Translate

cerpen sang petani

Written By iqbal_editing on Kamis, 06 Juli 2017 | 06.15

SANG PETANI

Suara kumandang adzan subuh bergema ke seluruh penjuru desa, itu pertanda malam telah berganti pagi, rasanya aku enggan beranjak dari peraduan tapi demi kewajibanku kepada Sang Pencipta akhirnya aku bersegera mengambil air wudu dan segera pula bergegas melaksanakan sholat subuh.
Pagi ini aku awali hari dengan berangkat ke sawah seperti biasa ditemani bapak, ya... aku dan bapak. Aku adalah seorang petani, selain bertani kami juga beternak, tidak hanya sapi dan kambing, kami juga beternak ayam, bebek, kelinci dan ikan, semua kami lakukan untuk mencukupi perekonomian kami sekeluarga, namaku Rashid umur aku 20 tahun. Aku adalah anak paling tua dan adik perempuanku bernama Aida kami hidup di desa dan kehidupan kami sederhana, keluarga kami terdiri dari aku, Aida serta bapak dan ibu, selain bertani bapak aku juga membuat anyaman dari bambu, seperti membuat:besek, bakul dan lain-lain, dan ibuku berjualan sayur di pasar.
Aku sangat bangga dengan kedua orang tuaku mereka bekerja keras demi mencukupi kebutuhan sehari-hari dan pendidikan kami, aku seorang mahasiswa dan Aida adikku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama. Kami sedang butuh banyak biaya tapi kami juga tak berpangku tangan melihat orang tua kami bekerja keras, sehabis pulang kuliah aku selalu membantu bapak di sawah, tapi tugas utama aku merumput untuk kambing dan sapi aku, bahkan setiap panen tiba aku selalu ikut menjadi buruh panen padi, lumayan sehari aku bisa dapat 3 karung gabah yang nantinya bisa aku giling menjadi beras, tapi semua itu hanya dapat aku lakukan ketika aku libur.
Dan Aida adikku, dia juga tak tinggal diam membantu kami. Sehabis pulang sekolah dia membantu bapak membuat anyaman dan memberi makan ayam, bebek, kelinci dan ikan, kami merasa tidak terbebani dengan pekerjaan ini, kami malah merasa senang bisa membantu orang tua kami, toh bila ternak kami gemuk dan sehat kami juga yang akan merasa senang, selain di jadikan lauk bisa juga dijual untuk keperluan sekolah dan keperluan sehari-hari.
Aku tak pernah mengeluh dengan keadaan ini, mesti kadang-kadang ada perasaan malu juga, ketika teman-teman kuliah mengolok-olok diriku, karena badan aku hitam seperti arang tapi setelah aku pikir-pikir kenapa juga aku mesti malu, harusnya aku bangga bisa membantu orang tuaku dan sedikit-sedikit bisa membantu membayar uang kuliah dari hasil jerih payahku menjadi buruh panen padi, untungnya aku juga mendapat beasiswa dari kampus, sedangkan mereka masih meminta dari orang tuanya, tidak hanya uang kuliah tapi juga semuanya, motornya, uang sakunya dan lain-lain. Mereka tidak mau berusaha sendiri, sedangkan aku hanya untuk mendapatkan sebuah motor aku harus menjual sapi kesayanganku. Aku bukan ingin gaya seperti mereka pakai motor tapi karena benar-benar kebutuhan untuk transportasi karena jarak rumah dan kampus cukup jauh.
Orang tuaku mendidik ku menjadi anak yang sabar, berjiwa besar, pantang menyerah, serta ikhlas menerima apa yang Allah kasih, maka dari itu sejak kecil aku tak pernah malu dengan kehidupan kami yang sederhana, dulu ketika masih Sekolah Dasar, aku ke sekolah tanpa alas kaki, waktu itu bapak tak mampu membelikan sepatu, tapi toh aku tetap ke sekolah tanpa rasa malu, untungnya tidak hanya aku yang bersekolah tanpa sepatu, banyak teman-temanku yang nasibnya sama seperti aku dan untungnya lagi pihak sekolah maklum itu.dan semua ada hikmahnya, ketika musim hujan datang aku tak pernah susah jalan di pematang sawah yang licin. Aku masih ingat juga ketika Sekolah Menengah Pertama teman-temanku mulai memakai sepeda, karena jarak sekolahan cukup jauh. Aku yang tak memiliki sepeda sendiri harus jalan kaki ketika ke sekolah, dan bisa di bayangkan aku sering datang terlambat, lama-kelamaan bapak kasihan kepadaku, akhirnya bapak menjual kambing dan membelikan sepeda, sebenarnya kambing itu tabungan bapak untuk biaya nanti kelak bila aku masuk SMA.
Aku tak pernah lupa kenangan waktu kecil, karena dari situlah aku bisa bercermin dan aku tak akan melupakan jasa kedua orang tuaku yang telah berkorban banyak demi aku dan adikku, aku bahkan tak pernah malu menjadi petani dan mempunyai orang tua seorang petani. Aku justru merasa bangga karena kalau tak ada kami dan petani-petani lainnya mungkin semua orang akan kelaparan karena tak ada yang menanam padi secara tidak langsung kami juga termasuk pahlawan.
Bapak dan ibu juga jadi pahlawan bagi aku, karena perjuangan beliaulah aku bisa memperoleh pendidikan yang layak. Bapak dan ibuku menginginkan kelak kehidupan anak-anaknya jauh lebih baik dari kehidupannya sekarang, meskipun bapak dan ibuku hanya tamatan Sekolah Dasar tapi beliau ingin anak-anaknya bersekolah setinggi-tingginya sampai mencapai gelar sarjana. Aku harus mewujudkan cita-cita beliau dengan cara rajin belajar, supaya cita-cita aku menjadi sarjana pertanian terwujud. Aku ingin membangun desa, aku ingin kehidupan perekonomian para petani disini jauh lebih baik, aku ingin kehidupan kami semua lebih sejahtera, aku berjanji akan mewujudkannya kelak.



                                                                                      Yogyakarta, 12 April 2013



                                                                                         penulis: Etik Noviana

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik