Penghapus beraroma permen karet Dodo dibeli di pasar malam sebulan yang lalu. Dodo sangat menyukai penghapus itu. Warnanya yang oranye cerah dengan bau permen karet yang menggoda. Dodo juga menggunakan penghapus itu dengan baik. Menghapus coretan yang salah itulah fungsi penghapus Dodo. Tidak seperti Iqbal yang penghapusnya sering hilang karena sering dipakai lempar-lemparan di kelas. Dodo tidak mau bermain itu, karena bisa membuat benda kesayangannya hilang. Dodo tidak ingin kesalahannya terulang dua kali, menghilangan penghapus kecil itu.
Duukk!! kepala Dodo mengenai penghapus yang dilempar oleh Iqbal. Dodo pun mengelus-elus kepalanya. Ia sangat marah kepada Iqbal.
“Iqbal, berani-beraninya kamu melemparkan penghapus ke kepalaku!!!” sentak Dodo.
“Ma, ma… maaf ya Dodo, aku tidak sengaja,” kata Iqbal sambil menangkupkan kedua telapak tangan di dada tanda meminta maaf.
“Iya deh, ku maafin. Maaf juga ya, tadi aku marah kepadamu,” Dodo tersenyum lebar menampakan deretan giginya yang besar.
Kring! Kring! bel istirahat telah usai berbunyi. Dodo segera duduk di bangkunya dan menyandarkan diri di kursi. Sekarang pelajaran matematika, pelajaran yang sangat sulit bagi Dodo yang malas menghitung.
“Kerjakan soal ini ya,”
Dodo pun menyalin soal di papan tulis di buku matematikanya yang sudah agak kusam. Sampulnya penuh dengan coret-coretan. Sreeet! tulisan Dodo tercoret karena Afifah temannya menyenggol meja Dodo. Afifah menyengir dan berbisik.
“Sorry Do”
“Nggak apa-apa kok Afifah, Dodo kan punya penghapus yang tercoret bisa dihapus,” Dodo tersenyum seraya membuka tempat pensilnya.
“Loh.. loh.. penghapusku mana ya? Kok nggak ada sih?” Dodo tercengang melihat penghapusnya hilang.
“Dodo kenapa?” Tanya Afifah dengan lembut.
“Huaaa! huaaaa! penghapusku hilang!!!” Dodo menangis keras-keras.
Semua penghuni kelas menoleh ke arah Dodo dengan bingung. Ustadzah Sinta guru matematika langsung menghampiri Dodo dan menenangkan Dodo.
“Dodo, kok menangis?” tanya Ustadzah Sinta dengan lembut.
“Penghapus permen karetku hilang, Ustadzah,” jawab Dodo terisak-isak.
“Tadi, di taruh di mana?”
“Di tempat pensil Us, terus Dodo tinggal pergi di kantin,”
“Ya sudah Ustadzah kasih penghapus ya, tapi bukan penghapus seperti Dodo Nggak apa-apa ya,”
Tangan anak kelas 2 SD ini mengusap air matanya yang mengalir deras tadi. Dodo mengambil penghapus dari tangan Ustadzah. Penghapus dengan warna putih, tak berbau permen karet, “Sudah Dodo, jangan menangis. Sekarang Dodo kerjakan soal matematika yang ada di papan tulis ya,” Ustadzah Sinta pergi meninggalkan Dodo.
Dengan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan soal yang sulit ini. Akhirnya juga, Dodo selesai mengerjakan 20 soal yang sulit baginya itu. Dodo melihat ke arah teman-temannya satu persatu. Mulai dari pojok sampai pojok. Eeiittss tunggu! Penghapus permen karet Dodo kok ada di meja Lily sih! Dodo kaget melihat penghapus permen karet itu.
“Lily! Kamu ya, yang ternyata mengambil pengahapusku!!” Dodo langsung menuduh Lily yang sedang mengobrol dengan Aisha dan Muni.
“Jangan asal nuduh dong Do, ini penghapusku!” Lily beranjak dari bangkunya dan berdiri.
Mereka saling menatap.
“Mana ada maling yang mau ngaku!” seru Dodo yang membuat Lily sedih.
“Tap, tapi aku bukan maling Do ini beneran penghapusku,” mata Lily berkaca-kaca.
Ustadzah Sinta menuju ke Dodo dan Lily yang sedang gitu deh!!
“Ada apa ini?” tanya Ustadzah dengan lembut.
“Dia menuduhku mengambil penghapusnya!” Lily menunjuk ke arah Dodo.
“Dodo tidak menuduh Ustadzah, itu buktinya!” Dodo menunjuk ke arah penghapus bewarna kuning yang ada di tangan Lily.
“Dodo!!” panggil Iqbal menampakan senyumannya.
“Ada apa?” tanya Dodo.
“Ini penghapusmu Do. Maaf ya aku tadi pinjam penghapusmu tanpa seizinmu, habisnya aku butuh bangeet. Terus aku lupa kalau aku minjam penghapusmu. Baru saja aku ingat kalau penghapus itu ada di saku celanaku,” jelas Iqbal.
“Ckckck! Jadi ini cuma salah paham. Sudah sekarang Dodo minta maaf sama Lily. Iqbal kembalikan penghapus Dodo dan juga minta maaf karena meminjam barang tanpa seizin pemiliknya!” perintah Ustadzah.
Dodo meminta maaf kepada Lily dan Lily memaafkannya dengan ikhlas. Keadaan kelas kembali seperti semula. Tidak ada rasa curiga, sedih, dan gelisah di kelas ini.
“Akhirnya penghapus permen karetku ketemu,” batin Dodo.
Cerpen Karangan: Nafisah Shafa Ardia
Facebook: Shafa Ardia
Aku sudah menerbitkan dua buku kumpulan cerpen, Pencarian Obat Mujarab (Zifatama, 2014 ) dan Cermin Daun (KKPK, 2014) Makasih sudah membaca cerita pendekku ini. Cerpen ini mengajarkan kita untuk tidak boleh menuduh orang lain tanpa bukti yang cukup kuat :). Makasih ya.. sudah membaca cerita pendekku ini
0 komentar:
Posting Komentar