Sepulang shalat tarawih, mataku sudah
menuntunku untuk memejamkannya. Namun aku paksakan dulu sebentar untuk menatap
kalamMu. Kantuk berat itu memang menghujami kedua bola mataku. Saat aku
berusaha untuk melek dan membaca ayat-ayatMu, entah apa yang sedang aku baca.
Akupun tak menyadarinya. Mataku terpejam, kepalaku beberapa kali mengayun-ayun
kekanan dan kekiri, namun mulutku masih kumat-kamit entah mengatakan apa.
Nisrin yang ada disampingku sepertinya risih dengan kelakuanku. Ia mencoba membangunkanku.
“Isti, kamu ini lagi tadarus atau
ngelindur sih? Kalau ngantuk pulang aja. Ga jelas tuh kamu baca apa.” Aku
berusaha mencerna perkataannya. Mataku begitu sayu, kepalaku celingukan tak
menentu. Nisrin menepuk bahuku lumayan keras.
“Hei…Masya Allah. Udah dapet berapa
mimpi kamu. Haduuuhhh udah pulang aja sono.” Cerocosnya. Tanpa berkata apa-apa
lagi aku langsung bergegas menuju kediamanku. Untung mushola itu disamping
rumahku. Sehingga aku bisa memastikan langkahku yang sempoyongan sampai dikamarku.
Aku jatuhkan tubuhku yang masih terbalut mukena diatas tempat tidurku. Dan aku
terlelap kembali.
Entah
kenapa beberapa kali aku terbangun dari tidurku. Saat kubuka mata ini, kaget
luar biasa karena aku mendengar orang yang sedang membacakan Al-Qur’an di
mushola. Aku kira ini sudah subuh, karena biasanya setelah subuh anak-anak
melanjutkan pengajiannya. Namun ternyata dugaanku salah. Saat kulirik jam
dinding yang menggantung disamping lemariku jam menunukkan pukul 22.00. mungkin
aku terbangun karena rasa cemasku karena ketakutan sahurku kesiangan. Mataku
terpejam kembali dan tertidur lagi. Beberapa jam kemudian aku terbangun lagi.
Suasana begitu hening. Aku tak mendengar suara orang mengaji lagi. Kamarku
begitu gelap, sepertinya mamah mematikan lampu kamarku saat aku tertidur. Aku
meraba-raba dinding untuk mencari stop contac lampu. Dan aku berhasil
menemukannya. Yang pertama aku lihat adalah jam dinding. Jam menunjukkan pukul
01.30. Ternyata masih malam. Aku bisa melanjutkan tidurku lagi. Agar aku bisa
tidur tenang tanpa cemas sahur kesiangan, aku pasang alarm handphoneku jam
03.00. Kini aku bisa tidur dengan nyaman setelah beberapa kali terbangun karena
takut sahurku kesiangan. Padahal mamah dan papah sudah pasti membangunkanku.
Tapi aku khawatir merekapun terlelap dalam tidurnya. Tidak ada salahnyakan aku
bersiap siaga. Kini benar-benar alarm yang membangunkanku. Mataku langsung bersemangat
saat aku lihat jam menunjukkan pukul 03.00, bergegas aku mengambil air wudhu
untuk shalat tahajud. Terdengar beberapa suara orang memasak didapur. Sudah
pasti itu mamah. “Sukurlah mamah sudah masak aku tinggal makan saja.” Lirihku
dalam hati. Aku lanjutkan shalat malamku.
“Isti, bangun nak, ayo sahur dulu.”
Teriak mamah diruang makan.
“Iya mah, Isti udah bangun ko.” Jawabku
dan langsung meluncur keruang makan. Mamah dan papah sudah duduk dikursinya
masing-masing.
“Lah, Rizky ga dibangunin mah?” tanyaku
saat melihat kursi Rizky yang masih kosong. Mamah tak menjawabnya, ia malah
melempar pandangannya kearah papah.
“Coba bangunin sama kamu. Suruh dia
sahur . belajar berpuasa besok.” Perintah papah. Aku menganggukkan kepala dan
langsung menuju kamar Rizky. Rizky adalah adikku yang paling kecil. Dia baru
berusia 6 tahun kelas 1 SD. Dia sedang masa manja-manjanya.
“De, bangun. Sahur dulu yu. Mamah sama
papah udah nunggu tuh dibawah. Yu anak pintar.” Lirihku sambil mengelus-elus
kepalanya. Namun ia hanya menggelisik dan membalikkan badan membelakangiku. Aku
mencoba membangunkannya lagi
“De, ayo bangun. Kita sahur dulu.” Ujarku
lagi sambil membalikkan badannya agar menghadap kearahku. Namun usahaku
sia-sia, ia malah memukuliku beberapa kal dan merengek malas. Sontak aku kesal
atas kelakuannya.
“Yaudah terserah. Kakak Cuma disuruh
ayah buat ngebangunin kamu. Terserah.” Tuturku emosi dan berlalu
meninggalkannya.
“Susah dibangunin papah. Dia malah
memukuli Isti.” Tuturku sambil cemberut. Rasa kesal masih menyelimuti hatiku.
Ayah yang kini beranjak dari tempat duduknya dan kembali keruang makan sambil
menggendong Rizky dengan keadaan menangis dan mendudukkannya disamping kursi
mamah.
“Ayo makan dulu sayang supaya besok bisa
ikut puasa. Kan Rizky anak shaleh.” Ujar mamah menenangkan. Namun Rizky masih
saja menangis.
“Makan dulu sayang walaupun sedikit.
Biar besok puasanya kuat.” Tutur papah lembut. Aku hanya melihatnya sambil
menahan tawa. Lucu melihat kelakuan adik kecilku. Ia memang tipe anak yang
penurut, apalagi kepapahnya, dia paling takut. Ia mulai menyuapkan nasi dan
lauknya kedalam mulutnya. Namun ia masih saja menangis. Mengunyah makanannya
sambil menangis, itu yang membuatku hampir tersedak karena ingin
menertawakannya. Mamah hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
Sampai kami selesai makan, ia masih saja menangis walaupun dengan suara yang
pelan. Tapi saat aku melirik kearah piringnya, makanannya sudah habis. Ternyata
tangisan itu tak mempengaruhi nafsu makannya.
Nama
Lengkap : Maya Amelia Febriani
0 komentar:
Posting Komentar