Translate

contoh buku anatologi puisi 8 . 4

Written By iqbal_editing on Kamis, 03 November 2016 | 18.54

8 . 4
Bayangmu
Karya : Dena Indriawan
Entah berapa lama kita berpisah
Saling memendam perasaan yang besar
Bayangmu selalu ada di setiap hariku
Dan di setiap mimpiku..
Tetapi Bayangmu terlalu abu-abu
Terlalu samar bagiku untuk menggapai
Terlalu berkabut
Dan terlalu semu..
Di tengah ketidakpastian ini..
Akankah ada titik terang diantara kita..
Jalan untuk kembali bersama
Seperti cerita lama kita..
Yang sekarang tak bertuan mengikis hati
Sahabat
Karya : Diah Andini
Tiap waktu aku menanti
Kapan sahabatku kembali
Walau waktu selalu berganti
Kau masih belum kembali             
Walau aku bersama teman-temanku.
Hanya kaulah yang sangat kurindukan
Sejak kecil kau selalu menemaniku
Hingga terjalin tali persahabatan
Jika saat bertemu nanti
Kuharap kau tak lupa padaku
Karena aku sudah menanti
Kehadiranmu dihapadanku
Perang
Karya: Dimas Aji Prasetio
Perang...
Kau begitu kejam
Kau begitu sadis
Kau masih mendunia
Pulau, tanah...
Itulah yang engkau rebutkan
Perang...
Kau merebut semuanya
Perang...
Kau tak ada gunanya
Perang...
Hanya orang bodoh yang melakukannya
Perang...
Kau membunuh semuanya
Bermula dari rasa egois
Berujung kematian
Renungan Tahun Baru
Karya : Farah Nabillah
Tuhanku,
Demi kemuliaan-Mu
Tidak ada maksud menentang-Mu
Ketika aku bermaksiat...
Bukan pula maksudku mendurhakai-Mu
Ketika aku berbuat jahat...
Sebab aku tak mengetahui kedudukan-Mu
Sebab aku tidak mungkin bisa megelak dari azab-Mu
Aku bermaksiat semata-mata karena godaan jiwaku
Aku terdorong oleh kecelakaanku
Sebab aku terpedaya oleh tabir-Mu yang kau gerai dihadapanku
Akupun menjadi nekat dengan perbuatan bodohku
Lalu... siapa pula kini sanggup membebaskanku dari siksa-Mu
Jika kau putuskan tali tempat ku bergantung
Betapa buruknya aku bila kelask berdiri di hadapan-Mu
Kepada orang yang berat timbangannya kau berkata,
“Teruslah berlalu...”
Kepada orang yang ringan timbangannya kau berkata,
“Tunggu dulu!”
Akankah aku terus berlalu bersama orang yang berat timbangannya?
Atau haruskah aku berhenti bersama mereka yang ringan timbangannya?
Wahai, celakalah aku.........
Kian tua usiaku... Kian bertambah pula dosaku...
Hariku telah berganti minggu...........
Bulanu kini telah berganti tahun baru...
Namun, Ibadahku........
Shalatku..... Zakatku..... Puasaku..... Hajiku....
Infaq dan shadaqohku....... Jihadku......
Semuanya belum sempurna....
Wahaiii............
Celakalah aku..........
Kian panjang usiaku kian bertumpuk pula kesalahanku...
Sampai kapan kiranya aku bisa bertaubat?
Sampai kapan kiranya aku bisa kembali?
Bukankah kini telah tiba saatnya.........
Untuk menjumpai-Mu.....

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik