“Shady tidak mau ah!!. kan malu, Ma!” bantah Shady dengan cemberut.
“Kenapa malu? Mengambil uang orang itu baru malu!” Mama terus mendesak Shady pergi ke pasar.
“Kalau Mama punya anak perempuan yang sudah besar, Mama tidak akan menyuruh Shady.”
“Shady!!” Mama dengan sangat sabar menjelaskan kepadanya. Shady diam
menunduk sambil memainkan jari-jari kakinya menggaris-garis ubin.
“Iya deh, ma! Shady mau” kata Shady malu-malu. Akhirnya Shady tidak tega
menolak permintaan mamanya. Ia memang selalu bertugas ke warung, tetapi
baru kali ini dia ke pasar. Shady juga biasanya menjaga kedua adiknya,
Sanny dan Vanny. Hari ini mama begitu sibuk dengan cuciannya sehingga
mama menyuruh Shady belanja di Pasar Kaget.
“Ditulis atau dihafal Sha?” tanya mama berdiri di samping Shady.
“Dihafal saja, ma. Supaya biasa, melatih ini, nih!” Shady menunjuk keningnya.
Mama tersenyum mengangguk. Kemuadian Mama menjelaskan bahan-bahan yang
harus dibelinya. Shady mengulang kata-kata Mama dan Mama kelihatan puas.
Selama di perjalanan Shady terus mengingat-ingat. Ketika akan
membelok ke pasar, Shady melihat beberapa teman sekolahnya. Hati Shady
berdebar-debar, ia malu takut diejek teman-temannya. Shady berjalan
menunduk. Ia bertemu lagi dengan teman-temannya yang lain.
“Anak laki-laki pergi ke pasar! Kamu mau beli terasi, Sha?” tanya
Chaiyo, anak paling besar di antara mereka. Teman-temannya yang lain
menertawakannya.
“Kenapa malu? Aku membantu mama. Tidak seperti kalian yang hanya main terus!” Shady menjawab dengan berani.
“Sok kamu! Mentang-mentang anak mama yang rajiiinnn…!” umpat Chaiyo dengan kesal. Shady tak menjawab. Ia terus berjalan.
Shady sampai di pasar kaget. Pasar itu ramai sekali. Banyak sekali orang yang berbelanja.
Hampir saja Shady lupa pesanan mama.
“Beli…” ucap Shady pelan
“Beli apa?” tanya penjual sayuran
“Beli… beli bayam tiga ikat, sama bawang merah dan bawang putih
seratus,” jawan Shady sambil mengulurkan uangnya kepada penjual sayur.
Kemudian Shady lari dari situ. Dia ke penjual ikan untuk membeli
ikan. Shady lalu membeli kerupuk udang, bumbu dapur dan tomat di penjual
sayur lain. Merasa sudah dibeli semua, Shady pulang. Hatinya sangat
senang.
Sampai di rumah, langsung ditaruhnya belanjaan itu di atas meja dapur.
Shady mencari mamanya. Dia lalu bercerita pengalamannya. Mama hanya
tersenyum mendengar cerita Shady. Dalam hati mama bangga pada Shady.
“Terus sekarang Shady capek?” tanya nenek yang sedari tadi mendengarkan cerita cucunya.
“Iya, kan jauh nek! Shady haus!” jawabnya.
“Kalau begitu” nenek diam sebentar. “Nih, hadiah untuk anak yang rajin”
nenek memberikan beberapa buah jeruk, pisang dan kue untuk Shady.
“Wah, terima kasih nek!” kata Shady dengan gembira.
“Itu upah untuk anak yang rajin. Sekarang jaga adikmu sebelum kamu mandi dan pergi ke sekolah!” kata nenek sambil tersenyum.
Shady tersenyum dan berlari membawa makanan dari nenek. Dia melihat adiknya, Sanny dan Vanny, di teras depan rumah.
Cerpen Karangan: Winanti Basrul
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar