Wahai Pulau..
Pulauku diselimuti sampah..
Tumpukan sampah menggunung,
membutakan pandangan mata
Menusuk indra peciuman membuat
langkah untuk menghindar
Sampah organik, sampah non organik,
dan sampah barang beracun dan berbahaya pun bercampur dalam sebuah wadah
penampung..
Dihinggapi lalat diberbagai sudut..
Berlalu lalang lah beberapa orang di
depan bak sampah tersebut..
Tapi?? Siapa peduli ?
Mereka hanya menutup hidung dan
mengacuhkan pandangan mereka!
Wahai Pulau..
Pulau ku tak lagi rindang..
Dimana dulu kami sejuk memandang
Namun Kini pohon-pohon perlahan
menghilang
Yang tersisa hanya ilalang yang
melambai di bawah terik
Mengajak kami menari di atas rumput
kering kerontang
Wahai Pulau..
Pulau ku dipenuhi lubang-lubang yang
mengakar pada tanah bumi..
Pahatan-pahatan pada dinding tanah,
tertahankan oleh beberapa bilah kayu rapuh
Yang mungkin saja bisa patah
sewaktu-waktu
Namun para pekerja itu tak peduli
Terpenting adalah mereka bisa mengais
timah sepuas hati mereka
Tak sadarkah mereka sangat serakah?
Tak sadarkah mereka sangatlah salah?
Menggenanglah hamparan air dari dalam
bumi
Wahai pulau..
Ku tau kini engkau sedang merintih
sambil tertatih-tatih
Tapi dengarkan kami, takkan kami
sakiti dirimu lagi hanya untuk kepuasan hati demi anak cucu kami
Karya : Alifa Putri Maharani
0 komentar:
Posting Komentar