Translate

cerpen mendidik puasa

Written By iqbal_editing on Senin, 19 Juni 2017 | 10.05

Sepulang shalat tarawih, mataku sudah menuntunku untuk memejamkannya. Namun aku paksakan dulu sebentar untuk menatap kalamMu. Kantuk berat itu memang menghujami kedua bola mataku. Saat aku berusaha untuk melek dan membaca ayat-ayatMu, entah apa yang sedang aku baca. Akupun tak menyadarinya. Mataku terpejam, kepalaku beberapa kali mengayun-ayun kekanan dan kekiri, namun mulutku masih kumat-kamit entah mengatakan apa. Nisrin yang ada disampingku sepertinya risih dengan kelakuanku. Ia mencoba membangunkanku.
“Isti, kamu ini lagi tadarus atau ngelindur sih? Kalau ngantuk pulang aja. Ga jelas tuh kamu baca apa.” Aku berusaha mencerna perkataannya. Mataku begitu sayu, kepalaku celingukan tak menentu. Nisrin menepuk bahuku lumayan keras.
“Hei…Masya Allah. Udah dapet berapa mimpi kamu. Haduuuhhh udah pulang aja sono.” Cerocosnya. Tanpa berkata apa-apa lagi aku langsung bergegas menuju kediamanku. Untung mushola itu disamping rumahku. Sehingga aku bisa memastikan langkahku yang sempoyongan sampai dikamarku. Aku jatuhkan tubuhku yang masih terbalut mukena diatas tempat tidurku. Dan aku terlelap kembali.
            Entah kenapa beberapa kali aku terbangun dari tidurku. Saat kubuka mata ini, kaget luar biasa karena aku mendengar orang yang sedang membacakan Al-Qur’an di mushola. Aku kira ini sudah subuh, karena biasanya setelah subuh anak-anak melanjutkan pengajiannya. Namun ternyata dugaanku salah. Saat kulirik jam dinding yang menggantung disamping lemariku jam menunukkan pukul 22.00. mungkin aku terbangun karena rasa cemasku karena ketakutan sahurku kesiangan. Mataku terpejam kembali dan tertidur lagi. Beberapa jam kemudian aku terbangun lagi. Suasana begitu hening. Aku tak mendengar suara orang mengaji lagi. Kamarku begitu gelap, sepertinya mamah mematikan lampu kamarku saat aku tertidur. Aku meraba-raba dinding untuk mencari stop contac lampu. Dan aku berhasil menemukannya. Yang pertama aku lihat adalah jam dinding. Jam menunjukkan pukul 01.30. Ternyata masih malam. Aku bisa melanjutkan tidurku lagi. Agar aku bisa tidur tenang tanpa cemas sahur kesiangan, aku pasang alarm handphoneku jam 03.00. Kini aku bisa tidur dengan nyaman setelah beberapa kali terbangun karena takut sahurku kesiangan. Padahal mamah dan papah sudah pasti membangunkanku. Tapi aku khawatir merekapun terlelap dalam tidurnya. Tidak ada salahnyakan aku bersiap siaga. Kini benar-benar alarm yang membangunkanku. Mataku langsung bersemangat saat aku lihat jam menunjukkan pukul 03.00, bergegas aku mengambil air wudhu untuk shalat tahajud. Terdengar beberapa suara orang memasak didapur. Sudah pasti itu mamah. “Sukurlah mamah sudah masak aku tinggal makan saja.” Lirihku dalam hati. Aku lanjutkan shalat malamku.
“Isti, bangun nak, ayo sahur dulu.” Teriak mamah diruang makan.
“Iya mah, Isti udah bangun ko.” Jawabku dan langsung meluncur keruang makan. Mamah dan papah sudah duduk dikursinya masing-masing.
“Lah, Rizky ga dibangunin mah?” tanyaku saat melihat kursi Rizky yang masih kosong. Mamah tak menjawabnya, ia malah melempar pandangannya kearah papah.
“Coba bangunin sama kamu. Suruh dia sahur . belajar berpuasa besok.” Perintah papah. Aku menganggukkan kepala dan langsung menuju kamar Rizky. Rizky adalah adikku yang paling kecil. Dia baru berusia 6 tahun kelas 1 SD. Dia sedang masa manja-manjanya.
“De, bangun. Sahur dulu yu. Mamah sama papah udah nunggu tuh dibawah. Yu anak pintar.” Lirihku sambil mengelus-elus kepalanya. Namun ia hanya menggelisik dan membalikkan badan membelakangiku. Aku mencoba membangunkannya lagi
“De, ayo bangun. Kita sahur dulu.” Ujarku lagi sambil membalikkan badannya agar menghadap kearahku. Namun usahaku sia-sia, ia malah memukuliku beberapa kal dan merengek malas. Sontak aku kesal atas kelakuannya.
“Yaudah terserah. Kakak Cuma disuruh ayah buat ngebangunin kamu. Terserah.” Tuturku emosi dan berlalu meninggalkannya.
“Susah dibangunin papah. Dia malah memukuli Isti.” Tuturku sambil cemberut. Rasa kesal masih menyelimuti hatiku. Ayah yang kini beranjak dari tempat duduknya dan kembali keruang makan sambil menggendong Rizky dengan keadaan menangis dan mendudukkannya disamping kursi mamah.
“Ayo makan dulu sayang supaya besok bisa ikut puasa. Kan Rizky anak shaleh.” Ujar mamah menenangkan. Namun Rizky masih saja menangis.
“Makan dulu sayang walaupun sedikit. Biar besok puasanya kuat.” Tutur papah lembut. Aku hanya melihatnya sambil menahan tawa. Lucu melihat kelakuan adik kecilku. Ia memang tipe anak yang penurut, apalagi kepapahnya, dia paling takut. Ia mulai menyuapkan nasi dan lauknya kedalam mulutnya. Namun ia masih saja menangis. Mengunyah makanannya sambil menangis, itu yang membuatku hampir tersedak karena ingin menertawakannya. Mamah hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Sampai kami selesai makan, ia masih saja menangis walaupun dengan suara yang pelan. Tapi saat aku melirik kearah piringnya, makanannya sudah habis. Ternyata tangisan itu tak mempengaruhi nafsu makannya.
Nama Lengkap            : Maya Amelia Febriani

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik