“meisyaaaa… meisya… bangun apa kamu tau ini itu sudah jam berapa? Nanti kau bisa telat ke kampus, ini kan hari pertamamu di kampus barumu cepat naakk!” teriak ibu. “iya bu” jawabku dengan nada yang malas.
Memang benar apa kata ibu, ini hari pertamaku di sekolah baruku, aku baru pindah dari Bandung ke Jakarta. Dan setelah ku lihat jam. Yaa tuhaaannn… aku terlambat, bagaimana ini? Langsung aja aku bergegas ke kamar mandi.
“kamu itu ngapain aja sih? Jam segini baru selesai.” Tanya ibu dengan agak marah. “bu, aku itu semalem gak bisa tidur tau.” Jawabku. “apa jangan-jangan penyakitnya kambuh lagi ya?” (dalam hati ibu). “apa kamu semalam gak bisa tidur gara-gara pusing?” tanya ibu lagi. “tidak bu, ayah mana?” tanyaku. “ayah sudah berangkat. Apa obatmu sudah habis?” ibu bertanya lagi. “sudah.” “sudah berapa lama?” tanya ibu dengan agak khawaatir. “2 hari.” “ya sudah nanti kita beli lagi. Apa kamu merasa pusing?” “gak pusing biasa-biasa aja.” (dengan senyum). “bagus”
Beberapa menit kemudian aku pun selesai makan. Aku pun berangkat bersama ibu ke kampus baruku, dengan mobil. Huuuhhh… astagaa.. bagaimana ini? Pintu gerbang sudah di tutup. Kyaa.. aduh jangan sampai aku punya kesan tidak baik di hari pertama masuk kampus. Dan untung aja gue gak telat tiba-tiba ada sesosok perempuan yang menghampiriku. “apa kamu anak baru itu?” tanya perempuan itu yang ternyata adalah dosen. Aku pun menjawab “iya.” “mari ikut saya dan menuju ke kelasmu” ajak dosen itu.
Dan aku hanya mengikuti perintah dosen itu “iya.”
Sampai di kelas, aku pun memperkenalkan diri. “silahkan duduk di bangku yang kosong. Nah, kebetulan di samping Kevin ada bangku kosong, kamu duduk disana saja.” Sahut dosen. Aku pun duduk di sebelah seorang cowok. Dan ketika aku duduk, dia hanya menghadap ke jendela. Kenapa dia jutek banget ya? Mungkin dia lagi mikirin sesuatu, ya sudahlah biarkan saja.
Kriiinnng… bel berbunyi dan waktunya mahasiswa dan mahasiswi untuk pulang ke rumah. Tapi tidak denganku, aku masih ada les musik. Disini memang unniversitas musik, tapi aku juga pengen lebih lancar aja bermain musik. Jadi aku ikut les juga. Yaa aku juga sengaja milih unversitas ini karena disini tentang musik dan aku suka banget sama musik. Alat musik yang bisa aku mainin adalah biola. Aku udah belajar biola pas aku umur 5 tahun. Mungkin ini keturunan dari ayahku, karena ayahku adalah pemain biola juga. Setelah berjam-jam latihan, aku dan temenku Heidy pun berjalan pulang. Saat di jalan, aku baru inget buku not laguku ketinggalan di kolong meja. Lantas aku pun berbalik arah untuk mengambil buku, sedangkan Heidy menungguku di kantin.
Nah, untung aja gak ada orang di kelas, jadi bukuku gak hilang. Dan terdengarlah suara gitar dari arah ruang musik. Aku pun langsung nyamperin suara gitar itu. Suara gitar itu gak asing buatku. Suara itu, ahhh aku lupa. Aku denger dimana ya? Ohh ya waktu kecil aku sering nangis, dan aku selalu di mainin gitar sama seorang cowok di taman, dan cowok itu bernama Kevin.
Flashback 12 tahun yang lalu
Aku menangis karena tidak boleh makan permen kapas oleh ibu. Penyebabnya karena aku sedang sakit gigi. Lalu aku pergi ke taman dan menangis disana. “hiks hiks.. ibu jahat kenapa aku gak boleh makan permen kapas itu? Hiks hiks” tangisku. (tiba-tiba ada seorang anak laki-laki datang menghampiriku). “hai, nama aku Kevin. sudahlah kamu jangan nangis lagi, biar aku mainkan gitar ya, tapi kamu jangan nangis lagi.” Tawarnya. Aku pun menjawab “iya.” Setelah aku mendengarnya bermain gitar, aku berkata “waahhh… kamu hebat sekali bermain gitarnya, tapi aku belum pernah mendengar nada itu di lagu pop.”
“ya iya lah, ini kan ayahku yang membuatnya. Ayahku adalah gitaris yang hebat. Aku pun belajar darinya” jawabnya. “waahhh… kalau begitu apa kau mau selalu bermain gitar untukku di taman ini?” tanyaku. “baiklah, tapi kau sering-sering kesini di saat sore hari ya? Oh iya. Nama kamu siapa?” “nama aku Icha. Iya, nanti aku akan sering kesini.” Dan sejak saat itulah aku sering ke taman untuk mendengar Kevin bermain gitar.
Back to story
Aku pun mengintip dari jendela untuk malihat siapa yang bermain gitar. Dan ternyata yang bermain gitar adalah Kevin. Hah Kevin? Jangan-jangan dia Kevin yang dulu sering bermain gitar untukku. Tapi kenapa dia gak mengenalku ya? Oh iya, dia kan kenal aku dengan nama panggilanku, Icha. Sudah biarkan saja, mungkin aku bisa memberitahu dia di lain waktu, lebih baik aku pulang. Tiba-tiba Kevin menyadari keberadaanku. Dan dia langsung memberhentikan permainannya itu. Dia langsung keluar dari ruangan dan menghampiriku.
“jangan bilang kepada orang-orang kalo gue suka main gitar disini!” (sambil berjalan meninggalkanku). “tapi kalo lo emang suka main, kenapa harus disembunyiin?” tanyaku. Kevin tak menghiraukan perataanku, dia hanya terus berjalan. “orang itu, penuh misteri banget.” Gurauku. Dan gue pun ke kantin untuk menyusul Heidy. Kami pun berjalan pulang, meskipun rumah kami tidak searah. Sampai di depan rumah, aku mulai merasakan kepalaku pusing. Pusing yang luar biasa, aku tidak bisa mengontrol diriku.
Dan aku pun pingsan tergeletak di depan rumah. Saat yang bersamaan, ibuku keluar dari rumah. Ibuku langsung kaget melihatku yang sudah tergeletak di sana. “ya tuhan, apa yang terjadi denganmu nak? Ayaaahhh… ayaahh.. cepatlah kesini!” (berteriak). Ayah pun langsung pergi ke depan rumah. “apa yang terjadi disini? Kenapa dia bisa pingsan? Apa dia belum minum obat?” tanya ayah. “apa ayah tidak ingat? Obatnya kan habis, dan kita belum punya uang untuk membeli lagi.” “ya sudah, ayo kita bawa dia ke rumah sakit.” Ucap ayah.
Aku pun dibawa ke rumah sakit. Dan setelah beberapa lama aku di periksa dokter pun keluar dari ruangan. Dan dokter berkata “mari ikut ke ruangan saya.” Di ruangan. Dokter berkata “pak, bu, setelah diperiksa, anak kalian sudah mencapai penyakit kanker stadium akhir.” (dengan wajah sedih) “apa? Hiks hiks.. apa penyakit ini bisa disembuhkan?” tanya ibu sambil menangis. “maaf pak, bu, tapi penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tapi saya bisa memberi obat untuk menahan rasa sakit.” Kata dokter.
“dia bisa bertahan sampai berapa lama?” tanya ibu. Dengan wajah sedih dokter menjawab “kemungkinan sampai 2-3 bulan lagi.” Ayah pun kaget “apa? Kenapa secepat itu?” “hal itu dikarenakan saat di awal-awal dia mengidap penyakit ini, anda tidak segera memeriksakan hal ini. Sehingga membuat dia terlambat mendapat pertolongan pertama.” Jelas dokter. “hiks hiks. Ayah bagaimana ini? Aku tidak mau kehilangan anakku dulu. Hiks hiks.” Tangis ibu. “apa tidak ada hal lain yang bisa anda lakukan selain memberi obat itu?” tanya ayah. “ya, kemungkinan hanya itu yang bisa saya lakukan. Dan juga karena teknologi di Indonesia belum mencukupi.” Jawab dokter. “baiklah, biar kita coba dulu dengan obat itu.” Kata ayah.
Ayah dan ibu pun keluar dari ruang dokter menuju ruang dimana aku di rawat. Mereka terlihat sedih sekali, karena anak yang begitu mereka sayangi dan cintai akan hilang sebelum mereka. Setelah itu, aku pun selama 3 bulan ini terus meminum obat dan istirahat yang cukup. Dan karena itu, aku pun berhenti kuliah. Aku sangat sedih akan hal itu, tapi ini demi kesehatanku. Dan mungkin ini adalah hari terakhir ku berada disini, karena dokter bilang aku hanya bisa bertahan 2 – 3 bulan.
Kali ini aku minta ayah dan ibuku untuk mengantarku ke taman untuk berjalan-jalan. Tapi sayangnya aku hanya bisa memakai kursi roda untuk menikmati ini. Tak bisa berlari-lari seperti dulu lagi. Dan sampai di taman, aku bertemu dengan Kevin yang sedang bermain gitar, aku pun meminta ayahku untuk mendorong kursi rodaku ke tempat Kevin duduk. Sekarang aku berada di hadapannya. Dia sangat terkejut atas keadaanku sekarang. Aku pun meminta dia untuk memainkan gitarnya dengan lagu yang ia mainkan sewaktu di ruang musik.
Dia pun memainkannya, aku pun bercerita padanya bahwa aku adalah teman masa kecilnya. Aku bercerita bahwa aku meninggalkannya karena penyakitku yang tak kunjung sembuh. Dan mengharuskan aku operasi di luar negeri. Tapi hasilnya sama, tak berhasil, tapi untungnya aku masih diberikan kesempatan oleh tuhan untuk hidup lagi. Bertemu dengannya dan mendengar dia bermain gitar untuk yang terakhir kalinya.
Sambil Kevin bermain gitar, aku mengatakan kata-kata untuk mereka “apakah kalian tahu, aku adalah orang yang sangat bahagia di dunia. Karena dilahirkan sebagai anak ayah dan ibu, dan juga telah dipertemukan dengan seorang pemain gitar terhebat sepertimu, Kevin. Kalian semua jangan menangis karena aku ya?” Sehabis mengatakan itu, aku pun sudah menutup mataku untuk selamanya. Mereka pun menangis atas kepergianku. Tak ada hal indah yang bisa kita rasakan di dunia selain rasa kasih sayang persahabatan dan cinta dari kedua orang tua.
Cerpen Karangan: Ellisa Rachmawati
0 komentar:
Posting Komentar