Pengarang: Egi David Perdana (@EgiDavidPerdana)
Genre: Surealis, Avant-Garde, Semi-Fiksi, Semi-Biographi
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya mencoba menulis tentang seorang penulis besar asal jepang yang begitu menginspirasi saya yaitu Kimitake Hiraoka atau yang lebih kita kenal dengan nama Mishima Yukio (R iwayat hidup bisa dibaca disini: http://en.wikipedia.org/wiki/Yukio_Mishima ) seperti tertulis di atas salah satu sub genre dari cerpen saya ini adalah semi-fiksi jadi mungkin kawan-kawan akan mendapati hal fiksi yang tidak ada di dalam kehidupan Mishima yang sebenarnya.
Jika tidak ada halangan mungkin saya akan terus menulis beberapa mungkin banyak cerpen tentang idola-idola serta orang-orang yang menginspirasi saya serta saya kagumi ;)
Next person short story: Sergio Ramos
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mishima Yukio----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Pedoman hidupku tentang kematian, pemahamanku tentang hidup sesudah mati begitu berlawanan dengan apa yang kusaksikan kini, aku kini terapung-apung mengambang di antara gelap dan terang. Aku sadar aku telah meninggalkan dunia ini”
Mishima terus merasakan tubuhnya melayang-layang, terdengar banyak suara-suara yang menyayat-nyayat telinganya, gendang telinganya sudah tidak memperdulikan suara yang keluar masuk. Suara neneknya ketika ia kanak-kanak, suara kekasihnya, suara sahabat-sahabatnya, suara dirinya sendiri bahkan suara-suara ingatan palsu yang ada di kepalanya ketika ia masih hidup terdengar begitu jelas. Mishima memejamkan matanya namun rasa gelisah akan suara-suara itu terus membuntutinya.
“Sebentar lagi aku akan bertemu Tuhan, aku tak perlu takut dengan suara-suara ini. Mereka akan hilang seiring dengan waktu” ucap Mishima membatin.
Namun entah sudah berapa lama waktu yang Mishima habiskan di antara gelap dan terang itu, tempat itu layak disebut lautan mengambang, tidak ada apapun di sana yang ada hanya suara-suara yang setia menemani Mishima yang sejak lama ingin dia buang. Mishima teringat ketika kecil ia mencoba menaiki pohon Kesemek di halaman rumahnya hingga akhirnya kakinya terpeleset dan kepalanya membentur tanah akibatnya Mishima koma selama satu bulan.
Mishima masih ingat betul pengalamannya sewaktu mengalami koma, ia seperti berjalan disebuah lorong yang panjang yang di ujungnya terdapat dua cabang cahaya, waktu itu batin Mishima seolah disuruh memilih antara cabang timur atau cabang barat dan berkat pilihannya Mishima sadar dari komanya dan menjadi salah satu penulis terhebat yang disegani. Itulah awal mula pemahanan Mishima akan kematian, pemahanannya sangat jauh berbeda dengan yang dirinya alami kini.
Jiwa Mishima seolah bosan terus terombang-ambing, jiwa Mishima merindukan sejolinya yang sudah terkubur dan membusuk dimakan oleh belatung sedangkan kita bisa melihat cicit Mishima sedang membersihkan makam sang buyut bersama dengan kekasihnya, dengan tegar sang cicit berkata:
“Apa yang buyut katakan tentang kematian, tentang mimpi terpanjang serta terindah yang akan manusia alami, tentang hasil dari jawaban kita sebelumnya membuatku semakin yakin bahwa buyut sekarang sedang mengalami masa-masa terindah dalam hayat buyut”
“Tentang apa yang buyut lakukan sampai akhirnya ajal menjemput buyut, ketika buyut tusukan perut buyut dengan katana di depan bangsat-bangsat itu yang mengaku sebagai seorang nasionalisme padahal kenyataannya nasionalisme palsu, aku benar-benar tak memahaminya, tetapi satu yang kutahu buyut adalah pahlawan” tambahnya.
“buyut bahkan sudah tiada sebelum aku lahir tapi aku bisa memahami bahwa pilihan buyut waktu itu tepat di tengah-tengah hedonisme yang kiat menggerogoti negeri kita waktu itu bahkan hingga sekarang, lebih baik mati daripada dikuasai nafsu”tambahnya lagi.
Mishima yang terombang-ambing pikirannya bisa mendengar, melihat dan merasakan apa yang cicitnya katakan, mengatakan tentang semua pemahanan yang ia dapat dari buku-buku karya sang buyut. Apa yang cicitnya lihat, melihat foto pada nisan sang buyut yang amat gagah. Merasakan apa yang cicitnya rasakan yaitu merasakan rasa keharuan yang sangat mendalam dalam diri sang cicit. Semua itu terasa menyatu dalam jiwa Mishima yang terombang-ambing.
Ingin rasanya Mishima menjelaskan pada sang cicit bahwa kelakuannya pada waktu itu salah, seharusnya seppuku dilakukan jika sudah tidak ada pilihan lagi bukan dilakukan di saat adanya alternatif-alternatif yang lebih baik, Mishima tahu betul bahwa waktu itu ia bisa mengubah negerinya dengan tulisan-tulisannya, ia belum mengeluarkan bakatnya hingga 20 persen waktu itu, ia bisa saja merubah negeri bahkan dunia dengan karya-karyanya namun nafsu akan kebosanan hidup sudah menutup batinnya.
Mishima juga bisa mendengar, melihat dan merasakan apa yang orang-orang katakan, sebagian mencibir sebagian juga menganggap ia sebagai legenda, kini ia menjadi saksi dimana ada beberapa orang yang hendak melakukan kebodohan yang sama dengan yang ia lakukan dulu, ingin rasanya ia mencegah tetapi Tuhan telah memaku jiwa Mishima dalam lautan mengambang itu, Mishima hanya bisa terdiam menyaksikan dan menangis.
Entah sudah berada banyak lorong-lorong di tengah-tengah lautan yang dilalui oleh Mishima, lorong-lorong yang menjadi alternatif kehidupan mendatangnya tetapi karena pilihan keliru Mishima sang reinkarnasi pun bingung untuk menentukan tujuan kehidupan Mishima berikutnya ditambah lagi waktu itu Tuhan mengatakan padanya bahwa kematian Mishima dikarenakan apa yang ada di tangan Mishima sendiri bukan ditangan-NYA.
Mishima melihat sebuah lorong yang di dalamnya terdapat gambaran dirinya jika menjadi seorang dokter, Mishima melihat dirinya berjalan di lorong rumah sakit sambil menangis karena tidak bisa menyelamatkan seorang pasien, Mishima berjalan keluar dari rumah sakit, orang-orang di sekitanya pun ikut menangis meminta agar sang Mishima tidak meninggalkan mereka.
Mishima seolah tersindir oleh gambaran tersebut, gambaran tersebut seolah-olah menggambarkan pilihan Mishima yang akhirnya membuat penggemarnya diseluruh dunia bersedih, Mishima kini menyadari bahwa perbuatannya waktu itu sebenarnya bentuk pelarian dirinya akan rasa takut, rasa untuk mempertanggungjawabkan ketakutannya.
Kini Mishima melihat dirinya ketika sedang memakai bedak dan lipstik, ketika dirinya merasa terjebak dalam tubuh pria, Mishima bergaya di depan cermin melakukan pose secantik-cantiknya, Mishima mencoba mengenakan rok tetapi akhirnya kepergok oleh sang istri, sang istri pun menjerit dan berlari, Mishima bisa merasakan dengan jelas apa yang dirasakan oleh sang istri di dunia alternatif tersebut, Mishima kini menyadari bahwa rasa yang juga dirasakannya itu adalah perasaan orang-orang yang kecewa dan merasa jijik dengan orientasi seksual Mishima yang mereka dengar dan persepsikan sepanjang hidup Mishima.
Mishima lalu melihat dirinya ketika menjadi komandan militer, ia berpidato di depan banyak anak buahnya, Mishima terlihat amat gagah dua buah katana dan sebuah pistol terselip di pinggangnya, sejumlah emblem pangkat pun terpasang di pundak Mishima. Mishima berpidato tentang orang-orang yang menyia-nyiakan hidup karena keliru dalam menentukan pilihan.
Kata-kata Mishima dalam dunia alternatif jelas sekali sangat menusuk, menyindir apa yang telah menjadi keputusan Mishima waktu itu, ia sadar bahkan sejak awal mula keputusannya untuk menghabisi nyawanya sendiri di depan banyak orang akan menghasilkan pendapat dan spekulasi yang sama dengan apa yang dirinya katakan didunia alternatif dan itulah sebenarnya apa yang diucapkan dan menjadi pendapat dari mata batin Mishima sebelum ia mengambil keputusan yang ia sesali kini.
Mishima kini melihat reinkarnasi dirinya yang sedang menulis tentang dirinya dan banyak pula orang-orang lain yang menulis tentang dirinya, mereka semua merasa bahwa mereka adalah penjelmaan dari Mishima. Semua yang menulis tentang Mishima adalah orang-orang berbakat, orang-orang yang mempunyai kemampuan hebat meskipun kemampuan mereka masih berada jauh di bawah Mishima.
Mishima berusaha menutup mata, telinga dan batinnya untuk apa yang ia lihat, dengar dan rasakan kini tetapi Tuhan memaku jiwa Mishima semakin dalam dan dalam bahkan semakin mempertajam penglihatan, pendengaran serta mata batinnya, Mishima ingin berteriak memberontak tetapi teriakannya telah diredam oleh sang maha kuasa, ingin menjerit namun jeritannya sudah tak bersuara lagi sehingga sang lautan mengambang pun juga tak mungkin mampu mendengarnya.
Mishima kini sadar bahwa dengan pilihannya dulu ia telah menciptakan banyak pemikiran dan spekulasi pada orang-orang dalam bidang yang sama yang lahir setelah dirinya, pemikiran dan spekulasi bahwa mungkin saja bakat dan kemampuan yang mereka miliki adalah karena mereka adalah penjelmaan dari diri Mishima yang sangat mereka kagum-kagumi bahkan karena pemikiran dan spekulasi mereka kebanyakan dari mereka menjadi stress bahkan sakit jiwa, entah sudah berapa banyak air mata dan uang yang dikeluarkan oleh pihak keluarga mereka ketika berusaha mengeluarkan mereka dari bayang-bayang Mishima.
Mishima ingin menghindar dengan semua gambaran yang ia dengar, lihat dan rasakan tetapi ia tidak bisa apa-apa, jiwanya semakin terpaku dan terpaku, ia tahu yang ia rasakan kini kemungkinan besar bisa menjadi spekulasi yang menjadi karya besar atau murahan orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai Mishima, orang-orang yang bisa saja melakukan kegilaan yang sama dengan yang ia lakukan dulu dan jika itu terjadi ia tidak mungkin bisa mencegah apa yang akan mereka perbuat.
Mishima memejamkan matanya kini ia pasrah karena ia sama sekali tidak bisa melakukan hal apapun juga, Tuhan seolah-olah menyindirnya. Mishima seolah merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang dulu ingin mencegah perbuatannya namun tidak bisa melakukan hal apapun juga. Ya sama yang dialami dan dirasakan Mishima sekarang ia tidak bisa melakukan hal apapun hanya bisa menyaksikan dengan mata yang terus dipaksa terbuka, telinga yang dipaksa mendengar dan batin yang dipaksa merasakan, menyaksikan kengerian yang dirinya dulu anggap sebagai suatu bentuk pemberontakan.
Selesai.
0 komentar:
Posting Komentar