Alfred berdiri sendirian di depan pintu tenda malam itu dengan membawa segelas Champagne,
ia mondar-mandir dengan gelisah lantaran memikirkan keadaan sirkus yang
ia kelola dan dirikan di sudut kota Falkland sejak seminggu yang lalu.
Sirkus itu selalu sepi pengunjung. Barangkali jika malam itu tak ada
seorang badut yang datang menghampirinya untuk menawarkan diri sebagai
anggota di sirkusnya, dia sudah meledakkan kepalanya sendiri dengan
pistol yang malam itu juga ia tenteng-tenteng. Sebab sepertinya, dia
sudah tak kuat lagi memikirkan masa depan sirkusnya yang sudah
menunjukkan tanda-tanda kebangkrutan itu.
Clifford, demikianlah badut yang menghampirinya itu memperkenalkan
namanya, ia mengaku berasal dari kota Hamelin. Konon dengan seruling
yang dibawanya, ia mampu menghipnotis tikus-tikus di kotanya dan membuat
tikus-tikus itu jatuh ke sungai Weser dengan sendirinya. Namun Alfred
tidak bisa begitu saja percaya dengan cerita konyol yang dibuat oleh
badut itu. Alfred jelas tak bisa dibodohi karena dia juga orang asli
Jerman. Ia tahu, cerita badut itu hanyalah sebuah dongeng pengantar
tidur anak-anak karya Brother Grimms.
Tanpa kebohongan muluk-muluk yang dibuat Cliffordpun, Alfred tetap akan
menolak permintaan badut itu untuk bekerja padanya. Pasalnya ia
benar-benar sudah tak punya uang lagi. Jangankan untuk membayar orang
baru, untuk membayar anggota yang saat ini ada saja ia harus hutang
kepada adiknya yang memilih mengurusi perkebunan anggur warisan
orangtuanya di kampung. Namun Clifford tetap tidak mau menyerah, ia
bersikeras agar bisa diterima sebagai anggota di sirkus yang dikelola
Alfred itu, dengan caranya, ia mencoba meyakinkan Alfred, hingga
akhirnya Alfredpun menyerah dan menerimanya, setelah sebelumnya ada
sedikit perdebatan sengit di antara mereka :
“Bah! Aku tak butuh anggota seorang badut di sirkus ini, sebaiknya kau
pergi dari hadapanku sebelum pistol di tanganku ini meledakkan
kepalamu!” kata Alfred jengkel.
Clifford diam dan menyunggingkan sebersit senyum yang misterius.
“Kau dengar tidak? Hey?!!” Bentak Alfred lagi.
“Mungkin anda ini menderita darah tinggi, ya?” Clifford memejamkan mata,
sambil tersenyum, ia berbicara kepada Alfred tanpa sedikitpun emosi.
Alfred langsung mengarahkan moncong pistolnya tepat di depan hidung badut yang bulat dan semerah buah cerry itu.
“Ada apa ini, tuan Alfred?!” kata Kodi dan Gesicth saat keluar tenda
bersamaan sebab mendengar keributan. Mereka berdua adalah anggota sirkus
itu yang masih tersisa selain binatang-binatang yang kurus.
“Biadab ini, tolong usir dia dari hadapanku!” kata Alfred tidak bisa menahan emosi.
Kodi dan Gesicth pun langsung menghampiri Clifford untuk mengusirnya.
“Tunggu.” Clifford mengarahkan jari telunjuknya ke moncong pistol tuan
Alfred yang saat itu belum juga diturunkan. “Adalah benar, bahwa saya
mau menawarkan diri untuk menjadi seorang anggota di sirkus ini, tapi
jika anda menerima saya, anda tidak perlu membayar saya. Saya janji akan
bekerja dengan baik.” Clifford tersenyum lebar. ”Bagaimana?”
“Apa kau sedang bercanda? Jangan-jangan kau ini memang orang gila di
kota ini, mana ada penduduk kota biasa mau memakai pakaian badut
sepertimu malam-malam begini?” kata Kodi.
“Oh, jangan mengatai saya sebagai orang gila, itu tidak sopan namanya.
Loyalitas, sayang. aku ini type orang perfeksionis. Jadi untuk melamar
sebagai badut di sebuah sirkus, aku harus menjadi badut. Ha ha ha.”
Clifford tertawa keras, mencabut jari telunjuknya dari moncong pistol
Alfred dan menggaruk-garuk kepalanya. Dengan wajah dingin ia lalu
menatap wajah Alfred. “Saya berkata serius, tuan. Saya akan bekerja di
sirkus anda tanpa bayaran selama tujuh hari.”
“Tujuh hari? Ya, setelah tujuh hari kau akan pergi dengan membawa lari semua uangku. Begitu ‘kan maksudmu?!” bentak Alfred.
“Ah, lagi-lagi. Apalagi mengatai saya sebagai pencuri, itu lebih tidak
sopan dari mengatai saya sebagai orang yang gila, tuan. Saya tidak
bohong dengan berkata akan bekerja di sirkus anda ini selama tujuh hari
tanpa bayaran, tapi saya juga punya satu syarat yang wajib anda penuhi.”
“Apa?”
“Saya tahu, sejak pertama berdiri di Falkland ini, sirkus anda selalu
sepi. Jelas saja, anda hanya punya dua anggota dan beberapa binatang
yang kurus-kurus, tidak ada macan, tidak ada gajah. Ya orang mana ada
yang mau datang..”
“Jangan ceramah di depanku! Katakan saja apa syaratnya!”
“Baiklah. Jadi, tujuh hari kerja saya tanpa bayaran adalah jika sirkus
ini tetap sepi, namun seandainya dalam tujuh hari tersebut saya berhasil
membuat sirkus anda ramai pengunjung, maka anda harus memberikan
setengah dari hasil pertunjukan kepada saya. Bagaimana, apa anda
setuju?”
Alfred menimbang-nimbang.
“Baiklah, aku setuju.” Kata Alfred seraya menurunkan pistolnya dan menyelipkannya di pinggang.
Kodi dan Gesicth hanya terdiam, walau dalam hati mereka berdua memendam rasa gembira karena mendapat teman baru.
Dan sembari menunggu hari menjadi pagi untuk penampilannya yang pertama
kali di sirkus itu, Clifford duduk di sebuah dahan pohon, mengeluarkan
seruling yang ia selipkan di belakang celananya, lalu meniupnya.
Kunang-kunang menghampirinya, beratus-ratus, beribu-ribu, berjuta-juta.
Halaman sirkus itu menjadi terang, seperti ada sebuah pesta tengah
diselenggarakan di sana.
***
Lebih dari perjanjian, ini adalah hari ke-24. Clifford menghampiri
Alfred untuk meminta imbalan sesuai perjanjian yang telah mereka
sepakati.
“Sirkus ini sudah ramai, sudah punya gajah, sudah punya macan. Tapi
tetap saja, saya ini pecinta kebebasan. Jadi, tuan, saya mau
mengundurkan diri hari ini. Dulu setelah tujuh hari, saya berhasil
membuat sirkus ini ramai, tapi anda menahan saya agar tinggal lebih lama
lagi di sini sebab peran badut saya yang selalu dinantikan anak-anak.
Dan akhirnya saya menyanggupinya karena anda berjanji akan menikahkan
saya dengan putri angkat anda, Kodi. Dan Kodi juga setuju dengan
perjanjian ini.“ Clifford mendesah. “Hhh, Jadi, tuan. Sesuai perjanjian
yang telah kita sepakati dulu, saya mau minta setengah uang dari hasil
pertunjukan sebelum saya pergi. Saya ingin hidup bebas.”
Alfred tersenyum. Ia membuka matanya lebar-lebar, lalu mengarahkan moncong pistol ke arah Clifford dan..
DOR!!
Ia memuntahkan peluru dari pistol di tangannya tidak ke tubuh Clifford,
namun ke pintu yang ada di samping tempat Clifford berdiri.
“Memang benar kau telah membuat sirkus ini besar, tapi kalau kau ingin
pergi, pergilah! Aku bisa mencari badut yang baru. Dan, hey, kau jangan
bermimpi bahwa aku akan memberikan setengah dari uang hasil pertunjukan
sirkus ini kepadamu, kutampung di sini dan kuberi makan saja kau
sebaiknya sudah harus merasa sangat bersyukur!”
“Tapi, tuan Alfred. Dulu anda ‘kan sudah berjanji mau..”
“Hey, badut jelek! Jangan sampai peluru kedua dari pistolku ini mendarat tepat ke kepalamu.”
Clifford menyerah, ia menundukkan kepala, tanda menyesal karena telah
dibohongi. Ia berjalan pelan-pelan ke ruang rias menagih janji kepada
Kodi yang 17 hari lalu juga berjanji mau menikah dan membangun rumah
tangga bersamanya. Sesampainya di sana, Clifford justru mendapati
sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan, ia melihat Kodi sedang membuka
brangkas tuan Alfred—mencuri uang dari dalam sana dan memasukkannya
tergesa-gesa ke kantongnya.
“Ah? Clifford?!!” kata Kodi kaget. Ia menghampiri Clifford, lalu
menciumnya dengan mesra. “Janji jangan bilang ke ayah angkatku ya,
sayang.”
“Tidak, akan. Itu tidak akan pernah terjadi. Karena tuan Alfred telah mengusirku dari sirkus ini.”
“Ah, benarkah ayah mengusirmu? Lalu?”
“Aku datang ke sini mau menagih janji. Kau dulu pernah bilang mau menikah denganku, jadi sebaiknya sekarang kau ikut aku..”
“E..e.., baiklah. Tapi nanti ya, sayang. Aku mau ada pertunjukan setelah
ini. Dan untuk antisipasi agar ayah tidak menemukanmu, maka kau harus
mencari tempat sembunyi. Sebentar, biar kucarikan.” Kodi melirik seluruh
isi ruangan, gadis itu seperti sedang merencanakan sesuatu. “Ah?!
Dapat!”
Kemudian Cliffordpun sembunyi di sebuah kotak yang ditunjuk Kodi agar
tak ketahuan Alfred sembari menunggu gadis manis itu selesai beraksi di
panggung sirkus untuk kemudian pergi dengannya. Ia masuk ke sana setelah
sebelumnya meminum sesuatu yang telah dicampuri obat tidur oleh Kodi.
KLEK!
Kodi menggembok kotak itu dari luar dan pergi dengan wajah yang
menyeringai, ia meninggalkan Clifford yang tertidur seorang diri di
dalam kotak itu, sebuah kotak untuk trik sulap—kotak tusukan pedang
maut.
***
Ia kembali dengan wajah yang cerah, kelihatannya ia sangat bahagia
sekali karena telah berhasil menipu seseorang yang terpaksa dicintainya
agar sirkus ayah angkatnya tetap jaya. Menuju ke ruang rias,
digandengnya tangan Gesicth, partner sekaligus lelaki yang sebenarnya ia
cintai menuju kotak tempat Clifford tertidur.
“Dia ada di dalam sini,”
“Siapa?”
“Clifford, badut jelek itu..”
“Lalu?”
“Dia telah memergokiku ketika mencuri uang tuan Alfred dari brangkasnya untuk kencan kita nanti malam.”
“Hah? Bahaya!”
“Benar, nih!” Kodi memberikan beberapa pedang ke Gesicth. “Tusuk dia! Nanti kita bisa membuang mayatnya ketika di perjalanan.”
“Benar juga, lagian berani-beraninya dia merebutmu dari sisiku.”
JREB!
JREB!!
JREB!!!
Gesicth menusuk kotak itu dengan pedang tanpa ragu-ragu. Suara rintihan
seorang lelaki terdengar beberapa saat dari dalam kotak itu, kemudian
senyap.
“Nah, dia sudah mati!”
Kodi dan Gesicth tertawa. Di antara suara tawa itu, suara seruling
lamat-lamat terdengar, lalu semakin keras, lalu semakin keras! Di
belakang mereka, tepat di depan pintu, Clifford tengah asyik memainkan
serulingnya sambil menatap mereka berdua dengan dingin.
“Hah? Kau di sana? Jadi, yang di dalam kotak ini, yy,y.. yang merintih kesakitan tadi siapa?”
Kodipun membuka kotak pedang maut itu. Terperanjatlah dia beserta
Gesicth begitu tahu mayat yang ada di dalam kotak itu adalah
Alfred—majikan mereka!
“Ha ha ha ha ha,” Clifford tertawa puas. “Masa’ trik seperti itu saja kalian tidak tahu?! Pesulap macam apa kau ini, Gesicth!”
Clifford kembali memainkan serulingnya. Ribuan tikus keluar mendengar
merdu lagu yang ia mainkan, merayap menghampiri Kodi dan Gesicth, mereka
berdua berteriak kesakitan hingga mati sebab tubuhnya digerogoti
tikus-tikus itu pelan-pelan.
Clifford pergi dengan hati yang riang, sampai di pintu keluar ia
menemukan sebuah kaca yang besar, ia tertawa melihat bayangan tubuhnya
sendiri, ada dua taring di antara barisan giginya, lalu ia menyelipkan
serulingnya di belakang celananya. Kedua tangannya meraba sesuatu yang
ada di kepalanya—sepasang tanduk hitam.
“Ha ha ha, dasar manusia, kalian lupa kalau aku datang ke dunia ini untuk menggoda kalian agar masuk ke neraka? Bodoh!”
Diapun berbalik dan melanjutkan langkahnya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar