Translate

cerpen arti secangkir kopi

Written By iqbal_editing on Rabu, 05 Juli 2017 | 10.32

Arti secangkir kopi bagi dua manusia dalam cerpen tentang dua pria yang keduanya sudah memiliki pasangan namun tetap saling berkomunikasi. Apakah mereka sekedar bersahabat ? simak saja lah pada cerita pendek berikut.

Cerpen Arti Secangkir Kopi

Dalam secangkir kopi kita mengaduk cerita, mencampurkan segala rasa pahit yang tidak pernah aku suka. Katamu kopi itu sederhana. Tidak perlu tambahan gula ataupun susu, kopi menyajikan cita rasa berbeda. Tidak, kamu tidak pernah mengatakan kalau aku mirip dengan kopi. Karena bagimu, kopi itu tidak ada yang menandingi ataupun sebanding.
Membutuhkan waktu lama untuk dapat menyelami cerita dari balik seruput-seruput kopi yang ku habiskan denganmu. Sudah bertahun-tahun ku dengar keluh kesahmu, tentang ini itu, namun tetap saja tidak bisa memahami lebih jauh dari sekedar rasa pahit kopi.
Katamu diriku kurang menyalami makna dari rasa sebuah kopi. Ah… sudahlah kalaupun ku lanjutkan untuk mengkomparasikan rasaku dengan rasa kopi yang selau kamu banggakan, kamu menang.
Pagi itu, kamu bilang kalau ingin bertemu. Aku mengiyakan tanpa harus berpikir panjang, seperti biasanya. Waktumu untukku adalah harta karunku. Tidak pernah puas dengan karunku. Aku selalu meminta lebih, tergila-gila akan hartaku yang satu itu. Jadi saat kamu bilang ingin bertemu, tanpa memalingkan perhatianku ke jadwal padat meeting siangnya, langsung saja ku iyakan. Untuk diketahui, kalau ini bukan pertama kali diriku berkorban banyak untukmu. Tapi tak apa, kau toh tidak perlu tahu.
Kala itu, sudah 3 bulan kita tidak bertemu ataupun saling berkabar. Pekerjaanmu sebagai reporter membuat domisilimu tidak menentu. Pernah sekali ku terima kartu pos dari perbatasan Negeri Matahari Terbit, kemudian seminggu kemudian kau sudah melintasi benua menuju negara Uncle Sam lalu mengirimiku fotomu dan patung Liberty. Kali ini, debu benua mana yang kau bawa ? 3 bulan waktu yang lama dan kau tidak pernah habis membuatku takjub dengan kelincahanmu melintasi samudera dan benua.
Di sudut warung kopi kesukaanmu itu, kau sudah terbiasa menungguku. Si tempat sampah ceritamu dan secangkir kopi yang tidak pernah ku habiskan. Kali ini kau membawa bungkusan besar. Berbentuk persegi buntal dengan kertas coklat. Aku tidak terlalu mengindahkannya. Pandangku langsung tersudut oleh senyum lebarmu dan seraya merangkulku erat dan menepuk pundakku.
“Sudah lama tidak bertemu, sobat.” Katamu dengan tata bahasa yang jelas sekali berbeda dengan orang pada umumnya. Sudah lama, atau malahan yang kutahu hanya kamu memanggilku sobat. Hanya kamu dengan begitu enaknya menyebut kata sobat tanpa terdengar asing di telingaku.
Kamu, mengenakan jaket kulit, celana jins, dan sepatu boots usang. Sedangkan aku, setelan kemeja lengkap dengan jasnya. Di sudut warung kopi kesukaanmu itu, semua orang memperhatikan. Betapa bedanya dunia kita.
“Gimana kabar Karina ?” tanyaku membuka topik. Bukan topik yang sebenarnya ingin kupilih, tapi itu sudah menjadi setelan umum bila pertama kali aku bertemu denganmu.
“She’s pregnant you know. 4 month of pregnancy,” jawab mu dengan senyum lebar.
“Waw ! Cogratulation, future dad.” Kataku sambil menepuk pundakmu. Kamu tertawa, ku tahu kamupun tidak akan menyangka menjadi calon ayah.
Sesekali kamu menyesap kopi, yang masih harus ku telaah kembali untuk menemukan kenikmatannya. “Gimana sama Robert ? Sehat ?” tanyamu membalas.
“She’s happy more than ever,” jawabku langsung.
Kamu tersenyum, meneliti setiap emosi wajahku. Aku terpaku. Tidak bisa ku tutupi perasaanku.
“Bungkusan itu, pasti kopi kan ?” tanyaku mencari pertanyaan untuk melindungi emosi di wajahku.
“Yep, you know it already huh?” balasmu.
Aku menggelengkan kepalaku, mengusap keningku. Tidak ada yang tahu kemana hati ini akan memilih. Aku memaksakan senyum sembari menerima bungkusan kopi itu. Diapun tidak tahu, akan semua emosi berkecamuk yang kurasakan saat mengobrol berdua dengannya seperti ini.
Kopi ini, masih belum memiliki arti tiap kali aku mencoba untuk menikmati. Namun orang yang sedang duduk di depanku ini, tidak perlu tahu betapa berarti dirinya untukku. Biarlah dia hanya merasakan kopi, tanpa perlu mencampur adukkan rasaku. Biarlah diriku menikmati rasa ini, tanpa perlu ada yang tahu.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik