Translate

cerpen di mabuk cinta

Written By iqbal_editing on Jumat, 09 Juni 2017 | 02.50

“Hufht.. Bagaimana caranya memberitahu dia kalau aku menyukainya,” Kataku dalam hati di depan kaca sambil menggigit bibirku. “Kalau tidak ku katakan, aku tidak bisa memendam terlalu lama.” Hatiku terus berceloteh kebingungan.
Aku mengambil handphone yang terletak di atas meja membuka facebook dan mulai menulis rasa hati dengan harapan dia peka kalau statusku untuknya. “Gak tahu kenapa, kepikiran dia terus. Apa ini yang namanya jatuh cinta?” Begitulah bunyi status di facebookku. Aku mengenalnya cukup lama sudah saling melempar perhatian, pergi bersama. Setiap perhatian yang ia berikan seolah-olah ada percikan cinta yang menyentuh hatiku perlahan dan semakin hari aku semakin jatuh cinta. Keesokan harinya aku main ke tempat lelaki itu berkumpul dengan teman-temannya. Tiba-tiba…
“Status kamu buat siapa?” Dia berbisik mendekatiku menanyakan status itu, aku diam dan hanya membalas senyum malu. “Menurut kamu?” jawabku. Dia diam menatapku dalam dan tersenyum. Hatiku semakin berdetak kencang, napasku tidak beraturan. Aku berusaha menghindarinya ke luar dari ruangan. Handphone-ku bergetar pesan singkat masuk. “Aku tahu kok, aku juga sayang sama kamu.” Dia memang tidak mengejarku saat ku ke luar ruangan, dia mengirim pesan itu saat aku sudah menjauh dari pandangannya, mungkin itu maksud dari tatapannya barusan.
“Maksud kamu apa sih?” Membalas pesan itu.
“Ya.. Udah gak usah bohong, kita jalani aja hubungan ini ya,”
Pesan balasan yang dikirim darinya lagi dan lagi membuatku semakin susah menghirup udara, sesak karena bahagia, aku tidak membalas pesannya. Dia pun ke luar ruangan menemuiku yang sedang duduk menikmati keindahan malam penuh cinta ini. Aku tidak sadar tiba-tiba dia di sampingku.
“Hai..” Sapanya dengan memegang pundakku.
“Eh.. Eemm iya,” Jawabku salah tingkah.
“Gimana?”
“Gi.. Gimana apa?”
“Mau jadi pacar aku?” Yes!! Akhirnya kata-kata itu terucap dari bibir manisnya.
“Hah? Apa?” Aku pura-pura tidak dengar untuk memastikan benar atau gak dia mengatakan itu.
“Ka-mu mau ja-di pa-car a-ku gak?” Berbisik di telinga sebelah kiriku. Seperti ada yang bermain gendang di hatiku.
Dag.. Dig.. Dug. Aku diam menatapnya penuh cinta berharap dia tahu arti dari tatapanku, kalau aku jawab, “Ya aku mau.” Dia memegang tanganku dan bertanya sekali lagi. “Gimana? Mau?” Aku hanya mengangguk dan terlihat kebahagiaan dari wajahnya. Kita sama-sama menghela napas panjang dan berbarengan bilang, “I love you.” Kemudian tertawa bersama. Rembulan yang menggantung itu menjadi saksi awal kisah cinta aku dan dia.

Waktu terus dimusnahkan oleh jarum jam, hari terus berganti, bulan demi bulan sudah berlalu. Satu tahun sudah aku bersamanya, menjalin hubungan ini. Kecemburuan mulai timbul saat aku mendengar dia sering pergi bersama wanita lain. “Kamu kemarin ke mana? Ada yang bilang kamu pergi sama cewek itu.” Kataku kesal.
“Itu cuma temen aku bukan siapa-siapa,” Jawabnya dari ujung telepon.
“Besok kita ketemu jelasin semuanya.” Kemudian aku tutup teleponnya tanpa mendengar jawaban apa pun darinya.

Lima belas menit aku menunggu di cafe ini, dan akhirnya dia datang juga.
Aku mulai melontarkan beberapa pertanyaan, “Kemarin cewek itu siapa?”
“Itu cuma temen, kamu gak percaya sama aku?”
“Bukannya gak percaya, kamu lebih menghabiskan waktu sama dia dibanding sama aku. Wajar dong aku kesel sama kamu,” Aku menunduk menyeka ujung mataku. Hatiku perih rasanya. Dia memegang jemari sebelah kiriku dengan erat dan sebelah kanan mengusap kepalaku.
“Sayang denger aku, dia hanya teman kecilku. Di hatiku cuma kamu. Tolong percaya sama aku, gak ada lagi wanita lain yang bisa membuatku dimabuk cinta selain kamu. Cuma kamu wanita yang bisa membuatku tergila-gila.” Aku mulai meneteskan air mataku dan menatapnya. “Aku takut kehilangan kamu.” Kataku.
“Kamu gak akan kehilangan aku, aku janji.”
Dia memelukku erat, suasana seolah bersorak. “Yeaaayy!!”
Angin bertiup sejuk malam itu, bulan terang sangat indah seakan hanya menerangi kami berdua. Hubunganku dengan dia baik-baik saja sampai saat ini, karena saling percaya dan memahami satu sama lain. Cinta adalah bagaimana cara kita menyelesaikan masalah hati tanpa ada kata ‘berakhir’.
Cerpen Karangan: Nurlaila Kurnia Ningsih

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik