Translate

cerpen ketupat lebaran untuk ibu

Written By iqbal_editing on Minggu, 11 Juni 2017 | 06.39

Cerpen
Ketupat Lebaran Untuk Ibu
Oleh Adika Abdul Aziz
Hari masih sangat pagi. Matahari belum terbangun dari tempat tidurnya. Udara pagi yang sangat dingin menusuk tubuh. Supri kedinginan. Hanya selembar kain kusam yang bisa menghangati tubuhnya kecilnya. Dia terus sibuk memperbaiki alat yang telah membantunya mendapatkan rupiah. Sebuah kotak kecil berisi peralatan untuk memperbaiki sepatu. Ya, dia adalah seorang tukang sol sepatu. Dia rela putus sekolah demi menghidupi keluarganya. Ayahnya telah meninggal sejak dia masih balita. Kini dia hanya hidup berdua dengan sang ibu.
“Supri, lebaran besok kita mau masak apa ?” tanya ibunya yang juga sedang sibuk menjahit.
“Terserah ibu saja lah.” Sahut Supri sekenanya.
“Ehm, bagaimana kalau kita masak opor ayam pri?”
“Tapi kan Supri tidak punya uang buat beli bahan-bahannya bu. Kalau mau masak yang biasa-biasa aja. Biar dananya sedikit”
Ibunya terdiam dan berpikir, lalu beliau kembali berkata “Ya udah, kita masak ketupat saja ya ?”
“Ya boleh bu, semoga saja hari ini Supri bisa dapat banyak uang”
“Amin” sahut ibunya.
Waktu tepat pukul dua belas. Matahari sudah tepat berada di atas bumi. Panasnya sangat menyengat. Belum lagi ditambah suara brisik kendaraan yang terjebak macet. Seorang polisi mulai kewalahan mengatur lalu lintas. Supri mencoba duduk di pinggir jalan. Di kipaskan topi kusamnya itu. Sedikit angin cukup untuk menyejukkan badannya. Lalu dia mulai menghitung penghasilan hari ini. Untunglah, penghasilannya hari ini lumayan banyak. Mungkin karena hari esok akan lebaran jadi orang-orang lebih memilih memperbaiki sepatunya daripada membeli yang baru.
“Alhamdulillah..” ucapnya. Mukanya tampak senang.
Tiba-tiba ada seorang lelaki besar mendekatinya. Supri terperanjat. Dia segera menyembunyikan uang-uang itu.
“Eh pri, lumayan juga penghasilan lu hari ini. Cepet serahkan uang itu ke gue” kata Bang Jupri, preman pasar yang paling ditakuti oleh anak-anak gelandangan sepertinya. Tangannya menengadah. Memaksa agar Supri memberikan uang itu.
“Bang, jangan bang. Uang ini mau digunakan ibu untuk masak buat besok lebaran” lirih Supri. Matanya mulai berlinang. Mencoba memelas pada Bang Jupri.
“Ahh.. bodo amat. Kan lu bisa cari lagi. Sekarang uang itu serahkan ke gue. Cepet !!” kata Bang Jupri memaksa Supri agar memberikan uang itu. Tangan besarnya menggeledah setiap tubuh Supri. Supri kegelian. Tapi dia terus mencoba menyembunyikan uang itu. Tak lama kemudian, uang hasil jerih payahnya di temukan oleh Bang Jupri. Bang Jupri tersenyum lebar. Supri meronta-ronta memelas pada Bang Jupri.
“Bang, jangan bang, jangan diambil semuanya” kata Supri.
“Ah brisik lu,” sahut Banng Jupri yang sepertinya tidak peduli dengan keadaan Supri.
“Bang, tolong bang, sisakan sedikit saja” lirih Supri sambil memegang erat baju Bang Jupri.
Bang Jupri merasa kesal. Lalu dia mengambilkan selembar uang bergambar patimura. “Nih seribu”
Diambilnya uang itu. Supri merasa kesal dan terhina oleh Bang Jupri. “Masa seribu doank bang ?”
“Ahh.. brisik aja lu. Masih untung lu kuberi uang. Bersyukur donk !”
Lalu lelaki besar itu meninggalkan Supri. Supri hanya bisa memandang yang bernominal satu nol nol nol itu.
Seorang lelaki misterius terlihat sedang membuntuti seorang wanita. Supri terus membuntuti dua orang itu. Dia penasaran pada lelaki itu. Tiba-tiba lelaki itu seperti bersiap untuk berlari. Dan akhirnya lelaki itu berlari. Tangan kanannya dengan sigap mengambil tas wanita itu.
“Jambrett..!!” teriak wanita itu.
Supri segera mengejar lelaki itu. Dan aksi kejar-kejaranpun terjadi. Keringat mulai mengalir di keningnya. Tapi dia tidak mempedulikan itu. Dia terus berlari dan berlari. Hingga akhirnya penjambret itu berhenti di sebuah gang kecil. Dia berbalik. Supri Terperanjat. Tubuh lelaki itu penuh dengan tato. Hitam menyeramkan.
“Eh, lu mau ngapain ngejar gue ? lu mau nangkep gue ?” tanya penjambret itu.
Supri melemparkan kotak hitam kesayanganny. Bersiap dengan posisi bela diri pencak silat. Dia rentangkan kakinya. Lalu mengepalkan tangannya. Matanya terfokus padanya.
“Iya, aku emang mau menangkapmu. Lalu ku ambil tas itu. Tas itu bukan hakmu !” serunya dengan berani.
Orang itu tertawa terbahak-bahak. Lalu dia kembali berkata “Ayo cepat serang aku kalau berani !”
Mendengar tawaran itu. Semangat Supri menjadi menggelora. Dia berlari ke arah orang itu. Bersiap menghajarnya.
“Hyaaaaaaaaaattttt….!!” Teriaknya yang ia tiru di beberapa film aksi yang pernah dilihatnya.
Tangan kanannya yang kecil memukul badan orang itu. Orang itu tertawa. Supri semakin beringas. Sekarang gantian tangan kirinya yang memukul. Orang itu masih tertawa. Supri semakin kesal. Dipukulnya orang itu berulang kali. Tapi tetap saja orang itu tidak merasa kesakitan.
“Sudah puas ? sekarang gantian aku yang memukulmu !” bentak orang itu.
Tangan kanannya yang besar menggenggam erat tangan Supri. Lalu dibantinglah tubuh kecil Supri. Supri meringis kesakitan. Orang itu kembali tertawa, lalu dia berkata “Makanya, jadi anak jangan sok baik dan sok jagoan. Begini nih akibatnya. Rasain lu !”
Orang itu pergi meninggalkan Supri. Tiba-tiba Supri melihat sebatang bambu panjang tergeletak di sampingnya. Diambilnya bambu itu. Dia kembali berdiri. Lalu dipukulnya orang itu. Dan bukk !! orang itu terjatuh. Dengan sigap, Supri mengambil alih tas itu. Dia berlari menjauh dari orang itu. Namun dari arah yang berlawanan, ada sekelompok warga yang ingin menangkap penjambret itu. Di belakang orang-orang itu terdapat wanita yang menjadi korban penjambretan. Dia tersenyum pada Supri.
“Ini mba tas nya” kata Supri sambil memberikan tas itu.
“Makasih ya nak” sahut wanita itu. Supri hanya tersenyum.
“Oh ya, ini ada sedikit uang untuk kamu. Ini untuk ucapan terima kasih dariku. Terimalah” lanjutnya.
Satu lembar uang sepuluh ribuan sudah ada di depan mata Supri. Uang itu lumayan cukup untuk beli sejumlah ketupat yang diinginkan ibunya. Matanya berkaca-kaca. Lalu dia teringat pada nasihat ibunya “Ikhlas”
Dia tersenyum, lalu berkata “Terima kasih mba, tapi saya ikhlas menolong mba”
Wanita itu jadi terharu. Tak pernah ia temui anak sebaik Supri.
Tiba-tiba rombongan warga itu datang kepada Supri. Mereka terengah-engah.
“Hei nak, mana penjambretnya ?” tanya salah satu warga.
“Loh, tadi kan disana pak. Tadi udah pingsan disana” jelas Supri.
“Tapi tidak ada nak. Jangan-jangan dia kabur” sahut warga yang lain.
Supri semakin bingung. Ternyata penjambret itu bersembunyi di suatu tempat.
“Awas lu nak, kan ku balas nanti”
“Bang, beli ketupatnya dua bang” kata Supri pada penjual ketupat itu.
Penjual itu segera mengambil ketupat yang diinginkan Supri.
“Nih ketupatnya, harganya dua ribu satunya” sahut si penjual.
Supri terkejut. Lalu diambilnya uang seribuan miliknya.
“Bang, tapi uangku cuma seribu” kata Supri.
Penjual itu kesal.
“Eh, mikir donk lu. Harganya juga satu dua ribu. Masa lu mau beli seribu”
Supri mencoba memelas pada penjual itu.”Bang tolong lah bang, kasihani aku”
Penjual itu semakin kesal “Ahh.. ya udah, tapi setengah aja ya. Lu kan bawanya juga cuma seribu”
Supri mengangguk. Lalu diberikannya ketupat itu. Supri menjadi tersenyum. Dia merasa puas telah mendapatkan sebuah ketupat walau hanya setengah.
Tiba-tiba serombongan pedagang kaki lima dan para gelandangan berlarian.
“Awas.. awas..!! ada petugas !!” teriak salah seorang dari mereka.
Supri terkejut. Supri langsung bergegas pergi agar tidak tertangkap oleh petugas. Supri sempat melihat penjual ketupat itu tampak tergesa-gesa. Dengan cepat ia membereskan barang dagangannya. Supri berbalik dan berusaha membantunya.
“Sudah, kamu lari saja. Nanti kamu malah ketangkep sama petugas” katanya.
Supri menggelengkan kepalanya, lalu ia menjawab “Gak pak, aku mau bantu bapak dulu”
Penjual ketupat itu hanya tersenyum. Sementara itu, petugas semakin dekat dengannya. Seketika itu, mereka langsung bergegas pergi.
“Kita berpencar, kamu ke kanan. Aku ke kiri. Oke ?” komando sang penjual ketupat itu pada Supri.
Supri mengangguk. Dia langsung berbelok ke kanan seperti yang diperintahkan oleh penjual ketupat itu. Kini Supri harus berhadapan dengan tiga orang petugas yang berusaha mengejarnya. Supri semakin menambah kecepatan larinya. Petugas-petugas itu mulai tampak kewalahan. Salah satu petugas tersebut semakin kesal pada Supri. Dia mengambil sebuah pistol dari jas kerjanya. Diarahkan pistol itu pada kaki Supri dan dorr…!!
Supri tertembak kakinya. Dia terjatuh. Dia mulai meringis kesakitan. Mengetahui keadaan yang sangat empuk itu, para petugas segera mendekati Supri. Tapi Supri tidak patah semangat. Dia kembali berlari dan terus berlari. Darah yang keluar dari kakinya terus mengucur dengan derasnya. Tapi dia tetap terus berlari hingga akhirnya dia berhasil bersembunyi di suatu tempat. Alhasil, para petugas itupun kebingungan karena kehilangan Supri. Supri merasa lega. Tapi kini dia dihadapi oleh kakinya yang kini telah pincang.
Supri terus berjalan hingga akhirnya dia sampai di sebuah gubuk tua miliknya. Dia mengetukkan pintu dengan pelan. Tak berapa lama, seorang wanita tua berkerudung membukakan pintu itu.
“Supri, kamu sudah pulang ?” tanya wanita tua itu yang ternyata ibunya.
Supri mengangguk. Lalu dia memberikan ketupat yang didapatkannya itu.
“Ini mak, ketupatnya. Maaf, Supri hanya bisa dapat setengah”
“Tidak apa-apa kok pri” sahut ibunya sambil tersenyum.
Ternyata, penjambret yang telah dipukulnya tadi siang sudah membuntuti Supri sejak ia membeli ketupat. Penjambret itu tentunya hendak melakukan apa yang ia katakan sebelumnya. Balas dendam.
“Eh, anak kecil…” teriak penjambret itu.
Supri menengok ke belakang. Supri terkejut bukan main.
“Nih ada kejutan lebaran untukmu !!” lanjut penjambret itu sambil mengambil sebuah pistol dari jaketnya. Tanpa menunggu lama penjambret itu segera menembak Supri. Dorr!! Dorr!! Dorr!!
Tiga tembakan itu tepat mengenai jantung Supri. Supri tejatuh. Ibunya berusaha menangkap Supri.
“Supri..!!” teriak ibunya dengan histeris.
Supri tersenyum pada ibunya.
“Bu, Supri sayang ibu”
Seketika itu, Supri meninggal dunia. Ibunya menjerit histeris. Mendengar kegaduhan itu, para tetangga Supri segera mendekati rumahnya. Penjambret itu kini telah terkepung warga. Mengetahui hal itu, warga semakin marah padanya. Warga lalu menghajar penjambret itu hingga babak belur lalu diserahkan pada oihak yang berwajib. Dan malam itu adalah malam lebaran.
~TAMAT~
Di cerpen ini kita bisa mengambil hikmah bahwa seorang anak hendaknya patuh kepada orang tuanya. Kita harus berpikir, apa yang belum saya berikan kepada orang tua ? bukanlah apa yang orang tua berikan kepada saya. Cobalah untuk berusaha membahagiakan orang tua. Meskipun itu adalah hal yang sangat kecil. Membahagiakan orang tua tidak harus dengan materi, tapi juga bisa dengan perbuatan. Lebaran merupakan momentum yang tepat untuk melakukan hal itu. Sudahkah anda membahagiakan orang tua anda di hari lebaran yang bahagia ini ?
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.. :)

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik