Translate

cerpen Tetanggaku Bensin Pertamax Plus

Written By iqbal_editing on Senin, 17 Juli 2017 | 07.03

ika diibaratkan larutan, engkau adalah larutan elektrolit kuat. Daya hantar listrikmu sangat baik. Jika diuji pakai alat uji larutan, engkau menghasilkan nyala lampu terang. Seterang kulit tubuhmu, secerah pipi chabymu. Semerah bibir tipismu. Seindah jari-jemarimu, membuatku terkesima. Sorot cahaya matamu berkilau, puncak hidungmu memukau. Kau menyimpan daya tarik yang luar biasa. Siapa yang tak terpana oleh gemerlap lenggak-lenggok gemulaimu, halus tutur katamu, dan lemah lembut budi bahasamu?
Engkau membuat hidupku bergairah menyambut pagi, untuk menatapmu saat kau berangkat sekolah. Dan menenangkan siang yang terik, saat aku menunggu engkau pulang sekolah. Daya tarikmu luar biasa membahana, kerelung hatiku yang mengembara. Pesonamu menebar ke seluruh jagat raya di alam mayapada.
Jika kau satelit, engkau adalah bulan paling memukau di malam hari. Saat menatapmu aku selalu melihat saat purnama paling sempurna. Selalu bercahaya di awal, di tengah dan di ujung malam yang gelap. Kau lebih cantik dari bintang di langit. Kau lebih indah dari bunga yang sedang mekar. Kau lebih cepat mengalir dari air di sungai. Kau lebih manis dari madu. Aku terpikat kepadamu.
“Assalamualaikuumm…”, sapamu merdu, lebih merdu dari buluh perindu, di hari sabtu. “Waalaikum salam warahmatullahiwabarokatuh..”, jawabku tak berkedip menatapmu. Kau menyapa terus berlalu dari hadapanku, dengan seragam putih abu-abumu. Kau tebarkan debu dengan roda sepeda motormu. Menyadarkanku yang masih terpaku menatap kepergianmu.
Aku beruntung tinggal di rumah baruku, tepat berhadapan dengan rumahmu. Kau tetanggaku, idolaku. Baru seminggu pindah di dekatmu, aku sudah terbius oleh kecantikanmu. Kau pelipur laraku. Kau sembuhkan lukaku terdahulu. Kau bangun kembali mimpiku. Mimpiku sekarang, adalah ingin bersamamu!!
Bagai teori asam-basa Bronsted- Lowry, sebagai asam maka aku akan donor satu proton H+ kepadamu sebagai bukti kasihku. Dan aku berharap, sebagai basa maka sudah sewajarnya kau akseptor proton dariku. Kita saling melengkapi satu sama lain sebagai sepasang sejoli yang tak terpisahkan. Kita melebur dari senyawa asam dan basa sehingga membentuk senyawa netral. Tenang, damai dan tak terusik oleh gosip perselingkuhan apalagi perpisahan. Inilah mimpi spektakulerku bersamamu!!
Tak melihatmu sehari, bagai hidup di padang pasir yang tandus. Kering, panas, berduri, luas tak terbatas, hanya ada bayangan diri sendiri. Jangan biarkan aku mati kehausan, karena tak ada mata air yang mampu menghilangkan dahagaku. Jangan biarkan aku mati kelaparan, karena tak ada nafsu makan akibat mengenang dirimu. Kasih, jangan kau biarkan aku mengering dan hangus terbakar oleh ketiaadaanmu. Berilah kesempatan, janganlah memberi penolakan sebelum kau melihat pembuktian, betapa aku sangat menyayangimu.
Hari minggu kedua di halaman rumah, aku melihat ke halaman rumahmu. Aku joging, skiping, push-up, lari maju mundur, jungkir balik, lempar bola kebumi, ke dinding rumah, ke pagar, kau tak ke luar juga. Keringat mengucur deras, panas, berdebar, menanti kehadiranmu. Sampai matahari mendera, menerkam dan menghujam kau masih diam terkurung di dalam. Apakah signal yang kukirimkan tak dapat menembus dinding rumahmu yang tertutup rapat, hingga bagai sekat di jaga malaikat?
Bagiku, kau adalah bensin pertamax plus dengan nilai oktan lebih dari 90. Kau bensin terbaik dengan ketukan terendah, sehingga membuat awet mesin kendaraan. Kau berasal dari minyak bumi yang telah diperbaiki mutunya. Dari ikatan rantai lurus, menjadi ikatan rantai bercabang. Di tambah beberapa zat aditif sebagai pelengkap pesonamu. Kau menguasai semua mesin kendaraan. Tanpamu roda kendaraan tak akan berputar. Tanpamu roda cinta macet total.
Hari minggu ketiga di depan gang, kompleks istana kita. Penuh harap, aku menunggumu jajan bakwan dan goreng pisang. Sudah tiga gelas es: kelapa muda, cendol dan cincau ku teguk bergiliran. Tiga gelas yang ku pesan untukmu masih utuh, dengan es yang telah mencair tentunya. Kulahap lima gorengan sebagai pelengkap. Untukmu lima gorengan juga, yang masih utuh dan telah dingin pastinya. Kau tak datang sesuai harapanku. Kau tak muncul sesuai keinginanku. Kau menjadi fatamorgana paling sempurna.
Umpama logam, kau adalah logam besi dan logam nikel yang menjadi poros bumi. Tanpamu bumi tak akan berputar di porosnya dan tak dapat mengelilingi matahari. Kau harapanku, untuk menopang cintaku yang pernah hancur. Denganmu aku berharap kita keliling dunia dengan kapal cinta. Bersamamu, aku bermimpi kita mengayuh cinta dengan dayung asmara. Bersamamu, aku bersedia terlahir kembali hanya untuk cinta.
Hari minggu ke empat aku tunggu dirimu di cafe. Tempat dirimu dan teman-teman biasa jajan sambil mengerjakan tugas sekolah. Sudah tiga porsi makanan yang kuhabiskan. Tiga porsi makanan masih utuh, sudah dingin tentunya karena tak kau sentuh. Aku pulang saat pelayan café mengingatkanku akan segera tutup. Kau tetap tak hadir, tak sesuai kemauanku. Kau absen lagi seperti yang kutakutkan. Kau hanya mimpi terindah yang paling menakutkan.
Menurutku, kau laksana lapisan mantel yang melindungi bumi dari panas logam besi dan nikel yang mencair. Dengan suhu 6.000 derajat Celcius akan membunuh mahluk hidup, bila tanpa kehadiranmu yang mempunyai ukuran setebal 2.900 kilometer. Kau begitu hebat dan kuat. Kau lapisan yang meredam panas sehingga kehidupan di bumi bisa berlangsung. Aku ingin, jika kelak kita hidup bersama maka kau akan menjadi penenang jika aku terbakar amarah.
Minggu kelima. Kau menghilang tanpa pamit padaku. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah kau telah kehilangan seragammu, sehingga kau tak pergi di pagi hari dan pulang di siang hari? Ataukah seragam mu sudah kadaluarsa dan tak pantas lagi untukmu, sehingga kau pergi lalu tak pulang lagi? Aku terbawa gelombang kepergianmu, hingga mabuk dan tak bisa menyelesaikan tulisan fiksi di laptopku. Insfirasiku hilang terbawa angin, seiring kepergianmu yang tanpa kabar berita.
Hari minggu, genap seminggu aku tak melihat kehadiranmu. Genap seminggu pula aku tak makan di siang hari. Aku demonstrasi sendiri. Mogok makan sendiri. Baru mau makan siang hari, bila bisa ketemu dirimu pergi pagi hari dan pulang siang hari. Karena aku senang menikmati debar di jantung saat melepas kepergianmu, dan menunggu kedatanganmu melintas di depan halaman rumahku. Ke elokan parasmu menjadi pemandangan yang mengobati duka lara.
Jika ini mimpi, tolonglah bangunkan aku. Aku lelah mimpi tanpa kehadiranmu. Jika bukan mimpi, hadirlah di hadapanku. Jangan menghilang bagai ditelan mimpi. Aku hanya ingin menatapmu dari halaman rumahku. Atau cukup tahu diri hanya mengintip dari celah pintu dan jendela. Kalau kau tak berkenan bersamaku dalam mimpi, jadilah milikku dalam dunia nyata. Mimpi dalam kenyataan, atau hanya kenyataan dalam mimpi. Ingin telepon, aku belum punya nomor ponselmu. Ingin kerumahmu, pintu rumah kontrakanmu membisu dan selalu tertutup untukku.
Minggu keenam menjadi tetanggamu. Kau baru muncul kembali, tapi sudah siap ingin pergi lagi. Pergi dan tak kembali. Hatiku hancur menjadi debu. Walau telah menjadi debu, aku masih berharap tetap bersamamu. Aku berharap menjadi fase terdisfersi padat yang masuk kedalam fase pendisfersi gasmu. Sehingga kita menjadi aerosol padat, seperti debu di udara. Aku debu, kau udara. Kita bersama di atmosfer jagat raya. Tapi tidak demikian, kenyataannya. Kau pergi, bersama semua benda yang ada di rumahmu. Kau pindah, dari hadapanku!!
“Bang, aku pamit… pindah kontrakan…” katamu, seperti halilintar di siang bolong. Aku langsung kejang-kejang, bagai berpenyakit ayan yang sedang kambuh. “Yyyaaa…ya… ya..” jawabku gagap segagap-gagapnya. “Assalamualaikum….” Ucapmu lembut seperti hembusan angin, mengiringi kepergianmu. Aku terbuai dalam kejang ragaku. “Waalaikum salam warahmatullahiwabarokatuh”, jawabku mendesis, seperti ban bocor. Ingin aku menahan kepergianmu. Tapi jiwa ragaku telah kejang lalu membatu. Air mataku pun telah membeku dan tertahan di pelupuk mata batuku. Aku menjadi patung penghias tamanku, menatap kepergiaanmu.
Pontianak, 3 Mei 2016. Sukarni, SP
Cerpen Karangan: Sukarni

0 komentar:

Posting Komentar

 
berita unik