Terima Kasih Ramadhan
Ridha Eka Rahayu
Sewaktu
kecil, aku dikenal sebagai anak yang mudah marah dan tidak sabaran. Apa
yang kuminta harus dipenuhi oleh siapa saja yang ada di sekitarku, jika
tidak terpenuhi maka aku akan marah. Entah marah dengan tangisan,
kata-kata jelek, ataupun wajah yang kurang sedap dipandang.
Kini usiaku
sudah menginjak genap enam tahun, tetapi tetap saja tidak adaperubahan
dalam diriku. Bahkan orang tuaku yang sudah bersusah payah membujukku
dengan nasihat dan kata-kata lembut hampir tidak kuat menghadapiku.
Salah satu hal yang aku sukai dari mereka. Mereka tetap sabar dan tegar
menghadapi aku yang pemarah ini.
Tinggal
hitungan hari, seluruh umat Islam akan menyambut bulan Ramadhan dengan
menjalankan salah satu Rukun Islam, yaitu berpuasa. Pada awal mengenal
bulan puasa, aku sangat tidak suka. Karena kita tidak diperbolehkan
makan dan minum. Aku juga marah kepada orang tuaku yang melarangku
mengambil beberapa makanan dan minuman persediaan di dalam freezer.
Aku benar-benar marah waktu itu, hingga aku mengambil beberapa potong
makanan kemudian mencari tempat yang aman untuk memakannya tanpa mereka
ketahui.
Suatu sore
pada bulan ramadhan, aku menonton televisi di rumah. Biasanya aku
menonton kartun kesukaanku. Setelah acara selesai, maka ada acara
selanjutnya dimulai. Acara tersebut adalah ceramah menjelang berbuka
puasa. Saat itu, kedua orang tuaku sedang tidak ada di rumah. Entah
mengapa ada kebahagiaan tersendiri ketika menonton tayangan kultum sore
tersebut. Aku merasa ada energi positif memasok pikiranku yang masih
ingin tahu.
“Puasa bukan
hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi puasa juga harus mampu
mengendalikan hati. Jangan mudah terbawa emosi. Jangan mudah marah,
belajarlah sabar. Rasulullah bersabda, Laa Taghdhab wa lakal jannah. Jangan marah, maka bagimu Syurga.” Potongan kajian penceramah pada tayangan kultum sore.
Air mata
menetes dari ke dua sudut mataku, aku benar-benar terharu dengan
ungkapan penceramah tersebut. Aku mentekadkan diri mulai besok untuk
berpuasa dan belajar menahan amarah.
Tak lama
kemudian, adzan maghrib berkumandang dan kedua orang tuaku sudah pulang.
Kami berbuka bersama namun tidak seperti biasanya, hari ini aku sangat
murung. Aku mencoba memberanikan diri berbicara kepada kedua orang
tuaku.
“Yah, Bu. Besok Dela mau ikut puasa sampai tamat ya?” ujarku malu-malu.
Kedua orangku saling pandang dan tersenyum bahagia.”Wah, alhamdulillah ibu senang mendengarnya.”
“Ayah juga senang, Bu. Semoga istiqomah ya?”
Aku
bersyukur, karena ibu dan ayah mendukung keputusanku tanpa banyak
bertanya. Hatiku lega sekali. Inilah babak awalku belajar menjadi
pribadi yang kuat. Kuat menahan amarah.
Awal
menjalankan ibadah puasa sangat berat. Banyak sekali godaan yang
membuatku ingin marah. Pagi itu di kelas, salah seorang temanku tidak
berpuasa dan makanannya tumpah ke rokku. Aku sangat marah dengan
sikapnya entah sengaja ataupun tidak.
“Isna?” Bentakku setengah marah.
Aku berusaha
sekuat tenaga menahan amarahku yang meledak-ledak. Hampir saja mulutku
mengeluarkan celaan. Aku segera berlari keluar kelas menuju masjid untuk
berwudhu.
Berawal dari
hal kecil, aku mulai terbiasa untuk menahan hawa nafsu. Tidak hanya
menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga menahan amarah, aku tidak ingin
puasaku batal dan sia-sia karena sifatku yang pemarah.
Aku selalu meningat-ingat nasihat ibuku beberapa bulan yang lalu, “ Puasa itu dapat melatih kesabaran.”
Hingga
terpatri dalam hatiku untuk terus berpuasa dan bersabar. Ternyata nikmat
puasa bukan hanya pada saat berbuka atau banyaknya makanan enak tetapi
dapat melatih kesabaran, mengelola amarah, dan lain-lain. Apalagi bulan
Ramadhan memiliki banyak keistimewaan, beda dari bulan-bulan yang lain.
Pada bulan
Ramadhan, banyak sekali hal-hal yang dapat menambah keimananku, yaitu
dilaksanakannya shalat tarawih dan witir berjama’ah, pesantren kilat di
sekolah, malam Nuzulul Qur’an, Lailatul Qadr, pengampunan yang besar,
dan nikmat-nikmat lainnya. Salah satunya nikmat hidayah yang menyapaku
pada bulan Ramadhan tahun ini. Itulah sebabnya, aku sangat senang jika
bulan Ramadhan datang menghampiri umat Islam.
Terima Kasih
Ramadhan, hadirmu selalu kunanti pada setiap tahun. Karena lewat
perantara bulan Ramadhan, Allah mengajakku untuk dapat menjadi pribadi
baru yang lebih baik.
“Yaa Allah, Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertaqwa.” Do’aku pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan.
0 komentar:
Posting Komentar