Di Cintaman tak ada yang tak menggemari
dangdut. Tiap kali ada orkes dangdut ditanggap, semua melepaskan sapi
kerbau di hamparan padang rumput seharian, menutup pertokoan,
menuntaskan jam kantor agar bisa menikmati dangdut, berjoget-joget,
berteriak-teriak suka cita tanpa ada gangguan. Rasanya dangdut adalah
ekspresi kebebasan yang selama ini terkungkung oleh kerangkeng bernama
kesibukan.
Tak peduli lelaki atau perempuan, mereka berbaur di depan
panggung.
Apalagi kalau Wiwik Sagita sudah mengulurkan tangan hendak salaman,
laki-laki perempuan akan merangsek ke depan berebut tangan biduan yang
mereka yakini lebih wangi dan bersih dari tangan warga Kota Cintaman.
Memang soal bahagia tak terdemarkasi oleh jenis kelamin dan ia kaya atau
miskin.
panggung.
Apalagi kalau Wiwik Sagita sudah mengulurkan tangan hendak salaman,
laki-laki perempuan akan merangsek ke depan berebut tangan biduan yang
mereka yakini lebih wangi dan bersih dari tangan warga Kota Cintaman.
Memang soal bahagia tak terdemarkasi oleh jenis kelamin dan ia kaya atau
miskin.
Pak Aman, Walikota Cintaman selalu
menginstruksikan bahwa boleh joget-joget, boleh teriak-teriak, bahkan
kalau malam mulai memenjarakan sinar terang, mereka boleh meraih
botol-botol ciu dan main dadu, tapi harus tetap aman. Akan terasa
janggal kalau Kota Cintaman tidak aman, padahal dipimpin oleh Pak Aman.
Sedangkan yang paling digelisahkan oleh
orang Cintaman ialah jingkrak-jingkrak penonton orkes dangdut yang meski
tak menimbulkan gesekan hingga berujung bertengkaran, tetapi sering
membuat pohon-pohon rusak: dahan sempal, buah-buah masih mangkal
berjatuhan, bunga dan daun berguguran, bahkan beberapa tumbang dihajar
orang bergoyang.
“Pohon bisa ditanam, tapi bahagia tak bisa dicari di toko mana bibitnya dijual,” Pak Aman mencoba menenangkan.
(2)
“Yakin kau mau jadi seperti Wiwik
Sagita?” tanya Langkar. “Kamu anak gadis di keluarga ini yang paling
bontot. Dan kamu tentu tahu, mas-masmu kerja keras agar kamu bisa
sekolah dan kuliah.”
“Mas, tapi ini panggilan dari dalam hati.”
“Aku sebenarnya tak begitu setuju. Tapi kalau sudah bicara hati, aku tak mampu membantah.”
“Jadi Mas Langkar mengizinkan?”
“Tentu dengan aneka syarat yang harus kamu penuhi.”
Sore itu, seperti pelajaran PPKN di
sekolah menengahnya, Dahlia mendengar semua nasihat Langkar. Yang tak
jauh-jauh dari bahaya menjadi biduanita dangdut di Kota Cintaman. Bukan
masalah uang –yang ini jelas jauh lebih pasti daripada bertahun-tahun
sekolah dan kuliah dengan ujungnya sama-sama menjadi penenteng ijazah
tanpa kepastian hidup. Sekali manggung, untuk ukuran pemula seperti
Dahlia, pasti tak kurang dari dua lembar uang seratusan ribu bersih dia
dapatkan. Bila sudah ngetop pasti lebih besar. Semakin besar kalau
Dahlia mendapatkan saweran dan uang lelah lebih dari penanggap orkes.
Langkar lebih ingin menasihati bahwa
menjadi biduanita ialah mengasah pedang untuk jaga-jaga. Dahlia harus
rajin menabung dan jaga-jaga bila ada seekor burung tengil yang mencoba
mengutik-utik Dahlia untuk kenyamanan hinggap sebentar di sangkar
Dahlia. Bahaya! Dahlia masih muda dan hidupnya tentu masih panjang.
Dahlia manggut-manggut. “Kalau burung itu hanya bersiul-siul di depan sarang Dahlia, bagaimana?”
“Aku yang akan menebaskan parang ke leher burung itu.”
“Jadi Mas Langkar akan menemaniku setiap ada order manggung?”
Langkar hanya menjawab dengan ‘emmm’
berat. Pikirannya jauh ke masa sebelum Dahlia lahir, tentang seorang
perempuan yang dicintainya dan diam-diam tak kembali ke dekapannya.
(3)
Langkar malam itu tak mengantar hingga
orkes mematikan lampu sorot bintangnya yang terakhir. Langkar kadung
lelah setelah hampir lima jam di belakang kemudi sedan mengantar wanita
yang semenjak berangkat dari pentas sebelumnya sudah minta izin ingin
tidur lebih dahulu. Katanya demi menyimpan tenaga di pentas dangdut
malam nanti di alun-alun Cintaman, yang memang diyakini akan dihadiri
orang-orang penting di lingkungan pejabat kota. Pak Aman tentu hadir.
Dan Langkar tak bisa bilang tidak bila itu urusan pentas.
Saat memasuki lapangan di tengah
alun-alun Cintaman, Langkar kagum sekali. Ini bukan Cintaman yang biasa
dia kenal. Lampu-lampu ternyata lebih terang dari siang yang selama ini
dianggap Langkar paling terang. Mungkin demi kedatangan biduan paling
dikagumi seantero Cintaman, malam terpaksa dibuat melebihi terangnya
siang, dengan berribu-ribu watt lampu sorot. Seolah tak ada pojokan
alun-alun yang gelap. Bahkan bayangan malam itu lenyap ditelan cahaya.
Langkar minta izin untuk rebahan di kursi
berbantal lembut di pojokan ruang ganti khusus biduan. Tak lebih lima
menit, Langkar sudah mendengkur halus. Dadanya naik turun seperti pompa
ban. Mulutnya menganga. Biduan itu tersenyum dan minta kepada salah satu
panitia untuk memberikannya selembar selimut dan tambahan bantal satu
lagi untuk menopang leher Langkar.
Entah mimpi yang bagaimana, yang malam
itu membuat Langkar seperti tersirap tak sadarkan diri. Langkar
terbangun seperti disentak oleh pukulan di pundaknya, dan ruangan itu
hanya disinari lampu kuning di dekat meja rias. Langkar geragapan dan
meraih-raih ingatan yang mungkin saja masih tersisa di alam tidurnya.
“Mana dia? Apa pentasnya sudah selesai?”
Tak ada yang menjawab. Dingin dan sunyi
telah menjadi kabut menjelang dini hari itu. Langkar menyusuri sisa-sisa
kemeriahan semalam. Panggung masih tersisa dengan geber merah
dan di sana tulisan orkes dan biduan yang sangat Langkar kenal. Cahaya
yang begitu terang semalam, kini telah berjubah gelap. Kehangatan dan
keceriaan tak tersisa. Yang mulai menyelimuti dada Langkar ialah
kesunyian dan keragu-raguan. Apa yang didebar-debarkan selama ini
terjadi hari ini.
“Dimana kamu, Manisha?”
Pertanyaan itu tak terjawab dan tak ada
yang benriat menjawab. Hingga matahari berdiri dua galah di atas kepala
Langkar, barulah ada suara yang menghunjami telinga Langkar.
“Manisha telah ditelan malam. Dia menjadi pohon.”
“Manisha menjadi pohon?”
“Kamu tidak kenal pohon di tengah itu?”
Langkar menyaksikan sebatang pohon di
tengah alun-alun: daun warna hitam, daun-daun warna kuning matahari. Ya,
itu pakaian yang Manisha rencanakan pakai di pentas semalam. Langkar
mendekat, rumbai-rumbai akar gantung menyapu wajah Langkar, seperti
sapuan tangan lembut Manisha. Langkar tak bersuara, matanya basah oleh
penyesalan.
(4)
Bila ingin mengenang Manisha, Langkar
mengadakan perjalanan ziarah ke alun-alun kota. Langkar menatap pohon
itu dengan tatapan penuh rindu. Pohon itu meski sebatang tak sekali pun
ada niatan orang yang ingin menebang. Sedang pohon-pohon kecil di
seputaran alun-alun telah tumbang: terkena topan kencang, tersambar
guntur, digantikan tiang listrik atau telepon, bahkan para penjoget
dangdut sering merangsaknya hingga jatuh dan digilas kaki. Tapi pohon
itu masih saja kokoh. Langkar meraba pokok paling bawah, seperti memeluk
Manisha kekasihnya sendiri.
Dua buah yang menggantung di dahan pohon
itu bundar dan indah. Kulit buahnya halus menggiurkan. Langkar ingin
memetiknya. Tapi buah itu masih mengkal belum matang. Dan tiap ia
mengingat bahwa Manisha yang berubah menjadi pohon itu, Langkar hanya
merunduk dan malu menyaksikannya.
