Selasa, 30 November 2010
CERPEN
cerpen. kehidupan dua dunia
Siang itu
hujan lebat mengguyur Bekasi.Astrid ingin pergi ke rumah orang tuanya
dan bertemu dengan teman fesbuknya.Astrid berjanji bertemu dengan salah
satu friendlistnya teman dalam dunia mayanya.Jam dua siang hujan usai ia
lalu pergi membawa si kecil yang berumur 6 tahun.Si sulung anaknya yang
besar sedang bersekolah di sebuah sekolah menengah atas kelas 1 sudah
bisa di tinggal menginap kalau pun tak betah di rumah bersama ayahnya ia
akan menyusul ke rumah neneknya yang hanya memakan waktu dua jam
perjalanan.
Cuaca
sedang tak bersahabat di Jakarta.gerimis langit seakan ikut menangis
bersamanya. Bimbang telah menyergapnya dari awal.Duka tengah menyelimuti
jiwanya lagi pun Astrid tak tahu banyak tentang Jakarta hanya tahu
kawasan yang sudah di kenalnya dari kecil itu pun di karenakan hampir tak pernah berubah sejak berdiri.Kawasan pertokoan Blok M yang telah memberinya sejuta kenangan.
Jam hampir menunjukan pukul empat sore. Astrid telah berbicara pada ibunya ingin menitipkan si kecil dan pergi ke kawasan itu.
”Tak perlu pergi jika hanya membuatmu terluka nak.” Ujar ibu Astrid menasehati.
“ Biarlah ma tak kan pernah sembuh jika aku terus begini.” Ujar Astrid datar.
“Pelan pelan saja mba, masih banyak waktu untuk mengobati.” Kata adik Astrid ikut nimbrung
“
Tak kan pernah bisa sembuh tapi setidaknya bisa sedikit mengering dan
aku harus mencobanya dari sekarang atau aku akan seperti hujan di luar
sana.” Kata Astrid sambil memandang keluar.
Gerimis tak jua reda.
“ Langit ini seperti tahu hatiku saat ini aku ingin sekali menjerit keras atau menangis sejadi jadinya agar dukaku berkurang tapi aku tak bisa bahkan untuk mengeluh.” bathin Astrid.
Handphonenya
berbunyi lagu santana berjudul smooth terdengar mengalun.Di liriknya
sebentar lalu menatap keluar gerimis tak jua berhenti.
“Andai
aku pergi akankah hatiku sekuat kemarin? Bisakah aku tegar atau akan
roboh ? Akankah air mata menetes ” Begitu banyak pertanyaan dalam hati
Astrid .
Bertekad
bulat Astrid melangkah tak menghiraukan hujan dan hatinya.Astrid tak
ingin luka berganti fobia berkepanjangan dan menghempasnya menjadi
manusia berhati lemah dan cenggeng. Dengan mengendarai bis Astrid
memulai perjalanannya.Terakhir kali ia pergi ke kawasan itu air matanya
tak berhenti mengalir saat itu beberapa bulan yang lalu.Masih teringat
jelas olehnya saat itu Astrid menangis di sebuah warnet dalam toko buku
itu menumpahkan semuanya pada sahabatnya walau pun sahabatnya sedang
tidak online!Namun Astrid menangis tersedu dan itulah pertama kali dalam
hidupnya Astrid menangis. Tak terasa telah sampai tujuan rintik hujan
belum berhenti untuk kesekian kalinya rasa ragu menghinggapi.
Terminal sudah di hadapannya hingga tempat pemberhentian Astrid belum
turun dari bis.Astrid duduk terdiam memandangi kawasan itu.Tak di
hiraukannya orang berlalu lalang atau sang kernet yang berteriak
menegurnya untuk segera turun.
“turun
ga ya?jika tak turun aku tak kan mampu bertahan jika tak turun aku akan
menangis seumur hidupku dan mungkin aku juga akan kehilangan tempat
dimana aku bisa menghibur diri hanya tempat ini yang terdekat dan kutahu.” Bathin Astrid.
Tempat pemberhentian ke dua Astrid belum juga bergeming kabut kebimbangan masih menyelimutinya.Bis berjalan pelan.
“Bagaimana ini ? Apakah aku bisa ? jika tak kucoba aku tak tahu jika tidak bisa aku akan pulang saja.” Pikir Astrid.
Bis telah sampai di tangga pemberhentian Astrid beranjak dari duduknya lalu turun.Matanya memandangi tangga yang menurun membaca doa lalu terdiam seakan menikmati pemandangan di tangga itu.Meniti tangga belasan
doa tak henti di panjatkan berharap hatinya akan siap menghadapi dan
mengalihkan kesedihannya pada doa doa yang ia panjatkan.Tangga hanya
tinggal beberapa undakan Astrid berhenti matanya mulai berkaca
kaca.Pandangan Astrid menyapu tempat itu
yang terlihat olehnya hanya putaran rekaman kehidupannya dulu bukan
tempat itu terselip kepedihan ia mencoba menunduk untuk mengurangi
kesedihan hatinya. Semua kenangan seakan berpendar di matanya Astrid
merasa baru kemarin semua
terjadi satu persatu terbayang .Astrid menuruni tangga air matanya jatuh
juga tak kuasa menahan kesedihannya.Kejadian itu telah lama
berlalu.Betapa kejadian itu amat membekas di hatinya .bila Astrid tak
ada janji ia akan enggan melangkah ke tempat itu.Terlalu banyak kenangan menguras kesedihannya.
“untunglah aku tak memakai make up kalau pakai luntur semua” bathin Astrid sambil membersihkan air matanya yang tergenang.
Astrid
berhenti sejenak di tangga mengumpulkan kekuatannya,hatinya masih di
liputi kebimbangan dan kesedihan.Beberapa orang lewat memperhatikannya
dengan keheranan astrid semakin menundukkan
wajahnya tak ingin di ketahui orang ia telah menangis di tempat
umum.Dengan gontai dan mata tertutup Astrid kembali menuruni tangga lalu
berhenti. Kemudian melangkah mendekati dan menghadap dinding matanya
masih tertutup.Astrid menahan nafas dan mengeluarkan bungkusan rokok
dari kantong celana lalu menyulutnya.Di hirupnya dalam dalam lalu
menghembuskan begitu saja tanpa menikmati aroma rokoknya seakan Astrid
ingin membuang beban hatinya dengan asap rokok itu.Ia tak memperhatikan tempatnya bersandar Astrid hanya melihat ke lantai mall masih mencoba tegar walau pun sebenarnya ia telah tumbang. Jemari tangannya meraba dinding,dinding yang seakan sudah mengenalnya belasan tahun lalu.Nikmat terasakan oleh jarinya sesuatu yang indah
dan kini menjadi beban untuk dirinya.Astrid merasakan seseorang telah
memperhatikannya dan tak mempedulikannya.Beberapa hembusan asap rokok dan
sentuhan dinding menemaninya sesaat di lihatnya jam ia sudah terlambat
lima menit lalu mengusap pipi dan membuang rokoknya.Sambil berjalan
Astrid merapikan bajunya yang sudah acak acakan, ujung bajunya telah
basah oleh air matanya.Sapu tangannya pun sudah hampir basah dan kotor
karena air mata dan tetesan air hujan serta bedak yang ia pakai telah
berpindah tempat.
Terburu
buru Astrid berjalan tak mengindahkan godaan yang mampir padanya bahkan
orang yang hampir di tabraknya.Bathinnya masih berbicara panjang
tentang tempat itu namun logikanya masih berjalan tak di gubrisnya
pembicaraan hatinya Astrid hanya ingin cepat sampai ke tujuan lalu
pulang.Menata kembali hatinya di rumah.
Toko
buku menjadi tujuan Astrid dilihatnya jam sudah terlambat sepuluh
menit.Langsung menuju ke lantai dua di lihatnya di kaca penampilannya
rambutnya acak acakan sekali lagi Astrid mengusap pipinya dengan tangan biasanya Astrid tak pernah mengusap wajahnya dengan tangan kulitnya bereaksi tajam terasa perih dan gatal namun sapu tangannya pun sudah kotor tak ada bedanya pikir Astrid.Mencoba setegar gunung
Astrid melangkah maju tak lagi menghiraukan perasaannya namun hanya
sampai di akhir tangga eskalator.Berdiri mematung pandangannya kembali
melihat kenangan itu untuk ke dua kalinya melihat rekaman kehidupannya
dulu matanya mulai berkaca kaca rasa perih kembali menyanyat
hatinya.Saat kesadarannya pulih Astrid mulai mengira ngira ciri orang
yang akan di temuinya.
“Di foto orangnya tinggi setinggi apa ya sedangkan aku pendek begini.”pikir Astrid.
Pandangannya
menyebar ke seluruh ruangan memperhatikan orang orang sekitarnya lalu
menuju sederetan buku tempat mereka janji bertemu sambil mencoba
menghibur dirinya agar bisa tersenyum.Akhirnya Astrid bertemu dengan temannya
ini pertama kalinya mereka bertemu.Obrolan kecil dan membicarakan
beberapa buku mengawali pertemuan itu..Astrid mencium ada tanda tanya
besar dari orang yang mengikuti dan memperhatikannya sejak tadi namun
Astrid tidak menoleh.Matanya tertumpu sebuah buku Astrid berjalan dan
mengambilnya lalu membukanya tiba tiba Astrid merasa dunianya kembali
bersamanya berdiskusi di iringi canda tawa tak terasa olehnya senyumnya
telah merekah kesadarannya terlena. Seseorang telah menyadarkannya,orang
yang telah sejak tadi mengikuti dengan diam.Astrid menoleh tak ada
siapa siapa hanya ada orang lain yang tak di kenalnya tak jauh dari situ
namun itu bukan orang yang memperhatikan Astrid sebab orang itu tengah
berada di samping Astrid tersenyum lebar memandangnya.Astrid terdiam
namun bathinnya mulai berbicara, lancar dan penuh imajinasi
kehidupan.Ajaib Astrid merasa lebih hidup lebih luwes dari sejak datang
ke pertokoan itu Astrid mengikuti imajinasinya dan masih memegang
kendali di alam nyatanya.
Mengikuti alurnya di tengah kawan baru tanpa merasa jengah sedikit pun dan tetap fokus membaca beberapa buku.Nyaman dan dan
seakan terbiasa hingga Astrid dan kawan barunya keluar dari toko buku
lalu melanjutkan perjalanan ke mall Blok M dan menghabiskan waktu untuk
mengobrol di sana.Astrid tetap menyelami dunianya sesekali menoleh ke
samping memandang dunia imajinasinya.Rasa sedih masih menggantung di
hatinya seakan tak ingin lepas.Pembicaraan Astrid meliputi dua dunia.
Tak
segan segan Astrid mengajak temannya untuk datang ke rumah ibunya tak
jauh dari kawasan itu yah Astrid memang ingin berteman dan tak ingin
berteman hanya sekali atau dua kali bertemu.Baginya teman juga bisa
menjadi saudara. .Imajinasi Astrid tetap mengikuti.Beberapa hari berlalu Astrid belum bisa melupakan kesedihannya kemudian Astrid menelepon sahabatnya berharap hatinya ceria kembali.Di ujung telepon sahabatnya terdengar ceria jauh dari bayangannya.Astrid hanya berharap ia dapat menumpahkan kesesedihannya mengenai tempat kenangan mereka.Namun tanpa di sangka sangka sahabatnya telah tahu tentang kawan barunya dan berharap kawan barunya dapat menggantikan posisinya lalu menutup telepon.Astrid terperanggah kaget.Tak sedikit pun aku berfikir untuk berbicara tentang itu lagi lagi dia tahu apa yang telah terjadi pikir Astrid.
Orang dalam imajinasi Astrid adalah sahabatnya orang telah sekian lama mengisi kekosongan jiwanya.Sejak sahabatnya pergi jauh Astrid selalu di ikuti bayangannya dan sahabatnya selalu tahu semua yang ada di hati Astrid.Yang selalu datang saat Astrid merindukannya.Ia tak pernah bisa mengerti sampai kini Astrid hanya bisa mengira itu karena telepati.
0 komentar:
Posting Komentar