Aku melangkahkan kaki yang terbalut rok hitam
panjang nan longgar menuju gerbang kampus. Ini adalah hari kelimaku berstatus
mahasiswi baru di Fakultas Ilmu Budaya, universitas negeri dambaanku. Lalu, aku
menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang dilakukan sepasang kaki
yang telah berjalan selama dua puluh menit terakhir.
Hari
kelima ini, aku masih menjalani kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru atau
disingkat PMB. Betapa bahagianya ketika bertemu dengan banyak teman yang
berasal dari berbagai daerah. Ya, merekalah keluarga baruku. Aku berhenti
melangkah sejenak dan melihat sekeliling. Ternyata, sudah banyak yang berkumpul
di halaman kampus, tempat diadakannya apel pagi untuk mahasiswa baru. Mereka
mengenakan kemeja putih panjang, bawahan hitam, beserta atribut yang sudah
ditentukan. Aku bergegas menuju kerumunan tersebut.
Kutemukan sosok Aci
dan Fadil di barisan depan. Aci adalah gadis mungil berhijab yang berasal dari
Pariaman. Sedangkan Fadil adalah laki-laki tinggi semampai, berkacamata. Dia
tinggal di Kabupaten Semarang, sama denganku. Namun, kami berbeda sekolah. Kami
pun berceloteh ria dan sesekali terdengar tawa kecil dari bibir kami. Sepuluh
menit kemudian, terdengar suara seorang kakak angkatan dari microfon di atas panggung. Kami diminta
untuk berbaris rapi dan saat itu juga berlangsunglah apel pagi PMB di fakultas.
Setelah apel pagi
selesai, para mahasiswa baru diarahkan untuk masuk ke sebuah kelas di lantai
tiga. Aku berdiri di depan pintu kelas berwarna putih sembari mencari sosok Aci
dan Fadil. Aku melongo kesana-kemari namun percuma, aku tak menemukan mereka.
Aku mengumpat dalam hati dan langsung memilih kursi kosong pada baris ketujuh
dari belakang. Aku tersenyum lebar karena aku sebaris dengan Fadil. “Hore!”
seruku dalam hati sembari menyampirkan tas di punggung kursi. Memang, aku dan
Fadil terpisah oleh satu orang. Tak apalah. Aku tersenyum ringan.
Dua- tiga jam kemudian, aku mendongak menatap
langit-langit dan menghembuskan nafas berat..
“Membosankan. Materi, materi, dan materi,”
Aku mengumpat dan sudah menguap empat kali dalam lima belas menit terakhir.
Inilah risiko duduk
di belakang, kerap kali tak terdengar materi apa yang diucapkan oleh dosen. Aku
kembali menghembuskan nafas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening.
Aku iseng menengok ke arah kanan. Aha! Aku pun berniat untuk memanggil Fadil.
“Dil, Fadil!” pekikku berbisik.
Saat
itu, bukan Fadil yang menengok ke arahku, melainkan seorang lelaki yang duduk
di sebelah kanannya. Aku memaksakan seulas senyum sopan. Aku memanggil Fadil
sekali lagi dan lelaki itu menengok padaku untuk kedua kalinya. Aku mengisyaratkan
telunjukku ke arah Fadil. Akhirnya, Fadil menengok.
“Dil, apa yang disampaikan dosen itu? Aku tak
mendengarnya?” ucapku dengan mengerutkan kening tak mengerti.
Alis Fadil terangkat dan berpikir. “Entahlah,
aku tak mendengarnya.”
Aku
menghela nafas dan melirik jam tangan.
“Mungkin sepuluh menit lagi,” kataku pada
diri sendiri.
Secara sekilas, aku
mengamati orang asing yang sekarang duduk di sebelah kananku : pemuda bermata
sipit, bertubuh kurus dengan rambut sedikit gondrong. Aku berniat untuk
berkenalan dengannya.
“Hei!”
Lamunannya buyar dan pemuda itu berusaha
memusatkan perhatian padaku, “Ya, ada apa?”
Aku berdeham.
“Siapa namamu? Boleh berkenalan?” aku memulai
pembicaraan.
“Oh, boleh. Namaku Rio,” jawabnya singkat.
Aku membulatkan mulut, lalu melanjutkan,”Kamu
berasal darimana?”
“Jepara. Siapa namamu?” tanyanya padaku.
“Namaku Tasya. Biasa dipanggil Caca. Aku
berasal dari Kabupaten Semarang. Salam kenal ya,” sahutku sembari tersenyum
lebar.
“Oh, ya,”
Aku
tertawa pahit dan mendengus pelan. Kurasa Rio kurang menyenangkan apabila
diajak berbicara. Ketus sekali.
Saat itu, aku lebih
banyak diam. Aku duduk bersandar dan memandang keluar jendela dengan tatapan
kosong. Tak sengaja, aku melihat pemuda
di samping Fadil memandangku lagi dan lagi.
“Orang aneh,” aku menggerutu sendiri.
Saatnya istirahat. Yes!
Aku berseru dalam hati. Sejauh mata memandang, hanya terlihat teman-teman yang
berlalu-lalang. Ada yang sedang makan, bergurau ria, dan ada yang sibuk berkenalan
dengan yang lain. Aku masih duduk di kursi yang sama.
“Caca!” seru Fadil dan Aci menghampiriku.
Kulihat pula pemuda aneh yang duduk di samping Fadil juga ikut mendekat. Aku
hanya mengangkat bibir ke atas dan melambaikan tangan ke arah mereka.
Mereka
pun meraih kursi di sekitar tempat dudukku.
“Hai, Ca. Ada apa denganmu? Kau terlihat
pucat?” Aci mengerutkan kening.
“Tak apa. Aku hanya lelah”, sahutku dengan
seulas senyum. Memang, pipiku terasa agak kaku, tapi berharap senyumku terlihat
normal.
“Begitu?” gumam Aci sambil merenung.
“Oh,ya. Teman-teman, kenalkan. Ini teman
baruku. Namanya Dimas,” Fadil memperkenalkan pemuda itu seraya merangkulnya.
“Hai, Dimas. Namaku Tasya. Biasa dipanggil
Caca,” sahutku.
Dimas menyodorkan tangannya yang besar padaku.
Perlahan, aku munjulurkan tangan.
“Dimas. Dimas Ramaditya,” ucap Dimas
tersenyum saat menggenggam jemariku.
Aku membalasnya dengan sebaris senyum pula.
Perut
Fadil meraung. Terdengar oleh kami.
“Hei, kurasa perutku minta makan. Kalian
sudah makan?” Fadil meringis dengan tangan yang terus-menerus memegangi
perutnya.
“Belum,” jawab kami bergantian.
“Beli makan yuk. Lapar sangat,”
“Yuk!” jawab kami serempak.
Sambil
mengobrol ringan, kami berjalan meninggalkan ruang kelas tersebut dan menyusuri
lorong lantai tiga, menuruni tangga, berbelok ke arah kanan. Kami telah sampai
di kantin kampus.
“Aku mau pesan bakso, kalian mau pesan apa?”
Tanya Fadil saat kami telah duduk di kursi yang menghadapi sebuah meja kayu
coklat cerah.
“Sama semua saja”, sahut Aci sambil
mengibas-ngibaskan tangannya.
Setelah
Fadil memesan, kami kembali mengobrol.
“Panas sekali hari ini”, keluhku.
“Ya begitulah matahari di bulan Juli”, Dimas
mengangkat bahu.
“Lapar….”
“Sabar dulu, Dil. Kita semua juga lapar” Aci
terkikik geli.
Fadil
mengangguk lesu.
“Pesanan kita sudah datang!” celetukku
gembira.
Kami
berempat menoleh bersamaan ke depan. Tampak seorang pria tua dengan rambut yang
sedikit memutih membawa pesanan menghampiri kami. Satu per satu hidangan beliau
sodorkan ke meja kami.
“Silakan menikmati”, ucap ramah pria tersebut
sebelum berlalu.
Tak
lupa, kami mengucapkan terima kasih kepadanya.
“Selamat makan!” pekik Fadil berbisik.
Aku
menyeruput air es teh dalam gelas dengan sedotan.
“Apakah kita akan menjalani PMB selama satu
minggu?” tanya Aci sebelum kembali menyuap sebutir bakso yang masih mengepulkan
asap ke mulutnya.
“Mungkin..”
“Biasanya seperti itu,”
“Aku mendengar beberapa informasi memang
benar demikian. Lagipula, PMB tidak selalu diisi materi. Tetap saja sesekali
diisi dengan permainan dan promosi UKM, seperti beberapa hari yang lalu” Dimas
menjelaskan lebih detail.
“UKM?” tanyaku.
“Begitulah. UKM adalah Unit Kegiatan
Mahasiswa. Kalau istilah sekolah biasa disebut ekstrakurikuler,” jawab Dimas.
“Bukannya sudah dijelaskan?”
“Oh,kurasa aku melewatkannya,” ucapku
tergagap.
Aku sedikit takjub
melihat Dimas saat itu. Namun, aku berusaha tetap tenang. Awalnya, aku mengira
bahwa dia adalah lelaki yang aneh dan sering memandangku dari kejauhan. Ternyata,
dia adalah seorang yang ramah.
Lima
belas menit kemudian, kami telah selesai makan siang.
“Saatnya kembali ke kelas”, Fadil menarik
napas dalam-dalam sembari bangkit dari kursi.
“Hore!” jawabku datar.
Tiba-tiba
Dimas tertawa kecil.
“Ada apa, Dim?” tanyaku polos.
“Iyalah. Dari tadi kau tak pernah
memperhatikan dosen saat materi berlangsung,” komentar Dimas tertawa.
“Benarkah?” aku mengerjapkan mata padanya.
Dia
hanya mengangguk.
***
Pukul
16.20, aku telah sampai di depan pintu kos, aku mengeluarkan kunci pintu dari
tas. Kubuka gerendel kunci dan membuka lebar daun pintu kamar. Setiap kos
disini memiliki susunan yang sama : dapur, balkon sempit yang berfungsi sebagai
tempat menjemur pakaian, satu kamar mandi kecil, dan satu kasur tidur berukuran
kecil.
Aku
menghempaskan diri ke kasur dan menemukan kenyamanan.
“Hari ini sangat melelahkan,” aku menarik
nafas panjang.
Tak
terasa, mataku terpejam. Tertidur untuk melepaskan kepenatan yang dirasakan
dalam satu hari ini.
Aku terbangun dengan
kepala sedikit pusing dan badan kaku. Hal pertama yang kusadari adalah keadaan
kamarku yang sangat gelap. Sudah malamkah? Sekarang jam berapa? Aku mengerang,
lalu memejamkan mata sejenak. Kurasa, aku masih lelah. Lelah sekali. Badanku
menolak untuk bergerak. Aku memaksa diriku untuk bangun dan duduk di tepi
kasur. Lalu, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan untuk menyadarkan diri.
Perlahan, aku bangkit dan berjalan terseok-seok ke lemari pakaian untuk
mengambil baju ganti dan handuk. Selanjutnya, daku memutuskan segera beranjak ke
kamar mandi. Guyuran air serasa es menjilat permukaan kulitku. Segar sekali.
Beberapa menit
kemudian, aku telah selesai mandi. Guyuran air tadi membuat rasa lelahku seakan
menguap tak berbekas. Malam itu sangat dingin dan perutku sangat lapar. Aku pun
keluar dari kamar dan pergi keluar untuk membeli makanan. Warung makan hanya
berjarak beberapa meter dari kos. Ya, tak apa untuk sekadar makan mengisi perut
yang kosong.
Tiba di suatu warung
makan, aku memberi salam kepada bibi pemilik warung.
“Caca?” sapa seorang lelaki tegap yang
berdiri di belakangku saat aku tengah memesan sepiring sate lontong, kesukaanku.
Aku membalikkan badan dan ternyata pemilik si
suara adalah Dimas.
“Dimas?”
“Mau makan, Ca?” tanya Dimas dengan ramah.
Aku mengangguk, “Kamu?”
“Tentu saja,”
Aku
tahu benar diriku adalah orang yang mudah bergaul, tapi jarang sekali bisa
langsung akrab dengan seseorang. Dimas Ramaditya terlihat sangat percaya diri
dan pandai berbicara. Selama makan, kami mengobrol banyak.
“Kau suka sate?” tanya Dimas.
“Ya begitulah. Sejak kecil, aku sangat
menyukai sate. Kau tahu, sate adalah salah satu makanan tradisional Indonesia
yang masuk dalam kategori sepuluh makanan terenak di dunia,” ucapku dengan
antusias.
“Oh ya?” sahut Dimas tersenyum.
Aku mengiyakan
sembari membalas senyumannya.
“Apa makanan favoritmu, Dim?” aku bertanya
lagi.
Dimas mengerutkan kening dan berpikir. “Aku
suka nasi goreng, pecel. Kau tahu, aku juga menyukai sate”
Aku
terkikik pelan dan tidak jadi memasukan satu suap lontong ke mulut.
“Ada apa, Ca?” Dimas mengangkat alis.
“Serius?” komentarku tertawa.
“Kau gadis yang menarik, Ca,” Dimas menatap
langsung ke mataku.
Mataku
melebar menatap lelaki yang duduk di depanku. Pasti aku salah dengar. Apa
katanya tadi? Aku gadis yang menarik? Menarik dalam arti apa? “Menyenangkan”?
Tetapi, aku baru saja mengenalnya. Jadi, tak mungkin dalam arti dalam dan
rumit, serta membingungkan bukan?
Kemudian
dia tertawa dan aku tersipu malu.
“Kapan-kapan, kita makan sate seperti ini
lagi ya,” ajaknya.
“Baiklah,” sahutku.
Tangan dan hatiku
bergetar. Masih memandang sate lontong yang tersisa. Pelan-pelan, debaran di
dada semakin keras. Dasar, sate ajaib. Tak menyangka si sate bisa
mempertemukanku dengan Dimas, lelaki yang baik.
Semoga ini adalah awal yang baik. Aku berharap, aku bisa makan sate
dengannya lagi seperti saat ini.
0 komentar:
Posting Komentar