapat melihat wajahnya karena lampu ruang kepala sekolah mati. Agam mengira aku tahu itu dirinya. Saat itu juga, Agam melepas arloji biru tua pemberianku dan meletakkannya di lantai agar nanti aku yang kena getahnya. Kebetulan namaku masih terukir di permukaan arloji itu. Jadi siapa pun yang menemukannya mengira aku yang telah mencuri ketiga medali emas itu. Dan rencananya berhasil.
Aku tak tahu pasti apakah Agam juga menjadi pelaku kasus pencurian lainnya. Apalagi mengingat sekolahku berdiri di lingkungan para klepto. Sejak awal, pencurian di sekolahku memang sering terjadi. Biasanya banyak siswa kehilangan uang mereka yang tersimpan di dalam ransel, kehilangan alat tulis yang tersimpan di dalam locker dan kehilangan alat kebersihan kelas. Namun pihak sekolah menyepelekan kasus-kasus kecil itu sampai akhirnya suatu kasus besar terjadi. Awal bulan lalu, lima LCD di sekolah lenyap. Berlanjut uang-uang yang tersimpan di koperasi ikut sirna. Lalu minggu ini, lima medali emas telah muksa. Aku kasihan pada Aldi, Reza, dan Irfan. Mereka bertiga memang sering berulah. Mungkin karena itu semua kasus yang sebenarnya tak berhubungan dikait-kaitkan dengan mereka.
—
Selesai sudah misiku. Ku langkahkan kakiku menuju kelas tanpa menghiraukan Agam yang sedari tadi menatapku. Ku raba saku bajuku. Aku tertawa lirih. Benda itu masih ada. Saat ini jam istirahat. Kelasku kosong. Cepat-cepat ku hampiri tasku. Ku keluarkan benda itu dari saku bajuku. Kalian jangan heran, bukankah tadi sudah ku bilang bahwa lingkungan tempatku tinggal adalah lingkungan klepto? Aku menyeringai sambil membelai-belai benda itu. Benda ini sudah dua hari berdiam di sakuku. Sebelum kasus ini usai, aku tak berani mengeluarkannya. Aku kembali tertawa. Menurutku semua kasus yang terjadi di sekolah tidak saling berhubungan.
“Dandi?” Aku tersentak. Suara Reza. Ku tolehkan kepalaku.
“Apa yang kau lakukan? Amplop..” aku mengangkat telunjukku. Reza terdiam.
“Apa kau bisa diam? Aku bersedia membaginya denganmu dengan syarat kebisuanmu,” Reza mengangguk. Matanya berbinar. Yang terjadi selanjutnya bisa kalian tebak. Separuh lembaran benda ini pun beralih tangan. Aku sudah meramalkan, sebentar lagi kegaduhan akan kembali. Sebentar lagi.
Cerpen Karangan: Arizqa Shafa Salsabila
Facebook: Arizqa Shafa Salsabila
Nama : Arizqa Shafa Salsabila
Kelas VIII A
SMPN 1 Donorojo
Kabupaten Pacitan
06.01 | 0 komentar | Read More

cerpen mimpi terindah

Written By iqbal_editing on Kamis, 17 November 2016 | 13.59

(Cerpen) Mimpi Terindah

Pergerakan matahari yang menuju ke barat seakan-seakan perubahan sore menjadi lebih gelap lagi membuatku bersiap pulang ke rumah.
“ sob hari rabu kita latihan lagi yah, " kataku kepada teman sebelum berpisah.
“ yah, tapi kamu jemput aku yah, di tempat biasa,” jawab temanku.
Ku anggukan kepalaku menanndakan bahwa iya. Langsung saja ku pacu motorku dari tempat latihanku yang jaraknya cukup jauh dari rumahku sekitar 14 Km. Di perjalanan kupacu motorku dengan kencang sambil berkhayal-khayal “ kpan ya, saya bisa menjadi pemain tenis meja Nasional dan bisa menjadi juara dunia, kalau saya jadi juara dunia pasti banyak wanita yang meenggodaku”. Hahahaha. Tidak terasa saya sampai di depan rumah. Kumasukan motorku kedalm garasi dan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.
“ ukh, segar, segar, segarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr, “ ucapku setelah mandi sambil kukeringkan badanku. Setelah badanku sudah bersih dan kering, langsung saja kupakai pakaian yang bersih juga dan menutupi aurat untuk menyembah sang Pencipta alam dan seisinya.
Waktu menunjukan pukul 20:00 WITA berart saatnya nonton film ............ film ini menceritakan tentang percintaan. Saya menghayati banget itu film, saat filmnya mencapai klimaksnya tiba-tiba saya terkagetkan oleh suara mamaku.
“saiful, saiful, pul, pul” panggil mama
“ iya maa ? “ jawabku.
“ sudah-sudah nontonnya nak, lebih baik kamu belajar daripada nonton film yang tidak bermanfaat, sebentar lagi kamu mau menghadapi ULANGAN SEMESTER, apa yang mau kamu jawab kalau kamu tidak belajar ?” ucap mama
“ iya maa, ipul udah berhenti nontonnya”, kataku, dengan berat hati saya matikan TV dan menuju ke kamar untuk belajar.
Jam dinding menunjukan pukul 22:15, ku buka buku MTK dan kukerjakan juga soal-soal, sambil kukerjakan soal MTK say juga berkhayal lagi. Di luar rumah terdengar suara merdu anjing yang menggonggong dan kelompok paduan suara Kodok cs. Belum sempat selesai saya kerja soal MTK mataku terpejam dan tertidur. Dibawah alam kesadaranku, khayalan yang selalu saya bayangkan membawa saya dalam dunia mimpi. Saya menjadi pemain Nasional dan berlaga di tingkat Internasional. Pada pertandingan pertama saya melawan Jerman. Ukh, tidak menunngu waktu lama saya kalahkan dengan skor 3-0.
“ selamat ipul, kamu berhasil dipertandingan pertamamu,” ucap pelatihku
“ makasih pak, tapi pada kejuaraan ini saya targetkan mebawa pulan emas ke kampung halaman,” jawabku.
“ harus itu nak, pertandingan berikutnya kamu harus lebih berhati-hati, karena lawan yang akan kamu hadapi yaitu korea yang juga merupakan unggulan juara ,” kata pelatihku sambil memegang kepalaku.
“ siap pak,” jawabku dengan suara tegas.
Pertandingan ke 2 pun tiba. Saya memasuki lapangan dan saling bertatapan muka serta memperlihatkan ketampananku kepada lawanku. Set pertama saya kalah karena saya tegang. Pelatihku memarahiku, tapi saya cuekin aja. Set ke-2 berjalan. Dengan semangat yang membara, set ke-2, ke-3 dan ke-4 saya hantam lawanku dengan pukulan khasku.
“ yeah, ku berhasil mengalahkannya ,“ ucapku
“ ya nak, tapi masih ada satu pertandingan lagi, yaitu kamu berhapan dengan Cina, lawan yang paling sulit dikalahkan, kamu istirahat dulu siapkan tenagamu untuk partai fianl besok” kata pelatihku.
Saya langsung saja pergi istirahat di kamar sambil mengyalkan perempuan disampingku memberikan kenikmatan.
Keesokan harinya, partai final pun tiba. Sebelum masuk kelapangan saya berdoa terlebih dahulu. Saya memasuki lapangan seperti kemarin saling bertatap muka dengan lawanku, ternyata lawanku adalah Wang Liqin yang merupakan pemain peringkat 1 dunia dan juga merupakan pemain idolaku. Tapi itu buakan berarti saya mengendorkan semangatku, bahkan saya lebih semangat untuk melawannya. Set pertama di mulai, saya mengimbangi permainan Wang, tapi dia lebih cerdik sehinnga dia merebut set pertama. Set ke-2 dimulai, permainanku kacau balau, point yang kubuat cuman 3. Pelatihku marah besar, ditambah teriakan penonton. Hatiku berbicara “ ayo ipul, kamu tidak boleh kalah sama pemain yang kamu idolakan, tunjukan kamu bisa,”.
Set ke-3 dimulai, saya bermain tanpa beban, saya sudah pandai membaca permainan Wang, setiap pukulnnya saya patahkan dengan mudah. Set ke-3 saya menang.begitupun pada set ke-4. Penentuan dilakukan dengan Rubber set, pada set ini saya menegeluarkan semua tenaga yang masih ada begitupun dengan Wang. Kami saling bergantian memimpin angka. .pada set ini 1 bola sangat mahal karena hanya kesalahan sedikit saja, kita bisa kalah. Saya bermain dengan sangat hati-hati. Karena ketenanganku bermian, akhirnya saya dapat mengalahkan juara dunia sekaligus pemain idolaku.
“ yeah, makasih banyak yan Allah, akhirnya saya daot mengalahkan peringkat 1 dunia sekaligus pemain idolaku, alhamdulillah’ ucapku dengan suara tangisan kebahagiaan sambil sujud syukur kepada Allah SWT.
Pelatihku langsung saja masuk kelapangan dan memelukku dan berkata “ kamu telah berhasil nak, tapi ini belum seberapa, ini baru permulaan,”. Penyerahan tropi pun tiba, umtuk pertama kalinya saya mengankat tropy dan menngigit medali yang diberikan kepadaku.
Setelah penerimaan trophy saya beserta rombongan kembali ke tempat penginapan. Saya langsung saja masuk kekamar dan membuka baju, kemudian menuju kamara mandi tuk bersih-bersih. Kami sempat berpesta-pesta untuk merayakan kemenanganku, begitu banyak wanita-wanita cantik yang menggodaku, tapi cuman satu yang membuatku jatuh hati, dia sangat cantik. Setelah saya berkenalan dia mangajakku ke kamar kosong, saya mengikutinya saja. Dia membaringkanku di kasur yang empuk, belum sempat saya menikmatinya tiba-tiba mamaku datng mebangunkanku dari mimpi yang indah.
“ pul, ipul bangun, udah subuh ni”
“ akh, udah subuh ma.” Jawabku dengan rasa yang kaget.” Perasaan tadi saya jadi juara dunia, ko bisa begini, ooo, ternyat itu tadu cuman mimpi yah, akh”.
Jam menunjukan pukul 05:00 WITA saya bangun dan siap-saip tuk shalat subuh....
13.59 | 0 komentar | Read More

buku cerpenterjemahaan artners in Crime

Written By iqbal_editing on Senin, 24 Oktober 2016 | 20.38

Judul: Partners in Crime
Judul Terjemahan: Pasangan Detektif
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Maria Mareta
Tebal: 312 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: April 2012 (cetakan keempat)


Partners in Crime (terbit di Indonesia dengan judul Pasangan Detektif) adalah karya kedua Dame Agatha Christie yang menampilkan pasangan detektif Tommy dan Tuppence Beresford. Berbeda dengan pendahulunya, The Secret Adversary (Musuh Dalam Selimut), Pasangan Detektif yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1929 ini adalah kumpulan cerita pendek yang sebelumnya dimuat bersambung di beberapa majalah (terutama The Sketch) sepanjang rentang tahun 1923-1928. Setelah diadakan beberapa perubahan (antara lain mengatur kronologi cerita), total terdapat 17 cerita yang dimuat dalam novel ini. Satu hal yang menarik: Masing-masing cerita terinspirasi oleh karakter/novel detektif karya pengarang terkenal lainnya.

Oh ya. Supaya tidak terlalu mengumbar spoiler, saya hanya akan mengulas beberapa cerita saja :)

Mrs. Beresford menarik napas panjang dan menguap.
"Mudah-mudahan akan terjadi sesuatu," katanya.
Suaminya memandang tidak setuju.
"Hati-hati, Tuppence. Keinginanmu akan sensasi kotor ini membuatku cemas."


1. Peri di Dalam Rumah (A Fairy in the Flat)
Referensi: Malcolm Sage, detective (1921) karya Herbert George Jenkins

Enam tahun berlalu sudah sejak pernikahan Tommy dan Tuppence. Meski pernikahan mereka bahagia, pasangan suami-istri ini (terutama Tuppence) sesekali masih merindukan masa-masa saat mereka masih aktif dalam kegiatan detektif. Sampai suatu hari, datang tawaran dari Mr. Carter (sahabat lama sekaligus bos mereka) untuk mengambil alih sebuah biro detektif yang sudah nyaris ambruk, Blunt's International Detective Agency (selanjutnya akan saya sebut Kantor Detektif Internasional)

Pemilik asli biro, Mr. Blunt, dicurigai terlibat dalam kegiatan mata-mata. Mr. Carter meminta Tommy menyamar sebagai Mr. Blunt untuk melacak surat biru yang mencantumkan angka 16 di bawah perangko. Mereka juga harus mewaspadai siapa saja yang menyebut-nyebut angka tersebut. Tentu saja tawaran ini disambut dengan sukacita oleh Tommy dan, sudah pasti, Tuppence.


2. Sepoci Teh (A Pot of Tea)
Referensi: Sama dengan di atas.

Tommy dan Tuppence resmi memulai tugas mereka dengan identitas baru: Mr. Blunt dan sekretarisnya, Miss. Robinson. Bayangan Tuppence akan kasus-kasus sensasional tampaknya masih harus menunggu karena kebanyakan klien  yang datang hanya menyodorkan masalah itu-lagi-itu-lagi: Perceraian. Harapan datang saat Lawrence St. Vincent, kemenakan sekaligus ahli waris Earl of Cheriton. St. Vincent meminta bantuan mereka untuk melacak Janet, seorang gadis biasa yang dicintainya. Alasan St. Vincent mendatangi kantor Detektif Internasional karena Janet sempat menyebut-nyebut tempat itu sebelum hilang tak tentu rimbanya. Sanggupkah Tommy dan Tuppence menemukan Janet sekaligus mempromosikan kantor detektif mereka?


3. Kisah Mutiara Merah Muda (The Affair of Pink Pearl)
Referensi: karakter detektif Dr. Thorndyke karya R. Austin Freeman

Salah seorang tamu yang menginap di rumah keluarga Kingston Bruce di Wimbledon kehilangan mutiara merah muda yang berharga. Karena tidak mau memanggil polisi dan atas rekomendasi dari Lawrence St. Vincent, Kolonel Kingston Bruce mengutus putrinya untuk minta bantuan kantor Detektif Internasional. Antara seorang wanita bangsawan yang diduga mengidap klepotomania dan seorang pemuda sosialis yang tak disukai tuan rumah, siapa kiranya yang mencuri mutiara tersebut?

4. Petualangan Lelaki Jahat (The Adventure of Sinister Stranger)
Referensi: Detektif bersaudara Francis dan Desmond Okwood rekaan Valentine Williams.

Akhirnya surat biru dengan angka 16 di bawah perangko yang ditunggu-tunggu datang juga. Namun, niat T & T menyelidiki surat itu terganggu oleh kedatangan Dr. Charles Bower. Bower mengaku beberapa kali menerima panggilan pasien palsu dan dokumen-dokumen kerjanya diobrak-abrik. Ia curiga seseorang mengincar dokumen mengenai alkaloid yang akan sangat berbahaya bila jatuh ke tangan yang salah dan meminta Tommy untuk menyelidiki. Tapi Inspektur Dymcurch dari Scotland Yard yang datang belakangan mencegah kepergian Tommy dan berkata itu hanya pancingan supaya T & T meninggalkan kantor mereka dan pihak yang mengincar si surat biru bisa dengan leluasa mengambilnya. 



5. Menyiasati Sang Raja (Finessing The King)
Referensi: The Clue in the Air (1971) karya Isabel Ostrander dan pasangan detektif Tommy McCarty dan Denis Riordan.

Tuppence yang sedang bosan menemukan iklan menarik di surat kabar Daily Leader berbunyi: 'Aku ingin tiga hati, 12 trick. As sekop. Perlu untuk menyiasati Raja.' Dengan alasan perlu mengasah kemampuan sebagai detektif, ia mengajak suaminya ke bar As Sekop yang dimaksud dalam iklan itu. Di tengah keramaian pengunjung, Tuppence mendengar teriakan dari booth sebelah dan menemukan seorang wanita berkostum Ratu Hati yang ditikam tepat di jantung. Sebelum meninggal, sang wanita sempat berbisik, 'Bingo...'

6. The Gentleman Dressed in Newspaper (Lelaki Berbaju Koran)
Referensi: Sama dengan di atas.

Wanita berbaju Ratu Hati yang tewas di bar As Sekop diketahui bernama Lady Vere Merivale, istri Sir Arthur Merivale. Kata 'Bingo' yang diucapkan almarhumah sebelum meninggal merujuk pada Kapten Hale, sahabat pasangan tersebut. Diduga Kapten Hale menjalin hubungan gelap dengan Lady Vere tapi belakangan ia mulai tertarik pada seorang wanita Amerika. Tuppence menunjukkan iklan Daily Leader yang serupa dengan kostum koran yang dipakai Kapten Hale saat datang ke bar, dan ternyata cocok dengan robekan yang ditemukan di tangan almarhumah. 


7. The Case of Missing Lady (Kasus Wanita Yang Hilang)
Referensi: The Dissapearence of Lady Frances Carfax dari Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle.

Gabriel Stavansson, penjelajah terkenal yang baru kembali dari ekspedisi selama dua tahun di Kutub Utara, meminta bantuan Kantor Detektif Internasional untuk mencari tunangannya, Hermione Leigh Gordon. Stavansson percaya bahwa Lady Susan Clonray, bibi sang tunangan, mengetahui di mana sebenarnya Hermione berada, tapi tak mau memberitahunya dengan alasan tertentu.


8. Blindman's Buff (Lelaki Buta)
Referensi: Karakter detektif buta Thornley Colton karya Clinton H. Staggs

Mr. Carter memperingatkan T & T bahwa pihak Moscow berkepentingan dengan surat biru mulai curiga ada sesuatu yang tak beres dengan kantor Detektif Internasional. Untuk menghabiskan waktu, Tommy memutuskan mengenakan topeng mata supaya mirip dengan detektif buta Thornley Colton. Saat sedang makan di Hotel Ritz, mereka dihampiri oleh Duke of Blairgowrie dan Kapten Harker. Duke ingin mereka membantu menemukan putrinya yang diculik. Dalam keadaan masih mengenakan topeng, Tommy digiring ke mobil Duke hanya untuk menemukan bahwa pria itu bukan seperti yang diakuinya.


9. The Man who was No. 16 (Laki-laki Nomor 16)
Referensi: Novel The Big Four (Empat Besar) karya Agatha Christie

Kisah terakhir dalam buku ini. T & T mendapat peringatan kedua dari Mr. Carter akan rencana lawan mengirim seorang agen mereka untuk bertemu langsung dengan 'Mr. Blunt'. Sekembalinya ke kantor, T & T menemukan seseorang telah menyobek kalender terlalu banyak hingga menunjukkan tanggal 16. Tak lama kemudian, datang Pangeran Vladiroffsky yang mengaku sebagai 'Nomor 16' dan menyarankan supaya Tuppence yang disangkanya sebagai 'Marise' untuk makan siang bersama di hotel Ritz, baru bertemu kembali dengan Tommy di 'markas besar'. 

Acara makan siang Nomor 16 dan 'Marise' tak luput dari pengawasan Tommy, Mr. Carter dan petugas kepolisian. Namun saat kedua orang itu naik ke lantai atas, belakangan baru diketahui ternyata mereka malah menerobos kamar Mrs. Van Synder, mengikat si penghuni kamar dan melarikan diri setelah membius dan menyandera Tuppence. Jelas Tommy kalut setengah mati. Mampukah ia menyelamatkan sang istri?


Satu hal yang selalu saya nikmati setiap kali membaca novel-novel Agatha Christie yang menampilkan pasangan Tommy dan Tuppence adalah humor. Tidak terkecuali dalam Pasangan Detektif. Bahkan saat sedang berhadapan dengan bahaya pun, mereka masih tak kehilangan rasa humor. Dalam satu cerita, Tommy masih sempat menyarankan si penjahat yang menyekapnya supaya lebih banyak membaca cerita klasik XD 

Selain cerita yang seru dan plot yang bergerak cepat, referensi cerita-cerita detektif karya pengarang lain yang sering muncul juga tak kalah menggelitik. Akan sangat menarik untuk mengetahui bagaimana opini Dame Christie mengenai rekan-rekan sesama penulis yang 'roh' karyanya ditiupkan dalam buku ini ;)


TRIVIA
  • Referensi tentang 'memelihara lebah' dan 'bertanam labu' yang muncul dalam cerita 'The Man who was No. 16' adalah bumbu humor Dame Agatha Christie akan rencana pensiun Sherlock Holmes dan Hercule Poirot.
  • Dalam cerita 'Peri di dalam Rumah', ada adegan T & T sedang memperhatikan foto dengan noda yang menyerupai bentuk peri. Tuppence kemudian menyarankan suaminya untuk menyurati Sir Arthur Conan Doyle. Ini adalah referensi dari Cottingley Fairies, yakni beberapa foto sosok peri yang sempat digunakan Conan Doyle sebagai ilustrasi artikel bertema peri yang dikirimkannya ke majalah Strand.
20.38 | 0 komentar | Read More
 
berita unik