“Iya, kak!” jawabku.
Aku segera turun ke lantai bawah dan menemui keluargaku di ruang makan. Di atas meja sudah tersedia Spaghetti dan satu mangkuk besar Cream Soup yang dimasak oleh mama. Waah.. ini sih, semua makanan kesukaanku. Tapi sepertinya porsinya terlalu banyak untuk satu keluarga yang hanya beranggotakan 4 orang. Baru saja aku duduk dan mau mengambil piringku, tiba-tiba bel rumahku berbunyi.
“Ting.. Tong..”
“Una, tolong bukain pintunya ya..” perintah Kak Roland.
“Yaah.. kakak aja deeh.. Kan Una mau makan,” tolakku.
“Sudah, Una saja.. ayo cepat!” perintah mama. Terpaksa deh. Aku beranjak dari kursiku, lalu segera membukakan pintu. Oh, ternyata dia sahabatku, Syifa. Dia hanya mengembalikkan buku yang sudah dipinjamnya.
“Habisnya, aku nggak ada kerjaan di rumah. Orangtuaku lagi ke luar kota karena pekerjaan dan Kak Ardi lagi kerja kelompok di rumahku,” jawab Syifa.
“Oh.. Kamu sudah makan belum? Kalau belum, ayo makan bersama! Kebetulan, porsi malam ini sepertinya kebanyakan bagi keluargaku. Lagi pula, tadi kamu sudah bilang kalau kamu sendirian di rumah, dan seperti yang aku tahu, kamu tidak bisa memasak! Iya kan?” godaku.
“Hehehe.. Iya. Ya sudah deh, boleh. Tapi nggak ngerepotin kamu kan?” tanya Syifa.
“Tentu saja tidak, ayo masuk!” ajakku sambil merangkul sahabatku itu. Aku menutup pintu dan segera ke ruang makan. Ternyata keluargaku menungguku. Aku meminta izin kepada mama untuk mengajak Syifa makan malam bersama. Mama mengizinkanku.
Malam itu, kami makan dengan lahap. Setelah makan makanan yang berat, aku memakan buah kesukaanku. Anggur! Hmm.. entah kenapa, tapi dari dulu aku sangat suka Anggur. Padahal waktu aku kecil, aku pernah tersedak biji Anggur. Untung saja, semuanya segera menolongku, jadi aku selamat. Walau begitu, aku tetap tidak kapok! Aku tetap menyukai Anggur. Besoknya. Seperti biasa, aku bangun tidur, mandi, bersiap ke sekolah, lalu turun untuk sarapan. Hari ini, aku sarapan dengan Ommelete Spanyol dan minumnya ada susu cokelat kesukaanku. Setelah selesai sarapan, aku kebingungan mencari buah Anggur kesukaanku. Kok nggak ada ya? Pikirku dalam hati.
“Ma, Anggurku di mana? Kok nggak ada?” tanyaku.
“Ah, itu.. Anggurnya sudah dihabiskan Kak Roland,” jawab mama sambil membersihkan meja.
“Hah?! Kak Roland? Yaah..” Aku mulai kesal dengan Kak Roland. Nggak seperti biasanya Kak Roland memakan semua sisa Anggur yang ada di meja. Padahal sisa Anggur kemarin masih banyak. Ahh.. sudah, lupakan saja.. Hanya Anggur saja kok dipermasalahin?
Aku pun bergegas untuk pergi ke sekolah. Kak Roland sudah pergi duluan dengan mobil miliknya. Sedangkan aku diantar papa yang kantornya melewati jalan yang sama dengan sekolahku.
Sampai di sekolah, orang yang pertama menyapaku tentu saja Syifa. Beberapa menit kemudian, bel tanda masuk berbunyi. Semua murid di sekolah ini masuk ke kelasnya masing-masing. Kami mengikuti pelajaran sesuai jadwalnya. Sampai akhirnya semua pelajaran berakhir pada pukul 13.00 tepat. Bel tanda pulang berbunyi dan kami pun pulang.
“Syifa, ke Seven Belt Cafe, yuk!” ajakku. Siang-siang begini, memang enak bersantai di kafe itu. Walau hanya untuk meminum Lemonade. Yang penting bisa membuat tenggorokanku segar kembali. “Hmm.. sorry ya, hari ini aku harus ikut Kak Ardi ke Toko Buku. Kak Ardi memintaku menemaninya,” jawab Syifa.
“Oh.. begitu, ya.”
“Kalau begitu, aku pergi duluan ya..”
“Oke!” balasku.
Tapi, aku terus berpikir, Sejak kapan Kak Ardi suka membaca? Yang aku tahu, Kak Ardi hanya menonton anime, manga pun tidak dibacanya. Sekalinya Kak Ardi membaca, pasti baca manga online? Aneh.. Tapi aku segera melupakannya. Akhirnya, aku putuskan untuk pergi sendiri. Sampai di Seven Belt Cafe, aku segera memesan 1 gelas Lemonade. Oh, iya.. Kalian tahu apa itu Lemonade? Lemonade adalah minuman yang terbuat dari lemon, air, gula, dan terkadang ditambah es batu. Cukup sederhana, tapi ini enak. Cocok untuk diminum saat cuaca panas begini. Minuman ini berasal dari negara Mesir. Beberapa menit kemudian, pesananku datang. Yeay.. aku menikmatinya. Hmm.. Segar!!
Akhir-akhir ini, jika aku mengajak Syifa pergi ke suatu tempat atau hanya sekedar pulang bersamaku dia selalu menolak. Selain itu, setiap istirahat saat aku mengajaknya ke kantin atau hanya duduk-duduk di taman, dia juga menolaknya. Selalu saja ada alasannya. Lalu, dia mulai tidak pernah lagi berkunjung ke rumahku. Intinya, dia sedikit menjauh dariku. Dan yang lebih aneh, setiap 3 hari sekali, aku kehilangan 5 butir Anggur. Setiap ku tanyakan kepada mama, jawabannya selalu Anggurnya Kak Roland yang makan. Dan itu membuatku harus Diet Anggur akhir-akhir ini.
Di hari Minggu ini, aku bingung mau melakukan apa. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah Syifa. Sudah lama aku tidak mengobrol dengannya. Aku mengambil celana panjang dan jaketku. Lalu, aku pamit kepada mamaku. “Ma, aku mau ke rumah Syifa ya..”
“Ha? Oh, tadi Mama baru saja menerima kabar kalau Syifa dan keluarganya lagi berlibur ke pantai,” jawab mama.
“Apa?! Hhh.. aku benar-benar tidak punya kerjaan hari ini. Ya sudah Ma, aku balik ke kamar dulu ya..” balasku. Dengan lemas, aku kembali lagi ke kamarku. Akhirnya ku habiskan waktu Mingguku ini dengan menganggur di rumah. Menyebalkan!
Hari ini hari Senin, yang menyebalkan di hari Senin adalah upacara! Untung saja aku tidak terlambat, kalau terlambat aku bisa kena hukuman. Hukuman yang berat tentunya. Yaitu, berlari mengelilingi lapangan sebanyak 5 kali. Sedikit. Namun, masalahnya lapangan sekolahku sangat luas. Di tambah cuaca yang panasnya sepanas di padang pasir.
Pelajaran terakhir hari ini adalah ekskul. Aku memilih ekskul komputer. Alasannya.. simple. Karena aku menyukai komputer. Ketuanya adalah Reza. Dia laki-laki yang paling jago ngutak-ngatik komputer. Nilai pelajaran komputernya paling sempurna di sekolah ini. Kalau aku ada masalah dengan komputer, aku pasti langsung menghubunginya. Kebetulan, rumah Reza dengan rumahku tidak terlalu jauh alias dekat.
“Siang!” jawab anak-anak. “Eh, iya.. maksudnya siang..” balas Reza. Dia juga humoris.
Reza lalu duduk di bangku paling depan.
“Hari ini, Pak Yaya tidak bisa mengajar karena sakit. Jadi digantikan olehku ya..” kata Reza sambil menyalakan komputer itu. “Iya..” jawab semuanya. “Oh, iya.. Tugas kalian sudah pada dikerjakan kan? Sini kumpulkan di depan!” perintah Reza. Tugas? Perasaan nggak ada deeh. “Loh? Kok cuman 29? 1 lagi siapa yang belum mengumpulkan?” tanya Reza. Aku mengacungkan tangan perlahan. “Una.. kenapa kamu tidak mengerjakan tugasnya?” tanya Reza serius.
“Aku kan nggak tahu. Waktu itu, aku nggak masuk 1 hari karena harus mengantar Syifa ke toko buku,” jawabku seadanya. “Lalu, kenapa nggak nanya ke yang lain?” tanya Reza lagi. “Kan nggak tahu,” jawabku.
“Makanya nanya!” balas Reza. “Kalau begitu, setelah ekskul ini kamu harus mengerjakannya di sini, harus selesai hari ini juga! Kamu bawa flashdisk kan? Nanti kalau sudah selesai masukkan filenya ke flashdisk kamu! Tugasnya adalah.. bla.. bla.. bla..” Reza sibuk memarahiku. Hhh.. tugasnya susah sekali! Yaah.. aku harus pulang telat deeh..
Ekskul pun selesai. Kini, giliranku mengerjakan tugas dari Reza. Banyak murid yang sudah pulang. Namun, ada juga yang masih duduk-duduk di kursi-kursi taman. Bahkan, guru-guru pun sudah banyak yang pulang. Di ruangan ekskul ini, tinggal aku sendiri. Hhh.. menyeramkan.. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan tugas ini! Beberapa menit kemudian, selesai sudah tugasku ini! Aku segera bersiap-siap untuk pulang. Saat hendak mengunci pintu ruang ekskul, aku menemukan sebutir Anggur. Waah.. Anggur! Pikirku. Aku pun mencucinya dengan sisa air minumku, lalu memakan Anggur itu. Aku pun segera mengunci pintu ruang ekskul itu dan bergegas untuk pulang.
Aku pulang terburu-buru. Takutnya mama mengkhawatirkanku. Karena aku belum sempat menelepon. Sampai di rumah, aku terkejut. Aku terus bertanya-tanya, Apa benar ini rumahku? Kenapa segelap ini? Mungkin aku nyasar? Tapi nggak ada yang salah kok, aku melewati jalan yang sama, gang yang sama, perempatan yang sama, dan semuanya sama. Rumahku benar-benar mirip rumah angker yang sudah lama tidak dihuni! Akhirnya aku memberanikan masuk ke dalamnya. Krieet.. Perlahan-lahan pintu terbuka.
“Ma.. Mama! Kak Roland! Papa!” Aku memanggil semua anggota keluargaku satu-persatu.
Tiba-tiba.. Duar!!! “Aaaa!!!” Aku menjerit. Sepertinya aku menginjak sesuatu. Tapi apa ya?
Klik! Lampu menyala, dan.. “Happy Birthday, Una.. Happy Birthday, Una.. Happy Birthday! Happy Birthday! Happy Birthday, Una!!” Happy Birthday, Una? Oh, iya! Hari ini kan aku ulang tahun ya? Kok aku bisa lupa siih..
“Wuah.. semuanya berkumpul di sini!” seruku. Benar semuanya ada di sini, termasuk Syifa dan keluargaku.
“Happy Birthday, Una! Niih.. tiup lilinnya!” perintah Syifa. Aku pun meniup lilin yang ada di kue itu.
“Bagaimana kalau kita berfoto dulu?” saran Echaa, teman sekelasku.
“Boleh,” jawab yang lain. Kami pun berfoto. Aku yang paling depan dan yang lainnya ada yang di sampingku ada juga yang di belakangku. “Satu.. Dua.. Tiga!!” Aba-aba Raihan, teman sekelasku yang akan memoto kami.
Plok!!
Ya ampuun.. ini tipuan! Dalam sekejap, aku sudah berlumuran tepung juga telur. Layaknya adonan yang sudah siap untuk dipanggang. Tiba-tiba mataku ditutup oleh kain. Kejutan apa lagi ini? Wuaah.. siapa yang mengangkatku? Oh, oh tidak!! Jangan-jangan. Byuur.. Benar saja, aku diceburkan ke dalam kolam renang di belakang rumahku. Setelah asyik bermain di air, aku berganti baju dan segera kembali ke teman-temanku. Waktunya potong kue! Asyiik!! Oh, iya.. ada yang aneh dengan kue ini.
“Loh? Kok, nggak ada cherrynya? Cherrynya diganti dengan Anggur? Hahaha.. kreatif sekali!” kataku.
“I-iya..” jawab Kak Roland gugup. Semua diam. Aku mau memotong kue dan tiba-tiba teringat sesuatu. “Eiit.. tunggu dulu, kalian membuat kue ini sendiri?” tanyaku.
“I-iya..” jawab Kak Roland sama seperti yang barusan. “Be-berarti, anggur-anggur ini yang kemarin hilang?!” tanyaku kaget.
“I-iya..” jawab Kak Roland seperti yang tidak punya jawaban lain.
“KAK ROLAND!!!” Semua tertawa. Aku kesal. Tapi aku bahagia. Terima kasih semuanya!
Cerpen Karangan: Salsabila Husniyya
0 komentar:
Posting Komentar