Muara Perasaan Gadis Bima
Judul Cerpen Muara Perasaan Gadis Bima
Cerpen Karangan: Ismisari Ismail
Kategori: Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 27 February 2017
Cerpen Karangan: Ismisari Ismail
Kategori: Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 27 February 2017
Aku bingung, aku harus mulai dari mana, untuk bisa kutuangkan cerita singkat yang kita bingkai. Bukan maksud hati untuk menjadikanmu kenangan dalam sebuah tulisan, tetapi ini caraku untuk mengenangmu dan membuatmu selalu hidup dalam hatiku. Aku mulai menulis ini di tempat pertama kita bertemu dan mengobrol masalah judul tesisku kemarin, tepat dimana pertama kali aku mulai hadir dalam benakmu. Pada tanggal 20 september ini aku membangkitkan memori tentang cerita singkat yang kita lewati, dan setiap sudud kampus yang menjadi tempat kenangan kita. Kenangan yang kita tinggalkan di setiap sudut kampus membuat hatiku merana disaat mengenangmu, membuat hatiku sedih disaat aku menyadari aku telah jauh darimu, kenangan ini juga yang membuatku termotivasi untuk melakukan kegiatan yang ada di kampus, aku merindukanmu, aku merindukan sapaanmu, aku merindukan panggilan sayangmu, semua yang ada dalam dirimu menjadi bagian yang sangat aku rindukan.
Aku masih ingat tatapan itu, tatapan pertama kali kamu melihatku, pada saat itu aku tidak sama sekali berpikir engkau akan menjadi bagian dalam hidupku, menjadi bagian yang aku rindukan. Kadang aku tidak mengerti apa yang terlintas dalam benangku, di satu sisi aku merasakan kasih sayang yang sangat luar biasa darimu, engkau mengayomiku disetiap sudut pandang, engkau membangunkanku dalam dunia tidurku tentang bagaimana menjalankan hidup sesunggunya, memanfaatkan anugerah yang diberikan oleh Tuhan untuk bisa memanfaatkan ilmu dunia yang disuguhkannya, engkau juga membangkitkan batinku dengan kuadrat kita sebagai manusia, manusia hanyalah sebuah titipan Tuhan di dunia yang fungsinya hanya untuk beriman dan bertakwa kepadanya.
Apakah kamu tidak menyadari, dengan sentuhan kalimat yang engkau rangkai dalam nasehat telah sangat merubah hidupku, merubah jalan pikiranku dan merubah polah tingkah lakuku. Aku tidak bisa membencimu karena perpisahan ini, dan aku tidak sedikitpun bisa menumbuhkan rasa benciku terhadapmu karena keputusan yang telah kau ambil yang menganggap aku yang tidak menghargaimu, yang tidak menghargai cinta dan perasaanmu. Andai engkau bisa memahami bahasa batinku, tidak akan mungkin kamu mengatakan seperti itu, dan andai engkau bisa mejelaskan rangkain nafasku tidak akan mungkin kamu memutuskan hubungan ini dan memilih untuk diam. Apa yang ada dalam pikiranmu, wahai calon imamku? Apakah engkau berpikir aku tidak memperjuangkanmu, atau engkau berpikir aku hanya mempermainkanmu? Kenapa bisa sampai seperti itu, kenapa bisa engkau merubah pelangi dengan awan? Andai aku turuti arah cerita kita sekarang ini, mungkin telah jauh aku bawa diri dari khayalan yang pernah kita rangkai. Tapi apalah daya hati kecil ini imamku, hati ini hanya menuruti naluri batin yang sejalan dengan fikiranku dan diterima oleh perasaanku.
Aku memperjuangkanmu, dengan kontraknya hati dengan jarakmu sekarang, aku cuba memahami hakikat seorang anak perempuan, yang suatu saat akan menjadi menjadi seorang istri, aku berperan dengan diriku sendiri, mengajarkan diriku sendiri bahwa seorang perempuan yang telah menjadi seorang istri akan menjadi bayangan suaminya, dimanapun suaminya melangkah dia kan terus menjadi pedampingnya. Aku menamkan prinsip dalam diri ini yang mampu memisahkanmu dengan suamimu hanyalah kematian, bukan jarak, harta, ataupun yang lainnya. Hanya hak kemantianlah yang bisa memisahkan kalian berdua. Kadang aku berpikir kenapa jarak ini harus ada dalam cerita kita, kenapa jarak ini menjadi pemicu lerainya hati ini, kenapa juga jarak ini mampu memisahkan perasaanku dengan seketika. Engkau pernah memutuskanku dengan jarak ini, kenapa jarak ini mampu memisahkan kita seperti kematian.
Disaat aku tahu berita tentangmu, kegaduhan atas recanamu, hatiku bagaikan tergoncang seakan hati ini tidak pada tempatnya, suaraku serontak berubah menjadi gemuruh yang entah apa yang aku ucapkan aku tidak mengerti, serta pikiranku yang menyiksa perasaanku dengan sungguhan bayangan yang sama sekali tidak aku pikirkan akan menjadi seperti ini. Aku tahu, kamu pernah menanyakan hal ini kepadaku, ketika jarak akan menjauh apakah kamu mau menemaniku? Pada saat itu aku menjawab layaknya pertanyaan seandainya yang engkau buat untuk menjadi bahan pembicaraan saja, dan dengan polos aku menjawab aku tidak mau, aku tidak mau tinggal sangat jauh dari keluargaku. Aku menjawab seperti itu karena aku tidak tahu, kalau dasar dari pertanyaanmu itu adalah sebuah rencana dalam hidupmu, yang telah engkau pikirkan sebelumnya, yang sebelum engkau mengenalku. Kenapa hal sebesar itu engkau sembunyikan dariku? Engkau pernah berkata engkau tidak hanya sekedar mencintaiku tapi engkau mencintaiku karena Allah, atas dasar petunjuk Allah. Kenapa bisa engkau sembunyikan hal ini dariku? Engkau meninggalkan aku dengan sejuta kenangan dalam cerita yang sangat singkat, engkau meninggalkanku disaat aku membutuhkan uluran tanganmu. Dan yang aku sesali, engkau meninggalkanku dengan kenangan di sudut kampus, yang sekarang menjadi samudra dalam hatiku, yang kadang-kadang membawa ombak dan gemuruh yang membuat hati kecil ini merasa sakit bila mengenangmu.
Kamu tahu, setiap tempat yang kita singgahi di kampus, tidak akan pernah mati dengan bayanganmu, serasa tempat itu ada kamu dan aku yang lagi memadu kasih, tersenyum dengan segala objek yang dibicarakan. Sekarang aku hanya bisa menjadi penonton kenangan itu, membayangkan lagi engkau kembali hadir di tempat yang sama dan mengajakku bercanda gurau. Kembalihlah, dengan cara tanpa sepengetahuanku buatlah khanyalan ini menjadi kenyataan agar aku tidak hanya sekedar menjadi penonton tetapi akan menjadi pelakon. Kembalikan hatimu yang aku kenal dulu, hatimu yang selalu merindukanku, hatimu yang selalu ingin mendengar suaraku, dan hatimu yang selalu membayangkanku. Kembalikan hatimu, kembalikan dia sekali saja hanya untukku. Apakah enkau tidak pernah membayangkan lagi, raut jawahku, desiran suaraku, dan raungan senyumku. Kalaupun engkau sudah tidak merasakan semua itu, kenapa hal yang tidak adil berpihak terhadapku, aku yang selalu membayangkanmu, suaramu, cara berbicaramu, sapaanmu, semuanya tentangmu, masih tergambar jelas dalam pikiranku. mengapa hal yang sangat tidak adil ini harus menjadi milikku. Aku ingin menyentuh hatimu, agar engkau tahu betapa tidak adilnya hal yang menjadi miliku.
Bantinku sekarang hanya bisa meraung, meraung dengan hal yang datang menyamperiku.
Banyak hal yang menyapaku selepas dengan ceritamu. Dengan mudah kau meanjadikan aku orang asing, dengan mudah juga engkau menukar cinta yang perna kau bilang, sayang yang kau rantaikan dan rindu yang selalu menjadi temanmu. Apakah tidak pernah lagi, bayanganku bermain lagi di bola matamu, apakah tidak perna suaraku bermain lagi dalam ruang dengarmu. Aku tidak tahu bagaimana jalannya pikiranmu, aku tidak tahu penilainmu terhadapku, sekilas aku lihat potret kehidupanmu yang sekarang. engkau berjalan tampa ada pundak beban dalam bahumu, engkau bersuara tampa ada rindu yang yang menghalangimu. Engkau begitu mudah melupakanku, entah engkau dasarnya tidak mencintaiku, atau hanya sekedar ingin jalan denganku. Jangan mempermainku dengan pendirianmu, jangan menyakiti perasaanku dengan kerasnya hatimu. Aku hanya merasa sebagai korban, dimana perasaanku yang aku gantung di atas langit, sengaja engkau jatuhkan. Anganku hidup bersamamu dihancurkan dengan guncangnya angin yang membawamu pergi di kota SORONG. Engkau tidak tahu, bagaimana perasaanku saat itu, aku merasa angin yang selalu menyapaku setiap kali mengakat teleponmu seperti sejuta jarum yang mencabik pori-pori kulitku. Sekarang aku tidak bersahabat lagi dengan angin, sekarang aku tidak bisa merasakan lagi angin di balkon kosku, yaa angin malam yang selalu menjadi teman setiaku, disaat engkau menyapaku dengan deringan teleponmu. Sekarang siapa yang mengisi ruang dengarmu, sekarang siapa yang mengisi ruang hatimu, dan sekarang siapa yang mengisi memori hidupmu. Gadis yang mana, yang merubah rasaku dalam dirimu menjadi hambar. Gadis yang seperti apa, yang membuatmu tertawa lepasmu. Izinkan aku mengenal gadismu yang sekarang, gadis yang ada dalam tinta baru kertas tulismu. Aku ingin menjadi penonton bagian cerita kalian, biarkan aku menjadi penonton ganda dalam cerita ini. Penonton kenangan kita dan penonton masa depanmu.
Gambar yang telah kita lukis dengan makna yang lengkap di dalamnya, tidak membuat hatimu luluh, tidak membuat hatimu meminta haknya. Ya aku sadar, kadang lukisan yang sangat indah akan mudah diambil atau dibeli oleh seeseorang. Itu menjadi pelajaranku, ketika kamu berubah menjadi suatu yang sangat indah. Ingatlah ketika kamu masih hanya menjadi sebuah pensil warna yang harganya semua orang dapat membelimu. Tidak bisa dipungkiri seseorang yang telah menggapai cita-citanya akan bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan, bahkan dia akan merusak impian seseorang yang tidak sebanding denganya. Manusia-manusia, kadang kuadratmu membawamu ketingkatan yang paling sempurna, dan kadang kuadratmu membawamu ketingkatan yang paling rendah. Hal semacam ini tidak pernah aku pikirkan ada dalam dirimu tapi aku lupa kamu itu manusia. manusia yang tidak terlepas dengan dua unsur baik dan buruknya. Aku memandangmu dengan hatiku, sampai pada dasarnya aku tidak bisa melihat sisi manusia yang ada dalam dirimu.
Angka 26 pada bulan 9 ini mengantarkan kerinduanku denganmu, air hujan yang mengguyur kota Malang ini memaksaku untuk menangis, menangis merindukanmu. Aku tidak tahan dengan beban rindu yang aku pikul sekarang, aku ingin rindu ini agar segera mecair, seperti awan hitam yang menciptakan hujan, dan hujan menghadiakannya dengan pelangi. Aku merindukanmu, sekarang perasaanku bagaikan lautan yang diberi garam, aku tidak bisa merasakan perasaan lain dengan orang yang coba mengasihiku, aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku tidak bisa merasakan hal lain, selain dengan dirimu. Andai engkau bisa mengerti perasaanku malam ini, kerinduanku malam ini, serta kegelisaanku malam ini engkau akan mencoba kembali memahamiku. Aku berperan dengan diriku sendiri, melawan kontraknya hatiku sendiri. Aku dilamar kegundahan pada malam ini, aku disuguhkan dengan kerinduan yang tak terjawab malam ini. Cobalah sekali lagi memahamiku, bersama-sama memecahkan kerinduan ini, mengalahkan jarak yang menjadi dinding cerita ini, serta kita kembalikan lagi sapaan angin dulu yang pernah bersahabat denganku, yang selalu menemaniku dalam ruang dengarmu.
Kembalikan lagi cerita itu, apa salah aku berharap lagi, apa salah aku meminta lagi, andai aku bisa merangkai lagi waktu yang telah hilang, aku akan kembali menjelaskan kepadamu, beratnya ada dalam posisiku. Kamu tahu, aku adalah seorang gadis yang sekarang tidak memiliki ibu kandung, malaikat duniaku itu sudah kembali di tempat asalnya. Seandainya dia masih hidup aku akan lebih berani menentukan kehidupanku sendiri, merangkai ceritaku sendiri, walaupun itu bertentangan dengan orangtuaku. Karena aku yakin, dia akan pasti bisa memahamiku, mengerti dengan pilihanku serta akan selalu memaafkan keasalahan dalam tingkahku. Itu seandainya dia ada, tapi apa mau dikata, cerita yang paling indah sudah dirangkai oleh pemilik kehidupan yang sesungguhnya. Sekarang yang hanya tersisa, hanya sepenggal keberanian itu, untuk memilih hidup dengan caraku sendiri. aku tidak mau mereka mengasingkanku, karena aku tahu, hati ibuku dengan mereka tidak akan perna sama. Aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku ingin mengurusmu, aku ingin menjadi wanita kedua dari ibumu.
Apa mungkin keinginan aku terlalu besar, sehingga jodoh tidak menginginkan hal ini terjadi. Atau memang jodoh sudah mengetahui isi hatimu, hatimu yang tidak terlalu mengharapkanku, sehingga dia membuat cerita yang aku rangkai menjadi seperti ini. Kalaupun hal itu benar, berarti takdir terlebih dahulu memintahnya kepada Allah agar kisahku bersamamu tidak disempurnakan. Aku bisa menerima takdir itu, tapi tidak gampang bagiku untuk merubah dengan seketika rangkain perasaanku terhadapmu. Tidak mudah untuk menghilangkan rindu yang ada dalam lubuk hati ini untukmu. Apa yang harus aku lakukan dengan takdir ini, aku harus melawan dan menantangnya, aku tidak cukup berani, aku hanya melewati samudera dengan dua kaki kecil ini, apa yang menjadi peganganku itu tidak ada. Apa iya kamu, akan menyelamatkanku di tengah samudera yang menggoncang batinku. Apa iya kamu ingin berjuang bersamaku lagi. Engkau sudah membangun kehidupanmu yang baru, dengan sejuta keinginan dan angan-angan dengan seseorang yang ada dalam ruang hidupmu sekarang. aku sangat paham pola kehidupan ini, disaat seseorang telah tiada dalam hidup kita, pasti seseorang itu digantikan dengan sosok yang baru, dan secara berlahan akan mengikis cerita terdahulu.
Aku sangat tahu hal itu, bayanganmupun tidak akan selamanya bersemanyam dalam benangku, tergantung indah di kelopak mataku. Itu tidak akan selamanya, tapi yang menjadi permasalahannya, sulit bagiku melewati hal ini, sulit bagi batinku, untuk menghadapi situasi seperti ini. Apa bisa kamu mengajarkanku, cara untuk mengarungi samudera dengan dua tangan dan kaki ini. Dengan harapan yang pasti aku akan menggapai tepian dengan tanpa benyak melewati rintangan yang menghadang. Tidak jadi masalah, engkau hadiakan aku hanya lambaian tanganmu, sebagai tanda perpisahan, tapi jangan engkau hadiakan aku bekal kerinduan dan kasih sayang, yang tidak terbalas. Biarlah rindu dan cinta yang masih ada dalam hati ini, aku habiskan dengan bercerita disetiap tempat singgahanku, biarlah rindu ini, aku habiskan dengan air mataku. Sehingga pada akhirnya air mata ini tidak tahu lagi caranya untuk menangisimu.
Aku pasti bisa, aku hanya harus sedikit bersabar dengan waktu yang saat ini menjadi lawanku. Sekarang jalanilah hidupmu dengan doa dan usahamu, dan aku akan menjalani hidupku dengan perasaan yang akan menuntunku. Dengan doa yang menjadi kekuatanku, dengan iman yang menjadi bentengku. Aku merangkai cerita yang paling indah bersamamu, tapi aku lupa aku masih ada Allah yang lebih terdahulu membuat cerita dalam hidupku, menjadi cerita yang sangat indah. Sehingga pada suatu saat nanti, ketika cerita indah itu akan menjadi miliku, kenanganmu bersamaku hanya menjadi pengantar kebahagiaan yang sesungguhnya yang menjadi milikku. Sekarang aku hanya berdoa kepada pemilik kehidupanku, agar cerita yang ia rangkai segera menjadi penyempurna perjalanan hidupku. Dan aku akan memutuskan melupahkan sejarah singkat yang perna kita lewati.
Cerpen Karangan: Ismisari Ismail
0 komentar:
Posting Komentar