Pagi. Cuaca yang tidak menentu. Kadang panas, kadang hujan, kadang juga hujan panas. Setidak menentunya perasaanku.
"Hantar aku ke terminal ya?" Pintanya padaku setelah duduk menyamping di
jok belakangku. Aku tidak menjawab, hanya perlahan langsung menarik gas
sepeda motorku.
Hari ini ia memang akan mudik untuk berlebaran di kampung halamannya.
Selain yang kupakai, sebuah helm warna hitam masih menggantung di depan
selangkanganku.
"Sini helmnya nanti ada razia" pintanya lagi
"Ah ndak perlu"
"Kalau kena razia gimana?"
"Aku lengkap. Sim ada, es-te-en-ka ada. Fungsi helm apa? Untuk pengaman kan?" Aku balik bertanya.
"Lagian ini bukan helm standard. Jilbabmu lebih memenuhi standard keamanan dari pada sekedar helm ini". Tambahku.
Aku memang tidak mudah percaya pada penampilan. Jilbab memang bukan
standard bahwa dia perempuan yang baik. Apalagi setelah iseng aku pernah
melihat bajakan paparazi "Lombok Membara". Ditambah lagi cerita
pengalaman teman-temanku tentang kedok oknum perempuan di balik jilbab.
Dan pengalamanku sendiri ketika suatu saat temanku kehilangan Handphone,
ternyata yang mengambilnya gadis berjilbab.
Tapi jilbabnya, (Jilbabmu ...) sungguh menunjukkan standard keamanan tersendiri. Bahkan aku pun merasa aman berada dl dekatmu.
"Udahlah, sini helmnya dari pada nanti jadi masalah dengan polisi, lebih baik kan tidak jadi masalah". Pintanya agak memaksa.
"Ini. Sorry ya, tangan kiri".
Motor pun terus menderu, berpacu diantara panas bedengkang diselingi
gerimisnya Kota Pontianak. Meriang di badanku sirna dihempas gelora
jiwaku.
***
Sengaja aku tidak memacu kencang kendaraanku siang ini agar bisa lebih
banyak ngobrol. Bak roda motorku, otakku terus berputar mencari bahan
perbincangan agar tidak terasa jenuh dan kikuk. Diam-diam batinku
memohon. Mudah-mudahan kali ini di jembatan tol kapuas macet.
"Gimana sih rasanya lebaran di kampung?"
"Asyiklah. Kumpul dengan keluarga. Penuh canda tawa. Nostalgia. Apalagi di kampung semangat kekeluargaannya masih terasa".
"Emang di kota tidak ada yang seperti itu?"
"Ada sih. Cuma serba semu. Interaksi yang terbangun didasari kepentingan dan pertimbangan untung rugi. Tolok ukurnya materi".
"Tapi tidak semua kan?"
"Ya. Cuma kebanyakan".
"Lagi pula gema takbir di kampung lebih terasa syahdu ketimbang di kota".
"Kok gitu? Di kota ada pawai ta'aruf, takbir keliling, festival beduk, dan lain-lainnya yang bernuansa syi'ar"
"Lihat aja pas malam takbiran. Lebih lantang mana, gema takbir atau dentum petasan dan meriam karbit?"
"Itu kan budaya".
"Budaya apa? Mubadzir? Pendidikan kekerasan? Merampot jak. Bagiku pawai
ta'aruf dan festival lainnya tidak menyisakan apa-apa selain suka cita
sesaat dan berhala dalam bentuk piala. Lihat aja, hilir mudik di jalan
raya, lalu lalang mereka yang berduit terlihat berlomba menuju
pusat-pusat perbelanjaan untuk beli pakaian baru dan makanan lebaran.
Sementara nun di perempatan lampu merah adik-adik generasi kita dengan
pakaian lusuhnya mengharap belas kasihan. Bahkan di pinggiran sana,
sebagian orang yang juga saudara kita justru mengais, mencari makan dari
sisa-sisa limbah lebaran kita". "Lebaran tanpa solidaritas".
"...............?"
"Di kampung, lahir batin kita hadir saling memberikan maaf. Di kota? Cukup diwakili kartu lebaran dan es em es".
"Tapi tidak semua kan?"
"Ya. Cuma kebanyakan".
"Apa aja persiapanmu mudik menyambut lebaran di kampung?"
"Persiapan apa? Tuh kan tolok ukurnya selalu materi".
"Siapa bilang? Situ aja yang suu zhan". Balasku.
"Aku hanya ingin lebaran kali ini lebih baik dari lebaran tahun-tahun
sebelumnya. Harapanku, aku benar-benar mudik jiwa dan raga, lahir dan
batin. Di sini aku banyak mengabaikan nasehat ibu-bapakku. Aku ingin
minta maaf yang setulus-tulusnya kepada orang tuaku. Mudah-mudahan mudik
kali ini sejalan dengan harapan kita untuk kembali ke fitrah".
"Kamu pandai bikin ketupat?"
"Pandailah. Emang kenapa?"
"Nanya jak. Kalau ndak pandai kan sulit nyarinya. Kalau di kota tinggal beli aja, di pasar banyak dijual".
"Itu bedanya kampung dengan kota. Produktif dengan konsumtif".
"Dulu aku juga punya kampung halaman. Tapi karena suatu musibah terpaksa hijrah ke kota". Kucoba alihkan persoalan.
Dia terdiam. Aku tahu, bahwa dia juga tahu apa yang pernah keluargaku
alami beberapa tahun yang lalu sehingga harus keluar dari kampung
halaman.
Lamunanku menerawang ke masa lalu saat lebaran di kampung. Jalan kaki
dari rumah ke rumah sekedar untuk meminta ketulusan maaf dari saudara
tetangga sekampung. Silaturahmi ke rumah guru ngaji dan guru-guru
sekolahku. Lebaran terasa sangat syahdu dan bersahaja.
"Eh, setelah balik ke sini nanti main ke rumahlah. Minta jemput di mana, nanti kujemput. Minta antar pun nanti kuantar"
"Stop... stop."
Spontan tangan dan kakiku menekan rem. Kok tiba-tiba dia minta berhenti?
Jangan jangan dia marah, karena aku mengungkit sisi gelap masa lalu.
Atau karena tawaranku untuk berlebaran ke rumahku?
"Di sini saja, itu mobilnya". Tangannya menunjuk ke arah bis yang sedang menunggu penumpang.
"Thanks ya, Selamat lebaran. Maaf lahir batin". Sambil menyodorkan helm, tangannya mengajak bersalaman.
"Oh, ya. Sama-sama. Maaf lahir batin. Salam untuk keluargamu".
"InsyaAllah. Daa, Assalamu'alaikum..."
"Alaikum salam... si yu.."
Perlahan langkahnya mendekati, dan lantas masuk ke dalam bis. Diam-diam
kuperhatikan dari belakang. Ada rasa yang tidak seperti biasanya
menggelayuti perasaanku hari itu. Tawaranku agar dia berlebaran ke
tempatku belum sempat dijawabnya. Jembatan tol kapuas yang kuharap macet
ternyata lancar-lancar saja.
Ingin rasanya kutawarkan jasa untuk mengantarnya sampai ke pelataran
rumahnya. Tapi aku tidak yakin dia mau. Kelihatannya dia masih agak
segan, bahkan basa-basi pun kelihatannya enggan sekedar mengajakku untuk
berlebaran ke rumahnya. Dan aku mengerti itu. Sungguh
***
Malam yang dingin. Menyelinap sampai ke tulang sum-sum. Jam di tanganku menunjukkan 03.33. Dini hari.
Sudah 7 hari idul fitri berlalu. Bayangannya senantiasa hadir dalam
lamunanku. Di kampung sana dia tentu sangat mesra dan syahdu bersama
keluarganya seraya melantunkan gema takbir idul fitri.
"Perempuan seperti apa sih yang ada dalam imajinasimu?" Tanyanya suatu ketika.
"Salah satunya, perempuan yang dengan pertanyaannya mampu membuat aku berfikir". Jawabku spontan
"Jadi tak enak rasanya"
"Bukan tak enak. Tapi salah tingkah"
"Kenapa sih kamu suka membuat perasaan orang tidak enak?"
"Aku minta maaf, bukan maksudku membuat perasaanmu tidak enak".
"Ya, memang bukan maksudmu, tapi caramu menjawab pertanyaanku"
"Sekali lagi aku minta maaf. Menurut kaidah fiqh, kesalahan cara masih
bisa dimaafkan asal bukan kesalahan maksud. Aku tak perlu menjelaskan
maksudku itu. Cuma, aku bisa mengubahnya dalam bentuk kalimat tanya".
"Maksudmu?"
"Kenapa pertanyaanmu selalu membuat aku berfikir sebelum menjawabnya?"
Dia tertunduk diam. Sesekali kulihat raut mukanya yang menunjukkan
perubahan rona. Aku pura-pura buka SMS di handphoneku. Dia masih
terdiam. Sesekali nafasnya tertekan. Hhhh...
"Ndak perlu dijawab sekarang. Jawabannya bukan "karena". Tambahku kemudian.
"Tidak semua "kenapa" mesti dijawab "karena'". Bahkan diam pun bagiku bisa bermakna jawaban".
Sarungku yang hanya membungkus separoh badanku kali ini terasa sesekali
agak gerah. Sisa kue lebaran yang ku kunyah terasa hambar. Bukan karena
sarung dan makanannya, tapi jiwaku yang meronta ingin kembali pada
suasana siang itu. Mungkin aku memang membuat perasaannya tidak enak.
Tapi di sisinya kurasakan ketenangan tersendiri. Gemercik hujan di luar
sana semakin mengingatkan aku pada siang itu. Pada wajahnya. Pada
(pesona) jilbabnya.
Dentuman meriam karbit dari luar penjuru sana membuyarkan lamunanku. Segera kakiku bergegas menuju kamar mandi.
Sayup-sayup dari ruang komputer terdengar Padi "Menanti Sebuah Jawaban"
".....
Sepenuhnya aku
Ingin memelukmu
Mendekap penuh harapan
Tuk mencintaimu
Setulusnya aku
Akan terus menunggu
Menanti sebuah jawaban
Tuk memilikimu
....."
Ya. Aku tak bisa luluhkan hatimu. Bahkan menyebut namamu pun aku tak sanggup.
Allahuakbar wa lillahil-hamd ***
0 komentar:
Posting Komentar