Translate

cerpen terima kasih ramadhan

Written By iqbal_editing on Minggu, 27 Agustus 2017 | 18.48

Terima Kasih Ramadhan
Ridha Eka Rahayu

Sewaktu kecil, aku dikenal sebagai anak yang mudah marah dan tidak sabaran. Apa yang kuminta harus dipenuhi oleh siapa saja yang ada di sekitarku, jika tidak terpenuhi maka aku akan marah. Entah marah dengan tangisan, kata-kata jelek, ataupun wajah yang kurang sedap dipandang.
Kini usiaku sudah menginjak genap enam tahun, tetapi tetap saja tidak adaperubahan dalam diriku. Bahkan orang tuaku yang sudah bersusah payah membujukku dengan nasihat dan kata-kata lembut hampir tidak kuat menghadapiku. Salah satu hal yang aku sukai dari mereka. Mereka tetap sabar dan tegar menghadapi aku yang pemarah ini.
Tinggal hitungan hari, seluruh umat Islam akan menyambut bulan Ramadhan dengan menjalankan salah satu Rukun Islam, yaitu berpuasa. Pada awal mengenal bulan puasa, aku sangat tidak suka. Karena kita tidak diperbolehkan makan dan minum. Aku juga marah kepada orang tuaku yang melarangku mengambil beberapa makanan dan minuman persediaan di dalam freezer. Aku benar-benar marah waktu itu, hingga aku mengambil beberapa potong makanan kemudian mencari tempat yang aman untuk memakannya tanpa mereka ketahui.
Suatu sore pada bulan ramadhan, aku menonton televisi di rumah. Biasanya aku menonton kartun kesukaanku. Setelah acara selesai, maka ada acara selanjutnya dimulai. Acara tersebut adalah ceramah menjelang berbuka puasa. Saat itu, kedua orang tuaku sedang tidak ada di rumah. Entah mengapa ada kebahagiaan tersendiri ketika menonton tayangan kultum sore tersebut. Aku merasa ada energi positif memasok pikiranku yang masih ingin tahu.
“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi puasa juga harus mampu mengendalikan hati. Jangan mudah terbawa emosi. Jangan mudah marah, belajarlah sabar. Rasulullah bersabda, Laa Taghdhab wa lakal jannah. Jangan marah, maka bagimu Syurga.” Potongan kajian penceramah pada tayangan kultum sore.
Air mata menetes dari ke dua sudut mataku, aku benar-benar terharu dengan ungkapan penceramah tersebut. Aku mentekadkan diri mulai besok untuk berpuasa dan belajar menahan amarah.
Tak lama kemudian, adzan maghrib berkumandang dan kedua orang tuaku sudah pulang. Kami berbuka bersama namun tidak seperti biasanya, hari ini aku sangat murung. Aku mencoba memberanikan diri berbicara kepada kedua orang tuaku.
“Yah, Bu. Besok Dela mau ikut puasa sampai tamat ya?” ujarku malu-malu.
Kedua orangku saling pandang dan tersenyum bahagia.”Wah, alhamdulillah ibu senang mendengarnya.”
“Ayah juga senang, Bu. Semoga istiqomah ya?”
Aku bersyukur, karena ibu dan ayah mendukung keputusanku tanpa banyak bertanya. Hatiku lega sekali. Inilah babak awalku belajar menjadi pribadi yang kuat. Kuat menahan amarah.
Awal menjalankan ibadah puasa sangat berat. Banyak sekali godaan yang membuatku ingin marah. Pagi itu di kelas, salah seorang temanku tidak berpuasa dan makanannya tumpah ke rokku. Aku sangat marah dengan sikapnya entah sengaja ataupun tidak.
“Isna?” Bentakku setengah marah.
Aku berusaha sekuat tenaga menahan amarahku yang meledak-ledak. Hampir saja mulutku mengeluarkan celaan. Aku segera berlari keluar kelas menuju masjid untuk berwudhu.
Berawal dari hal kecil, aku mulai terbiasa untuk menahan hawa nafsu. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga. Tetapi juga menahan amarah, aku tidak ingin puasaku batal dan sia-sia karena sifatku yang pemarah.
Aku selalu meningat-ingat nasihat ibuku beberapa bulan yang lalu, “ Puasa itu dapat melatih kesabaran.”
Hingga terpatri dalam hatiku untuk terus berpuasa dan bersabar. Ternyata nikmat puasa bukan hanya pada saat berbuka atau banyaknya makanan enak tetapi dapat melatih kesabaran, mengelola amarah, dan lain-lain. Apalagi bulan Ramadhan memiliki banyak keistimewaan, beda dari bulan-bulan yang lain.
Pada bulan Ramadhan, banyak sekali hal-hal yang dapat menambah keimananku, yaitu dilaksanakannya shalat tarawih dan witir berjama’ah, pesantren kilat di sekolah, malam Nuzulul Qur’an, Lailatul Qadr, pengampunan yang besar, dan nikmat-nikmat lainnya. Salah satunya nikmat hidayah yang menyapaku pada bulan Ramadhan tahun ini.  Itulah sebabnya, aku sangat senang jika bulan Ramadhan datang menghampiri umat Islam.
Terima Kasih Ramadhan, hadirmu selalu kunanti pada setiap tahun. Karena lewat perantara bulan Ramadhan, Allah mengajakku untuk dapat menjadi pribadi baru yang lebih baik.
“Yaa Allah, Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertaqwa.” Do’aku pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik