Translate

cerpen die with you

Written By iqbal_editing on Selasa, 30 Mei 2017 | 05.47


Death is no dream
For in death i ‘m caressing you
With the last breath of my soul
I’ll be blessin’ you
Gloomy sunday…
Dreaming, i was only dreaming
I wake and i find you asleep
In the deep of my heart, dear
Darling, i hope that
My dream never haunted you
My heart is telling you
How  much i wanted you
Gloomy sunday
Petikan syair Gloomy sunday mengalun remang dari gramophone antik di sudut kamar mewah yang mulai berpendar kelam. Sepi dan dingin .. hanya hiasan bunga – bunga rose merah dan bunga lily terikat pita emas yang jadi warna penceria ruangan beku itu.
Beberapa lilin berwarna ungu dan pink menyala romantis disudut kamar dihiasi karangan bunga krisan, menambah hangatnya hawa roman kepada sesosok langsing bermata hijau sayu yang duduk termenung menikmati alunan syahdu mendayu dari alat musik peninggalan keluarga besarnya itu.
Rambut emasnya yang ikal tersanggul rapi berhias bunga mawar putih imitasi, wajah lembut polosnya yang terbiasa tanpa tutupan bedak dan eyeshadow, hari itu terlihat anggun berlukis.
Bibir tipis indah menyungging senyuman miris seorang perempuan yang menggelepar kesakitan menahan tangis.
Mata sayu nya menatap nanar pada sosok sang mempelai lelaki yang terbaring diatas ranjang satin berlukis warna merah.
” Hari ini .. hari pernikahan kita Ben, kenapa kau belum bersiap memakai jas pengantinmu?”, ucapnya lemah dan getir.
Tak ada sahutan dari Bernard, hanya sepi bergema memantulkan  suara lembutnya yang kemudian menggema keseluruh ruangan.
“Jessica, kau sahabatku terbaik .. bisakah kau membantuku membangunkan Bernard? Kami harus bersiap sejam lagi, pastur sudah menunggu di Gereja untuk pemberkatan pernikahan kami, apakah kau lupa?”, tanyanya kepada sang sahabat Jessica yang duduk di kursi rias tanpa bersuara, diam menatap kaca raksasa berukir Dewi Aphrodite simbol sang Dewi Cinta, matanya menatap kosong tanpa isi, dengan pupil mata yang mulai menciut mendingin.
Adellia menahan sesak didada ketika tak seorangpun dari keduanya menjawab pertanyaannya, hanya diam dan duduk membeku seperti mayat.
Seteguk wine merah membasahi serik nya kerongkongan sang mempelai wanita yang kesepian dan terabaikan.
Perlahan dia mendengus pelan lalu bangkit dari kursi mewah berwarna emas yang terbungkus rapi dengan kulit mahal bermutu tinggi.
” Sungguh kau tidak berguna Ben, untuk memakai tuxedo pengantin saja harus mempelaimu yang memakaikannya untukmu, sungguh anak ibu yang manja”, diraihnya sebuah tuxedo mewah hitam rancangan dari rumah mode Paris ternama, paket khusus yang baru tiga hari lalu sampai di kediamannya.
Dihampirinya sang mempelai Bernard yang masih terbaring di atas ranjang, agak sedikit kesulitan Adellia memakaikan tuxedo mewah itu ke badan kekasih abadinya, beberapa kali tubuh kekar itu limbung, namun dengan sigap Adellia menahannya dan mengganjal dengan bantal bersusun sedemikian rupa. Terengah Adelia beringsut turun dari ranjang megahnya, ditatapnya paras elok sang pujaan yang mulai memucat.
” Ahhh… lihatlah, kemeja sutra ini sangat mahal Ben, dan kau mengotorinya, sungguh terlalu… aku yang membelikannya untukmu”, dengusnya tajam.
Kemeja putih berbahan sutra itu ternoda oleh warna merah, namun bukan merah anggur yang habis diteguk oleh Bernard sebelum dia terkapar.
Matanya beralih kepada Jessica yang tidak juga kunjung bangun untuk membantunya, nampak tidak perduli dengannya. Perempuan berdada 38 B itu hanya terdiam, tak bersuara. Adellia berlahan menghampiri perempuan berambut coklat yang diakrabinya sejak mereka sama-sama menjadi mahasiswa baru di kampus ibukota ternama.
” Jessi, tidak ada keinginanmu yang bisa kutolak sayang, karena kau adalah sahabatku satu-satunya, baju rancangan terkenal pun kuhadiahkan kepadamu, ketika aku melancong keluar negeri kau tidak pernah absen disebelahku, tetapi ketika aku menemukanmu tidur dengan mempelaiku, menggodanya dengan gumpalan dadamu .. aku tidak  bisa memberikanmu itu Jess, dia milikku”, bisiknya pelan.
Di dada sahabatnya itu terhunjam sebatang pisau kecil bergagang perak tembus ke punggung, terbayang rasa sakit yang luar biasa menjalar di saraf Adellia. Ditutupnya mata sang sahabat penggoda calon suaminya yang menatap membelalak menahan sakit menghujam.
Tersenyum kecut Adellia menahan sesak nafasnya dan tertawa lirih. Gaun pengantin sutranya yang semula bersih tanpa noda kini terlihat kotor dan berbau amis.
” Lihatlah kalian, baju mahalku jadi kotor”, ujarnya gusar.
Setetes air bening mengalir dari sudut mata yang dihiasi bulu palsu dengan eyeliner tebal.
Rasa kesepin dan rasa sakit menembus relung jiwanya, sayup terdengar lagu klasik Gloomy sunday masih mengalun berputar meracuni syaraf fikir dan akal sehatnya.
Tangisnya pun pecah, ia meraung memukuli sesak dadanya, rasa sakit yang menggerogoti sendi dan sel kromosom yang menggeliat.
” Mati lah kalian… pergilah keneraka!!!!!”, jeritnya meronta dengan uraian air mata.
Lolongan tangisnya sangat menyayat hati siapapun yang mendengarnya, sedih ….
Disentuhnya wajah kaku sang mempelai pria yang bernasib sama,seperti Jessica, rahang kokohnya mengatup rapat menahan ngeri ketika ujung belati menusuk ulu hatinya.
” Apakah sakit Ben?? Rasanya sesakit hatiku tidak?”, bisiknya pelan, dirabanya belati berukir yang dibelinya setahun lalu di Roma, kilatan tajam berbalut amis darah itu ditariknya dari ulu hati sang kekasih.
Tangis hebatnya yang terakhir sebelum belati berdarah itu ikut merenggut nyawanya, jiwanya menggelepar.. Adellia ikut meregang nyawa, menyusul kekasih abadinya yang telah membuatnya kecewa. Sungguh menyakitkan ketika ia masih hidup harus menerima kenyataan Bernard tidur dengan Jessica sahabat karibnya, sakit oleh tusukan belati diulu hatinya yang mulai menghentikan suplai oksigen ke dalam otaknya, dan Adellia pun ikut mati bersama kekasih dan sahabat yang telah menghianatinya.
Ketika sang pemilik istana mewah itu bergulat dengan nyawa, alunan lagu dari gramophone itu seolah punya arwah penghibur.. terus berputar tanpa berhenti bahkan sampai Adellia tak bernafas lagi.
…..
My heart is telling you
How much i love you
……
The End
🌹 Janitra Chandra🌹

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik