Translate

ccerpen perginya sahabatku

Written By iqbal_editing on Minggu, 04 Juni 2017 | 21.53

Hari ini adalah hari liburku kerja, dari pagi ku habiskan waktuku untuk nongkrong di warung kopi, sebelum ku disibukkan dengan kegiatanku mempersiapkan perlengkapan berburu. memang kalau hari libur gini jalanya waktu terasa cepat, tak terasa jam di arlojiku menunjuk angka 2. seperti biasa saat libur aku selalu pergi kehutan untuk berburu burung serta ayam hutan, disamping hobi juga lumayan bisa gantiin olahraga.
Sekira jam 2,30″ aku sudah selesai mempersiapkan bekal untuk kehutan, tak menunggu lama ku bergegas menuju tempat perburuan, dengan mengendarai sepeda motor RX king andalanku. namun siang ini tak seperti hari-hari kemarin, aku pergi kehutan tak bersama kedua sahabatku damar dan joni, mereka adalah sahabat yang punya hobi sama denganku yaitu berburu.
hanya butuh waktu 15″ untuk sampai ketempat yang ku tuju.
Setelah memarkir motor, aku menuju tempat yg kupilih yaitu dibalik semak2 tak jauh dari pohon jati yang biasanya di tempati burung untuk bertengger. aku menunggu burung2 itu hinggap sambil merokok untuk menawarkan rasa asam dimulutku, belum juga habis rokokku seekor burung tekukur hinggap. senapan angin yang kubawa sudah kupersiapkan sebelumnya, jadi lagsung kuarahkan dan dooorgg… suara senapanku yang mengenai sasarannya. bergegas ku beranjak dan mengambilnya.
Hampir 20″ ku masih dibalik semak2 ini dengan melanjutkan merokok lagi, karena rokok yang tadi abis gak kehisap dan berharap ada burung lagi yang hinggap, dan ternyata benar seekor lagi hinggap tepat di tempat yang tadi, dengan kuda2 yang sama kuarahkan senapanku dan kali ini meleset karena aku dikejutkan dering HP yang kutaruh disaku celana. “sial” umpatku dalam hati, sambil tanganku mengambil HPku yang terus berdering, nampak di layar Hpku Damar memanggil
“iya, halo ada apa mar” tanyaku sebel karena panggilannya buruanku kabur
“dha, kamu lagi dimana” tanya damar
“hei kamu tau gak, gara2 kamu telpon seekor burung jadi terlepas” jawabku tanpa menggubris pertanyaan damar.
“ah nanti ku ganti, kamu buruan ke sini, dipohon beringin dekat batas desa banyak sekali burung” jawab damar menjelaskanku.
tanpa pikir panjang, kuputus sambungan tlpon dan langsung begegas menuju tempat yang diceritakan damar.
10″ waktu yang kubutuhkan untuk sampai ketempat yang dimaksud damar. sesampai disitu ku lihat damar dan joni dengan senapan masing2. dan 1 lagi seorang yang belum pernah kujumpai sebelumnya, seseorang yang berpenampilan sederhana dan dengan wajah yang agak pucat.
tak berlama2 aku langsung menghampiri mereka,
“sudah dapat berapa” tanyaku pada mereka
“ini baru dapet 5” sahut joni
“ini kenalkan temenku, namanya tio” pinta damar padaku
segera saja aku menjabat tangan seorang yang berwajah pucat itu sambil kusebutkan namaku “dhani, panggil aja dha gak pake N” aku berusaha sok akrap “tio” jawabnya datar.
tio ini seorang yang sudah lama menetap di kota dan baru saja ia tinggal di kampungku bersama orang tuanya. ia ini masih kerabatnya damar
ternyata ia gak seberuntung kami, ia mengidap penyakit TBC yang sudah lumayan parah.
Hari itu kami menembak burung hingga dapat 8 ekor, karena memang banyak burung ditempat itu. dan kamipun mengakhiri perburuan hari itu. kami berEmpat pulang untuk memasak hasil buruan tadi, tapi tidak seperti aku, damar & joni, tio gak ikut menyantap menu lezat yang baru saja kumasak. mungkin karena ia ada pantangan terhadap makanan2 tertentu. ia lebih memilih makan dengan nasi putih & kerupuk saja. kami bisa mengerti dengan kondisi dia..
Jam dirumahku sudah menunjuk jam 6.15″ mereka bertiga pun berpamit pulang.
Setelah hari itu, kami berempat semakin akrab karena punya kesamaan hobi diantara semuanya.
kami menganggap tio adalah sahabat yang baik, dan kami pun tak canggung bergaul denganya walau tio mengidap penyakit menular. setelah beberapa hari aku, damar, dan joni tak ada kegiatan karena hari itu adalah hari minggu. hari itu kami merencanakan untuk berburu di daerah bukit dengan mengajak tio. dan setelah semua bekal siap kami berangkat menuju bukit untuk, mencoba suasana baru saat berburu.
sesampai di kaki bukit kami menitipkan kendaraan kami di rumah warga karena memang gak memungkinkan untuk membawanya ke puncak bukit, medan yang terjal dan berliku gak mengijinkan kami untuk diantar kendaraan kami.
dan kami berempat berjalan mendaki bukit, untuk sampai puncak yang beritanya banyak ayam hutan disana.
tapi belum setengah perjalanan ku lihat keringat bercucuran di wajah tio.
“istirahat dulu ya” ajakku pada para sahabatku
“tanggung, gak usah istirahat biar cepat sampai puncak” jawab joni menentangku
sementara tio hanya diam dengan wajah yang murung
damarpun sependapat dengan joni, ingin segera beraksi dengan senapan barunya. aku langsung berhenti dan duduk, tapi joni dan damar bersikeras ingin tetap melanjutkan perjalanan, sementara tio tetap diam sedikit bingung.
Sempat terjadi perdebatan antara aku dan joni dan suasana saat itu jadi agak tegang. damar seolah tak menggubris perdebatanku dengan joni, namun perhatian damar tertuju pada diri tio yang terlihat sangat capek dan tak mampu lagi melanjutkan perjalanan.
“oke, aku setuju dengan dhani” celetuk damar menyela perdebatanku dengan joni
“tapi” sahut joni kesal
“udah kamu jalan sendiri aja” aku menimpali perkataan joni
joni terdiam, ia baru menyadari kondisi tio saat itu.
setelah cukup beristirahat kami berniat melanjutkan perjalanan, namun baru beberapa langkah ku perhatikan wajah tio yang kembali pucat. muncul niatku untuk mengurungkan berburu di puncak, seketika aku menghentikan langkahku dan berucap “kita pulang saja yach” ajakku
sempat terjadi perdebatan lagi antara aku dengan joni dan juga damar. tapi setelah mereka bisa mengerti keadaan tio mereka mengiyakan ajakanku. saat itu kulihat expresi wajah tio yang merasa lega.
akhirnya kami pulang tanpa membawa satupun ayam hutan ataupun burung tekukur.
Sebulan sudah ku mengenal tio, selama itu pula tio selalu berusaha untuk sembuh, aku dan sahabat2 yang lain tak henti memberi semangat untuk melawan penyakitnya. segala obat tradisional sudah dicoba oleh tio, namun tak bnyak berpengaruh pada penyakit yang terkenal ganas itu. hingga suatu hari ia harus kembali lagi ke rumah sakit untuk yang ke 3 kalinya, ia harus mendapat perawatan yang serius di rumah sakit itu.
aku tau tio ini tidak begitu disukai oleh keluarganya, ku tau saat dirumah sakit ia tidak terlalu diperhatikan oleh orang tuanya, namun bagaimanapun orangtuanya tetap berusaha untuk mengobatkan tio.
1 minggu tio terbaring di rumah sakit, sebelum akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawat dia.
Kami merasa senang melihat tio sudah pulang dari rumah sakit, saat itu kami bergegas menuju ke kediaman tio untuk melihat keadaan tio, karena aku damar dan joni tau keadaan tio sewaktu belum berangkat kerumah sakit dan saat sehari ia terbaring di rumah sakit memang sangat menyedihkan.
“gimana pak, keadaan tio” tanya joni pada ayah tio yang sedang merokok diteras
“sudah mendingan jon” jawab ayah tio sambil beranjak menyalami kami
“boleh kami melihatnya pak” ku menyambung pertanyaan joni
“tentu” jawab ayah tio datar
kami bertiga menuju kamar tio, dan kami melihat tio masih terbaring lemas
aku dan damar segera duduk di dekat tio, aku memegang tanganya sedang damar memegang kaki tio. joni masih berdiri menatap wajah tio dalam dalam
“makasih, kalian sahabat2ku yang terbaik, maafin aku jika ada salah pada kalian” ucap tio dengan mata yang berkaca-kaca
“hsssttt, jangan ngomong gitu” sahut joni lirih
“iya, yo kamu akan segera sembuh dan akan kembali bergabung bersama kita lg” sambungku meyakinkan dia
“benar kamu, pasti bisa mengalahkan penyakitmu itu” sahut damar bersemangat
“makasih banyak ya dha, jon, mar” jawab tio dengan suara yang parau
saat itu kami berempat bisa berkumpul dan membicarakan tempat2 berburu yang mungkin untuk di tuju saat tio benar2 sembuh. aku sangat yakin tio akan sembuh dan bisa mengikuti kami berburu lagi.
3 hari berlalu ku lihat kondisi tio yang berangsur membaik, hari itu wajahnya tak lagi pucat. kami merasa lega karena sahabat kami mulai pulih…
hari itu sekira jam 5 sore, ia menelponku dan menyampaikan ada kawanan burung yang terbang menuju tempat ia dan aku pertama kali bertemu.
“dha, bawa senapanmu di pohon beringin banyak burung hinggap disana” pinta tio padaku
“tapi aku masih ada urusan ini” jawabku yang gak bisa datang ketempat itu.
memang saat itu aku sedang ada tamu yang tak mungkin untuk kutinggalkan.
saat tamuku sudah pulang waktu sudah menunjuk 5.30″, aku gak mungkin kesana karena hari mulai gelap dan sudah masuk waktu maghrib untuk daerahku.
malam itu aku dirumah saja dan hanya nonton tv, karena memang hari iNi aku capek banget oleh pekerjaanku.
meski sudah maksimal tetap saja masih banyak pekerjaanku yang tertunda.
malam ini acara tv gak ada yang menarik, hanya sinetron percintaan yang lebih banyak disukai ibu2 yang ditayangkan di televisi indonesia. setelah bosan memencet remot, kuputuskan untuk beranjak tidur untuk meredakan lelahku. baru sampai di kamar ku dengar Hpku berbunyi, saat itu kulihat damar memanggil.
“iya mar ada apa, malammalam telpon” tanyaku ogah2an
“dha, sahabat kita tio telah di panggil menghadap Illahi” jawab damar gugup
aku hanya diam mematung, seakan tak percaya atas kabar yang baru saja ku dengar.
“innalillahi, wa inna illahi rojiun” sambungku kaku
“okey, kamu buruan kesini yach” ucap damar dan menutup telfonya
sementara aku, masih diam dan mengingat kejadian sore tadi dimana tio memintaku untuk menembak burung di tempat biasa kami menembak.
sedang aku tak bisa untuk datang memenuhi permintaanya yang terakhir kali.
aku sama sekali gak menyangka kalau tio akan pergi secepat ini.
namun sejenak aku berfikir bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan, dan setiap mereka yang datang pasti akan pergi, setiap mereka yang singgah pasti kembali, dan setiap mereka yang hidup pasti mati.
Akupun beranjak keluar menuju rumah duka, disana kulihat joni dan damar yang duduk tertunduk diantara kerumunan tetangga yang juga hadir di rumah orang tua tio.
aku menghampiri damar dan joni, ku ajak mereka masuk dan melihat tio untuk kali terakhir.
“maaf bu, boleh ku melihat jenazah tio” tanyaku meminta izin pada ibu tio yang saat itu sedang menangis di sebelah jenazah tio
“silahkan, kalian adalah sahabat2 tio yang baik” jawab ibu tio tersendat sendat karena tangisnya
setelah dapat izin dari orang tuanya kami membuka penutup jenazah itu untuk memandang sahabat baik kami yang akan pergi selamanya. sesaat kami terdiam dan hanya perasaan sedih yang hinggap dihati kami saat itu, sebelum akhirnya damar mengembalikan penutup jenazah itu.
Kami berusaha untuk menenangkan dan menghibur ibu tio yang terlihat sangat terpukul oleh kepergian putranya itu.
“ibu yang sabar yach, biarkan tio tenang pergi meninggalkan kita semua” hanya kata itu yang kukatakan pada wanita paruh baya itu.
ibu itu diam, tak menjawab kata2ku itu, dan hanya isak tangisnya saja yang bisa kudengar.
kami berpamitan keluar untuk turut membantu mempersiapkan perlengkapan yg digunakan dalam proses pemandian jenazah.
setelah jenazah dmandikan dan di sholati sesuai dengan tuntunan islam, jenazah telah siap untuk diberangkatkan ke pembaringan terakhirnya. kami bertiga saling tatap, sebelum kualihkan perhatianku pada ayah tio yang nampak cukup tegar saat melepas kepergian tio. kami turut bersama rombongan mengiring jenazah tio yang diusung tandu menuju alamnya…
Seusai pemakaman tio kita bertiga pulang bersama dan menuju kerumah orang tuanya.
kami hanya menyampaikan bahwa kami senang pernah punya sahabat sebaik tio, dan kami juga sangat kehilangan tio. semoga bapak ibu ikhlas melepas tio agar tio tenang di alam sana.
setelah suasana tenang kami berpamitan pulang.
aku, damar & joni mengucapkan selamat jalan sahabat, semoga amal ibadahmu diterimaNya dan segala dosamu diampuniNya, sehingga kau bisa ditempatkan disurganya aamiin
kami akan selalu mengenangmu, kau sahabat yang tak kan pernah tergantikan
Cerpen Karangan: Edi suliswanto

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik