Judul Cerpen Ulang Tahun Teristimewa
Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 16 October 2016
Dzztt.. Dzztt.. Kuangkat Hp yang berdering itu, tertera sebuah nama di layarnya. Nama yang sangat tak asing.
“Halo.. Oh begitu? Ya udah, terserah kamu. Aku mah ngikut aja. Iya.”
ucapku pada seseorang di telepon itu yang bernama Melvi. Ia memberitahu
mengenai tempat dan waktu pertemuan kami esok hari. Kembali kutaruh Hp
itu di atas meja belajar. Kakiku kini melangkah ke luar, berniat
menyalakan televisi untuk menonton film kesukaanku.
Ruangan begitu sepi. Kulihat pintu kamar itu telah tertutup, berarti
ayah dan ibu telah tertidur. Sebelum kubiarkan tanganku ini menyentuh
tombol untuk menyalakan televisi, tiba-tiba saja aku ingin pergi ke
kamar mandi. Langkah ini terhenti, tepat sebelum berada di depan kamar
mandi. Kufokuskan pandanganku pada sesuatu di atas meja itu, aku tidak
salah melihat, sebuah kue. Kakiku kini bergerak mendekati kue itu. Aku
hanya menduga, pasti kue itu untukku, sebab besok adalah hari ulang
tahunku. Aku tahu, kue itu bukanlah kue ulang tahun yang dibeli dengan
harga begitu mahal. Tetapi kue itu adalah kue biasa yang dibuat asli
oleh kedua tangan ibuku yang jauh lebih terpercaya dari segala macam
seginya. Aku tersenyum, kembali kutinggalkan kue itu seorang diri, sebab
aku tak ingin merusaknya.
Tut tut.. Tut tut.. Tut tut.. Begitulah bunyi suara alarm yang tengah
asyik membangunkanku pagi ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.30
pagi, tetapi mataku masih sulit dibuka. Kuambil alarm itu, mencari
tombol off di sekitarnya. Tiba-tiba, terdengar suara ibuku sedang
membangunkan kakakku. Kupasang telinga ini baik-baik, mencoba
mendengarkannya.
“Chan! Chandra bangun! Adikmu hari ini ulang tahun”. Mungkin ibu
mengira aku tak mendengar, sebab lampu kamarku yang masih redup, adalah
pertanda bahwa aku belum bangun. Jika biasanya aku yang paling sibuk
mempersiapkan kejutan untuk siapapun orang yang berulang tahun di rumah
ini, kini kubiarkan mereka mempersiapkannya untukku. Aku tak ingin ke
luar kamar, dan menghancurkan semua usaha mereka untuk membuat kejutan
itu. Hingga akhirnya, terdengar suara ibu membangunkanku. Dengan muka
yang kubuat-buat begitu mirip seperti orang baru bangun tidur, aku
membuka pintu kamar. Dan.. Surprise!!! Lagu Happy Birthday itu mengalun
dari mulut ibu, ayah, dan kakakku. Kedua tangan ibu terlihat memegangi
kue itu, yang telah begitu cantik dengan berbagai hiasan dan lilin yang
tertancap di atasnya. Aku tersenyum. Meski sederhana, setidaknya mereka
masih ingat hari ulang tahunku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar