Translate

cerpen celah

Written By iqbal_editing on Selasa, 15 November 2016 | 20.05

Judul Cerpen Celah
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 19 March 2016
Aku tahu aku jatuh hati padanya, tapi aku tak tahu alasan mengapa cintaku jatuh kepadanya. Mendengar suara merdunya adalah alunan melodi yang membuatku melayang serasa di awang-awang apalagi saat kita ditakdirkan bersua walau dengan kata yang terbatas. Sesosok insan, sebut saja Indan yang ku kenal saat kita masih semester dua. Kita mulanya hanya teman biasa sekarang pun masih (baginya). Kita tak sengaja bertukar nomor di kelas karena sebuah buku. Setelah itu tidak ada yang spesial karena mungkin saja saat itu tujuannya memang untuk menanyakan buku, tidak lebih. Aku pun tidak berharap ada yang lebih dari perkenalan itu.
Waktu seolah membawaku berlari begitu cepat. Hari itu (27 Desember 2015) aku duduk berdua dengannya. Dia hendak pulang ke kampung halamannya karena liburan sudah tiba dan di teriknya mentari kala itu kita berbincang tentang apa pun mengakhiri perjumpaan kita di semester lima ini. Entahlah aku seolah berat ditinggalnya pergi dan kita seperti pasangan kekasih yang harus berpisah sementara waktu. Kita berbicara soal rindu yang mungkin saja akan terjadi setelah kepulangannya. Aku tak kuasa berkomentar karena jujur saja saat itu aku ingin berlama-lama bersamanya walau mentari sedang bersemangat menyinari bumi Madura yang rindu dengan hujan ini. Akhirnya, dia pun pergi.
“Aku udah berangkat.” Pesan singkat yang melayang kepadaku.
“Iya, hati-hati. Semoga selamat sampai tujuan.” Kalimat balasan yang umum digunakan orang-orang saat akan ada yang pergi.
Sekitar satu setengah jam kemudian dia baru membalasnya. “Iya makasih. Aku udah nyampe nih.”
“Oh syukurlah. Ya sudah istirahat aja dulu!” Balasku. Setelah itu dia semakin sering menghubungiku, paling tidak sehari sekali sekitar sepuluh sampai dua puluh menit.
Waktu yang menurutku relatif singkat karena terkadang aku hanya menjadi pendengar setia yang dengan senang hati mendengarkan kejadian-kejadian yang pernah ia alami mulai dengan kisah perdebatannya dengan karyawan akademik kampus, pengalaman politiknya, kisah cintanya, sifat ibunya, hingga impiannya menjadi seorang ayah yang baik dan benar untuk anak-anaknya kelak. Sayang sekali, semuanya berubah.
Awal februari dia berjanji menemuiku, mungkin sekitar jam sembilan dia baru sampai di kotaku dan akan menghubungiku. Namun hingga tiga puluh menit lepas dari angka sepuluh dia belum juga ada kabar. Jelas aku menjadi khawatir. Jam sebelas pun tiba, tapi belum ada tanda-tanda kedatangannya. Aku putuskan untuk menghubunginya. Sekali teleponnya tak terhubung, operator bilang sedang sibuk. Ku coba untuk yang kedua kalinya, syukurlah terhubung, tapi sedang menunggu, dia sedang berteleponan dengan orang lain, spontan aku mematikan teleponku. Jadi, aku SMS dia, “Sudah sampai mana?” Adzan dzuhur pun berkumandang. Aku tinggalkan HP-ku sejenak untuk salat, selepas salat ku cek hp, tapi tak ada balasan. Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Aku otak-atik hp-ku, berharap ada kabarnya. Semoga dia baik-baik saja, batinku.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Adzan ashar membangunkan tidur siangku. Aku lihat hp-ku, tapi tidak ada satu pun -misscall ataupun SMS darinya. Aku coba hubungi dia kembali dan kali ini diangkat. Keadaan di seberang sana gaduh sekali dan di tengah obrolanku dengan Indan terdengar suara seorang wanita yang kedengarannya berbicara kepada Indan. Beberapa kali Indan nampak menjauhkan hp-nya dan meladeni wanita di dekatnya berbicara.
“Kamu sibuk ya? Ya sudah deh, takut ganggu. Assalamualaikum!” kataku yang sudah kesal karena topik pembicaraan kita berkali-kali terpotong.
“Waalaikumsalam!” jawabnya dan memutuskan teleponku.
Esoknya, lusanya, hingga hari ini dia tidak pernah sekali pun mengabariku apa lagi menanyakan kabarku. Sungguh aku merindukannya. Sungguh terlalu sering aku termenung karenanya. Mengingatnya adalah luka bagiku, teramat sakit, tapi aku rindu setidaknya kepada suaranya yang mengalun syahdu di telingaku. Bertemu dengannya adalah takdirku. Dekat dengannya memang pilihanku. Mencintainya, merindukannya itu di luar kendaliku. Ya, aku memang memilih dekat dengannya, aku menginginkan dia dekat denganku.

Tahun 2014 waktu itu aku masih semester dua, tak terduga aku bertemu dengannya, kita bertukar nomor, tapi aku tidak tahu siapa namanya, tapi untuk kesan pertamaku dia judes dan pemarah. Satu tahun kemudian, tahun 2015 saat kita sama-sama duduk di semester empat. Dari sekian mata kuliah hampir setengahnya kita sekelas. Di makul (mata kuliah) A dia koordinator kelas dan aku suka duduk di kursi depan. Saat kuliah berlangsung tanpa terduga tiba-tiba dia duduk di sampingku. Penghuni kursi depan di bangku kuliah itu langka loh. Bagi mahasiswa selagi ada kursi di belakang, mustahil duduk di kursi depan apa lagi dosen yang killer. Buruan masuk kelas, rebutan buat duduk di kursi belakang. Aku sering sendirian di kursi depan dan dia tak pernah memindahkan posisi tasnya di kursi belakang, tapi secara tiba-tiba kadang dia menemaniku di kursi depan.
Di makul B yang penduduknya dua per tiga adalah pasukanku, maksudnya teman-teman akrabku, sementara dia dengan dua temannya termasuk golongan orang asing di tengah-tengah kami. Kursi di kelas itu dibagi jadi dua bagian, bagian kanan dan kiri. Umumnya para pasukan akan memenuhi kursi bagian kiri karena jauh dari dosen. Apa salahnya jadi dosen? Aku dan beberapa sisa temanku mau tidak mau duduk di kursi kanan demikian juga Indan kadang-kadang duduk di belakangku, tapi di kelas ini tidak ada yang spesial diantara kita karena terlalu dimonopoli pasukan-pasukanku, dia lebih banyak diam.
Di makul C, lagi-lagi berkahnya buku mungkin. Pak Dosen meminjamkan buku kepada temanku, tapi karena suatu hal buku itu dititipkan ke aku. Sebelum aku mengembalikkan buku itu, tiba-tiba ada mahasiswa lain (temanku juga) yang katanya mau pinjam buku yang dititipkan kepadaku dan dia sudah mendapatkan izin dari Pak Dosen. Sialnya teman yang meminjam buku itu juga meminjamkan kepada temannya, kalau diibaratkan benang mungkin sudah tak jelas simpulnya. Singkat cerita, pagi-pagi sekali di hari selasa, aku ada kelas makul C. Aku telepon temanku, sebut saja Deril yang meminjam buku itu, hanya sekedar ingin mengingatkan untuk tidak lupa membawa bukunya Pak Dosen, tapi nggak aktif.
Deg! Tiba-tiba aku menjadi sangat mengkhawatirkan buku itu. Aku telepon beberapa teman yang lain untuk meminta nomor hp Deril yang lain, tapi mereka juga nggak punya, malah ngasih solusi dengan nomor-nomor teman dekat Deril yang lain. Alhasil, aku jadi operator dadakan. Hampir satu setengah jam, belum juga membuahkan hasil. Satu jam lagi aku masuk, aku benar-benar bingung kalau-kalau Bapak Dosen menanyakan bukunya. Hingga sampailah, aku mendapatkan nomor hp Indan, tanpa ragu aku menghubunginya. Aku menceritakan masalahku, dia merespon dengan baik dan pahlawan pagi itu dia.
Semester berikutnya, semester lima, cuma ada dua kelas yang sama. Pertengahan semester lima di satu kelas yang sama kita ada semacam tugas akhir yang digarap secara berkelompok. Dan… aku satu kelompok dengannya. Tugas itu mengharuskan kita menyusun makalah setiap minggu dan berkreatifitas dengan gila-gilaan selain adu isi makalah juga adu yel-yel penyemangat de-el-el. Dia tiba-tiba sering menghubungiku, kita sms-an sampai berpuluh-puluh kali sampai jari keriting, ngobrol sampai berbusa.
Isi obrolannya pun berbau modus-modus gitu, sungguh dibuatnya aku kasmaran. Tapi kisah di semester lima tak semulus jalan tol juga. Di tengah rutinitas kami ada satu minggu kelabu bagiku. Hari itu dia tak ada kabar, walau sekedar PING! gitu. Besoknya, besoknya lagi. Singkat cerita, dia lagi PDKT sama wanita idaman lain, tapi berhubung wanita itu sudah memiliki tunangan, dia pun mundur. Hubungan kami pun membaik kembali, dia kembali suka mengobrol denganku.
Aku pikir dia sudah benar-benar lupa kepadaku, saat aplikasi KRS (Kartu Rencana Studi)nya ngadat, dia menghubungiku dan aku dengan senang hati mengangkatnya. Aku tak sanggup membiarkan dia bingung, oke aku bantu saja. Selepas itu keadaan menjadi membaik seperti sebelum liburan. Seminggu sebelum liburan berakhir, lagi-lagi dia kumat. Akhirnya aku sampai pada kesimpulan akhir. Selagi ada celah baginya untuk mendapatkan kesenangan yang lain dia akan keluar melalui celah itu. Membiarkan celah itu terbuka karena sewaktu-waktu dia akan kembali masuk bila prospeknya gagal, terus seperti itu. Tapi aku tak ingin berjuang seorang diri, yang kehabisan darah lalu mati. Sementara dia bebas datang dan pergi sesuka hati.

Pulau Garam, 20 Februari 2016
Cerpen Karangan: Fani Desy Lestary
Facebook: Archi Fani Ashima

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik