Translate

cerpen waktunya dulu

Written By iqbal_editing on Senin, 28 Agustus 2017 | 23.08

Jalanan hanya menjadi kilasan-kilasan yang tak kulihat. Dalam mataku, tak ada roda-roda motor berjajar menanti lampu berganti warna. Tak ada juga wajah-wajah lesu di balik layar handphone yang mereka pegang. Pun tak ada rintik yang seharian ini turun.
"kapan pulang?"
Kalimat itu lah yang kubayangkan muncul. Bahkan kuharap menjelma suara, yang lembut dan menanti. Tapi, hanya dalam kepalaku.
Mataku menelusuri masa lalu. Melalui tangis anak kecil yang duduk selang satu kursi dariku. Dia, bocah berusia sekitar lima tahun ini menjerit, lapar dan bosan. Di tengah kemacetan yang menyita waktu.
Aku beruntung, tak pernah naik bis sampai usia 12 tahun. Bis pertama yang kutumpangi adalah bis pariwisata, yang mengenalkanku pertama kali pada ibu kota, Jakarta.
Hari itu, aku dan ibu, dibawa ayah untuk ikut piknik keluarga yang diadakan pabrik tempatnya bekerja. Ancol menjadi tujuannya. Kami mengambil foto bersama disana.
Foto pertama kami.
Yang dilahap api kemudian hari.
...
Kucoba perhatikan jalanan. Masih di jalan tol. Satu jam telah berlalu, bocah itu tertidur dengan keringat yang membuat rambutnya menempel di kening. Si ibu mengipasinya dengan kain sarung yang disampirkan di pundaknya.
Dulu, sampai usia 12 tahun, aku masih tidur dengan ibuku. Aku suka bersembunyi di bawah ketiaknya, menempel pada payudaranya. Empuk.
Sebelum tidur, ibuku selalu membaca shalawat. Suaranya cempreng, tapi tetap membuatku mengantuk. Dan tertidur lelap.
Suara itu, lama sudah tak kudengar. Tak lagi bisa kugapai. Suara itu, berhenti saat aku berusia dua belas.
...
Bisku akhirnya bisa melaju tanpa banyak berhenti. Jalanan mulai lancar. Hujan sudah pudar.
Wajah-wajah lelah kini kulihat. Tertidur atau sekadar mencoba terpejam. Mencari-cari ruang untuk menyandarkan kepala: pada jendela, orang di sebelah, atau bagian belakang kursi di depan mata.
Botol-botol minum terselip di antara kursi, kosong.
Kalau ayahku lelah, dia akan memintaku membelikannya obat: Pilkita
Hampir setiap hari, sepulang dia kerja.
Kelelahan mungkin keniscayaan bagi mereka yang bekerja, dengan penghasilan tak seberapa.
Hingga seluruh energinya tersedot hingga kondisi tubuhnya melorot.
Sampai umur 12 tahun, masih bisa kulihat sorot matanya yang penuh harap. Pada anaknya, aku.
Lalu, ibu cerita ayah diguna-guna. Ayah seharusnya tetap sehat. Jerit ibu.
Doa tak mampu menolak bala. Operasi tak berhasil menghalangi sakit yang menggerogoti.
Ayah terbaring di rumah sakit.
Sebelum ujian sekolah, kusempatkan datang. Melihat ayah yang kurus kerontang. Kecuali perutnya yang bengkak, besar. Sorot matanya, masih berharap.
"Moga lulus ujian besok ya, belajar yang bener. Ujian nanti lebih berat," nasehat ayah. Terakhir kali.
Ujianku masih tersisa dua hari. Tapi ayah sudah pergi.
...
Sekarang pukul 6 sore. Langit gelap datang lebih cepat. Jalanan basah. Adzan saling bersahut-sahutan. Orang lalu lalang.
Lalu aku menyeberang jalan. Menyusuri jalan batu. Menuju masa lalu. Mengharapkan pelukan selamat datang.
Tiba sudah di depan pintu.
Lampu gelap. Pintu tertutup. Adzan sudah berhenti. Hanya angin malam yang bertiup menyambut. Khayalanku luruh.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik