Cerpen Karangan: Miftahul Jannah Mjn
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 30 November 2014
Dengan tubuh yang terbilang kurus dan kulit hitam yang penuh debu aku berjalan sempoyongan. Aku capek sehabis dari gundukan sampah tadi, kakiku sakit terkena pecahan beling yang ada disana. Sendal yang ku pakai tak bisa melindungi kaki ku, maklum saja sendal semata wayang yang cacat Di setiap sudutnya dan sudah layak untuk diwafatkan kini masih ku pakai. Huh jangankan untuk membeli sendal, baju dan celana saja aku cuma memiliki beberapa pasang, mungkin tak sampai lima pasang, dengan dasar kain yang serba robek. Aku selalu terkucilkan oleh keadaan sekitar, begitulah nasib anak jalanan sepertiku.
Hari ini aku belum sama sekali mengisi perutku tapi keadaan ini sudah sangat biasa ku lalui. Wajar saja, aku kan cuma pemulung barang rongsokan. Penghasilan ku jarang mencapai puluhan ribu perhari. Jangankan puluhan ribu, lima ribu saja sangat susah untuk ku dapatkan. Huhh begitulah nasib yang harus ku lalui ini, semua sangat sulit untuk ku jalani. Tapi tak apalah, semua mungkin sudah menjadi garisan hidup ku.
Sepanjang jalan pikiranku melayang kesana kemari. Dan mataku jelih melirik setiap sudut untuk mencari barang barang rongsokan, berharap akan kutemukan banyak barang rongsokan yang bisa mengisi karung dekil ku ini. Tapi, saat mentari akan segera sembunyi masih tak ku dapati setengah karung pun barang rongsokan itu. Rencanaku untuk berbagi rezeki dan membantu teman lain yang kelaparan tak dapat ku wujudkan, bukannya aku tak menghiraukan mereka. Tapi perut ku sendiri, sedari tadi juga belum ku isi dengan sebutir nasi pun. Sering kali aku berharap bisa merasakan empuknya ayam bakar, hmmm… Tapi semua itu hanya mimpi belaka bagi ku. Karena, itu sangat sulit untuk ku dapatkan. Yaa begitulah kehidupan ku.
Dulu saat mereka masih ada aku sempat sekolah, tapi saat ubak ku sakit-sakitan aku harus putus sekolah dan membantu umak cari uang. Setelah 4 bulan kepergian ubak, aku harus menerima kenyataan bahwa umak ku juga ikut pergi bersama ubak. Kini aku hidup sebatang kara, aku tak punya saudara dan sanak keluarga lagi.
Tak terasa sudah lama perutku berbunyi, bunyi yang menandakan bahwa aku sudah sangat lapar. Sering kali aku berdoa “tuhannn kirimkanlah makanan untukku” tapi semua tak pernah terkabul, aku sadar, berdoa saja tidak cukup. Aku harus berusaha agar bisa mendapatkan sesuap nasi. Tapi Usaha apa yang belum Ku lakukan? Sepertinya sedari tadi aku sudah berusaha… dan kenapa tiba tiba kepala ku pusing, pengelihatanku menjadi gelap dan tubuhku sudah tak kuat untuk berdiri. Dan tiba-tiba BRUKKK tubuhku yang kurus pun akhirnya menyentuh tanah.
Setelah lama tak sadarkan diri, tiba-tiba aku melihat ada seorang wanita yang tersenyum kecil padaku. Aku tak tau siapa wanita ini, yang jelas dia kelihatan ramah. Wanita setengah baya yang menemukanku saat tergeletak di jalan itu ternyata sangat baik padaku. Aku sangat berterima kasih padanya, dan tak kusangka ternyata dia mempunyai rasa simpati yang tinggi pada ku seorang anak jalalan yang biasa dianggap sampah.
“nak, kamu kenapa?” tanyanya ramah
“aku…” jawabku seolah tak mampu meneruskan kata-kata
“kamu laper?” ucapnya singkat
“i..iyaa tante” balasku sambil memegang perut yang hampir 2 hari sudah tak diisi
“ya udah, kita makan aja di warung sana” ajaknya sambil menunjuk warung seberang
“tapi…” ucapku sambil tertunduk
“tenang nak, biar tante yang bayar” rayunya pelan
“tante nggak malu makan bareng aku?” tanyaku perlahan
“loh, kenapa harus malu” jawabnya tersenyum
“aku ini kan kotor, kumel dan dekil” ocehku kesal
“bagi tante kamu itu bersih” tegasnya padaku
“bersih? Jelas jelas pakaianku ini penuh dengan berbagai macam noda” tanyaku heran
“bersih bukan hanya dilihat dari pakaian, tapi bersih dilihat dari cara menjalani hidup” jelasnya panjang lebar
“maksud tante?” ucapku pelan
“bukannya tante mau menghina, kamu kan anak jalanan dan seorang pemulung. Tapi akhlak kamu sangat terpuji dan patut dicontoh oleh semua orang. Tante tau nahan laper di perut itu sangat sulit, di dunia ini tak banyak orang yang rela kelaparan, bahkan kebanyakan dari mereka tega melakukan hal yang tercela demi untuk mengisi kekosongan perutnya. Mungkin di dunia ini sulit menemukan orang sepertimu, karena hanya bisa dihutung menggunakan jari. Jadi tante sangat menghormati orang sepertimu nak” ketusnya mantap
Aku terharu mendengar ucapannya, biasanya aku selalu dipandang sebelah mata oleh orang yang melihatku. Aku selalu dianggap sampah oleh mereka. Tapi kali ini tidak, aku bahkan dihormati oleh orang yang bijaksana. Dan aku berjanji akan selalu mengedepankan kejujuran dari sisi kehidupan manapun yang ku jalani. Karena kejujuranlah yang dapat membuat kita terhormat di mata orang.
“ya udah jangan lama-lama disini, ayo kita bergegas ke warung” ajaknya semangat sambil melontarkan senyuman manis
“sebelumnya, aku banyak terima kasih sama tante” jawabku tegas
“sama-sama. Ayo kita ke warung, kasian tuh perut kamu udah dangdutan” hiburnya singkat
Setelah sampai di warung, aku dan tante itu pun makan barsama. Tapi saat aku makan-makanan yang jarang aku dan teman-teman ku makan itu, tiba-tiba aku teringat dengan mereka yang mungkin lagi kelaparan. Betapa kejamnya jika aku membiarkan mereka kelaparan, sedangkan aku disini makan enak. Tanpa pikir panjang aku pun langsung membungkus nasi dan lauk pauk jatahku itu dengan kantong hitam.
“lohh kenapa dibungkus?” tanya tante itu heran
“ini aku simpen untuk temen-temen yang lagi kelaperan” jawabku pelan
“tante tau kamu pasti lagi laper, jadi habisin aja. Biar nanti tante beli nasi bungkus untuk temen-temen kamu yang lain” tawarnya dermawan
“sekali lagi terimah kasih tante” ucapku sambil tersenyum
“sebenarnya tante udah sering liat kamu lagi nyariin sampah, Tante sering liat kamu kepanasan dan rela terbakar matahari demi mencari sesuap nasi. Bahkan tante sering melihat kamu tak dapat membendung keringat lagi. Dari itu lah tante mengagumi keteguhan hati mu menjalani kehidupan yang rumit ini” jelasnya padaku
“terimakasih tante” ucapku singkat
“udah kamu nggak usah kebanyakan terimakasih” tegasnya santai
“kenapa te?” tanyaku heran
“tante yang seharusnya terimakasih dengan mu” ucapnya sambil tersenyum
“loh emang kenapa te?” tanyaku penasaran
“karena kamu telah banyak mengajarkan tante arti dari menjalani hidup. Tante senang bisa kenal dengan orang seperti mu” jawabnya padaku
Setelah selesai makan dan berbincang bincang aku pun pulang membawa 2 bungkus kantong putih yang besar, tentu saja semua kantong itu berisi nasi yang akan ku bagikan pada teman-teman yang lain. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan tante tadi. Dan sekarang aku baru sadar, bahwa di luar sana tak semua orang mengangap gembel itu hina. Bahkan tak banyak dari mereka yang mengagumi sifat dan gaya hidup seorang Gembel Jalanan yang biasanya hanya dipandang sebelah mata. Dan ternyata RONGSOKAN JALANAN bukan hanya sampah yang dianggap mengganggu, melainkan dapat pula dijadikan sebagai contoh untuk menjalani kehidupan di dunia yang keras ini.
Cerpen Karangan: Miftahul Jannah Mjn
0 komentar:
Posting Komentar