Langkar menutup ziarah itu dengan doa
agar mimpi buruk itu bangun. Mimpi buruk panjang yang tak terperikan,
batin Langkar. Tapi pertemuan itu tetaplah membuat Langkar bahagia.
Langkar kembali ke Kota Cintaman dengan dada yang berbunga serta senyum
tak pernah reda.
“Lihat lelaki itu?”
“Yang mana?”
“Yang itu, yang tampak bahagia, seperti
lelaki paling bahagia di dunia. Dan setelah kuamat-amati tiap duduk di
bawah pohon itu, dia selalu berbahagia.”
“Apa itu pohon berkah?”
“Maksudmu kita bisa meminta agar dapat tuah dan terhindar tulah di pohon itu?”
Tanpa saling menjawab, sesusai Langkar
pergi dua orang itu menyusul bersimpuh di bawah pohon itu. Berdoa dan
seolah terbantu, semuanya terkabul. Hingga tanpa sadari, orang-orang
telah mengeramatkan pohon itu.
(5)
Pak Aman kebakaran kesabaran, setelah
tiga malam berturut-turut kampungnya mulai dilanda gangguan keamanan.
Pencurian mulai merajalela, bahkan terjadi perampokan disertai
penganiayaan. Pak Aman tak bisa membuat lagi Kota Cintamanaman. Dangdut
mulai dikurangi dan diganti dengan ronda malam. Dahlia tak sekali pun
mendapatkan jadwal manggung, Wiwik Sagita tak lagi hadir di Cintaman.
Wajah-wajah orang dirambati duka dan kekhawatiran. Siapa pencoleng yang
berani mengusik dan menanamkan ketakutan itu?
(6)
“Apa aku masih bisa menjadi seperti Wiwik Sagita?” tanya Dahlia ke Langkar.
“Kamu jadi dokter saja, kalau kakakmu ini
sakit atau disakiti kamu bisa menyembuhkanku,” Langkar mengelus rambut
Dahlia yang hitam, lurus, dan tergerai hingga tengah punggung.
“Tapi Dahlia suka menyanyi?”
“Apa dokter dilarang menyanyi?”
Dahlia belum menjawab, Langkar sudah
menyusul dengan sanggahan baru. “Semua berhak menyanyi, seboleh semua
orang berbuat baik dan jahat.”
(7)
“Ternyata kita telah mendidik seorang
pencoleng. Seperti duri yang mengoyak daging dari dalam. Dia yang selama
ini mengusik keamanan Cintaman. Tak ada ketimpangan dalam eksekusi
kejahatan. Pisau Pak Aman takkan tumpul berat sebelah. Semua harus
disamaratakan.”
Sambutan Pak Aman disahut dengan keriuhan
banyak penduduk Cintaman. Alun-alun kota siang itu terbakar matahari
dan emosi yang tak kalah panas.Sedangkan seorang lelaki wajahnya
tertunduk. Tangan dan kakinya terikat kencang. Rambutnya telah
digunduli. Bahkan tak ada yang mengenali wajahnya yang penuh lebam,
tonjokan, hantaman, dan sabetan benda tajam membuatnya hancur. Tak ada
yang mau menyebut nama orang yang telah membuat Kota Cintamankisruh
beberapa waktu terakhir. Mereka hanya menyebutnya “Banjingan!
Bromocorah! Perusak!” sambil meludah.
“Kita hukum saja! Di alun-alun Cintaman ini!” teriak Pak Aman.
Dia ditelanjangi, diseret, diarak,
kemudian digantung di dahan pohon. Pohon yang dahulu Langkar sering
peluk. Setelah tergantung dan berayun-ayun, dentum dangdut pertama
mengalun. Mata lelaki itu terbuka.
Sebelum nyawa lelaki itu meloncat, dia
samar-samar mendengar suara yang sangat dia kenali. Suara Dahlia. Dan di
samping pohon itu, tumbuh pohon kecil yang daunnya merah muda senada
dengan warna baju Dahlia.
“Dahlia, jangan, Dahlia! Turun segera!”
Namun tak ada yang mampu mengkhianati
maut. Langkar berusaha merebut nyawa yang hampir dicabut makhluk langit.
Dan samar-samar Langkar mendengar suara rayuan Manisha. Gemerisik daun
pohon digesek angin itu seolah berkata, “Langkar, ini Manisha. Minumlah
getahku. Dan mari kita berpelukan di bawah kibaran daun sambil menguji
melodi dangdut Dahlia.”[]
-untuk Joko Pinurbo
0 komentar:
Posting Komentar