Dan
saya? Saya adalah anak ketiga, tepat berada ditengah tengah dari lima
anaknya. Jadi saya punya satu abang, satu kakak dan dua adik. Nama saya
Teguh Entah aspirasi apa yang membuat ayah memberi nama Teguh kepada
saya. Saya sendiri bingung, apalagi setelah memikirkan banyak kejadian
dalam hidup saya akhir akhir ini. Nama ini telah membentuk karakter,
satu bakat atau satu semangat. Tapi sebetulnya kalau ingin sempurna,
nama Teguh belum sepenuhnya mewadahi keseluruhan saya, terutama dalam
hubungannya dengan ayah. Nama saya seharusnya Pemberontak, Pembangkang
atau nama lain semacam itu.
Kenapa
saya Pemberontak? Begini ceritanya. Saya memilih citra tersendiri bagi
diri saya. Saya tidak pernah mau disetir siapapun, termasuk oleh ayah
yang konglomerat besar itu. Anakmu bukan milikmu, itulah alasan yang
sering saya lontarkan apabila ayah sudah kelihatan memaksa. Saya memilih
baju dengan gaya dan warna tersendiri. Masuk fakultas yang saya pilih
sendiri. Meminati hobi yang lain dari yang ayah tawarkan. Pokoknya
segalanya lain dari selera kompak ayah, ibu, kakak dan adik saya. Bagi
saya gaya dan selera hidup mereka rendah. Materialis. Serakah. Hedonis.
Glamour. Hidup yang bermoduskan being is having, menurut buku Erich
Fromm yang saya baca. Dan yang terutama membuat saya nekad menyendiri,
memilih kubu yang berbalik seratus delapan puluh derajat dengan mereka
adalah karena ─ini
mungkin akibat saya terlalu terpengaruh kegenitan koran koran dan
tulisan lainnya yang saya baca serta omongan beberapa teman di kampus─
konsekuensi konsekuensi menindas dan menyengsarakan dari kegemaran dan
rencana rencana besar ayah untuk lebih memakmurkan kami. Ayah, ibu,
kakak dan adik adik saya picik. Daya jangkau penglihatan dan
pendengarannya sebatas kemakmuran dan kenikmatan keluarga. Menumpuk dan
pamer benda benda. Tidak ada urusan dengan kehidupan, kecuali berpusat
pada kepuasan dirinya. Kalau saya, berpikir dengan hati dan otak seorang
warga dunia, dimana hidup adalah berkorban demi kebahagiaan bersama.
Orang orang miskin dan terlantar mendapat tempat yang sungguh layak
dalam pikiran saya. Berlebihan? Tidak. Bagi saya, itulah adanya saya.
Ketika masuk fakultas filsafat tiga tahun lalu, ayah menegur saya. “Kamu
ini aneh! Masuk ke tempat yang orang orang meninggalkannya.” Seperti
biasa apabila enggan berlama lama berdebat, dengan cuek tingkat tinggi
saya menjawab. “Anakmu bukan milikmu!” Beliau seperti biasanya pula
tidak pernah marah mendengar jawaban jawaban saya. Mungkin menurut
perasaannya, itulah satu satunya kebahagiaan besar yang bisa diberikan
kepada saya. Silent is gold for Teguh. Padahal kalau diingat ingat,
setiap percakapan, ajakan, teguran dan sapaan dari ayah, dengan semangat
yang tak pernah padam pasti saya bantah. Sampai sampai seorang teman
merasa khawatir melihat hal ini.
“Ada
apa dengan kamu? Lidahmu fasih sekali bila berkata TIDAK!” Untung saja
teman saya itu tidak menebak saya lebih jauh. Kalau iya, pasti ketahuan
bahwa saya pemberontak.
Lama kelamaan tumbuh perasaan aneh dalam diri saya. Saya
merasa membantah ayah adalah kewajiban bagi saya. Seperti wahyu yang
diberikan Tuhan kepada para nabi, mungkin membantah ayah semacam amanat
yang diberikan Tuhan kepada saya. Bedanya,
saya yakin sekali wahyu membawa kebaikan kepada umat manusia.
Memperbandingkannya dengan hal itu, saya dihinggapi perasaan khawatir.
“Kebaikan apa yang ada dalam amanat perbantahan saya ini?” Apalagi bila
kepercayaan akan amanat ini bergelut dengan perasaan lain, yaitu durhaka
kepada ayah. Tetapi mengingat ayah tidak pernah marah menanggapi
perbantahan saya, perasaan mendurhakai itu bisa saya tepiskan.
Sekarang. Ini cerita menjelang tahun baru yang baru lalu. Ibu,
kakak dan adik adik sibuk berkeliling mencari terompet yang paling
baik. Kalau saya, tidak pernah punya minat sedikitpun untuk meniup
terompet, meski di malam tahun baru. Buku buku di perpustakaan pribadi
saya telah cukup menjadi terompet sepanjang tahun bagi saya.
Sebelum pergi, ibu yang selalu jengkel dengan ketidakkompakkan saya, mengejek. “Kamu tidak mau terompet kan? Nanti ibu belikan sempritan saja ya? Kamu kan maunya jadi wasit melulu.”
Saya
tidak begitu pasti ejekan ibu mengarah ke apa atau ke mana. “Buat apa
terompet. Bikin pegel mulut saja!” saya menjawab ibu dengan ketus.
“Buat apa jadi wasit! Tidak pernah menikmati kemenangan.” ibu menimpali dengan senyum yang asing bagi penglihatan saya.
Dan
ayah? Dari bangun jam delapan pagi sibuk membuat terompet sendiri.
“Masak pejuang yang mampu mengusir penjajah seperti ayah, membuat satu
terompet saja tidak becus.” jawab ayah sambil membusungkan dada ketika
ibu dan adik adik mengomentari kesibukannya.
Setelah
selesai membuat terompet, ayah mendatangi saya yang suntuk membaca
buku. Sambil menunjukkan terompetnya yang besar, ayah mengajak. “Teguh.
Karena di rumah tidak ada siapa siapa, maka kaulah satu satunya manusia
selain ayah yang bakal menyaksikan tiupan pertama terompet ayah. Tiupan
dahsyat yang mungkin bisa membuat manusia berpikir berulang ulang
tentang segala yang berhubungan dengan kehidupannya. Yok, ikut ayah ke
taman depan! Sekalian kamu menguji ketahananmu sebagai anak ayah yang
lain daripada yang lain.” Bulu kuduk saya berdiri mendengar omongan
ayah. Ngeri. Apa hubungan terompet ayah dengan kehidupan? Tetapi muncul
dugaan lain dengan tiba tiba di benak saya. Ayah pasti berusaha melucu
untuk menghilangkan rasa penat akibat jongkok berdiri hilir mudik kesana
kemari menyelesaikan terompetnya tadi.
“Buat apa dengerin terompet? Bikin budek saja!” jawab saya dan meneruskan membaca.
“Teguh. Hargailah perjuangan Ayah. Jangan membantah saja!” Mendengar
kata kata itu saya menjadi iba. Juga timbul rasa penasaran di benak
saya. “Apa hubungan terompet ayah dengan kehidupan?” Saya pun mengikuti
ayah berjalan menuju taman.
Di tengah rumput yang hijau menghampar kami berhenti. Ayah
bersiap siap menirukan gaya pemain saxophone di band band jazz. Berdiri
dengan badan yang ditegakkan dan memandang lekat lekat pada
terompetnya. Dengan
begitu ayah kelihatan semakin kokoh saja walaupun ditumpuk usia. Ayah
laksana Tembok Cina, batin saya. Saya berdiri tiga meteran di samping
kanan ayah. Ayah pun mengambil nafas panjang. Seluruh tumbuhan yang ada
di hadapan ayah menjadi doyong ke arahnya. Saya terkesima melihatnya.
Ternyata ayah punya paru paru yang dahsyat. Paru paru yang bisa
menampung seluruh dunia kalau ayah ingin. Kemudian ditiupnyalah terompet
besarnya sekuat kuatnya. Tak ada suara. Tak ada bunyi preeet
sedikitpun. Yang keluar malah gumpalan gumpalan kental merah seperti
darah. Saya membayangkannya seperti episod dilahirkannya anak anak
Kurawa dalam kisah pewayangan Mahabharata.
Mendung menyelubungi langit yang barusan cerah. Ada
kilatan cahaya menggurat berulang ulang. Guruh mengguntur keras.
Gumpalan gumpalan kental itu pecah menciprat ke seluruh bagian taman.
Berubah menjadi cairan cairan merah membiru. Lalu cairan cairan itu
bergolak. Bumi di sekitar rumah bergetar. Cairan itu tambah bergolak.
Lama lama membesar lalu menjelma anjing anjing ajag. Anjing anjing itu
serentak mengeluarkan lolongan panjang. Saya menjerit. Ayah malah
tertawa terbahak bahak. Kemudian meniup terompetnya sekali lagi. Lagi.
Lagi. Lagi. Muncrat cairan merah lagi. Bergolak menjelma anjing anjing
ajag. Kini tampak kenyataan yang semakin menyeramkan. Anjing anjing itu
dengan rakus memakan segala yang ada. Tanah. Rumput. Pepohonan. Pagar. Tembok. Tong sampah. Bunga bunga. Pasir. Batu batu. Kran air…
“Ayah. Hentikan membuat anjing anjing itu!”
“Ayah tidak membikin anjing. Ayah hanya meniup terompet. Lihatlah! Ayah hanya meniup terompet kan?”
“Tapi terompet Ayah mengeluarkan anjing anjing!”
“Ah, siapa peduli! Ayah tidak membikin anjing. Dan pula tidak punya maksud membikin anjing. Ayah hanya meniup terompet.”
Saya kehabisan kata kata. Saya lari ke kamar dan mengambil bedil. Kembali ke taman untuk menembak anjing anjing yang keluar dari terompet ayah. Begitu melihat saya memegang bedil, anjing anjing itu berloncatan ke luar pagar. Menyebar ke segala penjuru. Saya blingsatan. Saya mencoba membidik. Dor! Satu anjing kena. Tubuhnya muncrat menjadi darah dan menyebar kemana mana. Darah itu bergolak seperti cairan yang berasal dari terompet ayah tadi. Menjadi anjing anjing baru. Saya jadi merasa serba salah. Menembak anjing anjing itu malah melipatgandakan jumlahnya. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Karena kehabisan akal saya memohon kepada ayah.
Saya kehabisan kata kata. Saya lari ke kamar dan mengambil bedil. Kembali ke taman untuk menembak anjing anjing yang keluar dari terompet ayah. Begitu melihat saya memegang bedil, anjing anjing itu berloncatan ke luar pagar. Menyebar ke segala penjuru. Saya blingsatan. Saya mencoba membidik. Dor! Satu anjing kena. Tubuhnya muncrat menjadi darah dan menyebar kemana mana. Darah itu bergolak seperti cairan yang berasal dari terompet ayah tadi. Menjadi anjing anjing baru. Saya jadi merasa serba salah. Menembak anjing anjing itu malah melipatgandakan jumlahnya. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Karena kehabisan akal saya memohon kepada ayah.
“Ayah. Tolonglah hentikan meniup terompet!”
“Apa? Tolonglah? Tumben kamu mengeluarkan kata itu.” ayah malah mengejek.
“Kalau tidak, coba Ayah kendalikan anjing anjing itu! Cuma Ayah mungkin yang mereka turuti perintahnya.”
“Tidak bisa! Anjingku bukan milikku!” ayah tambah kenikmatan mengejekku.
Saya
kehilangan kesabaran. Saya todongkan bedil ke arah jantung ayah.
Melihat kelakuan saya, ayah makin keras tertawa. Pikiran saya berputar
putar. Tidak juga menemukan kepastian yang bisa saya jadikan keputusan.
Mungkin hanya dengan menembak ayahlah memusnahkan anjing anjing yang
menakutkan itu. Tetapi apa tidak berdosa seorang anak menembak ayah
kandungnya sendiri? Antara patriotisme dan pembangkangan, antara
heroisme dan kedurhakaan memang hanya dipisahkan selapis tipis
perbedaan.
“Tembaklah
Ayah Anakku tercinta. Ayo!” ayah menantang todongan saya sambil
membusungkan dada. Meraih moncong bedil yang saya pegang dan menariknya,
sehingga saya dipaksa beringsut ke depannya. Moncong bedil itu sekarang
menempel di tengah tengah dada ayah.
“Ayo, tembaklah! Tembakkan bedil itu!”
“Saya
tidak tega, Ayah!” Bersamaan dengan keluarnya kata kata itu dari mulut
saya, seluruh kekuatan yang tadi menguasai saya luruh dan menguap entah
kemana. Tubuh saya pun berkeringat deras. Saya dibanjiri kebingungan dan
kecemasan. Ayah adalah kekuatan yang ternyata tidak mudah dikalahkan.
Di
depan mata saya terbayang satu kenyataan pahit, saya bersimpuh di depan
ayah dan meratap sejadi jadinya menyesali semua keyakinan yang dulu
saya pegang. Sia sia semuanya. Segala daya upaya saya adalah hal hal
yang ternyata percuma. Perbantahan saya terhadap gaya dan selera ayah
adalah kebodohan yang sesungguhnya. Saya putar berurutan keinginan saya
bagaikan mengangsur biji biji tasbih yang dikeluarkan dari talinya. Satu persatu keinginan itu lepas menggelinding dalam tatapan saya. Keraguan menteror. Siapakah
saya yang berdiri mematung bagai seorang pandir ini? Seorang filsuf?
Intelektual? Seniman? Sufi? Biarawan? Manusia dengan jiwa luhur? Agung?
Ataukah masih seorang pemberontak? Persetan semuanya. Ayah adalah bagian
diri saya yang sulit dimusnahkan begitu saja.
0 komentar:
Posting Komentar