Translate

cerpen sate ajaib

Written By iqbal_editing on Minggu, 16 Juli 2017 | 00.44



Aku melangkahkan kaki yang terbalut rok hitam panjang nan longgar menuju gerbang kampus. Ini adalah hari kelimaku berstatus mahasiswi baru di Fakultas Ilmu Budaya, universitas negeri dambaanku. Lalu, aku menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang dilakukan sepasang kaki yang telah berjalan selama dua puluh menit terakhir.

            Hari kelima ini, aku masih menjalani kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru atau disingkat PMB. Betapa bahagianya ketika bertemu dengan banyak teman yang berasal dari berbagai daerah. Ya, merekalah keluarga baruku. Aku berhenti melangkah sejenak dan melihat sekeliling. Ternyata, sudah banyak yang berkumpul di halaman kampus, tempat diadakannya apel pagi untuk mahasiswa baru. Mereka mengenakan kemeja putih panjang, bawahan hitam, beserta atribut yang sudah ditentukan. Aku bergegas menuju kerumunan tersebut. 

Kutemukan sosok Aci dan Fadil di barisan depan. Aci adalah gadis mungil berhijab yang berasal dari Pariaman. Sedangkan Fadil adalah laki-laki tinggi semampai, berkacamata. Dia tinggal di Kabupaten Semarang, sama denganku. Namun, kami berbeda sekolah. Kami pun berceloteh ria dan sesekali terdengar tawa kecil dari bibir kami. Sepuluh menit kemudian, terdengar suara seorang kakak angkatan dari microfon di atas panggung. Kami diminta untuk berbaris rapi dan saat itu juga berlangsunglah apel pagi PMB di fakultas.

Setelah apel pagi selesai, para mahasiswa baru diarahkan untuk masuk ke sebuah kelas di lantai tiga. Aku berdiri di depan pintu kelas berwarna putih sembari mencari sosok Aci dan Fadil. Aku melongo kesana-kemari namun percuma, aku tak menemukan mereka. Aku mengumpat dalam hati dan langsung memilih kursi kosong pada baris ketujuh dari belakang. Aku tersenyum lebar karena aku sebaris dengan Fadil. “Hore!” seruku dalam hati sembari menyampirkan tas di punggung kursi. Memang, aku dan Fadil terpisah oleh satu orang. Tak apalah. Aku tersenyum ringan.

Dua- tiga jam kemudian, aku mendongak menatap langit-langit dan menghembuskan nafas berat..

“Membosankan. Materi, materi, dan materi,” Aku mengumpat dan sudah menguap empat kali dalam lima belas menit terakhir.

Inilah risiko duduk di belakang, kerap kali tak terdengar materi apa yang diucapkan oleh dosen. Aku kembali menghembuskan nafas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Aku iseng menengok ke arah kanan. Aha! Aku pun berniat untuk memanggil Fadil.

“Dil, Fadil!” pekikku berbisik.

            Saat itu, bukan Fadil yang menengok ke arahku, melainkan seorang lelaki yang duduk di sebelah kanannya. Aku memaksakan seulas senyum sopan. Aku memanggil Fadil sekali lagi dan lelaki itu menengok padaku untuk kedua kalinya. Aku mengisyaratkan telunjukku ke arah Fadil. Akhirnya, Fadil menengok.

“Dil, apa yang disampaikan dosen itu? Aku tak mendengarnya?” ucapku dengan mengerutkan kening tak mengerti.

Alis Fadil terangkat dan berpikir. “Entahlah, aku tak mendengarnya.”

            Aku menghela nafas dan melirik jam tangan.

“Mungkin sepuluh menit lagi,” kataku pada diri sendiri.

Secara sekilas, aku mengamati orang asing yang sekarang duduk di sebelah kananku : pemuda bermata sipit, bertubuh kurus dengan rambut sedikit gondrong. Aku berniat untuk berkenalan dengannya.

“Hei!”

Lamunannya buyar dan pemuda itu berusaha memusatkan perhatian padaku, “Ya, ada apa?”

Aku berdeham.

“Siapa namamu? Boleh berkenalan?” aku memulai pembicaraan.

“Oh, boleh. Namaku Rio,” jawabnya singkat.

Aku membulatkan mulut, lalu melanjutkan,”Kamu berasal darimana?”

“Jepara. Siapa namamu?” tanyanya padaku.

“Namaku Tasya. Biasa dipanggil Caca. Aku berasal dari Kabupaten Semarang. Salam kenal ya,” sahutku sembari tersenyum lebar.

“Oh, ya,”

            Aku tertawa pahit dan mendengus pelan. Kurasa Rio kurang menyenangkan apabila diajak berbicara. Ketus sekali.

Saat itu, aku lebih banyak diam. Aku duduk bersandar dan memandang keluar jendela dengan tatapan kosong.  Tak sengaja, aku melihat pemuda di samping Fadil memandangku lagi dan lagi.

“Orang aneh,” aku menggerutu sendiri.



Saatnya istirahat. Yes! Aku berseru dalam hati. Sejauh mata memandang, hanya terlihat teman-teman yang berlalu-lalang. Ada yang sedang makan, bergurau ria, dan ada yang sibuk berkenalan dengan yang lain. Aku masih duduk di kursi yang sama.

“Caca!” seru Fadil dan Aci menghampiriku. Kulihat pula pemuda aneh yang duduk di samping Fadil juga ikut mendekat. Aku hanya mengangkat bibir ke atas dan melambaikan tangan ke arah mereka.

            Mereka pun meraih kursi di sekitar tempat dudukku.

“Hai, Ca. Ada apa denganmu? Kau terlihat pucat?” Aci mengerutkan kening.

“Tak apa. Aku hanya lelah”, sahutku dengan seulas senyum. Memang, pipiku terasa agak kaku, tapi berharap senyumku terlihat normal.

“Begitu?” gumam Aci sambil merenung.

“Oh,ya. Teman-teman, kenalkan. Ini teman baruku. Namanya Dimas,” Fadil memperkenalkan pemuda itu seraya merangkulnya.

“Hai, Dimas. Namaku Tasya. Biasa dipanggil Caca,” sahutku.

Dimas menyodorkan tangannya yang besar padaku. Perlahan, aku munjulurkan tangan.

“Dimas. Dimas Ramaditya,” ucap Dimas tersenyum saat menggenggam jemariku.

Aku membalasnya dengan sebaris senyum pula.

            Perut Fadil meraung. Terdengar oleh kami.

“Hei, kurasa perutku minta makan. Kalian sudah makan?” Fadil meringis dengan tangan yang terus-menerus memegangi perutnya.

“Belum,” jawab kami bergantian.

“Beli makan yuk. Lapar sangat,”

“Yuk!” jawab kami serempak.

            Sambil mengobrol ringan, kami berjalan meninggalkan ruang kelas tersebut dan menyusuri lorong lantai tiga, menuruni tangga, berbelok ke arah kanan. Kami telah sampai di kantin kampus.

“Aku mau pesan bakso, kalian mau pesan apa?” Tanya Fadil saat kami telah duduk di kursi yang menghadapi sebuah meja kayu coklat cerah.

“Sama semua saja”, sahut Aci sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

            Setelah Fadil memesan, kami kembali mengobrol.

“Panas sekali hari ini”, keluhku.

“Ya begitulah matahari di bulan Juli”, Dimas mengangkat bahu.

“Lapar….”

“Sabar dulu, Dil. Kita semua juga lapar” Aci terkikik geli.

            Fadil mengangguk lesu.

“Pesanan kita sudah datang!” celetukku gembira.

            Kami berempat menoleh bersamaan ke depan. Tampak seorang pria tua dengan rambut yang sedikit memutih membawa pesanan menghampiri kami. Satu per satu hidangan beliau sodorkan ke meja kami.

“Silakan menikmati”, ucap ramah pria tersebut sebelum berlalu.

            Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Selamat makan!” pekik Fadil berbisik.

            Aku menyeruput air es teh dalam gelas dengan sedotan.

“Apakah kita akan menjalani PMB selama satu minggu?” tanya Aci sebelum kembali menyuap sebutir bakso yang masih mengepulkan asap ke mulutnya.

“Mungkin..”

“Biasanya seperti itu,”

“Aku mendengar beberapa informasi memang benar demikian. Lagipula, PMB tidak selalu diisi materi. Tetap saja sesekali diisi dengan permainan dan promosi UKM, seperti beberapa hari yang lalu” Dimas menjelaskan lebih detail.

“UKM?” tanyaku.

“Begitulah. UKM adalah Unit Kegiatan Mahasiswa. Kalau istilah sekolah biasa disebut ekstrakurikuler,” jawab Dimas.

“Bukannya sudah dijelaskan?”

“Oh,kurasa aku melewatkannya,” ucapku tergagap.

Aku sedikit takjub melihat Dimas saat itu. Namun, aku berusaha tetap tenang. Awalnya, aku mengira bahwa dia adalah lelaki yang aneh dan sering memandangku dari kejauhan. Ternyata, dia adalah seorang yang ramah.

            Lima belas menit kemudian, kami telah selesai makan siang.

“Saatnya kembali ke kelas”, Fadil menarik napas dalam-dalam sembari bangkit dari kursi.

“Hore!” jawabku datar.

            Tiba-tiba Dimas tertawa kecil.

“Ada apa, Dim?” tanyaku polos.

“Iyalah. Dari tadi kau tak pernah memperhatikan dosen saat materi berlangsung,” komentar Dimas tertawa.

“Benarkah?” aku mengerjapkan mata padanya.

            Dia hanya mengangguk.

***

            Pukul 16.20, aku telah sampai di depan pintu kos, aku mengeluarkan kunci pintu dari tas. Kubuka gerendel kunci dan membuka lebar daun pintu kamar. Setiap kos disini memiliki susunan yang sama : dapur, balkon sempit yang berfungsi sebagai tempat menjemur pakaian, satu kamar mandi kecil, dan satu kasur tidur berukuran kecil.

            Aku menghempaskan diri ke kasur dan menemukan kenyamanan.

“Hari ini sangat melelahkan,” aku menarik nafas panjang.

            Tak terasa, mataku terpejam. Tertidur untuk melepaskan kepenatan yang dirasakan dalam satu hari ini.



Aku terbangun dengan kepala sedikit pusing dan badan kaku. Hal pertama yang kusadari adalah keadaan kamarku yang sangat gelap. Sudah malamkah? Sekarang jam berapa? Aku mengerang, lalu memejamkan mata sejenak. Kurasa, aku masih lelah. Lelah sekali. Badanku menolak untuk bergerak. Aku memaksa diriku untuk bangun dan duduk di tepi kasur. Lalu, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan untuk menyadarkan diri. Perlahan, aku bangkit dan berjalan terseok-seok ke lemari pakaian untuk mengambil baju ganti dan handuk. Selanjutnya, daku memutuskan segera beranjak ke kamar mandi. Guyuran air serasa es menjilat permukaan kulitku. Segar sekali.

Beberapa menit kemudian, aku telah selesai mandi. Guyuran air tadi membuat rasa lelahku seakan menguap tak berbekas. Malam itu sangat dingin dan perutku sangat lapar. Aku pun keluar dari kamar dan pergi keluar untuk membeli makanan. Warung makan hanya berjarak beberapa meter dari kos. Ya, tak apa untuk sekadar makan mengisi perut yang kosong.

Tiba di suatu warung makan, aku memberi salam kepada bibi pemilik warung.

“Caca?” sapa seorang lelaki tegap yang berdiri di belakangku saat aku tengah memesan sepiring sate lontong, kesukaanku.

Aku membalikkan badan dan ternyata pemilik si suara adalah Dimas.

“Dimas?”

“Mau makan, Ca?” tanya Dimas dengan ramah.

Aku mengangguk, “Kamu?”

“Tentu saja,”

            Aku tahu benar diriku adalah orang yang mudah bergaul, tapi jarang sekali bisa langsung akrab dengan seseorang. Dimas Ramaditya terlihat sangat percaya diri dan pandai berbicara. Selama makan, kami mengobrol banyak.

“Kau suka sate?” tanya Dimas.

“Ya begitulah. Sejak kecil, aku sangat menyukai sate. Kau tahu, sate adalah salah satu makanan tradisional Indonesia yang masuk dalam kategori sepuluh makanan terenak di dunia,” ucapku dengan antusias.

“Oh ya?” sahut Dimas tersenyum.

Aku mengiyakan sembari membalas senyumannya.

“Apa makanan favoritmu, Dim?” aku bertanya lagi.

Dimas mengerutkan kening dan berpikir. “Aku suka nasi goreng, pecel. Kau tahu, aku juga menyukai sate”

            Aku terkikik pelan dan tidak jadi memasukan satu suap lontong ke mulut.

“Ada apa, Ca?” Dimas mengangkat alis.

“Serius?” komentarku tertawa.

“Kau gadis yang menarik, Ca,” Dimas menatap langsung ke mataku.

            Mataku melebar menatap lelaki yang duduk di depanku. Pasti aku salah dengar. Apa katanya tadi? Aku gadis yang menarik? Menarik dalam arti apa? “Menyenangkan”? Tetapi, aku baru saja mengenalnya. Jadi, tak mungkin dalam arti dalam dan rumit, serta membingungkan bukan?

            Kemudian dia tertawa dan aku tersipu malu.

“Kapan-kapan, kita makan sate seperti ini lagi ya,” ajaknya.

“Baiklah,” sahutku.

Tangan dan hatiku bergetar. Masih memandang sate lontong yang tersisa. Pelan-pelan, debaran di dada semakin keras. Dasar, sate ajaib. Tak menyangka si sate bisa mempertemukanku dengan Dimas, lelaki yang baik.  Semoga ini adalah awal yang baik. Aku berharap, aku bisa makan sate dengannya lagi seperti saat ini.

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik