Kata ngaji biasanya identik dengan dunia kepesantrenan, kalau di
dunia kampus dikenal dengan kuliah, dan di dunia sekolah dikenal dengan
belajar, padahal intinya sama-sama saja kegiatan mencari ilmu baik yang
secara “Transfer of Knowledge” ataupun yang “Transfer of Knowledge and Value”. Ngaji lebih diterima secara umum di dunia pesantren selain dari Sorogan (man by man) dan Balagan (teacher center), itulah sebagian embel-embel pesantren.
Suatu ketika di bulan Ramadhan 1430 hijriyahnya dan bulan September
2009 masehinya, saya baru pertama kali merasakan mengaji-maklum dulu
saya anak manja yang jarang sekali mengaji meskipun mesjid hanya lima
meter dari kediaman rumah saya, kala itu pesantren dimana saya tinggal
sedang ada kegiatan ngaji musiman atau sering disebut dengan pasaran.
Sungguh luar biasa waktunya yaitu dimulai dari ba’da tarawih sampai qobla
sahur, ya sekitar Sembilan jaman, itu hal biasa bagi santri yang lain
tapi hal yang luar biasa bagi saya, tapi tetap nikmati sebagai salah
satu jalan kebahagiaan saja, toh harus bagaimana lagi, sudah jadi
tradisi dunia pesantren, iya kan?
Masih tentang kegiatan ngaji pasaran yang tadi, ada dua kiai yang
menjadi perantara sumber ilmu atau guru, ada Kiai Sepuh dan Kiai Anom
yang kedua-duanya sungguh luar biasa mendedikasihkan ilmu dan hikmahnya
bagi saya dan santri-santri yang lainnya, saat itu pengajian dimulai
dengan pembacaan ishal kemudian dilanjut dengan tadarus satu juz
bersamaan dan yang memimpinnya adalah santri yang sudah sejak dulu
tinggal di kobong-nama kamar di pesantren-nya, setelah acara tadarus
istirahat sejenak menunggu Kiai Anom datang tentunya sambil jajan-jajan.
Malam itu kitab yang diaji ialah Akhlakul Banin jilid ke empat yang warna sampulnya coklat dan tebalnya melebihi jilid-jilid Akhlakul Banin
sebelumnya, dari nama kitabnya saja sudah tergambar bahwa kitab itu
akan membahas tentang akhlak-akhlak bagi anak laki-laki, dan memang itu
yang terjadi.
Kebetulan juga pas malam tersebut materi yang diaji berkenaan dengan
macam-macam penyakit hati yang sering ada pada manusia, mulai dari
penyakit Syirik-menyekutukan Allah, Nifak-lain di mulut lain di hati, Hasud, Dendam, Sum’ah-ingin di dengar orang lain, juga termasuk Riya-ingin dipuji dan dilihat orang.
Di pertengahan hari pada bulan Ramadhan itu, adzan tanda waktu dzuhur
berkumandang begitu merdu, syahdu, dengan bertema lagu bangsa urdu yang
membuat setiap orang tertipu dan menjadi rindu akan kumandang adzan
yang dilantunkan oleh saudara saya yang bernama Randu-teman sekobong
saya.
Saya yang pada waktu itu baru terbangun dari tidur nyenyak saya, maklum kalau di pesantren saya ada yang dinamakan Kailullah-tidur
sebentar di siang hari antara pukul 10.30 sampai qobla dzuhur, yang
sering dilakukan baginda Nabi Saw. Langsung saja setelahnya saya
terbangun saya ambil anduk dan peralatan mandi saya dan bergegas ke
kamar mandi untuk mandi siang biar badan terasa segar tentunya.
Terpaksa, saya telat masuk mesjid karena tadi di kamar mandi saya
berjubel dengan segelintir teman-taman saya hanya untuk berebut jatah
mandi, tapi tak apalah yang penting bisa mandi dan sekarang mau
melaksanakan shalat dzuhur, walaupun harus tertinggal satu raka’at.
Sambil iseng, karena saya telat masuk mesjid saya mencari deretan shaf
yang kosong untuk saya isi, sembari saya mencari shaf yang kosong, mata
saya berjalan-jalan melihat deretan pagar betis yang berbalut sarung
bermacam merek ada yang bermerek Atlas, BHS, Rubat, Wadimor, Samarinda
34, Mira, sampai ada juga yang bermerek Gajah Salju, gak kebayang
dinginnya gajah tersebut tinggal di salju, kirain beruang saja yang
tinggal di kutub, ternyata ada juga gajah.
Tetapi, sejenak perjalanan mata saya terhenti pada barisan dua orang
sebelah kanan saya, bukan karena betisnya yang besar, atau merek
sarungnya yang super mahal, melainkan saya heran kenapa teman saya yang
satu ini memakai sarung yang tak bermerek, dan hal itulah yang membuat
shalat saya terganggu oleh persiapan pertanyaan yang saya akan lontarkan
suatu ketika pada orang controversial tersebut.
“Sad tunggu bentar, ada yang ingin ditanyakan” cegah saya pada teman yang tadi shalatnya memakai sarung tak bermerek.
“Eh ia ada apa Mi?” sahut dia.
“Mau nanya boleh gak?” tanya saya.
“Sangat boleh, ada apa ya, tumben kamu mau nanya sama saya” sambil senyum geli dia menjawab.
“Tapi jangan marah ya, takutnya kamu tersinggung”
“Lah lu kayak yang gak kenal gue ajja” belagunya dia, maklum anak Jakarta.
“Gini bray, tadi gue lihat lu shalat pake sarung kan?”
“Yaiyalah pake sarung, kan mau shalat, masa pake baju renang…”
“Nyantai bray, bawa kalem, kita kan prend, iya gak?… gini pertanyaan
gue, kenapa lu shalat yang lain pake sarung yang bagus-bagus, lu malah
pake sarung yang gak bermerek, gak malu lu sama gusti Allah, masa apel
pake baju bagus, shalat pake sarung kayak gitu?” itu pertanyaan saya.
“Lah lu kayak yang ga ngaji Akhlak ajja semalem sama Kiai Anom, lu taukan semalem ngaji apa?” Tanya balik.
“Tau, ngaji tentang penyakit hati kan?”
“Itu tau lu, kan ilmu yang bermanfaat itu kita dapat ilmu terus langsung diamalkan iya gak?”
“Ia…” jawab pendek saya.
“Nah… oleh sebab itu makanya gue mau ngamalin ilmu yang semalam gue
dapet, yaitu ilmu tentang ria, lu tau kan penyakit ria yang kita selalu
ingin dilihat atau dipuji…”
“Terus kaitannya dengan sarung apa?”
“Ohh itu, lu kan tahu sarung gue pada bermerek semuanya, gak ada
ceritanya sarung gue yang kawe, pada mahal-mahal semua sarung gue,
belinya juga langsung dari butiknya, nahh oleh sebab itu gue gak mau ria
sama orang lain, jadi sekarang gue suka pake sarung dibalik yang ada
mereknya di atas biar gak kelihatan sama orang lain, gitu sebabnya…
paham lu sekarang?” kata anak Jakarta itu.
“Ohh gitu, bagus lah kalau begitu, terus barusan lu ngomong ke gue
sarung lu bagus-bagus apa maksudnya, bukankah itu lu pamer, sama ajja
kalau begitu ya…” balik jawab saya.
“Itu beda sob, kan gue tadi bilang gue gak mau dilihat atau dipuji sama orang lain, iya gak?” Tanya dia.
“Terus gue apa, orang lain bukan?”
“Lu kan teman gue bukan orang lain, ia gak sob, salah ya?” ngeles.
“Gak juga sih, ia tapi sama ajja kan, apa bedanya?”
“Sudah… dari pada kita bertengkar gak karuan kayak gini, lebih baik
kita ngaji yuk, tuh kentungan udah dipukul tiga kali, itu kan tandanya
jam ngaji sudah mau dimuali…ayoo gak usah bengong, tar puasa lu batal
lagi” sambil menggusur saya.
Itulah dunia pesantren dengan budaya mengajinya yang sangat kental,
saya tidak habis pikir ternyata pesantren membawa pengaruh besar
terhadap kehidupan saya, mulai dari kegiatan ngajinya yang super
disiplin ibadah ritualnya yang begitu terasa sakral samapi guyonanya
yang kadang Khowarikul ‘Adah-keluar dari kebiasaan.
Saya akan terus mengaji dan terus mengaji untuk menambah wawasan saya
tentang uniknya agama yang saya pegang, tapi yang paling penting ialah
saya ingin merasakan mengaji tentang perasaan, yang konon katanya
menjadi materi aji yang paling sulit karena bukan hanya akal yang
berfungsi tapi juga hati yang jadi pedomannya. Namun buah yang
dijanjikan dari mengaji tentang perasaan cukup menjanjikan bagi
kehidupan karena disanalah ada banyak keberkahan dan kasih sayang yang
terukir.
Saya ingin terus mengaji dan mengaji, karena itulah yang diajarkan baginda Nabi Saw “Utlubul ‘Ilma Minal Mahdi Ilal Lahdi”
carilah ilmu mulai dari engkau dalam buaian sampai engkau kelak masuk
dalam liang lahat, kata-kata mutiara inilah yang senantiasa menjadikan
pecut keras sekaligus motivasi bagi saya untuk terus dan terus mencari
ilmu baik ilmu yang sifatnya ukhrowi maupun duniawi, karena janji Allah
yang tak pernah bohong dalam sebagian firmannya yang akan menaikkan
beberapa tingkatan bagi orang-orang yang mempunyai ilmu, dan tingkatan
itu bagi saya merupakan tafsiran dari kebahagiaan atau jalan untuk
menuju dzat yang maha sempurna yaitu Allah Rabbul ‘Izzati, mudah-mudahan niat ini selalu terpatri dalam hati sanubari yang suci yang ada pada diri saya. Allahu ‘Alam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar