Translate

presepsi pendidikan tentang novel tetsuko kyorangi dan novel andrea hirata

Written By iqbal_editing on Selasa, 08 November 2016 | 18.50

Dalam tulisan ini saya membahas persepsi pendidikan dalam karya sastra. diskusi ini didasarkan pada novel Tetsuko Kuroyanagi  dan novel Andrea Hirata. Kedua pengarang menjadikan anak-anak sebagai tokoh utama dalam karya dan bagaimana persepsi pendidikan bagi kedua anak tersebut. Disini saya akan membandingkan cara melihat tema, yaitu persepsi tentang pendidikan.
Novel Andrea Hirata yang nobenenya seorang putra daerah Belitong, berusaha mengangkat kisah nyata hidupnya semasa sekolah dulu. Laskar Pelangi menggambarkan bagaimana persepsi seorang yang hidup dibawah garis kemiskinan tentang pendidikan. Persepsi pendidikan disini maksudnya bagaimana Andrea yang dalam cerita ini dipanggil Ikal dan Sembilan temannya yang lain tidak pernah minder dan putus asa dalam menimba ilmu pengetahuan. Walaupun mereka miskin,dan serba keterbatasan tetapi dengan  keterbatasan yang ada bukan membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat mereka terpacu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.
Sedangkan karya yang kedua adalah novel seorang penulis cerita anak dan aktris Jepang, Tetsuko Kuroyanagi, yang juga terinspirasi dari kisah hidupnya semasa SD. Novel ini berjudul Totto-Chan Gadis keci di Jendela. Novel bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Totto-Chan yang sangat ingin tahu (lebih dari anak-anak seumurnya). Kemudian ia dikeluarkan oleh pihak sekolah karena kebiasaanya yang tidak wajar. Lalu ia masuk ke sekolah Tomoe Gakuen, yang mempunyai metode dan cara mengajar yang beda dari sekolah biasa. Tomoe Gakuen adalah sebuah sekolah unik yang didirikan di Jepang pada tahun 1937. Sekolah itu menerapkan cara belajar yang menarik. Di awal jam pelajaran Guru membuat daftar soal dan pertanyaan tentang pelajaran hari itu. Murid-murid boleh memilih urutan mata pelajaran sesuai keinginannya. Bila mengalami kesulitan, mereka boleh berkonsultasi dengan guru kapan saja.”
Hal-hal yang dibandingkan
  • Sama-sama mempunyai tema Pendidikan
  • Berangkat dari kisah nyata kedua pengarang
  • Judul masing-masing novel berasal dari kecintaan tokoh terhadap sesuatu
Ex, Laskar Pelangi
Mereka, Laskar Pelangi - nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka terhadap pelangi - pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara
Totto-Chan Gadis di Jendela
“Bermula dari seorang gadis cilik yang masih duduk di bangku kelas 1 SD yang bernama Totto Chan, suatu hari Totto Chan berdiri di jendala sekolah sambil melihat burung-burung yang yang berada di luar jendela,”
  • Setting kedua novel berasal dari daerah asal kedua pengarang, Belitong (Indonesia) dan Jepang
  • Konsistensi semangat melahap ilmu pengetahuan meskipun dalam keterbatasan
  • Laskar pelangi, beberapa mata pelajaran di sekolah, Muhammadiyah, Belitong diajarkan oleh satu guru, sedangkan dalam novel Totto-Chan Gadis kecil di Jendela sekolah Tomoe Gakoen setiap pelajaran praktek  langsung dibimbing seorang ahli di bidangnya.
 Contoh pelajaran pertanian langsung diajarkan oleh petani. Kepala Sekolah menghargai kompetensi Si Petani untuk mengajarkan pada murid-murid tentang cara bertani yang baik. Bahkan kepala sekolah sangat menghormati petani tersebut bahkan mengajarkan pada anak muridnya untuk menghormatinya meskipun ia hanya seorang “petani”.
“Oh, itu tidak benar. Dia guru. Dia Guru Pertanian Kalian,” kata Kepala Sekolah yang berdiri di samping petani itu. “Dengan senang hati Dia setuju untuk mengajari Kalian bagai mana cara bercocok tanam. Ini seperti mendapatkan pembuat roti untuk mengajari Kalian caranya membuat roti. Nah, dengar,” katanya kepada Petani itu, “Katakan kepada Anak-anak apa yang harus Mereka lakukan, lalu Kita akan mulai sekarang juga.” (hal 178).”

Kesimpulan
Kedua novel ini ini sejatinya menawarkan persepsi yang sama dalam memandang pendidikan. Walaupun dengan keterbatasan yang ada, misalnya dalam Laskar Pelangi, Belitong yang memiliki keterbatasan tempat, tenaga pengajar, dan didera kemiskinan, tetapi Ikal dan teman-temannya tetap semangat menggali ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan Totto-Chan, yang memiliki sifat yang tidak wajar untuk anak seusianya, tetapi dengan keterbatasannya itu ia tetap semangat melahap ilmu pengetahuan dengan caranya sendiri. Intinya keterbatasan yang ada bukan membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat mereka terpacu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik