Translate

cerpen kisah seorang penjual nasi goreng

Written By iqbal_editing on Sabtu, 25 Februari 2017 | 08.30

CERPEN

 KISAH SI PENJUAL  NASI GORENG

Seorang penjual nasi goreng yang bernama Nurdin, umur 35 tahun, alamat Gg.Jambi Harapan Raya Pekanbaru Riau. Beliau berasal dari provinsi Lampung, yang merantau ke Pekanbaru Riau, pada tahun 2004. Beliau mempunyai seorang istri dan 3 orang anak laki-laki.
Dari wawancara yang saya lakukan kepada bapak Nurdin, beliau menceritakan kisah kehidupannya dan mengapa dia bisa sampai merantau ke Pekanbaru Riau.
Pada tahun 1993 bapak Nurdin menikah dengan istrinya yang bernama Wati, beliau pada saat itu masih menganggur dan kerjaan yang dilakukannya serabutan atau tidak tetap, tahun 1995 mereka dikaruniai anak pertama yaitu seorang laki-laki yang bernama Riko Agusli, Pada tahun 1998 mereka dikaruniai lagi anak laki-laki yang diberi nama David Miharno.
Pada saat itu bapak Nurdin membuat usaha sendiri dengan modal yang kecil dari hasil jerih payah beliau yang dikumpulkan pada saat dia bekerja serabutan, usaha yang dijalaninya adalah jual beli hasil kebun yang didapatkan dari petani, adapun hasilnya berupa petai,jengkol,cabe,merica,durian,duku dan lain-lain.
Karena dengan kegigihannya usaha yang dirintis beliau pun menunjukkan hasil yang memuaskan dan usaha pun makin maju, dari hasil usahanya tersebut beliau akhirnya bisa membangun sebuah rumah di kampung halamannya di Lampung.
Pada tahun 2001 mereka dikaruniai lagi anak laki-laki yang diberi nama Rinal Efendi yang merupakan anak bungsu dari bapak Nurdin dan istrinya wati.
Usaha beliau pun terus berjalan normal sampai pada suatu saat,karena faktor salah pergaulan dari teman-teman bisnisnya, beliau pun jadi hobi bermain judi, hasil uang yang didapatkan dari usaha pun habis untuk berjudi bersama teman-temanya. Dan bapak Nurdin pun lupa dengan kewajiban seorang suami dan ayah untuk istri dan anak-anaknya karena beliau asyik bermain judi sampai tidak kenal waktu untuk pulang kerumah berkumpul bersama keluarganya.


Akibat perbuatannya sendiri yang suka bermain judi, akhirnya usaha beliaupun tidak berjalan normal karena beliau tidak fokus dan modal untuk usaha pun habis terpakai bermain judi, Jadi usahanya pun hancur dan bangkrut selain itu beliau pun banyak berhutang kepada orang atau rentenir. Istri beliau tidak tahu kalau beliau banyak berhutang kepada orang apalagi berhutang kepada rentenir, Suatu ketika ada beberapa orang datang kerumah mencari suaminya dengan alasan menagih hutang disitulah istri beliau tahu kalau suaminya banyak berhutang. Bukan Cuma sekali saja orang menagih kerumah bahkan beberapa kali orang datang dengan membawa polisi.
Karena masalah semakin panjang istrinya pun bercerita kepada bapak Nurdin untuk mencari solusi bagaimana bisa melunasi hutang tersebut, mereka pun mencoba mencari pinjaman kepada saudara-saudaranya tapi dana yang didapat tidak sebanyak yang diperlukan untuk melunasi hutang, karena beliau sudah tidak ada pilihan lagi akhirnya mereka memutuskan untuk menjual rumah yang mereka huni dan dari hasil menjual rumah akhirnya mereka bisa melunasi hutang-hutang tersebut.
Karena beliau malu dengan tetangga dan saudara, beliau pun memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman pada tahun 2004, dan merantaulah mereka ke kota Pekanbaru Provinsi Riau untuk mengadu nasib, tetapi beliau menitipkan anak pertama dan kedua kepada mertua bapak Nurdin yang berada di Lampung, alas an beliau menitipkan anak-anaknya dikarenakan mereka sudah bersekolah di Lampung dan sayang untuk ditinggalkan maka mereka tinggal bersama kakek neneknya untuk melanjutkan sekolah, Jadi mereka merantau ke Pekanbaru hanya membawa anak bungsunya yang belum sekolah.
Bapak Nurdin memilih merantau ke Pekanbaru karena alasan beliau mempunyai kenalan yaitu teman dekat sekaligus tetangga dekat rumahnya waktu masih duduk di bangku sekolah, Sesampainya bapak Nurdin di Pekanbaru mereka langsung mencari rumah untuk tempat tinggal dan mereka pun dapat rumah sewa yang beralamat dijalan Harapan Raya Gg.Jambi, Bapak Nurdin pun mencoba mencari-cari peluang kerja lebih kurang 2 minggu di Pekanbaru akhirnya beliau di panggil bekerja di sebuah kafe yang menjual nasi goring dan makanan lainnya dan beliau menjadi pelayan di kafe tersebut.
Beliau pun bekerja di kafe tersebut dengan gaji bulanan, dari pendapatan tersebut beliau bisa membayar sewa rumah dan memberi makan anak istrinya, beliau pun bekerja disana bukan hanya sebagai pelayan tapi beliau pun belajar dan membantu membuat nasi goreng di kafe tersebut, Lebih kurang 3 tahun beliau bekerja di kafe tersebut dan beliau pun mendapatkan ilmu memasak nasi goreng.
Pada suatu hari kawan beliau yang satu kampung tersebut menawarkan pinjaman modal untuk membuka usaha nasi goreng dan bapak Nurdin pun menerima tawaran dari temannya tersebut akhirnya pada tahun 2007 beliau memutuskan untuk berhenti bekerja di kafe tersebut dan beliau membuka usaha sendiri menjual nasi goreng dari hasil pinjaman tersebut.

Beliau pun berjualan di jalan Harapan Raya pada malam hari di depan ruko dealer sepeda motor Yamaha yang lokasinya cukup strategis untuk berjualan nasi goreng, Usaha beliau pun sudah mulai maju dan pada tahun 2009 kedua anaknya yang ditinggalkan bersama mertuanya di Lampung dibawa ke Pekanbaru untuk melanjutkan sekolah di Pekanbaru, Akhirnya mereka pun berkumpul kembali sampai sekarang dan usahanya pun lancar.
Bapak Nurdin pun sekarang sudah sangat berubah dari masa lalu beliau sekarang makin taat beribadah kepada Allah Swt, dan kehidupan mereka pun menjadi harmonis walaupun dengan hidup yang sangat sederhana.
Demikianlah hasil wawancara dengan bapak Nurdin si penjual nasi goreng di jalan Harapan Raya Pekanbaru Riau.















0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik