“Sar, ke kantin yuk” ajak teman-temanku
“Ayoo” seruku
Lalu aku dan temanku berjalan ke kantin, aku selalu membeli minuman botol karena aku berfikir bahwa botol tersebut bisa didaur ulang dan bisa menghasilkan uang, lumayan untuk membantu ibu.
“Asalamualaikum ibu, aku pulang” sapa ku
“Waalaikum salam” sambut ibu
“Bu, kemarin aku meletakan botol-botol di dapur, ada di mana ya sekarang?” tanyaku
“waduh nak, ibu tidak melihat ada botol di sini” jawabnya
Jadi, setelah aku mencari botol-botol itu, akhirnya tidak ketemu dan aku langsung beristirahat di kamar. Lantas aku mengerjakan tugas-tugas sekolahku karena besok waktunya untuk kembali lagi bersekolah, aku pun sudah tidak memikirkan tentang botol-botol itu.
Waktu menunjukkan pukul 9.30 malam waktunya aku untuk tidur. Sebelum tidur, saudaraku yang bernama Wifo pun mengajakku mengobrol. Jujur saja, aku tidak suka dengan sikapnya karena ia sangat tidak peduli terhadap keadaan kami yang buruk ini, bahkan ia tidak pernah mau membantu ibu.
Alarmku kembali berbunyi saat jam menunjukkan tepat pukul 6.00 waktunya untuk berangkat ke sekolah lagi. Aku berjalan melewati jalan yang sama seperti kemarin, jalan 500 meter itu. Saat di tengah-tengah perjalanan, aku melihat seorang bapak-bapak membawa karung di pundaknya, ia sedang mengambil botol-botol bekas persis seperti botol-botol yang sempat aku simpan saat itu. Melihat bapak itu, aku jadi teringat ayah, ayah mau melakukan apa saja demi menafkahi keluargaku tetapi sekarang ayah pergi meninggalkan kami entah kemana.
Aku pun melanjutkan perjalanan di sekolah, sesampainya aku di sekolah aku melakukan kegiatan seperti biasanya yaitu masuk kelas, belajar, makan siang dan pulang. Saat itu, aku pulang melewati jalan yang sama lagi dan kebetulan aku melihat bapak-bapak itu ada di dekat rumahku, apa yang ia lakukan di sana? Lalu aku langsung menghampiri bapak itu, aku belum sempat lihat wajahnya
“Pak, tunggu!!” kataku
Tetapi ia cepat-cepat pergi dari hadapanku tidak tahu mengapa. Aku langsung masuk ke rumah dan menyapa ibu dan tiba-tiba ibu meminta tolong untuk membereskan lemarinya. Karena ini perintah ibu, aku tidak mungkin menolak jadi aku langsung membereskan lemari ibu. Lalu aku menemukan sepotong kertas yang bersi
“Saya harus pergi mencari nafkah di tengah keramaian, saya ingin anak-anak saya menjadi orang-orang hebat oleh karena itu saya rela melakukan ini.”
Ternyata… bapak-bapak yang selama ini aku lihat mengambil botol-botol bekas adalah ayahku. Memang aku dan keluargaku adalah orang yang pas-pasan, mungkin tidak mampu. Ayah sampai rela bekerja menjadi pemulung demi aku. Sejak itu, aku makin serius dan rajin sekolah agar aku dapat membanggakan kedua orangtuaku terutama ayah.
Cerpen Karangan: Cindy Rahmatya
0 komentar:
Posting Komentar