Suatu ketika Umayah yaitu anak yang nomor 2 jatuh sakit setelah pulang dari sekolah karena kecelakaan di jalan. “Ya Allah apa yang menimpa pada keluarga hamba dan masalah hamba begitu rumit. kata Hadi sambil meneteskan air mata saat memeluk putrinya yang terbaring di tempat tidur rumahnya. Istri Hadi yang bernama Sari juga sama-sama prihatin atas kondisi putrinya yang sedang sakit. “Mengapa engkau menjadi kami dengan jalan seperti ini tuhan”. Perjuangan yang amat berat dalam perjalanan Hadi bersama keluarganya sampai-sampai mereka juga harus ngalami musibah yang kedua kali yaitu rumah yang mereka tinggali terpaksa harus digusur oleh pihak kantib.
Suatu hari Hadi memutuskan untuk berhenti berdagang mengingat harus menemani putrinya bersama istrinya yang sekarang tinggal di kolong jembatan. Pada saat itulah Sari mencoba untuk mencari akal untuk mencari pekerjaan yang halal dan alhamdulilah Sari dapat pekerjaan yaitu buka warung gado-gado dan lotek di pinggir jalan juga. Hanya dengan modal ngutang tetangga yang sudah dianggapnya baik akhirnya Sari membuka warung tersebut. “Semoga hasil daganganku laris”.
Waktu sudah mulai hampir petang saatnya Sari pulang ke rumah dan meja dan kursi tetep diletakkan di tempat karena besok Sari akan berjualan lagi. Sesampai di rumah Sari kaget melihat Umayah berbaring di tempat tidur dan seluruh tubuh Umayah sudah ditutupi kain kafan. Sari meneteskan air mata sambil membuka kain yang menutupi wajah putrinya yang sudah meninggal itu. “Sudahlah bu iklaskan saja memang ini sudah kehendak Allah”. Hati Sari sakit banget seperti teriris pisau akhirnya Sari pun tenang dan merelakan putrinya untuk dimasukkan ke liang kubur. Dari kejadian itu Hadi dan istrinya selalu melaksanakan tahajud untuk supaya meminta kepada Allah sudah dibukakan pintu jalan terang atas musibah yang sudah dialami mereka.
Doa-doa mereka akhirnya terjawab juga. Suatu hari ada seorang pengusaha terkenal di Jakarta yang trtarik dengan makanan khas dari Sari yang konon sangat enak sekali lalu pengusaha tadi datang untuk menemui Sari di rumahnya yang dekat dengan jalan raya. Pengusaha itu bernama Sukirman. Lotek dan gado-gado itu pun langsung dipesannya untuk acara khusus. Alhamdulilah begitu senangnya Sari mendapatkan rejeki yang tidak sedikit jumlahnya.
Pagi harinya Sari berusaha untuk membuat gado-gado dan lotek sesuai pesanan. 3 hari kemudian utusan dari Pak Sukirman datang untuk mengambil pesanan sambil langsung dibayar. Pak Sukirman senang karena pejabat-pejabat bersama dengan karyawannya menikmati gado-gado dan lotek kata mereka makanan ini sangat enak sekali.
Suatu ketika pak Sukirman bersama utusannya datang lagi untuk menemui Sari bersama keluarganya karena tahu kalau putrinya meninggal dunia pak Sukirman turut berbelasungkawa atas meninggalnya putrinya sari itu. Mereka berbincang bincang di sebuah rumah kecil di dekat kolong jembatan. Dalam perbincangan tersebut pak Sukirman memutuskan untuk menawarkan usaha yang sudah lama vakum yaitu rumah makan Nusantara yang isinya berbagai macam masakan tradisional. Alhasil Sari mau menerima tawaran tersebut untuk membuka usaha rumah makan Nusantara itu. Hanya dengan tangan Sari bersama pegawainya alhamdulilah rumah makan itu berubah jadi sangat laris dan hasil dari penjualan itu sebagian bisa untuk mencukupi keluarga sari. Tidak hanya itu saja Sari bersama keluarganya sekarang sudah bisa tinggal di rumah yang sangat mewah.
Cerpen Karangan: Bhinuko Warih Danardono
0 komentar:
Posting Komentar