CERPEN:KISAH SEORANG PENJUAL NASI GORENG
CERPEN
KISAH SI PENJUAL NASI GORENG
Seorang
penjual nasi goreng yang bernama Nurdin, umur 35 tahun, alamat Gg.Jambi
Harapan Raya Pekanbaru Riau. Beliau berasal dari provinsi Lampung, yang
merantau ke Pekanbaru Riau, pada tahun 2004. Beliau mempunyai seorang
istri dan 3 orang anak laki-laki.
Dari
wawancara yang saya lakukan kepada bapak Nurdin, beliau menceritakan
kisah kehidupannya dan mengapa dia bisa sampai merantau ke Pekanbaru
Riau.
Pada
tahun 1993 bapak Nurdin menikah dengan istrinya yang bernama Wati,
beliau pada saat itu masih menganggur dan kerjaan yang dilakukannya
serabutan atau tidak tetap, tahun 1995 mereka dikaruniai anak pertama
yaitu seorang laki-laki yang bernama Riko Agusli, Pada tahun 1998 mereka
dikaruniai lagi anak laki-laki yang diberi nama David Miharno.
Pada
saat itu bapak Nurdin membuat usaha sendiri dengan modal yang kecil
dari hasil jerih payah beliau yang dikumpulkan pada saat dia bekerja
serabutan, usaha yang dijalaninya adalah jual beli hasil kebun yang
didapatkan dari petani, adapun hasilnya berupa
petai,jengkol,cabe,merica,durian,duku dan lain-lain.
Karena
dengan kegigihannya usaha yang dirintis beliau pun menunjukkan hasil
yang memuaskan dan usaha pun makin maju, dari hasil usahanya tersebut
beliau akhirnya bisa membangun sebuah rumah di kampung halamannya di
Lampung.
Pada
tahun 2001 mereka dikaruniai lagi anak laki-laki yang diberi nama Rinal
Efendi yang merupakan anak bungsu dari bapak Nurdin dan istrinya wati.
Usaha
beliau pun terus berjalan normal sampai pada suatu saat,karena faktor
salah pergaulan dari teman-teman bisnisnya, beliau pun jadi hobi bermain
judi, hasil uang yang didapatkan dari usaha pun habis untuk berjudi
bersama teman-temanya. Dan bapak Nurdin pun lupa dengan kewajiban
seorang suami dan ayah untuk istri dan anak-anaknya karena beliau asyik
bermain judi sampai tidak kenal waktu untuk pulang kerumah berkumpul
bersama keluarganya.
Akibat
perbuatannya sendiri yang suka bermain judi, akhirnya usaha beliaupun
tidak berjalan normal karena beliau tidak fokus dan modal untuk usaha
pun habis terpakai bermain judi, Jadi usahanya pun hancur dan bangkrut
selain itu beliau pun banyak berhutang kepada orang atau rentenir. Istri
beliau tidak tahu kalau beliau banyak berhutang kepada orang apalagi
berhutang kepada rentenir, Suatu ketika ada beberapa orang datang
kerumah mencari suaminya dengan alasan menagih hutang disitulah istri
beliau tahu kalau suaminya banyak berhutang. Bukan Cuma sekali saja
orang menagih kerumah bahkan beberapa kali orang datang dengan membawa
polisi.
Karena
masalah semakin panjang istrinya pun bercerita kepada bapak Nurdin
untuk mencari solusi bagaimana bisa melunasi hutang tersebut, mereka pun
mencoba mencari pinjaman kepada saudara-saudaranya tapi dana yang
didapat tidak sebanyak yang diperlukan untuk melunasi hutang, karena
beliau sudah tidak ada pilihan lagi akhirnya mereka memutuskan untuk
menjual rumah yang mereka huni dan dari hasil menjual rumah akhirnya
mereka bisa melunasi hutang-hutang tersebut.
Karena
beliau malu dengan tetangga dan saudara, beliau pun memutuskan untuk
meninggalkan kampung halaman pada tahun 2004, dan merantaulah mereka ke
kota Pekanbaru Provinsi Riau untuk mengadu nasib, tetapi beliau
menitipkan anak pertama dan kedua kepada mertua bapak Nurdin yang berada
di Lampung, alas an beliau menitipkan anak-anaknya dikarenakan mereka
sudah bersekolah di Lampung dan sayang untuk ditinggalkan maka mereka
tinggal bersama kakek neneknya untuk melanjutkan sekolah, Jadi mereka
merantau ke Pekanbaru hanya membawa anak bungsunya yang belum sekolah.
Bapak
Nurdin memilih merantau ke Pekanbaru karena alasan beliau mempunyai
kenalan yaitu teman dekat sekaligus tetangga dekat rumahnya waktu masih
duduk di bangku sekolah, Sesampainya bapak Nurdin di Pekanbaru mereka
langsung mencari rumah untuk tempat tinggal dan mereka pun dapat rumah
sewa yang beralamat dijalan Harapan Raya Gg.Jambi, Bapak Nurdin pun
mencoba mencari-cari peluang kerja lebih kurang 2 minggu di Pekanbaru
akhirnya beliau di panggil bekerja di sebuah kafe yang menjual nasi
goring dan makanan lainnya dan beliau menjadi pelayan di kafe tersebut.
Beliau
pun bekerja di kafe tersebut dengan gaji bulanan, dari pendapatan
tersebut beliau bisa membayar sewa rumah dan memberi makan anak
istrinya, beliau pun bekerja disana bukan hanya sebagai pelayan tapi
beliau pun belajar dan membantu membuat nasi goreng di kafe tersebut,
Lebih kurang 3 tahun beliau bekerja di kafe tersebut dan beliau pun
mendapatkan ilmu memasak nasi goreng.
Pada
suatu hari kawan beliau yang satu kampung tersebut menawarkan pinjaman
modal untuk membuka usaha nasi goreng dan bapak Nurdin pun menerima
tawaran dari temannya tersebut akhirnya pada tahun 2007 beliau
memutuskan untuk berhenti bekerja di kafe tersebut dan beliau membuka
usaha sendiri menjual nasi goreng dari hasil pinjaman tersebut.
Beliau
pun berjualan di jalan Harapan Raya pada malam hari di depan ruko
dealer sepeda motor Yamaha yang lokasinya cukup strategis untuk
berjualan nasi goreng, Usaha beliau pun sudah mulai maju dan pada tahun
2009 kedua anaknya yang ditinggalkan bersama mertuanya di Lampung dibawa
ke Pekanbaru untuk melanjutkan sekolah di Pekanbaru, Akhirnya mereka
pun berkumpul kembali sampai sekarang dan usahanya pun lancar.
Bapak
Nurdin pun sekarang sudah sangat berubah dari masa lalu beliau sekarang
makin taat beribadah kepada Allah Swt, dan kehidupan mereka pun menjadi
harmonis walaupun dengan hidup yang sangat sederhana.
Demikianlah hasil wawancara dengan bapak Nurdin si penjual nasi goreng di jalan Harapan Raya Pekanbaru Riau.
0 komentar:
Posting Komentar