“Sumi, aku datang membawa sesajen, aku punya satu permintaan yaitu kau harus membunuh sri karena ia menolak cintaku”, angin pun berhembus, tiba-tiba seno merasa ada yang menyentuh pundaknya, ia pun menoleh, seorang gadis dengan jubah hitam mendorongnya ke dalam sumur, gadis itu pun tertawa, “hihihihihihi, sesuai perintah”
Tok tok tok, sumi mengetuk pintu rumah sri,
“Siapa sih, malam-malam begini ketuk ketuk pintu, jangan-jangan hantu”, ucap sri ketakutan, ia tak jadi membuka pintu, “Tolong, tolong aku, buka pintunya”, ucap sumi, akhirnya sri pun membuka pintunya, di depannya berdiri seorang gadis dengan jubah hitam membawa kapak, diayunkannya kapak itu ke leher sri, kepala sri pun putus, darah bercucuran dari lehernya
Pagi itu semua berkumpul di depan rumah sri untuk melihat jasadnya, begitupun pak lurah
“Pak lurah, ada tamu yang mau menemui bapak”, ucap asisten pak lurah, pak lurah pun pulang menemui tamunya, ternyata tamunya itu adalah keponakannya sendiri,
“Ada apa riski, tumben ke sini”, riski pun menyalami tangan pakdenya,
“Begini pakde, saya sama teman-teman saya mau kemping di sini untuk beberapa hari, boleh kan pakde?”,
“Boleh, tapi kamu jangan dekat dekat dengan sumur yang ada di sana ya”,
“Ya pakde, tapi kenapa?”, tanya riski
“Sudah banyak warga yang menjadi korban dari sumur itu nak, sumur itu ada penunggunya”, riski hanya mangut-mangut mendengar perkataan pakdenya.
“Lo semua jangan deket-deket sama sumur itu, kata pakde gue tempat itu angker”,
“Sejak kapan lo percaya ama begituan ris?”, ucap Joni, dia tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Riski,
“Lo pikir gue percaya, gue cuma gak mau ada masalah aja, pokoknya kalian harus jaga sikap dan jaga omongan, kita bukan orang sini jadi gak boleh macem macem, ngerti”,
“Ok”, jawab mereka singkat.
Malam pun tiba, Riski dan teman-temannya bernyanyi bersama di depan api unggun, setelah cukup malam, mereka lebih memilih tidur di rerumputan daripada tidur di tenda, angin malam yang dingin dan pemandangan bintang bintang yang indah membuat mereka terlelap dengan cepat, di tengah malam, Joni terbangun karena kebelet pipis, ia kebingungan mau pipis di mana, ia pun lari ke arah sumur tua dan segera pipis di sampingnya, ia pun mengambil air di sumur menggunakan kerekan, saat joni melihat airnya yang berwarna merah darah, joni pun pingsan.
Pagi itu Riski dan teman temannya mencari Joni, mereka meneriaki nama Joni namun tak ada sahutan, mereka pun mencari Joni di dekat sumur dan mereka pun menemukannya tergeletak di pinggir sumur, mereka pun membawanya ke tenda, setelah sadar mereka bertanya pada Joni, namun Joni malah diam, di wajahnya ia terlihat sangat ketakutan namun ia tak mau berkata sepatah katapun,
Hari pun berganti, malam ini Alia mengadakan uji nyali bersama di sumur misteri itu, Riski pun menolak, tapi Alia memaksanya dan mengatakan Riski penakut, akhirnya Riski pun setuju, Mereka berempat pun pergi ke sumur itu, mereka membentuk lingkaran dan bergandengan tangan mengelilingi sumur itu, setelah itu mereka pun menutup mata
“Kami datang untuk uji nyali, jika kamu bersama kami, berikanlah tanda”, ucap Alia, lalu ketiga temannya pun mengulang kalimat yang sama, tak lama kemudian agin berhembus kencang, daun daun berguguran, Alia mulai merasa tidak nyaman, ia pun membuka matanya dan melongok ke dalam sumur, ia melihat air sumur itu bergejolak, sesuatu keluar dari sumur itu, seperti rambut kemudian kepala lalu tangan, Alia ketakutan, ia melepaskan pegangan tangannya dan berteriak,
“Lariiiiiii”, semua orang pun berlari menuju tenda mereka masing masing, di dalam tenda, Alia memeluk Tiara yang ketakutan setengah mati, Alia pun melihat siluet tubuh seorang gadis dengan kapak di tangannya, ia semakin mendekat, ia pun mengayunkan kapaknya dan merobek tendanya, Alia dan Tiara berteriak histeris, tak lama kemudian hantu itu pun pergi.
Pagi itu mereka berempat membereskan barang mereka, dan pergi menuju ke rumah pakdenya riski, di tengah perjalanan, Alia melupakan sesuatu,
“Guys, hp gue ketinggalan di sumur kemaren”, ujar Alia panik,
“Gue bakal temenin lo ke sana, ok”, ucap joni, namun Alia menggeleng,
“Gak usah, gue ambil aja sendiri”, Alia pun kembali ke sumur itu.
Sesampainya ia di sana, ia langsung mengambil hpnya dan bergegas untuk pergi namun saat ia menoleh, Sumi langsung menghujamkan kapaknya ke kepala Alia dan membuat kepalanya terbelah dua, sementara itu Riski dan teman-temannya menunggu Alia yang tidak juga kembali, mereka pun memutuskan untuk pergi ke sumur, sesampainya di sana, mereka shock sekaligus sedih atas tragisnya kematian Alia.
Pemakaman Alia berlangsung sekitar 3 jam, di kuburan, Riski dan dua temannya merenung, tiba-tiba seseorang menepuk pundak Riski,
“Apa kau dan teman-temanmu pergi ke sumur itu?”, ucap gadis itu, Riski pun mengangguk,
“Kau dan teman-temanmu akan mati, tak lama lagi, dia tak butuh waktu lebih dari 3 hari untuk menghabisi korbannya”, ucap wanita itu, ia pun pergi meninggalkan pemakaman, Riski masih bingung dengan perkataan gadis itu, sementara itu Joni mulai menangis, ia lari meninggalkan pemakaman, ia menuju ke jalan raya, Riski dan Tiara pun mengejarnya, namun mereka terlambat, sebuah Truk roda enam melindas tubuh Joni dan meremukkan tulang-tulangnya, mulut Joni pun memuntahkan darah.
Setelah pemakaman Joni, Riski melihat gadis itu dan memegang tangannya,
“Kenapa kau mengatakan itu tentangku dan teman-temanku, siapa kau?”,
“Namaku Putri, dulu ayahku juga mati karena dia”, Riski melepaskan pegangan tangannya, Putri pun langsung pergi meninggalkannya.
Malam itu Riski tidak bisa tidur, ia memutuskan untuk pergi ke luar, menurutnya dengan berjalan-jalan sebentar, ia bisa menenangkan pikirannya,
“Apakah aku akan mati?”, gumamnya terus menerus, tak lama kemudian Riski merasa ada yang membuntutinya, ia menoleh, ternyata benar, seorang gadis berjubah hitam dengan kapak di tangannya kini berada tepat di depan Riski, gadis itu mengangkat kapaknya, namun sebelum gadis itu membunuh Riski, dengan cepat Riski mengeluarkan pisau di sakunya dan melukai tangan gadis itu, gadis itu merintih kesakitan, ia pun berlari menjauh dari Riski,
“Hantu kan tidak bisa berdarah, siapa dia?”,
Riski masih penasaran, ia memutuskan untuk mencari orang yang baru saja ia lukai tadi malam, di jalan, Riski melihat Putri sedang berbelanja di pasar, tangan kanannya diperban, Riski pun segera menghampirinya,
“Ada apa sama tangan lo?”, tanya Riski, Putri terlihat kebingungan mencari alasan, ia pun berbohong pada Riski dengan alasan digigit anjing, namun Riski tidak percaya, diam diam ia pergi ke rumah Putri dan masuk ke kamar Putri lewat jendela kamarnya
“Gue yakin, Putri pasti nyembunyiin barangnya di sekitar sini”, gumam Riski sambil membongkar isi lemari Putri dan menemukan jubah hitam itu, dia juga mencari ke kolong kamar tidur dan menemukan Kapak di sana, tiba-tiba ada yang memegang pundaknya,
“Apa yang kau lakukan di kamarku?!”, marah Putri,
“Lo yang udah bunuh teman-tema gue kan!!”,
“Tidak, itu bukan aku”, jawabnya dengan nada datar dan singkat,
“Lalu ini milik siapa?”, ucap Riski sambil memperlihatkan jubah merah dan kapak,
“Baiklah, karena kau sudah tau, aku akan memberitahumu yang sebenarnya”, Putri pun mempersilahkan Riski duduk di kasurnya dan mulai bercerita
“Namanya Sumi, dia penunggu sumur itu, dulu ayahku dan 2 temannya melemparkannya ke sumur itu, ayahku tidak mau ada saksi yang melihatnya sedang merampok rumah Sumi, makanya dia melakukan itu, tapi setelah ayahku membunuh Sumi, teman-temannya mati satu per satu dengan cara yang tidak wajar, di hari ketiga, ayahku menceritakan semuanya pada ibuku, dan di hari itu juga aku menemukan ayah mati di kamarnya, ia gantung diri”, Putri berhenti bercerita dan mulai menangis,
“Tapi kenapa, lo nyimpen kapak sama jubah ini?”, tanya Riski,
“Setelah kematian ayahku, Sumi datang padaku dan mengancam akan membunuh ibuku, dia berkata, karena dia tak bisa membunuh ayahku, dia akan membunuh ibuku, aku pun memohon padanya agar tidak membunuh ibuku, dia setuju, tapi dengan syarat aku harus menjadi budaknya, setiap kali dia ingin balas dendam, ia akan menggunakan tubuhku untuk melakukannya”, dia menutupi wajahnya untuk menyembunyikan air matanya, Riski mencoba menenangkannya tapi Putri malah mendorongnya,
“Pergilah sebelum Sumi menyuruhku untuk membunuhmu!”, marahnya, Riski pun pergi,
Selesai
Cerpen Karangan: Elis Handayani
0 komentar:
Posting Komentar