Seorang petani tinggal di rumah kecil di sebuah desa bersama
seorang anak laki-lakinya bernama Jaka. Meski hidup serba kekurangan
Jaka tidak pernah mengeluh. Ia selalu ceria membantu ayah merawat sawah
dan senang bermain dengan teman-temannya. Jaka pun giat belajar dan
rajin bekerja membantu ayahnya di sawah.
Kehidupan mereka bergantung pada hasil panen padi dari sawah setiap enam
bulan. Dua petak sawah yang mereka miliki akan panen sebulan lagi.
Mereka sangat senang dan tidak sabar menunggu datangnya waktu panen.
”Yah, kalau panen nanti, uang hasil penjualan panen untuk beli
apa? Aku ingin beli tas baru ya,” pinta Jaka kepada ayahnya.
”Tasku sudah sobek dan berulang kali kujahit, tetapi sobek lagi, Yah!” sambung Jaka.
”Iya, nanti Ayah belikan tas yang awet dan bagus, tapi kamu harus lebih
rajin belajar di sekolah!” ayah Jaka menjawab dengan ramah. Jaka hanya
mengangguk sambil tersenyum.
Sambil menyantap jagung rebus di saung, mereka menghayal tentang hasil
panen. Mata mereka tertuju pada padi-padi yang mulai menguning dan
merunduk. Senyum riang tergambar cerah di wajah mereka.
Dua minggu sebelum waktu panen tiba, Jaka dan ayahnya semakin giat
mengirigasi, memupuk, dan menyemprot pestisida pada sawah mereka.
Gabah-gabah yang mulai gemuk berisi menjadi pemandangan yang sangat
menyejukkan hati mereka. Ketika asyik bekerja sambil bermain-main,
seekor ular berbisa menggigit kaki Jaka. Spontan, ayah Jaka pun
membawanya pulang ke rumah.
Jaka dirawat oleh seorang mantri terkenal di desa yang akan dibayar
setelah panen nanti. Ayah Jaka merasa sangat geram terhadap ular-ular di
sawahnya yang telah menyakiti anak semata wayangnya itu. Ia mengajak
warga beramai-ramai memburu ular di sawah. Hingga pada akhirnya,
ular-ular di sawah dapat diberantas. Warga desa, terutama ayah Jaka pun
merasa lega.
Seminggu istirahat, kaki dan tubuh Jaka berangsur-angsur membaik. Ia
kini dapat kembali bersekolah dan bermain dengan teman-temannya kembali.
Jaka juga ingin kembali membantu ayahnya bekerja di sawah. Ia
merindukan pemandangan sawah yang baginya seperti ladang emas. Namun,
ayahnya tidak mengizinkannya. Ayah Jaka takut apabila masih ada ular
yang dapat mengancam keselamatan Jaka.
”Ayah, aku ingin membantu Ayah mengairi sawah,” rengek Jaka kepada ayahnya.
”Jangan, Jaka! Kamu masih belum sembuh benar. Ayah juga khawatir masih ada ular di sawah ini!” kata Ayah Jaka dengan agak cemas.
”Tapi aku ingin membantu Ayah,” Jaka kembali merengek.
”Baiklah, Ayah beri kamu tugas berat. Kamu harus menjaga jagung rebus
kita di saung. Jangan sampai Si Kancil mencurinya!” kata ayah Jaka
lembut.
”Ayah, kancil itu makan ketimun, bukan jagung!”
Canda Ayah membuat Jaka tertawa. Kemudian mereka beranjak ke saung di
tengah sawah dengan senyum lebar. Sambil membaca buku pelajaran yang
dibawanya, Jaka duduk di saung berhadapan dengan sepiring jagung rebus
yang masih hangat. Sesekali matanya melirik ke arah ayahnya yang
bermandi peluh. Ia kasihan kepada ayahnya yang bekerja sendirian.
Empat hari lagi waktu panen tiba! Sebentar lagi mereka pun dapat
melunasi hutang-hutang mereka. Selain itu, Jaka juga dapat membeli
buku-buku pelajaran untuk menghadapi semester baru. Genting yang bocor
akan diperbaiki, dan angan-angan untuk membeli sepeda akan terwujud.
Waktu panen adalah saat yang paling membahagiakan bagi mereka.
Menyambut waktu panen, Jaka semakin riang dan Ayah bekerja lebih
semangat. Mereka pergi ke sawah dengan ceria. Selama dua hari mereka
tidak ke sawah karena hujan. Hari ini mereka pasti akan tersenyum
melihat gabah yang gemuk-gemuk di sawah. Jaka membawa satu sak pupuk dan
Ayah menjinjing semprotan pestisida. Setiap langkah mereka jalani
dengan lagu riang gembira.
Sawah mulai terlihat membentang di hadapan mereka. Langkah mereka pun
dipercepat. Tidak sabar mereka untuk bermain-main di tengah sawah yang
coklat keemasan.
Semakin dekat mata mereka memandang ke sawah, semakin cepat langkah
mereka. Namun, senyum di wajah mereka berganti menjadi ekspresi
kekecewaan. Air mata menetes di atas tumpukan padi yang telah rusak.
Gabah-gabah kosong menganga di pucuk tanaman padi yang mereka rawat
sejak lama. Barisan padi-padi tidak teratur lagi. Patah, hancur,
sehancur hati mereka. Keceriaan pun sirna dari raut muka mereka. Hanya
terlihat orang-orangan sawah yang berdiri dengan wajah galak, bodoh!
Tidak ada burung-burung yang menghinggapi sawah. Biji-bijian yang selalu
menarik mereka itu kini telah lenyap.
Beceknya lahan yang mengotori pakaian tidak mereka hiraukan. Mereka
berjalan terseok-seok menuju saung. Saung yang biasanya ramai dipenuhi
canda dan tawa seakan turut berduka. Tubuh ayah dan anak itu
terhuyung-huyung diterpa angin, seperti batang-batang padi rusak yang
mereka saksikan. Jaka celingukan memandangi sekeliling saung. Hanya
padi-padi yang mulai menghitam dan mengering yang dapat ia pandang.
Harapan-harapan mereka kini terkubur dalam.
”Ayah, kenapa sawah kita rusak? Apa karena ular-ular dibunuh?” tanya
Jaka pelan. Ayah Jaka hanya terdiam. Mulutnya tak sanggup berucap lagi.
Penyesalan yang begitu besar tak terbendung. Lama-kelamaan air mata
semakin deras menitik di pipinya. Pria paruh baya itu hanya berkata
”Maafkan Ayah, Nak. Maafkan Ayah”. Sambil mendekap Jaka, Ayah
mengucapkan kalimat itu terus menerus.
Petang mulai menjelang. Kelelawar mulai beterbangan di atas sawah.
Warnanya yang hitam senada dengan kondisi sawah dan hati mereka yang
duduk terpaku di kolong jerami atap saung. Mentari terbenam di celah
antara dua gunung yang terbentang di ujung lahan persawahan. Langit
mulai gelap seiring dengan pilu yang mereda. Kantuk dan lapar pun mulai
mendera.
”Ayah, ayo kita pulang!” ajak Jaka kepada ayahnya.
”Iya, Nak. Kamu pulang duluan, ya. Ayah akan menyusul. Makanlah di
warung Bu Ijah! Katakan kepada Bu Ijah, nanti akan ayah bayar!” Jaka pun
pulang, sementara ayahnya masih duduk bersandar di saung. Tatapannya
kosong, lesu, rambutnya berantakan. Namun rupanya tertutup oleh gelapnya
malam.
Sudah larut malam, ayah belum pulang. Jaka mengkhawatirkan ayahnya.
”Sudah malam, tapi kenapa Ayah belum pulang?” gumamnya dalam hati. Jaka
tidak bisa tidur. Ia menunggu ayahnya pulang sampai pukul 2 malam. Ia
sempat berpikir untuk mencari ayahnya ke sawah, namun di luar sangat
gelap. Ia takut tersesat di jalan. Perjalanan dari rumah ke sawah
menghabiskan kira-kira 1 jam dengan melewati jalan desa, perkebunan, dan
sungai yang arusnya deras. Penerangan di desa sangat minim. Jaka terus
mempertimbangkan rencananya pergi ke sawah. Hingga akhirnya mata Jaka
tak kuasa menahan kantuk. Perlahan mata Jaka menutup dalam posisi duduk
di kursi.
Pagi harinya, kokok ayam membangunkan Jaka. Seketika setelah matanya
terbuka, yang terbesit dalam benak Jaka hanyalah ayahnya. Dicari ayahnya
di setiap sudut rumah, hingga sepanjang jalan menuju sawah.
Di ujung jalan desa, terhampar sawah dengan padi yang layu. Di pusatnya
terdapat saung kecil yang didalamnya seseorang tidur dengan tubuh
melingkar. Jaka panik mendapati ayahnya yang pucat tergeletak lemas di
pembaringannya tanpa alas dan selimut. Belum lagi ayahnya itu kemarin
tidak makan selama sehari penuh. Jaka pun berlari sambil menangis ke
dalam desa mencari pertolongan.
Dengan digotong warga setempat, ayah Jaka dibawa ke rumah. Pak Mantri
datang memeriksa kondisi ayah Jaka. Jaka berlari ke dapur mengambil
baskom berisi air dan kain untuk mengompres ayahnya. Tak lupa air dan
bubur ayam dibelinya untuk ayahnya yang lemah tak berdaya di ranjang.
Ranjang yang digelar di lantai itu dirapihkan supaya ayahnya nyaman.
Diselimuti ayahnya dengan kain sarung dan disuapi dengan penuh kasih
sayang. Meski telah siuman, ayah Jaka belum beucap sepatah kata pun.
Jaka hanya menebar senyum menutupi hatinya yang menangis. Setiap tetes
air mata disekanya segera. Jaka tahu, ayahnya ingin anaknya selalu
tersenyum.
Pak Mantri kebingungan menyelidiki penyakit ayah. Satu-satunya tabib
yang selalu diandalkan di desa ini hanya menggeleng kepala saat Jaka
bertanya mengenai keadaan ayah. Akhirnya, Pak Mantri menyerah. Dengan
gugup, ia menyimpulkan bahwa ayah Jaka baik-baik saja.
”Ayahmu ti..ti..tidak apa-apa. Ia hanya butuh istirahat.”
Kebohongan terbaca jelas oleh Jaka dari mata Sang Tabib. Keringat Pak
Mantri mengucur ketika matanya diperhatikan oleh Jaka. Pak Mantri
buru-buru keluar menyudahi situasi tak enak ini. Warga yang berkumpul di
rumah Jaka pun keluar setelah mendoakan ayah Jaka.
Tersisa satu orang yang masih bersila di ujung kasur. Dia adalah Ratno, teman sekolah Jaka.
”Kamu percaya apa yang dikatakan Pak Mantri, No?” tanya Jaka mengawali perbincangan.
”Tidak, aku tidak pernah percaya pada Pak Mantri,” jawab Ratno singkat. ”Aku lebih percaya dokter.” sambung Ratno.
”Tapi mana ada dokter di sini?” tanya Jaka sambil menyuapi ayahnya.
”Aku pernah dibawa ibuku ke dokter di kota. Kurasa aku bisa membawamu ke sana. Tidak terlalu jauh dari perbatasan.”
”Benarkah? Apa nanti siang kamu bisa mengantarku?” pinta Jaka penuh
harap. Semangat Jaka mulai timbul. Ia bertekad untuk menyembuhkan
ayahnya.
”Mmmmm…” Ratno bergumam sambil berpikir.
”Iya, iya. Setelah itu aku buatkan jagung rebus,” Jaka menawarkan makanan kesukaan Ratno setelah mengantarnya ke dokter.
”Padahal aku tidak meminta imbalan lho, tapi kalau kamu menawariku, aku mau.”.
”Hahaha… Kamu ini!” Jaka dan Ratno tertawa pelan.
Tiba-tiba, keceriaan itu terinterupsi saat seseorang menggedor
pintu dengan keras. Serentak Jaka dan Ratno bangkit menuju pintu.
Berdiri tegap sesosok lelaki kekar memasang tampang garang.
”Hoooi!” tak tahu sopan santun, dia berteriak di rumah orang seenaknya. ”Ada apa ya, Bang?” tanya Jaka.
”Mana utang Bapak kau? Bayar sekarang!” Pria itu berkata dengan kasar sambil menjulurkan tangan minta uang.
”Maaf, Bang. Ayah saya sedang sakit dan kami belum punya uang. Sawah kami gagal panen.”
”Masa bodo! Saya cuma mau uang yang dipinjam Bapak kau, lima puluh
ribu!” Jaka bingung bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu. Kemudian
Ratno memberikan selembar uang lima puluh ribu kepada pria galak itu.
”Lho, No. Kenapa kamu beri uangmu ke Abang ini?” tanya Jaka merasa tidak enak.
”Sudahlah, anggap saja ini bayaran karena kamu sering beri aku jagung
rebus.” jawab Ratno sambil memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku.
“Terimakasih ya, No. Aku akan berusaha kembalikan uangmu itu.” Pria yang
menagih utang itu pun pergi tanpa permisi dan salam. Memang, biasanya
orang yang berhutang kurang dihormati. Orang yang terbelit utang seperti
ayah Jaka sering dimaki-maki orang dan dilecehkan, namun Ayah Jaka
tetap sabar.
”Sementara kita ke dokter, biar Si Mbok yang merawat ayahmu ya, Jak!”
Satu lagi kebaikan Ratno yang membuat Jaka merasa semakin berutang budi.
Jaka memang kebingungan mencari orang yang bersedia merawat ayahnya
ketika ia pergi ke kota. Untungnya Ratno memiliki pembantu yang baik
kepada keluarga Jaka. Mbok Inem sering memberi makanan kepada Jaka dan
ayahnya saat mereka kelaparan.
”Ayah, aku dan Ratno akan ke kota mencarikan dokter untuk
mengobati ayah. Ayah akan dirawat Mbok Inem sampai aku pulang,” Dengan
lembut Jaka memberi pesan kepada ayahnya. Ia mecium dahi ayahnya. Tanpa
sadah air mata Jaka menetes di dahi ayahnya. Setelah salim kepada
ayahnya, Jaka pun berjalan keluar.
”Jaka,” terdengar suara ayah, Jaka berbalik menghampiri ayahnya.
”Hati-hati, Nak!” suara ayah Jaka yang tersengal-sengal sangat memilukan
hati Jaka. Ia tak kuasa membendung air matanya. Segera ia berbalik dan
keluar. Air matanya pun tumpah saat melangkahkan kakinya keluar rumah.
Jaka dan Ratno pergi dengan sepeda. Bergantian mereka mengayuh
sepeda itu. Apabila lelah mulai mendera, mereka beristirahat dan makan
jagung rebus yang dibawa Jaka. Dalam perjalanan, mereka mengobrol sambil
bersenda gurau. Terik mentari yang menyengat tak menyurutkan semangat
mereka. Meski peluh membanjiri tubuh, kaki mereka tetap kuat mengayuh
sepeda cepat.
Empat jam mengayuh, mereka sampai di kota tujuan. Mereka
berhenti sejenak memarkir sepeda. Jaka pergi ke warung hendak membeli
minum untuk bekal di jalan, sedangkan Ratno menunggu di sepeda. Ratno
melihat seorang fakir bersimpuh lesu di pinggir jalan. Ia menghampirinya
dan menaruh uang dua ribu rupiah di tangan pengemis yang menengadah
sejak tadi. Tiba-tiba wajah yang memelas berganti menjadi tampang
bengis. Tangan Ratno ditarik pengemis itu dengan kuat hingga jatuh di
dekapan pengemis kotor itu. Diseretnya Ratno ke gang sempit dan
dipukuli.
”Serahkan semua uangmu! Kalau tidak, akan kurebut secara paksa!” ancam
Si Pengemis sambil mengepalkan tangannya. Jaka yang melihat kejadian itu
langsung berlari mengitari blok meninggalkan Ratno yang ditendangi
berkali-kali, dicekik, hingga tak berdaya.
Jaka mengendap-endap di belakang pengemis yang sedang mencekik Ratno di
depan tembok. Dengan keras Jaka memukul kepala pengemis kejam itu dengan
batu. Ratno terbebas namun masih kesulitan bernapas.
”No, cepat lari ke sepeda!” teriak Jaka.
Ratno berjalan sempoyongan mengambil sepeda. Jaka masih menghadapi
pengemis yang tengah kesakitan. Dua pukulan dihujamkan ke kepalanya
hingga jatuh. Kemudian Ratno datang dengan sepedanya.
”Ayo, Jak! Cepat naik!” Jaka berlari menuju Ratno yang mulai mengayuh sepedanya. Ia melompat ke sepeda dan mereka melaju cepat.
Si pengemis belum menyerah. Ia bangkit dan mengejar dua anak itu.
“Hei! Anak itu pencuri!” Teriakan pengemis membuat warga ikut mengejar
Ratno dan Jaka. Bahkan banyak yang mengejar mereka dengan sepeda motor.
“Apa rencanamu, Jak?” tanya Ratno sambil tergopoh-gopoh.
“Kalau kita berhenti untuk menjelaskan yang sebenarnya, tentu kita akan
babak belur sebelum mengatakannya. Jadi lebih baik kita kabur!” kata
Jaka sambil meminum air yang dibelinya tadi.
“Ini, minum dulu, No!” Jaka menyodorkan botol minumnya kepada Ratno. “Kamu baik-baik saja kan?” tanya jaka.
“Sudahlah, yang terpenting kita lolos dari amuk massa!” jawab Ratno sambil mengembalikan botol.
Ratno memacu sepedanya. Berkelok-kelok keluar masuk gang-gang
sempit, kebun, dan akhirnya mereka berhasil lolos dari kejaran
masyarakat. Ratno kembali ke jalan raya dan mencari rumah Pak Dokter.
Sekitar setengah jam berputar-putar, mereka menemukannya. Mereka masuk
dan duduk setelah dipersilahkan Pak Dokter.
“Adik sakit apa?” tanya dokter kepada Jaka yang duduk di seberang meja.
“Ayah saya yang sakit, Pak” ujar Jaka.
“Ayah kamu mana?” tanya Pak Dokter penasaran.
“Di rumah. Apa bapak bisa ke rumah saya? Ayah saya sakit parah, Pak!” pinta Jaka dengan nada khawatir.
”Tidak bisa, Dik. Saya hanya praktik di sini. Kalau ayahmu mau berobat, bawalah dia kemari!”
”Tolonglah, Pak. Ayahnya tidak mampu pergi kesini!” bela Ratno.
”Maaf ya, Dik. Saya hanya mau dipanggil ke rumah jika ada bayaran tinggi.”
Jaka sangat kecewa, namun ia hanya menyembunyikan wajah kesalnya. Ratno terus membujuk Pak Dokter, namun selalu gagal.
”Huh! Zaman sekarang banyak terjadi kapitalisasi di dunia kedokteran.
Jasanya bukan lagi untuk kemanusiaan, tetapi untuk materi semata.”
celetuk Ratno.
Dokter pun naik darah. Raut kesal mulai tergambar di wajahnya. Kekesalan
pun merambat ke tangannya. Jaka dan Ratno diseret ke pintu keluar.
Mereka pun keluar diiringi kata-kata dingin dari Dokter.
”Dasar orang miskin! Kalau berobat cari saja dukun di kampung kalian!”
Benar-benar kalimat yang menusuk telinga. Tetapi kata-kata setajam itu
tak lantas mengoyak kesabaran mereka. Mereka masih dapat mencari dokter
lain atau mengunjungi apotik.
Dua sekawan itu keluar dari pintu dengan penuh penyesalan.
Sesampainya di luar, mereka dikejutkan dengan berpuluh pasang mata
memandang mereka tajam. Mereka dikepung kerumunan massa yang tadi
mengejar mereka. Di barisan terdepan ada beberapa polisi. Untunglah,
mereka terhindar dari hajaran massa yang marah itu. Polisi membawa
mereka ke kantor polisi setempat. Sepeda Ratno diangkut dengan truk yang
mereka tumpangi.
Di kantor polisi, mereka dimintai keterangan. Lama benar mereka
duduk dan ditanyai ini-itu. Akhirnya keduanya dilepaskan karena tidak
terbukti bersalah. Mereka lega karena dapat melanjutkan misi mereka.
Hari mulai gelap, perut mereka mulai keroncongan. Sejak pagi hanya
sepotong jagung rebus yang masuk ke perut mereka. Mereka pun mencari
rumah makan di daerah itu. Beruntung, mereka menemukan rumah makan dan
apotek yang bersebelahan. Pertama, mereka pergi ke apotek mencari obat
untuk ayahnya.
”Ada yang bisa saya bantu?” tanya apoteker menyambut kedatangan Jaka dan Ratno.
Apoteker ini berbeda dengan dokter yang mereka temui sebelumnya. Dia
ramah dan sopan. Jaka pun menjawab, ”Saya mencari obat untuk ayah saya
yang sedang sakit.”
”Ayah adik sakit apa?” tanyanya kembali.
”Saya tidak tahu, Mas. Tapi kelihatannya parah!” ujar Jaka tegas.
”Bisa Adik jelaskan gejala yang timbul pada ayah Adik?” tanya apoteker
penasaran. Jaka berpikir sebentar untuk mengingat gejala penyakit
yang timbul pada ayahnya kemudian menjawab dengan lantang, ”Badannya
panas, selain itu timbul bintik-bintik merah di tubuhnya.”
”Wah, itu gejala demam berdarah, Dik. Sebentar, saya ambilkan obatnya,”
Apoteker itu memasukkan beberapa bungkus tablet dan kapsul obat ke dalam
kantung plastik. Kemudian kantung itu diserahkan kepada Jaka.
”Ini, Dik. Semoga ayahmu cepat sembuh!” kata apoteker saat memberikan obat kepada Jaka.
”Terimakasih, Mas. Berapa biayanya?” tanya Jaka.
”Lima belas ribu, Dik.” Jaka memberikan lima belas lembar uang pecahan
seribu rupiah yang ditabungnya dari uang saku yang setiap hari ayahnya
berikan. Setelah mendapatkan yang mereka cari, mereka pun keluar apotek
dengan riang.
”Ayah, aku sudah mendapatkan obat untuk Ayah. Semoga Ayah sembuh dan
kita dapat bekerja lagi” gumam Jaka sambil tersenyum. Jaka begitu
senang. Ia tidak sabar melihat kesembuhan ayahnya.
Jaka dan Ratno memasuki sebuah rumah makan yang di dalamnya
ramai sekali. Mereka duduk berdampingan di sebuah kursi panjang dari
kayu.
”Mau makan apa, Dik?” tanya ibu pemilik warung.
”Minta dua porsi nasi dengan lauk telur dadar dan tempe goreng ya, Bu.”
Jaka dan Ratno sepakat untuk memilih menu tersebut karena sesuai dengan
sisa uang mereka sekarang. Mereka pun makan dengan lahap.
Hari sudah malam. Mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan
karena perjalanan menuju desa tidak memungkinkan tanpa penerangan di
jalan desa. Akhirnya mereka pun meminta izin untuk beristirahat di kursi
panjang yang ada di depan rumah makan. Hingga warung tutup, mereka baru
boleh tidur di situ.
Berbeda dengan di desa, yang membangunkan mereka di pagi hari
bukanlah kokok ayam dan cicit burung, melainkan kebisingan kendaraan
bermotor. Mereka pun lekas-lekas pergi meninggalkan kota menuju kampung
halaman mereka. Kali ini Jaka yang mengayuh sepeda. Ia mengayuh dengan
semangat. Waktu tempuh pun begitu cepat. Tidak sampai tiga jam, mereka
berhasil melampaui berbagai medan seperti sawah, kebun, bukit, dan
sungai hingga sampai ke desa mereka. Rumah Jaka mulai terlihat. Meski
kecil dan kusam, Jaka melihatnya sebagai surga dimana seorang malaikat
beristirahat di dalamnya. Jaka berlari menuju rumah sambil mengucap
salam. Ia akan melepas rindu setelah satu hari tidak bertemu ayahnya.
Ratno mengikutinya dengan berjalan. Senyumnya merekah melihat Jaka yang
sangat bahagia. Dengan kasih sayang yang selalu ditebarkannya, Ratno
merasa dunia di sekitar Jaka terasa begitu indah, sehingga ia merasa
nyaman saat berada di dekatnya.
Ratno menapaki teras rumah Jaka dengan perlahan. Daun pintu yang
ia pegang menjadi puncak kebahagiaan melihat temannya sebelum terjadi
antiklimaks yang begitu terjal. Bukanlah kasih sayang ayah dan anak yang
ia lihat, melainkan dua kepala yang tertunduk lesu dan suara isak
tangis mereka. Ratno mendekati Jaka dan Mbok Inem yang duduk
berhadap-hadapan. Ia melihat kasur ayah Jaka yang telah kosong. Tanpa
perlu penjelasan, ia bersimpuh di samping Jaka melakukan hal yang sama
dengannya. Obat dari apotek diremas kuat oleh Jaka. Melihat tetes-tetes
air mata yang jatuh dengan deras membuat Ratno tak kuasa menahan haru.
Jaka pun semakin meluapkan kesedihannya. Tiga orang yang duduk di
ruangan itu menangis sejadi-jadinya.
Seminggu kemudian, Jaka mulai ikhlas menerima kepergian ayahnya.
Mbok Inem pun mengajaknya berziarah ke makam ayahnya Ratno dan kedua
orangtuanya pun ikut bersama mereka. Keharuan kembali pecah di atas batu
nisan ayah Jaka. Ditengah tangis mereka, Mbok Inem memberikan sepucuk
surat kepada Jaka dari Ayahnya. Tak lupa satu pesan terakhir dari
ayahnya, yaitu: ”Jangan Berubah Meski Ayah telah Pergi!”
Sepuluh hari menumpang di rumah Ratno, Jaka hendak kembali ke
rumahnya. Ia tak mau lagi merepotkan keluarga Ratno. Karena utang-utang
ayahnya telah dilunasi keluarga Ratno, ia merasa terbantu dan akan
berusaha bekerja kembali di sawah. Namun Jaka tidak diizinkan pergi.
Orangtua Ratno yang telah mengenal baik tabiat Jaka bersedia menuruti
permintaan Ratno, yaitu menjadikan Jaka saudaranya. Jaka dan Ratno pun
menjadi dua bersaudara yang hidup bahagia.
Penulis : Muhammad Labib Naufaldi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar