Translate

Welcome Guys

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label biografi sastrawwan muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biografi sastrawwan muslim. Tampilkan semua postingan

biografi ibnu Al-muqafa

Written By iqbal_editing on Selasa, 20 September 2016 | 18.47

Ibn al-Muqaffa (720-756) nama lengkapnya adalah Abū Muhammad ʿAbd Allāh Rūzbih ibn Dādūya (Persian: ابو محمد عبدالله روزبه ابن دادویه‎) adalah penulis Arab yang berasal dari Persia. Dialah yang pertama kali melakukan penerjemahan dalam sejarah dan sastra Arab, baik dari segi isi maupun dari gaya ungkapnya. Penerjemahan itu mengakibatkan dua hal yang sangat penting : yaitu pindahnya bangsa Arab dari kehidupan bergaya Badui kepada kehidupan Modern dan keterlibatan orang bukan Arab dalam bidang penulisan sastra Arab.

Sebelum memeluk agama Islam, ia bergelar Abu Amr. Ia orang pertama yang menerjemahkan karya-karya sastra tentang kebudayaan India dan Persia ke dalam bahasa Arab dan merupakan orang pertama yang melahirkan karya prosa berbahasa Arab. Ayahnya, al-Mubarak, mendapat kepercayaan dari penguasa, al-Hajjaj bin Yusuf, untuk memungut pajak di wilayah Irak dan Iran. Karena ia melakukan tindakan penyalahguanaan hasil pajak tersebut, maka ia dihukum potong tangan. Sejak itulah nama belakangnya mendapat tambahan al-muqaffa yang berarti orang yang terpotong tangannya. Gelar inilah yang kemudian menjadi nama anaknya, Abu Muhammad ibnu al-Muqaffa.

Para pengikut nasionalisme yang menganggap bangsa bukan Arab lebih unggul dari bangsa Arab, telah gagal memberikan kesan bahwa kedudukan bahasa Arab sangat rendah. Mereka juga mengakui bahwa bahasa Al-quran milik orang muslim (apapun bahasa asli mereka) dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hakikat Islam. Akan tetapi, mereka menolak bahwa kaidah-kaidah bahasa Arab didasarkan atas apa yang dipakai oleh orang Arab badui. Karena tidak ada sama sekali bukti yang memperkuatnya, misalnya seorang penyair yang bersal dari mereka. Jeleknya, orang badui malah dijadikan penghujat bagi masalah yang muncul dalam bahasa. Bukti yang paling nyata, menurut mereka, adalah adanya penulis atau pelajar yang mengatakan bahwa dirinya telah berbicara seperti halnya orang badui. Meskipun demikian, kehidupan umat-khususnya sejak awal kekhalifahan Abbasiyah telah jauh dari kehidupan badui.

Orang-orang yang berpengaruh dalam daulah itu, sebagian besar berasal dari Persia, tidak merasakan adanya hubungan emosional dengan kehidupan Arab, bahkan watak, nilai-nilai etika dan estetika pun berbeda. Orang-orang dinasti Abbasiyah, berkat kemampuan mereka sendiri, mampu berbicara seperti halnya orang badui. Akan tetapi, mereka tidak pernah mengisi pikiran mereka yang modern dan kaya itu dengan gaya ungkap bahasa lama. Oleh sebab itu meski diadakan perubahan yang sangat mendasar bagi model ungkapan bahasa Arab. Bahasa Arab harus dikembangkan sesuai perubahan yang terjadi dkehidupan umat. Itulah salah satu perubahan yang mungkin saja menyangkut pemikiran dan makna yang belum pernah terbertik dalam pikiran bangsa Arab terdahulu.

Ibn Al-Muqaffa adalah pakar dalam bidang yang satu ini. Dia menyisihkan bahasa Arab kuno, dan membangun gaya ungkap bahasa arab yang benar, mudah dan sederhana yang dapat mengungkapkan makna dan muatan katanya. Dia mengadakan revolusi besar besaran dalam bahasa Badui kuno, berikut kosakata yang sesuai dengan dunia modern. Dia melakukan penyederhanaan ( langsung kepada maksud ), penyusunan gramatikal yang jelas, selain menghindari pemakaian kata yang mengandung banyak arti, mengatur struktur pembicaraan, menghilangkan bentuk ungkapan takjub dan permintaan tolong serta memilih kata yang mudah dipahami dan menghindari setiap musykil yang terdapat dalam bahasa orang badui.

Ibn Al-Muqaffa berpendapat bahwa peniruan terhadap orang-orang terdahulu menjadi batu penghalang yang besar dalam perkembangan pemakaian ungkap baru. Karena itu dia memilih gaya ungkap yang bagus dan menarik, jelas, mudah dipahami dan gampang disampaikan. Dia menghindarkan diri dari tabiat kasar dan rumit orang-orang arab kuno, kemudian menggantinya dengan bahasa-bahasa yang mudah, teratur dan jelas. Gaya bahasanya biasa, tetapi mudah dipahami. Dengan cepat, gaya bahasa Ibn Al-Muqaffa diikuti oleh banyak orang dan dipakai dalam dunia sastra oleh para sarjana, penulis di dunia Islam.

Kerena pendidikan Ibn Al-Muqaffa banyak diperoleh dari Persia, dia sendiri sangat condong kepada Persia dan ingin menghidupkan umatnya dengan menyebarkan sastra, politik dan sejarah mereka, maka tidak aneh bila buku-buku Ibn Al-Muqaffa adalah buku yang mula-mula dipengaruhi oleh sastra asing, dengan memperluas makna dan konsepnya.

Dia banyak menerjemahkan buku dari bahasa Persia kedalam bahasa Arab. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dialah yang pertama kali menyerukan penyatuan pemikiran yang tumbuh dari kerja sama, tanggung jawab, dan saling pengertian antar generasi, lintas waktu, diantara umat timur yang bermacam – macam. Hal yang sama kemudian direalisasikan oleh peradaban Islam dengan sangat baik setelah dia tiada yaitu, ketika peradaban Islam mulai hidup, kuat, dan sangat berpengaruh dalam kehidupan berbagai umat dan bangsa.

Keelokan hasil terjemahannya dapat dikatakan belum pernah ada pada jaman sebelum ataupun sesudahnya yang mampu menerjemahkan karya sastra kedalam bahasa Arab, yang tidak sama sekali bahwa karya sastra itu berasal dari bahasa Asing. Karya terjemahannya pertanda bahwa kedalaman bahasa Arab mudah dicerna dan enak dibaca.

Buku penting yng dia terjemahkan ialah Kalilah dan Daminah yang mampu memasuki ruang kesadaran bangsa Arab dan mampu mempengaruhi pikiran mereka, sebuah kemampuan yang tidak dimiliki oleh buku-buku lainnya, selain Al-Quran dan buku Alf Laylah wa laylah. Buku itu di cetak berkali kali di dunia Arab sejak cetakan pertama hingga jaman kita sekarang ini. Di beberapa Negara, buku ini dijadikan sebagai buku wajib di sekolah, sehingga tidak ada satupun cendikiawan atau pelajar yang belum pernah menelaah atau membaca buku itu, sebagian atau keseluruhannya.

Buku kalilah dan daminah telah diterjemahkan kedalam lebih dari dua puluh bahasa. Semuanya kebanyakan diterjemahkan dari terjemahan dari bahasa Arab yang dilakukan oleh Ibn Al-Muqaffa. Banyak penulis yang sangat terpengaruh oleh gaya sastra arab karena mengikuti Ibn Al-Muqaffa, baik dari segi gaya ungkap maupun cara mengkritik kondisi politik dan ketimpangan sosial pada masa itu, saat kebebasan mengungkapkan pendapat sudah tidak ada tempatnya.

Nilai etika yang tertuang dalam Kalilah wa Dimnah karya Ibnu Al-Muqaffa’ sebagaimana penulis buku ini sampaikan adalah sangat penting untuk dikemukakan, karena adanya kesenjangan pengetahuan etika Islam antara periode klasik dengan era modem. Hal itu menjadi satu perhatian yang serius karena masalah etika di zaman kontemporer khususnya perilaku pragmatis diliputi nilai-niIai materialistis yang kering akan maknawiyah hidup sesungguhnya. Bagaimana rumusan nilai-nilai etika dari fabel Kalilahwa Dimnah, adalah salah satu upaya yang signifikan dalam rangka menemukan jawaban terhadap masalah-masalah etis yang kongkret, terutama dalam persoalan hubungan antara etika, sosial-politik, dan agama pada masanya oleh Ibnu Al-Muqaffa’ dan relevansi hubungan antara etika, sosial-politik, dan agama pada masa kontemporer oleh para mujtahid.

Dalam pembahasan ini, penulis menggunakan metode kualitatif model studi Islam multidisipliner dengan pendekatan filsafat yang menggunakan perpaduan pendekatan temarik, strukturalistik-semiotik, resepsi,dan hipogram, dari disiplin ilmu sastra dan studi Islam.

Dalam ranah studi etika, kajian buku ini memberikan kontribusi keilmuan dalam dua hal: interkoneksitas keilmuan dan dua model etika sekaligus, yakni etika dltinjau dari sudut substansi fabel dan etika ditinjau dari sudut formal fabel. Dari substansinya adalah Etika Humanisme Klasik Moderat dan Etika Politik Posmodernisme-Klasik, sedang dari sudut formalnya adalah Etika Komunikasi Publik.

Buku ini diharapkan dapat dibaea oleh masyarakat luas, terutama para politisi, birokrat, para akademisi, mahasiswa, dan khususnya pemuka agama sehingga wawasan etika lebih baik khususnya ketika pada praktik moralnya dalam segala hal.
Ibn Al-Muqaffa menginginkan agar dirinya memiliki kesempatan untuk mengungkapkan kondisi social politik yang bobrok pada masa pemerintahan Abbasiyah dengan cara membandingkannya dengan tatanan politik yang sangat bagus di Persia. Pemikirannya yang asli ini banyak membawa hasil yang baik. Dialah orang yang pertama kali menjelaskan bahwa kemuliaan Akhlak kadang kala datang dari pemikiran dan filsapat, selain datang dari agama. Menurut pendapatnya, orang-orang yang berakhlak, tingkah lakunya pasti sesuai dengan agama dan filsapat dia sangat bangga bahwa dia berakhlak karena berfilsafat ansich. Jika seseorang mau melakukan perbuatan yang mulia, pasti dirinya akan mencapai derajat yang tinggi dan terhormat. Kalaulah perbuatan mulia itu tidak dianjurkan oleh agama, manusia tetap harus melakukan perbuatan yang mulia.

Ibn Al-Muqaffa adalah cendikiawan yang beradab, bukan seorang ahli agama atau ulama. Jikapun tulisannya menyinggung persoalan berbicara tentang akhlak, dia memberi penjelasan dan uraian secara rasional saja. Hamper tidak pernah mempertahankan pendapatnya dengan memakai dalil dari ayat al-Quran ataupun hadist.

Dalam sejarah kariernya, Ibnu al-Muqaffa menjabat sebagai sekeraris gubernur Bani Abbas di Kirman, dimana ia mendapat banyak kesempatan dan keberuntungan. Ketika Khalifah Abu Ja’far al-Mansur menyuruhnya membuat konsep surat perjanjian antara dia dan saudaranya, Abdullah bin Ali, yang melakukan pemberontakan, ia membuat beberapa pernyataan yang tidak menyenangkan bagi khalifah. Tindakan Ibnu al-Muqaffa ini, sudah barang tentu, mengundang kecurigaan dan kemarahan Khalifah al-Mansur. Khalifah al-Mansur memerintahkan Sufyan bin Mu’awiyah al-Muhallabi, gubernur Basra, agar melenyapkan sekretaris yang dinilai angkuh ini. Tepat di penghujung tahun 138 H/756 M Ibnu al-Muqaffa deksekusi secara tragis. Sebagian orang memendang bahwa eksekusi atas diri Ibnu al-Muqaffa tersebut terjadi karena ia dipandang sebagai kaum *zindik. Akan tetapi, bagaimanapun juga, peristiwa tragis itu lebih dilatarbelakangi oleh faktor politis dan sentimen pribadi ketimbang faktor agama.

Meskipun masa hidupnya relatif singkat, yaitu 30 tahun, Ibnu al-Muqaffa telah meninggalkan hasil terjemahan dan karya orisinil yang tidak sedikit jumlahnya. Namun hanya sebagian kecil dari karyanya tersebut yang masih ada hingga sekarang. Itupun masih diragukan keaslian dan kebenarannya. Di antara kitab tersebut adalah kitab Kalilah wa Dimnah atau Kalilah dan Dimnah (Yang Tumpul dan Keras) yang diterjemhkan oleh Ibnu al-Muqaffa dari bahasa Pahlavi ke dalam bahasa Arab. Kitab ini merupakan kumpulan dongeng-dongeng India yang berasal dari Pancatantra dan Tantrayana yang diterjemahkan ke dalam bahasa Pahlevi pada zaman Anusyirwan. Ia juga menerjemahkan kitab Khudainama dari bahasa Pahlevi, yang dalam bahasa Arabnya diberi judul Siyar Muluk al-‘Ajam (Kehidupan Raja-Raja Non-Arab). Di samping karya terjemahan, Ibnu al-Muqaffa juga mempunyai karya-karya orisinil sebagai ide dalam pemikirannya sendiri. Diantara karya orisinil tersebut adalah kitab ad-Durrah al-Yatimah fi Ta’ah al-Muluk (Mutiara Terbaik Dalam Mematuhi Raja), al-Adab as-Sagir (Sastra Kecil), al-Adab al-Kabir (Sastra Besar), dan beberapa risalah kecil lainnya.
18.47 | 1 komentar | Read More

biografi nurruddin abdurahman Al-jami

1. Biografi
Abdurrahaman jami adalah salah seorang tokoh islam yang pandai dari persia. Ia di lahirkan di Kharjad pada tahun 1414 M / 817 H. Nama lengkapnya Nuruddin Abdurrahaman al-Jami. Anak dari Nizamudin ini sebelum terkenal dengan sebutan al-Jami, ia akrab dengan dinggil Ad-Dasty. Dimana, gelar itu di ambil dari sebuah daerah dekat Kota Isfahan, tempat asal ayahnya. Ia adalah orang yang cerdas dan pandai, hal ini terbukti dari sejak kecil ia telah menunjukan sifatnya yang luar biasa itu. Ia sangat mudah dan tanggap menguasai pelajaran yang di berikan kepadanya. Ia adalah seorang yang pandai berorasi dan berargumentasi. Salah satu diantara para ulama  yang pernah menjadi gurunya ialah Syeh Sa’udin Al-Kasygari, murid sekalaigus khalifah Syeh Baharuddin Naqsibandiah.
Keuletan dan potensinya itu mengantarkannya menjadi sosok yang di hormati dan di kagumi oleh semua lapisan masyarakat. Ia adalah tokoh yang sangat terkenal di kawasan persia, sehinggga kemashurannya pun mencapai kawasan Turki Usmani.
Beberapa sebelum kematianya, ia berkunjung ke desa-desa tetangganya yang tidak di perhatikan secara khusus.
Tiga hari sebelum meninggal, ia mengumpulkan beberapa murid dekatnya dan berkata, “ Jadilah saksiku bahwa aku tidak punya ikatan dengan apapun  dan dengan siapa pun”.
Ketika fajar mulai menyingsing di Kota Heart, Pada hari jum’at tahun 1492 M / 898 H, ia merasa bahwa kematiannya akan tiba. Ia merlakukan shalat dan kemudian duduk untuk melakukan dzikir, dan siang harinya ia pun wafat.

2. Karya-karyanya

Kita masih bisa melihat kebesarannya dalam karya-karya dan tulisannya yang berhasil ia telurkan. Tidak kurang dari 90 buku dan tulisannya yang di hasilkan, namun menurut sumber lain hanya berjumlah 46 karya dengan berbagai topik dan gaya. Dalam tulisannya, kebanyakan berbicara dalam bidang tasawuf, akan tetapi bidang-bidang lain pun tidak luput dari pehatiannya. Misalnya, menulis komentar tafsir sejumlah surah dalam a- Qu’an, memberikan komentar hadis-hadis yang di riwayatkan oleh Abu Dzar al- Ghifari.
Diantara karya prosanya adalah Nafahatul Uns (Nafas dari Bayu Persahabatan).  Beharistan (Kota Musim Semi) dan koleksi Biography Para Wali Sufi. Karya puisinya yang terkenal adalah Haft Awrang ( Tujuh Tahta Rahmat), yang terdiri dari 25 riu bait. Buku Yusuf & Zulaikha merupakan puncak buah karyanya. Selain itu ia juga menulis tentang biografi Nabi Muhammad, bukti-bukti tentang kenabiannya, tentang biografi para sufi dan pengajaran mereka tentang para penyair, raja-raja, puisi, musik dan taat bahsa arab.
Meskipun demikian al-Jami lebih terkenal kehadirannya sebagi penyair dan sebagai juru bicara tasawuf aliran Wahdatul Wujud, manunggali Kaulo Gusti, bersatunya mahlu dengan khalik. Menurutnya, Nafs atau jiwa manusia, sebagai unsur atau prinsip yang menghidupkan manusia, memiliki potensi untuk mencapai sejumlah tahap kesempurnaan yang berbeda. Dengan melewati tahap demi tahap, jiwa itu akan semakin dekat dan menyatu dengan Tuhan.
Al-Jami membaginya dalam tiga fase. Pertama, fase paling rendah yang di sebut Nafs Amarat, yaitu nafs yang terus menerus mendorong kepada hal-hal yang buruk dan rendah. Setelah fase ini terlewati dengan mlalui latihan spiritual, jiwa ini akan meningkat pada fase yang ke-dua  yaitu Nafs Lawamat, yang berarti jiwa ini mampu mencela kekurangan-kekurangan dirinya sendiri. Bila di tingkatkan kembali maka akan mencapai pada fese yang ke-tiga yaitu Nafs Mutmainnat, pada fase ini jiwa akan sampai pada puncak kesempurnaannya, di sini jiwa akan merasa tentram, damai, dan bahagia.
Dari banyak munajatnya yang indah kepada Allah, dia berkata, “Ya Rabbi, ya Tuhanku, jauhkanlah kami dari perbuatan menghabiskan waktu untuk perkara-perkara kecil yang tidak berguna. Tunjukkanlah kepada kami segala perkara menurut hakekatnya. Angkatlah dari batin kami selubung ketidaksadaran. Janganlah diperlihatkan kepada kami barang yang tidak nyata sebagai barang yang ada. Janganlah Kau biarkan bayang-bayang menutup batin kami, sehingga kami tidak dapat melihat keindahan-Mu. Jadikanlah bayang-bayang ini sebagai kaca yang melalui batin kami untuk menyaksikan-Mu.”
Pada bagian lain dia berkata, “Sang kekasih menyeru dari kedai minuman, datanglah lalu berilah aku anggur cinta, cawan demi cawan. Kubebaskan diriku dari belenggu logika dan nalar. Lalu kumulai meratap dan menangis untuk bersatu.”
Dalam tahun terakhirnya ia melihat visi tentang kematiannya, dan sering melantunkan bait syair berikut:
Adalah memalukan
Bahwa hari-hari berlalu tanpa kita
Bunga-bunga akan mekar dan musim semi akan tiba
Musim panas, musim dingin, dan musim semi
Akan berlalu
Dan kita pasti akan menjadi tanah dan debu.
18.26 | 0 komentar | Read More

biografi firdausi

Abu'l-Qasim Ferdowsi Tusi (c. 940-1020), atau Ferdowsi, [1] adalah seorang penyair  persia dan penulis Shahnameh ( "Book of Kings"), yang merupakan terpanjang di dunia puisi epik yang dibuat oleh seorang penyair tunggal, dan epik nasional dari Iran dan Persia Raya . Setelah menyusun Shahnameh bawah naungan Samanid dan Ghaznavid pengadilan Iran, Ferdowsi dirayakan sebagai tokoh paling berpengaruh di literatur Persia dan salah satu yang terbesar di sejarah sastra . Ia secara luas dianggap sebagai penyair terbesar dalam bahasa Persia . Dia disebut "The Lord of Firman" dan "Juruselamat dari Persia Bahasa". [2]

Isi

Nama

Kecuali nya Kunya (ابوالقاسم - Abul Qasim) dan nya laqab (فردوسی - Firdausi, yang berarti " paradisic " dalam bahasa Persia), tidak ada yang diketahui dengan pasti tentang nama lengkapnya. Dari periode awal, ia telah disebut dengan nama tambahan yang berbeda dan judul, yang paling umum adalah حکیم / Hakim ( "filsuf"). [3] Berdasarkan ini, nama lengkap diberikan dalam bahasa Persia sebagai sumber حکیم ابوالقاسم فردوسی توسی / Hakim Abul Qasim Firdowsī Tusi. Karena transliterasi non-standar dari Persia ke dalam bahasa Inggris , ejaan yang berbeda dari namanya digunakan dalam karya-karya bahasa Inggris, termasuk Firdawsi, Firdusi, Firdosi, Firdausi, dll Encyclopaedia of Islam menggunakan ejaan Firdawsī, berdasarkan metode transliterasi standar dari yang Jerman Oriental Masyarakat . [1] The Encyclopædia Iranica , yang menggunakan versi modifikasi dari metode yang sama (dengan penekanan kuat pada intonasi Persia), memberikan ejaan Ferdowsi. [3] dalam kedua kasus, -ow dan -aw yang untuk diucapkan sebagai diftong ([aʊ̯]), mencerminkan Arab asli dan awal pengucapan Persia New nama.

Kehidupan

Keluarga

Ferdowsi dilahirkan dalam sebuah keluarga pemilik tanah Iran ( dehqans ) di 940 di desa PAJ, dekat kota Tus , di Khorasan wilayah dari Dinasti Samaniyah , yang terletak di masa kini Razavi Khorasan Province of timur laut Iran . [4] sedikit yang diketahui tentang kehidupan awal Ferdowsi. Penyair punya istri, yang mungkin melek huruf dan berasal dari kelas dehqan yang sama. Dia memiliki seorang putra, yang meninggal di usia 37, dan ditangisi oleh penyair dalam elegi yang ia dimasukkan ke dalam Shahnameh. [3]

Latar Belakang

Patung Firdausi di Firdausi Square Teheran , oleh Sadighi
Ferdowsi milik kelas dehqans. Ini adalah pemilik tanah aristokrat Iran yang telah berkembang di bawah dinasti Sassanid (dinasti pra-Islam terakhir yang memerintah Iran) dan yang kekuasaannya, meskipun berkurang, selamat ke era Islam yang mengikuti penaklukan Arab dari abad ke-7. The dehqans yang intens patriotik (begitu banyak sehingga dehqan kadang-kadang digunakan sebagai sinonim untuk "Iran" di Shahnameh) dan melihatnya sebagai tugas mereka untuk melestarikan tradisi budaya Iran, termasuk kisah-kisah legendaris tentang raja-nya. [4] [3]
Penaklukan Muslim dari abad ke-7 telah DAS dalam sejarah Iran, membawa agama baru Islam, mengirimkan Iran untuk kekuasaan kekhalifahan Arab dan mempromosikan budaya Arab dan bahasa dengan mengorbankan Persia. Pada akhir abad ke-9, kekuatan kekhalifahan telah melemah dan dinasti Iran lokal muncul. [4] Firdausi dibesarkan di Tus, sebuah kota di bawah kendali dari salah satu dinasti ini, Samaniyah, yang mengaku keturunan dari Sassanid umum Bahram Chobin (yang ceritanya Firdausi menceritakan dalam salah satu bagian selanjutnya dari Shahnameh). [5] birokrasi Samanid menggunakan Persia New bahasa bukan bahasa Arab dan Samanid elit memiliki minat yang besar di Iran pra-Islam dan tradisi dan ditugaskan terjemahan dari Pahlavi ( Persia Tengah ) teks ke New Persia. Abu Mansur Muhammad , seorang dehqan dan gubernur Tus, telah memerintahkan menterinya Abu Mansur mamari untuk mengundang beberapa ulama setempat untuk mengkompilasi sebuah prosa Shahnameh ( "Book of Kings"), yang selesai di 1010CE. [6] Meskipun tidak lagi bertahan, Ferdowsi digunakan sebagai salah satu sumber dari epik. Penguasa Samanid yang pelanggan dari penyair Persia yang penting seperti Rudaki dan Daqiqi . Ferdowsi mengikuti jejak dari penulis ini. [7]
Rincian tentang pendidikan Ferdowsi kurang. Dilihat oleh Shahnameh, tidak ada bukti dia tahu baik Arab atau Pahlavi. [3]
Meskipun New Persia diresapi oleh kosakata bahasa Arab oleh waktu Ferdowsi, ada relatif sedikit kata-kata pinjaman Arab di Shahnameh. Ini mungkin strategi yang disengaja oleh penyair. [8]

Hidup sebagai seorang penyair

Ferdowsi dan tiga pujangga Ghaznavid
Ada kemungkinan bahwa Ferdowsi menulis beberapa puisi awal yang belum selamat. Dia mulai bekerja pada Shahnameh sekitar 977, berniat sebagai kelanjutan dari karya rekan penyair nya Daqiqi , yang telah dibunuh oleh seorang budak. Seperti Daqiqi, Ferdowsi dipekerjakan prosa Shahnameh dari Abd-al-Razzaq sebagai sumber. Ia menerima patronase murah hati dari Samanid pangeran Mansur dan menyelesaikan versi pertama dari Shahnameh di 994. [3] Ketika Turki Ghaznawi menggulingkan Samaniyah di 990s akhir, Ferdowsi terus bekerja pada puisi, menulis ulang bagian untuk memuji Ghaznavid Sultan Mahmud. Sikap Mahmud untuk Ferdowsi dan seberapa baik ia dihargai penyair adalah hal-hal yang telah lama menimbulkan perdebatan dan telah membentuk dasar dari legenda tentang penyair dan pelindungnya (lihat di bawah). The Turki Mahmud mungkin kurang tertarik pada cerita dari sejarah Iran daripada Samaniyah. [4] Bagian selanjutnya dari Shahnameh memiliki ayat-ayat yang mengungkapkan suasana hati fluktuatif Ferdowsi: di beberapa ia mengeluh tentang usia tua, kemiskinan, penyakit dan kematian-Nya putra; pada orang lain, ia muncul lebih bahagia. Ferdowsi akhirnya selesai epik pada 8 Maret 1010. Hampir tidak ada yang diketahui dengan pasti tentang dekade terakhir hidupnya. [3]

Tomb

makam Ferdowsi
Artikel utama: Tomb of Ferdowsi
Ferdowsi dimakamkan di kebun sendiri, penguburan di pemakaman Tus yang telah dilarang oleh ulama setempat. Seorang gubernur Ghaznavid Khorasan membangun sebuah makam di atas kuburan dan menjadi situs dihormati. The makam , yang telah jatuh ke dalam pembusukan, dibangun kembali antara tahun 1928 dan 1934 oleh Society for National Heritage Iran atas perintah Syah Reza , dan sekarang telah menjadi setara dengan kuil nasional. [9]

Legenda

Menurut legenda, Sultan Mahmud dari Ghazni ditawarkan Ferdowsi sepotong emas untuk setiap bait dari Shahnameh ia menulis. penyair setuju untuk menerima uang sebagai lump sum ketika ia telah menyelesaikan epik. Ia berencana untuk menggunakannya untuk membangun kembali tanggul di Tus asalnya. Setelah tiga puluh tahun bekerja, Ferdowsi selesai masterpiece-nya. Sultan siap untuk memberinya 60.000 keping emas, satu untuk setiap bait, yang disepakati. Namun, para punggawa Mahmud telah dipercayakan dengan uang dibenci Ferdowsi, mengenai dia sebagai orang yang sesat, dan ia menggantikan koin emas dengan perak. Ferdowsi berada di rumah mandi ketika ia menerima hadiah. Menemukan itu perak bukan emas, dia memberikan uang itu ke bathkeeper, penjual penyegaran dan budak yang telah membawa koin. Ketika punggawa mengatakan kepada sultan tentang perilaku Ferdowsi, dia sangat marah dan mengancam akan mengeksekusi dia. Ferdowsi melarikan diri Khorasan, setelah pertama kali menulis satir pada Mahmud, dan menghabiskan sebagian besar sisa hidupnya di pengasingan. Mahmud akhirnya mengetahui kebenaran tentang penipuan punggawa dan telah dia baik dibuang atau dieksekusi. Pada saat ini, orang tua Ferdowsi telah kembali ke Tus. Sultan mengirimnya hadiah baru dari 60.000 keping emas, tapi hanya sebagai kafilah bantalan uang memasuki gerbang Tus, prosesi pemakaman keluar gerbang di sisi yang berlawanan. Penyair itu meninggal karena serangan jantung [10]

Pekerjaan

Artikel utama: Shahnameh
Patung Ferdowsi dan Shahnameh cerita di Delfan , Iran
Adegan dari Shahnameh diukir relief di makam Firdausi di Tus, Iran
Ferdowsi Shahnameh adalah yang paling populer dan berpengaruh epik nasional di Iran dan negara-negara berbahasa Persia lainnya. The Shahnameh adalah satu-satunya yang masih hidup bekerja dengan Ferdowsi dianggap sebagai disangkal asli. Dia mungkin telah menulis puisi sebelumnya dalam hidupnya tetapi mereka tidak ada lagi. Sebuah puisi naratif, Yusof o Zolaykā (Yusuf dan Zulaika), pernah dikaitkan dengannya, tapi konsensus ilmiah sekarang menolak gagasan itu adalah miliknya. [3] Ada juga spekulasi tentang sindiran Ferdowsi diduga menulis tentang Mahmud dari Ghazni setelah sultan gagal membalasnya cukup. Nezami Aruzi , penulis biografi awal Ferdowsi, mengklaim bahwa semua tapi enam baris telah dihancurkan oleh pemberi selamat yang telah membayar Ferdowsi seribu dirham untuk puisi itu. Perkenalan ke beberapa naskah dari Shahnameh termasuk ayat-ayat yang mengaku sindiran. Beberapa sarjana telah melihat mereka sebagai palsu; yang lain lebih cenderung percaya pada keaslian mereka. [11]

Pengaruh

Mausoleum Firdausi di Tus, Iran
Salah satu puisi Ferdowsi: "Pikirkan kepuasan tuanmu ini - menjadi intelektual dan benar", menulis dalam dinding sekolah di Iran
Ferdowsi adalah salah satu raksasa tak terbantahkan sastra Persia. Setelah Ferdowsi Shahnameh, sejumlah karya lain yang sejenis di alam muncul selama berabad-abad dalam lingkup budaya dari bahasa Persia. Tanpa kecuali, semua karya-karya tersebut didasarkan pada gaya dan metode pada Ferdowsi Shahnameh, namun tidak satupun dari mereka cukup bisa mencapai tingkat yang sama ketenaran dan popularitas sebagai karya Ferdowsi. [ Rujukan? ]
Ferdowsi memiliki tempat yang unik dalam sejarah Persia karena langkah yang dilakukan dalam menghidupkan kembali dan regenerasi bahasa Persia dan tradisi budaya. Karya-karyanya dikutip sebagai komponen penting dalam kegigihan bahasa Persia, sebagai karya-karya diperbolehkan banyak lidah untuk tetap dikodifikasi dan utuh. Dalam hal ini, Ferdowsi melampaui Nizami , Khayyám , Asadi Tusi dan tokoh sastra Persia mani lainnya di dampaknya pada budaya Persia dan bahasa. [ Rujukan? ] Banyak orang Iran yang modern melihat dia sebagai ayah dari bahasa Persia modern.
Ferdowsi sebenarnya adalah motivasi di balik banyak tokoh Persia masa depan. Salah satu tokoh terkemuka seperti itu Reza Syah Pahlevi , yang mendirikan sebuah Akademi Persia Bahasa dan Sastra , dalam rangka untuk mencoba untuk menghapus bahasa Arab dan kata-kata Perancis dari bahasa Persia, menggantinya dengan alternatif Persia yang cocok. Pada tahun 1934, Reza Syah menyiapkan upacara di Mashhad , Khorasan , merayakan seribu tahun sastra Persia sejak zaman Ferdowsi, berjudul " Ferdowsi Millenary Celebration ", mengundang Eropa terkenal serta ulama Iran. [12] Ferdowsi Universitas Masyhad adalah sebuah universitas yang didirikan pada tahun 1949 yang juga mengambil nama dari Ferdowsi.
Pengaruh Ferdowsi dalam budaya Persia dijelaskan oleh Encyclopædia Britannica: [13]
Persia menganggap Ferdowsi sebagai yang terbesar dari penyair mereka. Selama hampir seribu tahun mereka terus membaca dan mendengarkan bacaan dari karya-nya, Shah-Nameh, di mana epik nasional Persia menemukan bentuk akhir dan abadi nya. Meskipun ditulis sekitar 1.000 tahun yang lalu, pekerjaan ini adalah sebagai dimengerti rata-rata, modern Iran sebagai King James Version dari Alkitab adalah untuk bahasa Inggris-speaker modern. Bahasa, berdasarkan sebagai puisi adalah pada asli Dari, adalah murni Persia dengan hanya campuran sedikit bahasa Arab.
17.50 | 0 komentar | Read More
 
berita unik