Dalam tulisan ini saya membahas persepsi pendidikan dalam karya sastra. diskusi ini didasarkan pada novel Tetsuko Kuroyanagi dan
novel Andrea Hirata. Kedua pengarang menjadikan anak-anak sebagai tokoh
utama dalam karya dan bagaimana persepsi pendidikan bagi kedua anak
tersebut. Disini saya akan membandingkan cara melihat tema, yaitu
persepsi tentang pendidikan.
Novel
Andrea Hirata yang nobenenya seorang putra daerah Belitong, berusaha
mengangkat kisah nyata hidupnya semasa sekolah dulu. Laskar Pelangi
menggambarkan bagaimana persepsi seorang yang hidup dibawah garis
kemiskinan tentang pendidikan. Persepsi pendidikan disini maksudnya
bagaimana Andrea yang dalam cerita ini dipanggil Ikal dan Sembilan
temannya yang lain tidak pernah minder dan putus asa dalam menimba ilmu
pengetahuan. Walaupun mereka miskin,dan serba keterbatasan tetapi dengan
keterbatasan yang ada bukan
membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat mereka terpacu untuk
melakukan sesuatu yang lebih baik.
Sedangkan
karya yang kedua adalah novel seorang penulis cerita anak dan aktris
Jepang, Tetsuko Kuroyanagi, yang juga terinspirasi dari kisah hidupnya
semasa SD. Novel ini berjudul Totto-Chan Gadis keci di Jendela. Novel
bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Totto-Chan yang sangat
ingin tahu (lebih dari anak-anak seumurnya). Kemudian ia dikeluarkan
oleh pihak sekolah karena kebiasaanya yang tidak wajar. Lalu ia masuk ke
sekolah Tomoe Gakuen, yang mempunyai metode dan cara mengajar yang beda
dari sekolah biasa. Tomoe Gakuen adalah
sebuah sekolah unik yang didirikan di Jepang pada tahun 1937. Sekolah
itu menerapkan cara belajar yang menarik. Di awal jam pelajaran Guru
membuat daftar soal dan pertanyaan tentang pelajaran hari itu.
Murid-murid boleh memilih urutan mata pelajaran sesuai keinginannya.
Bila mengalami kesulitan, mereka boleh berkonsultasi dengan guru kapan
saja.”
Hal-hal yang dibandingkan
- Sama-sama mempunyai tema Pendidikan
- Berangkat dari kisah nyata kedua pengarang
- Judul masing-masing novel berasal dari kecintaan tokoh terhadap sesuatu
Ex, Laskar Pelangi
“Mereka,
Laskar Pelangi - nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka
terhadap pelangi - pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai
cara”
Totto-Chan Gadis di Jendela
“Bermula
dari seorang gadis cilik yang masih duduk di bangku kelas 1 SD yang
bernama Totto Chan, suatu hari Totto Chan berdiri di jendala sekolah
sambil melihat burung-burung yang yang berada di luar jendela,”
- Setting kedua novel berasal dari daerah asal kedua pengarang, Belitong (Indonesia) dan Jepang
- Konsistensi semangat melahap ilmu pengetahuan meskipun dalam keterbatasan
- Laskar pelangi, beberapa mata pelajaran di sekolah, Muhammadiyah, Belitong diajarkan oleh satu guru, sedangkan dalam novel Totto-Chan Gadis kecil di Jendela sekolah Tomoe Gakoen setiap pelajaran praktek langsung dibimbing seorang ahli di bidangnya.
Contoh
pelajaran pertanian langsung diajarkan oleh petani. Kepala Sekolah
menghargai kompetensi Si Petani untuk mengajarkan pada murid-murid
tentang cara bertani yang baik. Bahkan kepala sekolah sangat menghormati
petani tersebut bahkan mengajarkan pada anak muridnya untuk
menghormatinya meskipun ia hanya seorang “petani”.
“Oh,
itu tidak benar. Dia guru. Dia Guru Pertanian Kalian,” kata Kepala
Sekolah yang berdiri di samping petani itu. “Dengan senang hati Dia
setuju untuk mengajari Kalian bagai mana cara bercocok tanam. Ini
seperti mendapatkan pembuat roti untuk mengajari Kalian caranya membuat
roti. Nah, dengar,” katanya kepada Petani itu, “Katakan kepada Anak-anak
apa yang harus Mereka lakukan, lalu Kita akan mulai sekarang juga.”
(hal 178).”
Kesimpulan
Kedua
novel ini ini sejatinya menawarkan persepsi yang sama dalam memandang
pendidikan. Walaupun dengan keterbatasan yang ada, misalnya dalam Laskar
Pelangi, Belitong yang memiliki keterbatasan tempat, tenaga pengajar,
dan didera kemiskinan, tetapi Ikal dan teman-temannya tetap semangat
menggali ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan Totto-Chan, yang memiliki
sifat yang tidak wajar untuk anak seusianya, tetapi dengan
keterbatasannya itu ia tetap semangat melahap ilmu pengetahuan dengan
caranya sendiri. Intinya keterbatasan
yang ada bukan membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat mereka
terpacu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.
0 komentar:
Posting Komentar