menerbitkan novel
Cara I: Menawarkan Naskah ke Penerbit yang AdaIni adalah cara yang paling konvensional, paling umum, dan paling banyak dipilih oleh para penulis sejak zaman dahulu. Anda punya naskah, lalu ditawarkan ke penerbit tertentu, lalu mereka menerbitkannya (bila memang dianggap layak terbit).
Sebagai bahan referensi untuk cara I ini, silahkan baca dua artikel berikut:
- “Saya Punya Naskah Buku atau Novel. Ke Penerbit Mana Harus Saya Kirim?”
- Ini Dia: Penerbit yang Menerima Naskah dari Penulis Pemula!
- Tidak repot. Sebagai penulis,
kita cukup mengirim naskah ke penerbit yang ada. Setelah itu, kita cukup
menunggu. Bila naskah kita dinyatakan layak terbit, maka urusan
editing, desain, pembuatan cover, percetakan, distrubusi dan sebagainya
ditangani langsung oleh penerbit. Untuk marketing/promosi, biasanya
penerbit juga menangani, tapi penulis diharapkan juga aktif berpromosi.
Setelah buku terbit, penulis biasanya menerima royalti 6 hingga 12
persen dari harga jual buku (tapi ada juga sistem jual putus, di mana
penulis menjual bukunya senilai tentu, lalu penerbit membayar satu kali
saja di depan).
.
Intinya, tugas kita sebagai penulis hanya mengirim naskah, lalu menunggu bukunya terbit, lalu menerima royalti (yang jumlahnya berdasarkan hasil penjualan). Kalau ingin buku Anda laris manis, maka Anda juga bisa secara aktif dan gencar mempromosikannya.
. - Tak perlu modal. Anda tidak
perlu mengeluarkan dana khusus untuk mencetak buku (yang jumlahnya bisa
jutaan – bahkan puluhan juta – rupiah). Semuanya ditanggung oleh
penerbit. Kalaupun ada biaya yang harus Anda keluarkan, paling cuma
biaya nge-print naskah, ongkos kirim naskah, dan sebagainya yang masih
tergolong “uang receh”.
. - Mendapat passive income. Secara
berkala, penulis akan mendapat kiriman royalti atas penjualan bukunya.
Misalnya tiga bulan sekali, empat bulan sekali, atau enam bulan sekali.
Jadi bayangkan saja: Anda sudah tak perlu mengurus buku yang sudah
terbit, tapi royalti akan terus berdatangan selama penjualan buku Anda
masih ada. Bahkan bila Anda sudah meninggal dunia, royalti bisa
diwariskan kepada keluarga.
. - Dukungan penerbit. Bila Anda
menerbitkan buku di penerbit besar, mereka biasanya sudah punya jaringan
distribusi yang kuat, percetakan yang hasilnya berkualitas, sistem
pemasaran yang baik, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini tentu sangat
menguntungkan bagi para penulis.
. - Adanya quality control. Penerbit biasanya punya standar kualitas naskah yang baku, punya sistem seleksi naskah yang ketat, punya tim desain yang profesional, dan sebagainya. Karena itu, kualitas buku-buku yang mereka terbitkan pun biasanya lebih terjamin. Naskah Anda yang mungkin biasa-biasa saja, oleh penerbit bisa diubah menjadi sebuah buku yang luar biasa!
- Kemungkinan naskah ditolak.
Karena penerbit sudah punya kriteria yang ketat dalam menerbitkan buku,
dan banyaknya jumlah naskah yang masuk, maka tentu saja tidak semua
naskah yang masuk bisa diterbitkan. Karena itu, bila Anda menempuh cara I
ini, siapkan mental Anda bila penolakan naskah tersebut datang.
. - Masa tunggu yang relatif lama.
Sejak Anda mengirim naskah hingga ada kabar mengenai lolos tidaknya
naskah tersebut, dibutuhkan waktu paling cepat satu bulan (tergantung
jumlah antrian naskah di penerbit tersebut). Dan ketika naskah Anda
sudah dinyatakan layak terbit pun, Anda masih harus menunggu sekitar 3
bulan (bahkan bisa lebih) hingga buku tersebut benar-benar bisa terbit.
. - Hasilnya sering tidak sesuai harapan.
Karena penerbitan buku Anda dikerjakan oleh pihak lain, tentu hasilnya
tidak bisa 100% sesuai harapan Anda. Mungkin saja hasil editingnya
membuat Anda kecewa, covernya tidak sesuai dengan selera Anda, dan masih
banyak “masalah tak terduga” yang mungkin timbul.
. - Penghasilan lebih sedikit. Memang besarnya royalti bisa bervariasi, tergantung banyak hal. Tapi secara umum adalah 10%. Katakanlah harga jual buku Anda Rp 30.000. Maka Anda hanya mendapat royalti Rp 3.000 untuk satu eksemplar buku yang terjual. Kecil sekali, bukan?
Pada cara II ini (yang biasa disebut self publishing), penulis tidak menawarkan naskahnya ke penerbit manapun, tapi dia sendiri yang bertindak sebagai penerbit. Karena itu, semua urusan yang berkaitan dengan penerbitan buku (mulai dari menulis, editing, desain, pembuatan cover, penyediaan biaya cetak lalu mengurus percetakannya, distribusi, marketing, dan sebagainya), ditangani sepenuhnya oleh Anda sebagai penulis.
Sebagai bahan referensi untuk cara II ini, silahkan baca dua artikel berikut:
- [INFO] Soal Ijin Penerbitan
- [INFO] Perizinan VS Perpajakan
- Ini Dia, Kiat Sukses Menerbitkan Buku Best Seller Melalui Self Publishing
- [Self Publishing] Cara Mendapatkan Nomor ISBN
- [Self Publishing] Percetakan Suka Seenaknya Menetapkan Harga?
- Bebas dari penolakan naskah.
Anda adalah penulis sekaligus penerbit. Anda bebas menerbitkan buku apa
saja semau-mau Anda, dengan cara apapun yang Anda kehendaki, sebebas
apapun yang Anda inginkan.
. - Bebas antri. Karena Anda
sendiri yang mengurus semuanya, maka lama tidaknya proses penerbitan
buku tergantung dari usaha Anda sendiri. Mau cepat atau lama, semua
tergantung Anda. Kalau Anda mencetak di percetakan tertentu dan ternyata
kerja mereka lama, maka Anda bisa dengan mudah pindah ke percetakan
lain.
. - Hasilnya bisa 100% sesuai keinginan Anda.
Namanya juga self publishing. Semuanya terserah Anda. Anda bebas untuk
membuat konsep, format dan bentuk buku yang benar-benar sesuai keinginan
Anda.
. - Penghasilan lebih besar. Karena Anda sendiri yang jadi penerbitnya, maka tak ada istilah royalti. Yang ada adalah profit dari hasil penjualan buku. Sama seperti pabrik tempe yang mendapatkan profit dari hasil pembuatan dan penjualan tempe. Jumlah profit ini tentu saja jauh lebih besar ketimbang jumlah royalti dari penerbit.
- Serba repot. Karena semua
urusan harus ditangani sendiri, maka tentu saja Anda harus siap untuk
serba repot. Bahkan, Anda juga diharapkan sudah paham seluk-beluk dunia
penerbitan buku. Bila belum, maka Anda mungkin akan banyak menemukan
kendala yang mengganggu – bahkan kebingungan dan stress – dalam proses
penerbitannya.
. - Harus punya modal. Dari seluruh
komponen biaya penerbitan buku, biaya cetak termasuk yang jumlahnya
paling banyak, yakni sekitar 90 persen. Besarnya biaya cetak tentu
tergantung banyak hal. Tapi sebagai gambaran umum, Anda mungkin harus
menyediakan dana sekitar Rp 2 juta hingga puluhan bahkan ratusan juta
rupiah. Kalau Anda tak bermodal, tentu hal ini akan jadi masalah
tersendiri.
. - Quality Control sering tak terjaga. Karena si penulis bebas menerbitkan buku apa saja semau-mau dia, semua terserah dia, maka kualitas sering jadi masalah tersendiri. Banyak buku self publishing yang sangat payah dari segi kualitas. Bahkan karena si penulisnya kurang paham ilmu marketing dan promosi, penjualan bukunya pun jeblok di pasaran. Kebanyakan penulis yang menempuh cara self publishing hanya berpikir “yang penting buku saya terbit”. Ini adalah fenomena yang sangat memprihatinkan pada dunia self publishing.
Di atas Anda bisa menyimak 3 kelemahan utama yang cukup mengganggu bila Anda memilih cara II. Berita baiknya, kini telah hadir sejumlah layanan Publishing Service yang siap membantu Anda menerbitkan buku dengan cara yang jauh lebih mudah.
Secara umum, publishing service bisa diartikan sebagai layanan yang akan membantu Anda menerbitkan buku secara self publishing. Mereka bisa mengatasi beberapa kelemahan pada cara II, yakni:
- Serba repot.
Para penyedia layanan publishing service ini bisa membantu Anda
mengurus editing, desain buku dan cover, percetakan, distribusi,
marketing, dan sebagainya. Intinya, dari segi kemudahan, bisa dikatakan
hampir sama mudahnya dengan cara I.
. - Harus punya modal.
Pada layanan publishing service ini, biasanya Anda bisa memilih paket
penerbitan yang sesuai anggaran Anda. Mulai dari Rp 500.000 hingga
puluhan juta rupiah. Bahkan yang gratis pun ada (alias Anda tak perlu
membayar biaya apapun).
. - Quality control? Kalau yang
satu ini sih, relatif sama saja dengan cara II di atas. Si publisher
service biasanya tidak ikut menangani quality control naskah Anda.
Kalaupun ikut menangani, biasanya mereka mengerjakan yang sesuai pesanan
(baca: bayaran) si penulis saja. Bahasa kasarnya, ada duit ada kerja. Anda mau dibantu untuk urusan editing, desain, pembuatan cover dan sebagainya, semua ada tarifnya
0 komentar:
Posting Komentar