Aku memandangi jilbab unguku yang melekat di kepalaku menggunakan
cermin besar. Sebuah kain halus dan lembut itu seolah-olah membuatku
semakin aneh di cermin. Seperti bukan bayanganku, tapi bayangan orang
lain.
Benda aneh ini selalu saja membuatku gerah. Risih. Mamaku selalu
berkata, bahwa kita wajib menutup aurat dengan mulai dari yang terkecil.
Yaitu menggunakan jilbab aneh ini. Mamaku memang seorang perempuan
penganut agam Islam sejak berumur 35 tahun. Bahkan, setiap mama pergi
kemanapun, entah ke pasar, menjemputku di chugakko, ia selalu mengenakan kain putih suci tersebut.
Aku sedikit kagum melihat pendirian mama yang selalu mengenakan
jilbab tanpa rasa gengsi maupun malu. Terlebih ketika mama berada di
rumah sekalipun, penampilan mama tak luput dari jilbab putihnya itu.
Tapi sebaliknya, Ayahku tidak seperti ibuku. Ia selalu pergi
kemana-mana tanpa menghiraukan kami. Entahlah, apa yang membuat ayah
seperti itu. Tapi aku sependapat dengan ayah. Aku dan ayahku penganut
sejati agama Shinto, Kyushu di Jepang. Tapi sayangnya, ayah telah meninggalkan kami ketika aku berumur tepat 7 tahun di hari ulang tahunku.
“Coba lihat di cermin, Sayang.Suteki desu ne1..”
puji mama padaku. Aku masih terheran-heran. Bayangan siapa yang kini di
hadapanku? Aku kah? Ah, tidak mungkin. “Kau sangat terlihat cantik
dengan jilbab ini..” sambung mama cepat-cepat ketika aku ingin
menyanggahnya.
Aku mendesah halus dan memanggilnya pelan, “Mama..,”
“Ya, Sayang?” balas mamaku dengan tepukan halus di kepalaku.“Untuk
apa mama membelikanku kain ini?Padahal, mama tahu bukan? Aku dan Ayah
penganut agama Shinto. Dan seperti yang ku ketahui, agama yang ku peluk
tidak mewajibkan aku untuk menutupi rambut indahku..,” ujarku polos.
Mama tertawa pelan mendengar pertanyaanku. Aku semakin
penasaran.Sejurus kemudian mama keluar dari kamarku dan membawa vas yang
berisi bunga-bunga indah.“Miyoshi, kemarilah, Nak.Duduklah dengan Ibu,”
pinta ibuku dengan senyum yang terukir di kedua sisinya.Cantik sekali.
Meskipun umur mama sekarang di makan usia. Ah, mama seperti
remaja-remaja Korea yang pernah membintangi di film yang –mungkin—saat
ini sedang booming dimana-mana.Seperti drama full house.
Aku mendekati mama yang duduk di kursi sofa kamarku dan ku tatap
matanya lekat-lekat. “Coba kau perhatikan vas ini.” Aku menatap vas itu
dengan tatapan heran.Ada apa dengan vas ini? “Kau merasakan apa?”
“Aku tidak merasakan apa-apa.” Ucapku datar.
“Sungguh?”
“Ya.”
Aku merasakan hembusan nafas pelan Mama. Ia pasti kecewa karena apa
yang ingin mama sampaikan tidak dapat ku cerna dengan baik-baik.
Tiba-tiba saja terlintas di pikiranku sebuah jawaban yang mungkin benar.
“Aku mengerti!Aku tahu, Mama!” sorakku gembira di depannya.Ku lihat
mamaku begitu tersenyum sumringah ketika aku menemukan jawaban yang
hanya sekilas terlintas di pikiranku.Mamaku kembali bersemangat
menanyaiku.“Apa? Coba kau katakan, gadis manis!”
“Vas ini kurang sempurna.”Senyum mama semakin melebar.Mempertegas lesung pipit di kedua sisi pipi mama.
“Karena?”
“Ia butuh sesuatu untuk melengkapinya.” Mama masih memandangiku
dengan harapan agar aku bisa memuaskan hatinya. “Lalu?” ujar mama.
Aku mengambil bunga yang tidak jauh berada di samping mama.Ku rapikan
bunga tersebut dengan jari lentikku kemudian ku masukkan ke dalam vas
yang sudah tua namun masih enak untuk di pandang.Aku sedikit kagum
dengan benda di depanku ini.Sebuah vas berwarna kuning cerah dari
plastik.Di sisinya tertempel sebuah pita pink yang indah.Di tambah pula
bunga-bunga mawar cantik berwarna merah dan putih.
“Sugoi desu yo!2Kau memang gadis pintar,
Miyoshi! Mama sangat bangga padamu.” Mama memelukku dan mencium keningku
hangat. Aku tersenyum dan bertanya.“Jadi?”
Mama melepaskan pelukannya dan duduk semakin mendekat di sampingku.
“Begini, Sayang,” mama berdehem kemudian melanjutkan pembicaraannya.
“Bukankah kau tau, sebelum ada bunga-bunga cantik ini, vas ini begitu
jelek untuk di lihat?” aku mengangguk.
“Lalu, apakah bunga itu untuk mempercantik sekaligus pelengkap vas
tua itu, Ma?” sanggahku sebelum mama meneruskan kalimatnya. “Benar
sekali, Nak.” Lalu, “Coba bayangkan jika vas tua itu tadi tanpa
bunga-bunga cantik ini?” mama menyentuh satu bunga mawar merah.
Aku berpikir memutar otak. Membayangkan apa yang di ucapkan mama.
Jelas-jelas vas itu kurang cantik. Lama-lama, aku tahu kalimat mama akan
berujung kemana.
“Tidak bagus, bukan?Nah, sekarang kembali ke pertanyaanmu tentang
memakai jilbab tadi.Umpamakan bunga itu jilbab, dan vas itu
manusia.Manusia di ciptakan Allah nyaris sempurna.Bahkan Allah,
memerintahkan umatnya, khusunya kaum hawa—wanita– untuk menjulurkan kain
panjang ke seluruh dadanyauntuk menutupi auratnya.Bukan hanya menutupi
auratnya saja, Nak.Jilbab itu juga untuk mempercantik diri kamu sendiri.
Membuat diri kamu lebih anggun dan percaya diri, bahkan kau akan di
sayang Tuhan melalui nikmatnya yang selalu kau rasakan setiap hari.
Seperti saat ini..,”
Saat ini?Ya, aku memang bersyukur telah di beri mama seperti
mamaku.Mama yang selalu menyayangiku, dan sekalipun tak pernah memaksaku
untuk berpindah ke agamanya.Ia hanya memberiku semangat dan keyakinan
tentang agama Islam yang memang benar-benar membimbing ke jalan Surga
Allah kelak nanti.
Ku renungkan sekali lagi ‘ceramah aneh’ dari mulut mama.Allah? Oh ya,
aku tahu. Dia adalah Tuhan yang selalu di puja-puja mama.Aku pernah
terbangun ketika waktu sepertiga malam.Aku melihat mama bangun seorang
diri, kemudian mengambil air—wudhu—dan melaksanakan shalat.Entah shalat
apa yang dilaksanakan mama saat itu. Dalam shalatnypun pernah ku dengar
mama sering sekali menyebut nama ‘Allah’. Padahal waktu aku sedang
mengintip dari balik jendela, aku tidak menemukan Allah disana.Aneh
bukan?
Ya.Memang aneh untuk orang sepertiku.
Tadi kata mama, Jilbab untuk mempercantik diri.Setelah ku
pikir-pikir, memang benar.tanpa basa-basi aku langsung berlari kecil
menuju cermin besarku. Ku liukkan badanku ke kanan, kemudian kekiri, aku
berpose senyum dan ku perlihatkan sederet gigi putihku. Rambutku yang
cokelat mudapun tidak terlihat sama sekali, karena terbungkus rapi
menjadi satu ke dalam jilbab yang ku pakai saat ini.
Mama tersenyum melihatku bertingkah laku seperti ini.
“Bagaimana?Lebih anggunkan?Kau terlihat cantik melebihi seorang
bidadari,” lagi-lagi mama memujiku.Aku tertawa geli. Mama memang pintar
membuatku salah tingkah.
Pikiranku melayang pada saat musim panastahun lalu, warga Jepang
sibuk mempersiapkan perayaan pesta kembangapi Hanabi Takai. Beribu-ribu
hingga puluhan ribu kembang api dipersiapkan untuk merayakan pesta di
musim panas.
Saat merayakan Hanabi Takai, warga Jepang, khususnya kaum perempuan
berbondong-bondong memakai pakaian tradisional Jepang, seperti Yukata
dan Kimono.Selain itu, ada juga warga Jepang yang memakai pakaian
menarik untuk menikmati pesta Hanabi dan tentunya agar menarik perhatian
para turis yang berdatangan.Dan saat itu satu-satunya perempuan yang
memakai jilbab adalah Ma-ma-ku.Ya, hanya Mamaku.Bahkan mama sempat
memakai cadar—penutup hidung hingga dagu—berwarna hitam polos.
Dan seperti yang ku katakana sebelumnya. Mama tidak malu bahkan mama
lebih percaya diri dengan penampilan Islaminya. Meskipun mama baru
memeluk agama islam tiga tahun lalu, ketika kami masih berada di pulau
Hokkaido.
Dan pada hari ini, jam ini, detik ini, aku mengikrarkan dua kalimat
syahadat di hadapan dan di dalam bimbingan mama.Rasanya sejuk sekali
hati ini ketika aku mengucapkan dua kalimat itu.Aku sangat bersyukur
sekali, bisa masuk agama Islam dengan hidayah yang di berikan Allah
kepadaku lewat Mamaku.Totemu shiawase desu3.Dan dengan bismillahirrahmanirrahim, aku berjanji tidak akan melanggar syariat-syariat agama Islam yang sejak zaman nabi telah di tetapkan.
Oh, ya. Beberapa bulan lagi, mama merencanakan akan mengajakku pindah
ke Indonesia. Tepatnya di Solo. Dimana kakek dan nenekku tinggal
disana.Aku senang sekali ketika mamaku menawarkanku hal itu.
“Miyoshi..kau siap merayakan Lebaran bersama keluarga Mama di Indonesia?” ucap mama dengan semangat.
Aku menatap mama dengan teduh.Aku berlari memeluk mama dan
membisikkan sebuah kalimat yang mungkin membuat mama senang
mendengarnya. “Aku sudah memeluk agama Islam seperti mama. Jadi, jika
mama mengajakku Lebaran disana, apa boleh buat? Miyoshi akan tetap
ikut.Miyoshi sangaaaaat senang!”
Ku lihat sekilas air mata mama mengalir. Namun cepat di usapnya agar
tidak terlihat olehku.Aku bangga pada mama.Mama yang tidak pernah jenuh
dan bosan untuk selalu mengajakku ke jalan yang benar.
Dan sekarang, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam bulan
Ramadhan kali ini.Miyoshi cinta Allah. Miyoshi juga sayang sama Allah.
Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku berjanji,akan bertaubat dan
memohon ampun kepada Allah, Tuhan mama yang kini juga menjadi Tuhanku.
Dan aku yakin, Allah maha mendengar lagi maha pengampun.
____________________________
Bagus ya1
Hebat2
Aku sangat bahagia3
Oleh: IlmalanaDewi, Gresik Jawa Timur
Img: Muslimahzone
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar